
Rika menghabiskan harinya bersama pekerjaan dan
sahabat-sahabatnya. Sementara Zulfan memutuskan untuk menerima ajakan pak Anam
sore itu, tepat setelah sholat ashar, untuk menikmati sate enak di Bulak sumur.
Baru saja sate dipesan, pantat belum menyentuh kursi warung , hp pak Anam
berbunyi. Ternyata Bu Min yang menelfon. Bu Min minta pak Anam untuk pulang
sebentar karena Pak Joyo, langganan mereka minta kiriman tambahan beras dan
beberapa bahan lain. Pak Anam mencoba meminta sedikit waktu, tapi kata Bu Min
pak Joyo sedang benar-benar membutuhkannya. Pak Joyo sedang kedatangan banyak
tamu mendadak nanti malam. Sebuah rombongan besar mantan sekolah yang pernah
dipimpinnya dari daerah sedang berekreasi dan merencanakan untuk berkunjung
malam ini.
Walhasil, Zulfan menawarkan untuk mengantar pak
Anam pulang, setelah itu dirinya akan kembali lagi untuk mengambil sate pesanan
mereka dan Zulfan menawarkan untuk menikmati sate dirumah pak Anam atau
dirumahnya. Pak Anam merasa bersalah dengan kejadian itu. Zulfan mencoba
meyakinkan pak Anam bahwa dirinya tidak ada masalah dengan itu. Kondisi khusus,
pengertian khusus. Begitu kata Zulfan.
Lampu lalu lintas di dekat pasar Condong Catur
terasa lebih lama daripada lampu lalu lintas yang pernah Zulfan temui. Padahal
lalu lintasnya juga ndak rame. Namanya juga jalan besar. Dari arah timur
terlihat beberapa anak sekolah berseragam sedang mengawal seorang teman
perempuan mereka. Zulfan menggeleng melihat hal itu. Terlalu dekat. Jatuh satu,
jatuh smua. Lampu hijau menyala. Zulfan memacu sepeda Win 2002-nya perlahan.
Ketika Zulfan melintas tidak sengaja Zulfan
menoleh kearah konvoi sepeda motor yang melaju perlahan. Bukan pilihan tepat.
Berjalan berdekatan dengan kecepatan pelan seperti itu butuh lebih banyak
keseimbangan dan kesigapan kaki. Lo? Yang ditengah itu bukannya? Belum sempat
Zulfan menyebut sebuah nama dalam pikirannya, tangannya lebih sigap membelokkan
sepeda motornya kearah konvoi sepeda motor itu.
Bersamaan dengan keputusan
Zulfan merubah arah laju sepeda motornya, salah seorang peserta konvoi
melakukan seperti yang dipikirkan Zulfan, tidak mampu menjaga keseimbangannya.
Dia jatuh, teman yang diboncengnya dengan sigap meloncat . Tapi tidak dengan
teman-teman yang ada dibelakangnya, juga teman perempuan mereka, juga
teman-teman yang ada disebelah teman perempuan mereka. Mereka jatuh saling
menindih. Tubuh merek tertindih sepeda motor, sepeda motor mereka tertindih
tubuh mereka.
Zulfan memarkir sepeda motornya disisi aman. Setelah
itu Zulfan mulai membantu mengangkat sepeda motor paling kanan, sebelum
membantu pemiliknya bangun. Zulfan sempat melihat kepala perempuan yang awalnya
dikiranya adalah teman para pemuda itu jatuh menindih kaki seorang berseragam.
Alhamdulillah. Zulfan mempercepat gerakannya, tanpa mengurangi
kehati-hatiannya. Dia khawatir pemuda yang kepalanya mengenai kepala perempuan
itu akan segera bangkit, sehingga menyebabkan kepala perempuan itu terbentur ke
aspal. Meski dia menggunakan helm, Zulfan tetap khawatir akan terjadi benturan
yang keras. Hal ini sangat mungkin jika anak berseragam itu menarik kakinya
dengan cepat karena panik.
Benar saja. Anak itu menarik kakinya dengan cepat
dibantu temannya. Zulfan segera menarik sepeda motor Honda Beat yang menindih perempuan
itu. Knapa dia ndak bergerak. Zulfan memarkir sepeda motor itu dengan cepat
dengan tidak lupa mengunci dan meletakkan kunci tersebut di kantong celananya.
Para pemuda berseragam itu mulai ribut dan sibuk saling menyalahkan.
“ Jangan.” Zulfan mempercepat gerakannya ketika
seorang pemuda berseragam hendak menarik tangan perempuan itu dengan tujuan
membantu perempuan itu berdiri. Zulfan khawatir gerakan sembrangan itu justru
menjadi penyebab kesakitan yang lebih lagi. Zulfan membopong kepala perempuan
itu dengan lembut. Zulfan melepaskan helm dan mendapatkan wajah yang baru
beberapa kali dilihatnya.” Ris.” Risma menatapnya dengan tatapan mata kosong.”
Berapa ini?” Risma hanya diam.” Mana yang sakit?’ Risma tidak menjawab.
Perlahan Zulfan mengangkat tubuh Risma. Beberapa pengendara sepeda motor
berhenti untuk melihat dan membantu. Salah seorang dari mereka dengan cekatan
meghentikan sebuah taxi sebelum Zulfan berdiri.
“ Disana ada dokter, pak. Kalo kerumah sakit
kejauhan. Kesana dulu.”
“ Terimakasih, pak.” Zulfan membaringkan tubuh
Risma dikursi belakang, sementara dirinya duduk jongkok dilantai mobil.
“ Nggak dipangku aja mas kepalanya?” Memang posisi
seperti itu yang sering dilihat oleh bapak supir taxi yang dinaiki Zulfan.
“ Ndak, pak. Nantik khawatir lehernya ada apa-apa.
Saya pangku malah jadi parah.” Zulfan memperhatikan tas kecil yang dibawa Risma
dan berusaha mengontrol pandangannya cukup sampai ditas Risma saja. “ Ke dokter
kata bapak tadi ya, pak.” Zulfan melepaskan tas itu dengan hati-hati. Zulfan
menghela nafas dalam. Astaghfirullah. Naik motor kok ya pake celana puendek
kayak gitu.
Tidak perlu waktu lama untuk sampai ketempat
dokter praktek yang dimaksud bapak tadi. Zulfan keluar dari taxi, menyeret keluar
sedikit bagian tubuh Risma, sebelum akhirnya dengan posisi yang pas, Zulfan
segera menggendongnya.
“ Terimakasih. Sebentar,
pak ya.” Bapak supir taxi yang membantu Zulfan memegangi pintu belakang taxi
mengangguk dengan tenang.
“ Knapa, mas?” Seorang perempuan
muda berpakaian perawat segera berdiri dari kursi kerjanya.
“ Kecelakaan. “
“ Sebentar.” Perawat itu masuk
ke dalam sebuah ruangan. Tak lama kemudian dia sudah keluar sambil membuka
pintu ruangan itu lebar-lebar.” Ayo masuk, mas. Maaf ya bapak-bapak, ibu-ibu.
Tidak lama.” Petugas itu menutup pintunya kembali.” Taruh kasur situ, mas.”
Rupanya dokter itu laris.
Kasurnya dua. Begitu pikir Zulfan.
Setelah membaringkan Risma, Zulfan berkata,” Saya telfon...Istri saya dulu. Ini
temannya.” Perawat itu terlihat setengah percaya, setengahnya lagi tidak.
Zulfan memilih keluar. Dibukanya tas milik Risma. Ini hpnya. Zulfan memandang
hp itu sesaat. Gimana caranya.
“ Touchscreen, mas.
Tinggal disentuh kacanya.” Tiba-tiba perawat tadi sudah ada dihadapannya.
Zulfan mengangguk. Ingin
sebenarnya Zulfan memberitahu perawat itu kalau hp-nya cuman hp jadul. Jadi dia
tidak berpengetahuan sama sekali dengan hp-hp canggih dan tercanggih saat ini.
Zulfan memperhatikan pilihan menu. Zulfan mencari nama Rika di phonebook.
Zulfan mencari huruf R untuk Rika. Kok ndak ada. Zulfan mencari nama Dewi dan
Naning. Tidak ada. Masak aku harus telfon mas Mail atau lainnya untuk tanya
nomernya Rika. Sms. Zulfan membuka inbox. Kok ndak ada? Zulfan mempertimbangkan
untuk membaca sms inbox Risma. Maaf, ndak bermaksud lancang. Zulfan membuka
beberapa sms.
“ Sorry. Iya entar. Ambil
sendiri direstauran.” Beberapa kata tidak mampu dibaca Zulfan. Terlalu singkat
dan hurufnya aku ndak ngerti.” Ok. Rollade sudah dimeja.” Apa itu rollade?”
Zulfan membaca nama pengirimnya. Bear. Nomernya? Kemudian membaca nama-nama
pengirim sms lainnya. Bear, pooh, dan koala Nama aneh. Yang lain nama biasa.
Paling cuman Angga the looser, Andre gentong. Ada nenek sihir sama Panda. Mungkin
ini nama-nama orang terdekatnya. Ndak tau mereka dimana, di Jogya ato ndak.
Tapi nanti bisa minta nomer Rika atau teman-temannya yang lain. Zulfan memilih
menghubungi Bear. Dimana tombolnya? Karena tidak menemukan tombol huruf untuk
memasukkan nomer yang sudah dihafalnya, Zulfan kembali membuka inbox dan
mencari nama Bear.
“ Assalammualaikum.” Suara
penjawab salam itu dingin menggigit. Rika. Zulfan mendesah. Mungkin dia tau ini
aku.” Risma kecelakaan. Ada di dokter Lasmi dekat ringroad. Mau ngurus
sepedanya dulu. Dokter belum dibayar. Assalammualaikum.”
Benar, awalnya ketika melihat nama Zebra muncul
dilayar hp-nya, Rika mengira Risma yang sedang akan menghubunginya. Rika juga
dikejutkan dengan betapa dirinya ternyata mengenali suara itu. Suara yang tak
pernah ingin dihafalnya, didengar dan diingatnya. Kalimatnya tanpa subjek. Rika
ingin memberi kredit untuk hal itu, tapi Rika lebih memilih memasukkan kesempatan
itu ke gurun “ lihat saja nanti”.
Rika bergegas menghubungi Dewi sambil berjalan
menuju halaman parkir. Rika mengambil kunci mobil dari dalam tas Naning –
karena Naning pagi tadi yang bertugas sebagai sopir-, yang diletakkan didalam
kloset. Sementara ruangan yang lain adalah milik Dayat, senior chef mereka.
“ Gue tunggu dimobil. Risma kecelakaan.”
“ Kecelakaan gimana?
Dimana sekarang? Tau dari siapa? Apanya yang kecelakaan?” Dewi dan Naning sibuk
melontarkan pertanyaan begitu mereka membuka mobil.
“ Dia tadi telfon.” Rika
menyalakan mobilnya.
“ Dia? Zulfan?” Dewi dan
Naning dipenuhi rasa tidak percaya. “ Kok bisa sih? Ngapain mereka? Kok bisa
bareng?” Naning dan Dewi tahu mereka tidak akan mendapatkan jawaban, tapi
mereka mendapatkan kelegaan.
Ketiganya lega ketika
dokter Lasmi mengatakan sepertinya tidak ada luka serius, tapi dokter Lasmi
menyarankan untuk tetap melakukan pemeriksaan lengkap dirumah sakit atau
laboratorium untuk lebih memastikan. Dokter Lasmi memberikan rekomendasi sebuah
laboratorium yang menurut beliau memiliki dokter dan ahli medis dengan
kapasitas yang luar biasa. Rika, Dewi
dan Naning memutuskan untuk segera menelfon ambulance –mengingat Risma kembali
tidak tidak sadarkan diri, setelah menurut Dokter Lasmi tadi sempat sadar cukup
lama- guna memenuhi saran dokter Lasmi.
Sempat terlintas dalam
pikiran Zulfan untuk meminta tolong pada pak Anam. Setelah dipertimbangkan hal
itu adalah hal yang sia-sia. Pertama, karena pak Anam sedang sibuk. Kedua,
sepeda motor yang dinaiki Risma tidak bisa jalan. Mungkin gearnya masuk. Ketiga,
Zulfan tidak membawa hp untuk sekedar bertanya dimana dia bisa mendapatkan
bengkel bagus terdekat atau nomer telfon jasa sewa pick up untuk mengangkut
motor Risma.
Akhirnya pilihan Zulfan cuma satu: mendorong
sepeda Honda Beat itu dengan tenaga yang besar. Dalam perjalanan membawa sepeda
motor Risma, Zulfan menerima banyak perhatian dari orang-orang yang dilaluinya.
Mulai dari yang sekedar bertanya kenapa sampai memberi rekomendasi bengkel dan
jasa penyewaan pick up. Sudah terlanjur jalan, skalian. Itu pilihan Zulfan
selanjutnya. Sukses membawa sepeda motor Risma kedalam garasi rumahnya, Zulfan
memutuskan untuk menikmati beberapa gelas air putih. Baru kemudian dia berjalan
menuju rambu lalu lintas pasar Condong Catur untuk mengambil Honda Win-nya yang
kesepian menjelang gelap.
Malam itu Rika tidak pulang. Zulfan memaklumi hal
itu. Bisa jadi karna Risma ato ndak pengen pulang. Keduanya juga mungkin.
Zulfan tidak merasa ada yang salah dengan keputusan Rika tidak pulang malam itu
atau malam-malam lainnya.
Rika punya dua alasan untuk tidak pulang malam
itu. Pertama, benar karena Risma – meski hasil sinar dan scan tidak menunjukkan
luka dalam atau terjadi sesuatu dengan otak, tulang dan organ lain -, juga
karena Rika enggan merasakan pegal dilengannya karena tidur hanya dengan satu
posisi terus menerus.
Ketika keesokan harinya, ketika Rika pulang, Rika
mendapatkan posisi lemari sudah pindah di dekat jendela. Rika mengambil sebuah
kertas memo lengket dari tasnya dan menulis “ Pindah ke kamar belakang”. Ketika
Zulfan membaca pesan itu. Zulfan menggeser lemari sesuai dengan pesanan. Tentu
setelah Rika pergi.
Mesin penghitung hari-hari pernikahan Rika dan
Zulfan terus menghitung hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan. David terus
menciptakan kesempatan untuk menyampaikan perlunya pesta sambutan selamat
datang untuk Zulfan dan pernikahannya. Rika terus dengan sikap tak acuhnya dengan
Zulfan, Zulfan terus dengan sikap diamnya. Tidak pernah bertemu mata, lebih
tepatnya mengatur diri mereka sendiri agar tidak bertemu pandang, tidak bertemu
badan, meski hanya sejenak. Mereka akan saling menunggu jika merasakan
kehadiran satu sama lain.
Menurut Zulfan, diam sebagai tanda kemengertiannya
atas resiko belum tumbuhnya keikhlasan dari Rika. Rika menilainya sebagai sikap
pasif bodoh yang menyebalkan. Tidak ada kredit positif untuk itu selain ketidak
gentleman-nan. Rika pulang ke rumahnya sendiri ketika dia ingin, dan tidur
dikontrakkannya juga ketika dia ingin. Apalagi kalau badannya terasa tidak
enak, bisa dipastikan Rika akan menginap disana sampai beberapa hari. Tidak
pernah makan dan mencuci dirumahnya sendiri, hanya sekedar minum, mandi, mencuci
dan menjemur celana dalam dihalaman belakang. Awalnya, Rika selalu membawa
celana dalamnya untuk dicuci di kontrakan, semakin lama Rika enggan membawa
sesuatu yang kotor dalam tasnya. Rika belajar meyakinkan dirinya sediri
keputusan mencuci dan menjemur celana dalamnya dirumah bukan masalah, bukan
pertanda, simbol, sinyal apapun untuk Zulfan. Sementara untuk baju kotornya,
Rika meminta pada petugas laundry langganannya untuk mengambil pada saat
dirinya masih dirumah, belum dijemput oleh sahabatnya.
100 % Zulfan memahami hal
itu. Cukup sekali Zulfan melihat ketika pertama kali menemukannya. Selebihnya
Zulfan mendidik dirinya sendiri untuk tidak melihat atau melihat tapi buta.
Rika juga tidak memberikan kredit untuk rumah yang selalu ditemukannya dalam
kondisi bersih. Tanpa debu sedikitpun. Tidak di ruang tamu yang tidak pernah
mereka gunakan, tidak dikamar mandi, tidak dikamar yang sekarang berfungsi
sebagai kamar pakaian, tidak dikamar kecil yang dirubah Rika menjadi kamar
sepatu, tas dan sandalnya yang tertata rapi, tidak di lorong yang berisi kolam
ikan disebelah kamar mereka, tidak dihalaman belakang, tidak di halaman depan.
Apalagi dikamar yang mereka gunakan sebagai tempat tidur. Hanya kebersihan garasi yang Rika tidak pernah tahu
seberapa bersih.
Untuk menjaga udara dapur,
Zulfan memastikan membuka jendela besar yang ada disana setiap hari. Mencuci
bersih peralatan masak yang dipakainya. Membersihkan kulkas setiap kali Zulfan
mengambil sesuatu. Bukan atas dorongan rasa takut Zulfan selalu menjaga
kebersihan, Zulfan hanya tidak ingin memperburuk keadaan, meciptakan kenyamanan
jika itu mungkin. Memang dirumahnya Zulfan tidak sesering itu membersihkan
rumah. Bagian yang disisakan dan diijinkan oleh kedua adik perempuannya ketika
mereka bertambah besar hanya kamar mandi. Begitu juga urusan memasak, meski
sekedar memasak tempe atau membuat teh, Titin akan dengan sangat senang hati
melarang Zulfan melakukan semua itu sendiri selama dirinya ada dirumah, meski Titin
sedang repot. Tentu saja semua itu tidak gratis. Titin akan meminta imbal balik
dari semua yang dilakukannya untuk Zulfan. Bukan karena Titin adik yang matre,
hanya karena Titin adalah adik yang manja, suka bermanja-manja dan suka
menggoda. Setiap teringat adiknya, Zulfan jadi ingat kalau adiknya atau
keluarganya, baik keluarganya sendiri atau keluarga mertuanya, tidak ada
satupun yang menghubungi sejak terakhir Titin memberitahu kalau mereka telah
sampai rumah dengan selamat. Selebihnya tidak ada. Awalnya Zulfan menunggu.
Sampai dua minggu setelah kepulangan keluarganya, Zulfan menerima keputusan
keluarganya dengan ikhlas.
Jadi secara prinsip
hubungan Zulfan dan Rika tidak berubah. Waktu hanya mengubah mereka menjadi
terbiasa dengan kehidupan mereka sekarang. Zulfan terbiasa tidur menghadap tembok
dengan celana trainingnya meski kantuk belum menguasainya, Zulfan akan tetap
merebahkan tubuhnya sebelum Rika pulang. Tidak jarang Zulfan mendengar
kedatangan Rika, mengetahui kehadirannya, mencium aroma khas dari tubuhnya,
mendengar suara air yang diguyurnya, mendengarnya mematikan lampu dan
menghidupkan lampu tidur, juga mendengarnya memencet dengan cepat keypad
hp-nya.
Zulfan mengganti bajunya
jauh lebih sering dari yang pernah dia lakukan. Zulfan menggantinya setiap
hari. Tidak hanya dari pakain dalam yang dianggapnya wajar dan juga sudah
menjadi kebiasaannya sedari dulu, tapi juga pakaian yang dipakainya untuk ke mushollah,
untuk sekedar dirumah, untuk sesekali keluar, untuk tidur. Zulfan khawatir
dengan ketajaman hidung Rika. Padahal sebagian besar waktu Zulfan di habiskan
dirumah dengan aktivitas yang tidak mengeluarkan keringat. Bagaimana kalu nanti
baunya menempel dengan tidak sengaja di sofa, didinding, di kamar mandi. Meski
rumahnya telah dilengkapi dengan pengharum ruangan otomatis yang baru diketahui
Zulfan ketika mas-mas iparnya memberitahunya cara mengisi pengharum otomatis
itu – itu adalah sebuah tindakan tepat karena Zulfan belum pernah melihat alat
seperti itu sebelumnya – Zulfan yakin bau bisa menempel ditepat kita bersandar
atau lainnya.
Rika tidak melakukan
apapun untuk sekedar mengurangi kecanggungan atau tidak memperburuk keadaan.
Kredit negatif Rika untuk Zulfan justru semakin bertambah. Yang pertama adalah
laki-laki bodoh karena menerima perjodohan dan tidak memberikan kesempatan pada
dirinya sendiri, juga Rika, kesempatan untuk saling mengenal atau sekedar tawar
menawar. Kedua pecundang karena sikap pasifnya. Ketiga idiot, karena tidak
mempunyai pekerjaan meski telah lebih empat bulan Zulfan tinggal di Jogya.
Dari mana Rika tahu? Hey,
tidak ada yang berubah darinya. Stiap hari sama. Datang dia sudah tidur, bangun
dia sudah pergi. Nongkrong dimushollah. Sebenarnya Rika tidak pernah ingin tahu
apa yang dilakukan Zulfan setiap pagi atau harinya. Ketika ketiga sahabatnya
datang menjemput suatu pagi diantara rutinitas menjemput, Naning melihat Zulfan
sedang berdiri didepan pintu mushollah. Tidak ada pengetahuan, meski bertitle
rahasia, yang mampu dipelihara dengan baik oleh Risma kecuali sedikit saja –
yang sedikit itu menurut Dewi, Naning dan Rika adalah keajaiban. Kontan, begitu
bertemu Rika, Risma langsung melaporkan hasil pengelihatannya. Tidak ada
penghargaan sedikitpun meski relung jiwanya yang terdalam pernah
menyeledundupkan sebuah rasa yang segera dibunuh oleh Rika bahkan sebelum
hidup, Rika segera membekap dan membenamkannya dibagian tergelap jiwanya.
Ada sedikit sampah di dapur.
Berarti dia masak. Bahan yang sama dikulkas. Betapa lelaki menjemukan dia.
Telur, telur, dan telur. Lombok, taoge, wortel, sawi putih atau hijau, kol.
Tidak pernah ada bahan lain. Sekedar tempe, sekedar tahu. Bagaimana mungkin dia
bisa tahan dengan menu yang sama selama berbulan-bulan? Gila apa. Vegetarian
kali. Semi. Buktinya dia makan telur.
Sepertinya tidak ada yang
tidak dipandang sinis oleh Rika tentang apapun yang dilakukan Zulfan. Termasuk
aksi penyelamatan Zulfan untuk Risma. Begitu mata Risma terbuka untuk pertama
kali dan menemukan ketiga sahabatnya disampingnya, kalimat pertama yang
diucapkan Risma adalah siapa yang menolongnya? Naning mengatakan Risma terlalu
geer mengira penolongnya adalah seorang pangeran dari negeri seberang seperti
harapan Risma. Tangannya besar dan kasar tapi enak banget digendong sama dia. Gue
dengar bunyi dug dug dug. Saat itu Dewi dan Naning saling berpandangan sambil
menahan geli. Akhirnya Rika yang memberitahu Risma, “dia” yang menolongnya.
Rika semakin sebal luar biasa ketika Risma mengatakan ohhh pantas.
Risma mendesak Rika untuk
diijinkan menemui Zulfan sekedar menyampaikan terimakasih. Rika bersikeras
menolak. Cukup sms saja. Bukannya lu punya nomernya? Risma gigih menolak. Rika
tidak kalah gigihnya mendiamkan Risma dengan ide tidak jeniusnya. Akhirnya
Risma memutuskan untuk mengucakan rasa terimakasihnya melalui telfon bukan sms.
Rika tidak berkat apa-apa. Rika juga tidak berkata apa-apa ketika Risma memilih
menelfon Zulfan persis didepan batang hidung Rika. Dewi dan Naning tidak
berbuat apa-apa. Mereka merasa tidak ada yang salah dengan hal itu. Bahkan
sejujurnya keduanya geli bercampur senang ketika Risma melakukan hal itu.
Cara Risma mengucapkan
menanggapinya dengan baik, mengikuti arah pembicaraan dan bicara sesedikit
mungkin. Rika yang mendengarnya melalui loudspeaker, yang memang sengaja
dihidupkan oleh Risma memang tidak merubah ekspresi atau duduk tenang Rika.
Tapi kredit negatif yang dianugerahkan Rika untuk Zulfan semakin bertambah. Sebagai
seorang yang dewasa Rika merasa tidak perlu meninggalkan adegan menelfon itu
dengan marah atau jengkel. Rika setia duduk ditempatnya dengan kesibukannya
sementara telinganya tidak mendengar tapi mendengar. Laki-laki kaku.
Hanya sekali itu saja
Risma menelfon. Sudah berbulan-bulan lalu. Rika berpesan dengan nada mengancam
tentang tidak pentingnya menghubungi Zulfan setelah itu. Risma malah balik
menggoda sambil mengatakan kalau gue si nggak bisa janji kayak lu. Nggak janji
sebaik mungkin, juga nggak janji sejelek mungkin. Rika tahu itu benar.
Sore itu, jalan
Parangtritis diguyur hujan lebat disertai kilat menyambar-nyambar. Suasana
restoran tetap nyaman tidak tergoyahkan meski suara gemuruh kilat terdengar
jelas dari ruangan itu. Yag berbeda adalah tidak ada musik dan sumber listrik
restauran sore itu berasal dari generator bukan dari perusahaan listrik negara
yang sedang mengamankan diri dari ancaman kilat yang akan dibayar mahal jika
mereka terus mensuplai listrik untuk masyarakat. Rika kedatangan dua sahabatnya
dari Jakarta yang telah menjadi presenter dan pembawa berita sukses di stasiun televisi
swasta, Thumb.
“ Nakutin banget ya
suaranya.” Risma meringkuk diantara keempat sahabatnya.
“ Ahh. Elu Ris! Apa juga yang lu nggak takut!”
“ Kawin dia nggak takut!”
“ Eluuuu, Nit! Bawa-bawa kawin segala! Bikin ati
tambah sumpek aja!”
“ Tu, rasain! Biasanya dia suka skali nggoda Rika!
Eh, dirinya sendiri nggak suka diingatkan sama Angga. Sebelkan! Enakkan? Iya
toh he-eh to!” Naning menirukan sebuah lagi yang liriknya sudah dia gubah.
“ Gue nyesel banget nggak
datang waktu dikasih tau lu nikah, kalo tau gue bakal ngggak ketemu sama suami
lu.” Kata Nita.
“ Kalian ni mikir apa?
Kita aja nggak pernah ketemu....”
“ Ah, masa si, Ris!
Bukannya kalian datang?” Nita yakin dengan hal itu.
“ Iya. Katanya pas waktu lu
kecelakaan juga dia yang nolong.” Esti mengingatkan. Nita dan Esti adalah teman
satu fakultas Rika, Dewi, Naning dan Risma. Mereka pernah tinggal satu rumah
selama beberapa tahun. Kini Nita adalah seorang presenter. Sementara Esti
selain presenter, juga pembaca berita. Keduanya meraih kesuksesan di Thumb.
“ Iya. Cuman gitu aja!”
“ Apa dia jelek kayak mbah
Jiwo?’ Esti tergelak-gelak mendengar lelucon Nita.
“ Iya kali, Nit.”
“ Eh... Nggak! Dia itu
tangannya besar dan kasar.” Nita dan Esti makin keras tertawanya.
“ Kok elu yang tau?”
“ Ngapain lu tau tangannya
besar dan kasar, Ris?”
“ Kalian ini gimana si! Ya
pas waktu gue digendong dia dunk! Smart gak si presenter kita ni!”
“ Dia ingatnya tangannya,
Ning!”
“ Kalo nggak gitu namanya
bukan Risma!” Rika diam tidak menggerakkan otot wajahnya sedikitpun.
“ Hei...ati-ati lo. Dia
skarang sudah... BRUBAH.” Dewi ikut menggoda.” Dia sekarang miss fire.”
“ Sebut saja namanya...”
Risma memprovokasi.
“ Siapa namanya? Siapa?”
Naning mengejakan nama Zulfan dengan hati-hati sambil matanya melirik menggoda
kearah Rika.” Zulfan. Zulfan? Nanggung banget ya namanya. Zulfani kek, Zulekha
kek!”
“ Itu cewek, Nit!
Diragukan bener ni presenter!” Risma memberikan pandangan meremehkan.
“ Lo yang oon!” Naning
memukul pelan dahi Risma dengan kelima jarinya. Risma protes karena dikatakan
oon.” Kalo mereka nggak oon didepan kita, itu baru namanya idiot.”
“ Masa namanya Zulfan
aja?” Esti yakin Zulfan hanya nama panggilan.
“ Gue si taunya Zulfan.”
“ Gue juga.” Risma juga
membenarkan.
“ Kalian tau dari mana
namanya Zulfan? Dari undangan?”
“ Boro-boro diundang.
Dikasih tau aja nggak. Mas Setyo yang kasih tau kita bertiga. Trus kita
kesana.”
“ Ya, kita cuman denger aja
pas saudara-saudaranya Rika manggil dia.”
“ Kan ada tuh disurat
nikah?”
Dewi melirik Rika sebelum
bicara. Sambil tertawa geli dia berkata,” Menurut kalian Rika pernah liat surat
nikahnya?’
“ What???” Nita
benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“ Maharnya apa, Rik?”
“ Elo Estiningrum! Surat
nikah aja nggak tau! Apalagi mahar!”
“ Tapi gue dengar! Gue
ingat!” Naning segera membekap mulut Risma.
“ Apaan si elu, Ris!”
Risma memberontak. “ Paling yang dia ingat seperangkat alat sholat. Tunai!”
“ Srius ni, Rik. Trus mau
dibawa kemana?” Esti berkata dengan penuh keprihatinan.” Da brapa bulan?”
“ Delapan bulan, Bu. Mau
sembilan.” Kontan saja Risma mendapat banyak cubitan gemas dari keempat
sahabatnya.” Kalian ni na!”
“ Gue yakin, elu nggak
cuman tau prosedur pengambilan keputusan dan yang namanya resiko.”
“ Masalahnya dia nggak
kasih Zulfan kesempatan.”
“ Kalian kok nggak crita
si sama kita? La trus hadiah kita nyampekan?” Nita terlihat sangat menyesalkan
ketidaktahuannya.
“ Ya. Kasus korupsi
Jatigunung oleh orang dekat presiden mang waktu itu nyedot kita. Tiap hari on
air live, full 27 hari penuh.”
“ Selesai lanjut lagi.
Kasus penusukkan anggota DPR. Gila ya pekerjaan nyita persahabatan kita.”
“ Ya, namanya juga hidup.
Belum lagi tar kalo kita punya anak, punya suami.”
“ Ya, jangan sampailah...”
“ Mang enak laki-laki!
Nggak ada tuh yang brubah after married! Kita?? Nggak cuman badan doang yang
brubah!” Perkataan Nita yang ini menggelayut dalam dialog tertutup yang Rika
ciptakan untuk dirinya sendiri.
“ Kita ngerti kok kalo kalian nggak bisa
datang. Ya.. kita nggak kasih tau karna buat apa. Kita aja nggak berdaya
ngadepin dia. Dia cuman butuh support. Kita. Sahabatnya.”
“ Bukan cuman kita aja!
David juga.”
“ Eh, iya. Gimana David,
Ris?”
“ Tambah sering kesini.
Biar cuman beberapa jam. Gilakan!”
“ Gila lu Rik. Gitu lu
masih nggak percaya dia beneran ama lu?”
“ Hei, ingat sekarang dia udah
nikah.” Dewi tidak ingin ide gila semakin bermunculan.
“ Okay....”
“ But who knows.”
“ Everything is
unpredictable.”
“ Gue kira gue yang paling
sulit ditaklukkan laki-laki.” Esti menggelengkan kepala. Ya, prestasi adalah
tujuan hidup Esti. Tidak pernah ada kata cinta dan hubungan selain
persahabatannya dengan kelima perempuan yang ada didekatnya sekarang. Berbeda
dengan Rika yang pernah dekat dengan beberap laki-laki.” Gue kira lu cuman takut aja sama laki-laki.
Lu trauma.”
“ Bukannya karena
perjanjiannya sama ibunya?”
“ Kalo menurut gue si
bukan.” Esti menggelenggkan kepalanya dengan anggun.” Bukan karena diminta
ibunya biar nggak pacaran. Tapi setelah seperti ini. David seperti itu, lu masih
juga nggak bergerak.”
“ Nggak tergerak.” Nita
mengoreksi kalimat Esti.
“ Ada kenalan psikolog oke
gak?” Sambil berkata seperti itu Risma memandang mata Rika yang sedari tadi
hanya berkedip sesekali.” Gila! Coba liat! Dia masih miss cool, girls!”
“ Gini deh. Denger ya!
Kalo lu jadi ngadakan welcoming party buat Zulfan, gue datang. Apapun yang lagi
gue lagi handle. Gua datang.” Esti memantapkan suaranya.
“ Gila! Seorang
Estiningrum! Pekerja keras!”
“ Tokoh pengejar
emansipasi!”
“ Knapa si lu nggak mau
kasih kesepatan buat dia?”
“ For...” Untuk pertama
kalinya Rika bicara.
“ Gila... Dia kayak
ngomong sama anak kecil aja!” Risma memukul paha Rika dengan tangan kanannya.
“ Ok. Gini deh. Lu korban.
Menurut lu dia nggak korban?”
“ Asumsi, prasangka, kesimpulan?”
“ Kalo gitu, kamu kasih
tau kita. Dari mana lu tau dia bukan korban?” Rika terdiam.” Gini deh. Biar
kita yang cari tau. Temukan kita sama dia. Kasih kesempatan buat dia, buat
kita. Nggak usah buat elu de.”
“ Then?”
“ Then kalo ternyata
chemistery dia lebih cocok sama Risma, ya udah.”
“ Apaan si lu!” Risma
berdiri dan menindih tubuh Esti. Mereka tertawa, tentu saja satu wajah tersisa
tanpa tawa.” Kan tangannya besar. Lu
ingatnya itu si!”
“ Bukan tau! Mang
tangannya besar. Maksud gue. Nyaman banget!”
“ Lebih nyaman dari tangan
Angga rupanya!”
“ Dia belum diapa-apain
lagi sama Angga.”
“ Sebel deh gue! Jangan
sebut namanya la!”
“ Dia bener, Rik.”
“ Ya. Gue setuju sama Dewi
sama Esti. Ingat indikator perubahan adalah mrnjadi lebih baik.” Naning
mengangkat tangannya tinggi-tinggi.” Sapa lagi yang setuju!!!”
“ Iya! Sepakat.” Risma
mengangguk-angguk penuh semangat.” Menjadi lebih baik itu adalah perubahan.”
“ Keuntungan tetap di elu.
Kalo dia mang nggak baik, lo jadi punya alasan “
“ Lo cuman perlu
merhatikan aja dari jauh.”
Rika ngeri membayangkan
kisah picisan yang akan sangat mungkin ditemuinya.” Lu kira ini mudah buat
gue?”
“ Status lu istri orang.
Punya swamu, punya pernikahan. Tapi lu nggak punya kehidupan. Lu bukan milik
siapa-sipa. Sulit mana sama kayak sekarang? Kadang lu dikontrakkan, kadang lu
disana. Lu nyaman. Udah brapa hari elu, Rik. Bulan?”
“ Tempat tinggalkan
kebutuhan pokok.”
“ This is more than about
house or home. This is about your life.”
“ You will find your home,
if you find your life.” Risma mendramatisir ucapannya.
“ Ayolah jangan keras
kepala.”
“ Aku tau. Kamu takut
ditertawakan?”
“ Ditertawakan gimana?”
Risma mengeryitkan dahinya terlalu keras sampai bibir dan hidung terikut.
“ Jangan ada diantara kita
yang tertawa atau mengolok apapun yang bakal terjadi nanti!”
“ Wah! Gue sih nggak bisa
janji!” Kali Rika sudah tidak tahan dengan sikap Risma. Rika berdiri. Semua
kaget. Kemudian adegannya terlalu cepat untuk mereka sadari. Rika sudah
membungkuk memberi banyak gelitikan ditubuh Risma. Semuanya tertawa. Mereka
bersyukur tidak terjadi hal mengerikan yang sempat terlintas dalam pikiran
mereka saat melihat Rika berdiri.
“ Ok. Kita mulai dengan
welcome PARTY!” Tubuh Naning dipenuhi semangat membara.
“ Aku sama Nita off two
days sekarang...”
“ Gimana sih! Kata lu
tadi! Kapan aja party-nya lu dateng!”
“ Emang party nggak butuh
persiapan, Non?” Nita menjelaskan dengan sabar seperti seorang guru pada
muridnya.” Next week ni, kita ada jatah off four days. Pas kan.”
Rika menggelengkan kepala.
Sudah terlalu lama. Pada akhirnya aku harus memang harus menyerah. Bukan menyerah
kalah. Menyerah untuk menyelesaikan. Sulit membayangkan apa yang akan terjadi.
Takut, malu. Entahlah. Memang tidak ada pilihan lain. Manusia nggak jarang
butuh dipaksa. Dan aku nggak nyangka aku butuh untuk dipaksa. Sesuatu yang
slama ini slalu aku minimalkan dalam hidupku.
Ketika Rika hanya berdua
didalam ruangan manager bersama Dewi, Rika mengatakan semuanya.” Jadi, elu
ngrasa kita maksa?” Dewi tahu rasanya dipaksa memang tidak menyenangkan. Dan
dia tahu Rika sama sekali tidak suka dipaksa. Setelah bertahun-tahun dirinya
tidak membiarkan orang lain melakukan tindakan pemaksaan apapun, sekarang Rika
harus menghadapi pemaksaan dari ibunya, sekarang aku dan teman-teman. Bahkan
sebelumnya dia harus belajar menghadapi Dayat yang setipe dengan dirinya
sendiri. Oh God. Betapa hidup ini unik.
“ Enggak. Gue nggak
percaya... Manusia bisa dipaksa sama keadaan.” Ada keraguan disana.
“ Ya. Elu benar. Ada
kalanya seolah-olah benar kita dipaksa oleh keadaan, tapi kadang
sebaliknyakan...”
“ Akhirnya datang juga
giliran gue ngrasakan hal seperti ini. Kalo nggak gitu gue nggak tau
jawabannya.”
“ Nggak smua yang kita
alami berikan jawaban.”
“ Ya. Elu benar. Nggak berikan
jawaban karna mungkin kita terlalu membiarkannya. Terlalu larut dengan perasaan
kita. Dengan prasaan bersalah elu, dengan perasaan.... Benci bukan kata yang
tepat. Tapi apa lagi kata yang tepat untuk itu. Dan gue takut nyesel, gue takut
malu.”
“ Lu orang yang punya
harga diri dan kehormatan. Lu nggak pernah takut ngedepin orang lain. Lu slalu
takut ngadepin diri lu sendiri. Makanya nggak heran, ibu slalu pesan yang
tepat. Lu tau nggak itu pertanda kalo ibu sangat ngerti kelemahan yang juga
kelebihan lu.”
Rika tersenyum mendengarnya.” Ya. Gue pernah
mikirkan hal itu juga. Gua rasa gue nggak dipaksa sama elu, sama yang lain.
Juga nggak dipaksa sama keadaan. Gue hilang kontrol. Sebenarnya gue masih ingat
persis kejadian waktu itu. Gue udah bilang dari awal. Gue kejebak sama prasaan
bersalah gue. Rasa yang salah, waktu yang salah. Masalahnya butuh waktu
melinearkan sadar dan berani.”
“ Sekarang?”
“ Enggak. Gue nggak akan
biarkankan hidup gue lepas dari tangan gue sendiri. Gue nglakukan ini dengan
sadar. Gue dah ngikuti prosedurnya. Gue udah ngitung. Gue siap. Cukup five
months yang seperti neraka. This is not about mom. This is about me.”
Dewi memeluk Rika dengan
penuh rasa sayang. Ahhh.... Beruntungnya kau sobat! Aku ingin sepertimu.
Bertahun-tahun kau jadikan aku saksi kekokohan kata, pikiran dan sikapmu. Aku
masih belum banyak belajar. Bruntungnya aku sobat! Milikimu sebagai sahabat.
Aku yakin. Kita pasti akan menuju kehidupan yang lebih baik bersama. Seperti
yang selama ini kita lalui bersama dari awal, dari nol, dari nobody. Pelukkan
Dewi makin erat.
Dewi teringat saat pertama
kali mereka bertemu. Dewi dan maba lainnya sedang berbaris. Ketika Dewi melihat
Rika - dengan alasan yang diada-adakan senior - dipaksa untuk melepaskan
sepatunya sebagai hukuman. Rika yang merasa tidak bersalah tidak berkata
apa-apa. Dia hanya diam. Apapun yang diucapkan senior –menurut Dewi terlalu
banyak kata-kata menyakitkan dan tidak pantas – tidak mampu membuat Rika
membuka mulutnya. Akhirnya senior memerintahkan semua pindah tempat dan
membiarkan Rika sendirian. Keesokan harinya Rika datang seolah tidak terjadi
apa-apa. Saat itulah untuk pertama kalinya Dewi mengenali wajah Rika.