Promises

Promises
Episode 5



Rika menghabiskan harinya bersama pekerjaan dan


sahabat-sahabatnya. Sementara Zulfan memutuskan untuk menerima ajakan pak Anam


sore itu, tepat setelah sholat ashar, untuk menikmati sate enak di Bulak sumur.


Baru saja sate dipesan, pantat belum menyentuh kursi warung , hp pak Anam


berbunyi. Ternyata Bu Min yang menelfon. Bu Min minta pak Anam untuk pulang


sebentar karena Pak Joyo, langganan mereka minta kiriman tambahan beras dan


beberapa bahan lain. Pak Anam mencoba meminta sedikit waktu, tapi kata Bu Min


pak Joyo sedang benar-benar membutuhkannya. Pak Joyo sedang kedatangan banyak


tamu mendadak nanti malam. Sebuah rombongan besar mantan sekolah yang pernah


dipimpinnya dari daerah sedang berekreasi dan merencanakan untuk berkunjung


malam ini.


Walhasil, Zulfan menawarkan untuk mengantar pak


Anam pulang, setelah itu dirinya akan kembali lagi untuk mengambil sate pesanan


mereka dan Zulfan menawarkan untuk menikmati sate dirumah pak Anam atau


dirumahnya. Pak Anam merasa bersalah dengan kejadian itu. Zulfan mencoba


meyakinkan pak Anam bahwa dirinya tidak ada masalah dengan itu. Kondisi khusus,


pengertian khusus. Begitu kata Zulfan.


Lampu lalu lintas di dekat pasar Condong Catur


terasa lebih lama daripada lampu lalu lintas yang pernah Zulfan temui. Padahal


lalu lintasnya juga ndak rame. Namanya juga jalan besar. Dari arah timur


terlihat beberapa anak sekolah berseragam sedang mengawal seorang teman


perempuan mereka. Zulfan menggeleng melihat hal itu. Terlalu dekat. Jatuh satu,


jatuh smua. Lampu hijau menyala. Zulfan memacu sepeda Win 2002-nya perlahan.


Ketika Zulfan melintas tidak sengaja Zulfan


menoleh kearah konvoi sepeda motor yang melaju perlahan. Bukan pilihan tepat.


Berjalan berdekatan dengan kecepatan pelan seperti itu butuh lebih banyak


keseimbangan dan kesigapan kaki. Lo? Yang ditengah itu bukannya? Belum sempat


Zulfan menyebut sebuah nama dalam pikirannya, tangannya lebih sigap membelokkan


sepeda motornya kearah konvoi sepeda motor itu.


            Bersamaan dengan keputusan


Zulfan merubah arah laju sepeda motornya, salah seorang peserta konvoi


melakukan seperti yang dipikirkan Zulfan, tidak mampu menjaga keseimbangannya.


Dia jatuh, teman yang diboncengnya dengan sigap meloncat . Tapi tidak dengan


teman-teman yang ada dibelakangnya, juga teman perempuan mereka, juga


teman-teman yang ada disebelah teman perempuan mereka. Mereka jatuh saling


menindih. Tubuh merek tertindih sepeda motor, sepeda motor mereka tertindih


tubuh mereka.


Zulfan memarkir sepeda motornya disisi aman. Setelah


itu Zulfan mulai membantu mengangkat sepeda motor paling kanan, sebelum


membantu pemiliknya bangun. Zulfan sempat melihat kepala perempuan yang awalnya


dikiranya adalah teman para pemuda itu jatuh menindih kaki seorang berseragam.


Alhamdulillah. Zulfan mempercepat gerakannya, tanpa mengurangi


kehati-hatiannya. Dia khawatir pemuda yang kepalanya mengenai kepala perempuan


itu akan segera bangkit, sehingga menyebabkan kepala perempuan itu terbentur ke


aspal. Meski dia menggunakan helm, Zulfan tetap khawatir akan terjadi benturan


yang keras. Hal ini sangat mungkin jika anak berseragam itu menarik kakinya


dengan cepat karena panik.


Benar saja. Anak itu menarik kakinya dengan cepat


dibantu temannya. Zulfan segera menarik sepeda motor Honda Beat yang menindih perempuan


itu. Knapa dia ndak bergerak. Zulfan memarkir sepeda motor itu dengan cepat


dengan tidak lupa mengunci dan meletakkan kunci tersebut di kantong celananya.


Para pemuda berseragam itu mulai ribut dan sibuk saling menyalahkan.


“ Jangan.” Zulfan mempercepat gerakannya ketika


seorang pemuda berseragam hendak menarik tangan perempuan itu dengan tujuan


membantu perempuan itu berdiri. Zulfan khawatir gerakan sembrangan itu justru


menjadi penyebab kesakitan yang lebih lagi. Zulfan membopong kepala perempuan


itu dengan lembut. Zulfan melepaskan helm dan mendapatkan wajah yang baru


beberapa kali dilihatnya.” Ris.” Risma menatapnya dengan tatapan mata kosong.”


Berapa ini?” Risma hanya diam.” Mana yang sakit?’ Risma tidak menjawab.


Perlahan Zulfan mengangkat tubuh Risma. Beberapa pengendara sepeda motor


berhenti untuk melihat dan membantu. Salah seorang dari mereka dengan cekatan


meghentikan sebuah taxi sebelum Zulfan berdiri.


“ Disana ada dokter, pak. Kalo kerumah sakit


kejauhan. Kesana dulu.”


“ Terimakasih, pak.” Zulfan membaringkan tubuh


Risma dikursi belakang, sementara dirinya duduk jongkok dilantai mobil.


“ Nggak dipangku aja mas kepalanya?” Memang posisi


seperti itu yang sering dilihat oleh bapak supir taxi yang dinaiki Zulfan.


“ Ndak, pak. Nantik khawatir lehernya ada apa-apa.


Saya pangku malah jadi parah.” Zulfan memperhatikan tas kecil yang dibawa Risma


dan berusaha mengontrol pandangannya cukup sampai ditas Risma saja. “ Ke dokter


kata bapak tadi ya, pak.” Zulfan melepaskan tas itu dengan hati-hati. Zulfan


menghela nafas dalam. Astaghfirullah. Naik motor kok ya pake celana puendek


kayak gitu.


Tidak perlu waktu lama untuk sampai ketempat


dokter praktek yang dimaksud bapak tadi. Zulfan keluar dari taxi, menyeret keluar


sedikit bagian tubuh Risma, sebelum akhirnya dengan posisi yang pas, Zulfan


segera menggendongnya.


            “ Terimakasih. Sebentar,


pak ya.” Bapak supir taxi yang membantu Zulfan memegangi pintu belakang taxi


mengangguk dengan tenang.


            “ Knapa, mas?” Seorang perempuan


muda berpakaian perawat segera berdiri dari kursi kerjanya.


            “ Kecelakaan. “


            “ Sebentar.” Perawat itu masuk


ke dalam sebuah ruangan. Tak lama kemudian dia sudah keluar sambil membuka


pintu ruangan itu lebar-lebar.” Ayo masuk, mas. Maaf ya bapak-bapak, ibu-ibu.


Tidak lama.” Petugas itu menutup pintunya kembali.” Taruh kasur situ, mas.”


            Rupanya dokter itu laris.


Kasurnya dua. Begitu pikir  Zulfan.


Setelah membaringkan Risma, Zulfan berkata,” Saya telfon...Istri saya dulu. Ini


temannya.” Perawat itu terlihat setengah percaya, setengahnya lagi tidak.


Zulfan memilih keluar. Dibukanya tas milik Risma. Ini hpnya. Zulfan memandang


hp itu sesaat. Gimana caranya.


            “ Touchscreen, mas.


Tinggal disentuh kacanya.” Tiba-tiba perawat tadi sudah ada dihadapannya.


            Zulfan mengangguk. Ingin


sebenarnya Zulfan memberitahu perawat itu kalau hp-nya cuman hp jadul. Jadi dia


tidak berpengetahuan sama sekali dengan hp-hp canggih dan tercanggih saat ini.


Zulfan memperhatikan pilihan menu. Zulfan mencari nama Rika di phonebook.


Zulfan mencari huruf R untuk Rika. Kok ndak ada. Zulfan mencari nama Dewi dan


Naning. Tidak ada. Masak aku harus telfon mas Mail atau lainnya untuk tanya


nomernya Rika. Sms. Zulfan membuka inbox. Kok ndak ada? Zulfan mempertimbangkan


untuk membaca sms inbox Risma. Maaf, ndak bermaksud lancang. Zulfan membuka


beberapa sms.


            “ Sorry. Iya entar. Ambil


sendiri direstauran.” Beberapa kata tidak mampu dibaca Zulfan. Terlalu singkat


dan hurufnya aku ndak ngerti.” Ok. Rollade sudah dimeja.” Apa itu rollade?”


Zulfan membaca nama pengirimnya. Bear. Nomernya? Kemudian membaca nama-nama


pengirim sms lainnya. Bear, pooh, dan koala Nama aneh. Yang lain nama biasa.


Paling cuman Angga the looser, Andre gentong. Ada nenek sihir sama Panda. Mungkin


ini nama-nama orang terdekatnya. Ndak tau mereka dimana, di Jogya ato ndak.


Tapi nanti bisa minta nomer Rika atau teman-temannya yang lain. Zulfan memilih


menghubungi Bear. Dimana tombolnya? Karena tidak menemukan tombol huruf untuk


memasukkan nomer yang sudah dihafalnya, Zulfan kembali membuka inbox dan


mencari nama Bear.


            “ Assalammualaikum.” Suara


penjawab salam itu dingin menggigit. Rika. Zulfan mendesah. Mungkin dia tau ini


aku.” Risma kecelakaan. Ada di dokter Lasmi dekat ringroad. Mau ngurus


sepedanya dulu. Dokter belum dibayar. Assalammualaikum.”


Benar, awalnya ketika melihat nama Zebra muncul


dilayar hp-nya, Rika mengira Risma yang sedang akan menghubunginya. Rika juga


dikejutkan dengan betapa dirinya ternyata mengenali suara itu. Suara yang tak


pernah ingin dihafalnya, didengar dan diingatnya. Kalimatnya tanpa subjek. Rika


ingin memberi kredit untuk hal itu, tapi Rika lebih memilih memasukkan kesempatan


itu ke gurun “ lihat saja nanti”.


Rika bergegas menghubungi Dewi sambil berjalan


menuju halaman parkir. Rika mengambil kunci mobil dari dalam tas Naning –


karena Naning pagi tadi yang bertugas sebagai sopir-, yang diletakkan didalam


kloset. Sementara ruangan yang lain adalah milik Dayat, senior chef mereka.


            “  Gue tunggu dimobil. Risma kecelakaan.”


            “ Kecelakaan gimana?


Dimana sekarang? Tau dari siapa? Apanya yang kecelakaan?” Dewi dan Naning sibuk


melontarkan pertanyaan begitu mereka membuka mobil.


            “ Dia tadi telfon.” Rika


menyalakan mobilnya.


            “ Dia? Zulfan?” Dewi dan


Naning dipenuhi rasa tidak percaya. “ Kok bisa sih? Ngapain mereka? Kok bisa


bareng?” Naning dan Dewi tahu mereka tidak akan mendapatkan jawaban, tapi


mereka mendapatkan kelegaan.


            Ketiganya lega ketika


dokter Lasmi mengatakan sepertinya tidak ada luka serius, tapi dokter Lasmi


menyarankan untuk tetap melakukan pemeriksaan lengkap dirumah sakit atau


laboratorium untuk lebih memastikan. Dokter Lasmi memberikan rekomendasi sebuah


laboratorium yang menurut beliau memiliki dokter dan ahli medis dengan


kapasitas yang luar biasa.  Rika, Dewi


dan Naning memutuskan untuk segera menelfon ambulance –mengingat Risma kembali


tidak tidak sadarkan diri, setelah menurut Dokter Lasmi tadi sempat sadar cukup


lama- guna memenuhi saran dokter Lasmi.


            Sempat terlintas dalam


pikiran Zulfan untuk meminta tolong pada pak Anam. Setelah dipertimbangkan hal


itu adalah hal yang sia-sia. Pertama, karena pak Anam sedang sibuk. Kedua,


sepeda motor yang dinaiki Risma tidak bisa jalan. Mungkin gearnya masuk. Ketiga,


Zulfan tidak membawa hp untuk sekedar bertanya dimana dia bisa mendapatkan


bengkel bagus terdekat atau nomer telfon jasa sewa pick up untuk mengangkut


motor Risma.


Akhirnya pilihan Zulfan cuma satu: mendorong


sepeda Honda Beat itu dengan tenaga yang besar. Dalam perjalanan membawa sepeda


motor Risma, Zulfan menerima banyak perhatian dari orang-orang yang dilaluinya.


Mulai dari yang sekedar bertanya kenapa sampai memberi rekomendasi bengkel dan


jasa penyewaan pick up. Sudah terlanjur jalan, skalian. Itu pilihan Zulfan


selanjutnya. Sukses membawa sepeda motor Risma kedalam garasi rumahnya, Zulfan


memutuskan untuk menikmati beberapa gelas air putih. Baru kemudian dia berjalan


menuju rambu lalu lintas pasar Condong Catur untuk mengambil Honda Win-nya yang


kesepian menjelang gelap.


Malam itu Rika tidak pulang. Zulfan memaklumi hal


itu. Bisa jadi karna Risma ato ndak pengen pulang. Keduanya juga mungkin.


Zulfan tidak merasa ada yang salah dengan keputusan Rika tidak pulang malam itu


atau malam-malam lainnya.


Rika punya dua alasan untuk tidak pulang malam


itu. Pertama, benar karena Risma – meski hasil sinar dan scan tidak menunjukkan


luka dalam atau terjadi sesuatu dengan otak, tulang dan organ lain -, juga


karena Rika enggan merasakan pegal dilengannya karena tidur hanya dengan satu


posisi terus menerus.


Ketika keesokan harinya, ketika Rika pulang, Rika


mendapatkan posisi lemari sudah pindah di dekat jendela. Rika mengambil sebuah


kertas memo lengket dari tasnya dan menulis “ Pindah ke kamar belakang”. Ketika


Zulfan membaca pesan itu. Zulfan menggeser lemari sesuai dengan pesanan. Tentu


setelah Rika pergi.


Mesin penghitung hari-hari pernikahan Rika dan


Zulfan terus menghitung hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan. David terus


menciptakan kesempatan untuk menyampaikan perlunya pesta sambutan selamat


datang untuk Zulfan dan pernikahannya. Rika terus dengan sikap tak acuhnya dengan


Zulfan, Zulfan terus dengan sikap diamnya. Tidak pernah bertemu mata, lebih


tepatnya mengatur diri mereka sendiri agar tidak bertemu pandang, tidak bertemu


badan, meski hanya sejenak. Mereka akan saling menunggu jika merasakan


kehadiran satu sama lain.


Menurut Zulfan, diam sebagai tanda kemengertiannya


atas resiko belum tumbuhnya keikhlasan dari Rika. Rika menilainya sebagai sikap


pasif bodoh yang menyebalkan. Tidak ada kredit positif untuk itu selain ketidak


gentleman-nan. Rika pulang ke rumahnya sendiri ketika dia ingin, dan tidur


dikontrakkannya juga ketika dia ingin. Apalagi kalau badannya terasa tidak


enak, bisa dipastikan Rika akan menginap disana sampai beberapa hari. Tidak


pernah makan dan mencuci dirumahnya sendiri, hanya sekedar minum, mandi, mencuci


dan menjemur celana dalam dihalaman belakang. Awalnya, Rika selalu membawa


celana dalamnya untuk dicuci di kontrakan, semakin lama Rika enggan membawa


sesuatu yang kotor dalam tasnya. Rika belajar meyakinkan dirinya sediri


keputusan mencuci dan menjemur celana dalamnya dirumah bukan masalah, bukan


pertanda, simbol, sinyal apapun untuk Zulfan. Sementara untuk baju kotornya,


Rika meminta pada petugas laundry langganannya untuk mengambil pada saat


dirinya masih dirumah, belum dijemput oleh sahabatnya.


            100 % Zulfan memahami hal


itu. Cukup sekali Zulfan melihat ketika pertama kali menemukannya. Selebihnya


Zulfan mendidik dirinya sendiri untuk tidak melihat atau melihat tapi buta.


Rika juga tidak memberikan kredit untuk rumah yang selalu ditemukannya dalam


kondisi bersih. Tanpa debu sedikitpun. Tidak di ruang tamu yang tidak pernah


mereka gunakan, tidak dikamar mandi, tidak dikamar yang sekarang berfungsi


sebagai kamar pakaian, tidak dikamar kecil yang dirubah Rika menjadi kamar


sepatu, tas dan sandalnya yang tertata rapi, tidak di lorong yang berisi kolam


ikan disebelah kamar mereka, tidak dihalaman belakang, tidak di halaman depan.


Apalagi dikamar yang mereka gunakan sebagai tempat tidur. Hanya  kebersihan garasi yang Rika tidak pernah tahu


seberapa bersih.


            Untuk menjaga udara dapur,


Zulfan memastikan membuka jendela besar yang ada disana setiap hari. Mencuci


bersih peralatan masak yang dipakainya. Membersihkan kulkas setiap kali Zulfan


mengambil sesuatu. Bukan atas dorongan rasa takut Zulfan selalu menjaga


kebersihan, Zulfan hanya tidak ingin memperburuk keadaan, meciptakan kenyamanan


jika itu mungkin. Memang dirumahnya Zulfan tidak sesering itu membersihkan


rumah. Bagian yang disisakan dan diijinkan oleh kedua adik perempuannya ketika


mereka bertambah besar hanya kamar mandi. Begitu juga urusan memasak, meski


sekedar memasak tempe atau membuat teh, Titin akan dengan sangat senang hati


melarang Zulfan melakukan semua itu sendiri selama dirinya ada dirumah, meski Titin


sedang repot. Tentu saja semua itu tidak gratis. Titin akan meminta imbal balik


dari semua yang dilakukannya untuk Zulfan. Bukan karena Titin adik yang matre,


hanya karena Titin adalah adik yang manja, suka bermanja-manja dan suka


menggoda. Setiap teringat adiknya, Zulfan jadi ingat kalau adiknya atau


keluarganya, baik keluarganya sendiri atau keluarga mertuanya, tidak ada


satupun yang menghubungi sejak terakhir Titin memberitahu kalau mereka telah


sampai rumah dengan selamat. Selebihnya tidak ada. Awalnya Zulfan menunggu.


Sampai dua minggu setelah kepulangan keluarganya, Zulfan menerima keputusan


keluarganya dengan ikhlas.


            Jadi secara prinsip


hubungan Zulfan dan Rika tidak berubah. Waktu hanya mengubah mereka menjadi


terbiasa dengan kehidupan mereka sekarang. Zulfan terbiasa tidur menghadap tembok


dengan celana trainingnya meski kantuk belum menguasainya, Zulfan akan tetap


merebahkan tubuhnya sebelum Rika pulang. Tidak jarang Zulfan mendengar


kedatangan Rika, mengetahui kehadirannya, mencium aroma khas dari tubuhnya,


mendengar suara air yang diguyurnya, mendengarnya mematikan lampu dan


menghidupkan lampu tidur, juga mendengarnya memencet dengan cepat keypad


hp-nya.


            Zulfan mengganti bajunya


jauh lebih sering dari yang pernah dia lakukan. Zulfan menggantinya setiap


hari. Tidak hanya dari pakain dalam yang dianggapnya wajar dan juga sudah


menjadi kebiasaannya sedari dulu, tapi juga pakaian yang dipakainya untuk ke mushollah,


untuk sekedar dirumah, untuk sesekali keluar, untuk tidur. Zulfan khawatir


dengan ketajaman hidung Rika. Padahal sebagian besar waktu Zulfan di habiskan


dirumah dengan aktivitas yang tidak mengeluarkan keringat. Bagaimana kalu nanti


baunya menempel dengan tidak sengaja di sofa, didinding, di kamar mandi. Meski


rumahnya telah dilengkapi dengan pengharum ruangan otomatis yang baru diketahui


Zulfan ketika mas-mas iparnya memberitahunya cara mengisi pengharum otomatis


itu – itu adalah sebuah tindakan tepat karena Zulfan belum pernah melihat alat


seperti itu sebelumnya – Zulfan yakin bau bisa menempel ditepat kita bersandar


atau lainnya.


            Rika tidak melakukan


apapun untuk sekedar mengurangi kecanggungan atau tidak memperburuk keadaan.


Kredit negatif Rika untuk Zulfan justru semakin bertambah. Yang pertama adalah


laki-laki bodoh karena menerima perjodohan dan tidak memberikan kesempatan pada


dirinya sendiri, juga Rika, kesempatan untuk saling mengenal atau sekedar tawar


menawar. Kedua pecundang karena sikap pasifnya. Ketiga idiot, karena tidak


mempunyai pekerjaan meski telah lebih empat bulan Zulfan tinggal di Jogya.


            Dari mana Rika tahu? Hey,


tidak ada yang berubah darinya. Stiap hari sama. Datang dia sudah tidur, bangun


dia sudah pergi. Nongkrong dimushollah. Sebenarnya Rika tidak pernah ingin tahu


apa yang dilakukan Zulfan setiap pagi atau harinya. Ketika ketiga sahabatnya


datang menjemput suatu pagi diantara rutinitas menjemput, Naning melihat Zulfan


sedang berdiri didepan pintu mushollah. Tidak ada pengetahuan, meski bertitle


rahasia, yang mampu dipelihara dengan baik oleh Risma kecuali sedikit saja –


yang sedikit itu menurut Dewi, Naning dan Rika adalah keajaiban. Kontan, begitu


bertemu Rika, Risma langsung melaporkan hasil pengelihatannya. Tidak ada


penghargaan sedikitpun meski relung jiwanya yang terdalam pernah


menyeledundupkan sebuah rasa yang segera dibunuh oleh Rika bahkan sebelum


hidup, Rika segera membekap dan membenamkannya dibagian tergelap jiwanya.


            Ada sedikit sampah di dapur.


Berarti dia masak. Bahan yang sama dikulkas. Betapa lelaki menjemukan dia.


Telur, telur, dan telur. Lombok, taoge, wortel, sawi putih atau hijau, kol.


Tidak pernah ada bahan lain. Sekedar tempe, sekedar tahu. Bagaimana mungkin dia


bisa tahan dengan menu yang sama selama berbulan-bulan? Gila apa. Vegetarian


kali. Semi. Buktinya dia makan telur.


            Sepertinya tidak ada yang


tidak dipandang sinis oleh Rika tentang apapun yang dilakukan Zulfan. Termasuk


aksi penyelamatan Zulfan untuk Risma. Begitu mata Risma terbuka untuk pertama


kali dan menemukan ketiga sahabatnya disampingnya, kalimat pertama yang


diucapkan Risma adalah siapa yang menolongnya? Naning mengatakan Risma terlalu


geer mengira penolongnya adalah seorang pangeran dari negeri seberang seperti


harapan Risma. Tangannya besar dan kasar tapi enak banget digendong sama dia. Gue


dengar bunyi dug dug dug. Saat itu Dewi dan Naning saling berpandangan sambil


menahan geli. Akhirnya Rika yang memberitahu Risma, “dia” yang menolongnya.


Rika semakin sebal luar biasa ketika Risma mengatakan ohhh pantas.


            Risma mendesak Rika untuk


diijinkan menemui Zulfan sekedar menyampaikan terimakasih. Rika bersikeras


menolak. Cukup sms saja. Bukannya lu punya nomernya? Risma gigih menolak. Rika


tidak kalah gigihnya mendiamkan Risma dengan ide tidak jeniusnya. Akhirnya


Risma memutuskan untuk mengucakan rasa terimakasihnya melalui telfon bukan sms.


Rika tidak berkat apa-apa. Rika juga tidak berkata apa-apa ketika Risma memilih


menelfon Zulfan persis didepan batang hidung Rika. Dewi dan Naning tidak


berbuat apa-apa. Mereka merasa tidak ada yang salah dengan hal itu. Bahkan


sejujurnya keduanya geli bercampur senang  ketika Risma melakukan hal itu.


            Cara Risma mengucapkan


menanggapinya dengan baik, mengikuti arah pembicaraan dan bicara sesedikit


mungkin. Rika yang mendengarnya melalui loudspeaker, yang memang sengaja


dihidupkan oleh Risma memang tidak merubah ekspresi atau duduk tenang Rika.


Tapi kredit negatif yang dianugerahkan Rika untuk Zulfan semakin bertambah. Sebagai


seorang yang dewasa Rika merasa tidak perlu meninggalkan adegan menelfon itu


dengan marah atau jengkel. Rika setia duduk ditempatnya dengan kesibukannya


sementara telinganya tidak mendengar tapi mendengar. Laki-laki kaku.


            Hanya sekali itu saja


Risma menelfon. Sudah berbulan-bulan lalu. Rika berpesan dengan nada mengancam


tentang tidak pentingnya menghubungi Zulfan setelah itu. Risma malah balik


menggoda sambil mengatakan kalau gue si nggak bisa janji kayak lu. Nggak janji


sebaik mungkin, juga nggak janji sejelek mungkin. Rika tahu itu benar.


            Sore itu, jalan


Parangtritis diguyur hujan lebat disertai kilat menyambar-nyambar. Suasana


restoran tetap nyaman tidak tergoyahkan meski suara gemuruh kilat terdengar


jelas dari ruangan itu. Yag berbeda adalah tidak ada musik dan sumber listrik


restauran sore itu berasal dari generator bukan dari perusahaan listrik negara


yang sedang mengamankan diri dari ancaman kilat yang akan dibayar mahal jika


mereka terus mensuplai listrik untuk masyarakat. Rika kedatangan dua sahabatnya


dari Jakarta yang telah menjadi presenter dan pembawa berita sukses di stasiun televisi


swasta, Thumb.


            “ Nakutin banget ya


suaranya.” Risma meringkuk diantara keempat sahabatnya.


“ Ahh. Elu Ris! Apa juga yang lu nggak takut!”


“ Kawin dia nggak takut!”


“ Eluuuu, Nit! Bawa-bawa kawin segala! Bikin ati


tambah sumpek aja!”


“ Tu, rasain! Biasanya dia suka skali nggoda Rika!


Eh, dirinya sendiri nggak suka diingatkan sama Angga. Sebelkan! Enakkan? Iya


toh he-eh to!” Naning menirukan sebuah lagi yang liriknya sudah dia gubah.


            “ Gue nyesel banget nggak


datang waktu dikasih tau lu nikah, kalo tau gue bakal ngggak ketemu sama suami


lu.” Kata Nita.


            “ Kalian ni mikir apa?


Kita aja nggak pernah ketemu....”


            “ Ah, masa si, Ris!


Bukannya kalian datang?” Nita yakin dengan hal itu.


            “ Iya. Katanya pas waktu lu


kecelakaan juga dia yang nolong.” Esti mengingatkan. Nita dan Esti adalah teman


satu fakultas Rika, Dewi, Naning dan Risma. Mereka pernah tinggal satu rumah


selama beberapa tahun. Kini Nita adalah seorang presenter. Sementara Esti


selain presenter, juga pembaca berita. Keduanya meraih kesuksesan di Thumb.


            “ Iya. Cuman gitu aja!”


            “ Apa dia jelek kayak mbah


Jiwo?’ Esti tergelak-gelak mendengar lelucon Nita.


            “ Iya kali, Nit.”


            “ Eh... Nggak! Dia itu


tangannya besar dan kasar.” Nita dan Esti makin keras tertawanya.


            “ Kok elu yang tau?”


            “ Ngapain lu tau tangannya


besar dan kasar, Ris?”


            “ Kalian ini gimana si! Ya


pas waktu gue digendong dia dunk! Smart gak si presenter kita ni!”


            “ Dia ingatnya tangannya,


Ning!”


            “ Kalo nggak gitu namanya


bukan Risma!” Rika diam tidak menggerakkan otot wajahnya sedikitpun.


            “ Hei...ati-ati lo. Dia


skarang sudah... BRUBAH.” Dewi ikut menggoda.” Dia sekarang miss fire.”


            “ Sebut saja namanya...”


Risma memprovokasi.


            “ Siapa namanya? Siapa?”


Naning mengejakan nama Zulfan dengan hati-hati sambil matanya melirik menggoda


kearah Rika.” Zulfan. Zulfan? Nanggung banget ya namanya. Zulfani kek, Zulekha


kek!”


            “ Itu cewek, Nit!


Diragukan bener ni presenter!” Risma memberikan pandangan meremehkan.


            “ Lo yang oon!” Naning


memukul pelan dahi Risma dengan kelima jarinya. Risma protes karena dikatakan


oon.” Kalo mereka nggak oon didepan kita, itu baru namanya idiot.”


            “ Masa namanya Zulfan


aja?” Esti yakin Zulfan hanya nama panggilan.


            “ Gue si taunya Zulfan.”


            “ Gue juga.” Risma juga


membenarkan.


            “ Kalian tau dari mana


namanya Zulfan? Dari undangan?”


            “ Boro-boro diundang.


Dikasih tau aja nggak. Mas Setyo yang kasih tau kita bertiga. Trus kita


kesana.”


            “ Ya, kita cuman denger aja


pas saudara-saudaranya Rika manggil dia.”


            “ Kan ada tuh disurat


nikah?”


            Dewi melirik Rika sebelum


bicara. Sambil tertawa geli dia berkata,” Menurut kalian Rika pernah liat surat


nikahnya?’


            “ What???” Nita


benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


            “ Maharnya apa, Rik?”


            “ Elo Estiningrum! Surat


nikah aja nggak tau! Apalagi mahar!”


            “ Tapi gue dengar! Gue


ingat!” Naning segera membekap mulut Risma.


            “ Apaan si elu, Ris!”


Risma memberontak. “ Paling yang dia ingat seperangkat alat sholat. Tunai!”


            “ Srius ni, Rik. Trus mau


dibawa kemana?” Esti berkata dengan penuh keprihatinan.” Da brapa bulan?”


            “ Delapan bulan, Bu. Mau


sembilan.” Kontan saja Risma mendapat banyak cubitan gemas dari keempat


sahabatnya.” Kalian ni na!”


            “ Gue yakin, elu nggak


cuman tau prosedur pengambilan keputusan dan yang namanya resiko.”


            “ Masalahnya dia nggak


kasih Zulfan kesempatan.”


            “ Kalian kok nggak crita


si sama kita? La trus hadiah kita nyampekan?” Nita terlihat sangat menyesalkan


ketidaktahuannya.


            “ Ya. Kasus korupsi


Jatigunung oleh orang dekat presiden mang waktu itu nyedot kita. Tiap hari on


air live, full 27 hari penuh.”


            “ Selesai lanjut lagi.


Kasus penusukkan anggota DPR. Gila ya pekerjaan nyita persahabatan kita.”


            “ Ya, namanya juga hidup.


Belum lagi tar kalo kita punya anak, punya suami.”


            “ Ya, jangan sampailah...”


            “ Mang enak laki-laki!


Nggak ada tuh yang brubah after married! Kita?? Nggak cuman badan doang yang


brubah!” Perkataan Nita yang ini menggelayut dalam dialog tertutup yang Rika


ciptakan untuk dirinya sendiri.


             “ Kita ngerti kok kalo kalian nggak bisa


datang. Ya.. kita nggak kasih tau karna buat apa. Kita aja nggak berdaya


ngadepin dia. Dia cuman butuh support. Kita. Sahabatnya.”


            “ Bukan cuman kita aja!


David juga.”


            “ Eh, iya. Gimana David,


Ris?”


            “ Tambah sering kesini.


Biar cuman beberapa jam. Gilakan!”


            “ Gila lu Rik. Gitu lu


masih nggak percaya dia beneran ama lu?”


            “ Hei, ingat sekarang dia udah


nikah.” Dewi tidak ingin ide gila semakin bermunculan.


            “ Okay....”


            “ But who knows.”


            “ Everything is


unpredictable.”


            “ Gue kira gue yang paling


sulit ditaklukkan laki-laki.” Esti menggelengkan kepala. Ya, prestasi adalah


tujuan hidup Esti. Tidak pernah ada kata cinta dan hubungan selain


persahabatannya dengan kelima perempuan yang ada didekatnya sekarang. Berbeda


dengan Rika yang pernah dekat dengan beberap laki-laki.”  Gue kira lu cuman takut aja sama laki-laki.


Lu trauma.”


            “ Bukannya karena


perjanjiannya sama ibunya?”


            “ Kalo menurut gue si


bukan.” Esti menggelenggkan kepalanya dengan anggun.” Bukan karena diminta


ibunya biar nggak pacaran. Tapi setelah seperti ini. David seperti itu, lu masih


juga nggak bergerak.”


            “ Nggak tergerak.” Nita


mengoreksi kalimat Esti.


            “ Ada kenalan psikolog oke


gak?” Sambil berkata seperti itu Risma memandang mata Rika yang sedari tadi


hanya berkedip sesekali.” Gila! Coba liat! Dia masih miss cool, girls!”


            “ Gini deh. Denger ya!


Kalo lu jadi ngadakan welcoming party buat Zulfan, gue datang. Apapun yang lagi


gue lagi handle. Gua datang.” Esti memantapkan suaranya.


            “ Gila! Seorang


Estiningrum! Pekerja keras!”


            “ Tokoh pengejar


emansipasi!”


            “ Knapa si lu nggak mau


kasih kesepatan buat dia?”


            “ For...” Untuk pertama


kalinya Rika bicara.


            “ Gila... Dia kayak


ngomong sama anak kecil aja!” Risma memukul paha Rika dengan tangan kanannya.


            “ Ok. Gini deh. Lu korban.


Menurut lu dia nggak korban?”


            “ Asumsi, prasangka, kesimpulan?”


            “ Kalo gitu, kamu kasih


tau kita. Dari mana lu tau dia bukan korban?” Rika terdiam.” Gini deh. Biar


kita yang cari tau. Temukan kita sama dia. Kasih kesempatan buat dia, buat


kita. Nggak usah buat elu de.”


            “ Then?”


            “ Then kalo ternyata


chemistery dia lebih cocok sama Risma, ya udah.”


            “ Apaan si lu!” Risma


berdiri dan menindih tubuh Esti. Mereka tertawa, tentu saja satu wajah tersisa


tanpa tawa.”  Kan tangannya besar. Lu


ingatnya itu si!”


            “ Bukan tau! Mang


tangannya besar. Maksud gue. Nyaman banget!”


            “ Lebih nyaman dari tangan


Angga rupanya!”


            “ Dia belum diapa-apain


lagi sama Angga.”


            “ Sebel deh gue! Jangan


sebut namanya la!”


            “ Dia bener, Rik.”


            “ Ya. Gue setuju sama Dewi


sama Esti. Ingat indikator perubahan adalah mrnjadi lebih baik.” Naning


mengangkat tangannya tinggi-tinggi.” Sapa lagi yang setuju!!!”


            “ Iya! Sepakat.” Risma


mengangguk-angguk penuh semangat.” Menjadi lebih baik itu adalah perubahan.”


            “ Keuntungan tetap di elu.


Kalo dia mang nggak baik, lo jadi punya alasan “


            “ Lo cuman perlu


merhatikan aja dari jauh.”


            Rika ngeri membayangkan


kisah picisan yang akan sangat mungkin ditemuinya.” Lu kira ini mudah buat


gue?”


            “ Status lu istri orang.


Punya swamu, punya pernikahan. Tapi lu nggak punya kehidupan. Lu bukan milik


siapa-sipa. Sulit mana sama kayak sekarang? Kadang lu dikontrakkan, kadang lu


disana. Lu nyaman. Udah brapa hari elu, Rik. Bulan?”


            “ Tempat tinggalkan


kebutuhan pokok.”


            “ This is more than about


house or home. This is about your life.”


            “ You will find your home,


if you find your life.” Risma mendramatisir ucapannya.


            “ Ayolah jangan keras


kepala.”


            “ Aku tau. Kamu takut


ditertawakan?”


            “ Ditertawakan gimana?”


Risma mengeryitkan dahinya terlalu keras sampai bibir dan hidung terikut.


            “ Jangan ada diantara kita


yang tertawa atau mengolok apapun yang bakal terjadi nanti!”


            “ Wah! Gue sih nggak bisa


janji!” Kali Rika sudah tidak tahan dengan sikap Risma. Rika berdiri. Semua


kaget. Kemudian adegannya terlalu cepat untuk mereka sadari. Rika sudah


membungkuk memberi banyak gelitikan ditubuh Risma. Semuanya tertawa. Mereka


bersyukur tidak terjadi hal mengerikan yang sempat terlintas dalam pikiran


mereka saat melihat Rika berdiri.


            “ Ok. Kita mulai dengan


welcome PARTY!” Tubuh Naning dipenuhi semangat membara.


            “ Aku sama Nita off two


days sekarang...”


            “ Gimana sih! Kata lu


tadi! Kapan aja party-nya lu dateng!”


            “ Emang party nggak butuh


persiapan, Non?” Nita menjelaskan dengan sabar seperti seorang guru pada


muridnya.” Next week ni, kita ada jatah off four days. Pas kan.”


            Rika menggelengkan kepala.


Sudah terlalu lama. Pada akhirnya aku harus memang harus menyerah. Bukan menyerah


kalah. Menyerah untuk menyelesaikan. Sulit membayangkan apa yang akan terjadi.


Takut, malu. Entahlah. Memang tidak ada pilihan lain. Manusia nggak jarang


butuh dipaksa. Dan aku nggak nyangka aku butuh untuk dipaksa. Sesuatu yang


slama ini slalu aku minimalkan dalam hidupku.


            Ketika Rika hanya berdua


didalam ruangan manager bersama Dewi, Rika mengatakan semuanya.” Jadi, elu


ngrasa kita maksa?” Dewi tahu rasanya dipaksa memang tidak menyenangkan. Dan


dia tahu Rika sama sekali tidak suka dipaksa. Setelah bertahun-tahun dirinya


tidak membiarkan orang lain melakukan tindakan pemaksaan apapun, sekarang Rika


harus menghadapi pemaksaan dari ibunya, sekarang aku dan teman-teman. Bahkan


sebelumnya dia harus belajar menghadapi Dayat yang setipe dengan dirinya


sendiri. Oh God. Betapa hidup ini unik.


            “ Enggak. Gue nggak


percaya... Manusia bisa dipaksa sama keadaan.” Ada keraguan disana.


            “ Ya. Elu benar. Ada


kalanya seolah-olah benar kita dipaksa oleh keadaan, tapi kadang


sebaliknyakan...”


            “ Akhirnya datang juga


giliran gue ngrasakan hal seperti ini. Kalo nggak gitu gue nggak tau


jawabannya.”


            “ Nggak smua yang kita


alami berikan jawaban.”


            “ Ya. Elu benar. Nggak berikan


jawaban karna mungkin kita terlalu membiarkannya. Terlalu larut dengan perasaan


kita. Dengan prasaan bersalah elu, dengan perasaan.... Benci bukan kata yang


tepat. Tapi apa lagi kata yang tepat untuk itu. Dan gue takut nyesel, gue takut


malu.”


            “ Lu orang yang punya


harga diri dan kehormatan. Lu nggak pernah takut ngedepin orang lain. Lu slalu


takut ngadepin diri lu sendiri. Makanya nggak heran, ibu slalu pesan yang


tepat. Lu tau nggak itu pertanda kalo ibu sangat ngerti kelemahan yang juga


kelebihan lu.”


             Rika tersenyum mendengarnya.” Ya. Gue pernah


mikirkan hal itu juga. Gua rasa gue nggak dipaksa sama elu, sama yang lain.


Juga nggak dipaksa sama keadaan. Gue hilang kontrol. Sebenarnya gue masih ingat


persis kejadian waktu itu. Gue udah bilang dari awal. Gue kejebak sama prasaan


bersalah gue. Rasa yang salah, waktu yang salah. Masalahnya butuh waktu


melinearkan sadar dan berani.”


            “ Sekarang?”


            “ Enggak. Gue nggak akan


biarkankan hidup gue lepas dari tangan gue sendiri. Gue nglakukan ini dengan


sadar. Gue dah ngikuti prosedurnya. Gue udah ngitung. Gue siap. Cukup five


months yang seperti neraka. This is not about mom. This is about me.”


            Dewi memeluk Rika dengan


penuh rasa sayang. Ahhh.... Beruntungnya kau sobat! Aku ingin sepertimu.


Bertahun-tahun kau jadikan aku saksi kekokohan kata, pikiran dan sikapmu. Aku


masih belum banyak belajar. Bruntungnya aku sobat! Milikimu sebagai sahabat.


Aku yakin. Kita pasti akan menuju kehidupan yang lebih baik bersama. Seperti


yang selama ini kita lalui bersama dari awal, dari nol, dari nobody. Pelukkan


Dewi makin erat.


            Dewi teringat saat pertama


kali mereka bertemu. Dewi dan maba lainnya sedang berbaris. Ketika Dewi melihat


Rika - dengan alasan yang diada-adakan senior - dipaksa untuk melepaskan


sepatunya sebagai hukuman. Rika yang merasa tidak bersalah tidak berkata


apa-apa. Dia hanya diam. Apapun yang diucapkan senior –menurut Dewi terlalu


banyak kata-kata menyakitkan dan tidak pantas – tidak mampu membuat Rika


membuka mulutnya. Akhirnya senior memerintahkan semua pindah tempat dan


membiarkan Rika sendirian. Keesokan harinya Rika datang seolah tidak terjadi


apa-apa. Saat itulah untuk pertama kalinya Dewi mengenali wajah Rika.