Promises

Promises
Episode 4



Sore harinya Rika memilih mengunjungi


restaurannya. Rika tidak menemukan suaminya di rumah ketika Rika berangkat dengan taksi. Zulfan


memilih tidak segera pulang setelah sholat ashar. Ketika Zulfan pulang, Zulfan tidak menemukan istrinya, antara kaget dan tidak. Kaget ternyata karena


istrinya tidak menunggunya, berpamitan  atau meninggalkan pesan. Tidak kaget, karena


pikiran Rika akan pergi begitu saja pernah terlintas dalam pikiran Zulfan.


Zulfan juga tahu, tidak mungkin berharap istrinya mengirim sms, sementara dia


yakin istrinya tidak mempunyai nomer hp-nya. Yok opokirim sms,


tinggal aja ndak betah. Liat aku juga ndak betah.


Zulfan memilih duduk di sofa, bingung memikirkan apa yang harus dilakukannya sekarang. Menunggu waktu


bukanlah hal yang menyenangkan. Membiarkan waktu berlalu juga bukan hal yang


menyenangkan. Zulfan jadi teringat ketika dia masih di desa. Biasanya dari pagi setelah memberi makan sapi-sapinya, Zulfan menuju


bengkel. Di bengkel Zulfan hanya duduk sambil membaca.


Sebenarnya sama aja. Pikir Zulfan, tapi kenapa yang sekarang terasa tidak


menyenangkan? Malah membuat gelisah. Zulfan keheranan. Kadang kalau


ngarit-mencari rumput- untuk sapi-sapinya bisa sampai setengah hari juga bisa


sampai satu hari penuh. Cuma jongkok sambil memegang arit – celurit – kegiatan


yang sama berjama-jam, knapa bisa ndak bosan? Zulfan teringat mushaf yang


dihadiahkan Iskandar untuknya. Diambilnya mushaf itu.


Apa yang kubaca kemarin? Zulfan seolah baru ingat,


apa saja yang dibacanya dulu ketika dia menjaga bengkelnya bersama Fauzi.


Banyak buku, bukan koran. Ngabiskan satu buku aja lama. Tapi aku ndak pernah


kepikiran baca Qur’an. Itu saja sudah syukur, jaman kuliah malah hampir ndak


pernah baca buku. Kok bisa ya. Zulfan menghabiskan sisa waktunya hingga menjelang


magrib di sofa ruang keluarga bersama mushafnya.


Sewaktu hendak berangkat ke mushola, Zulfan bingung, apa sebaiknya rumah dibiarkan tidak terkunci atau dikunci


saja. Kalau tidak dikunci jelas itu kesalahan. Kalau dikunci bagaimana kalau


nanti istrinya datang? Apa nulis pesan saja di pagar atau di pintu.  Zulfan terdiam sejenak. Aku harus tenang. Zulfan teringat


saudara-saudara iparnya yang akan langsung memilih diam jika menghadapi suatu


hal yang membingungkan mereka. Zulfan penasaran apa yang sebenarnya ada di kepala mereka waktu itu. Apa yang harus kulakukan? Ya, Allah, mana yang


baik? Mungkin ini yang ada di pikiran mereka.


Mereka minta tolong pada Tuhan mereka, Allah.


Zulfan menggelengkan kepalanya. Kita punya Tuhan,


untuk apa kita takut? Jadi orang Islam itu paling enak. Kalo ada apa-apa,


kita tinggal minta. Tinggal berdoa. Zulfan baru ingat perkataan Halim sewaktu


mereka berangkat ke Jogya. Urusan kecil begini saja, aku lupa sama Allah.


Zulfan merasa berdosa. Setelah itu Zulfan merasakan ketenangan merasuki


dirinya. Jiwanya yakin, tidak akan terjadi apa-apa meskipun rumahnya dibiarkan


tidak terkunci. Manfaatnya lebih banyak, begitu menurut Zulfan.


Di musholla, Zulfan menunggu


isya dengan asyik berbincang dengan pak Anam takmir mushola perumahan Condong


Catur Permai, yang hanya berisi dua deret rumah yang tidak setiap deretnya


dipenuhi dengan rumah-rumah.


“ Mas, besok sampeyan saja yang jadi imam.” Pak


Anam mengatakannya dengan wajah yang serius. Zulfan diam dan berkedip beberapa


kali. Dia tersenyum dan menggelengkan kepala penuh rasa tidak percaya.“ Mas Zulfan


ndak liat tadi pagi?” Zulfan menggeleng pelan.” Biasanya yang sholat subuh cuma


saya sama pak Saiful sama pak Tuwi. Tadi pagi, pak Hendarto dosen yang suka


pake celana pendek datang sholat subuh lo, mas! Padahal ndak pernah sholat di musholla!


Pak Tomy juga iya. Bacaannya memang mantep.” Pak Anam mengacungkan jempol


kanannya disertai gelengan kagum.


Zulfan menghela nafas pelan. Sambil tersenyum


Zulfan berkata.” Pak Anam.” Janggal rasanya memanggil orang seperti itu. Tentu


saja karena Zulfan jarang memanggil seseorang dengan pak. Paling lek, cak.”


Saya ini ndak bagus bacaannya!”


“ Masak seh!” Pak Anam benar-benar tidak percaya.” Mas Zulfan kan saudaranya. Ya pasti bisa!”


“ Kalo bisa, ya, saya mau.”


“ Dicobak dulu, mas! Besok pagi dicobak! Ya!” Zulfan menggeleng keberatan.”


Wong dicobak aja to mas. Ya!”


Hati Zulfan bergetar hebat. Bergetar karena takut


dan ngeri membayangkan dirinya sedang berdiri di depan jamaah dan mulai membaca ayat-ayat pendek yang dihafalnya dengan cara


bacanya yang tidak bertartil,


tidaksebaik mas-mas


iparnya. Jauh. Ndak ada seperempatnya. Suara besar tapi kaku.


Sementara itu, di sebuah tempat beberapa kilo jauhnya dari perumahan Condong Catur Permai,


Rika menikmati kembalinya dirinya dikursi manager sambil mengotak-atik komputer


yang berada di depannya. Sedari tadi Rika asyik memperhatikan


catatan penjualan di layar komputernya yang terhubung langsung


dengan komputer kasir.


Sudah sebulan lebih Rika tidak mengerjakan


pembukuan restauran serutin biasanya. Dewi menawarkan diri untuk mengerjakan


tugas Rika, Rika menolak. Bukan tanpa alasan. Rika tahu dirinya pasti


membutuhkan banyak pekerjaan sebagai pengalih perhatian atas pernikahannya.


Sebenarnya tidak banyak yang harus dilakukan Rika, semua sudah


terkomputerisasi. Rika memilih software pembukuan terlengkap dan tercanggih


milik Amax.T. Sebuah perusahaan software terkenal di Jogya. Semua data dari


komputer kasir akan secara otomatis mengisi jurnal-jurnal harian dan


terakumulasi dengan otomatis setiap 30 atau 31 hari, tergantung program apa


saja yang diminta konsumen. Untuk data pengeluaran, Rika hanya perlu menginput


data dari nota-nota yang telah dikelompokkan oleh Naning. Diagram-diagram


penjualan juga dilakukan secara otomatis. Rika tinggal mengecek dan mencetak.


Terakhir, Rika hanya perlu menganalisa. Belum pernah terjadi keanehan yang


mengharuskan Rika mencocokkan data dengan print-out double yang dikeluarkan


kasir untuk karyawan dan pihak restauran atau mencocok nota-nota pembeliannya


dengan supplier.


Salah satu kuncinya terletak pada kejujuran;


supplier dan kasir. Rika merasa beruntung bertemu dengan Tyas, kasir yang


dipekerjakannya sedari awal dia dan teman-temannya membeli lisensi restauran


waralaba Jepang yang akhirnya dilepas, karen Rika dan ketiga sahabatnya menemukan


bentuknya sendiri. Rika mengenal Tyas cukup lama, sejak Rika menempati rumah


kostnya yang ke 17, ketika SMU. Maklum, di tahun pertamanya di Jogya, Rika pindah kost sebanyak 10 kali. Tahun


keduanya, tepatnya ketika Rika kelas dua SMU, Rika pindah kost sebanyak 5 kali.


Baru kelas tiga SMU, Rika hanya pindah sebanyak 2 kali saja. Rumah kost ke 17


Rika bersebelahan dengan rumah Tyas. Rika sering bertemu dan ngobrol dengan


Tyas, ketika Rika membeli makan di warung milik ibunya


Tyas yang menjual mie ayam, bakso dan es kelapa muda serta aneka jus.


Tepat ketika Rika dan teman-temannya memutuskan


untuk mencoba restauran waralaba Jepang, Rika teringat dengan Tyas yang baru


lulus dari program Diploma 1-nya. Setelah meyakinkan teman-temannya tentang penilaian plus Rika terhadap keluarga Tyas, Rika menghubungi Tyas untuk menawarkan


pekerjaan sebagai kasir. Tepat ketika Tyas sedang mencari pekerjaan. Tepat


ketika Rika membutuhkan. Harmonipun terjalin.


“ Hei, dicari pak Bowo, tu!” Naning berdiri di depan pintu sambil berkacak pinggang. Rika mengangguk.” Gimana,fine?”


Awalnya Rika bingung dengan maksud pertanyaan Naning.” Apanya?”


“ Penjualannya, sayang! Gimana sih, nglamun aja! Mikirin suami ya.”


“ Ahh....  kamu, Ning!” Rika melirik tajam kearah Naning. Naning malah tertawa


menggoda. Tentu saja aku nggak mikirin dia. Aku juga nggak mikir kalo yang


dimaksud Naning fine itu suami.... Ah.... Pernikahan. Nggak blas. Apa


pernikahan ini akan berjalan, seperti apa. Kalo toh berakhir, berakhir seperti


apa. Rika merasa mengakhiri pernikahan adalah sesuatu yang diinginkan dan tidak


diinginkan. Diinginkan karna sudah terjadi dan bagaimanapun juga, Rika tahu


menikah adalah bukan permainan, sesuatu yang sakral. Rika takut bermain-main


dengan sesuatu yang dibolehkan oleh tuhan. Tidak diinginkan karena Rika tidak


menyukai Zulfan dan pernikahannya. Rika merasa kalau ingin menghentikan


pernikahannya, seharusnya menghentikan ini dari awal. Tidak ujug-ujug. Waktu


itu terlalu ujug-ujug. Dimakan rasa bersalah, aku langsung aja bilang iya.


Padahal datang untuk minta maaf. Terjebak. Persis seperti hewan buruan. Siapa


yang harus disalahkan. Merekakah yang menjebak? Merekakah yang sengaja


menciptakan kondisi seperti itu? Siapa mereka? Sahabat-sahabatku? Ibu dan


saudara-saudaraku? Kekonyolan besar kalo aku ngira mereka bekerja sama. Kondisi


seperti ini memang membuat mudah berprasangka, Rika mendesah.


Dibukanya pintu dapur yang langsung menghubungkan


dapur dengan bagian depan restauran. Restauran mereka menggunakan double spot


consept, yaitu sebuah konsep menyatukan dan memisahkan ruangan berdasarkan


konsep. Di bagian depan restauran menawarkan


sofa-sofa empuk berdesain modern nyaman dan klasik, di bagian belakang mereka menawarkan sebuah harmoni alam: ikan, air, dan kayu,


bukan bambu, juga tumbuhan merambat dan taman yang ditata dengan sangat luar


biasa, terlebih ketika menari bersama siluet yang diciptakan dari pencahayaan


yang sempurna. Di bagian atas, persis di atas dapur, mereka menawarkan kesederhanaan. Rika mengedarkan pandangannya.


Naning memberi kode dengan dagunya. Rika memasang wajah ramah.” Selamat malam,


pak Bowo.”


Seorang laki-laki paruh baya berdiri sambil


memperlihatkan gigi-gigi kecil dan terawatnya.” Malam, mbak Rika. Wah...


pengantin baru ini. Masih fresh.”


“ Ah... pak Bowo, ada-ada saja.” Rika menikmati


dipandang penuh kekaguman oleh pak Bowo. Like always. Naning meminta ijin untuk


meninggalkan mereka.” Tidak perlu menikah pak kalau ingin fresh...”


“ Memang. Betul itu.” Kini mereka duduk berhadapan


di sofa empuk berwarna kuning gading yang lembut.” Memang tidak perlu nikah supaya


fresh. Tapi kebahagiannya itu yang bikin fresh. Menggebu-gebunya itu yang bikin


fresh.”


“ Luar biasa, pak Bowo ini.” Rika mencoba menahan


dirinya untuk tidak memikirkan pernikahannya. Tidak memikirkan suaminya. Tentang


bagaimana reaksi pak Bowo ketika bertemu Zulfan.


“ Oh ya. Ini saya bawakan kotak kecil...” Pak Bowo


mengeluarkan sebuah kotak kecil panjang yang berbalut kertas merah hati


bermotif bunga dengan hiasan bunga kering diatasnya.


“ Pak Bowo selalu tahu caranya membuat saya merasadirepotkan.”


“ Sudah seharusnya. Jadi ndak repot. Malah repot


kalau saya penasaran sekali sama suami mbak Rika yang sangat beruntung.” Rika


tidak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin mengenalkan suaminya. Knapa tidak


mungkin? Aku yang ndak mau. Aku nggak tau kemana arah pernikahan ini. Apa


pernikahan ini untuk sementara. Apa pernikahan ini untuk selamanya. Rika


bergidik ngeri membayangkan hal itu. Sangat mengerikan. Tentu saja sangat


mengerikan dengan kondisi mereka seperti sekarang ini. Apa yang dibayangkan Pak


Bowo tentang seorang laki-laki yang jadi suamiku. Seorang yang hebat lagi


tampan. Rika tersenyum sinis dalam imajinasinya.” Saya yakin, saya pasti


beruntung. Suatu saat nanti.” Pak Bowo begitu penuh percaya diri.


“ Saya yakin pasti begitu, Pak. Terimakasih banyak untuk kotaknya.


Boleh saya taruh dulu kotaknya?”


“ Silakan. Silakan.”


“ Kunjungan berikutnya biar saya yang traktir, Pak!” Rika mengakhiridengan senyum merekah yang menawan.


“ Dengan senang hati.”


Rika berlalu menuju ruangannya untuk meletakkan


hadiah pernikahan pak Bowo – lebih tepatnya untuk menghindari perbincangan


lebih panjang lagi tentang pernikahan dan suaminya-, langganan setianya yang


seorang pensiunan hakim agung. Pak Bowo lebih sering datang sendirian ke


restauran CoolWatEr. Pak Bowo  sering


datang bersama teman-temannya. Menurut Pak Bowo, hal yang


membuat dirinya begitu sering datang selain menu yang hebat, luar biasa – itu


kata yang digunakan Pak Bowo ketika itu – kolam ikan dan sofa


yang nyaman, adalah obrolan hangatnya dengan Rika dan teman-temannya. Terutama


Rika. Itu yang membuat Pak Bowo suka datang dan betah berlama-lama


disana.


Restauran Rika memang menyajikan pada awalnya,


hanya menyajikan satu dimensi. Dimensi futuristik khas Jepang. Setelah berjalan


setahun, Rika mengusulkan untuk menambah dimensi yang lebih feminim dan menenangkan.


Toh, pengembangan dimensi diijinkan oleh pihak pemilik lisensi waralaba, karena


Rika dan sahabatnya hanya membeli lisensi resep dan namanya saja. Tapi


keinginan untuk menjadi lebih mandiri dan lebih berkarakter, akhirnya mereka


berempat – dengan Rika sebagai provokator- sepakat melepas lisensi waralaba


yang mereka beli dengan harga tidak murah dan juga harus mereka bayar dengan harga


yang tidak murah. Memulai dari nol. Lagi.


Kerjasama Rika dengan desainer interior yang tak lain


adalah teman sekolah SMA Rika  sendiri


yang bernama Purbawati, yang baru lulus dari sekolah desainnya di Jakarta,


mengahasilkan karya yang luar biasa. Mereka mengkombinasikan air, kayu, etnik


dan modern.


Hampir setiap orang yang dibawa Pak Bowo ke restauran Rika dan teman-temannya, selalu terkesan dan


mengatakan bahwa dimensi menenangkan mereka, sesuatu yang mereka butuhkan.


Alhasil, mereka selalu kembali. Mereka kembali dengan membawa keluarga, relasi


atau teman mereka. Dan bisa ditebak, selanjutnya keluarga, relasi, atau teman


mereka akan kembali dengan keluarga, relasi dan teman mereka yang lain. Dimensi futuristik mereka juga masih digandrungi pelanggan, khususnya


pelanggan muda.


Tidak sedikit uang yang dikeluarkan untuk memodali


restauran waralaba mereka. Modal uang terbanyak bukan dikeluarkan oleh Rika,


tapi ketiga sahabatnya: Dewi, Risma dan Naning. Rika hanya meletakkan modal


uang sebanyak 10 persen saja, sisanya ketiga temannya. Rika lebih banyak


meletakkan modal manajemen dan keberanian. Rikalah yang mengurus


dan mengatur restauran itu dari awal. Rika yang membagi tugas untuk ketiga


temannya. Mereka berempat tidak pernah menyangka bahwa restauran mereka bisa


langgeng selama 3 tahun lebih seperti sekarang. Bahkan mereka memulainya ketika


mereka baru masuk kuliah semester akhir.


Rika tersenyum pada Dayat, Chef restaurannya.


Sudah dua kali mereka berganti chef. Chef pertama, Tono, memutuskan keluar dan


mendirikan restauran sendiri setelah 2 tahun lebih bekerja pada Rika dan sahabat, di restauran waralaba. Teman-teman Rika awalnya keberatan dan khawatir


kalau Tono akan mencontoh konsep mereka, termasuk beberapa resep yang mereka


kembangkan sendiri. Rika menenangkan ketiga temannya. Tidak ada yang perlu


dikhawatirkan, meskipun sebenarnya dia khawatir, hanya saja tidak mungkin Rika


menunjukkan kekhawatirannya pada sahabatnya yang sedang khawatir, yang sedang membutuhkan motivasi, semangat. Alasan tidak perlu


khawatir yang dikemukakan Rika simple saja: kalo memang sudah nasibnya baik,


pasti berhasil. Semua orang pasti mengira mudah memenej restauran. Tinggal


begini, tinggal begitu. Mereka yakin mereka bisa. Ketika mereka nyoba mereka


baru tau, nggak semudah itu. Kalo memang Tono hebat. Dia layak berhasil.


Biarpun hasil contekan. Dia layak berhasil. Kemudian Rika memberikan pengertian


pada teman-temannya tentang kenapa waralaba itu hampir selalu dari luar negeri,


simple. Karena orang kita memang suka nyontek, bis gitu ngrasa pinter. Tentu


saja ketiga temannya tertawa. Mereka teringat peristiwa-peristiwa yang


berhubungan dengan komentar Rika. Setidaknya mereka mengakhiri kekhawatiran


mereka sewaktu itu dengan saling bercerita tentang hal tersebut.


“ Hei, sudah jam 9. Apa nggak perlu telf suami lu?” Dewi berdiri sambil


mensendekapkan tangan, setelah sebelumnya dimatikannya laptopnya.


Hati Rika berjengat ketika Dewi mengatakan suami. Rika


mendesah.” Nggakpa-apa. Pak Bowo dah pulang?” Dewi


mengangguk.” Penjualan regular kemarin turun 1 persen. Tapi untuk paket acara


kita naik 5 persen.”


“ Impas.” Dewi tampak berfikir sejenak. Rika


menatap Dewi seolah berkata aku ada yang mau dikatakan. Katakan saja. Dewipun memilih hal itu.” David telf gue berkali-kali.


Katanya lu nggak mau balas sms, telf. Dia pengen nyerahkan sendiri kado


pernikahannya.” Rika menghela nafas.” Sorry, ya. Dia berkali-kali minta tolong.


Nggak mungkin terusan nolak. Gue minta maaf.”


“ Ya... Nggak pa-pa. Dia kan berusaha. Nggak ada critanya usaha nggak berhasilkan!” Dewi


menggeleng.” Knapa? Salah? Apa yang salah jadi logis?”


“ Nggak. Lu ini bener-bener logis. Nggak ada yang salah, sobat.”


“ Sure.” Rika yakin tadi Dewi mengatakan ada yang salah dengan kelogisan,


tidak dengan kata-kata, dengan tatapannya.” Bilang aja, nggak marah kok.”


“ Ya, ya, ya... Gue percaya.” Dewi pindah duduk di


sofa sebelah Rika. Meski ramai dengan pelanggan, tetap saja tidak


mengurangi ketenangannya. ”Lu nggak pernah


marah. Kecuali soal keluarga lu. Sekarang tambah suami lu.” Hati Rika makin gerah


mendengar kata suami untuk kedua kalinya. ”Lho, kan Zulfan


memang suami lu, Rika sayang!”


“ Gue tahu! Tapi kan nggak perlu bilang gitu. Nyebut


namanya apalagi!”


“ Nah, ini, ni!” Dewi terkekeh geli.” Disini ini lu


ssseeelllaaalu kehilangan kelogisan lu!” Rika mendengus. Dewi semakin


terkekeh.” Gue bahkan jarang benget liat nafas sekuat itu dari hidung lu!” Rika


berusaha menahan diri.” Ayolah, apa jeleknya Zulfan! Ok suami lu. Oke dia. Ok gue


harus nyebut apa dong? Dia? Ok. Dia!”


“ Lu nggak lihat, Wik!” Rika siap memuntahkan


penilaiannya yang sama sekali tidak didengar oleh keluarganya.” Dia pendek,


putih, gemuk! Liat pipinya! Kayak orang ndak bertenaga! Mata besarnya agak


sipit! Kumisan lagi!” Rika sampai zona 100 persen marah.” Apa yang salah???!! Aku


nggak suka orang kumisan! Biar kumisnya tipis, tetep aja gue nggak suka! Biar cuman


baru kliatan kalo dekat. aku tetep nggak suka Wik! Apa maksudnya ngasih rumah


kayak gitu. Biar gue suka. Tebusan. Belum lagi pesan konyol itu! Yok opo-yok


opo sekamar. Sekasur. Mau-maunya dia diatur. Mau-maunya dia dikasih kasur kayak


gitu” Seketika berkelebat sedikit penyesalan. Menyesal mengatakan semua itu.


Bagaimana tidak. Bagaimana kalo kelak ternyata semuanya berubah. Aku akan malu


sendiri. Mengatakan sesuatu yang aku sendiri belum tahu. Tapi aku begitu ingin


mengatakannya. Oh...come on. please.


“ Ok, ok, ok! Nggak ada yang salah. He’s not your


type.” Dewi memilih menghentikan pancingan menggodanya. Daripada semakin marah


sama suaminya, ntar pulang-pulang bertengkar lagi.


“ Weits...” Ngomong seru nih!” Naning yang


tiba-tiba datang langsung duduk manis diatas meja.”Wuih, kalo ngliat wajah our


manager, apalagi yang bisa bikin dia marah kalok bukan masalah.....”,Naning sengaja menggantungkan kalimatnya.


“ Terus mau gimana?”


“ Jujur nih, ya, Rik. surprise banget, tahu lu


nrima perjodohan itu. Tapi nggak jelek-jelek banget, kok.” Naning memiringkan


bibir dan wajahnya bersamaan.” Nggak yakin deh, kalo kluarga lu maksa. Ya, biar


gitu....Mereka baik banget.!”


“Ya, boleh-boleh aja lu bilang baik. Gue lebih


tahu.” Rika mendengus.” Kebaikan mereka itu yang maksa gue. Waktu tahu ibu nangis


kalian diamin gue! Kalian belikan aku tiket! Oke.


Gue pulang! Sampe disana, ibu gue bersikap seolah ndak terjadi apa-apa! Ya,


emang nggak terjadi apa-apa si! Ibu nangiskan juga bukan karna gue, nggak aku


apa-apakan! Mas-mas gue juga bersikap kayak ndak ada apa-apa. Mes Setyo juga!


Padahal kan dia marah waktu itu! Mereka ramah,


baik, perhatian. Hhhaaaahhh! Mereka mang gak maksa  AYO KAMU NIKAH. Nggak. Mereka maksa dengan


kebaikan mereka itu! Seolah-olah gue ini salah! Seolah gue dah segitunyanyakiti ibu. Seolah-olah aku ini anak yang


jahat.” Dewi dan Naning saling berpandangan. Rika menangkap itu.” OK! GUE NGGAK


nyalahkan mereka! Nggak kalian juga! Gimanapun keputusan itu tetep HAKKU! Tetep


SALAH GUE sendiri. Ok. Kalian benar! Gue salah. Gue yang salah! Puas!”


Naning menggenggam tangan sahabatnya yang kalap.”


Hei, hei... “ Mereka berpandangan sejenak. Ok, Rika pernah marah, tapi tidak


seperti ini.


“ Kita minta maaf.” Dewi merasa bersalah karena


dialah yang membelikan tiket pulang Rika hari itu. Dewi juga merasa bersalah


karena mendiamkan Rika waktu itu. Naning juga meminta maaf untuk kesalahan yang


sama hari itu. Rika terlihat lebih tenang, ditekan-tekannya pelipis kanannya.” Lu tegas, logis. Kita nggak bisa bantu apa-apa. Gue yakin lu


tahu, biar kayak gimanapun, nikah bukan untuk main-main. Lu pasti bisa bikin


keputusan sendiri. Kita siap kalo lu butuh teman untuk memecahkan bola ruwet lu.”


Ya, Dewi – terutama - selalu jadi pendengar yang baik: memperhatikan, banyak


bertanya. Seringkali dengan cara begitulah Rika menemukan ide atau jawabannya


sendiri.


Rika tahu Naning ingin mengatakan sesuatu. Naning menggerak-gerakkan


kepalanya sejenak. “ Well, nggak mungkin kan lu cerai! Lebih


nyakitkan buat ibu lu!” Rika menyandarkan kepalanya.” Welll, lo, ingat nggak.


Awal kita ketemu?”


“ Ya, luu kayak orang ndeso sok kota!” Dewi


tertawa.” Kita benci banget sama lu waktu itu. Berlagak lagi pake lu, gua!


Namanya Naning! Rika sebel banget waktu itu sama kamu! Siapa sangka, kita jadi


best friends! Serumah. Sebisnis. Apalagi yang bisa lebih kuat dari our


friendship.”


Rika tahu kemana arah pembicaraan teman-temannya. Rika tahu Rika harus mencoba, tapi tidak sekarang. Tidak. Aku


benci banget sama dia. Aku benci sama sikap kalemnya! Sok! Dia ngira dia


laba-laba! Bisa njaring aku pake jaringnya yang lembut tapi kuat! Ndak akan


semudah itu. Aku nggak akan mbikin semudah itu.


“ Well, if you like him, if you think he’s a good


man. If you think he deservesto get a chance. Just give it to him!


Me?? Gue nggak akan mbikin semudah itu. Silakan aja kasih dia kesempatan!” Dewi


dan Naning tidak terkejut mendengar keputusan itu. Justru mereka akan terkejut


jika sebaliknya. Mereka bersyukur, setidaknya mereka masih menemukan Rika, Rika


sahabat mereka. Rika yang mereka kenal.” Kalo ingin menghentikan pernikahan


ini, harusnya dari awal. Bukan sekarang. Sekarang lebih sulit, konsekuensinya


lebih besar. Menyelesaikan masalah dengan berdamai dan kompromi untuk ibuku,


sama sekali nggak menyenangkan. Dan sebenarnya tidak ada seorangpun yang minta.


Kalo aku jadi penggagas perceraian, nggak mungkin. Riskan. Dia? Pasif. Terlalu


pasif. Nggak ada harapan dari dia.”


“ Seenggak-enggaknya, call him. Biar nggak bingung.” Rika tersenyum sinis.


Gimana dia bingung. Aku ini apanya juga?


“ Mana gue punya nomernya.” Rika menjawab sekenanya.


“ I have it.” Rika membelalakkan matanya denganluar biasa dramatis. Dewi dan Naning terkejut sekaligus tertawa geli


melihat hal itu. Rika tidak pernah begitu.” Hey, just in case. Mas Ismail yang


kasih.”


“ Ngapain sih! Dia ngasih nomernya ke lu.” Rika


berdiri dengan 100 % rasa jengkel.” Lu aja ngubungi.” Kedua sahabatnya tentu


saja terpingkal-pingkal.


“ Lo, mau kemana? Baru mau gabung.” Risma berlari kecil menghampiri ketiga


sahabatnya.” Yuk kita duduk di sampan.” Risma menarik tangan Rika dan mengajak


kedua sahabatnya yang lain.” Gue udah nyiapkan sesuatu.


Mereka berjalan di atas jalan setapak yang terbuat dari kayu


menuju sebuah ruangan kecil yang hanya berlantai, tidak berdinding sehingga


bisa melihat ikan yang asyik berenang.


“ Tadinya gue mau ngajak ke perahu, biar romantis.


Tapi tar kita jadi nggak bebas gerak. Lagian kita berempat. Nyemplung payah


dunk.” Resatauran itu punya beberapa perahu yang


biasanya dipakai para pasangan kekasih yang ingin beromantis ria atau


memberikan lamaran penuh kejutan. Rika tidak pernah membayangkan tentang


bagimana dia akan dilamar oleh seorang laki-laki. Rika tidak pernah punya


gambaran keinginan bagaimana hal itu terjadi. Namun, tetap saja Rika terkejut


ketika hal itu terjadi dengan sangat sederhana, dan dengan cara yang selama ini


tidak pernah dilihatnya. Tapi gua nggak heran waktu David nglakukan itu, kening


Rika bergerak keatas sebentar.” Rika dah nikah, kapan lagi kita bisa ngumpul


kayak gini.” Risma memeluk Rika dengan manja.


“ Ris, Ris! “ Dewi dan Naning terpingkal-pingkal.


Bukan hanya karena apa yang dikatakan Risma tapi juga karena ekspresi wajah


Rika yang jengah luar biasa.” Kita bakal lebih sering nih ngliat ekspresi kayak


gitunya Rika.”


“ Knapa?” Risma tidak mengerti.


“ Kita akan ngliat miss cool akan BRUBAH! Dengan kekuatan pernikahan....”


“Miss fire!” Rika tersenyum mendengarnya.


“ Knapa, Rik? Zulfan nggak sebaik David, ya?” Rika


kontan mencubit perut Risma yang sontak berteriak geli.” Dia langsung ngajak


gituan malam pertama nikah?” Rika ingin menambah jumlah cubitannya, tapi Rika


memilih diam sambil menghela nafas.” Kan asyik tu. Tar lagi nyusul mas Setyo.


Kan baru dua tu. Sapa tau anak kalian langsung kembar lima, jadi sama dong sama


yang lain.” Ketiganya tertawa lebar, hanya Rika yang tersenyum manyun dengan


pikiran dipenuhi pertanyaan bagaimana ini akan berakhir.


Zulfan menghabiskan sorenya di musholla. Pak Anam


juga ada disana. Sesekali Zulfan  mendatangi


dan sekedar melihat pak Anam, kadang duduk dengan mushaf dipangkuannya.


Berkali-kali menghela nafas. Setiap helaan nafas dipenuhi pikiran tentang mau


diapakan, mau digimanakan pernikahan ini. Zulfan sama sekali tidak menyangka


dan tidak percaya semuanya berubah dengan cepat. Sesaat  lalu kebahagiaan memenuhi dirinya.


Tiba-tiba... Zinggggg.... Dirinya bukan hanya sepi, tapi kosong. Tanpa tahu apa


yang harus dilakukan. Memang benar hati manusia itu qulb. Mudah berubah-ubah.


Ya Allah. Subhanallah. Zulfan tersenyum.


Sebuah kesimpulan bergaung dalam hati dan


pikirannya. Hidupnya miliknya. Dia ndak ada kewajiban apapun ke aku. Pergi ke


tempat dia suka, mlakukan yang dia suka. Aku tidak marah. Itu memang haknya.


Ini kewajibanku. Kalo aku ndak ikhlas, yok opo-yok opo, aku suaminya. Nanti berat


di dia. Seiring waktu berjalan,


Zulfan memahami sisi naïf dalam dirinya. Sebuah hal yang tidak mungkin bisa


dihindari. Seperti apapun aku, aku tetap akan punya bagian itu. Tidak ada ruang


untuk menyesal. Ada yang lebih baik yang harus dilakukan, ikhlas. Mengikhlaskan


semua kenaifan yang membawanya pada kehidupan yang penuh kikuk, penuh rasa


bersalah, penuh kesadaran betapa dirinya telah merepotkan kehidupan seorang


wanita yang belum pernah ditemuinya.


Sempat terlintas tentang perceraian sebagai akhir


pernikahan ini, tapi Zulfan tidak yakin. Tidak ada alasan untuk bercerai.


Terlintas tentang pernikahannya akan berjalan seperti sekarang, juga bukan hal


yang mudah. Kecuali dia minta cerai, sepertinya mungkin, juga ndak mungkin. Astagfirullah.


Aku terlalu make otakku sendiri. Astaghfirullah. Allah Maha Baik. Aku


musyawarah, menimbang, memutuskan. Sudah berapa kali ku bilang. Ndak ada yang


salah. Sudah terjadi. Ini takdir. Takdir dia dan aku. Pasti menuju kebaikan. Dengan


cara yang baik. Aku pasrahkan padaNya saja. Tenang hatiku. Aku ikhlas, dia


belum. Itu saja.


Ketika pulang setelah selesai sholat isya, Zulfan


tidak menemukan apapun yang bisa diolah. Keluarga besarnya hanya meninggalkan


beras, minyak goreng, garam dan gula. Bahkan sisa sarapan tadi pagi juga tidak


ada. Tadi siang hingga sore Zulfan tidak merasa ada yang kosong dengan


perutnya, baru sekarang dia sadar perutnya kosong melompong sedari siang. Hanya


berisi sarapan tadi pagi, terlalu pagi malah untuk sebuah sarapan.


Akhirnya Zulfan datang menemui pak Anam. Istri pak


Anam – Bu Min - adalah serorang guru disebuah sekolah swasta yang tidak


tergolong sekolah yang berprestasi. Pak Anam sendiri adalah seorang


wirausahawan. Pak Anam menerima pesanan bahan pokok, sayur mayur, ikan dan


daging ayam atau sapi fresh ataupun olahan yang akan diantarkan sesuai pesanan


– harian atau beberapa hari sekali. Sepertinya pak Anam beruntung, seorang


laki-laki muda yang berjalan sambil berusaha mensuplai semangat kedalam jiwanya,


akan segera mendaftarkan dirinya sebagai pelanggan baru.


Tidak banyak sayur ready stock yang tersisa malam


itu, ikan dan daging segar untuk hari ini sold out. Zulfan memilih mie instan


dan sawi putih. Mie instan bukan sesuatu  yang disukai Zulfan. Tapi kemana lagi dirinya harus mencari, Zulfan merasa


enggan mengeluarkan motornya hanya untuk mencari makan ditempat baru, didaerah


baru. Zulfan tertawa ketika mengingat kenyataan dirinya tidak pernah makan mie


sebagai menu selama kuliah, tapi ternyata Zulfan memilih mie sebagai menu utama


dan satu-satunya, justru saat dirinya telah menikah, dengan seorang wanita,


tapi tanpa istri. Zulfan menggeleng kepala sambil tersenyum geli. Nasi juga nggak


ada, terlalu lalu lama menunggu nasi matang, pikir Zulfan. Zulfan menikmati mie


di sofa berhiaskan televisi layar datar 30 inch dengan penuh kenikmatan yang


dia hadirkan dan jaga, agar kenikmatan itu tidak pergi darinya. Kalau tidak,


ruang jiwanya yang sepi dan kosong akan terasa dan menggerogotinya hingga kelak


makanan yang disantapnya tidak akan berguna baginya sekarang ataupun kelak.


Zulfan tahu hari-hari panjang melelahkan


terbentang dahsyat dihadapannya seolah tanpa harapan untuk berakhir – tapi


Zulfan menanamkan keyakin bahwa apa yang akan terjadi tidak akan seburuk yang


dipikirkannya karena Zulfan memiliki Tuhan yang Maha Baik.. Perlahan-lahan


dalam segala hal adalah baik, kecuali dalam amalan untuk akhirat. Hadist


Rosulullah sudah jelas. Jadi yang harus aku lakukan yakin, sabar, ikhlas. Dan


tidak boleh loyo kalo ibadah. Zulan memilih untuk memikirkan daftar belanja


yang akan diminta pak Anam untuk diserahkan ketika mereka bertemu pada saat


sholat subuh dan paling lambat jam tujuh via sms.


Berbeda dengan Zulfan, Rika menikmati harinya


dengan wajar seolah peristiwa beberapa hari terakhir sebelumnya tidak pernah terjadi.


Rika bertemu pelanggan. Rika ngobrol asyik dengan ketiga sahabatnya. Rika menikmati


makan siangnya yang berupa sepotong kecil pie pooh yang berisi pisang yang


diiris tipis dibagian bawah, kemudian berlapis stowberi segar dengan cincangan


anggur, terakhir berlumur madu dan keju, bahkan Rika berencana pulang kerumah


yang dari dulu ditempatinya sebelum menikah. Yang berubah adalah ada sebuah


kesadaran yang sangat menganggu dan bersembunyi dalam  relung jiwanya.


Malam telah larut, Zulfan lelap setelah lelah


memilih tempat dan posisi terbaik untuk tidur dikasur kecil itu. Sebuah tempat,


sebuah posisi yang tidak akan menganggu kenyamanan mata dan posisi teman sekamarnya


kalau dia datang.  Zulfan tidak tahu


apakah teman sekamarnya akan pulang atau tidak malam hari ini. Malam pertama


mereka menjadi teman sekamar. Ya, setidaknya pertama kalinya hanya mereka


berdua, tanpa keponakan-keponakannya dan kedua adik perempuannya.


Setidaknya aku sudah berusaha. Kalo dia pulang itu


yang terbaik. Kalo dia ndak pulang juga sama. Yang mana yang mbuat dia enak.


Sesaat sebelum Zulfan terlelap, Zulfan teringat dengan pintu pagar dan pintu


rumah yang sudah dikuncinya sedari tadi. Zulfan bangkit. Dibuka dan diambilnya


gembok pagar rumahnya. Pintu depan juga dibiarkannya tidak terkunci.


Sesaat setelah keluar dari resaturan, Rika


berjalan menuju Honda Jazz hitam yang diparkir di bagian paling ujung dihalaman


parkir rindang yang berasal dari pohon asem yang berdiri kokoh dan perkasa,


Rika menghela nafas berkali-kali.


“ Gue pulang.”


“ Ok.” Dewi tersenyum ringan.


“ Pulang keman? Kan kita mang mau pulang.”


Kontan saja Naning reflek memukul pantat Risma


dengan gemas bin jengkel.” Kerumahnya!” Naning segera menepuk pantat Risma


dengan cepat ketika Risma hendak mengatakan sesuatu yang diyakini Naning akan


merusak keputusan Rika atau setidaknya akan membuat Rika pulang dengan


kejengkelan yang kian menjadi-jadi.” Ayo. Kita antarkan dulu our sister ke


rumahnya.”


Semuanya seperti biasanya. Tidak ada yang berubah.


Mereka memecah malam dengan obrolan ala mereka. Rika yang duduk dibelakang


bersama Risma, berusaha menekan aneka rasa dan bayangan kemungkinan apa yang


akan ditemui, apa yang akan dilihat, apa yang akan dikatakan, pakaian apa yang


akan dikenakannya, mempertimbangkan tidur disofa, bagaimana ekspresi dan


intonasinya sesaat lagi ketika dirinya bertemu dengan laki-laki itu.


“ .... Katanya dia mau ketemu sama Zulfan kalau


udah datang ntar.” Naning ingin sekali melemparkan sesuatu ke wajah Risma


ketika mendengar kalimat yang sama sekali dinilai Naning tidak bijaksana.


Penilaian yang sama juga diberikan oleh Dewi. Dewi menoleh dan memandang Risma


dengan tajam. Sayang Risma malah tersenyum riang melihatnya.” Gue udah pesen CD


yang udah ditanda tangani ama Utada Hikaru... Kan mereka konser bareng.


Wah...senangnya hatiku.” Rika mendengar semua itu. Tidak ada sesuatupun yang


terlintas dalam jiwanya.


“ Besok lu kita jemput jam 11.” Naning mengalihkan


pembicaraan. Rika hanya bergumam mengiyakan.” Tadi pie poohnya dibuat spesial


sama Dayat.”


“ Iya.  Lu


nggak nyapa di tadi.” Dewi menyesalkan.


“ Masak si?” Rika merasa dirinya menyapa semua


karyawannya.” Gue sapa kok.”


 “ Kayaknya


udah waktunya ngrenovasi front desk deh. Da enam bulan lebih kayak gitu aja. Kasian


Tyas ngliatin hal yang sama tiap hari. Gue punya ide di lemari penitipan tu


kita kasih hiasan hiasan air menetes.” Ketiganya tersenyum.” Kan seger tu waktu


buka pintu lemari, kita liat air netes diantara kaca-kaca bening.” Risma


mendramatisir kalimat terakhirnya.


“ To be continued. Ok. I am....” Home? House?


“ Uda nyampe ni.” Ketiganya ikut keluar dari


mobil.


“ Kayak anak kecil kalo gue nggak pulang. I am a


woman. Not a girl.”


” Intelligent woman.”


“ Everything gonna be fine.”


“ Don’t think too much.”


“ Paling dia da ngorok.” Naning mencubit pinggang


Risma dengan gemas.


“ Come here.” Dewi mendekat dan merengkuh Rika


dalam pelukannya. Rika tidak pernah meminta hal seperti itu, hanya saja Dewi


tahu dengan pasti dan baik Rika menyukai hal itu, sangat menyukai. Rika


merasakan kenikmatan luar biasa ketika punggungnya dibelai penuh kasih oleh


Dewi.


Tidak lama kemudian Dewi dan Rika merasakan tubuh


mereka diguncang dengan hebat. Naning tertawa melihat Risma yang berusaha


mengeluarkan kekuatannya untuk mengguncang dua tubuh yang lebih besar darinya.


Risma memang yang paling muda dan kecil dari empat sahabat itu. Lebih kurus dan


pendek dari ketiga sahabatnya. Terakhir,Risma mencium pipi kiri-kanan dan


kening Rika layaknya seorang ibu.


 “ Bye.”


Rika menarik nafas. Dia tahu ketiganya tidak akan pergi sebelum melihat dirinya


masuk kedalam rumah. Rika tidak melihat gembok yang menggantung. Rika tidak


tahu apa harus menganggapnya sebagai perbuatan bodoh atau perbuatan yang


seharusnya. Kalo to di gembok, aku juga susah. Ketika Rika menutup pagar, Risma


mengacung-acungkan kepalan tangan kanannya sambil berteriak tertahan.” Fight,


fight, fight!” Rika tertawa. Pintu juga nggak dikunci. Rika melambai sebentar


sebelum akhirnya menutup pintu.


“ Pinter juga si Zulfan. Pagarnya nggak ditutup.”


“ Iya kalo mikirnya gitu, kalo stupid gimana? Careless?” Risma menegakkan


lehernya ketika mendengar komentar Naning.


“ Ya, memang pilihan terbaikkan. Coba kalo dikunci, susah juga. Mana mau


Rika nelfon dia....”


“ Mas...bukain pintu dunk...” Risma mengucapkannya bak seorang jendral pada


prajuritnya. Ketiganya tertawa.


“ Come on. She’s save.”


“ Yaqin banget si, Wik!”


Naning memuaskan dirinya menggelitik Risma atas


semua kesalahan kalimat yang sedari tadi dilakukannya. Risma menikmati tiap


gelitik Naning. Hondda jazz itu memutar tubuhnya dengan mudah. Didalam rumah,


jantung Rika dengan tidak mudah.


Rika berjalan berlahan hampir berjingkat tanpa


disadarinya. Berdiri lama memperhatikan pintu kamar sambil menghela nafas


panjang sebelum akhirnya merebahkan dirinya disofa. Tidak ada jejak kehidupan


didalam ruangan itu. Rika merasa tenggorokannya tiba-tiba kering. Tidak ada


apa-apa didalam kulkas sebesar ini yang dibiarkan menyala. Kosong. Botol-botol


air putih juga tidak ada. Sepertinya memang nggak pernah ada. Yang ada


dispenser yang dibiarkan mati. Knapa nggak dinyalakan. Rika mengambil kabel dan


baru saja kabel itu teraliri listrik tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Oh, God!


listrik rumah yang belum dijadikannya rumah, dengan pengetahuannya terlalu sedikit.


Karena enggan mencari, Rika membiarkan kegelapan bersamanya.


Rika membuka pintu perlahan, seolah takut kalau


terlalu keras akan membangunkan seekor monster menakutkan yang siap menyantapnya


hidup-hidup. Ah...ruangan sebesar ini kasurnya cuma segini. Sedikit lebih besar


dari single bed. Gimana si pembuatnya! Nggak ngikuti standar yang berlaku! Rika


tidak berminat untuk melihat wajah pemilik kaki yang terkulai lemas diatas


kasur.


Di belakang masih ada kamar, aku pindah lemarinya


kesana. Aku nggak suka lemari dalam kamar. Bikin sempit aja. Rika mengambil


sebuah kaos dan training. Sama sekali bukan kebiasaannya. Mana bisa? Nggak bawa


juga. Lagian aku juga nggak bawa loose shortpants ato lainnya yang biasa aku


pake tidur. Memakai celana selutut seperti yang dilakukan Rika sejak datang ke


Pasuruan hingga kemarin bukan pilihan yang tepat menurutnya. Tapi Rika belum


sempat mengambil training dirumah kontrakannya. Aku nggak rela dia nyentuh aku


dikit aja. Ngliat aja aku juga nggak rela. Sesuatu berkelebat dalam pikirannya.


Apa mungkin slamanya begitu? Rika memilih tidak meladeni kelebatan-kelebatan


jawaban yang meloncat dengan lincah dari otaknya yang indah.


Di depan cermin yang terpanjang persis di depan


kamar mandi Rika menggosok giginya dengan malas. Smua harus di hadapi. Terlalu


berlebihan dan kekanakkan kalo aku nggak tidur di kamar. Aku nggak sudi


bersikap seperti itu. Apalagi kalo dia juga berfikir seperti itu. Aku cukup


dewasa menghadapi smua ini. Ya, hadapi seperti layaknya orang dewasa. Jangan


picisan. Nggak perlu roman konyol!


Ketika meletakkan sikat giginya, Rika baru


menyadari kalau hanya ada satu sikat gigi didalam gelas beling itu. Dibawa


tidur kali sama dia. Yang punya orang-orang kemarin juga nggak ada. Ini pasta


gigiku sendiri. Nggak gosok gigi sebelum tidur? Benar-benar de!


Kaki yang di lihat Rika ketika masuk masih dalam


posisi yang sama, ketika dia masuk untuk pertama kalinya. Rika tidak tahu,


kalau pemilik kaki itu merasa tidak nyaman dengan posisi miring kekiri seperti


itu. Rika juga tidak tahu, sebelumnya pemilik kaki itu juga mengeluh tentang letak


lemari yang ada disebelah kasur. Ini membuatnya serba sulit ketika hendak


memilih posisi tidur. Kalau menghadap kekanan, siapapun yang masuk akan segera


menemukan wajah dan tubuhnya, kalau dia menghadap kekiri, maka siapapun yang


akan membuka lemari juga pasti akan menemukan  wajah dan tubuhnya, juga akan merasa sedang diintip. Dia ingin membuat


pilihannya sendiri. Dia akan menggeser lemari itu hingga terletak persis disebelah


jendela atau dimanapun yang penting tidak di sebelah kiri kasur. Dia yakin itu


akan membuatnya nyaman, hanya melihat tembok, juga membuat teman sekamarnya


nyaman, sangat nyaman tidak melihat wajah yang tidak di inginkannya, sangat


tidak di inginkannya. Cukup Zulfan melihat dinding sebagai pemandangan.


Setidaknya Zulfan dan Rika sepakat dalam hal lemari.


Rika meletakkan pantatnya perlahan. Ngapain juga?


Biar aja kalo dia bangun. Rika beralih dari gerakan perlahan ke gerakan


menghempaskan. Zulfan tetap nyenyak dalam gelap. Rika duduk sambil menghela


nafas berkali-kali, sementara pikirannya dipenuhi doktrin tentang jangan tidur


sembarangan. Jangan mendekat. Jangan menghadap kearahnya. Bangun lebih pagi


atau lebih siang. Besok yang terjadi ya terjadilah. Tidak melihat, tidak


mendengar wajah dan suaranya. Tidak boleh sedikitpun. Dia ada tapi tidak ada.


Rika merasa konyol dengan semua itu, tapi sungguh laki-laki itu membunuh


kesaradan dan kewarasannya.


Rika merebahkan tubuhnya dengan perlahan.


Meletakkan hp dimeja laci kecil – satu-satunya - yang terletak disebelah kasur.


Rika mendengar nafas Zulfan yang naik turun dengan berirama. Bisa-bisanya dia


tidur tenang. Rika bersyukur karena kesalahannya membuat lampu padam. Rika tidak


suka ketika membayangkan dirinya dibingungkan dengan pilihan antara membiarkan


lampu menyala atau tidak, kalau seandainya dia tadi dengan tidak sengaja


membuat listrik dirumahnya anjlok. Gelap membuat Rika lelap dengan cepat.


 Dua jam


setelah Rika terlelap, Zulfan membuka matanya. Dia bisa merasakan kehadiran


seseorang disebelahnya. Tidak ada yang dirasakan Zulfan ketika mengetahui hal


itu. Zulfan membiasakan matanya dengan gelap untuk sesaat. Konyol kalau dia


sampai membuat teman sekamarnya terbangun dari lelap yang mungkin menurut


Zulfan berasal dari sebuah usaha yang keras. Zulfan berjalan berlahan. Setelah


membuka pintu kamar Zulfan mencari tombol lampu.


Mati lampu. Zulfan berjalan perlahan menuju kamar


mandi. Jendela lorong kamar mandi membuat Zulfan memperoleh lebih banyak


cahaya. Zulfan membuka jendela. Matanya menatap lurus mengikuti kolam ikan yang


terletak digang kecil rumahnya dan terhubung dengan kolam dihalaman depan.


Zulfan melihat ada cahaya yang berasal dari tiang lampu yang dipasang disebelah


rumahnya.


Bukan mati lampu. Zulfan tahu betul dimana letak


sumber tegangan listrik dirumah ini. Meski dalam gelap Zulfan tidak kesulitan menemukannya.


Ternyata dia ada di dalam kamar kecil yang terletak dibelakang garasi. Alhamdulillah.


Biasanya Zulfan melaksanakan sholat tahajud di garasai bersama saudara-saudara


ipar dan kedua sahabat mereka. Kali ini, Zulfan memutuskan untuk menjadikan


kamar kecil dibelakang garasi itu sebagai tempat sholat. Karena dikamar kosong


satunya, Zulfan dan saudara iparny sudah menyiapkan ruangan khusus sholat untuk


Rika. Mereka hanya memasang gantungan kayu untuk mukena. Mas-masnya benar-benar


ngerti adiknya suka kayu, pikir Zulfan.


Setelah kemarin didaulat pak Anam untuk menjadi


imam, Zulfan menghafalkan kembali hafalannya. Zulfan bersyukur proses


pernikahannya yang lama memberikan dia banyak waktu untuk hidup dan belajar


bersama para iparnya. Waktu setahun lebih itu, membuat Zulfan mampu


menghafalkan kembali juz 30 nya yang pernah kabur, juga menambah hafalannya:


beberapa surat – Al Mulk, Al jin - dan juz 1. menurut Zulfan seharusnya dirinya


bisa menghafal lebih banyak lagi. Seperti beberapa santri yang bisa hafal 30


juz dalam setahun. Menurut mas Jakfar apa yang diperoleh Zulfan sudah sangat


bagus, mengingat Zulfan harus memperbaikai makhrojnya terlebih dahulu sebelum


menghafal Al Qur’an. Tidak mudah bagi orang dewasa untuk memperbaiki makhroj.


Memang tidak mudah buat Zulfan dengan suara besar dan kaku yang dihasilkannya,


juga datar.


Zulfan sedang menimbang-nimbang surat apa yang


sebaiknya dia baca nanti. Kemarin suratnya panjang-panjang ndak masalah, yang


mbacakan mas Mail ato lainnya. Kalok aku yang baca nantik apa mereka masih mau.


Zulfan khawatir dengan suaranya. Kata Mas Kandar yang penting makhrojnya betul.


Makhroj adalah fonologi. Adalah bunyi suara, bagaimana seharusnya membunyikan


sebuah huruf, dari bagian mulut yang mana, dimana lidah seharusnya diletakkan


untuk menghasilkan sebuah bunyi. Ya, kalok untuk dibaca sendiri. Kalok


dibacakan ke orang?


Zulfan baru menyadari tentang beratnya daulat


menjadi imam. Mengganggu pikiran, menggeser niat sholat. Benar-benar mbuat


penyakit hati. Zulfan menghela nafas kemudian beristighfar berkali-kali. Ya, Allah


luruskan niatku. Aku sholat untuk Allah, bukan untuk orang lain. Benar. Yang


penting makhrojnya. Maka tenanglah jiwanya.


Zulfan melangkah tenang munuju musholla, sejak


beberapa menit sebelum adzan dikumandangkan. Jama’ah sholat pagi ini sama


seperti kemarin. Jama’ah asli dari penghuni perumahan Condong Catur. Shof wanita


yang kemarin penuh dengan keluarga Zulfan, sekarang digantikan dengan dua wajah


baru, baru untuk Zulfan. Mereka datang tepat 5 menit sebelum adzan.


“ Lo, kok sepi?” Tanya pak Hendarto.


“ Pulang kampung, pak.” Pak Anam menjawab dengan


intonasi lucu.” Tapi peninggalannya masih terisisa.” Pak Anam menunjuk Zulfan.


Mata keduanya bertemu. Zulfan tersenyum. Zulfan


memulai sholat dengan doa khusu mohon dijauhkan jiwanya dari riya dan ujub. Aku


sholat untuk Allah. Takbirpun dikumandangkan. Selesai sholat para jama’ah


meninggalkan mushola dengan damai. Tinggal Zulfan dan pak Anam.


“ Kata sapa suaranya ndak enak.” Zulfan tertawa


geli. Zulfan menganggap pak Anam menghiburnya.” Lagune ndak enak, mas. Tapi suarane


enak.” Ya, mungkin maksudanya karena bunyi hurufnya tepat, jadi mengurangi


sifat kaku disuaraku.” Ngimami terus, ya mas. Ya. Ndak pa-pa. Fleksibel. Jadi


beli apa, mas? Apa ikut ke pasar? Daripada ndak ada pekerjaaan.”


“ Saya belum ada kegiatan, pak. Telur aja, pak.


Satu kilo.”


“ Lek cuman telur, ya ada mas, dirumah. Sampeyan


iki.” Dikalimat terakhirnya terdengar jelas logat Madura pak Anam yang baru


pertama kali ini didengar Zulfan sejak mengenalnya beberapa hari lalu.


“ Sama wortel, garam......”


“ Sampeyan iki mas! Ya, ada dirumhku dari


kemarin!” pak Anam memang berasal dari Probolinggo. Logat dan sikap Maduranya


tidak lagi terlihat dimakan waktu yang dihabiskannya di Jogya selama 25 tahun


lebih. Juga dimakan pengaruh istrinya yang halus dan lembut. Istri pak Anam


berasal dari Madiun.


Ndak ada yang salah sama hilangnya ke-Maduraan pak


Anam. Selama buat pak Anam jadi orang lebih baik. Orang madura memang identik


sama kasar, hitam, logatnya ndak ilang biar tinggal dimana saja. Apa semua orang


Madura seperti itu, Zulfan tidak yakin. Sepengalaman Zulfan ke pulau Madura


beberapa kali, Zulfan menemukan fenomena yang berbeda dengan orang Madura yang


lebih sering ditemuinya diluar pulau Madura.


Mungkin seperti Jawa Timur. Ndak smua orang Jawa


Timur itu kasar. Orang Madiun, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar ndak


kasar kayak Surabaya. Tambah dekat ke Bali, orang-orangnya tambah kasar.


Pasuruan, Malang, Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo,


Bayuwangi. Di Madura ya kayak gitu. Didaerah dekat Surabaya kayak, kasar. Tapi


tambah masuk kayak Pamekasan, Sumenep, ngomongnya ndak kasar, orangnya juga


ndak item-item. Putih, kuning.


“ Ndak bawang putih bawang merah?” Masak apa pake


bawang putih dan bawang merah. Tapi akhirnya Zulfan mengiyakan.” Sampeyan ndak


iso masak-a, mas?”


Zulfan tertawa.” Endak.”


“ Lo, mbiyen waktu kuliah?”


“ Endak. Endak masak, mas. Ada warung enak. Warung


MAM.” Zulfan jadi ingat nama pemilik warung itu sama seperti nama ibu


mertuanya, Hindun.” Langganan disana. Kan nyales, pak.”


“ Didepan dekat ring road juga banyak warung.


Kalok sate, sana! Dekat pom bensin Bulaksumur. Sate kambing, sate ayam, sate


hati, sate telur, sate daging. Komplit.“


“ Ya. Kapan-kapan. Itu dulu wes, pak. Uangnya


......”


“ Nanti aja. Sampeyan mau disini? Ini kuncinya.


Tolong tutupno ya, mas. Kuncine sampeyan bawak ae. Kan sampeyan imame.”


“ Lo, kan datangnya cepetan muadzinnya.”


“ Yo, bareng wes.” Keduanya tertawa.”


Assalammualaikum.”


Zulfan mengambil mushaf yang diletakkan ditepi


jendela. Tidak ada apapun disitu. Tidak ada lemari, tidak ada meja kecil. Hanya


dinding yang mengelilingi. Zulfan duduk disebelah pintu masuk. Entah apa yang


ditunggunya. Entah kapan waktu terbaik untuk pulang kerumah barunya.


Rika bangun dengan lengan kanan yang terasa sakit,


karena semalaman dia tidur menghadap ke kanan tanpa bergerak sedikitpun.


Berbeda dengan biasanya. Biasanya dia tidur dengan bervariasi posisi. Tanpa


menoleh Rika tahu tidak ada Zulfan disana. Dengan menghela nafas Rika mengawali


langkahnya.


Rika memperhatikan gantungan handuk yang terbuat


dari kayu yang berada di dekat jendela. Handuknya disitu. Rika menoleh


memperhatikan gelas wadah sikat dan pasta gigi. Sikatnya nggak ada. Nggak sikat


gigi apa ya? Rika mengambil ketiga handuknya. Handuk besar untuk tubuh, handuk


sedang untuk bagian kewanitaan, handuk kecil untuk wajah.


Zulfan melihat sebuah taxi melintas didepan


mushola, ketika dirinya memutuskan untuk pulang. Zulfan tidak melihat siapa


penumpang yang duduk dibelakang supir yang sedang asyik menunduk memperhatikan


hp-nya. Toh, seandainya Zulfan tahu penumpang itu tak lain adalah Rika,


istrinya, Zulfan dijamin juga tidak akan bisa memberikan ekspresi dan tindakan


yang harus dilakukannya. Sebaliknya Rika sudah memperhatikan hal itu. Karena


itulah, begitu Rika menikmati perannya sebagai penumpang taxi, Rika


memperhatikan hp, setelah berhari-hari Rika memperhatikan telfon atau sms yang


masuk.


Setelah berhari-hari Rika tidak memperhatikan


telfon atau sms yang masuk, kali ini sejak dia asyik duduk menikmati perannya


sebagai penumpang, Rika sibuk membaca sms yang masuk – sms yang sudah dibacanya


dengan asal sebelumnya, juga sms terbaru.


David. Rika tidak tahu apa yang seharusnya


dirasakannya saat membaca nama itu. Rika tahu bahwa dia pasti akan bertemu lagi


dengannya, setelah pertemuan mereka yang terakhir, sehari sebelum ibunya datang


malam itu. Rika tidak tahu apa pernikahannya mengacaukan rencana David atau


justru menyelamatkan mereka. Cuman perlu waktu sampai dia datang. Aku yakin


nggak lama lagi.


Rika memutuskan menikmati pagi bersama sahabat. Dirumah


kontrakan Rika disambut histeris oleh Risma. Risma juga mengabarkan kalau David


pulang lebih cepat dari yang diduga. Kata Risma, David memotong waktu


jalan-jalan gratis yang disediakan oleh promotornya. Akhirnya David pulang


sendiri tanpa band-nya. Risma yakin David akan menghabiskan waktu break-nya


yang seminggu di Jogya – setelah ditambah dengan 2 hari fasilitas


jalan-jalannya- sebelum David konser di Malaysia bersama group band-nya. Risma


merasa sangat bisa mengerti apa yang sedang berkecamuk dikepala dan hati David.


Apalagi mengingat hal terakhir yang dilakukan David untuk Rika. Naning memilih


menyerah untuk menghentikan Risma dengan informasi dan pendapat-pendapatnya.


Bagaimanapun itu pasti terjadi. Masalah waktu saja. I have no choice.


Preparation is better than not.


Zulfan menemukan rumah dalam keadaan tak


berpenghuni. Zulfan menghela nafas. Apa seperti ini terus. Ya. Mungkin memang


seperti ini terus. Dia butuh waktu untuk menerima, ikhlas. Aku juga butuh waktu


untuk terbiasa. Yang penting, tugasku. Ikhlas. Dan ya... Mendoakan. Zulfan


menyesal karena tidak memanfaatkan waktu dengan baik. Seharusnya masak


dimagiccom dulu tadi. Perutnya lapar sudah tidak tertahan. Sebaiknya aku puasa


daud. To sama saja. Lapar, tapi malas makan. Kalo puasa lebih enak. Lebih


tenang, ndak kepikiran makan, lebih sehat, ndak bingung mau makan apa. Ya.


Mulai besok.


Zulfan memutuskan untuk menghabiskan waktunya


dirumah. Sibuk dengan mushafnya. Zulfan menyesal tidak membawa buku bacaan.


Semua buku yang dibacanya setahun terakhir ini diperolehnya dari meminjam


diperpustakaan pondok pesantren As Salam- pondok pesantren saudara-saudara


iparnya- atau koleksi pribadi ipar-iparnya, baik yang laki-laki ataupun ipar


perempuannya. Sama sekali ndak mikir untuk beli. Buat telur dadar sama sambel.


Emh.. ndak punya terasi, ndak punya lombok. Pak Anam sudah pulang belum ya.


Dikeluarkannya Hp Nokia 3315-nya.


“ Assalammualaikum. Sudah dirumah? Mau beli lombok


sama terasi. Yang mateng. Ndak bisa nggoreng, nantik bau. Ada?” Zulfan masih


harus menunggu pak Anam pulang. Pak Anam bilang nanti akan diantarkan kalau


sudah selesai mengantar belanjaan konsumennya.


Sementara itu, Rika menikmati breakfast yang


dibuatkan oleh Naning. Telur mata sapi, lima sendok bubur kentang dan semangkuk


kecil sereal. Naning dan Dewi lebih sering menyiapkan menu untuk teman-temannya


ketika mereka dirumah. Sedangkan Risma paling suka memberi makan ikan dan Rika


paling senang menjadi penonton sekaligus pendamping bagi ketiga sahabatnya.


“ Gimana semalam?” Dewi memastikan dirinya


mengucapakan kalimat itu dengan intonasi tenang dan santai, seolah hal kecil


dan tidak penting.


“ Zulfan?” Risma mengacaukan segalanya. Rika


mengeryitkan dahi dan memukulnya dengan majalah yang baru saja diletakkan


Naning disebelah laptopnya.” Hey... Apa salahku, dan apa dosaku?” Risma


melagukan kalimatnya. Risma tidak berhenti sampai disitu saja” Hmm, hmm...


Ternyata Zulfan sedang menunggu...” Risma menerima beberapa pukulan majalah


dari Rika. Kapan lagi liat Rika parno kayak gini. Lucu.


“ Dia da tidur, ya.” Dewi mencoba mengembalikan


keadaan. Khawatir sesuatu yang dianggap lucu oleh Risma sebenarnya sangat


membuat darah Rika mendidih. Pukulannya mang gak seberapa. Tapi matanya luar


biasa.


“ Ya. Lampu mati. Gue nggak sengaja nyalakan


dispenser. Ternyata nggak kuat. Kalo lampunya nggak mati, gue pasti nggak bisa


tidur.”


“ Dia tidur gimana?” Risma segera mengikuti


peraturan dengan mengganti dia untuk Zulfan.


“ Miring, ngadep ke lemari. Lemari naruh disitu.


Kamar sebesar itu. Nggak bisa ngatur.”


“ Ya, masih tau dirilah.”


“ Ibu lu mang hebat. Ibu lu, mas-mas lu ngerti


banget selera lu.” Naning mengacungkan jempolnya.” Gue yakin bukan dia yang


nata semua barang dirumah.”


“ Iya. Banyak elemen batu kali. Diteras, di


undakan, di pagar. Teras sederhana, nggak ada aksesoris. Sampe kolam yang ada


pohon besarnya!”


“ Your mother is the real good planner! Setu you


up till you can’t move! Rika Ambarwati! Sampe sekasur. Lu anak berbakti, ya.”


Risma sekali lagi menerima hadiah pukulan majalah.” Lo, kan bener. Emang lu


jarang pulang, tapi lu nurut banget sama ibu lu! Ya kan, ya kan!” Risma mencoba


dukungan kedua sahabatnya yang hanya tersenyum sambil menggeleng kepala. Naning


menutup laptopnya.” Mana sih ibunya tau kalo dia nggak sholat. Mana si ibunya


tau kalo dia pacaran sama David. Kan David da janji nggak bakalan diekspose. Diakan


lagi hot-hotnya sama Karina.”


“ Emang elu, tukang lupa janji!!” Kali ini Risma


mendapat kehormatan dari Naning dengan sebuah pukulan yang lebih keras


menggunakan majalah yang tadi dipakai Rika untuk memukulnya.


“ Knapa si elu slalu bilang iya, kalok disuruh


janji sam ibu lu. Knapa nggak bilang nggak deh buk! Nggak pake janji.” Sekarang


giliran Dewi yang menghadiahkan Risma pelukan dengan gerakan spesial: bekapan


mulut.


Rika terdiam. Aku nggak pernah berjanji. Aku cuma


diam. Justru...


“  Lu ni!


Ngerti dikit napa si! Best friend lagi punyeng lu nyerocos aja!”


“ Iya...” Rika menghela nafas.” Gue diem. Gue diem


tiap kali ibu minta sesuatu. Ya, itu mang salah gue sendiri. “ Rika menghela


nafasnya yang terasa sulit masuk kedalam paru-paru.” Smuanya mang kacau karna


salah gue sendiri. Rasa bersalah. Ya, rasa bersalah. Atas pemberontakan gue,


ketidakmautauan gue. HAHHH!” Rika memukul sofa tempat mereka duduk dengan


tenang. Ada yang melegakan, tapi masih lebih banyak yang mengganjal.” Makanya


jangan tiru gue.”


“ Gue nggak pernah ngerti apa yang sebenarnya


terjadi anatar lu dan kluarga lu. Tapi gue spakat sama Risma. Lu anak yang


berbakti. Memang mungkin itu rasa bersalah, tapi lu nggak nggak tega buat bilang


nggak, juga nggak tega untuk bilang iya.”


“ Yuap. Pinter juga ni anak angkat gue!” Naning


memberikan hadiah sebuah ciuman pipi yang ditolak mentah-mentah oleh Risma.


“ Jangan-jangan. Tolong, tolong aku!”


Rika dipenuhi rasa tidak percaya dengan pendapat


sahabat-sahabatnya. Diamku adalah baktiku? Ah, yang benar saja. Yang bener


ternyata pemberontakanku menghadiahkan prasaan bersalah yang akhirnya


membunuhku. Menjerumuskanku dalam kehidupan yang tidak kuinginkan. Dan seandainya


ku akhiri kehidupan itu, itu akan menjadi corengan besar dalam hidupku. Yang


akan kusesali seumur hidupku. Knapa ini mesti terjadi. Kenapa harus ku sesali.


Rika tak menemukan jawaban.


Keempat sahabat tiba di restauran bersamaan dengan


Dayat, chef senior kebanggan mereka. Rika, Dewi, Naning bersyukur memiliki teman


seperti Risma. Bagaimanpaun dalam suatu kelompok sangat dibutuhkan sebuah


dinamika. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau pagi itu –juga


kondisi tertentu lainnya – mereka hanya berempat dengan Dayat. Situasinya pasti


sangat tidak nyaman.


Dayat bukan orang yang ramah. Setidaknya Dayat


akan berubah menjadi sangat tidak ramah jika alarmnya membunyikan tanda bahaya.


Tanda bahaya itu adalah Rika. Keduanya lebih sering tidak sepakat dalam banyak


hal. Mulai dari hal kecil sampai hal besar.  Meski setidaknya pada akhirnya Rika yang selalu mengalah, setidaknya


begitulah pendapat Rika. Dayat bersikap lebih baik, lebih lunak, lebih ramah


pada ketiga sahabat Rika. Rika mengetahui itu.


Rika menjadi penonton dan pendamping ketika


keempatnya berada dirumah. Sebaliknya ketiga teman-temannya menjadi penonton


dan pendamping ketika mereka berada di restauran. Rika tidak pernah membiarkan


karyawannya bekerja tanpa pengawasan. Tentu saja bukan pada saat mereka bekerja


– kecuali mereka karyawan baru. Rika berkeliling rutin. Sementara itu ketiga


temannya asyik menemani Dayat didapur. Tentu saja Rika menyerahkan mutlak


urusan dapur pad Dayat – lebih tepatnya Dayat yang meminta hal itu. Waktu itu, Rika


memenuhinya dengan satu syarat: ada masa uji coba. Tidak tanggung-tanggung,


Rika meminta waktu 5 bulan sebagai masa uji coba. Dayat menerima tanpa syarat.


Tepat pukul 12.00 front desk memulai aktivitasnya,


menerima reservasi. Setengah jam kemudian, restauran siap menerima konsumen


untuk menikmati lunch atau sekedar hanging-out bersama kawanannya. Rika memilih


asyik menikmati dua potong puding lembut yang dibawakan Naning dari dapur.


Katanya disuruh Dayat, karena biasanya Rika belum pernah telat mengambil menu


lunch-nya. Rika menyantapnya dengan enggan. Tiba-tiba kalau sudah sendiri


seperti ini aku ngrasa hidupku jadi sempit. Berkali-kali Rika menghela nafas.


Rika tidak tahu sepasang mata tidak henti-hentinya memperhatikan dirinya


disela-sela kesibukkannya. Jendela ruangan Rika utuh terbuat dari kaca.


Rika memperhatikan layar monitornya yang masih


berwarna gelap. Biasanya selalu aja ada yang dikerjakan. Nggak pernah nggak ada


kerjaan. Rika menghela nafas. Matanya beralih dari layar monitor ke jendela.


Mata Rika dan Dayat bertemu. Rika heran kenapa Dayat harus memandangnya seperti


itu. Dia tahu dirinya dan Dayat hampir selalu di perahu yang berbeda. Tapi


Dayat tidak pernah memandangku seperti itu.


Tidak butuh waktu lama untuk mengetahui alasan


Dayat memandangnya seperti itu. Here he goes. David. Berjalan dengan gagah


dengan jaket kulitnya yang hampir selalu dipilih David sebagai teman setianya,


khususnya di kegiatan kesehariannya, bukan di panggung.


“ Hai...” David bersandar mesra, tak mengalahkan


kemesraan yang terdengar jelas dari suaranya.


“ Hai...”


Hanya itu. Keduanya lalu berpandangan lama dengan


kecamuk yang berbeda. David dengan pikiran tentang betapa merindunya dia dengan


kekasih pujaan hatinya dan mencoba meyakinkannya dengan tatapan dan gestur


tubuhnya. Apa dia memang benar-benar tidak akan pernah aku miliki? Apa selamanya


aku hanya akan menjadi penikmat sejati? Perih, luluh, tersayat David dengan


pikirannya sendiri.


Apa dia pintu kluarku? Menuju kehidupan seperti


apa? Dari mulut buaya ke mulut singa? Cuman itu saja harga David? Pintu kluar?


Apa aku benar-benar tidak menghargainya setelah kebersamaan bertahun-tahun?


Bukan sekedar takut jatuh cinta? Bukan sekedar tidak mengijinkan dirinya


sendiri jatuh cinta? Seperti yang dikatakan David, seperti yang dikatakan oleh


banyak orang? Ya, orang-orang yang tidak mengeanalku.


“ Sudah ni! Gini doang?! Kalok gitu jangan


disini,man! Susah dunk kita jalannya. Disana aja. Di sungai! Biar jadi penerus


sunan Kalijogo. “ Risma menepuk keras punggung David.” Diluar aja, man! Fresh!


Fres air, fresh breath, fresh eye.” Untuk kalimat terakhirnya Risma melirik


kearah dapur.


David meminta persetujuan Rika dengan sorot matany,


yang akan bisa diterjemahkan oleh siapa saja yang melihat. Tatapan mata penuh


cinta. Ya, ketika kau kehilangan kau tak akan mampu lagi menahannya. Dia bukan


milikku lagi. Benar-benar bukan milikku lagi. Mungkin...Mungkin, aku punya


kesempatan merebutnya kembali? Mungkinkah? Entahlah. Dia tak pernah mau


bercerita tentang keluarganya. Mungkin tidak kalau keluarganya yang meminta.


Jadi...? Entahlah.


  Rika bangkit dari duduk panjangnya. Mereka


berjalan beriringan diikuti sorotan tajam Dayat. Rika tahu, tapi kembali


membuatnya tidak mengerti kenapa. Risma memahami tatapan Dayat sebagai sikap


cemburu. David terlalu menikmati momen berjalan bersama yang diragukannya akan


bisa diperolehnya lagi... nanti? Besok? Atau mungkin lebih cepat lagi?


Entahlah.


Mereka memilih sebuah gazebo kecil yang terletak


tidak jauh dari bangunan dapur yang memisahkan bagainddepan dan belakang


restauran. Ada beberapa gazebo dengan keunikkannya masing-masing. Ada gazebo


dengan sofa, ada gazebo tanpa sofa. Ada gazebo yang dilengkapi dengan taman


kecil disekelilingnya, ada yang tidak. Restauran itu juga memiliki sebuah


ruangan yang cukup besar, yang lantai dan dindingnya 100 % kayu dihiasasi


bunga-bunga yang dihasilkan dari tanaman merambat dengan bunga-bunga indahnya.


Ruangan itu biasanya disewa oleh mereka yang sedang merayakan ulang tahun,


pesta pernikahan untuk teman-teman dekat atau lainnya. Ruangan itu mampu


menampung 100 orang tamu beserta isinya.


Sementara disepanjang jalan yang menghubungkan bangun-bangunan


itu, tertata rapi meja dan kursi yang dilengkapi dengan payung peneduh.


Restauran itu juga memiliki spot-spot rendah yang memberikan kesan mereka yang


sedang ada didalam spot itu sedang berdiri diatas air. Spot itu berfungsi bukan


hanya untuk menghubungkan pelanggan dengan perahu dayung yang terbuat dari


kayu, tapi juga bisa berfungsi sebagai tempat menikmati lunch, breakfast,


candle light dinner atau yang lainnya dengan reservasi. Restauran itu juga


memberikan fasilitas untuk menikmati sensasi bermain ayunan dengan kaki


menyentuh air. Romantis untuk berdua sambil menikmati pemandangan indah yang


disajikan oleh taman-taman yang terletak ditengah kolam yang mampu memberikan


nuansa rindang, yang benar-benar hadir dengan kehadiran pohon-pohon berbatang


besar. Juga beberapa perahu untuk menambah romansa.


Keindahan pemandangan itu juga bisa dinikmati dari


atas bangunan dapur yang juga berfungsi sebagai dimensi sederhana juga


merupakan penghubung antara bagian depan restauran dan belakang restauran. Rika


dan sahabatnya ingin memberikan sensasi superstar in concert dengan


menghadirkan sebuah elevator tanpa dinding yang akan membawa konsumen menuju


dimensi sederhana yang menghubungkan dengan dimensi tenang. Untuk mereka yang


tidak berani, Rika cs menyediakan tangga yang nyaman dan aman yang juga terbuat


dari kayu. Pelanggan juga tetap bisa memilih cara yang mereka sukai untuk turun


dari dimensi sederhana menuju dimensi tenang. Mereka memberikan dua alternatif:


tetap turun menggunakan tangga atau meluncur dari papan luncur yang berliku.


David menunggu Rika duduk terlebih dahulu menikmati


empuknya sofa berwarna violet menantang sebelum akhirnya dia duduk tidak jauh


dari Rika dengan kaki kanan diangkat, dilipat dan ditindih, dengan tangan kanan


dipangku. Risma memilih duduk dipojok, dengan paha kanan ditindih paha kiri.


Selanjutnya Risma tidak bisa berhenti menggerakkan kaki kanannya. Rika tidak


terganggu dengan hal itu. Hal itu adalah suatu hal yang hampir menjadi


kebiasaan Risma. Mungkin tidak dengan David. Menurut David gerakan kaki seperti


itu menunjukkan pemiliknya bukan seorang yang tenang, percaya diri, dan juga


mengganggu orang lain. Beruntung dengan posisi duduk David menghadap Rika, dia


tidak melihat goyangan kaki Risma yang ada dipojok. Selebihnya David dan Rika


tidak merasa terganggu dengan kehadiran Risma diantara rencana mereka untuk


melakukan percakapan pribadi.


“ So...”


“ So...”


David tersenyum mendengar Rika mengulangi


perkataannya.” Are you okay?” Rika mengangguk.” Are we oke?” Lagi-lagi Rika


mengangguk pasti. Tidak ada jawaban yang lebih baik yang harus diberikan selain


itu menurut Rika.” So... Can I meet him?” Tawa Rika meledak. Yeah, that’s not


okay. David memandangnya dengan tatapan geli tidak mengerti.” Wrong? Funny?”


Rika hanya menggelengkan tanpa tahu apa yang harus


dikatakannya. Sesuatu yang tidak diduganya, namun bisa dimengerti. Mungkin sama


seperti pak Bowo. Teman ngobrol, teman diskusi aja pengen tau. Apalagi David. I


should know that!


“ Nothing. Not funny at all.”


“ So?”


“ It’s not the right time.”


“ Is it about money?” Rika tidak tahu apa Zulfan


memiliki cukup uang atau tidak. Baru saat itulah Rika sadar Rika tidak tahu apa


pekerjaan Zulfan dulu dan sekarang, atau setidaknya rencananya mencari


pekerjaan di Jogya. Apa tidak ada yang menceritakan padaku atau aku yang tidak


mau dengar? Ya, kemampuan mendengar telinga Rika tiba-tiba berubah menurun


drastis, wajar kalau Rika tidak ingat apapun. Rika merasa mual membayangkan


Zulfan tidak berpenghasilan dan yakin kepasifan Zulfan tidak akan memudahkannya


mendapat sebuah pekerjaan. Sama seperti besarnya keyakinan Rika bahwa Zulfan


tidak berminat mencari pekerjaan. Lalu makan apa dia? Dari aku? Rika sama


sekali tidak percaya dan tidak berani membayangkan seandainya itu benar. Aku


nggak bisa mentolerir hal seperti itu. Apa ini sebuah celah? Sebuah kunci untuk


mengakhiri semuanya?.” Hei, don’t worry. Gue tanggung smuanya.” David


menerjemahkan siap diam Rika dengan ya.


“ Maksudnya?”


“ Biaya wellcome party-nya gue tanggung.”


“ Bukannya mau ketemu aja?”


“ Ok. Jadi gue kerumah lu?”


Rika merasa ada yang menggelitik dirinya.” Oh,


comme on Dave. Never ever do that. Even once, even I was there or not! And I am


not going to have welcome party. No reason for that.”


“ Nggak ada alasan? Nggak ada alasan gimana


maksudnya?” David sebenarnya juga tidak yakin kenapa tiba-tiba dirinya membahas


tentang pesta penyambutan mempelai laki-laki di komunitas mereka. Bukankah


awalnya dia hanya ingin bertemu? Apa aku ingin melihat kekuatan dan kelemahan


lawan? Aku mencari kesempatan untuk menjatuhkannya? Karena aku tahu mungkin


akan, mungkin, mungkin akan lebih mudah mematahkan dari dalam daripada dari luar.


Lebih mudah menghancurkan hubungan mereka dari sisi suami Rika daripad Rika.


Hey, this is a marriage. Sakral! Don’t play the fire. David mencoba menerangi


hatinya yang temaram.” Ok. Dia baru. Dia butuh teman, butuh pekerjaan, butuh


komunitas. Kurasa kita bisa bantu dia supaya lebih enjoy disini.”


“ Where do you live, Sir?” David tersenyum


mendengar pertanyaan retorik itu.


“ Ya. Jakarta-Bandung. Bandung-Jakarta. You have


the point. At least, dia kenal yang lain. Zulfan? Betul Zulfan.”


Rasanya darah Rika mendidih ketika mendengar nama


itu disebut. Rika terlalu apik menyimpan rasa yang dimilikinya, cukup dalam


hati. Tidak perlu dilihat orang melalui wajahnya. Rismapun dibuat terpukau dan


penasaran ketika menyaksikan tidak ada ekspresi histeris ketika nama itu


disebut.


“ Gue rasa nggak ada alasan yang tepat. So lu


tinggal disini berapa lama?”


“ Seminggulah....”


“ Apa mereka antusias?”


“ Ya... Gue juga selalu surprise sama mereka.


Apresiasi mereka tinggi ke musik. Mereka bener-benar nikmati banget siapapun


yang tampil disana. Lagu melayau yang dibawakan Siti Nurhaliza juga, mereka


enjoy.”


“ Tanda tangan CD-nya Utada Hikaru gimana?” Risma


yakin lampau merah telah diubah menjadi lampu hijau oleh Rika.” Kok.... Beneran


lo ya!”


“ Ohhhh! Ya! Gue ingat. Udah kok. Dia baik. Masih


dibawa anak-anak. Jangan khawatir. Gue mintakan tanda tangannya gak cuman di CD,


tapi juga di topi keren yang gue belikan buat lu. Gue nggak ngerti topi apa


itu. But it’s good.”


“ Topi apa namanya? Wahhhh! Tambah nggak sabar ni


gue! Ahhhg! Elu sih keburu kangen aja ama Rika! Sebelumnya Siti mang da pernah


datang ya sebelumnya. “


            Ya, Rika sempat bertemu


dengan Siti Nurhaliza sekali ketika dirinya akhirnya menerima ajakan David


menemaninya konser bersama para artis Malaysia setelah ajakan-ajakan sebelumnya


tidak pernah diterima. Itu sebelum dia menikah. But she has style. Ya. Rika


mengagumi keanggunan, kebersahaajaan Siti Nurhaliza. Down to earth meski


bintang digenggamnya.


            “ Gue ke ruangan dulu.


Work is waiting. Lu di sini?” Rika baru ingat pak Nanto –supplier beberapa


jenis sayuran mereka – ingin bertemu untuk mencoba melobi Rika tentang jamur


shitake miliknya.


            “ Gue mau ke ke kampus. Satria


tadi pergi sama temen-temennya. Motornya dikampus, jadi dia minta tolong gue


ngambil motornya. Katanya pulangnya malam. Langsung kesini. Sebel gue.”


            “ Knapa nggak bilang


enggak aja kalo sebel.” Goda David.


            “ Namanya juga adik. Mana


bisa bilang nggak. Jadi kakak itu....”


            “ Lu kan juga punya kakak.


Enak di elu dong. Bisa jadi adik bisa jadi kakak. Komplit lagi.” Naning dan


Dewi yang baru bergabung segera menyamankan diri mereka.


            “ Yup. Punya mbak, punya


mas.”


            “ Baru segitu aja ngeluh.”


Naning menepuk tepian pantat Risma.


            “ Suka amat si? Mas kali.


Lu lupa ya, gue tiga bersaudara! Gue the princes-nya.” Risma mengeluh manja.


            “ Kalian terlalu manjakan


dia.” David menunjuk ke arah Risma.


            “ Change your clothe.” Kata


Rika sambil berlalu.


            “ Napa?”


            “ Lu, kan pake motor


honey!” Naning menepuk pelan pipi Risma.


            “ Shorpants kayak gitu


buat naik mobil.” David membenarkan.


            “ Shorpants kayak gitu


naik motor.. Cari masalah aja lu!”


            “ Ya..Maklum. Jadi orang


cantik itu menggoda. Padahal kitanya nggak goda. Digoda aja capek.” Risma


segera berlari sebelum tangan Naning meraih tubuhnya dan menghujamkan gelitikan


tanpa ampun. “ Pergi dulu ya. Temani tu David!”


            “ David, David! Tue dia tau!”  Risma hanya menjulurkan lidah.