
Masjid Al-Huda hari Jumat itu
terlihat penuh sesak. Dibagian dalam masjid dipenuhi para laki-laki, baik
undangan ataupun santri pondok pesantren Tahfidz Qur’an As Salam, dengan baju
koko putih atau batik aneka motif, tak lupa surban atau kopyah aneka model dan
warna ikut menyemarakkan penampilan mereka. Disisi kanan luar masjid hingga
bagian luar masjid yang dilengkapi dengan tenda besar berwarna hijau laut
dipenuhi para wanita muda dan tua berkerudung yang terlihat cantik dalam balutan
kain yang menutupi seluruh bagian tubuh mereka. Tidak terlalu banyak dari
mereka yang menambahkan pewarna di bibir mereka. Para wanita itu berbisik penuh
antusias. Yang tua bercerita, yang muda bertanya. Keduanya saling mendengarkan.
Beberapa diantara mereka tak segan-segan menunjuk kearah pintu masjid sebelah selatan.
Persis didepan pintu itu tampak seorang perempuan
berbalut kebaya putih berhias sulaman emas nan elok sewarna dengan kebaya
coklat bermotif sama dengan bagian bawahnya yang lebar sedang menunduk
memandang lantai hijau keunguan. Sejak awal, dirinya diminta menempati posisi
duduk persis didepan pintu agar bisa melihat meja ukir kuno cantik tanpa
penutup dengan jelas.
Hanya satu kesalahan. Satu kesalahan. Bikin aku nggak
berdaya menentukan keputusan paling penting dalam hidupku. Aku berjuang untuk
sekolahku. Aku berjuang untuk cara hidupku. Aku berjuang dimana aku tinggal.
Aku berjuang untuk semua hal. Satu kesalahan saja. Kesalahan malam itu. Membuat
ibuk menangis. Dewi, Risma, Naning memang nggak bilang apa-apa. Diam mereka
cukup. Tiket mereka juga lebih dari cukup. Seolah aku benar-benar salah. Aku
benar-benar durhaka. Membawaku ke hari ini. Aku tidak percaya aku disini
sekarang. Aku bahkan tidak tahu apa yang kurasakan tadi. Knapa ada laki-laki
gila yang mau dijodohkan seperti ini! Apa dia nggak mikirkan perasaanku. Aku
sendiri tidak kalah gilanya dijerat rasa bersalahku. Knapa???? Benar-benar
nggak bisa dihentikan. Benar-benar terjadi. Pake jilbab juga.....Oh, please.
God!
Sebenarnya duduk di depan pintu itu bukan untuk melihat meja ukir cantik, lebih tepatnya agar
bisa melihat mempelai laki-laki yang duduk bersila jauh dihadapannya itu. Sama
seperti dirinya, laki-laki yang mengenakan jas berkerah berdiri dilengkapi
balutan kebaya berwarna senada dengan bawahan itu menunduk dalam, dengan kepala
tegap.
Zulfan menghela nafas dalam-dalam. Kehidupannya
seolah berhenti. Dia ada tapi tidak merasa. Dia mendengar tapi tidak mengingat.
Dia menatap tapi tidak ada yang terlihat. Zulfan tidak yakin dimana dirinya
sedang berada sekarang. Zulfan tidak tahu apa yang akan terjadi berikutnya.
Zulfan sadar pernikahannya sedang berlangsung, ijab kabul telah selesai dilaksanakan.
Khutbah nikah tidak mampu diingatnya. Namun Zulfan tetap tidak percaya
pernikahannya benar-benar terjadi.
Zulfan mendengar suara tapi dia tidak tahu apa
yang sedang dikatakan. Bapak menepuk pundak Zulfan, mengajak Zulfan ke depan pintu masjid untuk menerima ucapan selamat dari para undangan
laki-laki. Zulfan berdiri dengan senyum mengembang. Disambutnya dengan ramah pelukan mesra dari siapa saja yang memeluknya, diucapkannya terimakasih
pada siapa saja yang mengucapkan selamat dan berdoa untuk kebaikannya dan
istrinya. Hanya saja Zulfan tidak benar-benar mengerti siapa yang memeluknya
dan apa yang sebenarnya mereka katakan. Zulfan menganggukkan kepala dan tidak
berhenti tersenyum ringan. Zulfan memerankan perannya dengan baik. Sangat baik.
Diujung kanannya, tampak istri Zulfan tengah
berusaha memerankan perannya dengan baik, menebar senyum mempesonanya dihiasai
dengan tatapan lembut penuh terimakasih. Tanpa kata-kata. Ibunya dan ibu mertua dan
saudara-saudara iparnya berdiri di kiri-kanannya dengan
wajah penuh bahagia. Seandainya mereka tidak disini, tentu aku lebih berkuasa.
Tidak harus tersenyum sampai layu. Makanya aku lebih suka di Jogya. Kita bebas
seperti yang kita inginkan. Nggak seperti budak yang tidak berharga.
“ Ayo, mbak Rika. Pulang dulu.” Tidak hanya wajah Titin yang dipenuhi
kebahagiaan, tapi suaranya memperdengarkan simfoni merdu penuh bahagia.
“ Biar bisa istirahat.” Keempat pendamping Rika mengiringinya penuh
semangat.
Sesampainya di kamar, Etik menyarankan Rika untuk segera mengganti pakaian dan menawarkan
diri untuk membantu. Rika menolak dengan tegas. Rika hanya minta tolong
diambilkan air dan handuk. Setelah itu Rika menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur bertabur bunga mawar dan melati. Bahkan mereka mengecat dindingnya. Rika benar-benar tidak percaya. Selain itu, kamar
pengantin yang sedang ditempatinya sebenarnya adalah kamar ibu dan bapak.
Mereka memilih kamar ini sebagai kamar pengantin untuk dirinya agar kedua
pengantin baru bisa melihat sungai coklat yang berada disamping kamar. Hujan yang memberi warna coklat sungai
itu.Untuk apa! Dipan kasur
tinggi kuno ini memang milik Ibu. Tapi aku yakin, mereka ngganti kasurnya.
Empuk. Rika memandang langit-langit rumahnya yang terbuat dari papan sederhana
bercat putih. Rika tidak ingat kalau dirinya telah menikah.
Etik tidak berkata apa-apa lagi. Etik yakin Rika
hanya butuh waktu. Ditutupnya pintu kamar itu perlahan. Etik baru saja menata
kelambu kamar ketika dilihatnya Zulfan baru saja melangkah masuk diiringi ke
tujuh kakak laki-laki Rika. Etik tersenyum. Ketujuh kakak Rika yang semuanya
bergamis putih dan bersurban putih tidak henti-hentinya mensuport Zulfan.
Pidato nikah yang dilakukan Ismail, kakak tertua Rika sangat membuat Etik
terkesan. Persis seperti yang dibutuhkan mas Zulfan, pikir Etik. Benar Zulfan memang mendengarkan. Darahnya yang berlari kencang, hanya membuatkan kesimpulan
untuknya. Berbuat baik dan adil adalah kewajiban yang
tidak tergantung pada kedudukan seseorang. Selebihnya, darah Zulfan sibuk membantu
otot-otot tubuhnya agar tidak ambruk menghadapi pintu kehidupan barunya.
“ Mas, ganti baju dulu, biar bisa cepat sholat.”
Senyum bahagia Etik membuat Zulfan tersenyum. Dia mengangguk.
“ Iya. Dek Zulfan memang mau ganti baju ” Ismail bertubuh
paling tinggi dan paling putih diantara keenam saudaranya dilengkapi dengan
bola mata yang tajam memancarkan ketegasan dan kelembutan sekaligus. Ismail menepuk
pundak Zulfan penuh kasih sayang.” . Semakin cepat, semakin bagus.”
“ Ganti kamar belakang saja.” Setyo seolah
memahami kebingungan Zulfan. Kesamaan Setyo dan Rika terletak diwarna kulit
mereka yang kecoklatan dibandingkan saudara mereka yang lain. Selain itu suara
Setyo paling kecil diantara saudara laki-lakinya.
“ Biar mas saja yang ngambilkan bajunya.” Halim, kakak kedua Rika segera
menuju ke kamar pengantin.
“ Aku ngambil air dulu.”
“ Ayo.” Zulfan mengikuti dengan takzim.” Ndar,
tolong sampeyan pindakno tendone nyang ngarep omah.” Iskandar, kakak ke lima
Rika yang memiliki tubuh paling kekar dan hidung besar, wajahnya juga tampak
dipenuhi bekas cacar segera melaksanakan perintah kakak tertuanya, Ismail.
“ Tak tulunge ya, mas.” Heru kakak ke enam Rika
menyusul Iskandar setelah memperoleh anggukan Ismail.
Zulfan tidak menyangka pernikahannya mampu membuat
ibunya menjadi jauh lebih enerjik –sangat jauh, bahkan belum pernah
Zulfan melihat ibunya seperti itu - dibandingkan hari-hari biasa. Jauh lebih
enerjik daripada ketika dirinya, ibu dan bapak ngarit atau mencari rumput untuk
makanan ternak mereka. Jauh lebih enerjik daripada ketika membantu proses
kelahiran sapi-sapi mereka. Zulfan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Ibunya dan ibu mertuanya tampak sibuk berseliweran sambil tersenyum ramah
menyapa dirinya dan ipar-iparnya. Keduanya sibuk memastikan dan mempersiapkan
makanan dan minuman untuk orang-orang yang mungkin datang setelah akad nikah
yang sebenarnya sekaligus resepsi. Masyarakat sekitar dan juga undangan masih
sangat mungkin tetap datang, meskipun di dalam undangan telah jelas tertulis
bahwa proses akad nikah dan resepsi diadakan sekaligus tadi siang,tepatnya jam 13.00 – persis seperti proses pernikahan ketujuh saudara
laki-laki Rika.
Kotak yang dipenuhi kue dan makanan telah
dibagikan tadi, begitu juga tas plastik souvenir yang berisi CD murottal berisi
suara para santri kakak-kakak Rika, sebuah buku doa dan dzikir serta kalender
berdiri yang menggunakan kalender hijriyah dilengkapi dengan tanda-tanda hari
besar muslim, tanda-tanda puasa-puasa sunnah, tak lupa dihiasi mutiara-mutiara
indah Al Qur’an dan hadits. Walau tidak ada yang bisa
menghalangi orang-orang
berdatangan untuk memenuhi tugas sosial mereka.
Ibu mertua Zulfan hanya memiliki seorang anak
perempuan. Santri-santri anak-anak lelakinya juga sebagian besar laki-laki. Para
tetangga ataupun mereka yang mengenal keluarga ibu dan bapak Zen masih belum
puas menyaksikan - lebih tepatnya mencari tahu - tentang putri perempuannya
yang telah lama menghilang. Itulah alasan mereka tetap kembali datang setelah
selesainya proses akad nikah dan resepsi.
Rumah dan pesantren mereka yang terletak di belakang rumah-rumah yang berseberangan tepat dengan jalan raya yang menghubungkan Pasuruan dan
Malang tidak memiliki tetangga dekat. Mereka adalah satu-satunya rumah di dalam gang itu. Tepat di halaman rumah mereka terdapat
sebuah halaman luas yang dipenuhi beberapa pohon sawo besar yang membuat
suasana tampak rindang. Luas halaman itu hampir satu hektar lebih. Di sebelah rumah mereka mengalir sungai sepanjang mata melihat. Di seberang sungai hanya terdapat beberapa bangunan pondok beserta masjid.
Sisanya menghampar sawah hijau yang baru ditanam. Rumah ibu mertua Zulfan
merupakan satu-satunya rumah di daerah itu. Jalan
besar terlihat jelas karena hanya berjarak beberapa meter saja. Jadi wajar jika ibunya Zulfan dan ibu mertuanya terlihat sibuk
mempersiapkan segalanya, dibantu oleh para istri anak laki-laki ibu mertua
Zulfan. Setidaknya untuk saudara-saudara mereka yang akan datang dari desa,
sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan tentunya, mereka datang ketika semua orang selesai dengan pekerjaannya. Dan
mereka bisa datang dengan
jumlah yang luar biasa.
Di kamar pengantin, Rika
hanya melirik ketika pintu kamarnya yang terbuka. Rika tidak mengharapkan
siapa-siapa. Tidak juga suaminya. Cukup melihat jambang lebat di wajah orang itu, Rika sudah tahu siapa dia.
“ Suami
sampeyan masih ganti baju, Nduk. Sampeyan yo ndang wes ganti baju pisan.”
Rika hanya diam. Matanya sudah dari tadi mengamati
orang-orang di seberang sungai yang sedang memindahkan
tenda yang tadi dipakai untuk undangan wanita saat prosesi pernikahan tadi ke
halaman depan rumahnya. Kalau pinjam dua tenda kan nggak perlu repot
begitu. Orang kok ya seneng repot. Rika terkejut ketika merasakan kakinya
ditarik.
“ Ayo, ganti baju dulu.” Halim tersenyum kebapakan di hadapannya.
Rika cemberut. Mas Halim ini! Oh! Come on! Memangnya
aku masih anak kecil. Halim malah tersenyum semakin lebar. Ditariknya tangan
Rika. Meskipun Rika sudah duduk, Halim masih belum melepaskan kedua tangan
Rika. Rika diam tidak memberontak.
Halim menoleh ke arah pintu yang terbuka. Etik datang
bersama sebuah baskom besar dan handuk bersih yang dibawakan oleh pengawalnya,
Titin. Halim tersenyum pada mereka. Mata Titin berbinar mendapatkan senyum
mempesona penuh wibawa itu.” Tu, sudah datang.” Halim mengacak-ngacak kepala
Rika sampai jilbab yang dipakaianya ikut bergerak. Rika semakin cemberut. Halim
mengucapkan salam pada Etik dan Titin sebelum meninggalkan kamar.
“ Ini, mbak.” Etik meletakkan baskomnya di meja rias kuno yang terletak disebelah pintu.” Mbak mau pakai baju yang
mana.”
Rika enggan melanjutkan hidupnya yang sekarang.
Rika memilih menjadi robot. Dibiarkannya Etik dan Titin, saudara ipar barunya,
memilihkan dan melepaskan sepatu, jilbab, juga pakaiannya. Rika juga membiarkan
Titin membasuh wajahnya yang tidak bermake up sedikitpun, hanya diolesi bedak.
Setelah mengambilkan air baru untuk Rika, Etik menyarankan Rika untuk segera
mengambil air wudhu. Dengan malas Rika melakukan yang disarankan Etik. Puas
melihat robotnya telah siap melakukan tugas berikutnya, Etik dan Titin
mempersiapkan pelaksanaan tugas berikutnya.
“ Ini mukenanya, mbak. Tak panggil mas Zulfan dulu, ya.”
Ooooo, namanya Zulfan. Nama apa itu. Nanggung
banget. Meski berulang kali mendengar nama itu disebut, baru kali ini Rika
merasa baru tahu dengan pasti nama suaminya. Seorang laki-laki masuk dengan
perlahan. Dia harusnya masuk dengan lebih gagah, kecewa Rika. Laki-laki itu
langsung berdiri diatas sajadah yang telah disiapkan ipar-ipar Rika tadi. Dia
menoleh tanpa berkata apa-apa. Ohh ya! Cukup begitu saja kamu sudah berkuasa!
Rika mendekat diiringi dengan dengusan panjang. Laki-laki itu menoleh sekali
lagi. Rika melirik tajam tanpa melihat bola mata laki-laki disebelahnya yang
hanya memiliki sedikit jarak dengan dirinya.
Dada Zulfan berdegup semakin kencang ketika
memulai takbirnya. Air matanya seolah ingin keluar dengan bebas. Zulfan menarik
nafas panjang dan dalam. Pertemuan pertama. Tugas pertamaku. Sudah begini
sulit. Ya, Allah. Tolong. Zulfan memilih berhenti berfikir dan merasa. Zulfan
menahan semua rasa dan pikirnya. Dalam sujud terakhir, Zulfan menahan dadanya
yang terasa semakin berat dan bergemuruh. Ringankan ini. Ringankan. Matanya
terpejam rapat.
Di belakangnya, Rika mencoba
untuk tidak mendengus satu kalipun. Rika mencoba untuk tidak berfikir
apa-apa. Tidak ketika sedang menghadap Tuhannya. Rika menyembunyikan semua
galau dan takutnya. Rika takut Tuhan akan mendengar semuanya. Rika takut Tuhan
akan menjadikan nyata kegalauan dan ketakutannya. Rika tidak tahu kenapa
laki-laki itu bersujud begitu lama sedari rokaat pertama tadi. Bagaimanapun
Rika mencoba menikmati ketenangan yang hadir dari gerakan sujud itu. Untuk
pertama kalinya, Rika merasa tali kekang otot-otot wajahnya mengendur. Selesai
salam, Rika benar-benar tidak tahu apa yang akan dilakukan laki-laki itu.
Meskipun sebenarnya Rika tahu apa seharusnya dilakukan oleh laki-laki yang
sudah menjadi suaminya itu.
Zulfan memutar badannya. Dipandangnya wanita yang
menunduk di hadapannya. Zulfan tidak tahu pasti apa
yang dilihatnya. Tapi, Zulfan tahu pasti apa yang dirasakan oleh wanita itu.
Wanita itu menolak dan mengacuhkannya dengan sikap diam. Zulfan memilih
menjulurkan tangannya ke arah wanita itu.
Rika mencium tangan itu dengan hati bergemuruh.
Gemuruh karena amarah. Hati Rika semakin bergemuruh ketika laki-laki itu
mengambil tangan kanan bekunya yang baru saja digunakan untuk menyentuh
laki-laki di hadapannya. Laki-laki itu menciumnya. Rika
tidak merasakan apa-apa di telapak tangan bagian atas. Hatinya yang justru terasa semakin membara
oleh amarah. Zulfan tidak melihat amarah Rika. Tapi Zulfan
merasakannya. Sekarang Zulfan menyentuh kepala istrinya, lalumembaca doa yang telah dihafalkannya jauh sebelum proses pernikahannya
terjadi. Setelah itu keduanya diam untuk sesaat.
Tentu saja tidak baik membiarkan keadaan seperti
itu, Zulfan segera mengambil langkah.” Temui teman-temannya dulu.” Rika masih
mengarahkan pandangannya ke lantai. Ternyata suaranya pelan, besar dan dalam.
“ Sudah?”, Ibu Hindun mertua
Zulfan, tersenyum lebar. Di belakangnya, Ibu Rohana, ibunya Zulfan, juga melakukan hal yang sama. Tersenyum lebar.”
Dulur-dulure sampeyan wes teko. Ayo, nduk.” Rika berdiri dengan malas,
melangkah dengan malas.” Lho, yo. Ganti jilbab disek, nduk.”
Sejak kapan aku pakai jilbab. Tapi Rika menurut. Dilepasnya mukena putih yang tadidipakai untuk
sholat bersama suaminya. Diliriknya Zulfan. Baguslah dia nggak ngliat kesini.
Rika memandang sinis.
“ Ayo, Le. Sampeyan pisan. Ditemoni dulu
dulur-dulure. Lek wes mari, baru konco-koncone. Koncone sampeyan dibarengai bapak
kok nduk.”
Saat prosesi pernikahannya tadi, Rika memang
melihat Dewi, Naning, Risma, beberapa karyawan restauran dan beberapa temannya
yang di Jogya. Rika hanya melihat, tidak menegur. Juga tidak menyapa. Rika
tidak tahu, apakah teman-temannya itu menegur dan menyapanya. Rika juga tidak
tahu apa tadi teman-temannya itu juga ikut bersalaman dengan dirinya di akhir proses acara pernikahannya. Rika tidak tahu apakah dia bersyukur,
senang, bahagia atas kedatangan mereka.
Di luar, Rika melihat
saudara-saudara bapak dan ibu yang berasal dari desa-desa pelosok di sepanjang lembah jalan menuju gunung Bromo. Mereka tampak antusias. Terlalu
berlebihan menurut Rika. Mereka memuji dirinya dan Zulfan, suaminya. Mereka
menanyakan banyak hal. Terlalu banyak menurut Rika. Rika heran kenapa suaminya mampu
tersenyum wajar kepada mereka semua yang hadir. Suaminya juga tidak terlihat
lelah menanggapi semua itu. Rika tidak habis pikir. Rika tidak ingin berfikir
bahwa suami barunya itu sedang berusaha mengambil hati ibu, bapaknya, mas-masnya
atau saudara-saudara itu, juga dirinya. Rika tidak ingin
menghakimi. Tapi, pikiran seperti itu sudah terlanjur berkelebat dengan cepat
di benaknya. Rika bergegas memilih mencari
teman-temannya.
Mereka sedang duduk di kursi teras yang terbuat dari rotan yang dibiarkan tetap berada di tempatnya. Sementara di halaman depan, tampak
kursi-kursi dan meja-meja berjajar dihiasi aneka piring yang dipenuhi bermacam
kue. Kalo begini kan ya percuma. Sama aja. Resepsi dua
kali.
“ Selamat ya, Mbak.” Tyas, karyawan Rika bagian
kasir itu tersenyum tulus. Teman-teman Tyas yang lain juga ikut mengucapkan
selamat. Begitu juga dengan ketiga sahabat Rika, yang tinggal satu rumah
bersama.
“Yang lain bilang terimaksih untuk undangannya.
Mereka minta maaf nggak bisa datang.” Rika memaklumi hal itu. Terlalu mendadak
pemberitahuannya. Ini pertanda bagus ato apa.No idea.
“ Kapan balik ke Jogjanya, Rik?.” Naning dan Dewi terlihat menyesalkan pertanyaan Risma yang mereka anggap
sangat tidak tepat dan provokatif.
“ Mungkin besok atau berapa hari lagi.” Rika
menyesal. Menyesal karena telah memilih duduk menghabiskan waktu dengan
orang-orang yang dikenalnya. Entahlah, smua orang trasa menyebalkan! Aku
hanya ingin smua ini berakhir. Segera. Tapi aku cukup tahu, tidak akan secepat
itu. Tentu saja tidak mungkin mengusir mereka begitu saja. Mereka merasa berhak
datang kesini. Tentu saja. Mereka datang dengan pemberitahuan. Yang pasti, bukan
aku yang ngasih tau.
“ Ayo mbak,foto!” Ide gila!
Rutuk Rika dalam hati ketika salah seorang sepupu desanya - seorang perempuan yang lebih tua beberapa
tahun dari Rika- tiba-tiba langsung menggandeng tangannya.
Tak pelak, acara berfoto yang direncanakan hanya
untuk keluarga inti kedua belah pihak, kini berubah menjadi ajang pemotretan
fotografer-fotografer amatir tidak hanya dari pihak saudara-saudara ibu bapak yang
dari desa, tapi tiba-tiba semua orang termasuk sahabat dan teman-teman Rika,
seolah sudah menunggu kesempatan untuk berfoto bersama kedua mempelai. Mereka
ingin menggoda atau membantu? Nggak gini caranya!
Jiwa Rika dipenuhi keheranan dengan tawaran
berfoto yang terus mengalir itu. Mereka terlihat terlalu antusias. Sori, lebih
tepatnya penasaran. Mereka seolah merasa puas setelah berfoto dengan dirinya
dan Zulfan, suaminya. Mereka akan lebih puas lagi kalau bisa membuat Zulfan dan
Rika berdiri berdampingan. Rika bersyukur karena suaminya lebih sering tidak
membiarkan hal itu terjadi. Dengan berbagai alasan yang masuk akal, suami Rika
mencoba untuk memenuhi keinginan pertama istri barunya: tidak berada dekat
dengan dirinya.
Tentu saja keadaan itu tidak mungkin berlangsung
selamanya. Setidaknya Zulfan tidak lagi berusaha ketika acara pemotretan sesi
keluarga inti dilaksanakan. Kejengkelan Rika pada suami barunya semakin membuncah ketika Rika melihat wajah suami yang tidak ingin dilihat dan dihafalnya
itu terlihat begitu bahagia. Wajah bahagia suami Rika juga tidak hilang ketika
menemani Rika mengantarakan teman-teman Jogya Rika. Cara dia ngomong kayak
sudah kenal baik aja. Dasar!.
Hari memang sudah malam, tapi tamu tetap
berdatangan. Keluarga Rika dan suaminya membiarkan Rika beristirahat, sementara
mereka tetap menerima tamu-tamu yang terus berdatangan hingga larut malam. Rika
memilih mencoba tidur. Berkali-kali badannya bergerak ke kiri dan ke kanan, tetap saja matanya yang terpejam
itu tidak membawanya lelap. Kejengkelan Rika sudah seperti dapur gunung Semeru
yang besar, bergolak dan panas, sangat panas.Siap menerjang desa-desa yang ada di sekitarnya.
Entah sudah jam berapa, ketika Rika dengan mata
terpejam dan guling dalam pelukan ketika mendengar pintu kamarnya dibuka. Dari
tadi juga gitu. Titin, Etik, ibuk, ibuknya dia, mas Halim... keluar masuk
seenaknya. Ada aja yang mereka lakukan disini. Aku heran. Kado pengantin kan bisa ditaruk tempat lain! Nggak harus disini. Laki-laki itukan juga
bisa ganti baju diluar! Sapa sih yang naruh bajunya di lemari itu. Rika menyaksikan semua itu hanya dengan telinganya. Matanya
tetap terpejam. Sekarang, Rika merasakan kasurnya bergerak. Biarin aja.
Zulfan merebahkan tubuhnya di pojok tempat tidur yang persis bersebelahan dengan dinding. Istrinya sudah
tidur memeluk guling. Zulfan mengetahui hal itu ketika dia membuka pintu kamar
pengantinnya. Selebihnya dia tidak melihat lagi. Seandainya boleh tidur di tempat lain, lebih bagus. Keluh Zulfan dalam hati. Sayang Ibu Hindun dan ibunya tidak mengijinkan hal itu. Apapun alasan Zulfan. Hmmm.. apalagi mas
Jakfar. Namanya cocok. Jakfar.... namanya galak. Wajah mas Jakfar benar-benar
galak, suaranya juga serem. Zulfan tersenyum. Tapi mereka
baik. Semuanya baik. Ibuk, bapak, Titin, Etik benar. Mereka memang baik. Istriku? Pasti baik. Zulfan tersenyum lemah ketika mengingat istrinya. Tetap aku
bersyukur, Allah memberi kebahagiaan yang banyak. Ibukku,
bapakku, adik-adikku. Zulfan terlelap
dalam kesyukurannya.