Promises

Promises
Episode 2



Masjid Al-Huda hari Jumat itu


terlihat penuh sesak. Dibagian dalam masjid dipenuhi para laki-laki, baik


undangan ataupun santri pondok pesantren Tahfidz Qur’an As Salam, dengan baju


koko putih atau batik aneka motif, tak lupa surban atau kopyah aneka model dan


warna ikut menyemarakkan penampilan mereka. Disisi kanan luar masjid hingga


bagian luar masjid yang dilengkapi dengan tenda besar berwarna hijau laut


dipenuhi para wanita muda dan tua berkerudung yang terlihat cantik dalam balutan


kain yang menutupi seluruh bagian tubuh mereka. Tidak terlalu banyak dari


mereka yang menambahkan pewarna di bibir mereka. Para wanita itu berbisik penuh


antusias. Yang tua bercerita, yang muda bertanya. Keduanya saling mendengarkan.


Beberapa diantara mereka tak segan-segan menunjuk kearah pintu masjid sebelah selatan.


Persis didepan pintu itu tampak seorang perempuan


berbalut kebaya putih berhias sulaman emas nan elok sewarna dengan kebaya


coklat bermotif sama dengan bagian bawahnya yang lebar sedang menunduk


memandang lantai hijau keunguan. Sejak awal, dirinya diminta menempati posisi


duduk persis didepan pintu agar bisa melihat meja ukir kuno cantik tanpa


penutup dengan jelas.


Hanya satu kesalahan. Satu kesalahan. Bikin aku nggak


berdaya menentukan keputusan paling penting dalam hidupku. Aku berjuang untuk


sekolahku. Aku berjuang untuk cara hidupku. Aku berjuang dimana aku tinggal.


Aku berjuang untuk semua hal. Satu kesalahan saja. Kesalahan malam itu. Membuat


ibuk menangis. Dewi, Risma, Naning memang nggak bilang apa-apa. Diam mereka


cukup. Tiket mereka juga lebih dari cukup. Seolah aku benar-benar salah. Aku


benar-benar durhaka. Membawaku ke hari ini. Aku tidak percaya aku disini


sekarang. Aku bahkan tidak tahu apa yang kurasakan tadi. Knapa ada laki-laki


gila yang mau dijodohkan seperti ini! Apa dia nggak mikirkan perasaanku. Aku


sendiri tidak kalah gilanya dijerat rasa bersalahku. Knapa???? Benar-benar


nggak bisa dihentikan. Benar-benar terjadi. Pake jilbab juga.....Oh, please.


God!


Sebenarnya duduk di depan pintu itu bukan untuk melihat meja ukir cantik, lebih tepatnya agar


bisa melihat mempelai laki-laki yang duduk bersila jauh dihadapannya itu. Sama


seperti dirinya, laki-laki yang mengenakan jas berkerah berdiri dilengkapi


balutan kebaya berwarna senada dengan bawahan itu menunduk dalam, dengan kepala


tegap.


Zulfan menghela nafas dalam-dalam. Kehidupannya


seolah berhenti. Dia ada tapi tidak merasa. Dia mendengar tapi tidak mengingat.


Dia menatap tapi tidak ada yang terlihat. Zulfan tidak yakin dimana dirinya


sedang berada sekarang. Zulfan tidak tahu apa yang akan terjadi berikutnya.


Zulfan sadar pernikahannya sedang berlangsung, ijab kabul telah selesai dilaksanakan.


Khutbah nikah tidak mampu diingatnya. Namun Zulfan tetap tidak percaya


pernikahannya benar-benar terjadi.


Zulfan mendengar suara tapi dia tidak tahu apa


yang sedang dikatakan. Bapak menepuk pundak Zulfan, mengajak Zulfan ke depan pintu masjid untuk menerima ucapan selamat dari para undangan


laki-laki. Zulfan berdiri dengan senyum mengembang. Disambutnya dengan ramah pelukan mesra dari siapa saja yang memeluknya, diucapkannya terimakasih


pada siapa saja yang mengucapkan selamat dan berdoa untuk kebaikannya dan


istrinya. Hanya saja Zulfan tidak benar-benar mengerti siapa yang memeluknya


dan apa yang sebenarnya mereka katakan. Zulfan menganggukkan kepala dan tidak


berhenti tersenyum ringan. Zulfan memerankan perannya dengan baik. Sangat baik.


Diujung kanannya, tampak istri Zulfan tengah


berusaha memerankan perannya dengan baik, menebar senyum mempesonanya dihiasai


dengan tatapan lembut penuh terimakasih. Tanpa kata-kata.  Ibunya dan ibu mertua dan


saudara-saudara iparnya berdiri di kiri-kanannya dengan


wajah penuh bahagia. Seandainya mereka tidak disini, tentu aku lebih berkuasa.


Tidak harus tersenyum sampai layu. Makanya aku lebih suka di Jogya. Kita bebas


seperti yang kita inginkan. Nggak seperti budak yang tidak berharga.


“ Ayo, mbak Rika. Pulang dulu.”  Tidak hanya wajah Titin yang dipenuhi


kebahagiaan, tapi suaranya memperdengarkan simfoni merdu penuh bahagia.


“ Biar bisa istirahat.” Keempat pendamping Rika mengiringinya penuh


semangat.


Sesampainya di kamar, Etik menyarankan Rika untuk segera mengganti pakaian dan menawarkan


diri untuk membantu. Rika menolak dengan tegas. Rika hanya minta tolong


diambilkan air dan handuk. Setelah itu Rika menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur bertabur bunga mawar dan melati. Bahkan mereka mengecat dindingnya. Rika benar-benar tidak percaya. Selain itu, kamar


pengantin yang sedang ditempatinya sebenarnya adalah kamar ibu dan bapak.


Mereka memilih kamar ini sebagai kamar pengantin untuk dirinya agar kedua


pengantin baru bisa melihat sungai coklat yang berada disamping kamar. Hujan yang memberi warna coklat sungai


itu.Untuk apa! Dipan kasur


tinggi kuno ini memang milik Ibu. Tapi aku yakin, mereka ngganti kasurnya.


Empuk. Rika memandang langit-langit rumahnya yang terbuat dari papan sederhana


bercat putih. Rika tidak ingat kalau dirinya telah menikah.


Etik tidak berkata apa-apa lagi. Etik yakin Rika


hanya butuh waktu. Ditutupnya pintu kamar itu perlahan. Etik baru saja menata


kelambu kamar ketika dilihatnya Zulfan baru saja melangkah masuk diiringi ke


tujuh kakak laki-laki Rika. Etik tersenyum. Ketujuh kakak Rika yang semuanya


bergamis putih dan bersurban putih tidak henti-hentinya mensuport Zulfan.


Pidato nikah yang dilakukan Ismail, kakak tertua Rika sangat membuat Etik


terkesan. Persis seperti yang dibutuhkan mas Zulfan, pikir Etik.  Benar Zulfan memang mendengarkan. Darahnya yang berlari kencang, hanya membuatkan kesimpulan


untuknya. Berbuat baik dan adil adalah kewajiban yang


tidak tergantung pada kedudukan seseorang. Selebihnya, darah Zulfan sibuk membantu


otot-otot tubuhnya agar tidak ambruk menghadapi pintu kehidupan barunya.


“ Mas, ganti baju dulu, biar bisa cepat sholat.”


Senyum bahagia Etik membuat Zulfan tersenyum. Dia mengangguk.


“ Iya. Dek Zulfan memang mau ganti baju ” Ismail bertubuh


paling tinggi dan paling putih diantara keenam saudaranya dilengkapi dengan


bola mata yang tajam memancarkan ketegasan dan kelembutan sekaligus. Ismail menepuk


pundak Zulfan penuh kasih sayang.” . Semakin cepat, semakin bagus.”


“ Ganti kamar belakang saja.” Setyo seolah


memahami kebingungan Zulfan. Kesamaan Setyo dan Rika terletak diwarna kulit


mereka yang kecoklatan dibandingkan saudara mereka yang lain. Selain itu suara


Setyo paling kecil diantara saudara laki-lakinya.


“ Biar mas saja yang ngambilkan bajunya.” Halim, kakak kedua Rika segera


menuju ke kamar pengantin.


“ Aku ngambil air dulu.”


“ Ayo.” Zulfan mengikuti dengan takzim.” Ndar,


tolong sampeyan pindakno tendone nyang ngarep omah.” Iskandar, kakak ke lima


Rika yang memiliki tubuh paling kekar dan hidung besar, wajahnya juga tampak


dipenuhi bekas cacar segera melaksanakan perintah kakak tertuanya, Ismail.


“ Tak tulunge ya, mas.” Heru kakak ke enam Rika


menyusul Iskandar setelah memperoleh anggukan Ismail.


Zulfan tidak menyangka pernikahannya mampu membuat


ibunya menjadi jauh lebih enerjik –sangat jauh, bahkan belum pernah


Zulfan melihat ibunya seperti itu - dibandingkan hari-hari biasa. Jauh lebih


enerjik daripada ketika dirinya, ibu dan bapak ngarit atau mencari rumput untuk


makanan ternak mereka. Jauh lebih enerjik daripada ketika membantu proses


kelahiran sapi-sapi mereka. Zulfan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Ibunya dan ibu mertuanya tampak sibuk berseliweran sambil tersenyum ramah


menyapa dirinya dan ipar-iparnya. Keduanya sibuk memastikan dan mempersiapkan


makanan dan minuman untuk orang-orang yang mungkin datang setelah akad nikah


yang sebenarnya sekaligus resepsi. Masyarakat sekitar dan juga undangan masih


sangat mungkin tetap datang, meskipun di dalam undangan telah jelas tertulis


bahwa proses akad nikah dan resepsi diadakan sekaligus tadi siang,tepatnya jam 13.00 – persis seperti proses pernikahan ketujuh saudara


laki-laki Rika.


Kotak yang dipenuhi kue dan makanan telah


dibagikan tadi, begitu juga tas plastik souvenir yang berisi CD murottal berisi


suara para santri kakak-kakak Rika, sebuah buku doa dan dzikir serta kalender


berdiri yang menggunakan kalender hijriyah dilengkapi dengan tanda-tanda hari


besar muslim, tanda-tanda puasa-puasa sunnah, tak lupa dihiasi mutiara-mutiara


indah Al Qur’an dan hadits.  Walau tidak ada yang bisa


menghalangi orang-orang


berdatangan untuk memenuhi tugas sosial mereka.


Ibu mertua Zulfan hanya memiliki seorang anak


perempuan. Santri-santri anak-anak lelakinya juga sebagian besar laki-laki. Para


tetangga ataupun mereka yang mengenal keluarga ibu dan bapak Zen masih belum


puas menyaksikan - lebih tepatnya mencari tahu - tentang putri perempuannya


yang telah lama menghilang. Itulah alasan mereka tetap kembali datang setelah


selesainya proses akad nikah dan resepsi.


Rumah dan pesantren mereka yang terletak di belakang rumah-rumah yang berseberangan tepat dengan  jalan raya yang menghubungkan Pasuruan dan


Malang tidak memiliki tetangga dekat. Mereka adalah satu-satunya rumah di dalam gang itu. Tepat di halaman rumah mereka terdapat


sebuah halaman luas yang dipenuhi beberapa pohon sawo besar yang membuat


suasana tampak rindang. Luas halaman itu hampir satu hektar lebih. Di sebelah rumah mereka mengalir sungai sepanjang mata melihat. Di seberang sungai hanya terdapat beberapa bangunan pondok beserta masjid.


Sisanya menghampar sawah hijau yang baru ditanam. Rumah ibu mertua Zulfan


merupakan satu-satunya rumah di daerah itu. Jalan


besar terlihat jelas karena hanya berjarak beberapa meter saja. Jadi wajar jika ibunya Zulfan dan ibu mertuanya terlihat sibuk


mempersiapkan segalanya, dibantu oleh para istri anak laki-laki ibu mertua


Zulfan. Setidaknya untuk saudara-saudara mereka yang akan datang dari desa,


sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan tentunya, mereka datang ketika semua orang selesai dengan pekerjaannya. Dan


mereka bisa datang dengan


jumlah yang luar biasa.


Di kamar pengantin, Rika


hanya melirik ketika pintu kamarnya yang terbuka. Rika tidak mengharapkan


siapa-siapa. Tidak juga suaminya. Cukup melihat jambang lebat di wajah orang itu, Rika sudah tahu siapa dia.


“  Suami


sampeyan masih ganti baju, Nduk. Sampeyan yo ndang wes ganti baju pisan.”


Rika hanya diam. Matanya sudah dari tadi mengamati


orang-orang di seberang sungai yang sedang memindahkan


tenda yang tadi dipakai untuk undangan wanita saat prosesi pernikahan tadi ke


halaman depan rumahnya. Kalau pinjam dua tenda kan nggak perlu repot


begitu. Orang kok ya seneng repot. Rika terkejut ketika merasakan kakinya


ditarik.


“ Ayo, ganti baju dulu.” Halim tersenyum kebapakan di hadapannya.


Rika cemberut. Mas Halim ini! Oh! Come on! Memangnya


aku masih anak kecil. Halim malah tersenyum semakin lebar. Ditariknya tangan


Rika. Meskipun Rika sudah duduk, Halim masih belum melepaskan kedua tangan


Rika. Rika diam tidak memberontak.


Halim menoleh ke arah pintu yang terbuka. Etik datang


bersama sebuah baskom besar dan handuk bersih yang dibawakan oleh pengawalnya,


Titin. Halim tersenyum pada mereka. Mata Titin berbinar mendapatkan senyum


mempesona penuh wibawa itu.” Tu, sudah datang.” Halim mengacak-ngacak kepala


Rika sampai jilbab yang dipakaianya ikut bergerak. Rika semakin cemberut. Halim


mengucapkan salam pada Etik dan Titin sebelum meninggalkan kamar.


“ Ini, mbak.” Etik meletakkan baskomnya di meja rias kuno yang terletak disebelah pintu.” Mbak mau pakai baju yang


mana.”


Rika enggan melanjutkan hidupnya yang sekarang.


Rika memilih menjadi robot. Dibiarkannya Etik dan Titin, saudara ipar barunya,


memilihkan dan melepaskan sepatu, jilbab, juga pakaiannya. Rika juga membiarkan


Titin membasuh wajahnya yang tidak bermake up sedikitpun, hanya diolesi bedak.


Setelah mengambilkan air baru untuk Rika, Etik menyarankan Rika untuk segera


mengambil air wudhu. Dengan malas Rika melakukan yang disarankan Etik. Puas


melihat robotnya telah siap melakukan tugas berikutnya, Etik dan Titin


mempersiapkan pelaksanaan tugas berikutnya.


“ Ini mukenanya, mbak. Tak panggil mas Zulfan dulu, ya.”


Ooooo, namanya Zulfan. Nama apa itu. Nanggung


banget. Meski berulang kali mendengar nama itu disebut, baru kali ini Rika


merasa baru tahu dengan pasti nama suaminya. Seorang laki-laki masuk dengan


perlahan. Dia harusnya masuk dengan lebih gagah, kecewa Rika. Laki-laki itu


langsung berdiri diatas sajadah yang telah disiapkan ipar-ipar Rika tadi. Dia


menoleh tanpa berkata apa-apa. Ohh ya! Cukup begitu saja kamu sudah berkuasa!


Rika mendekat diiringi dengan dengusan panjang. Laki-laki itu menoleh sekali


lagi. Rika melirik tajam tanpa melihat bola mata laki-laki disebelahnya yang


hanya memiliki sedikit jarak dengan dirinya.


Dada Zulfan berdegup semakin kencang ketika


memulai takbirnya. Air matanya seolah ingin keluar dengan bebas. Zulfan menarik


nafas panjang dan dalam. Pertemuan pertama. Tugas pertamaku. Sudah begini


sulit. Ya, Allah. Tolong. Zulfan memilih berhenti berfikir dan merasa. Zulfan


menahan semua rasa dan pikirnya. Dalam sujud terakhir, Zulfan menahan dadanya


yang terasa semakin berat dan bergemuruh. Ringankan ini. Ringankan. Matanya


terpejam rapat.


Di belakangnya, Rika mencoba


untuk tidak mendengus satu kalipun. Rika mencoba untuk tidak berfikir


apa-apa. Tidak ketika sedang menghadap Tuhannya. Rika menyembunyikan semua


galau dan takutnya. Rika takut Tuhan akan mendengar semuanya. Rika takut Tuhan


akan menjadikan nyata kegalauan dan ketakutannya. Rika tidak tahu kenapa


laki-laki itu bersujud begitu lama sedari rokaat pertama tadi. Bagaimanapun


Rika mencoba menikmati ketenangan yang hadir dari gerakan sujud itu. Untuk


pertama kalinya, Rika merasa tali kekang otot-otot wajahnya mengendur. Selesai


salam, Rika benar-benar tidak tahu apa yang akan dilakukan laki-laki itu.


Meskipun sebenarnya Rika tahu apa seharusnya dilakukan oleh laki-laki yang


sudah menjadi suaminya itu.


Zulfan memutar badannya. Dipandangnya wanita yang


menunduk di hadapannya. Zulfan tidak tahu pasti apa


yang dilihatnya. Tapi, Zulfan tahu pasti apa yang dirasakan oleh wanita itu.


Wanita itu menolak dan mengacuhkannya dengan sikap diam. Zulfan memilih


menjulurkan tangannya ke arah wanita itu.


Rika mencium tangan itu dengan hati bergemuruh.


Gemuruh karena amarah. Hati Rika semakin bergemuruh ketika laki-laki itu


mengambil tangan kanan bekunya yang baru saja digunakan untuk menyentuh


laki-laki di hadapannya. Laki-laki itu menciumnya. Rika


tidak merasakan apa-apa di telapak tangan bagian atas.  Hatinya yang justru terasa semakin membara


oleh amarah. Zulfan tidak melihat amarah Rika. Tapi Zulfan


merasakannya. Sekarang Zulfan menyentuh kepala istrinya, lalumembaca doa yang telah dihafalkannya jauh sebelum proses pernikahannya


terjadi. Setelah itu keduanya diam untuk sesaat.


Tentu saja tidak baik membiarkan keadaan seperti


itu, Zulfan segera mengambil langkah.” Temui teman-temannya dulu.” Rika masih


mengarahkan pandangannya ke lantai. Ternyata suaranya pelan, besar dan dalam.


“ Sudah?”, Ibu Hindun mertua


Zulfan, tersenyum lebar. Di belakangnya, Ibu Rohana, ibunya Zulfan, juga melakukan hal yang sama. Tersenyum lebar.”


Dulur-dulure sampeyan wes teko. Ayo, nduk.” Rika berdiri dengan malas,


melangkah dengan malas.” Lho, yo. Ganti jilbab disek, nduk.”


Sejak kapan aku pakai jilbab. Tapi Rika menurut. Dilepasnya mukena putih yang tadidipakai untuk


sholat bersama suaminya. Diliriknya Zulfan. Baguslah dia nggak ngliat kesini.


Rika memandang sinis.


“ Ayo, Le. Sampeyan pisan. Ditemoni dulu


dulur-dulure. Lek wes mari, baru konco-koncone. Koncone sampeyan dibarengai bapak


kok nduk.”


Saat prosesi pernikahannya tadi, Rika memang


melihat Dewi, Naning, Risma, beberapa karyawan restauran dan beberapa temannya


yang di Jogya. Rika hanya melihat, tidak menegur. Juga tidak menyapa. Rika


tidak tahu, apakah teman-temannya itu menegur dan menyapanya. Rika juga tidak


tahu apa tadi teman-temannya itu juga ikut bersalaman dengan dirinya di akhir proses acara pernikahannya. Rika tidak tahu apakah dia bersyukur,


senang, bahagia atas kedatangan mereka.


Di luar, Rika melihat


saudara-saudara bapak dan ibu yang berasal dari desa-desa pelosok di sepanjang lembah jalan menuju gunung Bromo. Mereka tampak antusias. Terlalu


berlebihan menurut Rika. Mereka memuji dirinya dan Zulfan, suaminya. Mereka


menanyakan banyak hal. Terlalu banyak menurut Rika. Rika heran kenapa suaminya mampu


tersenyum wajar kepada mereka semua yang hadir. Suaminya juga tidak terlihat


lelah menanggapi semua itu. Rika tidak habis pikir. Rika tidak ingin berfikir


bahwa suami barunya itu sedang berusaha mengambil hati ibu, bapaknya, mas-masnya


atau saudara-saudara itu, juga dirinya. Rika tidak ingin


menghakimi. Tapi, pikiran seperti itu sudah terlanjur berkelebat dengan cepat


di benaknya. Rika bergegas memilih mencari


teman-temannya.


Mereka sedang duduk di kursi teras yang terbuat dari rotan yang dibiarkan tetap berada di tempatnya. Sementara di halaman depan, tampak


kursi-kursi dan meja-meja berjajar dihiasi aneka piring yang dipenuhi bermacam


kue. Kalo begini kan ya percuma. Sama aja. Resepsi dua


kali.


“ Selamat ya, Mbak.” Tyas, karyawan Rika bagian


kasir itu tersenyum tulus. Teman-teman Tyas yang lain juga ikut mengucapkan


selamat. Begitu juga dengan ketiga sahabat Rika, yang tinggal satu rumah


bersama.


“Yang lain bilang terimaksih untuk undangannya.


Mereka minta maaf nggak bisa datang.” Rika memaklumi hal itu. Terlalu mendadak


pemberitahuannya. Ini pertanda bagus ato apa.No idea.


“ Kapan balik ke Jogjanya, Rik?.” Naning dan Dewi terlihat menyesalkan pertanyaan Risma yang mereka anggap


sangat tidak tepat dan provokatif.


“ Mungkin besok atau berapa hari lagi.” Rika


menyesal. Menyesal karena telah memilih duduk menghabiskan waktu dengan


orang-orang yang dikenalnya. Entahlah, smua orang trasa menyebalkan! Aku


hanya ingin smua ini berakhir. Segera. Tapi aku cukup tahu, tidak akan secepat


itu. Tentu saja tidak mungkin mengusir mereka begitu saja. Mereka merasa berhak


datang kesini. Tentu saja. Mereka datang dengan pemberitahuan. Yang pasti, bukan


aku yang ngasih tau.


“ Ayo mbak,foto!” Ide gila!


Rutuk Rika dalam hati ketika salah seorang sepupu desanya  - seorang perempuan yang lebih tua beberapa


tahun dari Rika- tiba-tiba langsung menggandeng tangannya.


Tak pelak, acara berfoto yang direncanakan hanya


untuk keluarga inti kedua belah pihak, kini berubah menjadi ajang pemotretan


fotografer-fotografer amatir tidak hanya dari pihak saudara-saudara ibu bapak yang


dari desa, tapi tiba-tiba semua orang termasuk sahabat dan teman-teman Rika,


seolah sudah menunggu kesempatan untuk berfoto bersama kedua mempelai. Mereka


ingin menggoda atau membantu? Nggak gini caranya!


Jiwa Rika dipenuhi keheranan dengan tawaran


berfoto yang terus mengalir itu. Mereka terlihat terlalu antusias. Sori, lebih


tepatnya penasaran. Mereka seolah merasa puas setelah berfoto dengan dirinya


dan Zulfan, suaminya. Mereka akan lebih puas lagi kalau bisa membuat Zulfan dan


Rika berdiri berdampingan. Rika bersyukur karena suaminya lebih sering tidak


membiarkan hal itu terjadi. Dengan berbagai alasan yang masuk akal, suami Rika


mencoba untuk memenuhi keinginan pertama istri barunya: tidak berada dekat


dengan dirinya.


Tentu saja keadaan itu tidak mungkin berlangsung


selamanya. Setidaknya Zulfan tidak lagi berusaha ketika acara pemotretan sesi


keluarga inti dilaksanakan. Kejengkelan Rika pada suami barunya semakin membuncah ketika Rika melihat wajah suami yang tidak ingin dilihat dan dihafalnya


itu terlihat begitu bahagia. Wajah bahagia suami Rika juga tidak hilang ketika


menemani Rika mengantarakan teman-teman Jogya Rika. Cara dia ngomong kayak


sudah kenal baik aja. Dasar!.


Hari memang sudah malam, tapi tamu tetap


berdatangan. Keluarga Rika dan suaminya membiarkan Rika beristirahat, sementara


mereka tetap menerima tamu-tamu yang terus berdatangan hingga larut malam. Rika


memilih mencoba tidur. Berkali-kali badannya bergerak ke kiri dan ke kanan, tetap saja matanya yang terpejam


itu tidak membawanya lelap. Kejengkelan Rika sudah seperti dapur gunung Semeru


yang besar, bergolak dan panas, sangat panas.Siap menerjang desa-desa yang ada di sekitarnya.


Entah sudah jam berapa, ketika Rika dengan mata


terpejam dan guling dalam pelukan ketika mendengar pintu kamarnya dibuka. Dari


tadi juga gitu. Titin, Etik, ibuk, ibuknya dia, mas Halim... keluar masuk


seenaknya. Ada aja yang mereka lakukan disini. Aku heran. Kado pengantin kan bisa ditaruk tempat lain! Nggak harus disini. Laki-laki itukan juga


bisa ganti baju diluar! Sapa sih yang naruh bajunya di lemari itu. Rika menyaksikan semua itu hanya dengan telinganya. Matanya


tetap terpejam. Sekarang, Rika merasakan kasurnya bergerak. Biarin aja.


Zulfan merebahkan tubuhnya di pojok tempat tidur yang persis bersebelahan dengan dinding. Istrinya sudah


tidur memeluk guling. Zulfan mengetahui hal itu ketika dia membuka pintu kamar


pengantinnya. Selebihnya dia tidak melihat lagi. Seandainya boleh tidur di tempat lain, lebih bagus. Keluh Zulfan dalam hati. Sayang Ibu Hindun dan ibunya tidak mengijinkan hal itu. Apapun alasan Zulfan. Hmmm.. apalagi mas


Jakfar. Namanya cocok. Jakfar.... namanya galak. Wajah mas Jakfar benar-benar


galak, suaranya juga serem. Zulfan tersenyum. Tapi mereka


baik. Semuanya baik. Ibuk, bapak, Titin, Etik benar. Mereka memang baik. Istriku? Pasti baik. Zulfan tersenyum lemah ketika mengingat istrinya. Tetap aku


bersyukur, Allah memberi kebahagiaan yang banyak. Ibukku,


bapakku, adik-adikku.  Zulfan terlelap


dalam kesyukurannya.