
Esok paginya ketika Rika terbangun dari lelapnya
penat, Rika tidak lagi menemukan hamparan karpet di seluruh rumahnya; perabotan rumah sudah menempati posisi masing-masing
seperti semula. Tenda, piring juga kue dan makanan pun raib entah kemana. Tidak tersisa. Tidak berbekas. Seolah tidak terjadi
apa-apa kemarin.
Satu-satunya yang masih tersisa pagi itu adalah suami
Rika dan keluarganya, juga keponakan-keponakan Rika. Hal ini membuat Rika
semakin yakin bahwa pernikahannya kemarin adalah kenyataan, bukan mimpi. Semua
orang bercengkerama seolah mereka telah saling mengenal dengan baik sejak dulu
kala. Seolah mereka adalah bagian keluarga yang telah lama terpisah.
Meskipun semua orang memperlakukan Rika dengan
hangat, tetap tidak bisa mengusir rasa keterasingan Rika. Rika merasa sedang
berada di padang pasir. Hanya pasir di sekelilingnya. Atau juga seperti di padang rumput Afrika,yang bukan tempatnya seharusnya berada diantara makhluk-makhluk yang telah
mendiami padang rumput itu sejak nenek moyang mereka.
Hari itu berjalan seabad lamanya. Rika tidak tahu
sampai kapan dia akan menjalani keterasingan dalam hidupnya. Rika tidak tahu
bagaimana hidupnya setelah ini. Jangankan besok, nanti sorepun Rika tidak tahu
akan seperti apa. Apa membaik atau seberapa buruk, aku tidak tahu. Completely have no idea. Oh, Lord, please!
Esok pagi berikutnya, Rika masih menjalani paginya
dengan penuh keterkejutan. Jauh sebelum kehidupannya dimulai. Rika merasakan
belaian lembut dilengan kanan bagian atas, persis dibagian yang tidak tertutupi
oleh kaos oblong yang dipakainya. Rika menghentakkan tangan dengan keras
diiringi dengan dengusan sebal tak tersembunyikan.
“ Bangun. Nduk. Nanti kita telat. Kita kan mau ke
Jogya.” Rika terkejut. Ternyata bukan laki-laki itu. Rika melirik cepat kearah
belakangnya. Kemana dia? Syukur deh.” Ayo. Jam enam kita sudah berangkat, lo.”
Senyum bahagia ibunya masih belum sirna. Senyum itu dirasakan seperti racun
ular padang pasir yang yang mematikan. Menyebar dengan cepat keseluruh tubuh
Rika dan mematikan semua rasa yang dimilikinya.” Ayo.”
Rika bahkan tidak ingat kalau hari itu mereka akan
berangkat ke Jogya. Semalam sebenarnya banyak orang yang membicarakan dan
mengingatkan hal itu, bahkan jauh hari setelah Rika menyetujui prososal
pernikahan ibunya yang didukung penuh oleh bapak dan ketujuh saudara
laki-lakinya, Rika sudah pernah mendengar rencana itu. Dirinya, suaminya-
suami! Dengus Rika, juga keluarganya dan keluarga suaminya – suami! Rika
jengkel setengah mati setiap mengingat kata suami. Seperti seorang pribumi mendengar kata penjajah.
Seperti tentara yang mendengar kata intruder.
Ini bahkan belum jam empat! Ngapain si, pagi
skali! Dengan enggan Rika berjalan kearah lemari pakaiannya. Rika terdiam. Bola
matanya tidak bergerak. Astaga! Hanya itu yang mampu dipikirkan oleh Rika
ketika mengetahui lemarinya telah kosong. Tidak ada sepotong pakaianpun di sana. Rika menoleh ke ujung bawah ranjang. Tas batiknya itu sudah tidak ada
disana lagi. Tas batiknyatelah siap berangkat. Benar-benar! Segitu
banget si!
Rika memilih mandi ketika semua orang melaksanakan
sholat subuh di masjid Al Huda, masjid pesantren ketujuh saudara laki-lakinya.
Rika seolah belum pernah merasakan kesenangan seperti sekarang ini. Sendirian.
Sepi. Benar-benar sepi. Sampai-sampai Rika bisa mendengar suara air sungai.
Rika tidak menyangka menjadi sendirian benar-benar suatu kenikmatan luar biasa.
Rika menikmati mandinya seolah lupa dengan apa yang dialaminya, jangankan
kemarin, kejengkelannya pagi buta tadi musnah. Kamar mandi yang jauh karena
terletak di bagian paling belakang rumah juga tak lagi jadi masalah.
Kesenangan itu hilang ketika Rika mulai mendengar
suara-suara di halaman. Kesenangan itu benar-benar tergantikan dengan
kejengkelan sebesar Himalaya ketika Rika melihat ketujuh saudara laki-lakinya
berdiri berkerumun, lengkap dengan istri dan anak-anak mereka. Bahkan ada mas
Lukman dan mas Rohim. Ngapain mereka disini? Keduanya adalah sahabat Setyo yang
juga bekerja sebagai staf di pondok pesantren mereka.
“ Bulek Rohana dan Pak lek sama dek Etik sama dek
Titin dimobil itu. Sama ibu bapak juga.” Jakfar menunjuk ke arah mobil yang paling bagus diantara ketujuh mobil yang diparkir di halaman rumah mereka. Bagus bukan karena mobil keluaran terbaru, ketujuh
mobil itu memiliki merek sama Suzuki Carry dengan pintu yang dimodifikasi menjadi
sliding door alias pintu dorong. Dikatakan mobil terbagus karena memiliki warna
yang paling sempurna tanpa guratan dan tanpa bekas cahaya matahari alias pudar.
Rika baru menyadari kehadiran ketujuh mobil tersebut. Rika merasa hal itu benar-benar
terlalu berlebihan. Sangat berlebihan!” Pengantinnya juga disana. Yang lain,
itu sudah ditempeli namanya sendiri-sendiri. Barangnya dinaikkan, berdoa.
Nunggu yang tua dulu naik. Baru yang muda.” Keponakan-keponakan Rika berhenti
berlari ketika mendengar kalimat terakhir paman Jakfar mereka.
“ Ayo, dicari sendiri-sendiri.” Belum selesai
Herman memberi instruksi pada para keponakan dan anak-anaknya sendiri, mereka
sudah berlari gaduh mencari mobil masing-masing.” Umiknya dulu yang masuk.
Ayo.....” Herman sibuk mengatur jumlah yang tidak sedikit dan masih jauh
dibawah umur itu.
Rika benar-benar tidak habis pikir, kenapa semua keponakannya diajak. Rika memilih menyimpan ketidakhabisan pikirnya itu.
Percuma saja diomongkan. Smua orang seneng-seneng. Aku yang aja satu-satunya
orang yang gak seneng. Aku gak ngerti mereka itu senang kenapa.
Rika menolak semobil, apalagi sederet, dengan
suaminya. Rika memilih ikut mobil Setyo. Rika heran, kenapa tidak ada
seorangpun yang keberatan dengan keinginannya. Tidak ibu, tidak mertuanya,
tidak juga suaminya. Mereka benar-benar bersenang-senang atas pernikahanku! Aku
tidak tahu apa yang membuat mereka sesenang ini. Rika tidak ingin meyakini
bahwa perjalanan darat mereka ke Jogya hanya akan berisi kejengkelan, amarah,
kejengkelan dan amarah. Sayang, kenyataannya itulah yang terjadi.
Keputusan Rika memilih semobil dengan Setyo
benar-benar bukan keputusan terbaik yang pernah dibuatnya. Memang tidak ada
pilihan terbaik slain ini. Stiap keputusan ada resiko. Ini resikonya. Rika diam
sejenak ketika membuka pintu mobil bagian depan. Rika sungguh-sungguh tidak
ingin bergerak untuk selamanya. Selain Ridha, istri Setyo, dan dua anak Setyo; Daud-
3,5 tahun- dan Yahya- 2 tahun 3 bulan- Rika menemukan beberapa anak kecil lain
di dalam mobil. Kerena mereka berada di dalam mobil, Rika yakin mereka semua adalah keponakannya. Hanya saja Rika
tidak tahu nama mereka masing-masing, termasuk dua anak laki-laki Setyo. Rika
juga tidak tahu yang mana anaknya Halim atau saudara laki-lakinya yang lain.
Rika hanya menebak seorang gadis paling besar diantara yang lain pasti anak
pertama Ismail, kakak tertuanya. Rika bahkan tidak tahu kalau Ridha-
satu-satunya nama istri kakak-kakaknya yang diingatnya dengan pasti- sedang
hamil 5 minggu.
Perjalanan yang mengambil rute Malang itu,
diyakini Rika akan membutuhkan waktu setahun, setidaknya, bisa lebih. Mobil
mereka melaju dengan kecapatan normal seperti ketika sedang mengendara didalam
kota. Bahkan ketika jalanan sepi atau lebar seperti Jombang hingga Madiun,
ketujuh mobil itu tetap saja melaju dengan tenang. Mereka berkali-kali didahului
bis, motor dan kendaraan lainnya. Lebih lambat dari siput! Mereka bahkan
sengaja memberi ruang untuk mobil-mobil dibelakang mereka.
Belum lagi, ke tujuh mobil itu juga sering
berhenti. Terlalu sering. Nggak penting banget! Setiap kali melalui pemandangan
yang indah dan bisa menemukan tempat nyaman untuk parkir yang tidak mengganggu
kendaraan lain, ketujuh mobil itu berhenti, seperti dikomando. Rika heran
bagaimana mereka bisa sekompak itu. Mereka tidak terlihat sedang saling
menghubungi atau memberi tahu melalui Hp. Setidaknya begitu yang Rika tahu.
Setelah itu mereka akan turun untuk menikmati keindahan itu.
Awalnya Rika mengira hal itu hanya akan terjadi
ketika mereka sedang melewati Malang sampai Jombang. Daerah pegunungan Batu
Malang hingga Jombang memang menyajikan pemandangan indah luar biasa. Sederhana
namun memikat. Pohon-pohon yang seolah tumbuh tidak teratur, rumput-rumput
kehijauan, sawah menghampar, bukit-bukit kecil, waduk Selorejo, sungai-sungai
jernih. Pemandangan sederhana memikat hati mereka yang tentram hatinya, mereka
yang jengkel hatinya, mereka yang hidup hatinya, pun mereka yang mati
hatinya. Sebuah potret keindahan sejati, diciptakan oleh Yang Maha Sejati.
Ternyata Rika keliru. Mereka tetap saja berhenti sesuka hati setiap kali mereka
melewati tempat atau daerah yang membuat salah seorang, beberapa orang bahkan
semua orang yang duduk manis di dalam ketujuh mobil pengiring pengantin.
Kecuali satu orang tentunya: Rika.
Mereka tidak hanya berhenti untuk menikmati
pemandangan indah. Mereka berhenti untuk makan – Rika sampai heran kapan mereka
menyiapkan bekal makanan sebanyak itu. Hebatnya, makanan yang mereka bawa bukan
makanan sisa makanan jamuan tamu kemarin. Mereka berhenti untuk ke kamar mandi.
Mereka berhenti tiap waktu sholat – bahkan beberapa menit sebelum adzan, mobil-mobil
mereka terpakir rapi –. Rika heran, bagaimana mereka selalu bisa menemukan
masjid yang memiliki halaman parkir yang cukup luas untuk memarkir ketujuh
mobil mereka, atau menemukan masjid yang tidak banyak dilalui kendaraan roda
empat, sehingga mereka bisa makan, istirahat, ke kamar mandi, sholat bahkan
mandi dengan nyaman, aman dan tentram. Tidak jarang masjid-masjid itu terletak
bukan di tepi jalan raya yang sedang mereka lalui.
Kejengkelan Rika tidak pernah berhenti atau
sekedar berkurang. Ketika mereka baru melaju beberapa saat setelah menikmati pecel
Madiun yang terkenal lezat – sampai-sampai Ridha istri Setyo membeli beberapa
tempe goreng untuk dijadikan camilan sepanjang perjalanan, saat itulah Rika baru
mengetahui bahwa kakak iparnya tersebut sedang hamil 5 minggu. Rika sampai
berfikir, mungkin istri-istri mas masku yang lain juga lagi hamil. Aku aja yang
gak tahu – Setyo memberitahu istrinya dan Rika kalau perutnya tiba-tiba sakit.
“ Kebanyakan pecel mungkin, mas.” Rika heran
mendengar Ridha berkata dengan suara begitu tenang dan penuh pengertian.”
Saking enaknya sampai kita lupa berhenti sebelum kenyang.”
Setyo tertawa kecil, kemudian beristighfar.”
Tempenya juga mesti dihati-hati. Umik jangan makan banyak-banyak juga.” Sempat-sempatnya
nggoda istrinya! Rika menghela nafas.” Aku telfon Lukman dulu.” Ternyata untuk
itu mas Lukman sama mas Rohim diajak. Rika mengangkat alisnya sambil melihat
spion di depannya. Gadis paling besar itu sedang
memandangnya sambil tersenyum ramah. Ramah sekali. Rika sampai bingung,
kemudian berusaha membuat senyum sebaik mungkin. Kalo bukan anak kecil aku
nggak bakalan senyumin.” Hmmm.... Lukman sama Rohim masih nggantikan nyupir.
Suami sampeyan bisa nyetir...” Rika mengangkat bahu dengan wajah tak mau tahu
dan jengkel luar biasa. Sapa yang lebih tau!.” Cobak sampeyan telfonen.” Rika
melirik mas Setyonya dengan sebal luar biasa. Diterimanya hp yang diulurkan
Setyo. Tinggal pencet aja, lho, kok susah. Rika hanya melihat sekilas
nomer-nomer yang tertera dilayar. Rika tidak mau mengingat walau satu angkapun.
Begitu terdengar nada sambung, Rika menyerahkan kembali hp itu ke Setyo.
Tidak lama kemudian, semua mobil berhenti disebuah
sisi jalan yang luas. Rika mendengus. Gadis keponakannya yang tadi tersenyum
padanya sedang asyik bergurau, meskipun begitu keponakan Rika yang satu itu
masih sempat memperhatikan dan tersenyum pada Rika. Setyo turun ketika melihat
Zulfan mendekat. Mereka berbicara sebentar. Here we go. Just like hell. Rika
jadi ingat dengan sebuah judul yang pernah dilihatnya selintas disebuah koran:
Drag Me to Hel. Bodoh kalo film serem ngira neraka itu cuman tentang hantu dan
sebagainya. Yang kayak gini juga neraka namanya! Welcome. Semua anak-anak kecil yang duduk di bangku belakang supir berteriak gaduh. Seperti fans ketemu artisnya aja.
Rika teringat David, vokalis grup band The Continent yang terkenal. Rika
tertawa kecil. Seperti ini mungkin kehebohan yang sering dihadapi David. Yeah.
Ever see it couple times.
Zulfan sempat melihat senyum kecil itu. Zulfan cukup yakin senyum itu bukan
untuk dirinya atau para keponakannya. Tiba-tiba Zulfan merasakan lehernya
dicekik.
“ Mas Daud. Mas Daud. Jangan nak. Kasihan ami Zulfan, Nak.” Ridha mencoba melepaskan pelukan leher Daud, anak laki-laki
pertamanya. Telinga Rika merinding mendengar kata ami. Biasa aja knapa! Ami!
“ Mas, jangan, mas.” Setyo yang tadinya berbaring dipaha istrinya ikut
membantu istrinya melepaskan pelukan lehernya.
“ Aku mo ma mi Fan!” suaranya masih cedal.
“ Ndak pa-pa, mas. Ndak pa-pa, mbak. Sini biar
saya pangku.” Zulfan berhasil melepaskan pelukan leher Daud. Zulfan mengurangi
kecepatannya. Benar-benar deh. Sepuluh tahun lagi kita baru nyampe. Dengan
dibantu Setyo, Daud mendapatkan keinginannya. Duduk dalam pangkuan Zulfan.
Zulfan memilih untuk tetap bersikap baik seperti biasanya pada keponakan yang
sedang dipangkunya itu meski dia menyadari istrinya mengalihkan pandangan sejak
Zulfan menawarkan kebaikan pada orang tua Daud.
Rika semakin merasa di tepi hutan Amazon. Seorang diri. Hanya ditemani suara air dan pepohonan
hijau. Berharap mudah-mudahan tidak ada buaya yang tiba-tiba keluar dan
mendekat dari dalam air.
Perjalanan yang dimulai sejak jam 7 pagi tadi baru
berakhir hampir jam satu malam. Rika benar-benar tidak percaya. Sekalian aja
besok jam tujuh nyampe. Harusnya nyampe Jakarta sudah. Semua orang turun dengan
suara gaduh. Rika tidak bisa membayangkan seandainya mereka tidak berhenti
disebuah rumah yang tidak memiliki tetangga persis di kiri kanan dan di depan rumah. Empat mobil diparkir rapi di
halaman kosong depan rumah. Rika heran knapa anak-anak kecil
itu tidak kehabisan tenaganya. Mereka ikut memberi komando dengan penuh
semangat ketika mobil-mobil itu hendak diparkir. Ngapain juga kita nunggu mobil
diparkir. Masuk kan lebih baik. Rika melirik ke arah ibu dan ibu mertunya yang
tampak sama seperti para keponakannya: tidak kehabisan tenaga setelah
perjalanan yang begitu panjang dan melelahkan. Beda sekali sama malam itu.
Benar-benar kayak drama. Can’t believe it, it’s real. Itu yang dirasakan Rika.
Dua mobil diparkir di sebelah kanan. Sebuah mobil di parkir di sebelah kiri. Knapa nggak diparkir di dalam aja! Kan ada garasinya!
Setelah semua mobil diparkir, barulah Zulfan
membuka gembok pagarnya. Rika bertambah ketidak simpatiannya ketika melihat
Zulfan tidak hanya menggendong Daud saja. Sekarang di punggung belakangnya juga bergelayutan seorang anak kecil. Rika tidak tahu
kalau anak kecil yang sedang bergelayutan dipunggung Zulfan itu adalah
keponakannya yang bernama Abdurrahman, putra keempat Heru yang masih berusia 2,5
tahun.
Rika tidak tahu kalau garasi sedang berubah fungsi
menjadi losmen untuk Rohim dan Lukman dan beberapa saudara laki-lakinya yang
lain. Namun, Rika bisa menebak bahwa rumah yang dimasukinya itu adalah rumahnya
yang baru. Tapi, Rika tidak tahu bahwa rumah itu adalah salah satu mahar atau
mas kawin yang diberikan Zulfan untuknya. Rumah itu juga sudah bersertifikat
atas nama Rika. Apalagi hal ini, Rika membutuhkan waktu lama untuk mengetahuinya.
Rika benar-benar berharap kejadian seperti kemarin
pagi, ketika semua orang sholat di masjid, terjadi lagi.
Alangkah bahagianya jika hal itu terjadi lagi. Sebentar saja. Di mobil sama
mereka, di kamar sama mereka. Melelahkan. Rika tidak menyadari bahwa dirinya
mempunyai kebiasaan baru: mendengus. Rika tidur di tempat tidur bersama Titin dan Etik. Kayak kasurnya muat banyak orang aja!
Keluh Rika. Kasur itu kecil, harusnya cukup dua orang saja. Terpaksa akhirnya
Rika dan Etik harus tidur dengan posisi miring. Hanya Titin yang bisa tidur
dengan posisi menengadah. Sementara itu, di lantai kamar, di sisi kiri dan kanan tempat tidur, Zulfan
berbaring lelap bersama para keponakannya. Para wanita lainnya menikmati tidur
mereka di kamar sebelah dengan beralas karpet tebal empuk yang
dipersiapkan Zulfan, Halim dan Iskandar ketika mereka berangkat ke Jogya untuk
mempersiapkan rumah baru itu dua minggu sebelum proses pernikahan berlangsung.
Zulfan dengan bijaksana memilih sisi kanan daripada sisi kiri yang sangat
memungkinkan dirinya dilihat atau melihat Rika, istri barunya. Terlebih lagi
dengan posisi dikeroyok beberapa keponakannya yang masih kecil-kecil dan lucu
menggemaskan.
Dalam tidurnya Rika berharap besok pagi, menjelang
subuh, dirinya akan menemukan sepi, hening, kedamaian yang diinginkannya. Rika
yakin semua orang memilih untuk langsung tidur begitu menempati kamar
masing-masing, termasuk anak-anak kecil me.... me.... menggaduhkan. Rika merasa
tidak enak jika menggunakan kata menyebalkan. Bagaimanapun kan mereka keponakanku. Rika yakin mereka baru saja lelap tidak lebih 3
jam, tapi kehidupan sudah dimulai. Terdengar suara-suara berebut kamar mandi,
suara-suara menasehati, suara-suara saling menggoda, suara-suara yang mengajak-
bukan mengajak! Menyuruh! – Rika bangun untuk melaksanakan sholat jama’ah di masjid. Rika menggelengkan kepalanya dengan sebal. Sejak hari pernikahannya
Rika tidak lagi bisa bangun sesuka hati, tidak bisa lagi melewatkan subuh tepat
waktu. Pupus sudah harapannya untuk menikmati kedamaian pagi ini.
Rika memilih bangun dan berjalan dengan malas
menuju kamar mandi bukan karena takut atau khawatir atau menjaga imej dirinya
dihadapan Etik, Titin atau keluarga suaminya, Rika hanya merasa tidak ingin
menimbulkan masalah. Tidak lebih. Bukan masalah buat aku, tapi masalah ibuku.
Mungkin juga mas-masku yang bakal malu sama mertuanya. Parahnya lagi, bisa-bisa
mereka ngomeli aku. Cukup sudah aku dirugikan seperti kejadian waktu ibuk ke
Jogya.
Kamar mandi yang terletak diantara kamar yang di tempati
Rika tidur dan kamar yang di tempati oleh para wanita lainnya telah penuh sesak
dengan keponakan-keponakannya yang mengantri – bukan mengantri! Berebut! Mandi
dan berwudhu. Anak-anak itu memperhatikan Rika sejenak, kemudian mereka sibuk
dengan aktifitas mereka semula.
“ Anak perempuan jangan lama-lama di kamar mandi!” Aisyah, putri keempat
Jakfar dari tujuh bersaudara yang masih berusia 6 tahun memiliki wajah tirus
dan tubuh kurus kecil, yang baru keluar dari kamar mandi dengan kakak
perempuannya, Asiah – 7 tahun yang memiliki tubuh lebih besar namun memiliki tinggi
sama- membuat Rika tersenyum geli. Rambut keduanya yang panjang sebahu masih
basah sebagian. Mereka tersenyum kaget ketika menemukan Rika sedang berdiri
mengantri menunggu giliran wudhu. Mereka berlari sambil tertawa malu seolah mereka
baru saja ketahuan melakukan perbuatan atau perkataan yang tidak terpuji.
“ Hawa, jangan begitu.” Ibrahim, anak pertama
Ismail yang hanya menggunakan celana cargo abu-abu semata kaki dan kaos dalam
putih yang memperlihatkan dadanya yang kerempeng tapi lebar berwarna kecoklatan,
menghindari cipratan adik sepupunya Hawa, putri ke enam Halim yang masih
berusia 3 tahun, memiliki mata coklat terang dan pipi bulat merekah.” Sudah,
ayok. Ke ummi dulu. Ayyub, tolong bawa Hawa ke kamar.” Ayub – putra pertama Herman yang masih berusia 7 tahun dengan
dagunya yang berbukit mempesona- menarik tangan Hawa dengan cepat.” Jangan
keras-keras, Ayyub.” Rika tersentak bukan hanya karena mendengar intonasi
Ibrahim yang bijaksana kebapakan, Rika juga tersentak karena mendengar
nama-nama keponakannya yang baru sekarang didengarnya dengan sangat jelas;
jelas namanya, jelas anaknya, jelas suaranya. Jangan-jangan ada Nuh, Hud.... “
Sebentar ya, Ama, anak perempuan kecilnya dulu ya.”
What! Ingin rasanya Rika tertawa sekeras-kerasnya. Ama. Menggelikan. Sok
bijaksana lagi. Masih kecil sudah sok.
Tiba-tiba pintu kamar mandi sebelah terbuka,
seorang anak kecil laki-laki berkepala gundul yang hanya mengenakan celana
dalam keluar dengan tubuh basah berteriak dan berlindung dipaha belakang Rika.
Rika yang sedang bersandar, menikmati adegan demi adegan. Ibrahim sontak
terkejut. Anak kecil itu memeluk erat paha Rika. Rika benar-benar
geli dibuatnya.
“ Sa’ad, Yahya, Dzulkifli! Jangan guyon aja! Nanti
kita terlambat jama’ahnya!” Ibrahim bergegas keluar dari kamar mandi. Dia
menarik tangan Sa’ad dengan tegas, tapi tidak kasar. Hal ini membuat Rika
semakin menggelengkan kepala. Kasian, anak kecil sudah disuruh bersikap dewasa
seperti itu.” Adam, tolong panggilkan mas Abdullah. Disuruh mandikan Hafsah
sama Zainab.”
“ Kok disuruh!” Seorang anak laki-laki dengan rambut hitam legam bernama Luth – putra ke
kelima Halim- dengan bibir tebal tapi mungil, sangat mungil, memprotes saudara
tertuanya.
“ Mintak tolong.” Adam dan Luth segera berlari
mendatangi saudaranya yang masih asyik tidur di kamar Rika. Rika bahkan tidak tahu hal itu.
“ Sa’ad, ayo masuk. Mandi! Malu diliat Ama ndak pake baju.”
Sa’ad memberikan perlawanan kecil. Ibrahim segera menutup pintu.
Tetap aja suaranya kedengaran. Pintu kamar mandi
pojok memang sudah ditutup, tapi tidak dengan pintu di hadapan Rika, terbuka lebar sehingga Rika bisa melihat dua keponakan
kecilnya, Zainab – 3 tahun- dan Hafsah – 2,5 tahun, asyik mengambil air dengan
gayung, kemudian mereka asyik menyiramkan air itu ke tubuh masing-masing, saling
menyiramkan ke saudaranya yang lain, juga saling berebut minta disiramkan diantara keduanya. Dengan baju masih lengkap, belum dilepas, Rika memilih melihat saja. Begitu juga ketika kedua keponakannya itu
berebut sabun dengan gembira,Rika hanya melihat. Rika menoleh ketika
pintu kamar mandi sebelah terbuka.
“ Kalo sudah handuknya bawak kesini.” Ketiga
saudara Ibrahim yang selesai dimandikan Ibrahim, termasuk Dzulkifli – putra ke
dua Herman yang sudah berusia 6 tahun berkepala gundul seperti Sa’ad, hanya
saja rambut kecil-kecil mulai tumbuh rata di kepalanya- lari meninggalkan Ibrahim sambil tertawa. Selintas Rika melihat
semacam bekas luka di pelipis kiri Dzulkifli. Rika tidak tahu
apa itu. Ibrahim memperhatikan sekitarnya dengan cermat.” Ama ke kamar mandi
dulu wes. Tinggal Adam sama Luth.” Rika menunjuk ke arah kamar mandi di hadapannya. Ibrahim beristighfar. Rupanya
Ibrahim tidak mendengar suara gembira kedua saudara perempuannya yang asyik
berebut sabun.” Hafsah, sabunnya habis kalok dimasukkan air gitu. Mubazir.
Dosa. Lepas dulu bajunya!” Ibrahim membantu Zainab melepas pakaiannya.” Mana
mas Abdullah?”
“ Tidur! Nantik katanya kalok sudah selese smua
baru mandi.” Adam dan Luth menjawab bersamaan, sekaligus melepas pakaian
mereka. Kejadiannya begitu cepat. Tiba-tiba pintu kamar mandi ditutup, tidak
terlalu keras, kemudian terdengar bunyi ‘klek’dan gaduh seperti biasa.
Rika tidak habis pikir melihat tingkah
keponakan-keponakannya itu. Ibrahim yang baru selesai membuka baju kedua saudara
perempuannya memilih untuk meninggalkan mereka sejenak dan mengetuk pintu kamar
mandi sebelahnya.
“ Adam, Luth. Jangan main-main! Buka kamar mandinya! Nddak usah dikunci!”
“ Nddak. Nddak main-main!” Adam yang berkepala mungil berteriak kegirangan.
“ Malu, ada Ama!”
“ Buka! Nanti mas Ibrahim terlambat sholat. Ayo cepat!”
“ Mas Abdullah masih tidur!”
“ Ndak pa-pa. Tapi ndak boleh ditiru! Buka
pintunya. Hafsah! Siram airnya. Siram air! Kebadannya! Jangan ke Zainab!” Rika
tetap memilih diam ketika Ibrahim silih berganti menggosok keempat saudaranya
yang berada di dua kamar mandi yang berbeda. Rika juga
diam saja ketika Ibrahim lari mencari handuk untuk keempat saudaranya. Ibrahim
memasangkan handuk ke tubuh kedua saudara laki-lakinya setelah
itu dia menyuruh keduanya bergegas ke kamar masing-masing.
Setelah itu, barulah Ibrahim membalutkan dua handuk lainnya ke Zainab dan
Hafsah. Air menetes dari rambut pendek kedua gadis kecil itu. Digendongnya Hafsah,
sementara tangan kanannya menggandeng Zainab.
Rika mengira Ibrahim pasti sudah umur 13 atau 14,
sudah SMP. Badannya memang paling besar diantara yang lain. Sapa namanya ya?
Anaknya mas Herman? Mas Halim? Mas Iskandar? Atau mas Ismail? Mereka menikah
sudah lama sekali, tapi kenapa anaknya masih kecil-kecil? Terdengar pintu kamar
mandi sebelah yang dilengkapi dengan toilet ditutup dengan buru-buru.
“ Masss Brahim buka! Massssssssssssssssssss Brahim!”
“ Gosok gigi dulu di kran depan, Abdullah!! Yang telat bangun ya trakhir.” Terdengar suara
gayung bernyanyi bersama air.
Ketika Rika keluar, rumah sudah sepi. Rika
bersyukur akhirnya semua orang pergi. Semua anak kecil juga. Rika membuka pintu
kamarnya dengan lega. Sesaat. Diatas tempat tidurnya terlihat Hafsah dan Zainab
sedang meloncat-loncat gembira meskipun mukena sudah terpasang rapi –
setidaknya diawal tadi, sementara seorang anak laki-laki berdiri dan menangkap
mereka dengan sigap jika salah seorang diantara kedua gadis kecil itu jatuh
terlalu dekat dengan tepi tempat tidur. Rika melongo. Astaga! Anak laki-laki
itu menoleh.
“ Saya disuruh nunggu Ama.” Ama? Ama siapa? Saya? Rika tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Suaranya
juga besar.” Masjidnya di depan, masih sepi. “Hafsah!” Anak itu menangkap Hafsah dengan sigap. Yang ini malah lebih besar
dari anak yang tadi, yang mungkin namanya Ibrahim. Rika mengangguk-angguk. Rika
memilih meletakkan handuknya di hanger, kemudian menggantungnya di tepi jendela. Malas mau kembali ke kamar mandi dan naruh
ini. Namanya juga bukan rumahku.” Hafsah!”
“ Ambil mukena dulu.” Meski risih rasanya tidak
mengganti pakaian tidurnya dengan baju lain, Rika merasa tidak membiarkan
ketiga anak kecil itu menunggu lebih lama adalah keputusan terbaik yang harus
dilakukan.” Ayo.” Anak laki-laki itu menangkap dan menggendong Hafsah. Setelah
itu dibantunya Zainab turun dari tempat tidur. Hafsah meronta-ronta hebat dalam
pelukannya.
“Gendong Ama! Gendong Ama!” Rika kaget luar biasa mendengarnya. Ngapain juga mau gendong aku? Nggak
cadel seperti Daud, padahal sama kecilnya. Hafsah berhasil lolos dari pelukan Abdullah –
anak pertama Jakfar yang baru berusia 9 tahun.
Hafsah berlari mendekat dan langsung memeluk paha Rika, persis seperti yang
dilakukan Sa’ad tadi. Hafsah menggoyang-goyang kaki Rika sambil menciumi paha
Rika. Sontak Rika tertawa kegelian. Dengan terpaksa digendongnya Hafsah. Anak
itu langsung mencengkram leher Rika kemudian menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Rika kewalahan. Tubuhnya emang kecil. Gerakannya luar biasa.
“ Ayo!” Abdullah terdengar jengkel.” Ayo, Ama. Sudah adzan. Gendong mas Abdullah aja, Zainab.” Meskipun jengkel
Abdullah meraih Zainab yang sibuk memandang Hafsah dengan lembut.
“ Gendong Ama, gendong Ama.” Hafsah terus
bergerak dalam gendongan Rika. Ampun deh.
Abdullah tidak memberi kesempatan Rika untuk
mengunci pintu rumah dan pintu pagar. Abdullah terlalu sigap. Kecil-kecil sudah
sok melindungi.
Mereka sampai di mushollah yang terletak di bagian paling ujung, dekat dengan pos satpam di pintu masuk tepat ketika
adzan terakhir dikumandangkan. Rika tidak tahu bagaimana mereka
bisa tahu kalau mushollah perumahan itu terletak di bagian depan perumahan.
Rika juga tidak tahu kenapa Rika tidak menemukan, tidak mendengar suara-suara
gaduh seperti yang barusan didengarnya ketika mengantri wudhu, ketika di mobil,
ketika makan. Tidak ada. Keponakan-keponakannya duduk rapi diantara shof
laki-laki dewasa dan shof wanita dewasa. Hafsah langsung melompat begitu mereka
sampai di teras masjid. Jantung Rika benar-benar copot. Abdullah lebih sigap daripada
Rika. Diturunkannya Zainab sebelum Zainab sempat meloncat seperti Hafsah. Rika
mengambil sandal Hafsah dan Zainab yang di lepas begitu saja oleh mereka. Rika
melihat sandal-sandal berjajar rapi di teras masjid. Rapi
banget sih. Bukan pujian. Sinis dan tidak percaya bahwa hal itu adalah
kebenaran. Mungkin hanya kebetulan.
Rika memilih shof paling belakang. Tidak ada yang
menoleh ketika dia datang. Rika heran bagian dalam mushollah kecil itu ternyata
cukup untuk keluarga besarnya. Bayangkan aja berapa orang. Masku aja tujuh,
anaknya... Angaplah anaknya masing-masing 5 atau enam. 6 x 7 = 42. Istrinya
tujuh. Belum selesai Rika menghitung qomat sudah dikumandangkan. Tiba-tiba
beberapa orang yang duduk di hadapan Rika pindah posisi ke sebelah Rika. Enakan juga sendirian. Para ipar Rika tersenyum ramah. Rika
hanya mengangguk.Segan lah kalau
gak ngangguk.
Rika terkejut ketika mendengar suara Ismail yang
tentu saja dikenalnya dengan baik. Knapa bukan orang sini yang jadi imamnya?
Rika tidak tahu kalau Ismail dan saudara-saudara laki-lakinya beserta suami dan
bapak Rika dan bapak mertuanya sudah berada di mushollah itu sejak satu jam yang lalu. Mereka bertemu dengan pak Anam,
takmir sekaligus muadzin, penjaga sekaligus yang bertugas membersihkan musholla
setiap harinya. Mereka berbincang dengan hangatnya. Rika tidak tahu bagian itu.
Rika tidak pernah menyukai sholat berjamaah dengan
mas-masnya. Bukannya tanpa alasan. Rika tidak suka dengan bacaan-bacaan panjang
yang selalu dipilih dan dibacakan dengan sangat baik oleh mas-masnya. Sejak
Rika kecil, Rika selalu cemberut setiap kali diminta untuk menemani sholat
berjamaah dengan saudara-saudara laki-lakinya itu. Kecuali Setyo. Setyo tidak pernah membaca bacaan yang terlalu panjang apalagi panjang. Seenggak-enggaknya
sampai mas Setyo belum kuliah. Sebelum ketularan mas Mail sama yang lain-lain.
Rika sholat dengan lesu.
Berbeda dengan Zulfan, suami Rika, Zulfan sholat
dengan hati bergetar penuh kedamaian sejak iqomat dikumandangkan
Jakfar. Bahkan jauh sebelum pagi ini, Zulfan selalu menikmati dan kagum setiap
kali sholat berjamaah dengan para ipar-iparnya. Zulfan paling kagum dengan
suara Jakfar yang besar dan dalam. Benar-benar menggetarkan hatinya. Membuat
Zulfan begitu menikmati sholatnya. Sebuah pengalaman baru. Sampai-sampai
Zulfan membenarkan bahwa bacaan imam memang benar-benar sangat berpengaruh
dalam kekhusyukan seseorang. Zulfan begitu kagum dengan bacaan saudara-saudara
iparnya yang begitu sempurna dan penuh kekuatan. Biarpun suara mas Iskandar dan mas Heru kecil dan cempreng, tetap saja kuat. Bacaan patah-patah mas Herman juga kuat. Kapan aku bisa seperti itu?
Ya, Allah, enak sekali sholat ini.
Begitu selesai sholat, keponakan-keponakan Rika
mulai membuat hiruk pikuk. Sebagian anak ada yang mengikuti kebiasaaan setelah
sholat yang diajarkan orang tua mereka masing-masing: dzikir. Sebagian yang lain asyik bergerak ke kiri ke kanan sambil berbisik. Akhirnya sebagian
anak yang berdzikir ikut bersuara. Maksud awal mereka
sebenarnya baik, mengingatkan saudara mereka. Namun akhirnya mereka menjadi
bagian kehirukpikukan itu.
Zulfan tersenyum mendengar keramaian itu. Ibu
benar, kebaikan melahirkan kebaikan. Ada anak kecil itu menyenangkan. Punya
keluarga besar juga. Belajar banyak dari mas Mail, mas Halim, semuanya. Aku
lebih baik. Berbeda dengan Zulfan, Rika merasa semua... Jangan muak. Terlalu
kasar. Jengkel. Jangan kayak nggak marah sekali. Ya. Itu dia. Marah. Aku merasa
marah sekali. Marah sama semuanya. Marah karena pernikahanku. Marah karena
keramaian mereka. Marah karena kebebasanku terkekang. Kayak gini mana bisa
langsung pulang. Rika tidak mau menghadapi ketujuh saudara laki-lakinya. Males.
Bukannya takut.
Rika baru saja selesai melipat mukena bawahan dan sajadahnya ketika lehernya tercekik keras
hingga kepala Rika terbawa kebelakang. Belum selesai Rika mengenali dan
mengendalikan keadaan, tiba-tiba sesuatu yang berat membentur perut dan
pahanya. Rika hampir terhempas ke lantai bersama si pencekik
leher Rika jika Rika tidak menahannya dengan kedua siku.
“ Masya Allah, mbak Hafsah,
mas Sa’ad!.” Yuliatin, istri Jakfar, yang berasal dari
Ponorogo yang duduk di sebelah Rika tersenyum penuh simpati.
Ditariknya Hafsah dari pangkuan Rika.
“ Mas, sini, mas. Mas Sa’ad!” Lediawati, istri
Ismail, yang memiliki mata agak sipit dan kulit putih khas orang Bengkulu yang
juga berada di sekitar Rika segera membantu Rika
melepaskan cekikan Sa’ad.
“ Hayo!” Ibu Rika menangkap Zainab yang sedang
berlari mendekat untuk menyemarakkan pesta itu. Rika bersyukur ibunya segera
menangkap cucu kecilnya itu. Rika pusing jika berada di dekat anak kecil lincah dan aktif seperti semua keponakannya. Karena itu,Rika tidak mau mengenal keponakannya. Selain itu Rika memang jarang pulang
ke rumah. Sangat jarang.
Nafsu makan Rika hilang ketika melihat para
keponakannya yang makan dengan cara menjijikkan. Semua keponakannya makan
sendiri. Knapa gak disuapi kayak di perjalanan aja. Mereka
makan dengan menggunakan tangan. Makanan mereka bertebaran kemana-mana. Menetes
tidak hanya dimulut mereka. Mereka juga mengambil makanan yang sudah jatuh ke karpet.
Mereka mengambil makanan dalam piring-piring hidangan dengan tangan kanan
mereka yang kotor. Sewaktu memasak di dapur kecil yang
ditata dengan apik – yang tidak diapresiasi sedikitpun oleh Rika – Rika sudah enggan
menyantap masakan yang dimasak ipar-iparnya yang
diasisteni beberapa keponakannya. Tangan-tangan mereka tidak dibersihkan
sebelum memasak – begitu keyakinan Rika. Irisan-irisan yang jatuh ke lantai, irisan-irisan
yang digunakan untuk mainan sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam panci. Rika benar-benar ngeri. Rika tidak hanya ngeri, tapi juga
gerah melihat para iparnya tetap memakai kerudung besar mereka lengkap dengan
kaos kaki coklat, padahal kan mereka sedang berada di rumah! Semuanya berjilbab! Kecuali aku, ibu, dan
ibunya. Ahh! Cuman masalah waktu aja sampai akhirnya mereka memasangkan
penutup kepala itu di kepalaku. Tak sengaja Rika menemukan sebuah wajah yang tak ingin dikenalinya. Rika
menggelengkan kepala sambil mendengus pelan.
Zulfan makan dengan lahap di salah satu sudut lingkaran. Begitu juga Lukman dan Rohim yang duduk di sebelahnya. Mas-mas Rika. Para keponakannya. Ibu bapak. Mertua
Rika. Zulfan selalu menikmati saat makan bersama, dengan keluarganya sendiri
dan juga seperti sekarang, melahap masakan lezat dengan keluarga besar barunya.
Menambah kenikmatan luar biasa. Kebaikan hanya melahirkan kebaikan. Kalimat
ibunya terngiang berkali-kali di telinga Zulfan. Zulfan membantu Abdurrahman yang memiliki hidung sempurna dan alis hitam
pendek. Zulfan mengambilkan daging ikan bandeng presto untuk Abdurrahman yang
duduk di depannya.
Di sebelah Zulfan,
Rohim, Lukman dan para lelaki lainnya juga sibuk membantu anak-anak kecil mengambilkan
ini itu. Zulfan belum pernah makan bandeng presto. Ini adalah kali pertama
Zulfan menikmati bandeng presto. Zulfan menambah nasinya sampai tiga kali.
Banyak yang lainnya juga melakukan hal yang sama. Tidak lupa mereka menambahkan
sambal segar dengan irisan jeruk kuwik.
“ Mik, Ishaq sama Ya’qub ngambil sambalnya banyak!”
Khodijah, gadis yang memperhatikan Rika dalam perjalanan kemarin, terlihat
khawatir. Sementara Abdullah, saudara tertuanya malah tertawa melihat kedua
adiknya mulai kepedasan.” Mas, Abdullah ini!”
“ Mas, tolong ambilkan air adiknya, mas. “ Yuliatin, ibu mereka memerintah
putra sulungnya dengan lembut dan tegas. Dengan wajah cemberut Abdullah
mengambilkan air untuk adiknya.
perempuan Rika lainnya, Zainab, Hafsah dan Asma - putri ke lima Herman yang
baru berusia 3 tahun, sama dengan Zainab. Mereka bertiga yang duduknya
bersebelahan saling menoleh ke satu sama lain. Mereka
tertawa. Seolah tanpa dikomando mereka bergerak menuju cobek yang ada di hadapan mereka. Dengan sigap Ibrahim menegur ketiganya dan meminta tolong
sepupunya Isa, putra pertama Heru, yang sudah berusia 7,5 tahun untuk
memindahkan cobek di hadapan ketiga sepupu perempuannya dan
juga satu cobek yang dianggap dekat dengan ketiganya. Di sudut lain, Rika berusaha memindahkan keheranannya jauh-jauh dari
pikirannya. Rika lelah dengan semua kejengkelan, amarah dan keheranan atas
semua peristiwa yang disaksikannya sejak kepulangannya ke Pasuruan hingga pagi
itu. Rika heran kenapa ibu mereka atau bapak mereka membiarkan saja Ibrahim
yang menyelesaikan semua masalah. Kenapa mereka tidak menyuapi anak-anak mereka. Kenapa mereka membiarkan anak-anak mereka duduk
lebih dekat pada para laki-laki. Knapa tidak duduk dekat di hadapan ibu mereka.
Rika benar-benar tidak tahu kekuatan energi seorang
anak kecil. Para keponakannya tidak berhenti bergerak dan bersuara. Ketika
mereka membereskan peralatan makan dan sisa makanan sarapan pagi itu, semua
keponakannya berebut ingin membantu, bahkan Abdullah juga sibuk mencuci piring.
Tampak Abdullah sedang berebut dengan Asiah dan Khodijah, adik kandungnya.
Daud dan saudara kandungnya Yahya beserta saudara
sepupunya yang lain sibuk membantu ayah dan paman-paman mereka yang sedang
membersihkan dan menggulung karpet yang dipakai alas mereka makan tadi di sebuah ruangan kosong di dekat dapur- menurut Rika
seharusnya di ruangan itu diberi kursi dan meja, bukan
karpet seperti itu. Selesai menggulung mereka berlomba mencari sapu. Dua sapu
berhasil mereka temukan. Setelah itu, mereka menyapu dengan cepat. Satu sapu
dipegang empat tangan. Knapa mereka tidak bekerja sambil diam saja.Rika menahan diri untuk tidak mendengus.
“ Hei, hei, yang ini masih ada...”
“ Sini
sapunya, biar mbak Sarah saja yang nyapu!” Sarah yang sudah berusia 10 tahun
itu masih menampakkan wajah kekanakan. Badannya tinggi menjulang untuk anak
seusianya. Harusnya dia bisa lebih dewasa dari itu, pikir Rika. Anak-anak sini-Jogja-sebesar itu bersikap dan berpakaian lebih dewasa, setidaknya begitulah yang Rika tau. Rika mengira keponakannya, putri kedua
Ismail itu, tentunya sudah SMP. Rika salah besar. Lha yang ngliatin aku di mobil itu? Sama SMP-nya? Yang mana yang lebih tua? Yang mana anak perempuan
paling tuanya mas Mail?
“ Iya, biar mbak Sarah aja!” Gadis yang membelanya
itu mengingatkan Rika pada suaminya: pendek, bulat, gemuk. Bedanya Hajar, adik
Sarah, yang berusia 9 tahun itu berkulit kecoklatan. Kecoklatan memang
merupakan warna dasar keluarga Rika.
Perkataan dua saudara sepupu perempuan itu tidak
dihiraukan oleh Luth, Ishaq, Daud dan Ya’qub. Mereka terus menyapu dengan keras
diiringi dengan tawa bahagia. Ketika seseorang berkulit coklat gelap dengan
kepala bulat yang dihiasai rambut-rambut kecil berdiri yang baru tumbuh berdiri
dihadapan Daud dan Ya’qub, mereka tersenyum pada anak itu dan langsung berlari
meninggalkan sapu mereka sambil tertawa. Rika heran, kenapa mereka selalu
tertawa. Nggak bisakah semua hal tidak ditertawakan! Anak laki-laki itu menangkap
sapu Daud dan Ya’qub dengan sigap. Dia menyerahkannya
pada Sarah dan Hajar. Keduanya tertawa bahagia menerima sapu itu.
“ Makasih ya, Muh.” Kedua saudara perempuannya bergantian menyapu ruangan
yang tidak besar itu.
“ Mas Muh! Aku juga!” Aisyah mengangkat tangan kanannya sambil
melompat-lompat.
“ Jangan, Muh!” Abdullah memandang galak ke Aisyah adiknya.” Masih kecil,
ndak bersih! Mbak As saja!”
“ Mbak As lho masih bantu umik!”
“Aku aja wes! Sini Luth!” Luth dan Ishaq
memberikan perlawanan sengit kepada intruder mereka, Nuh kakak kedua Luth, yang
berbadan kurus dan tinggi dengan rambut kemerahan, pertanda betap seringnyaa
Nuh mengunjungi matahari.” Anak kecil main aja!”
Mereka terus berebut. Rika terus keheranan. Gimana
nggak heran, masak mereka malah disuruh nyapu satu rumah! Gantian, nggak usah
rebutan! Gitu doang pesannya. Pecah kepalaku kalo gini terus.
Syukurlah kepala Rika tidak pecah, dan itu tidak
mungkin. Selama empat hari kebersamaan, Rika memang masih tidak terbiasa dengan suara-suara ribut, gaduh dan
keajaiban para keponakannya yang tiba-tiba bisa menghilang dan datang di hadapannya begitu saja. Selama empat hari itu benar-benar penuh
kebersamaan. Mereka bersama-sama di rumah, di kamar, di kamar mandi – ya, sering kali Rika
terpaksa mengijinkan satu, dua orang bahkan beberapa keponakannya masuk kamar
mandi dengannya. Alhasil Rika harus memandikan mereka jika tidak ingin
terlambat datang ke musholla- bersama di musholla ditempat makan, di dapur,diteras. Mereka benar-benar di rumah saja selama
empat hari. Tidak kemana-mana. Semua orang tampaknya tidak bermasalah dengan
hal itu. Mereka terlihat betah dan baik-baik saja. Mereka tiada hentinya
menikmati setiap aktivitas mereka.
Berbeda dengan Rika, kepalanya berkali-kali
menawarkan diri untuk memecahkan diri sendiri. Rika menolak mentah-mentah
tawaran itu. Not a good idea. Terlau banyak orang yang harus aku hadapi. Tentu
saja Rika cukup cerdas memperhitungkan kekalahan dirnya menghadapi
kakak-kakaknya jika dia menerima tawaran meledakkan diri dari kepalanya.
Kemudian suatu hari. Awalnya Rika terkejut ketika
Dewi, Naning dan Risma datang mengunjunginya. Rika tidak pernah memberitahu
kedatangannya pada sahabat-sahabatnya, tidak satupun teman-teman di Jogya yang
diberitahu tentang kedatangannya, tidak juga David. Pertanyaan itu terjawab
ketika Risma memberitahu bahwa Setyolah yang mengirim sms pada mereka. Mereka
bertiga memutuskan datang dihari kedua Rika dan keluarga di Jogya. Rika juga
dikejutkan oleh cara berpakaian ketiga teman-temannya yang tidak seperti biasa.
Bukan mereka!
Dewi yang paling suka begaya casual dengan celana
berbahan kain semata kaki, dilengakapi tanktop dibalut dengan blazer aneka
model dan warna untuk kesehariannya, hari itu tampak lebih.... Apa ya? Formal?
Santun. Ya, kurasa santun lebih tepat. Dewi memakai balzer
putih yang tertutup, tidak terlihat bagian dadanya, dengan celana lebih longgar.
Naning yang kesehariannya paling suka dengan short-pants atau skinny jeansnya,
hari itu tampak feminim dengan terusan batik biru gelapnya. Rika menggelengkan
kepalanya. Mereka takut atau apa sih! Rika jengkel karena teman-temannya tidak
mau menjadi diri mereka sendiri ketika menghadapi keluarganya. Di nikahan kemarin juga gitu! Rika memandang Risma yang sama seperti kedua
temannya, tidak berpenampilan seperti biasanya. Risma paling suka dengan shorpants,
celana jodpur atau celana pendek selutut yang mirip rok dengan kaos lengan
pendek dilengkapi dengan syal. Sekarang Risma memang masih memakai loose pants,
bedanya Risma melengkapi dirinya dengan blazer rajut yang terkancing rapat dari
atas hingga bawah.
Rika tidak tahu bagian rumah yang mana yang bisa
digunakannya menemui ketiga kawan serumahnya itu. Dewi tidak keberatan ditemui
dimana saja. Bahkan di ruang keluarga yang terletak di belakang ruang tamu yang hanya beralaskan karpet tebal yang dipakai tidur
malam harinya, dengan beberapa saudara ipar dan banyak keponakannya yang sedang
asyik berkumpul. Rika tidak punya pilihan lain. Tidak ada ruang tersisa dengan
orang sebanyak itu di rumah yang tidak terlalu besar. Begitu
pikir Rika.
Rika keliru jika mengira rumahnya dipenuhi 42
orang, dewasa dan anak-anak. Rika tidak mengetahui dengan baik jumlah anggota
keluarganya. Ismail dan Lediawati istrinya yang berasal
dari Bengkulu memiliki 5 anak: Ibrahim 11 tahun, Sarah 10 tahun, Hajar 9 tahun,
Muhammad 8 tahun, dan Adam 6 tahun. Halim dengan istrinya Hanik yang berasal
dari Probolinggo mempunyai 6 anak - 5 anak laki-laki: Idris, Nuh, Hud, Shalih
dan Luth, serta Hawa; anak perempuan satu-satunya, setidaknya untuk sekarang,
yang baru berusia 3 tahun. Idris anak tertuanya baru berusia 9 tahun.
Baru dua keluarga saudara lelakinya saja sudah 17
belas orang. Ditambah dengan keluarga Jakfar dengan istrinya Yuliatin asli
Ponorogo, jumlah terbanyak dibandingkan saudaranya yang lain, setidaknya untuk
sekarang, yaitu 7 orang: Abdullah 9 tahun, Asiah 8 tahun, Khodijah 7 tahun,
Aisyah 6 tahun, Ishaq 5 tahun, Ya’kub 4 tahun dan Zainab 3 tahun, jumlah
keluarga Rika sudah menjadi 26 orang. Padahal masih ada Herman, Iskandar, Heru
dan Setyo.
“ Putranya berapa, Mbak?” Tanya Naning dengan antusias.
“ Saya baru lima, Mbak.” Ica istri Herman
tersenyum menggoda pada ke tiga teman Rika.
“ Ooo baru 5.” Ketiganya ikut tertawa.” Berarti masih mau nambah dong?”
Risma balas menggoda.
“ Insya Allah. Kalo memang dikasih sama Allah. ”
“ Yang ini siapa?” Dewi
menarik seorang gadis kecil yang sedang mengambil kue yang ada di hadapannya.” Ambil aja ndak pa-pa.”
“ Iya, ndak banyak kok.” Tentu saja jawaban Asma membuat ketiga teman Rika
tertawa
“ Banyak juga nggak pa-pa.” Asma segera merapat
pada Ica, ibunya setelah mengambil kue-kue yang memenuhi tangan kirinya.
Akhirnya Risma, Dewi dan Naning ikut merayakan
kebersamaan. Mereka sibuk ngobrol dengan kakak ipar Rika, ibu dan ibu mertua
Rika, bahkan asyik bercanda dengan keponakan-keponakan Rika yang tidak berhenti
mencekik ketiga temannya dengan pelukan mereka. Herannya, ketiganya malah
tertawa seolah itu adalah hal menyenangkan. Bahkan ketiganya tidak marah ketika
Hafsah memandangi ketiganya dengan menyelidik dan akhirnya tertawa geli dan
genit – menurut Rika. Kalimat berikutnya yang keluar dari mulut Hafsah membuat
Rika ingin pergi sejauh-jauhnya. Setidaknya, dia tidak ingin mendengar dan tidak melihat langsung.
“ Nggak pake jilbab.” Hafsah mengucapkannya dengan
cepat, dengan mata yang disipitkan. Sikap dan perkataan Hafsah berhasil
memprovokasi saudara-saudara-saudara perempuannya yang lain.
“ Iya...” Hawa menunjuk-nunjuk.
“ Hiiii....” Zainab ikut membelalaki ketiga sahabat Rika.
“ Ndak boleh gitu....” Saudara-saudara perempuan
mereka yang lebih besar melerai. Akhirnya terjadi perdebatan diantara mereka.
Rika menggelang kepala dan mendengus berkali-kali. Ingin rasanya dia pergi.
Ingin rasanya dia mencari remote kontrol kemudian menghapus kejadian itu.
“ Jadi nggak boleh ya kalok nggak pake jilbab?” Sekarang
giliran Rika yang membelalaki ketiga sahabatnya yang ternyata berpartisipasi
aktif dalam perdebatan itu dan merubahnya menjadi kelakar yang membuat semua
orang yang duduk diruang keluarga dan ruang makan yang terlihat jelas dari
tempatnya duduk.
“ Mik, Zaki masuk kolam!” Yunus, putra ke 3
Iskandar dan istrinya Siti yang berasal dari Jakarta, berteriak kegirangan
dengan bajunya yang basah.
Belum sempat Siti bergerak, Iskandar suaminya datang dari ruang tamu sambil
menggendong terbalik Zakaria yang baru saja dilaporkan kakak laki-lakinya tanpa
kain sehelaipun.
“ Wah, seru ya, mbak, banyak anak.” Dewi terlihat kagum.
“ Kalo mas Iskandar sama Mbak Siti putra-putrinya cuma selisih persis setahun-setahun
lho........ 5 lho!” Ica menggoda ketiga teman Rika.” Itu Hafsah yang paling
kecil 2,5 tahun. Yang digendong itu Zakaria baru 3,5. yang tadi kasih kabar itu
Yunus 4,5. Ilyas 5,5. Musa 6,5.”
“ Mbaknya brapa?”
“ Saya sama mas Herman sama aja sama mas Kandar sama mbak Siti, sama-sama setahun
aja jaraknya!” Ica tersenyum lebar.” Ayyub 7 tahun, Dzulkifli 6 tahun, Bakar 5
tahun, Sa’ad 4 tahun, tuh.... yang paling kecil. Asma 3 tahun. Mas Heru sama
Mbak Fitri baru empat. Cuma mas Setyo sama Mbak Ridha aja yang baru dua.”
“ Seru ya!” Ketiganya membalakkan mata penuh semangat.” Jadi berapa orang
yang ikut, mbak?
“ Mau nyoba tinggal disini?’ Tantang Rika jengkel.
“ 64. Orang dan anak-anak.” Tidak hanya ketiga sahabat Rika yang melongo,
tapi juga Rika. Jauh dari 42. Selisih 22 itu banyak.
“ Boleh. Boleh, Mbak?”
“ Boleh aja. Knapa nggak boleh?” Senyum manis Yuliatin dan saudara iparnya
yang lain membuat hati Rika panas.
“ Namanya pendek-pendek gitu aja, mbak?” Naning benar-benar dipenuhi rasa
tidak percaya.” Biar gampang ngingatnya kali ya, mbak. Kan banyak!”
“ He eh.” Semua ipar Rika tersenyum geli.
“ Tapi pasti gak ada yang namanya Ismail.” Dewi dan Naning membelalakkan
mata mereka kearah Risma.” Lho, kan nanti jadi sama kayak mas Ismail. Mas
pertamanya Rika,kan?.”
Selama empat hari kebersamaan mereka, tidak
sekalipun Rika membiarkan dirinya tersenyum oleh kenakalan yang lucu
keponakan-keponakannya. Versi Rika begitu. Tidak sekalipun Rika menganggap lucu
pelukan leher keponakan-keponakan balita Rika terhadap dirinya. Rika tidak
menganggapnya sebagi pelukan, Rika lebih suka menyebutnya dengan cekikan. Rika
semakin heran bin jengkel dengan sikap semakin berani para keponakannya,
terutama keponakan balita Rika yang berjumlah 13 orang. Mereka berani menindih
Rika ketika Rika sedang tidur. Mereka berani duduk di pangkuan bahkan di pantat Rika kalau Rika sedang berbaring
lelap di siang hari. Mereka berani bergelantungan
di dua kaki Rika. Keberanian mereka tidak hanya
sebatas itu, mereka juga berani menasehati Rika tentang menutup rambut, tidak
berlengan pendek juga tidak bercelana selutut. Rika berharap semua segera
berlalu. Segera. Sesegera mungkin! Atau dimatikan dan dinyalakan lagi nanti
kalok acaranya sudah ganti!
Tanpa Rika berharap pun, hari yang dinantikannya
pasti tiba. Ketujuh mobil sudah berjajar rapi didepan rumah barunya. Rika
merasa malu akan hal itu. Kayak arak-arakkan aja. Rika lupa kalau ketujuh mobil
itu memang arak-arakkan pengantin baru yang menemani dirinya dan suaminya
kerumah baru mereka.
“ Ya, sudah ayo! Pamitan dulu baru masuk ke mobil!” Rika tidak tahu apakah suara menggelegar
Jakfar yang membuat anak-anak itu segera melakukan instruksinya bahkan sebelum
kalimatnya selesai diucapkan atau memang anak-anak kecil itu telah menunggu
kesempatan untuk mencium tangan Rika dengan bibir mereka yang basah. Rika
merasa tangannya lengket oleh ludah beberapa keponakannya yang menurut Rika
memang disengaja, teruatama Abdurrahman putra Heru dan Fitri yang paling kecil.
Buktinya mereka – keponakan-keponakan kecilnya - tertawa setelah itu!” Mobilnya
sesuai keluarganya sendiri-sendiri!”
“ Aku mau sama mas Ilyas.” Rengek Harun – 4 tahun- putra ke 3 Heru dan
Fitri. Akhirnya permohonan-permohonan seperti itu tidak hanya diucapkan oleh Harun
seorang saja.
“ Ijin dulu sama Umiknya!” Dengan riang anak-anak
yang ingin semobil dengan saudara-saudara yang mereka inginkan segera berhamburan
ke ibu mereka masing-masing. Mereka membujuk dan menebar janji pada ibu
masing-masing. Zulfan tertawa geli melihat tingkah mereka. Rika keheranan.
Apanya yang harus ditertawakan.
Setelah semua anak masuk kedalam mobil, keriuhan
masih terdengar. Hanya berpindah tempat saja sehingga volumenya sedikit
berkurang di luar angkasa. Sedikit. Satu persatu, saudara-saudara ipar Rika berpamitan. Selama empat hari kebersamaan, Rika
mulaimengingat nama ipar-iparnya dengan lebih yakin.
Tidak hanya Ridha, istri Setyo.
“ Pulang dulu, ya mbak.” Titin mencium tangan
Rika. Rika gerah dibuatnya. Kikuk luar biasa. Seharusnya nggak usah begitu!
Sekarang Etik. Rika tidak yakin Etik harus mencium tangannya. Menurut Rika usia
Etik kemungkinan sama atau malah lebih tua. Jadi Etik tidak harus mencium
tanganku! Cukup saling mencium pipi. Namun dari awal Rika memang tidak berniat
mencari tahu latar belakang saudara ipar barunya itu. Rika tidak tahu kalau
Etik 3 tahun lebih muda dari dirinya yang sudah menginjak usia 24 itu.
Selesai dengan ipar-iparnya, sekarang giliran Rika
mencium tangan ketujuh saudara laki-lakinya. Mereka mengacak rambut, menepuk
pipi, mencubit pipi bahkan Jakfar tidak kuasa untuk tidak memeluk sambil
menggoyang-goyangkan tubuh Rika. Rika jengah diperlakukan seperti itu. Ibu
bapak dan kedua mertuanya malah tertawa geli melihat hal itu. Zulfan dengan
kedua tangan di kiri dan kanan tubuhnya hanya melihat
dengan tenang kejadian itu. Tidak ada senyum, meskipun dia ingin.
Menahan diri lebih baik. Begitu keputusan Zulfan.
Selesai. Leganya. Sekarang tinggal ibu bapak, sama
ibu bapak mertua. Rika mencium tangan bapak mertuanya. Mudah-mudahan ibu mertua juga gitu aja. Simple. Rika salah besar jika
mengira ibu Zulfan hanya akan membiarkannya mencium tangannya tanpa memeluknya
erat, mencium pipi kiri dan kanannya beberapa kali barulah ibu Zulfan merasa
puas.
Dengan lemas, Rika mencium tangan bapak kandungnya. Bapak hanya tertawa geli. Sama seperti ketujuh
saudara laki-lakinya, Bapak mengacak-acak rambut Rika. Rika mendengus tak
tertahankan. Rupanya saudara-saudaranya melihat itu. Lagi-lagi mereka tertawa.
“ Diingat-ingat ya, permintaane ibuk sampeyan.” Bapak ini! Kapan ibu pesan?
Belum ada ngomong....
“ Yo, wes, nduk, yo. Ibuk pamit. Nak Zulfan.!” Ibu
mertunya mengisyaratkan Zulfan mendekat. Dengan kikuk Zulfan memenuhi
permintaan itu. Zulfan memilih menjaga jarak sopan dengan istrinya.” Ajegke
rumah tangga teko sak kamar. Sak kasur. Iku tok pesene ibuk. Jangan ndak
sekamar. Jangan ndak sekasur. Opo ae kedadiane. Yo, nak Zulfan yo.” Zulfan
mengangguk-angguk khidmat. Dalam hatinya, sungguh Zulfan tidak tahu apa hal itu mungkin dilakukan.”
Yo, nak Zulfan yo.”
“ Nggeh. Insya Allah, buk.” Mertuanya meminta pernyataan
kesanggupan Zulfan. Dan Zulfan tidak punya pilihan lain kecuali membuat
sebuah janji. Karena janji pada yang Maha Besar juga telah diucapkannya.
“ Nduk?” Rika yang sedari tadi membara begitu mendengar jelas dan gamblang
permintaan Ibu menarik nafas panjang, kemudian menahannya untuk beberapa saat
sebelum melepaskannya perlahan.” Yo, nduk yo!”
“ Hemmm.” Dengan enggan dan mata tidak menatap
ibunya Rika membuat janji. Sama seperti janji berapa tahun yang lalu. Janji
yang dipaksakan. Hati Rika semakin membara ketika mengingat kejadian sewaktu
Rika merengek minta dibolehkan sekolah di Jogya. Akhirnya ibunya memenuhi
rengekan Rika yang tidak berhenti selama berminggu-minggu, rengekan yang
dibarengi dengan merajuk, merajuk tidak mau bicara, tidak mau makan, tidak mau
keluar kamar. Tentu dengan sebuah syarat: tidak boleh meninggalkan sholat dan
tidak boleh pacaran. Knapa nggak nyuruh pake jilbab aja. Dah lebih dari cukup
itu! Begitu keluh Rika dulu. Toh, tidak diprotes juga waktu itu.
“ Yo, wes. Ibu pamit yo. Nak Zulfan, tolong jagakno, ya!” Emangnya aku nggak bisa jaga diriku sendiri? I did it. Always!!
Dengan terpaksa Rika melambaikan tangan kearah
mobil-mobil yang bergerak itu. Rika merasa terlalu kejam tidak membalas
lambaian tangan para keponakannya yang tidak berhenti. Meski ingin sekali.
“ Assalamualaikuum....!”
“ Assalamualaikuum....!”
“ Assalamualaikuum....!”
“ Assalamualaikuum....!”
“ Assalamualaikuum....!”
Rika heran kapan mereka akan berhenti mengucapkan
salam. Rika heran kenapa semua orang atau semua anak – Rika tidak tahu pasti
siapa sebenarnya yang mengucapkan salam- harus ikut mengucapkan salam. Zulfan
heran kenapa istrinya terlihat tidak pernah berhenti bermuka masam tidak
menyenangkan seperti itu.
Rika menghela nafas lega ketika barisan mobil itu
menghilang dari pandangan matanya. Rika berdiri diam sesaat. Zulfan yang
mengetahui hal itu, memilih melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan
istrinya. Tidak mungkin Zulfan meninggalkan istrinya sendiri disitu. Zulfan
hanya berharap mudah-mudahan kehadirannya tidak menganggu istrinya. Zulfan akan
sangat sering berharap seperti itu.
Rika yang baru menyadari kehadiran suaminya
mengeryitkan alisnya dengan sebal, tidak lupa diiringi dengusan sebal yang bisa
didengar siapa saja yang berada di dekatnya. Ngapain
masih disini. Rika berlalu begitu saja. Zulfan diam begitu saja. Setelah
didengarnya suara pintu ruang tamu ditutup, barulah Zulfan mengikuti jejak
istrinya.
Awas kalo berani ikut ke kamar! Rika menghempaskan
tubuhnya ke atas kasur springbed empuknya. Memang
lebih empuk springbed di rumah kontrakannya dengan Dewi dan kedua sahabatnya
yang lain: Risma dan Naning. Rika memaklumi kemampuan Zulfan. Memang cuman
segini bisanya. Begitu pikir Rika. Rika menatap halaman kecil di sebelah kamarnya. Dindingnya dihiasi dengan tumbuhan merambat berdaun kecil
dan rapat seperti di restaurannya. Rika senang mengetahui hal itu.
Dinikmatinya tempat tidur seorang diri. Benar-benar lega! Benar-benar nyaman!
Tenang. Selamat tinggal lelah. Rika memeluk gulingnya dengan erat. Meskipun
hari masih pagi, baru jam 9, Rika merasa kantuk menguasai dirinya. Senang menikmati
kasurnya, untuk dirinya sendiri. Selama hampir seminggu,
Rika tidak bisa menikmati tidurnya. Tidak bisa bangun siang
seperti biasanya. Tidak bisa tidur setelahnya. Juga tidak bisa tidur siang
dengan lelap. Tidak ada tidur siang lelap selama keponakannya tidur di atas tempat tidur, di atas tubuhnya. Tidak ada tidur malam
sendirian, bahkan dua saudara ipar
barunya: Etik dan Titin, mengalah tidur di karpet, di bawah bersama suaminya dan keponakannya
yang lain, sementara keponakan lainnya tidur bersamanya di kasur. Kemana
karpetnya sekarang ya? Rika baru ingat kalau dirinya tidak lagi melihat karpet
dimana-mana. Tidak di kamarnya, di ruang keluarga, di ruang makan depan kamarnya. Entahlah. Rika memilih
tergoda lelap.
Zulfan mengangkat sofa-sofa yang selama kedatangan
keluarga besarnya dipindahkan ke ruangan paling kecil
- dari tiga ruangan yang ada- dan garasi. Zulfan tidak tahu kamar itu akan
difungsikan untuk apa. Setidaknya untuk dirinya sendiri. Zulfan tahu dengan
jelas bahwa dia tidak punya barang pribadi terlalu banyak. Zulfan hanya membawa
sedikit pakaiannya – setidaknya awalnya begitu, sampai Etik dan Titin memasukkan
lebih banyak pakaian dan memaksa Zulfan membawa semua barang-barangnya ke rumah baru yang sudah dibeli Zulfan untuk istrinya. Tetap saja Zulfan memilih
tidak membawa semua barang miliknya. Zulfan tidak yakin apakah dia akan lama di
Jogya. Zulfan memilih membawa sedikit pakaian dan hanya membawa satu barang
lain: sepeda motornya yang dikirim menggunakan jasa pengiriman kereta api yang
datang di hari yang sama dengan kedatangannya,beserta rombongan
dengan jam kedatangan yang berbeda- Selebihnya tidak ada.
Zulfan menata sofa-sofa itu di ruang keluarga dan
diruang makan. Mas-mas iparnya menasehati Zulfan untuk mengisi rumah mereka
dengan perabotan yang disukai adik mereka, Rika. Setidaknya hal itu akan membuat
Rika sedikit lebih nyaman. Begitu harapan ketujuh saudara laki-laki Rika.
Zulfan menurut saja, meski menurut Zulfan sebenarnya tergolong mewah bahkan
terlalu mewah untuk Zulfan. Tapi toh, niatnya juga baik, lebih bawa banyak
manfaat. Begitu pikir Zulfan. Kulkas dua pintu cukup besar, kompor gas, oven,
piring – bentuk piringnya saja aneh menurut Zulfan. Pantas harus diletakkan di
laci, bukan di rak seperti dirumahnya - tempat tidur dan kasur, bahkan sampai
penambahan kolam ikan koi dan taman kecil di halaman belakang rumah, juga memugar
ulang, kolam ikan di sepanjang lorong kecil sebelah 2 kamar utama
yang berjajar yang hanya dipisahkan oleh kamar deretan kamar mandi. Sepertinya
dia suka bunga. Mungkin. Zulfan memandang dinding rumahnya beraneka warna, tiap
ruang memiliki warna yang berbeda. Khas modern, desah Zulfan. Semua seperti yang disarankan saudara-saudara iparnya.
Mereka bener-bener kenal baik sama adiknya. Padahal sudah berapa tahun ndak
kumpul.
Zulfan memilih berbaring di sofa makan. Zulfan
heran kenapa ruang makan harus pakai kursi sebagus itu. Tumpukan spon empuk.
Zulfan juga tidak tahu nama tumpukan spon itu sampai Zulfan datang ke toko “ Amalia”
bersama Halim dan Iskandar untuk mencari isi perabotan rumah setelah
mereka berhasil mencari rumah yang ideal menurut ketiganya. Zulfan membenarkan
perkataan Iskandar dan Halim ketika mereka mengatakan bahwa
pernikahan Zulfan dengan Rika insya Allah dalam keridhoan
Allah. Kemudahan yang diberikan Allah pada proses mencari rumah dan perabotan
yang mereka perkirakan akan memakan waktu sampai berhari-hari, ternyata hanya
membutuhkan waktu tidak lebih dari 3 hari. Bahkan tumbuhan merambat di halaman kecil mereka sudah ada sejak mereka melihatnya. Ahli pengecat
terbaik juga mereka dapatkan dengan mudah. Setelah selesai melihat, menyepakati
dan menyerahkan uang pembelian rumah, saudara pemilik rumah yang berperan
sebagai penjual, mewakili saudaranya sang pemilik rumah itu yang sudah pindah ke Purwokerto, menawarkan diri jika
seandainya mereka membutuhkan tenaga pengecat.
Bahkan untuk memenuhi rumah ideal yang
diperkirakan akan disukai Rika, yang dikemas sederhana, - karena jika dipenuhi
benar-benar sesuai dengan selera Rika, akan membutuhkan dana milyaran. Begitu
kata Ismail dan yang lainnya sewaktu mereka berembug di rumah ibu mertuanya- Zulfan
banyak dibantu ketujuh saudara iparnya dalam pernikahannya itu. Sederhana untuk
Rika, mewah untuk Zulfan.
Rumah yang dibeli Zulfan memiliki satu kamar besar
yang ditempati Zulfan bersama Rika yang memakan sebagian ruang tamu dan ruang
di belakang ruang tamu yang difungsikan sebagai ruang
keluarga yang dihiasi dengan dua sofa lebar berwarna coklat lembut berhias
karpet bermotif bunga mawar segar, juga beberapa lukisan bertengger anggun di dinding ruang keluarga. Satu kamar lagi berukuran lebih kecil dari kamar
yang digunakan Zulfan dan Rika, yang tidak memiliki sebuah pun, seekorpun penghuni di dalamnya dan di hadapannya – tepat di belakang garasi, sebuah ruang kecil yang
kemarin digunakannya sebagai tempat menyimpan sisa sofa yang tidak muat di
garasi, kemarin saat keluarganya datang mengantarkan kedua mempelai yang
berbahagia.
Salah satu kemudahan terbesar yang diberikan Allah
untuk Zulfan adalah persetujuan Rika yang diputuskan begitu cepat. Bahkan tanpa
mereka menanyakan padanya. Begitu kata Ismail dan Setyo waktu itu yang diiyakan
oleh saudara-saudaranya yang lain, termasuk Ibu Hindun dan Bapak Zen, mertua
Zulfan. Begitu ibu datang pas magrib, satu-dua jam Rika datang pake taksi dari
Surabaya. Nggak lama, cuman dua hari berikutya, Rika sudah bilang iya.
Tiba-tiba saja langung bilang mau. Kalo menurut ibu, bagus dia mau. Zulfan
menggeleng teringat cerita Heru waktu memberitahu tentang berita gembira itu.
Mas Heru bahagia sekali, yang lain juga. Bulan berikutnya mereka sudah menikah.
Sedari Zulfan kecil, Bapak selalu menasehati
Zulfan untuk menjadi laki-laki yang bisa memberi mahar yang sangat banyak
seperti yang dicontohkan Rosulullah. Bapak sangat terkesan kisah memberi mahar yang banyak, sejak pertama kali
mengetahui hal itu dari guru agama bapak, sewaktu bapak kelas 1 SMP. Hal itulah
yang menjadikan Bapak giat bekerja sedari SMU. Bahkan setelah itu Bapak
merantau menjadi tenaga kerja di Switzerland. Dari sanalah Bapak semakin banyak
belajar tentang beternak sapi. Setelah membawa uang yang cukup banyak, Bapak
pulang. Membeli beberapa ekor sapi seperti kebanyakan penduduk Kecamatan Tutur yang berprofesi sebagai peternak, kemudian dijual di KUD yang
selanjutnya disuplai keperusahaan susu yang ada diwilayah Pasuruan. Bapak menikahi
Ibu dengan mahar rumah dan tanah yang mereka tempati, serta beberapa gram emas jugabeberapa perlengkapan rumah tangga.
Bapak ingin Zulfan seperti dirinya yang mencontoh
Rosulullah. Sama seperti bapak, Zulfan juga menyukai bekerja. Zulfan
sudah giat membantu bapak merawat sapi sejak kecil. Bapak malah
sengaja memberi Zulfan seekor sapi yang khusus untuknya ketika Zulfan sudah
kelas 5 SD. Hasil dari sapinya itu dimiliki oleh Zulfan, sedangkan sapi tetap milik bapak. Zulfan menabungkan semua
uangnya di sebuah tabungan dari tanah liat yang
berbentuk macan berukuran sedang.
Kegemaran Zulfan bekerja berlanjut sampai Zulfan
dewasa. Setelah awal semester kuliah berlalu, Zulfan
merasa mampu menguasai perkuliahan, lalu memutuskan untuk bekerja. Zulfan memilih
sebuah pekerjaan yang tidak memiliki jam kerja, yaitu memilih
menjadi sales. Zulfan sempat mencoba menjadi sales untuk beberapa hal yang
berbeda. Setelah beberapa bulan mencoba, akhirnya Zulfan memilih menjadi sales
spare part sepeda motor sebagai profesinya.
Banyaknya jumlah bengkel di Malang tempatnya
mengenyam pendidikan sarjana, besarnya nominal keuntungan, laki-laki yang lebih
banyak ditemuinya, bukan perempuan, merupakan alasan Zulfan mengambil keputusan
itu. Belum genap 21 tahun usianya, Zulfan sudah memiliki modal yang sangat besar.
Cukup baginya untuk merubah dirinya dari sales menjadi distributor. Cukup untuk
menyewa tempat. Cukup untuk memperkerjakan beberapa temannya melalui seleksi
yang ketat, Zulfan harus mengenal teman yang akan dipekerjakannya. Zulfan
menganggap semua hal baik yang dialaminya adalah balasan setimpal atas kebaikan
yang dia lakukan. Allah Maha Adil. Orang baik
ketemu orang baik. Karena sebab itulah, Zulfan merasa tidak
pernah menemukan masalah berarti. Zulfan juga tidak merasa takut mempercayakan
management distributornya yang telah mapan pada orang-orang yang dipercayanya,
yang tak lain adalah orang-orang asing yang telah menjadi keluarganya. Zulfan
juga tidak ragu mempercayakan bengkelnya di pasar desa Wonosari pada Fauzi,
sahabatnya sejak kecil hingga SMP sementara dirinya mencoba kehidupan baru di
Jogya bersama seorang yang asing. Seorang asing yang harus aku jadikan
keluarga. Harus mampu kujadikan keluarga. Pikiran itu membuat Zulfan menarik
nafas panjang.
Zulfan memberikan rumah yang ditempati istri dan
dirinya sekarang, beserta isinya sebagai mahar untuk Rika. Memang tidak semua
isi rumahnya dibeli dengan uang Zulfan sendiri. Saudara-saudara ipar Zulfan
juga memberikan hadiah pada mereka. Dua set sofa, sofa yang diletakkan diruang
tamu dan sofa yang diletakkan diruang makan. Tempat tidur di kamar Zulfan dan Rika adalah hadiah pernikahan yang dibelikan oleh ibu dan
bapak Zulfan Zulfan mengerti kenapa ibu dan bapak mertuanya lebih
memilih memberikan tempat tidur sebagai hadiah. Mereka benar-benar ingin
memastikan bahwa dirinya dan Rika istrinya tidak berada dalam jarak yang
terlalu jauh. Bahkan mereka hanya memberi dua bantal dan satu guling saja. Mereka
rupanya ingin memastikan keamanan proses jalannya pernikahan
ini. Hal ini sama-sama disadari Zulfan dan Rika, bedanya Rika marah besar
ketika memikirkan hal itu, Zulfan menganggap tidak ada pilihan lain kecuali mengikuti rencana yang tidak akan mudah dilakukan. Selain rumah
dan perabotannya, Zulfan juga memberikan mahar seperangkat perhiasan.
Awalnya
Zulfan ingin membiayai sendiri pernikahannya, tapi ibu bapak Zulfan tidak
mengijinkan hal itu. Kata mereka kapan lagi ngasih anaknya? Mungkin tambah lama
anaknya tambah mampu. Kalo sudah gitu, ndak ada lagi yang bisa diberikan. Ndak
ada lagi kesenangan orang tua. Perkataan ibu bapak membuat Zulfan tidak punya
alasan untuk menolak. Walhasil, Zulfan hanya mengeluarkan sedikit saja untuk
biaya pernikahannya yang mengundang begitu banyak orang. Menurut perkiraan
Zulfan lebih dari seribu.
Hampir 90 persen penduduk desa Sepanjang Pasuruan,
yang terletak di rute menuju Bromo dari arah Surabaya dan Malang, adalah
saudara ibu dan bapak mertua Zulfan. Belum lagi santri dan para orang tuanya.
Mas-mas iparnya mempunyai hubungan yang sangat baik dengan santri dan para
orangtua. Semua orang yang dikenal ibu bapak mertua Zulfan dan saudara-saudara
iparnya, mas dan mbak ipar, turut diundang. Semua orang yang mereka kenal:
tukang becak langganan mereka, tukang sayur langganan mereka, tukang bangunan
langganan mereka, tukang sampah yang mengambil sampah mereka, supir angkot
dalam kota atau luar kota yang sering mereka naiki, tetangga mereka – dari 100
rumah kiri dan 100 rumah kanan mereka, mbak-mbak penjaga swalayan tempat mereka
belanja yang mereka kenal, penjual buah langganan mereka. Itu baru dari pihak
keluarga Rika. Belum lagi dari pihak keluarga Zulfan.
Jumlah masakannya lebih banyak dari jumlah undangan.
Saudara-saudara lelaki istrinya meminta Zulfan untuk membawa banyak kebaikan
atas pernikahannya pada orang-orang yang tidak mampu. Mereka membagikan makanan
lezat yang berlimpah pada orang-orang yang tidak mampu yang jumlahnya lebih
dari 500 keranjang makanan. Zulfan tidak menolak permintaan itu, yang diundang
kebanyakan orang-orang biasa – maklum keluarga mertua Zulfan ataupun keluarga
Zulfan tidak mengenal terlalu banyak pejabat, paling tinggi pejabat yang mereka
kenal bersatus camat, lurah atau kepala desa, ketua RT, ketua RW- yang diberi
bagian keranjang makanan juga orang-orang yang tidak mampu. Zulfan mampu, punya
uang. Jadi sama sekali tidak ada alasan aku menolak.
Zulfan juga tidak menolak ketika keluarga calon
mertuanya ketika meminta ijin pada Zulfan untuk membeli
semua makanan sajian pernikahannya. Alasan apa yang harus membuat Zulfan
menolak jika keluarga mertua Zulfan memesan semua masakan lezat itu dari
orang-orang sederhana – berekonomi sedang - yang mereka kenal. Bukannya itu pemberdayaan masyarakat. Zulfan
benar-benar merasa beruntung bertemu keluarga baik seperti keluarga mertuanya.
Bayangkan ketika kita datang kerumah mereka, tidak satupun yang tau apa yang kita bawa. Waktu mereka tau kita bawa
makanan, kita bawa pesanan. Wajah mereka langsung ceria, hati mereka berbunga. Seketika itu mereka membacakan doa untuk kita. Doa
yang dibaca dengan bahagia dan ikhlas. Itulah doa mustajab. Penuturan Jakfar
membuat Zulfan terkesan. Semua hal itu terpatri dalam-dalam di hati Zulfan.
Kalimat penuh kekuatan kebenaran hakiki pasti akan disimpan Zulfan dengan baik
dalam ingatan dan perilakunya.
Aku kepingin dapat pahala dengan membahagiakan orang tua. Ibu, ibunya, keluarga semuanya dapat mimpi baik. Kemudahan banyak. Persetujuannya, rumah
yang disukainya. Aku yakin, menikah adalah keputusan
terbaik. Menikahi Rika. Benar-benar manusia aku ini. Begitu
ketemu pertama aku...Bukannya ragu. Ndak ngerti apa. Waktu di kamar, di sini
hari ini, sekarang, tiba-tiba aku... khawatir. Khawatir salah. Khawatir.... Astaghfirullah. Ya Allah, aku sudah musyawarah, dengan insya Allah, orang-orang baik dan sholeh. Aku
mikir, aku yakin. Harusnya sekarang tawakal.