PAIN MAKER

PAIN MAKER
LUKA KETUJUHBELAS



FARHAN POV


Aku menunggu diruang tunggu dengan perasaan yang tidak karuan kacaunya. Diana sendiri tengah sibuk mengurus perkara ini kepada pihak kampus sebelum masalahnya menjadi lebih besar. Ada kabar yang mengatakan kalau Chloe mendapatkan tawaran kerja disuatu perusahaan besar luar negeri. Ternyata kabar itu benar dan syukurlah tawaran itu masih bisa di handle. Katanya, mereka tidak mau melepaskan Chloe begitu saja kecuali jika sesuatu tidak memungkinkan terjadi. Ya, seorang jenius seperti Chloe, siapa yang bisa membuangnya secara cuma-cuna?


"Apakah anda adalah pihak keluarga dari pasien yang bersangkutan?" tanya seorang Dokter baru saja keluar dari ruangan dimana Chloe ditempatkan.


"B-bukan. Saya adalah teman si pasien," jawabku pelan.


"Tapi, bisakah anda beritahu keadaan Chloe? Saya benar-benar khawatir."


"Hanya pihak keluarga yang diperkenankan mengetahui masalah ini, karna keadaan pasien sangat serius. Jadi, bisakah anda menghubungi pihak keluarganya segera?" tanya sang Dokter dengan senyum tipis namun sarat akan kekhawatiran.


Apa yang terjadi pada Chloe sebenarnya?


DRRRTTTT....


Aku merogoh ponselku yang bergetar di saku celana, lalu mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat nama pemanggil terlebih dahulu. Namun, sebelum aku sempat menyapa sang pemanggil, bunyi grasak-grusuk menyapaku duluan lalu disusul dengan suara perempuan yang sedikit berteriak.


"Kak Farhan, ini gawat! Pihak keluarga Chloe Ingin membatalkan tawaran perusahaan dan mengeluarkan Chloe dari UGM! Sekarang mereka dalam perjalanan kerumah sakit!"


"Ap-"


DRAP DRAP DRAP DRAP DRAP


Aku meneguk liurku dengan susah payah saat melihat beberapa orang berlari dan sepertinya mereka menuju kearahku. Tanpa memedulikan panggilan yang masih tersambung, aku langsung memasukkan ponselku kedalam saku celana kembali.


"Apa benar anda yang namanya Farhan? Dimana anak saya?" tanya seorang pria dengan wajah memerah dan mata berkilat marah.


Apakah dia ayahnya Chloe? Kenapa cepat sekali tibanya? Naik pesawat jet, kah? Ck, bukankah pertanyaan-pertanyaan itu tidak penting?!


"Benar, saya adalah Farhan dan anak anda sedang dalam penanganan medis," ucapku datar.


Aku membuang wajah kesamping saat melihat raut pria didepanku terlihat begitu terluka. Aku yang bukan siapa-siapanya Chloe saja merasa sangat sakit, apalagi pria ini yang selaku ayahnya? Pastilah sakit sekali mendapati kabar buruk ini.


"Apa anda pihak keluarga dari si pasien?" sang Dokter tiba-tiba nimbrung dalam keadaan sengit ini.


"Ya! Saya ayahnya Chloe! Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya pria itu dengan harap-harap cemas, seorang wanita sedari tadi terus menggenggam tangan pria itu sambil menggumamkan doa, dan dua orang remaja yang berada tak jauh dariku memasang wajah tanpa ekspresi, meski mata mereka terlihat begitu sedih dan hancur. Aku yakin sekali orang-orang ini adalah keluarganya Chloe.


Kedua orang tua Chloe kini pergi mengikuti Dokter tersebut, seorang gadis remaja dengan wajah mengeras berjalan mendekatiku. Matanya menyalang tajam, namun secara bersamaan begitu rapuh.


"Apa yang terjadi dengan Kak Chloe?" tanya gadis itu dengan suara serak dan air mata mengambang dipelupuk matanya.


"KATAKAN PADA LENKA! APA YANG TERJADI, HAH?!" teriak gadis itu dan air mata pun menganak di kedua pipinya. Seorang remaja lelaki yang terlihat lebih tua darinya bergerak maju dan menarik gadis itu kedalam pelukannya.


Aku tidak bisa berkata apa-apa. Bahkan lelaki yang tengah memeluk gadis yang kalau tidak salah dengar menyebut dirinya sebagai "Lenka" tadi-itu pun juga hanya diam seribu bahasa.


Dan kecanggungan dalam hening itu akhirnya usai saat Lenka berhenti menangis dan melepaskan diri dari pelukan lelaki tersebut.


"Kasih tahu kepada Lenka dan Kak Arsen apa yang sebenarnya terjadi! Kenapa Kak Chloe bisa sampai begini?!" Lenka bertanya dengan tatapan penuh tuntutan yang bertabrakan tepat di kedua mataku. Mata Lenka tak kalah indah dari Chloe dan entah kenapa aku tidak bisa menolaknya.


"Gue gak begitu tahu awal kejadiannya. Tapi, yang jelas saat itu gue ditelpon oleh salah satu teman sekelas Chloe, namanya Diana. Diana bilang kalo Chloe diculik di Heaven Club dan kita berdua tahu kalo itu adalah tempat yang sama sekali gak bener. Gue dan Diana akhirnya minta tolong beberapa orang agar bisa nembus penjagaan disana dan berhasil. Kami mencari dan terus mencari Chloe hingga akhirnya....Bisa dibilang kami terlambat." Aku tertawa pahit dengan perasaan sesak yang dengan seenaknya datang lagi. Benar-benar sakit.


"Sekarang dimana bajingan itu?" tanya lelaki yang kemungkinan bernama Arsen seperti apa yang dikatakan Lenka barusan-itu dengan suara yang begitu berat dan dalam.


"Gue bakal ngebunuh dia saat ini juga."


"Sayang sekali, pelakunya telah bunuh diri ditempat. Sebelumnya gue sudah bertekad melakukannya." Aku mengepalkan kedua tanganku dengan erat, sangat kuat sampai rasanya aku bisa membunuh orang dalam satu hantaman. Sekarang tidak hanya tentang Chloe yang berputar dalam kepalaku, melainkan tentang Silvia juga.


"Kenapa orang itu tega menyakiti Kak Chloe? Apa salahnya Kak Chloe?" tanya Lenka sambil terisak. Haruskah aku membongkar semuanya kepada dua orang didepanku ini?


"Ini semua tidak akan terjadi jikalau gue tidak memulai permasalahan duluan." Aku menghela nafas dengan berat lalu tersenyum sangat tipis saat mendapati tatapan penuh tanya dari Arsen dan Lenka.


"Gue dan Cleo, si pelaku dalam masalah ini, adalah dua orang yang bisa dibilang saling bersaing. Kami berdua bersaing dalam hal apapun meski Cleo terkesan tidak peduli. Gue merasa sangat diremehkan dan bertekad menghancurkan Cleo sampai ia mengakui kehebatan gue. Sampai akhirnya gue menemukan kelemahan Cleo, yaitu Silvia. Silvia adalah cinta pertamanya Cleo yang tidak pernah terbalaskan, karna Silvia menyukai gue."


"Dan lo merebut Silvia dari Cleo?" tanya Arsen yang kusambut dengan tawa pahit.


"Kalau hanya seklise itu, gak mungkin Cleo sampai jadi psiko begini." Aku menatap Arsen dan Lenka bergantian, mengucapkan maaf dalam hati karna rasa sakit Chloe pada dasarnya adalah akibat kesalahanku.


"Tidak hanya merebut Silvia, gue juga merusak Silvia. Gue bahkan juga menyebabkan Silvia bunuh diri dan otomatis itu membuat Cleo sangat depresi. Awalnya gue tidak begitu peduli dengan rasa sakit Cleo yang gue buat. Hingga akhirnya tiba, gue jatuh cinta dengan Chloe dan ... Ya, gue sangat menyesal."


".... Menyesal saja tidak akan membuat Kak Chloe kembali seperti semula, seperti sebelum bertemu manusia hina sepertimu!" Lenka menghampiriku lalu dengan tangan kecilnya menampar keras pipiku. Rasa perihnya menjalar meski tidak seberapa dengan rasa sakit yang mereka rasakan.


"Seharusnya kamu yang hancur, bukannya Kak Chloe!"


"Gue juga maunya begitu, tapi-"


"Nyatanya semua sudah terjadi."


Aku menoleh kearah sumber suara yang memotong ucapanku barusan. Dibelakangku telah berdiri kedua orang tua Chloe. Wanita yang barusan memotong kalimatku kini berjalan mendekatiku dengan wajah sendu. Ah, akhirnya aku ingat! Wanita ini adalah supermodel yang mengundurkan diri, Greisy Fauzi!


"Farhan, kami mendengar semuanya tadi. Sekarang aku mau bertanya, kenapa kamu senekad itu menolong Chloe?" tanya Greisy dengan sebuah senyum yang begitu tipis, tapi tidak tahu mengapa, aku merasa ada arti tersembunyi dibalik senyum itu.


"Kenapa kamu mengambil resiko yang begitu besar untuk seseorang yang mungkin tidak menganggapmu begitu penting dihidupnya?"


"Saya ikhlas menolong Chloe dan urusan penting atau tidak pentingnya, itu adalah urusan belakangan. Intinya, Chloe sudah menjadi seseorang yang penting bagi saya, dan entah kenapa resiko besar itu tidak begitu saya pikirkan lagi. Saat menolongnya, yang ada didalam pikiran saya hanyalah tentang Chloe dan bebas dalam masalah itu bersama dengannya. Kurang lebih seperti itu."


Aku tersentak saat kulihat senyum tipis Greisy berubah menjadi senyuman lembut dan air mata yang sejak kapan mengalir dikedua pipinya. Ada apa dengan wanita ini?


"Aku sangat mengerti keadaanmu, Farhan." Greisy mengusap air matanya bersamaan dengan sebuah tatapan hangat memancar kearahku.


"Kumohon, jangan menyerah kepada Chloe, ya? Oh iya, gimana kalau kamu melihat keadaan Chloe?"


"Greisy, apa kamu yakin?" tanya Ayahnya dengan wajah tak yakin.


"Sangat yakin," jawab Greisy tanpa ragu sedikitpun.


...~~~...


Aku merasakan ada yang mendesak di kedua mataku melihat sosok yang terbaring lemah dihadapanku saat ini. Wajahnya begitu pucat dan beberapa lebam menghias tubuhnya. Kenapa Chloe harus merasakan ini semua? la bahkan sama sekali tidak bersalah. Murni sekali semua adalah kesalahanku dan seharusnya akulah yang merasakan akibatnya, bukan Chloe.


"Pasti kamu merasa kalau harusnya yang menerima ganjarannya adalah dirimu, kan?" tanya Greisy memecahkan semua pemikiranku.


"Kamu benar-benar kombinasi sempurna."


"Apa maksudnya?" tanyaku tanpa menoleh kearah Greisy yang berdiri disampingku. Perhatianku masih terus terfokus kepada Chloe.


"Sebelumnya, aku adalah orang asing yang tidak diinginkan dalam keluarga Chakradinata. Dulu, Chloe beserta yang lainnya itu sempat hancur. Ketika melihat mereka, aku terdorong untuk menolong mereka, menyembuhkan luka mereka, dan melihat senyuman mereka. Tapi, semua tidak berjalan lancar."


Aku mulai tertarik dengan pembicaraan yang dibawa Greisy, "Lalu?" tanyaku kini menghadap kearah Greisy sepenuhnya.


"Lalu, ketika semua hampir berjalan lancar, orang dari masa lalu mereka datang kembali dan menciptakan luka yang lebih hebat. Luka yang cukup membuat kami semua hampir mati. Mati dalam rasa kecewa maupun rasa bersalah. Aku bahkan berfikir kenapa aku yang mendapatkan masalahnya juga? Padahal aku sama sekali tidak terlibat dalam masa lalu mereka. Ternyata mereka berfkir begitu, mereka pun berfikir jika aku tidak seharusnya ikut terluka."


"Setelah itu apa yang terjadi?" aku semakin penasaran dengan cerita ini.


"Mereka membuktikan rasa peduli mereka kepadaku tanpa lelah. Aku masih ingat bagaimana hangatnya pelukan mereka berempat yang mengalahkan semua rasa sakit yang menggerogotiku saat itu. Disitu aku akhirnya sadar kalau mereka adalah obatku, rumahku, dan tujuanku." Greisy menepuk bahuku dua kali lalu meremasnya kuat, menyalurkan semangat dan kepercayaannya kepadaku.


"Luka itu akan selalu membekas, tapi percayalah, masih bisa terobati."


"Kenapa anda bisa sepercaya itu? Chloe begini gara-gara saya dan apa anda tidak berfikir kalau Chloe akan semakin terluka?" tanyaku sembari memberanikan diri menatap langsung dua manik wanita dihadapanku.


"Tidak sama sekali." Greisy balas menatapku dengan lembut.


"Kesalahan di masa lalu tidak akan melukaimu di masa sekarang jikalau memikirkan hal baik di masa depan. Itu poin pentingnya." Tanpa peringatan, aku merasakan air mata akhirnya jatuh setelah kutahan sedari tadi.


...~~~...


AUTHOR POV


Chris, Arsen, dan Lenka pun sadar jika Farhan kurang lebih bagai cerminan diri mereka, merasa bersalah dan menyesal karna seseorang yang berharga terluka akibat kesalahan mereka di masa lalu. Tak hanya itu, mereka pun sadar jika Greisy juga merasa becermin saat melihat sosok Farhan. Kombinasi sempurna dari mereka.


"Itu pasti bohong, kan, Yah?" tanya Lenka dengan tawa sinis.


"Kak Chloe itu cewek yang kuat! Gak mungkin dia ...." Lenka berdecih sembari bangkit dari kursi tunggu dengan kasar lalu berlari menjauh.


"Arsen tidak akan ngelanjutin sekolah. Lebih baik Arsen menjaga Kak Chloe." Arsen menatap koridor rumah sakit yang sepi didepannya dengan tatapan kosong. Keadaan Chloe yang barusan dijelaskan oleh Chris membuat Arsen merasa sangat sedih.


"Itu hanya membuat keadaan Chloe memburuk. Chloe tidak akan suka melihat kamu melalaikan kewajiban karna dirinya." Chris memberi nasihat namun tidak dihiraukan oleh Arsen.


"Lalu apa? Kita semua tahu kalau nyembuhin jiwa lebih susah dibanding nyembuhin fisik, kan? Lalu gimana kalau keduanya? Trauma yang didapatkan Chloe ngebuat beberapa kemampuan fisiknya hilang! Ayah harusnya mikir soal ini!" seru Arsen dengan mata berkaca-kaca, membayangkan keadaan kakak kesayangannya begitu hancur tentu saja membuatnya sangat terluka.


"Ayah kenal salah satu dokter ternama di Amerika. Kebetulan adalah teman Ayah waktu kuliah dulu. Untuk beberapa waktu, mungkin Chloe bisa dirawat disana."


"Siapa yang akan menjaganya sejauh itu?"


"Greisy yang akan menjaganya. Kemungkinan penyembuhan Chloe tidak akan terlalu lama, kita berdoa yang terbaik saja." Chris menghela nafas panjang sebelum bangkit dari kursinya dan berjalan meninggalkan Arsen seorang diri.


...~~~...


Di koridor rumah sakit, tampak Farhan berlarian dengan wajah sumringah. Ransel besar yang terlihat begitu berat tidak menghalangi langkahnya hingga sampailah ia kesebuah ruangan. Tapi ketika didalam ruangan, wajah sumringahnya menghilang berganti dengan kaget. Kaget karna keadaan didalam ruangan itu jauh sekali dari ekspetasinya.


PLAANGGG!


"KELUAR! KELUAR SEMUA KELUAR!" teriak Chloe setelah melempar gelas kaca yang hampir mengenai Farhan.


"AAARRRGGGHHH!!!"


Belum sempat Farhan mengeluarkan sepatah katapun, punggungnya ditabrak dengan agak kasar oleh seorang Dokter dan perawatnya yang berlari panik. Farhan tidak beranjak, hanya diam melihat kehebohan didepannya hingga kembali tenang saat Chloe selesai diberi suntikan bius.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa pasien bisa sampai berteriak ketakutan dan kebingungan seperti tadi?" tanya Dokter kepada Chris yang mengelus-elus kepala anak sulungnya dengan raut khawatir.


"Ketika dia bangun dan melihat sekitarnya. tiba-tiba dia menjadi sangat histeris." Chris menjelaskan dengan suara parau.


"Kami pun tidak mengerti kenapa menjadi seperti itu."


"Ah, saya mengerti. Ini mungkin ada kaitannya dengan trauma yang diderita pasien. Besar kemungkinan keramaian adalah salah satu penyebabnya. Mulai sekarang, lebih baik ruangan pasien tidak berisi banyak orang." Dokter tadi tersenyum kearah orang-orang yang ada didalam ruangan sebelum pergi keluar dari tempat itu bersama suster yang bersamanya.


Dengan agak canggung, Farhan berjalan mendekat kearah suasana kelabu keluarga di ruangan tersebut. Orang pertama yang menyambutnya adalah Chris dengan wajah sendunya.


"Keadaan Chloe memang seburuk itu. Kamu barusan mendengarnya juga, kan?"


"Ya, saya mendengarnya." Farhan mendekat ke sisi ranjang dan dapat ia lihat keadaan Chloe lebih menyedihkan dari kemarin.


"Dan saya akan menyembuhkannya. Bagaimanapun caranya, saya akan menyembuhkan Chloe!"


"Kenapa lo bisa seyakin itu?" Arsen tersenyum meremehkan sembari tertawa mengejek.


"Ruangan berisi para keluarganya saja ia seperti itu. Apalagi dengan lo yang bukan siapa-siapanya? Itu hanya membuat keadaan Chloe memburuk, sialan!" Arsen terlihat sangat putus asa, dan semua tingkahnya sama sekali tidak membuat Farhan tersinggung atau marah. Karna, Farhan tahu itu semua Arsen lakukan karna merasa harapan begitu kecil untuk Chloe.


"Berikan gue waktu sampai lusa untuk buktiin kalau Chloe ada harapan sembuh. Kalau harapan itu ada, izinin gue membuat sakit yang dirasakannya hilang." Farhan menatap Arsen beserta anggota keluarga lainnya dengan penuh keseriusan. Tak ada keraguan sama sekali disana.


"Oh iya, gue punya sesuatu." Farhan membuka tasnya lalu mengeluarkan sebuah flower crown cantik dan memberikannya kepada Arsen.


"Ini ada titipan dari Angel, salah satu teman gue dan Chloe." Tanpa kata lagi, Farhan beranjak pergi dari ruangan itu. Meninggalkan tanda tanya besar untuk keluarga Chakradinata.


Hai haiii..


Thank you yang udah bacaaa


See you in next chapter<3