PAIN MAKER

PAIN MAKER
LUKA KEENAMBELAS



AUTHOR POV


...-PADA MALAM ITU-...


Diana berjalan dengan ragu menuju rumah Chloe. Sekali lagi ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Diana menghela nafas dengan panjang saat waktu telah menunjukkan pukul 12 lewat 10 menit.


"Ini terlalu malam untuk bertamu. Tapi kalau tidak sekarang, kapan lagi gue ngerjakan tugas bejibun itu? Harapan gue satu-satunya cuman Chloe sekarang. Semoga saja Chloe mau minjemin buku-bukunya," harap Diana.


Sebenarnya Diana juga tidak mau menganggu jam orang tidur. Hanya saja, ia harus bekerja keras untuk mencari uang dan baru sekarang memiliki waktu yang luang. Ketika ia ingin mengerjakan tugas itu, ia baru ingat jika tidak memiliki bahannya dan disinilah ia, berharap kepada seorang teman yang baik namun sayangnya selalu ia abaikan.


Diana menekan bel pintu rumah Chloe dengan harap-harap cemas. Takut jika Chloe terganggu atau lebih parah mengusirnya karna ketidak tahu diriannya sebagai teman.


"Nona Chloe!" seru Dewi dengan senyum lega ketika membuka pintu. Namun, saat yang ia lihat adalah seorang gadis asing dengan senyum canggung alias Diana, semua kelegaan Dewi lenyap entah kemana.


"Ah, maaf, saya kira tadi majikan saya yang datang."


"Chloe sedang tidak ada dirumah?" tanya Diana dengan perasaan kecewa bercampur kepo. Kecewa karna harapan satu-satunya tidak ada dan kepo tentang kemana Chloe selarut ini?


"Ya, Nona Chloe sedang pergi ke acara ulang tahun temannya. Apa ada yang anda butuhkan? Saya akan menyampaikannya jika Nona sudah pulang." Dewi bersikap senormal mungkin, memainkan peran seorang maid dengan professional.


"U-ulang tahun? Apa teman sekampusnya?" tanya Diana entah kenapa jadi sangat ingin tau. Dewi hanya diam dengan mata yang menatap Diana dengan tatapan meneliti.


Menyadari keteledorannya, Diana berdehem sambil berkata, "nama saya Diana. Saya adalah teman satu kelas Chloe."


"Oh, saya mengerti." Dewi mengangguk pelan lalu tersenyum sopan.


"Apa Nona Diana mau masuk dulu? Saya akan membuatkan minuman."


"Tidak usah, sebenarnya saya cuma mau minjem buku. Nggg... nanti saya akan datang kesini lagi." Diana menggaruk pipinya dengan salah tingkah. Sebelum Diana berbalik untuk pergi. Dewi menahan ujung jaket yang Diana kenakan dan itu membuat Diana menaikkan sebelah alisnya dengan penuh tanya.


"Nona Diana, kenapa anda tidak mendatangi acara ulang tahun Tuan Cleo?" tanya Dewi dengan nada ragu.


"M-maaf, saya hanya khawatir. Nona Chloe belum pulang dari acara itu padahal sudah selarut ini. Saya sangat khawatir."


"Tuan Cleo? Di kampus cuma ada satu orang yang namanya Cleo dan itu adalah kakak tingkat." Diana menatap Dewi dengan pandangan awkward sebelum kembali bersuara dengan tertawa kecil.


"Tidak mungkin. Kak Cleo kan ulang tahunnya masih 7 bulan lagi."


"A-apa? Nona Chloe mendapatkan undangan ulang tahunnya dan acaranya ada di Heaven Club. Katanya itu juga farewell party untuk acara perpisahan sebelum Tuan Cleo pergi keluar negeri." Dewi mulai keringat dingin dan perasaannya tidak karuan.


Dewi takut sekali Chloe kenapa-kenapa diluar sana. Diana mengernyitkan dahi, berfikir dengan keras. Tak sampai lima menit Diana menjentikkan jari sebelum mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya.


"Saya baru ingat kalau saya punya rekan kerja yang kebetulan termasuk teman dekat Kak Cleo. Tapi dia masuk kerja dan gak ada planned apapun sepertinya. Ah, mau saya tanyakan padanya, kah?" tawar Diana yang dibalas anggukan kuat dari Dewi.


Diana mencari kontak seseorang diponselnya lalu menghubungkan panggilan. Tak butuh waktu lama menunggu sampai panggilan itu diterima dengan suara lelaki yang terdengar bete.


"Ada apa sih? Ganggu gue tidur aja lo, Na."


"Kak, hari ini ada acara ulang tahun sekaligus farewell party gitu gak?"


"Apaan sih, Na? Salah sambung ya?"


"Kakak gak ada diundang Kak Cleo ke acaranya di Heaven Club?"


"Hah? Cleo gak ada buat acara. Lagian dia ulang tahun masih lama dan gak pernah dirayakan di Club liar gitu."


"Club liar?"


"Iya. Heaven Club itu kan tempat yang liar dan bebas. Semuanya bisa melakukan apa saja tanpa perlu takut digrebek atau apapun. Semacam gang Dolly, cuman jauh lebih berkelas gitu."


"O-oh, yaudah deh. Maaf ganggu waktu kakak, ya."


"Hm."


Panggilan itu pun diputus secara sepihak oleh sang penelpon. Diana meneguk liur dengan susah payah, bingung mau mengatakan apa kepada Dewi yang menunggu dengan wajah cemas yang begitu kentara.


"Bagaimana, Nona Diana?" tanya Dewi yang tidak mendapat balasan apapun dari Diana. Diana hanya diam sambil mengatur nafas sebelum tersenyum tipis dan menepuk bahu Dewi dua kali. Jika ia beritahu dewi, Diana yakin pasti dewi akan langsung menelpon polisi dan masalah ini akan ditutup dengan cepat karna tidak banyak orang yang mau berurusan panjang dengan masalah Heaven Club.


Pertanyaannya, bagaimana pelajar seperti Cleo bisa menembus keamanan ketat Heaven Club dan sampai menjebak seseorang kesana? Apakah Cleo memiliki kenalan orang dalam? Tanpa sadar Diana meneguk liur dengan susah payah.


"Anda gak perlu khawatir. Chloe akan pulang dengan selamat. Saya akan menjemputnya sekarang juga." Diana berbalik lalu berlari tanpa memedulikan Dewi yang memanggil-manggil namanya.


Entah ada angin apa, satu nama terlintas dikepala Diana dan tanpa ragu ia mengotak-atik ponselnya untuk mencari kontak seseorang. Masih terus berlari, Diana tersenyum tipis karna kontak yang ia simpan tanpa alasan akhirnya menjadi sangat berguna untuk saat ini. Diana terkadang mensyukuri hobi anehnya yang suka mengumpulkan kontak orang-orang


"Halo?"


"Halo, ini benar Kak Farhan, kan? Saya Diana, teman sekelasnya Chloe. Apa kakak bisa menolong saya? Ini tentang masalah Chloe."


"Goldie kenapa?"


"Dia sepertinya dijebak seseorang di Heaven Club. Kakak bisa datang kesana, kan? Saya akan tunggu di sekitar tempat itu."


"Ya, gue bakal kesana."


...~~~...


Tidak mudah untuk mengakses Heaven Club dan Diana maupun Farhan tau akan hal itu. Jadi, disinilah keduanya sekarang, menjadi pendaftar illegal dengan bantuan teman Farhan yang kebetulan hacker dan juga cracker kelas atas. Tanpa banyak tanya, teman Farhan langsung menerima permintaan itu.


Sebelumnya, Farhan dan Diana mencari tau tentang Heaven Club dan ternyata untuk masuk kesana harus mendaftar dan telah tercatat resmi. Atau bisa juga mendapatkan sebuah undangan dan inilah yang didapatkan oleh Chloe menurut Diana dan Farhan.


"Gue gak nyangka buat nembus komputer Heaven Club itu lebih susah daripada nembusin komputer kampus atau Bank nasional." Lelaki berkantung mata tebal itu terkekeh.


"Tapi tetap aja, itu cetek aja bagi gue yang pernah merusaksistem NASA dan mengacaukan komputer CIA."


"Gak usah sombong lul" seru Farhan dengan malas.


"Pokoknya, nanti gue kirim LINE kalo udah berhasil masuk, detik itu juga hapus nama gue dan Diana dari daftar itu, oke?"


"Gue sama sekali gak ingat sejak kapan jadi babu lo. Tapi, good luck aja deh apapun alasan lo berdua kesana." Lelaki itu menyesap kopi hitam disamping komputer dengan banyaknya kabel yang saling terhubung dengan beberapa alat aneh yang tak dimengerti oleh dua orang tamunya.


"Oh iya, sebelum pergi kesana, lebih baik kalian berdua berpakaian yang pantas untuk tempat itu. Untuk mengurangi kecurigaan aja sih."


"Oke. Thanks, bro." Farhan menepuk bahu lelaki itu sebelum menarik tangan Diana untuk segera bergegas ke Heaven Club.


...~~~...


"Gue mau pulang sekarang!" seru Diana sambil menyembunyikan diri dibalik punggung Farhan saat ada seorang lelaki yang menatapnya dengan tatapan nakal.


"Gue juga gak mau pake baju ini!"


"Ck. Lo sabar dulu napa sih? Itu baju paling sopan ditempat ini kok. Gak terlalu terbuka dan mencolok." Farhan memperhatikan sekitarnya dengan wajah datar.


"Ditiap sisi tempat ini sangat menjijikkan."


"Yalyalah! Cewek-cewek disini pada gak pake baju, kak!" seru Diana sambil memutar kedua bola matanya dengan bosan.


Saat ini Farhan dan Diana berada disebuah lorong yang lebih tenang dari ruangan utama yang sangat bising. Namun, seperti tidak punya malu setiap sisi tempat ini tidak luput dari orang becinta maupun orang-orang yang mabuk sampai tidak sadarkan diri. Tempat yang sangat sudah mengerikan.


"Kita sudah dua jam disini dan semua tempat sudah kita lihat. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Chloe maupun Cleo." Farhan dengan kesal menendang tubuh tak sadarkan diri seorang lelaki didekat kakinya. Saat tubuh itu sedikit jauh, ada sebuah kertas berwarna hitam seperti undangan dan sebuah sepatu heel.


"Eh? Apa ini?" Farhan mengambil kertas itu dan setelahnya kertas itu lecek didalam genggaman kuat Farhan


"Apa itu kak?" tanya Diana penasaran. Mau mencuri baca pun rasanya percuma, berjinjit pun ia masih tidak bisa karna tinggi Farhan terlampau jauh daripada dirinya.


"Chloe beneran ada disini. Tapi, ada dimana? Dimana Cleo nyembunyiin Chloe?!" Farhan mengacak rambutnya sambil menggeram kesal. Pikirannya begitu penuh dengan kemungkinan yang buruk yang bisa saja terjadi terhadap Chloe.


"Melelahkan sekali disuruh menonton adegan begitu."


"Iya. Niat untuk bergabung pun rasanya gak ada. Mau nolong pun juga gak bisa"


"Sebenarnya tidak tega juga sih. Lihat gak ceweknya tadi? Rasanya gak tega."


"Mau bagaimanapun juga dia tetaplah pelanggan kita. Untunglah sekarang kita bisa pergi."


"Tapi, kalo dipikir-pikir, bukannya terlalu muda untuk menggunakan barang berbahaya seperti itu?"


"Mungkin senang BDSM? Siapa yang tau? Intinya dia bayar."


"Semangat anak muda mengerikan sekali."


"DIMANA PELANGGAN KALIAN ITU, HAH?! JAWAB!!!" Teriak Farhan dengan kalap. Tak peduli jika pelanggan yang dimaksud mungkin bukanlah seseorang yang ia cari, Cleo. Saat dua orang itu ingin berontak, Diana dengan cepat bergerak menghampiri dan membantu Farhan untuk mengunci pergerakkan dua pria itu. Kali ini, benar-benar tidak ada ruang untuk melepaskan diri.


"T-tunggu! Ada apa sebenarnya ini?" tanya salah satu pria dengan wajah oriental dan kulit pucat.


"Kalian ada membicarakan tentang pelanggan dan siapa dia?!" Farhan mengeratkan kunciannya hingga dua orang itu meringis.


"Seenggaknya jelaskan cewek yang bersama dengan pelanggan kalian itu!"


"Lepaskan kami dulu," pinta pria satunya yang memilikki wajah kemerahan dengan mata abu-abu yang indah. Farhan dan Diana melepaskan kuncian mereka dengan mata yang siaga. Takut-takut jika dua pria itu kabur dari mereka.


"Jangan memasang wajah seram begitu. Kita tidak akan kabur," jelas si pria mata abu-abu.


"Cewek itu memiliki rambut panjang kecoklatan, tubuh yang indah, dan sepertinya masih berusia awal dua puluhan. Oh, kalo tidak salah dengar, pelanggan kita menyebut cewek itu dengan nama Chloe."


Farhan dan Diana terbelalak, tubuh mereka terasa membeku dan jantung yang berpacu sangat kencang. Kemungkinan buruk yang mereka pikirkan punya peluang besar menjadi lebih buruk.


"Tunjukkan pa-pada kami tem-tempatnya... k-kami mohon..." pinta Diana tanpa sadar air matanya sudah mengalir bebas dipipinya. Tak dapat dipungkiri kalau Diana takut dengan apa yang terjadi pada Chloe saat ini.


"K-kami kesini m-mau menolongnya... t-tolong bantu kami... cewek itu temen kami!"


"Jangan menangis. Y-ya, kami kasih tau ruangannya." Pria berwajah oriental melirik temannya dan temannya itu mengangguk mengiyakan.


"Kalian pergi kesayap kanan ruangan ini lalu buka pintu kecil diujung ruangan. Kalian bisa memakai kunci milik kami, kebetulan kami punya. Tidak ada yang bisa mencapai ruangan itu secara sembarangan karna itu tempat rahasia. Jadi, kalian harus hati-hati dan simpan benar-benar kunci itu agar tidak ketahuan jika kami yang membocorkan, oke? Kunci itu ada label nama kami."


"Thanks." Farhan tersenyum tipis sambil mengangguk kuat lalu merangkul Diana yang masih menangis.


Kedua orang pria itu memperhatikan punggung Farhan dan Diana yang mulai menghilang dari pandangan mereka dengan senyum kecil.


"Semoga mereka berhasil. Aku tidak tega sekali melihat cewek itu."


"Penjahat macam apa kamu ini? Kenapa baik sekali memberikan kuncinya?"


"Kamu juga yang menyetujui! Cih. Secepatnya kita harus berhenti dari pekerjaan kotor ini."


"Ya. Aku pun lelah melihat orang-orang menderita ditangan-tangan gila itu "


...~~~...


"Hosh... apa masih... hosh... jauh tempatnya... hosh... Kak?" tanya Diana dengan nafas yang ngos-ngosan dan wajah memucat. Farhan melihat gadis itu sudah berada diambang batas akhirnya membiarkan gadis itu beristirahat sejenak. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Diana langsung jatuh terduduk sembari mengatur nafas.


"Satu lantai lagi dan kita akan sampai ketempat si brengsek itu berada." Farhan mendudukkan diri disamping Diana sambil melihat jam dipergelangan tangannya.


"Ck. Sudah jam setengah 5 pagi sekarang."


"APA?!" teriak Diana lalu dengan cepat melihat jam yang melingkar ditangannya. Diana tiba-tiba menjadi bersemangat kembali, semua kelesuannya hilang entah kemana.


"KITA HARUS CEPAT KAK! AYO, AYO!" Diana berlari menaikki anak tangga seakan dia tidak pernah kelelahan sebelumnya.


Farhan tidak langsung mengikuti gadis itu melainkan bengong sesaat. "Apaan anak itu? Tadi bukannya capek? Aneh banget kayak si Kak Mea." Farhan menggeleng kuat saat nama Mea terlintas dikepalanya.


"Gak usah ingat Mea, ah. Serem banget." Dan Farhan pun menyusul Diana yang sudah jauh didepannya.


PLAK!


"DIAM!!! SIAPA YANG NYURUH LO NGOMONG, ******?!"


Farhan dan Diana yang mendengar bunyi tamparan dan teriakkan itu saat telah sampai didepan sebuah pintu yang sudah mereka pastikan tempat dimana Cleo menculik Chloe.


"Pintunya dikunci, kak." Diana menggerak-gerakkan gagang pintu dengan tidak sabar.


"Bahkan gagang ini macet dan keras ban-" Diana terdiam saat ia melihat tatapan nyalang dan kobaran amarah yang terlihat jelas didalam sosok Farhan. Tanda peringatan dikepala Diana mengisyaratkan untuk menjauh dari situ dan membiarkan Farhan melakukan tugasnya.


Saat Diana menjauhkan diri dari depan pintu, tidak ada reaksi apapun dari Farhan. Farhan hanya diam dan menatap pintu didepannya seakan pintu itu akan terbuka dengan sendirinya. Ketika Diana ingin mengeluarkan suara, gadis itu sudah dikejutkan dengan Farhan yang tiba-tiba berlari menjauh meninggalkannya sendiri.


"Loh? Kak?" Diana menatap punggung yang berlari itu dengan bingung lalu berpindah ke pintu ruangan tempat Cleo berada dan begitu terus berulang-ulang.


"Duh, gue musti gimana nih? Mau didobrak mana bisa guenya." Diana hampir saja menangis karna kebingungan dan ketakutan jika saja ia tak mendengar derap langkah kaki yang berlari cepat. Diana menoleh kearah suara dan matanya terbelalak begitu melihat Farhan yang belari mendekat dengan membawa tabung pemadam api. Melihat itu, reflek Diana bergerak menjauh dan Farhan pun menerjang pintu itu dan...


"BRENGSEK! LEPASKAN CHLOE SEKARANG!!!" teriak Farhan dengan menggelegar. Mata nyalang Farhan meneliti ruangan dan kemarahannya meningkat kembali saat ia melihat tubuh telanjang Chloe yang penuh luka dan Cleo dengan seringai lebarnya. Diana memasuki ruangan dan gadis itu menutup mulut menggunakan kedua tangannya karna syok.


"A-apa-apaan ini..." gadis itu tanpa aba-aba berlari menghampiri Chloe untuk menutupi tubuh gadis itu. Namun ternyata niat baik Diana menjadi kesempatan emas bagi Cleo yang langsung beranjak dan secepat kilat menyekap Diana.


"Gue gak tau gimana lo berdua bisa sampe sini. Tapi, baguslah, gue gak perlu repot-repot manggil kalian, terutama lo, kesini." Cleo menatap Farhan dengan dingin.


"Chloe sudah hancur seperti apa yang lo lakuin pada Silvia dulu! BRENGSEK!!!" Cleo menyekap Diana semakin kuat dan itu membuat gadis malang itu terbatuk-batuk karna tercekik. Farhan tersenyum lemah lalu menaruh tabung ditangannya dengan perlahan. Hilang sudah niatnya untuk membunuh Cleo sampai mati menggunakan tabung itu. Farhan merasakan matanya memanas dan dengan langkah terseok melangkah menghampiri Chloe yang terisak dengan mata terpejam kuat.


"Chloe tidak akan hancur. Selagi gue masih hidup, gue akan menjamin dia tidak akan hancur." Farhan meraih tubuh Chloe lalu membungkus tubuh itu menggunakan selimut sebelum mendekapnya dengan erat. Begitu erat.


"Karna Chloe adalah Chloe. Chloe bukanlah siapapun apalagi Silvia. Chloe Chakradinata adalah perempuan yang aku cintai dan tidak akan pernah hancur selama aku terus sanggup mendekapnya seperti ini."


"HENTIKAN OMONG KOSONGMU ATAU GUE BUNUH ****** INI?!" Teriak Cleo dengan kalap dan kedua tangan yang sudah melingkar kuat dileher Diana. Diana terbaruk-batuk dengan tangan yang memukul-mukul lemah kedua tangan Cleo. Semua rasa lelah membuat gadis itu tidak dapat melawan sedikitpun.


"Apa yang lo dapetin dengan menyakiti kami?" tanya Farhan dengan setetes air mata yang lolos dari mata kirinya.


"APA YANG LO DAPETIN, HAH?! LO KIRA SILVIA BAKAL SENANG DI ALAM SANA?!!!" Farhan berteriak kuat dan itu membuat Cleo mencekik Diana lebih kuat sampai membuat tubuh gadis itu terangkat.


Wajah Diana sudah sangat pucat dan pergerakkannya melemah. Melihat keadaan Diana yang mulai membahayakan, Farhan melepaskan pelukannya dari tubuh Chloe dengan hati-hati sebelum menerjang tubuh Cleo dan menghajar dengan beringas. Tubuh Diana jatuh terhempas dilantai. Gadis itu terbatuk-batuk lalu menghirup oksigen dengan rakus.


"APA DENGAN GINI SILVIA BAKAL TENANG?!"


BUK! BUK!


"LO IDIOT! APA LO GAK MIKIRIN ORANG-ORANG YANG SAYANG SAMA LO?!"


BUK! BUK! BUKKK!


"ORANG TUA, SAHABAT, DAN SEMUANYA! SECEMEN APA SIH LO SAMPE GAMAU MOVE ON DARI KEMATIAN SILVIA?!"


BUK! BUK! BUK! BUK! BUK!


"HIDUP LO GAK CUMA DIPAKE BUAT NANGISIN SILVIA, GOBLOK!!!!


BUK! BRAAAKKK!!!


Farhan mendecih saat air matanya jatuh diwajah Cleo yang sudah tidak karuan karna pukulan demi pukulan yang ia berikan. Farhan merasa oksigen dirampas habis darinya dan hatinya benar-benar dihancurkan tanpa ampun. Fisik dan mental Farhan rasanya sangat lelah dan begitu sakit. Sakit yang rasanya bisa membunuhnya saat itu juga.


Farhan bangkit dari posisinya dengan tertatih sambil berkata dengan suara serak.


"Gue bakal laporin perbuatan ini ke polisi."


"Gak perlu," ucap Cleo dengan susah payah Ikut bangkit. Tubuh Cleo gemetaran, sekuat tenaga merangkak untuk menghampiri sesuatu. Farhan mundur teratur menuju Diana dan Chloe yang ada dibelakang sambil memasang wajah waspada. Cleo terus merangkak dan merangkak hingga kedua tangannya meraih-meraih kolong kasur dan...


"S-sampai akhir pun g-gue gak b-bisa ngala-hin lo. Gue me-mang payah. T-tapi, su-suatu saat gue a-akan meng-alahkan l-lo."


DORRR!


... Kindy menembak kepalanya sendiri dengan pistol yang tersembunyi dibawah kolong kasur.


"A-what the "Farhan terbelalak lalu dengan kasar menyumpah saat melihat tubuh Cleo kini tergeletak bersama darah yang mengalir deras dari kepala lelaki itu


"K-kak Farhan, Lihat barang-barang itu." Diana bersuara pelan sambil menunjuk kesebuah tumpukkan barang-barang. Perasaan sakit itu muncul kembali di dada Farhan saat ia melihat borgol, kalung rantai, cambuk dan beberapa barang lainnya.


"Jangan bilang kalau..."


"Diana, telpon taksi sekarang dan sisanya biar gue yang urus." Farhan menggendong bridal tubuh Chloe yang sudah tertutup sepenuhnya dengan selimut tebal dan hangat. Farhan yakin jika Diana yang memperbaiki lilitan selimutnya. Tanpa bersuara, Diana langsung melakukan perintah yang Farhan berikan.


"S-sakit..." lirih Chloe dengan wajah yang begitu pucat dan nafas yang begitu berat.


"Hiks. S-sakit..." Chloe masih tidak mau membuka matanya. Seakan hal paling mengerikan ada didepan matanya jika ia membuka mata.


"Gue disini, Chlo. Bersama gue, lo akan baik-baik saja." Farhan mencium kening Chloe lama dan sangat lembut. Menuangkan semua kasih sayangnya dan kehangatannya untuk gadis yang tengah terluka didalam pelukannya.


"Gue yang bakal nyembuhin lo. Jadi, lo jangan takut ya, Chloe."


Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Chloe, hanya mata yang terpejam dan isakan halus yang keluar dari bibirnya.


See you in next chapter guys