
AUTHOR POV
"Nah, sambil nunggu makanan delivery kita datang, enaknya ngapain ya?" tanya Nata sambil mengetuk telunjuknya didagu.
"Duh, kenapa Chloe canggung gitu sih sama Bang Daniel? Santai aja. Gak usah tegang-tegang, kalian gak lagi mau malam pertama kok." Nata cengengesan lalu dengan sigap menghindar saat Daniel hampir menjitaknya.
"Bang Daniel gak ada ngajarin kamu seperti itu loh, Ta. Belajar darimana kamu?" tanya Daniel dengan mata menyipit. "Gara-gara Rey, ya?"
"Apaan sih! Kok jadi bawa-bawa Rey?" Nata cemberut dan tak sengaja matanya menangkap tatapan penuh ingin tau dari Chloe.
"Apa? Kenapa natapnya penasaran gitu?"
"Rey kenalanmu itu nama panjangnya siapa? Jangan-jangan ini Rey yang kukenal. Kebetulan dia satu sekolah denganmu loh." Chloe semakin mendekatkan diri kepada Nata, otomatis semakin berdekatan pula dengan Daniel. Sepertinya Chloe sudah mulai nyaman dengan keadaannya.
"Biar kutebak, nama panjangnya Reyhan Aulia Faqih?"
"LOH, KOK BENER?!" teriak Nata membuat Chloe tersentak dan Daniel menyentil kening adik satu-satunya itu hingga sang korban meringis.
"Jadi bener, ya? Rey itu dulu satu SMP sama Arsen dan aku. Tau gak, mereka berdua adalah musuh bebuyutan," jawab Chloe dengan tertawa geli.
"Coba deh tanyain ke Rey kalo gak percaya. Ah~ aku gak nyangka kalian berdua bisa saling kenal."
"Indonesia sesempit apa sih? Kok bisa kenal gitu?" Nata mengernyitkan dahinya sambil mengusap dagunya.
"Euhm, tapi kenapa mereka bisa musuhan? Rasanya Rey itu cowok yang cinta damai deh."
"Kamu bisa tanyakan sama Arsen nanti," ucap Chloe sambil tersenyum lebar terkesan mengejek, dan itu membuat Nata kesal melihatnya.
"Aku baik loh. Dengan begitu, kamu bisa deketin Arsen, kan?" Chloe melanjutkan ucapannya sambil memainkan sebelah alisnya.
"Bener juga sih..." gumam Nata dengan wajah polos, membuat Chloe tertawa lepas lalu mengacak-acak rambut Nata dengan gemas.
"Mirip banget kamu sama Hana, Ta! Bener kata Arsen berarti," ucap Chloe masih dengan rasa gemasnya.
"Mirip Hana? Aku?" tanya Nata yang dibalas anggukan dari Chloe. Tak lama, tawa Chloe lenyap dan perlahan menjauhkan kedua tangannya dari kepala Nata. Semua itu karna ekspresi Nata yang terlihat tidak enak.
"Aku... tidak suka disamakan dengan perempuan itu."
"Oh iya, nanti malam kita jalan-jalan bertiga yuk?" ajak Daniel sesemangat mungkin ketika suasananya jadi tegang.
"Kita cari makanan enak sampe perut meledak. Kalian berdua kan hobinya makan."
"MAKAN? BOLEH!" seru Chloe dan Nata bersamaan. Menyadari kekompakkan itu, Chloe dan Nata saling tatap lalu tawa mereka berdua pun lepas. Suasana yang sempat tegang kini kembali normal. Daniel ikut tertawa lalu mengusap kepala dua gadis itu dengan lembut.
"Kan, kalo masalah makan aja jadi kompak gitu-"
TING... TONG...
Chloe, Daniel, dan Nata saling tatap lalu tersenyum penuh arti secara bersamaan.
"MAKANAN KITA SUDAH DATANG!!!" seru mereka bertiga dengan kompaknya sebelum berlari dengan tawa yang mengiringi.
Disaat yang sama, diruang tengah kediaman Chakradinata terlihat lebih tenang dari biasanya. Hanya ada Arsen yang sibuk bermain Nintendo, Darren yang menonton Tom & Jerry di Cartoon Network dan Lenka yang asik membaca manga sambil berbaring santai diatas sofa.
"Aaaahhh baru juga kemaren ditinggal Chloe tapi rasanya sepi banget. Kembali kerutinitas dengan seorang cheater lagi deh." Arsen menghela nafas berat lalu merebahkan kepalanya ditepi sofa yang dibaringi oleh Lenka. Lenka melirik sekilas kearah sang kakak sebelum melanjutkan bacaannya. Gadis itu terlalu malas berdebat saat ini.
"Gak usah cari perkara deh lu." Darren tertawa kecil tanpa beralih dari acara kartun kucing dan tikus yang sedang kejar-kejaran itu.
"Seneng banget sih lo gangguin singa galak."
"Kalian berdua sama aja." Lenka berucap datar tanpa menghentikan aktifitasnya. Hanya begitu saja mampu membuat Arsen dan Darren meringis dan memilih tidak mengganggu gadis itu lagi.
"Coba aja gak ada TO, mungkin gue bisa anterin Chloe ke Jogja kemaren. Kenapa TO diadain cepat banget sih?" Darren menyenderkan tubuhnya ditepi sofa, seperti apa yang dilakukan oleh Arsen sebelumnya.
"Gue ngerasa payah karna gabisa ngantar pacar seenggaknya sampe Bandara doang. Ck, payah banget."
"Kak Chloe pergi barengan sama Kak Daniel kok," timpal Lenka. Arsen terbelalak dan diam-diam merutuki Lenka saat Darren mengerutkan kening lalu menatap gadis itu dengan penuh tanya.
"Iya, kemaren pagi mereka berdua berangkat bareng." Lenka melanjutkan ucapannya tanpa mengalihkan perhatiannya dari manga yang dia baca.
"Tenang aja, Ren, mereka berangkat bertiga kok. Ada Nata ikut juga." Arsen menepuk bahu Darren yang ekspresi wajahnya semakin tidak terbaca.
"Gak usah terlalu dipikirkan, bro. Percaya ajalah sama Chloe disana. Nasib LDR kan memang susah.
"Gue bakal percaya kalo kejadian itu tidak pernah terjadi." Darren mengacak rambutnya dengan kesal. Menimbulkan tatapan penuh tanya dari Arsen.
"Ck, gak usah dipikirin omongan gue yang barusan."
"Lenka juga dapat kabar kalo kak Daniel kemaren nginap dirumah kak Chloe." Lenka kembali bersuara dengan santainya.
Mengabaikan wajah kaget dari Darren dan pelototan dari Arsen yang mulai panik.
"Mereka pasti bersenang-senang bersama."
"Ren, disana ada Nata kok. Mereka gak berduaan..." Arsen tanpa sadar meneguk liur dengan susah payah saat melihat ekspresi datar dan tangan terkepal dari Darren.
"Lo mendingan tenangin diri sekarang. Gak usah mikir aneh-aneh, oke?"
"Apa lo bakal tenang kalo tau cewek lo tinggal sendiri dan ada cowok lain menginap, hah?" Darren menarik kerah baju Arsen. Nafas Darren sudah tidak teratur dan matanya penuh kilat amarah.
"Apa lo bakal tenang dan berfikir positif?" Arsen hanya diam tanpa bisa membantah. Siapapun akan takut, marah, dan curiga seperti yang dilakukan oleh Darren.
"Kenapa tidak datengin aja rumah kak Chloe? Untuk memastikan semua kecurigaan kakak." Lenka mengulum senyum dibalik manga yang ia baca begitu melihat kegalauan Darren semakin menjadi.
"Cih, nyatanya kak Darren terlalu pasif."
"Lenka!" seru Arsen sambil berdesis penuh kekesalan sebelum merasa oksigen mulai berkurang.
"R-renn..." Arsen mencoba melepaskan tangan Darren yang sudah mencekek lehernya entah dari kapan. Bukannya lepas, cekekkan Darren tambah kencang.
"L-le-uhuk-aakkhh-le..." wajah Arsen mulai pucat dan cekekkan Darren juga tambah kencang. Melihat nyawa Arsen mulai terancam, Lenka bangkit dari posisi baringnya untuk memukul wajah Darren dengan manganya dengan sangat kuat.
Terlalu kuat hingga Darren melepaskan tangannya dari leher Arsen. Darren mengaduh sambil mengusap-usap wajahnya yang terasa perih. Disaat itu juga Arsen mengambil jarak aman dari Darren lalu menghirup udara dengan sangat berlebihan.
"Kegalauan kak Ren hampir merenggut nyawa seseorang loh tadi." Lenka tertawa kecil sembari menggeleng pelan.
"Kalo emang curiga, datangin aja kali kak." Darren tidak menggubris ucapan Lenka. Pikirannya kembali diingatkan pada hari dimana Farhan mencium Chloe seenaknya didepan kedua matanya. Kejadian yang terlalu membekas diingatan nya.
"Takut, ragu, curiga, dan over-thinking adalah salah satu penyebab lemahnya suatu hubungan. Kalau merasakan keempatnya? Lenka rasa sudah tidak ada harapan lagi." Lenka menutup setengah wajahnya menggunakan manga untuk menyembunyikan seringainya.
"Kalo Lenka jadi kak Ren, dari awal lebih baik jadi sahabat aja. Peluang untuk bahagia bersama... terlalu kecil."
Tanpa memberi kesempatan Darren untuk membuka suara, Lenka menjauh dari tempat itu dengan langkah yang cenderung pelan dan sangat santai. Seringai yang ia sembunyikan tidak juga luput namun semakin lebar saat ia mendengar Darren menyerukan namanya.
"Gue gak akan kalah! Gue gak akan nyerah! Gue bakal tunjukkin ke lo kalo Chloe dan gue bisa bahagia bersama!!!" seru Darren berapi-api membuat Lenka berhenti melangkah dan menoleh kearah lelaki tersebut.
"Kayak kata lo tadi... gue bakal susul Chloe malam ini!"
"Meski kurang yakin, Lenka doakan semoga berhasil deh." Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Lenka kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Tapi kali ini diiringi senyum mengejek dan gumaman meremehkan yang tidak enak didengar.
...~~~...
DANIEL POV
"Nata aktif banget, ya? Dalam sekejap dia langsung hilang gitu..." gumam Chloe setelah melihat Nata yang menghilangkan diri begitu melihat makanan-makanan di Jalan Malioboro ini. Aku sih gak khawatir karna dari awal sudah jelas ini rencananya. Ternyata untung besar memiliki tim kejahatan seperti Nata dan Lenka.
"Nata dan makanan itu udah kayak pasangan sejiwa. Gak bakal bisa dipisahkan." Aku merangkul bahu Chloe yang begitu kecil, membuatku ingin terus disampingnya. Melindunginya.
"Mending kita pikirin si Nata nanti aja. Ada banyak makanan yang nungguin kita di depan sana." Aku harus menahan diri untuk tidak memeluk Chloe ketika melihat rona kemerahan dipipinya serta anggukan malu-malunya. Duh, kenapa aku gak suka nih anak dari dulu ya? Chloe itu jauh lebih manis dan cute dibanding Greisy ternyata.
Aku dan Chloe berjalan-jalan menikmati keramaian Jalan Malioboro sembari menikmati jajanan khas kota ini. Memang bukan hal aneh jika Jalan ini selalu dipenuhi para wisatawan maupun warga lokalnya. Tapi, dibanding itu semua, aku lebih tertarik dengan senyum Chloe yang merekah. Begitu indah dibawah lampu-lampu yang menghiasi tempat ini. Aku sama sekali tidak bosan melihat tawa dan senyum Chloe.
"Seru banget ya!" seru Chloe setelah menghabiskan es tehnya dan membuang gelasnya ditempat sampah terdekat. Wajahnya terlihat kelelahan, tapi senyumnya masih merekah lebar. Terlihat menikmati sekali jalan-jalan malam ini.
"Iya! Eh, tapi... sekarang Nata udah. diparkiran. Aku antar kamu pulang sebelum aku dan Nata balik ke rumah penginapan, oke?"
Sekilas dapat kulihat ekspresi tidak rela dari Chloe sebelum berganti menjadi senyum tipis dan anggukan. Apa Chloe masih belum puas jalan-jalannya? Ah, aku jadi punya ide.
"Chloe, kamu mau ke suatu tempat dulu gak?"
...~~~...
AUTHOR POV
"Aku baru kali ini ke Bukit Bintang..." Chloe menatap takjub pemandangan kota Jogja yang begitu indah dari atas salah satu tempat romantis yang ada di Jogja, Bukit Bintang.
"...ini lebih indah dari apa yang aku dengar dari orang-orang."
"Kamu senang?" tanya Daniel yang dibalas anggukan kuat dari Chloe. Melihat reaksi positif itu, Daniel tersenyum kecil.
"Untung aja Nata ketiduran, ya. Kita jadi gak diganggu sama dia."
"I-ih, Kak Daniel apa banget sih..." Chloe membuang wajahnya kepada pemandangan didepannya kembali saat ia rasakan wajahnya memanas.
Bukit Bintang adalah tempat yang begitu romantis dan Chloe berpikir betapa bahagianya kalau ia dan Darren disini bersama. Seketika wajah Chloe menjadi sedikit sedih mengingat Darren. Belakangan ini, debaran itu sudah mulai menghilang dan hanya ada perasaan sedih dan takut saat melihat sosok Darren. Sedih karna hubungan yang tidak lancar dan takut untuk kehilangan suatu hari nanti.
"Chloe, kamu melamun?" Daniel menggerak-gerakkan tangannya didepan wajah Chloe hingga lamunan gadis itu buyar.
"Kamu sedang mikirin apa? Darren?" tanya Daniel setenang mungkin. Daniel menahan sekuat tenaga kekecewaannya saat melihat Chloe mengangguk mengiyakan. Untuk marah, sebenarnya Daniel tidak ada hak apapun, kan? Saat ini Chloe berhak memikirkan pacarnya dan Daniel tidak bisa melarang hal itu.
"Aku cuma ngebayangin gimana kalo aku kesini sama Darrenn. Pasti menyenangkan banget, ya?" Chloe tertawa kecil sebelum menghela nafas dengan berat.
"Tapi, Darren tidak ada disini dan kenyataannya aku sekarang bersama kak Daniel. Itu sedikit ngebuat aku sedih,"
"Kalo kamu tidak senang, kita bisa pulang sekarang." Daniel sudah tidak bisa menahan kekesalannya lagi. Sekuat tenaga Daniel menahan amarahnya, namun hal itu malah membuat Daniel bersikap dingin kepada gadis itu.
"Bu-bukan gitu maksudku, kak. Aku senang bisa jalan-jalan sama kakak. Senang banget malahan. Hanya saja..." Chloe mengusap wajahnya dengan kasar.
"Aku gak ngerti kenapa jadi bego banget sekarang. Aku beneran gak ngerti lagi apa yang aku mau sebenarnya."
"Kamu tau, orang yang jatuh cinta memang jadi lebih bego karna kehilangan 10 point IQ-nya." Daniel membaringkan diri dengan kedua tangan menjadi bantalnya.
"Sebenarnya, setiap manusia memang jadi bego kalo udah masalah perasaan. Setinggi apapun pendidikannya. atau secerdas apapun otaknya. Karna, perasaan manusia itu rumit dan susah dimengerti bahkan oleh diri mereka sendiri."
Chloe menoleh lalu menatap wajah Daniel yang berbaring sembari memejamkan mata disampingnya.
"Apa kak Daniel juga merasa seperti itu waktu jatuh cinta sama kak Greisy?"
"Kurang lebih seperti itu. Tapi kali ini rasanya lebih rumit. Sekarang aku memiliki perasaan rumit yang sangat besar untuk seseorang." Daniel tersenyum lembut dengan mata yang perlahan terbuka. Saat itu juga mata mereka berdua bertemu.
"Perasaan yang bisa membuatku melakukan apapun demi mendapatkannya dan membahagiakannya. Perasaan yang bisa membuatku menghancurkan apapun agar bisa meraihnya dalam pelukanku."
Chloe merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Sangat cepat dan gila. Lalu sesuatu terjadi dengan tak kalah cepat. Secepat Daniel menarik tangan Chloe dan merengkuh tubuh itu diatas tubuhnya. Lalu, kedua bibir dua orang itu bertemu. Bersentuhan dengan sangat lembut hingga bibir yang lebih mungil dan tipis pun terhanyut. Kedua bibir itu saling bertautan dengan perasaan yang terasa semakin menggila dan meluap. Sampai tautan itu terlepas dan meninggalkan rona merah yang disamarkan dengan cahaya bulan. Tidak lupa meninggalkan senyum canggung dan keheningan diantara mereka.
Darren memukul stir mobilnya dengan penuh rasa kecewa dan amarah. Terasa seperti ada yang mengikat kuat tubuhnya hingga ia tidak bisa berbuat apapun selain menonton dua orang yang berciuman dijarak yang cukup jauh dari posisinya. Namun dia sangat yakin kalau dua orang itu adalah orang yang ia kenali. Salah satunya adalah pacarnya sendiri. Lagi-lagi Darren dihancurkan dan pelakunya adalah gadis yang sangat ia cintai.
"Gue gak tau harus benci atau berterima kasih dengan aplikasi bernama Path." Darren tertawa getir dan kemarahan semakin menjadi begitu melihat dua objek didepannya mulai pergi dari tempat itu.
"Apa maksudnya ketempat seperti ini berdua? Mereka berdua mempermainkan gue, ya?" tawa getir itu terdengar menjadi sangat menyakitkan dan menyimpan begitu banyak kekecewaan.
"Gue ini sebenarnya apa? Apa artinya gue bagi Chloe?" Darren menjatuhkan kepalanya di stir mobil dan tak dia cegah air mata yang mengalir. Dalam keheningan malam di Bukit Bintang, Darren membiarkan semua perasaannya keluar melalui hal yang menurutnya sangat memalukan; menangis.
"Gue bisa melakukan apapun, Chloe. Sekalipun ninggalin Tuhan, gue bakal lakuin kalo itu memang bisa nyatuin kita." Darren merasakan kepalanya begitu pusing dan tak bisa ia tahan teriakkan yang begitu keras dan sarat akan luka keluar dari bibirnya. Kali ini Darren merasa sangat hancur.
"Tapi... kenapa lo begini sama gue, Chloe? Gue gak mau ninggalin lo... gue gak mau kehilangan lo, Chloe..." Darren terus meracau. Menghabiskan malam dengan luka yang semakin parah, ditemani lampu-lampu kota jogja yang perlahan mulai padam satu per satu.
Di lain tempat, Farhan menatap ponselnya dengan wajah datar. Yang ia tatap pun sedari tidak berubah, yaitu updatean Path Daniel yang sedang bersama Chloe di Bukit Bintang. Hingga akhirnya Farhan menghela nafas sembari melempar ponselnya dengan asal disampingnya.
"Farhan, diluar ada Mea mau ketemu." Farhan menoleh dengan malas kearah pintu kamarnya yang terbuka lebar dan menampilkan sosok ibunya. Setelah itu, tanpa menutup pintunya lagi, wanita itu pergi menjauh dari kamarnya. Kebiasaan orang-orang yang membuat Farhan kesal adalah tidak menutup pintu kamarnya kembali.
"Kak Mea? Mau apa lagi dia kesini?" Farhan akhirnya memilih untuk menemui seseorang yang bernama Mea tersebut. Farhan menuruni tangga dan dapat ia lihat diruang tamu rumahnya sudah ada ibunya bersama sosok perempuan yang masih lengkap dengan pakaian kerjanya duduk di sofa. Wajah perempuan itu terlihat lelah namun tidak mengurangi kecantikannya. Dan perempuan itu sudah dipastikan adalah Mea.
"Kak, ada apa tiba-tiba mau ketemu malam-malam gini?" tanya Farhan membuat obrolan Mea bersama ibunya terhenti.
"Pulang kerja bukannya balik ke rumah ini malah keluyuran. Emangnya gak capek apa?"
"Perhatian banget sama gue, Han." Mea tertawa dan itu membuat Farhan memutar bola mata dengan bosan.
"Mea, tante tinggal dulu ya? Kalo Farhan nakal, tampar aja pantatnya." Ibunya Farhan cekikikan sambil menjauh dengan cepat saat Farhan menatapnya dengan tajam.
"Sekarang, ada urusan apa kak Mea kesini?" tanya Farhan sambil mendudukkan diri di sofa tunggal yang cenderung paling jauh dari tempat yang Mea duduki, Saat Mea hendak berpindah tempat duduk, dengan cepat Farhan mengangkat tangannya sambil berkata,
"Tahan! Lo disitu aja!"
"Kenapa lo sekarang makin jahat sama gue, Han? Padahal waktu kecil lo paling demen mandi dan tidur sama gue." Mea tertawa melihat ekspresi bete dari Farhan yang menurutnya sangat lucu.
"Ck, kalo cuma mau ganggu gue aja mending lo pulang deh." Farhan reflek berdiri dan melompat kebelakang sofa untuk bersembunyi saat Mea mendekatkan posisi duduknya.
"JAGA JARAK SAMA GUE! DASAR LO TANTE PEDO!"
"Ih, kenapa lo jauhin gue mulu sih? Gak tau kalo gue cintanya sama lo aja?!" Mea mengerucutkan bibirnya dengan lucu.
"Umur kita cuma beda 5 tahun tau! Itu gak termasuk pedo!" Mea menggerutu kesal dengan tangan yang bersidekap.
"Lagian umur gue juga baru 25 dan itu bukan tante-tante!"
"Pokoknya lo tetap tante pedo kalo masih genit sama gue!" Farhan masih menjaga jaraknya dari Mea.
"Kak Mea emang gamau cari cowok lain? Dikantor gak ada cowok yang bisa digebet, hah?!"
"Yang gebet gue sih banyak, tapi kan gue cintanya sama lo aja, Han-" Mea mengedipkan sebelah matanya dengan genit. Membuat Farhan merinding melihatnya.
"Karna dari dulu gue adalah jodoh lo." Mea menunduk untuk melihat kalung yang ia kenakan lalu mengelusnya dengan penuh rasa bangga dan sayang.
"Nih kalung yang lo kasih waktu ngelamar gue masih ada."
"ITU KAN KALUNG DAPET DARI SNACK DOANG, KAK! KENAPA MASIH DIANGGAP SERIUS SIH? WAKTU ITU GUE MASIH BOCAH DAN GAK NGERTI APA-APA!!!" Farhan terlihat sangat frustasi sekarang.
"FARHAN JANGAN BERTERIAK! INI SUDAH MALAM!" seru Ibunya Farhan dari lantai dua dengan cemprengnya. Padahal wanita itu juga berteriak, ya?
"Udah, mending sekarang kak Mea pulang aja. Besok harus kerja, kan? Pergi sana!" usir Farhan masih menyembunyikan diri dibalik sofa tunggal didepannya.
"Kalo gak pergi nanti gue makin benci loh!"
"Yaudah gue pergi," ucap Mea cepat saat mendengar ancaman dari Farhan.
"Kalo gak sibuk, nanti gue datang kesini lagi. Daaahhh calon suamikuuu-" Mea melambaikan dengan genit sebelum pergi dari rumah kediaman Farhan dengan sedikit melompat-lompat seperti anak kecil.
"Ya Allah, berilah hambamu yang bernama Mea kesibukan yang sangat melimpah. Aamiin." Farhan mengamini dengan sungguh-sungguh sebelum menggeleng dan menatap pintu yang barusan dilalui oleh Mea tadi dengan ngeri.
"Tuh cewek benar-benar agresif. Mengerikan."
Lain lagi dengan Cleo yang hanya diam melamun didalam kamar yang dipenuhi oleh foto seorang gadis dengan berbagai pose. Gadis yang membuatnya nyaris gila dengan kepergiannya; Silvia.
Setelah itu mata Cleo bergerak liar menatap keseluruhan dinding kamar yang setiap sisinya dipenuhi foto Silvia. Semua dendam dan amarahnya terus bertumpuk. bahkan berbotol-botol minuman dan berbutir-butir pil yang ia konsumsi tidak ada pengaruhnya. Cairan memabukkan hanya membuat luka semakin banyak, dan pil-pil yang harusnya membuat ia terlelap pun hanya membuat ingatan itu semakin jelas.
"Silvia, jangan tinggalkan gue..." Cleo merasakan kepalanya pening dan dadanya sesak. Cleo berteriak dengan keras, memecahkan keheningan malam. Kepribadian yang jauh berbeda dari apa yang ia tunjukkan pada semua orang. Peran Cleo si lelaki yang hangat benar-benar tidak berbekas lagi sekarang. Dikamar yang gelap itu, hanya ada seorang lelaki yang sakit. Sangat sakit sampai rasanya mustahil untuk disembuhkan.
"Ini beneran gak adil! Semua ini gak adil bagi gue, Sil!" Cleo menarik rambutnya dengan kuat. Sekali lagi ia berteriak hingga suaranya serak.
"Kenapa dia bahagia, Sil?! Kenapa hanya gue yang menderita disini? Kenapa lo pergi dan bukannya dia?!" Cleo tertawa terbahak-bahak saat memorinya memutar senyuman Farhan yang sangat memuakkan untuknya. Lalu, berganti dengan gambaran tentang senyuman Chloe.
Disaat itu, tubuh Cleo menegang ketika senyum Chloe melintas dipikirannya. Senyum lembut dan tulus yang diberikan untuknya, untuk kepalsuan yang selalu ia berikan. Senyum yang sempat membuat hatinya terenyuh dan... "SIAL! SIAL! SIAL!!"
Cleo bangkit dari kasurnya dengan tertatih untuk menuju meja belajarnya. Tangan Cleo dengan susah. payah membuka laci kecil disana dan mengobrak-abrik isinya hingga sebuah botol kecil berisi pil berhasil ia temukan.
Cleo membuka botol itu dengan tangan gemetaran lalu mengeluarkan sejumlah pil dalam jumlah tidak normal dan meneguknya dengan paksa. Cleo terbatuk namun tetap ia paksakan untuk menelan pil-pil tersebut. Sampai akhirnya mata Cleo menjadi berat dan ia terlelap begitu saja.
Lalu, pagi kembali datang dan kebohongan dimainkan oleh Cleo lagi. Kebohongan sempurna yang tanpa henti menciptakan luka baru disetiap harinya.
**See you in next chapter**...