PAIN MAKER

PAIN MAKER
LUKA KETIGABELAS



AUTHOR POV


"Jadi, apakah saudara bisa menjelaskan apa yang saya jelaskan tadi? Oh tentu seperti biasa, kecuali saudara Chloe." Sang Dosen yang tengah memberi materi melirik Chloe yang lagi-lagi dengan raut kecewa mengurungkan niat untuk mengangkat tangan.


"Udahlah Pak, biar Chloe aja yang jawab," ucap salah satu mahasiswa. Beberapa mahasiswa mendukung dan itu membuat senyum dibibir Chloe merekah.


"Kasian Chloe pak, kayak gak dianggap terus. Ya, kan?"


"Tapi, kalau saudara Chloe yang menjelaskan, nanti saya bisa-bisa tidak punya materi yang diajarkan lagi di beberapa pertemuan berikutnya." Sang Dosen menjawab dengan sangat jujur hingga kelas menjadi hening.


"Permisi, bisa saya bertemu dengan mahasiswi bernama Chloe Chakradinata?"


Semua orang yang ada dikelas tersebut menoleh termasuk Chloe. Sang Dosen menyambut ramah pria yang berdiri dengan tegap didepan pintu. Para mahasiswa saling berbisik dan melirik Chloe selama sang Dosen dan pria tersebut mengobrol. Masalahnya, pria itu bukanlah orang sembarangan melainkan Rektornya UGM.


"Saudara Chloe, berkemas dan ikutlah dengan Pak Rektor sekarang!" perintah sang Dosen yang langsung dipatuhi oleh Chloe. Dalam hati, chy bertanya-tanya apa maksud dari kedatangan Rektor sampai mencarinya.


...~~~...


CHLOE POV


Aku merasa sangat canggung duduk diantara para orang-orang penting UGM dan beberapa orang bule yang sedang berdiskusi. Sedikit aku bisa mendengar mereka sedang membicarakan tentang kedudukan dan Amerika Serikat. Pertanyaannya, aku disini buat apa? Didudukkan di tengah-tengah untuk dikacangin doang? Apa-apaan itu!


"So, you are Chloe, don't you?" tanya seorang wanita dengan rambut gelombang yang cantik yang kebetulan duduk disampingku. Wajahnya menampilkan senyum yang sangat ramah.


"I'm Betty, nice to meet you."


"Nice to meet you too, Miss Betty." Aku menyambut uluran tangan wanita itu untuk bersalaman. Duh, kenapa aku jadi gugup gini, ya? Terlebih kurasakan beberapa mata terasa tengah menelitiku.


Miss Betty memberikanku serangkap kertas yang cukup tebal. Tanpa banyak bertanya, aku menerimanya dan ternyata itu adalah kumpulan soal-soal.


"First of all, can you answering the test that I've given?"


Aku tersenyum sopan lalu mengangguk untuk menyetujui permintaannya. Aku mulai membaca dengan teliti dan kuakui soal ini tidak bisa diremehkan. Sangat sulit dan lebih terlihat seperti soal olimpiade kelas atas. Eh, kurasa ini lebih dari sekedar soal-soal olimpiade.


"Saudara Chloe, anda benar-benar bisa mengerjakannya?" tanya salah seorang dosen yang terkenal galak di Fakultas MIPA.


"Ya, saya sudah mengisi hampir setengah soal," jawabku tanpa mengalihkan perhatianku dari soal-soal yang semakin lama semakin rumit saja.


"Gila, apa-apaan pertanyaan ini?! Kenapa menjebak sekali?" Gumamku sedikit frustasi.


"She's already answered half of questions, Betty."


"Are you kidding me? It's only 1 hour and she's almost finish it?!"


"Chloe is the smartest in this university. Y'all can't believe that she can make the lectures are nothing."


"Are you serious? What a genius student!"


"I'm sorry, All. But, I'm only believe her if she done with the test."


Aku diam-diam mendengarkan percakapan orang-orang disekitarku yang sangat kuyakini tengah membicarakanku. Untuk apa test ini? Mereka sedang merundingkan apa? Dan keuntungan apa yang mereka dapatkan jika soal-soal ini selesai kukerjakan? Oke, ini memanglah soal-soal yang sangat sulit dan tidak bisa diremehkan. Banyak istilah berat yang tidak terlalu kumengerti dan rumus rumit yang dberikan. Tapi, disitulah bagian menyenangkannya! Apapun itu, aku sangat menikmati soal-soal ini.


...~~~...


AUTHOR POV


"You finished it in 3 hours? You are the craziest person I've ever met!" Betty melongo melihat semua soal yang berjumlah 175 butir itu dijawab tanpa sisa oleh Chloe.


Diruangan itu, ada 20 orang penting yang tengah berkumpul. Itu adalah orang-orang penting Universitas dan para bule dari luar negeri yang didatangkan khusus untuk tes ini. Hanya untuk memberi sebuah tes kepada seorang mahasiswi bernama Chloe Chakradinata. Hal itu baru beberapa saat disadari Chloe ketika para orang dewasa itu saling berdebat dengan wajah yang terlihat percaya tidak percaya setelah melihat hasil pekerjaannya.


"She doesn't need the graduate! Without that, she still can be success!"


"I agree. I want her to join with our group."


"But, she's only first year student. Are y'all sure?"


"Yeah, the rector is right. She needs more studying before take this important job."


"Don't worry, we already thought that. We will send her to study in Harvard."


DEG!


Chloe terpaku dan ia tak bisa fokus lagi menguping tentang apa yang orang-orang itu bicarakan. Chloe bertanya-tanya, kenapa orang-orang itu terlihat bersikeras supaya membawanya ke grup mereka sampai bersedia menyekolahkannya di Harvard? Lagian, pekerjaan penting apa yang mereka maksud? Chloe sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"Hey Chloe, can I ask many questions to you?" tanya Betty dengan senyum tipis.


Masih dalam keadaan pikiran penuh tanya, Chloe mengangguk mengiyakan. Chloe hanya diam saat Betty sudah menggandeng tangannya dan membawanya sedikit menjauh ke tepi ruangan.


"Please think wisely, Chloe. This chance doesn't come twice for you. I hope you don't make any regret later." Betty menatap penuh harap kepada Chloe yang terlihat begitu syok. Betty sadar jika apa yang ia minta mungkin terlalu berat diterima Chloe, apalagi gadis itu masih sangatlah muda.


"I'll wait the best answer from you, Chloe."


Chloe tidak menjawab, hanya diam hingga Betty telah beranjak meninggalkannya untuk kembali bersama rekan-rekannya yang lain. Pikiran Chloe dipenuhi oleh segala tawaran yang jujur sangat menggiurkan untuknya, Ingin sekali Chloe menerima tawaran emas itu. tapi banyak hal yang perlu dipikirkannya lagi. Dan itu membuat Chloe sangat galau. Bahkan, Chloe tidak menyadari jika pak Rektor sudah berdiri disampingnya dan menatap gadis itu dengan ragu. Ragu untuk membuyarkan pikiran gadis itu yang sudah sangat jelas begitu kacau.


"Chloe, anda bisa menolak tawaran mereka. Tapi, itu kesempatan yang sangat bagus. Perusahaan mereka adalah yang terbesar di AS dan terbesar ketiga diseluruh dunia." Pak Rektor menepuk bahu Chloe dua kali, membuat gadis itu semakin bimbang dan memilih untuk tetap bungkam.


"Kesuksesan anda sudah ada didepan mata. Jangan buat diri anda menyesal di kemudian hari."


"Saya tau itu, Pak. Hanya saja..." Chloe tersenyum lemah sebelum menjawab dengan nada yang lirih.


"Mereka langsung menawarkan kontrak kerja dengan jabatan yang gila-gilaan, Pak. Aktuaris. Apa anda yakin saya bisa memegang pekerjaan itu? Saya sama sekali tidak ada pengalaman. Walaupun mereka berjanji memenuhi semua keperluan hidup saya disana, tapi tetap saja ini berat sekali."


"Chloe, apa anda tahu soal-soal yang anda jawab dengan sempurna tadi? Itu adalah soal dengan pertanyaan kelas atas. Banyak yang gagal menjawab soal-soal itu, bahkan para professional hanya mampu menjawab dengan keakuratan 78 %." Pak Rektor tersenyum penuh rasa bangga begitu melanjutkan ucapan selanjutnya,


"tapi anda menyelesaikan dengan keakuratan 100%."


"B-bagaimana bisa b-begitu?" tanya Chloe dengan keterkejutan luar biasa.


"Rasanya terlalu mustahil..."


"Anda terlalu merendahkan diri. Saya sudah banyak dengar bagaimana para dosen yang kewalahan mengimbangi pengetahuan anda. Dari awal, anda memang selayaknya mendapatkan tempat yang jauh lebih hebat daripada disini. Mungkin, mengejar kesuksesan ditempat yang lebih jauh adalah jalan anda."


"T-tapi, saya tidak yakin, Pak..."


"Anda tidak akan berkembang jika takut untuk mengambil langkah. Mereka akan menanggung semua keperluan anda dan menjamin pendidikan anda di Harvard sana. Memang sangat berat untuk melangkah maju, tapi hidup memang seperti itu, bukan? Sangat disayangkan kalau orang-orang seperti anda lebih memilih berdiam diri daripada mengambil langkah kedepan."


Dari beberapa sisi, ucapan itu membuat Chloe merasa sangat tertampar. Hidup adalah tentang melangkah maju dan apakah dia sudah melangkah dengan benar? Chloe meragukan jawabannya. Membicarakan soal hidup dan apa yang ia lalui selama ini, Chloe selalu kesulitan untuk menjawabnya. Pertanyaan paling sulit dan tak pernah ia temukan jawaban tepatnya. Chloe tidak pernah mendapatkan jawaban yang pas untuk masalah hidupnya, ada saja cekcok batin yang membuatnya selalu ragu dan akhirnya tidak kemana-mana. Tetap bertahan ditempat yang sama. Atau lebih parah malah berjalan mundur. Jika dipikir-pikir, selama ini Chloe banyak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Menangisi kematian Bundanya hingga nilai merosot drastis, melakukan self-harming, menelantarkan cita-citanya bersama Arsen, membuang kesempatan untuk memasukki Harvard University, meragukan semua perasaan. dan setelah itu apalagi? Sampai kapan dirinya enggan melangkah maju?


Tapi, kali ini sudah beda, dalam satu langkah, semua yang ia buang akan kembali. Semua tujuan yang ingin ia capai sudah terlihat begitu jelas meski jalannya cukup rumit dan panjang.


"Tidak ada kesuksesan yang instan di dunia ini. Untuk meraih hal yang harus dikorbankan. Tinggal diri sendiri saja yang menentukan jalan apa yang harus diambil."


Dan kalimat tersebut adalah keputusan final. Chloe sudah muak dengan segala hal yang ia sia-siakan selama ini. Chloe... ingin menggapai mimpi-mimpinya.


"Sepertinya, saya akan menerima tawaran itu. Beri saya waktu untuk meyakinkan diri sekali lagi, Pak."


"Tentu saja, tapi jangan buat keputusan yang membuatmu menyesal kelak."


"Ya, terima kasih Pak."


...~~~...


Dewi melongo mendengar cerita Chloe yang ditawarkan bekerja diperusahaan besar se-Amerika Serikat sekaligus dibiayai masuk Harvard. Menurut Dewi, itu terlalu luar biasa sampai ia tidak bisa berkata-kata.


"Aku pengen banget nerima tawaran ini, Dew... tapi..." Chloe bungkam. Tak mampu melanjutkan kata-katanya lagi. Dewi seperti mengerti keadaannya memilih untuk mengelus punggung sang Nona dan menatap dengan simpatik.


"Apa Nona memikirkan masalah Tuan Darren?" tanya Dewi dengan perasaan sedikit jengkel.


"Detik ini, seharusnya Nona tengah duduk dibangku Harvard dan berteman dengan para bule. Saya ingat sekali, Nona pernah bilang kalau ingin melanjutkan kuliah ditempat Tuan Besar dahulu." Dewi meraih dua bahu Chloe lalu menatap sang majikan dengan tajam. Kali ini, hilang sudah semua kehormatan yang ia junjung. Dewi kesal sekali saat ini kepada Chloe.


"Nona tidak boleh membuang mimpi besar yang Nona miliki. Siapapun tidak berhak menahan langkah Nona untuk maju. Maaf kalau saja saya lancang, tapi semua ini saya lakukan karna saya peduli. Nona Chloe berhak menggapai mimpi-mimpi dan melupakan sedikit tentang orang lain. Nona tidak boleh terus-menerus mengalah hanya untuk kepentingan orang lain."


"YA MEMANG BEGITU! ASTAGA NONA!" teriak Dewi membuat Chloe tersentak dan reflek duduk menjauh dari Maidnya yang mendadak galak.


"SECEPATNYA NONA HARUS BALIK KERUMAH DAN BILANG KE KELUARGA NONA. SAYA TIDAK MAU MELIHAT NONA MENYESAL KARNA NGAMBIL JALAN YANG TIDAK NONA INGINKAN LAGI!" nafas Dewi terputus-putus dengan tubuh melemas.


Dewi terlihat begitu kacau dan seakan sadar apa yang telah ia lakukan barusan, Maid itu akhirnya menunduk dalam sembari berbisik, "maafkan atas kelancangan saya, Nona."


Bukannya marah, Chloe malah tersentuh karna kepedulian yang diberikan Dewi. Chloe memeluk Dewi dan membiarkan Maid tersebut menangis dipelukannya sembari mengucapkan kalimat maaf berkali-kali.


"Sudah, kamu tidak perlu merasa bersalah. Kata-katamu tadi ada benarnya." chly melepaskan pelukannya.


"Makasih udah peduliin aku, ya."


"Nona sudah seperti adik saya sendiri. Saya sangat sayang sama Nona dan saya tidak mau melihat Nona sedih terus. Saya tidak mau mimpi-mimpi Nona sia-sia kembali." Dewi mengusap air matanya dengan kasar.


"Maaf sudah buat kamu khawatir ya, Dew...... Ah! Disaat seperti ini kenapa aku jadi pengen ketemu sama orang, ya? Apa kak Daniel masih sibuk dengan pekerjaannya?" tanya Chloe dengan helaan nafas berat.


"Nata udah pulang sejak seminggu yang lalu. Kak Farhan? Aku masih malas menemuinya. Kak Cleo? Dia terlihat aneh dan menakutkan beberapa hari ini. Diana? Aku tidak akrab dengannya. Temen yang lain? Ah, aku bahkan sangat jarang mengobrol. Darren???" Chloe berhenti berfikir. Bicara tentang Darren, Chloe baru sadar kalau Darren tidak ada menghubunginya atau membalas semua pesannya belakangan ini. Hilang seperti ditelan bumi.


"Oh iya, saya baru ingat!" seru Dewi membuat Chloe menoleh dan melupakan pikirannya barusan.


"Tadi pagi, Tuan Daniel datang kemari dan memberikan bingkisan gitu. Sebentar, saya ambilkan dulu." Dewi beranjak dari sofa yang ia duduki lalu berlari dengan cepat meninggalkan Chloe yang menatapnya dengan heran.


Tidak sampai lima menit, Dewi kembali dengan sebuah kotak besar yang cantik di tangannya. Dengan wajah berseri Dewi menyerahkan kotak itu kepada Goldie yang berwajah bingung. Chloe membuka kotak itu dan disaat itu juga Chloe tertegun dan Dewi yang sudah menjerit pelan sembari menutup mulutnya dengan kedua tangan. Didalam kotak itu terdapat sebuah dress berwarna putih, sepasang sepatu dan sebuah tas kecil berwarna hitam, dan setangkai mawar putih.


"Kak Daniel sweet banget kayak cowok-cowok Ask.fm," ucap Chloe pelan.


"Eh? Ada kertas apa nih?" mata Chloe menangkap secarik kertas yang sedikit tertimbun. Chloe mengambil kertas tersebut dan membaca apa yang tertulis disana.


Aku jemput kamu jam 7 malam nanti.


Hadiahnya nanti dipake ya, Princess.


-Daniel


Pesan singkat yang hebatnya mampu membuat rona merah serta senyum lebar diwajah Chloe. Dewi yang heran dengan perubahan itu diam-diam membaca pesan tersebut dan hebatnya lagi, pesan itu juga menimbulkan rona kemerahan dipipi Maid tersebut.


"Sumpah deh, entah kenapa saya berfikir Tuan Daniel lebih pantas untuk Nona Chloe." Dewi mengangguk kuat saat Chloe menatapnya penuh tanya. Tidak lupa dengan rona merah yang membuat wajah Chloe semakin mirip tomat.


"Aksi Tuan Daniel lebih nyata dibanding Tuan Darren. Saya juga yakin kalau Tuan Daniel lebih baik dari Tuan Darren. Lagian, Tuan Daniel itu... seiman dengan Nona Chloe."


"Kak Daniel udah kayak kakak aku sendiri, Dew. Umur kami juga terpaut cukup jauh," ucap Chloe sambil menutup wajah dengan kertas ditangannya.


"Tapi,emang sih... Kak Daniel aksinya lebih wow dibanding Darren."


"Terus, apa Nona masih mau mempertahankan hubungan itu? Bahkan, Tuan Darren sudah jarang menghubungi Nona, kan? Kalau Nona tanya saya tau itu darimana, jawabannya sangat jelas saat Nona selalu memandang layar hand phone dengan wajah sedih."


"Aku tidak yakin menjawabnya. Belakangan ini, aku semakin tidak mengerti tentang Darren dan rasanya Darren semakin jauh dariku. Sangat jauh." Chloe menghempaskan tubuhnya lalu membiarkan posisi duduknya melorot begitu saja.


"Lama-lama Darren kayak orang yang tidak kukenal lagi dan itu membuatku takut. Aku... tidak mau kehilangannya. Bagaimanapun juga, Darren adalah cinta pertamaku."


Dewi hanya diam, tidak tau harus berkata apa lagi. Terkadang Chloe bisa menjadi orang paling bodoh jika menyangkut masalah tentang dirinya sendiri, begitulah menurut Dewi.


...~~~...


CHLOE POV


Aku memutar tubuhku didepan cermin untuk memperhatikan penampilanku. Semua sudah sempurna dan sekarang tinggal tunggu untuk Kak Daniel menjemputku.


"Nona, Tuan Daniel sudah datang."


Baru saja diomongi, tau-tau orangnya sudah datang. Aku mengangguk lalu menghampiri Dewi yang tengah tersenyum penuh arti sembari mengepalkan tangannya diudara.


"Kenapa kamu, Dew?" tanyaku berusaha tenang padahal dalam hati sudah sangat gugup.


"Semangat kencannya malam ini, ya, Nona!" seru Dewi berapi-api, membuatku memukul bahunya pelan.


"Omong-omong, Nona cantik sekali loh!"


"Benarkah? Duh, kenapa aku gugup gini, ya?" Aku memainkan ujung dressku saat kurasakan degupan mengganggu itu menyerang kembali.


"Sudah, mending Nona sekarang temui Tuan Daniel sekarang. Ayo, ayo, semangat Nona Goldie!" Dewi memberikan semangat layaknya tim pemandu sorak di SMAku dulu.


"Saya kasih spoiler dikit, Tuan Daniel ganteng banget loh." Dewi tersenyum menggoda dan alis yang naik-turun.


"Ih, apaan sih, Dew!" Aku memilih mengabaikan Dewi dan segera menemui Kak Daniel. Tanpa spoiler begitu pun aku sudah tau kalo Kak Daniel pasti bakal ganteng. Kak Daniel mah diapain aja tetap ganteng terus. Gak bisa jelek dia.


Ups, sepertinya kali ini Dewi benar. Malam ini Kak Daniel beneran ganteng banget. Kegantengan yang bisa bikin khilaf dan semoga saja itu tidak terjadi padaku. Kak Daniel mengenakan kemeja hitam polos yang press body dengan lengan dilipat sampai siku. Menampilkan otot lengannya yang kusuka. Iya, aku sangat suka otot lengan Kak Daniel. Rambut yang biasanya berantakan kini ditata sedemikan rupa, membuat kegantengannya meningkat banyak. Jangan lupakan senyum penuh pesona dan sebuket besar mawar putih ditangannya.


Seseorang, bisakah panggil 911 sekarang? Aku butuh pertolongan.


...~~~...


"What a beautiful princess!" Kak Daniel memberikan buket bunga itu kepadaku dengan gentle nya. Gila! Aku bisa gila sekarang!


"Kombinasi yang pas antara mawar putih dan wajah merahmu, Chloe." Aku tidak bisa berkata-kata, hanya diam sembari menerima buket itu dan menggunakannya untuk menutupi sebagian wajahku. Wangi mawar langsung memenuhi indra penciumanku dan itu membuatku senang sekali.


"Berangkat sekarang?" tanya kak Daniel sambil mengulurkan tangannya. Masih dengan malu-malu kucing, aku menerima uluran itu dan seketika merasa cantik. Jadi gini rasanya diperlakuin manis ala pangeran? Pantes aja para putri dongeng pada baper semua sama pangeran.


Aku tau ini salah, tapi degupan itu terus datang seberapa banyak aku mengusirnya. Perasaan yang begitu liar sampai aku sendiri tidak bisa mengontrolnya. Ah, memangnya ada yang bisa mengontrol perasaan? Jikalau ada, bisakah mengajariku caranya? Jujur, ini terlalu menganggu.


Karna, aku masih menginginkan Darren berada disisiku. Aku ingin berbahagia bersama cinta pertamaku, semustahil apapun itu.


...~~~...


AUTHOR POV


Hana menatap tajam kearah Darren yang tengah menatapnya dengan datar. Saat ini, dua orang itu berada di kediaman Hana. Bagaimana bisa? Itu karena Hana yang tidak sengaja mendapati Darren tengah menghajar orang-orang didekat kampusnya. Darren menghajar puluhan orang bertubuh lebih besar darinya itu dengan membabi buta. Hingga akhirnya Hana menarik lelaki itu dan menyeret lelaki itu kerumahnya untuk diobati. Sehebat apapun Darren, tetap saja luka-luka tak bisa ia hindari begitu saja walaupun hanya dikit.


"Hana terlalu yakin kalau ini bukan kasus pertama." Hana menyentil dahi Darren dengan kuat.


"Gak tobat-tobat ngehajar orang, ya? Darren mau memusnahkan populasi manusia?"


"Emangnya kenapa? Entar Jakarta jadi gak macet lagi, kan?" Darren menahan lengan Hana yang akan menyentil dahinya lagi.


"Gue bukan anak kecil dan disini gue lebih tua setahun daripada lo."


"Cih, tapi Hana lebih cepat masuk sekolah daripada Darren." Darren melepaskan lengannya yang ditahan oleh Darren dengan sekali sentak.


"Kenapa bisa jadi begini sih? Ada masalah apa?"


"Bukan apa-apa," jawab Darren singkat.


"Chloe, ya?" tanya Hana sembari tersenyum kecil saat melihat tubuh Darren menegang.


"Beneran tentang Chloe, ya? Kenapa hubungan kalian rumit banget sih? Belum juga genap setahun rasanya."


"Gue males ngomongin Chloe, Han." Darren sekuat tenaga bangkit namun langsung ditahan oleh Hana.


"Gue beneran gak mau ngomongin masalah Chloe. Biarin gue pergi sekarang!" bentak Darren membuat Hana reflek menjauh. Tak memedulikan Hana yang terlihat takut kepadanya, Darren tetap beranjak pergi dari tempat itu dengan tertatih.


Dalam diam, Hana menatap punggung Darren yang terlihat sangat dingin dan rapuh dimatanya. Hana bertanya-tanya apa yang terjadi sampai lelaki yang sudah ia anggap adik-walaupun usia Hana lebih muda dari Darren. Apapun masalahnya, Hana merasa itu pasti sangatlah rumit.


Nyatanya, masalah yang mereka hadapi memanglah rumit.


...~~~...


Ada yang kesal liat Chloe gak? wkwkw


See you in next chapter guyss