
CHLOE POV
"Kak Daniel sudah nyiapin semua ini berapa lama? Indah sekali..."
Aku menatap takjub tempat yang sangat indah dari apa yang orang-orang katakan padaku, salah satu restoran romantis nan elit yang ada di Jogja, yaitu Omah Dhuwur Restaurant. Gila, cewek mana sih yang bisa nolak diajak kesini? Apalagi dengan paket Royal yang berada dalam private room berdekorasi super romantis nan sempurna ini! Aku yakin pasti pengeluarannya besar sekali untuk semua ini.
"Chloe, kamu melamun? Ayo, duduk dulu sini." Kak Daniel menarik sebuah kursi untuk kududuki dengan senyum penuh pesona ala Sebastian Michaelis. Iya, Sebastian si karakter anime yang jadi pelayan iblis itu loh. Karakter paling digilai sama Lenka.
Tanpa banyak kata, aku duduk dikursi tersebut dan dapat kupastikan wajahku sudah memerah sembari mengukir senyum menggelikan. Malam ini aku kelewat senang sampe rasanya mau kupamerkan di semua sosmed yang kupunya! Ih, coba deh kalian diposisiku saat ini. Kerasa banget merdekanya jadi ratu semalam itu gimana.
Alunan musik klasik yang lembut melantun ditempat yang hanya ada aku dan Kak Daniel. Semakin mendukung suasana. Oh, jangan lupakan hidangan yang bisa bikin menangis bahagia. Udah enak, porsinya juga gede. Gak kayak restoran mewah kebanyakan gitu deh. Sepanjang makan malam, Kak Daniel menceritakan pengalamannya dan itu membuatku terhibur. Semempesona apapun Kak Daniel malam ini, ia tetaplah Kak Daniel yang konyol dan penuh kejutan. Kak Daniel memanglah sosok nyaris sempurna yang kuyakin siapapun yang menikahinya akan berakhir bahagia. Bersama Kak Daniel, rasanya dunia menjadi lebih baik bahkan hanya dengan menatap kedua mata teduhnya.
"...Pokoknya serem banget! Kolorku hampir kecurian sama tuh maling berkedok model, Chlo!" seru Kak Daniel menggebu-gebu, membuatku ngakak dan hampir saja tersedak makananku. Kan, kubilang juga apa? Kak Daniel bahkan hampir dipelet sama modelnya yang kutahu sangat cantik dan seksi.
"Omong-omong, Adeline itu cantik, seksi, dan bertalenta juga. Kenapa Kak Daniel gak mau? Apa jangan-jangan..." aku menatap Kak Daniel curiga.
"...Kak Daniel belok, ya?"
"Enak aja! Aku sudah punya orang yang kusuka tau!" seru Kak Daniel dengan mata melotot dan pipi merona samar. Aaaakkk lucu banget!
"Ah, masa? Kalo beneran belok nanti bisa aku kabarin ke Lenka. Siapa tau Lenka bisa bantuin cari pasangannya gitu" godaku pada Kak Daniel dengan tertawa geli. Kak Daniel semakin terlihat kesal dan itu lucu sekali. Aku paling suka liat Kak Daniel lagi ngambek soalnya kayak anak kecil gitu. Lucu!
"Kalo minta bantuin Lenka sih itu udah dari dulu," ucap Kak Daniel dengan ringannya.
"Kak Daniel beneran-"
"Aku gak homo sama sekali kok, Chlo. Aku gak suka batangan kok." Kak Daniel memotong ucapanku dengan nada dan wajah yang datar. Seakan lelah dengan segala dugaan yang ada didalam otakku.
"Aku minta bantuin Lenka buat deketin nih cewek. Sekali lagi, cewek loh ya!" Kak Daniel menegaskan kembali, membuktikan dia masih normal.
"Oke, kak..." gumamku pelan. Entahlah, aku tidak mau bertanya lebih jauh lagi. Ada sesuatu yang melarangku untuk mengetahui informasi lebih dari ini.
"Kamu gak mau tau siapa cewek yang aku suka ini, Chlo?" tanya Kak Daniel dengan nada penasaran.
Saat itu juga dapat kurasakan jantungku bekerja tidak normal lagi. Sialan! Lidahku tiba-tiba kelu dan wajahku semakin terasa panas. Ini sama sekali gak benar! Apalagi Kak Daniel telah menggenggam kedua tanganku dan menatapku dengan mata yang sangat sendu. Gila! Gila! Gila! Ini gak ada yang bawa pintu kemana saja? Aku mau pergi sekarang!
TAK!
Aku tersentak saat ruangan tiba-tiba menjadi gelap dan perlahan dibelakang Kak Daniel ada tulisan besar yang terbuat dari cairan fosfor. Tulisan yang membuatku tak berkutik, hanya menatap tulisan itu dengan tatapan kosong. CHLOE, I LOVE YOU EVEN IF YOU'RE NOT.
"A-apa maksudnya ini, k-kak?" tanyaku terbata dan tak lama lampu kembali nyala dan suasana romantis itu kembali lagi seakan sebelumnya tidak terjadi apa-apa. Keromantisan ini menjadi tidak berarti lagi dimataku.
"What the fucking meant of that?" tanyaku kembali namun kali ini terasa menyesakkan. Kenapa aku terkesan jahat sekali? Tentu saja aku tidak mencintainya karna aku memilikki Darren. Meski ada degupan yang serupa, aku masih yakin kalau rasa yang sesungguhnya hanya milik Darren.
"Aku mencintaimu, Chloe. Ini memang salah karna kamu hanya nganggap aku sebagai kakak dan hatimu sedang dimilikki sama Darren. Kalau bisa milih, aku juga gak mau jatuh cinta sama seseorang yang hatinya sudah dimiliki orang lain. Sialnya, aku merasakan hal bego itu dua kali." Kak Daniel mengusap wajahnya dengan kasar.
"Aku sebenarnya sudah memperkirakan keberhasilan rencana ini gak lebih dari 5%. Tapi, aku sudah gak tahan lagi. Rasanya menyakitkan sekali dan setiap aku memikirkannya lagi dan lagi... luka baru pun tercipta."
Aku merasakan ada yang hancur dibenakku ketika melihat Kak Daniel serapuh ini. Satu lagi laki-laki baik yang kubuat sakit. Sebenarnya apa yang sudah kulakukan sampai membuat semuanya menjadi runyam? Aku tidak merasa melakukan hal yang berlebihan hingga mereka terluka karnaku. Apa yang sudah kulakukan sebenarnya? Aku sama sekali tidak mengerti dan itu membuatku kesal sekali.
Tiba-tiba suasana menjadi hening dan ruangan hangat ini menjadi dingin. Kak Daniel berdiri dari kursinya lalu menghampiriku dengan senyum getir yang menyimpan banyak rasa sakit. Senyum itu... karna diriku, kah? Sungguh, aku tidak suka dengan semua ini.
"Ayo kita pulang, Chloe." Kak Daniel mengulurkan tangannya kepadaku dan uluran itu kuterima dalam bisu. Tangan besar yang biasanya hangat itu terasa asing sekali didalam genggamanku. Tolong, setelah Farhan, aku tidak mau hubunganku dengan Kak Daniel jadi renggang juga.
Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam saat kurasakan mataku memanas. Apa ini rencana Kak Daniel sebenarnya? Jika tau seperti ini, lebih baik kukembalikan semua hadiahnya dan kugunakan malam ini untuk mengerjakan soal-soal sulit yang tidak pernah membuatku sesakit ini untuk memikirkannya.
Dalam diam dan pikiran kalutku, sebuah pelukan erat dan bisikkan maaf membuat semua pertahananku hancur. Aku menangis dan semakin kencang saat beberapa kalimat membuatku yakin jika semua waktu yang sulit ini masih terus berlanjut. Tuhan, aku tidak mau lagi!
"Aku akan menunggumu untuk mencintaiku, Chloe. Penolakan tidak langsung tadi tidak akan membuatku menyerah. Aku yakin kalau Darren tidak akan memenangkan dirimu."
...~~~...
AUTHOR POV
Dewi tidak banyak bertanya sejak Chloe pulang malam kemarin dengan wajah kacau. Seperti sekarang, Dewi sama sekali tidak bertanya saat melihat sang Nona bermain duel otak dengan tatapan kosong namun hebatnya jawaban yang dipilih benar semua. Bahkan Dewi dapat merasakan kalau pikiran Chloe tidak sedang berada di permainan itu.
"Dew, aku jahat, ya?" tanya Chloe tiba-tiba, membuat Dewi tersentak lalu menatap sang Nona dengan raut bingung. Belum sempat menjawab, Chloe menoleh dengan ekspresi terluka. Hal itu membuat Dewi tak tahan untuk meraih tubuh yang lebih mungil darinya itu kedalam pelukannya.
"Nona tidak jahat sama sekali. Kalau jahat, saya tidak akan betah bekerja untuk merawat Nona." Dewi mengusap punggung Chloe dengan lembut dan penuh sayang. Menuangkan kasih sayang seorang kakak yang selalu diinginkan oleh Chloe.
"Kenapa Nona berfikir seperti itu?"
"Aku jahat, Dew. Farhan dan Kak Daniel terluka karna aku. Mereka menyatakan perasaannya dan aku tidak bisa menerima itu. Bagaimana pun juga, aku hanya milik Darren. Aku milik Darren seorang dan itu sudah cukup. Aku tidak mau yang lain, Dew!" Chloe menangis sembari meracau, membuat hati siapapun yang melihatnya menjadi tersayat. Begitu pula Dewi yang sudah meneteskan air mata bersamaan pelukan yang semakin mengerat.
"Nona tidak jahat dan salah. Itu semua bukan salah Nona sama sekali. Tolong berhenti menyalahkan diri sendiri," ucap Dewi dengan nada bergetar.
"Perasaan hati manusia memang sangat rumit dan tidak ada yang bisa mengerti. Sehebat apapun dia, tidak ada yang bisa benar-benar mengerti apa yang hatinya mau. Entah itu perasaan Nona Chloe, Tuan Daniel, Tuan Farhan, bahkan Tuan Darren."
Chloe menyamankan diri didalam pelukan Dewi sambil memikirkan semua perkataan sang Maid. Memang benar perasaan manusia itu sangatlah rumit sampai tidak ada ilmuwan yang benar-benar memecahkan masalah perasaan manusia yang sangat menyebalkan ini. Perasaan yang kemauannya terkadang jauh dari logika dan sering kali merepotkan.
"Apa itu berlaku kepadaku dan Darren? Apa perasaanku dan Darren akan berubah dan lebih parahnya... menghilang?" tanya Chloe dengan suara parau dan tatapan penuh luka.
Gadis dengan paras yang mewarisi kecantikan Arin dan kecerdasan yang diturunkan dari Oliver itu selalu membuat Dewi terpana dan berfikir jika Chloe adalah gadis paling sempurna di dunia. Tapi, seiring berjalannya waktu dan melihat sendiri apa yang dilalui gadis yang selalu ia kagumi itu, Dewi sadar jika tidak ada yang sempurna.
Chloe jauh dari kata sempurna dan sebenarnya tidak lebih dari sekedar gadis yang hatinya sangat rapuh. Chloe itu sangat rapuh namun ia bisa bertahan dengan caranya sendiri. Dan itu tanpa sadar membuatnya semakin kuat walaupun tidak mengubah fakta jika ia adalah seorang gadis yang ingin dicintai dan diterima banyak orang. Hal yang membuat Dewi tidak bisa membenci gadis itu sedikitpun mau bagaimanapun keadaannya.
"Ya, itu semua bisa saja terjadi. Masa depan... siapa yang tau? Kita sama sekali tidak tau apapun di masa mendatang, Nona." Dewi berucap dengan suara pelan. Sangat pelan bahkan nyaris tidak terdengar.
"Nona, saya permisi kebelakang dulu." Dengan tergesa-gesa Dewi menjauh dari ruang tamu itu. Sekilas namun dapat Chloe lihat jika raut wajah Dewi menjadi lebih menyedihkan dan kedua tangan maid itu mengepal. Ah, nyatanya ada banyak rahasia yang tidak bisa ducapkan karna suatu penghalang yang selalu berakar dengan sesuatu benama perasaan.
...~~~...
Chloe mengaduk-aduk baksonya tanpa minat. Bibir yang dipolesi lipbalm itu meracau tidak jelas dan tak ia hiraukan tatapan penasaran bercampur ngeri dari orang-orang saat melihat keadaannya yang berantakan ditambah dengan kejamnya gadis jenius itu menusuk-nusukkan baso dengan garpu ditangannya.
"Woah, lo gak bakal berubah jadi psikopat atau semacamnya, kan?" Chloe merutuk siapapun yang berani merebut garpu ditangannya dan ia yakini tengah duduk dikursi kosong yang berhadapan dengannya. Dengan wajah penuh rasa terganggu, Chloe mendongak dan ketika melihat sang pelaku, Chloe reflek memundurkan kursinya. Terlihat jelas gadis itu kaget sekali.
"Kak-ah, maksudku Cleo, ngapain disini?" tanya Chloe berusaha senormal mungkin. Padahal ia gugup sekali, apalagi belakangan ini Cleo sedikit lebih menyeramkan menurutnya. Demi apapun, tidak ada sedikitpun Chloe mengira akan dihampiri Cleo dalam keadaaan seperti saat ini.
"Mau nyari kitab suci, Chlo," jawab Cleo dengan wajah datar.
"Oh, kirain mau cari 7 bola dragon ball," ucap Chloe dengan senyum tipis. Berhasil membalas sarkas dari Cleo.
"Kenapa murung terus selama ini? Padahal sebelumnya lo gak gini amat deh." Cleo merebut mangkok bakso milik Chloeyang masih utuh namun sudah berantakan karna cuma diaduk-aduk oleh gadis itu saja.
"Mending ini gue yang makan deh."
"Apa kamu merhatiin aku selama ini? Ada bakat jadi stalker, ya?" Chloe menopang wajah untuk memperhatikan Cleo yang memakan bakso itu dengan nikmatnya.
"Padahal bentuk tuh bakso udah gak karuan, tapi masih bisa dimakan dan keliatannya jadi enak gitu, ya?"
"Kalo gratis mah enak." jawab Cleo dengan enteng. Cleo melanjutkan memakan bakso Chloe hingga tandas sebelum ia merebut air mineral milik Chloe yang ada di atas meja tersebut dan meneguknya. Chloe tetap tidak membuka suara hingga Cleo membersihkan mulutnya dan berkata tanpa beban,
"kalo tentang merhatiin lo, itu bener. Gue memang merhatiin lo selama ini."
"Jujur amat ya, Cle." Chloe menggeleng pelan sembari melipat kedua tangannya diatas meja dan menatap Cleo dengan tawa geli.
"Jangan bilang kamu kesini cuma mau makan gratis doang."
"Enggak kok, gue kesini mau ngasih sesuatu." Cleo merogoh-rogoh jaketnya lalu mengeluarkan sebuah undangan berukuran sedang dengan ukiran elegan berwarna hitam-putih.
"Nih, lo dateng ya ke acara ulang tahun gue. Sekalian farewell party gitu karna beberapa bulan lagi gue wisuda dan bakal tinggal di luar negeri. So, lo harus datang, oke?" Chloe menerima undangan tersebut sambil mengangguk dan berkata,
"oke, aku bakal dateng nanti." Chloe membuka undangan itu dan senyumnya merekah saat melihat waktu acara yang ternyata diadakan 3 hari lagi.
"Sepertinya aku bisa datang ke acara ini."
"Sip. Pokoknya gue tunggu banget kedatangan lo nanti, Chloe." Cleo memberikan senyum lebar yang entah kenapa membuat Chloe sedikit merasa takut. Namun, ia buang semua pikiran itu dan memilih untuk menatap punggung Cleo yang sudah beranjak cepat.
Chloe sama sekali tidak tau ada kerlingan penuh kejahatan dikedua mata Cleo yang pasti bukan pertanda baik untuk gadis itu. Cleo menatap refleksi dirinya dicermin wastafel kamar mandi miliknya yang tidak kalah berantakan dari kamarnya. Ada yang bilang kalau ruangan seseorang itu mencerminkan kepribadian orang tersebut, dan disinilah Cleo dengan ruangan yang sangat berantakan seperti dirinya. Cleo bahkan tidak yakin jika dirinya bisa dibereskan semudah membereskan sebuah ruangan.
"Hari yang gue tunggu bakal datang entar lagi. Setelah menghancurkan gadis itu, gue bakal ngancurin tiga brengsek lainnya." Cleo menyeringai iblis memikirkan semua rencana jahatnya.
"Dendam lo dan gue akan terbayarkan sebentar lagi, Silvia. Gue jadi gak sabar cepat-cepat ketemu sama lo, Silvia." Cleo menarik dua sisi rambutnya dengan kuat dan seringai itu berubah menjadi tawa yang menggelegar dan terdengar menyakitkan.
"Akhirnya, sebentar lagi kita akan bersama dan tidak ada lagi yang bisa mengganggu kebahagiaan ini, sayangku." Dan Cleo pun terjatuh berlutut dengan kepala menunduk dalam. Tawanya masih terdengar namun tidak menggelegar seperti sebelumnya. Tawa itu hanya sebuah tawa getir yang bercampur dengan isakan tangis.
Diluar tempat dimana Cleo berada, seorang wanita tengah menangis tersedu-sedu didalam pelukan seorang pria yang menatap pintu coklat didepannya dengan mata berkaca-kaca. Ya. wanita dan pria itu adalah kedua orang tua Cleo yang tidak tau harus melakukan apa kepada putra satu-satunya yang mereka miliki. Mereka ingin menyembuhkan Cleo, namun saat melihat kontrol diri yang begitu sempurna dari Cleo dan betapa jauhnya hubungan antara keduanya dan Cleo, mereka berdua merasa tidak bisa berbuat apapun.
"Apa Cleo akan baik-baik saja. Pa?"
"Aku tidak yakin, Ma."
"Seandainya kita lebih memperhatikan Cleo, dia tidak akan seperti sekarang dan kita tidak akan merasa segan dengannya."
"Menyesal sekarang tidak ada gunanya, Ma. Lebih baik kita biarkan dia sendiri. sebelum dia sadar kita berada disini."
"Ya."
Bahkan, untuk bertemu dengan darah daging mereka sendiri pun rasanya tidak mampu.
...----------------...
Happy readingg....
Jangan lupa react dan komen yaa...