PAIN MAKER

PAIN MAKER
LUKA KELIMABELAS



AUTHOR POV


"Oke, jadi kabar itu benar adanya, ya?" tanya Christ sekaligus membuka suara setelah keheningan selama 15 menit diruang makan kediamannya. Chloe yang mendadak pulang dan mengklarifikasi kabar yang Christ beserta anggota keluarganya dapatkan dari pihak universitas. Christ tidak menyangka jika anak sulungnya bisa semembanggakan ini.


"Chlo, itu otakmu kapasitasnya berapa sih? Kepintaran gitu emang gak capek?" tanya Greisy dengan raut wajah ngeri. Wanita yang tengah mengandung itu bahkan bergidik membayangkan Chloe yang lolos tes dan mengalahkan professional.


"Jadi, apa kalian juga setuju aku menerima tawaran itu? Ini bisa jadi awal karirku, kan? Aktuaris adalah pekerjaan menjanjikan." Chloe memainkan ujung dress yang ia kenakan saat melihat wajah bimbang dari keempat anggota keluarganya.


"A-aku cuma beberapa tahun disana, tidak akan terasa kok nanti. Lagian aku bisa jaga diri dan... Harvard..."


"Ya, kamu bisa menerima tawaran itu, Sayang. Ayah tidak bisa menghancurkan mimpimu." Christ tersenyum tipis saat Chloe menatapnya dengan mata terbelalak.


"Harvard dan sukses di dunia Internasional adalah impianmu. Impian itu harus dicapai, kan?"


"Ayahmu benar, Chloe. Tapi kamu harus rajin-rajin hubungi kami, oke? Janji ya!" seru Greisy dengan senyum lebar mengulurkan kelingkingnya kepada Chloe yang kebetulan duduk tepat dihadapannya.


"Pinky promise? Kalo boong nanti kelingkingnya putus!"


"Kak Greisy, kenapa kekanakannya gak ilang-ilang sih?" Chloe tertawa kecil sembari mengaitkan kelingkingnya ke jari kelingking Greisy. Mereka pun tertawa bersama, membuat suasana makan malam menjadi hangat dan lebih menyenangkan.


...----------------...


"Kak, lo mau langsung balik lagi besok?" tanya Arsen dengan nada lirih. Chloe yang sibuk mengetik langsung menghentikan aktifitasnya saat merasakan kedua tangan Arsen memeluk sekitar lehernya.


"Sesibuk apasih hidup lo?" tanya Arsen sekali lagi dan itu membuat Chloe menyingkirkan tangan Arsen dari lehernya lalu memutar kursi belajarnya untuk menghadap sang adik.


"Kenapa kamu tiba-tiba manja gini? Dan, kesambet apa sampe manggil aku pake embel-embel kak?" tanya Chloe dengan jenaka, bermaksud mencairkan suasana yang tiba-tiba sendu.


"Arsen si adek yang sableng, bukan si adek yang suka baper. Gausah out of character, oke?" Arsen tidak berkata apapun, hanya membuang wajah lalu menunduk dalam.


Melihat reaksi itu, Membuat Chloe terenyuh dan tergerak untuk memeluk sang adik dengan erat. Arsen membalas pelukan dari Chloe tak kalah erat sembari menyembunyikan wajahnya dibalik lekukan leher sang kakak.


"Arsen... kangen sama kakak" Suara Arsen bergetar mengatakan hal itu.


"Kenapa kakak harus lebih jauh lagi? Arsen jadi gak tenang tau," ucap Arsen membuat Chloe mengusap-usap punggung lebar lelaki itu sambil membisikkan kalimat-kalimat penghibur dan maaf.


Dulu, Arsen hanyalah bocah ingusan sok jagoan yang sekali dibentak akan nangis. Tapi, semua kelemahan yang Arsen miliki hanya dilihat oleh Chloe. Sekalipun Arsen suka sekali membuat Chloe kesal bahkan hingga sekarang, tapi Arsen sangat menyayangi Chloe. Sekalipun pernah Arsen sangat membenci Chloe, pada dasarnya diam-diam dia selalu melindungi dan mendoakan kesehatan sang kakak. Maka dari itu, berjauhan dengan Chloe merupakan siksaan bagi Arsen.


"Arsen, kakak mohon jangan begini." Chloe yang ingin melepaskan pelukan tersebut tapi Arsen menahan dengan memeluk tubuh mungil Chloe lebih erat lagi. Seakan Chloe akan menghilang jika pelukan itu ia lepaskan.


"Arsenku yang manja kayak gini sepertinya terakhir kali waktu kelas 5 sd, ya?" Chloe tertawa kecil dengan tangan yang dengan lembut mengelus rambut acak-acakan Arsen. Arsen semakin menyamankan posisinya dan semakin menelisik lekukan leher Chloe, jika mau Arsen bisa sangatlah manja.


"Arsen cuma takut kakak kenapa-napa. Kalo kakak sakit gimana? Nanti gak ada yang ngurusin."


"Kan ada Dewi yang bakal tinggal sama.kakak disana." Chloe kali ini memaksakan diri untuk melepaskan pelukan Arsen dan berhasil. Setelah itu, Chloe menangkup wajah Arsen untuk menatap lurus tepat dimata lelaki itu.


"Arsen gak boleh cengeng kayak gini dong. Jagoan kecilku tidak selemah ini loh." Chloe tersenyum hangat sambil mencubit kedua belah pipi Arsen dengan gemas.


"Walaupun udah segede titan, dilihat-lihat kamu ini masih tetap Arsen si bocah ingusan, ya?"


"Apaan sih!" seru Arsen kesal sambil menyingkirkan tangan Chloe.


"Kak, besok beneran udah mau balik dan setelah itu langsung berangkat ke luar negeri? Ini pertemuan terakhir kita?" tanya Arsen kembali terlihat sedih.


"Astaghfirullah, Arsen! Nanti kita juga ketemu lagi dan lagian aku bakal dapat jatah liburan, kan? Jangan ngomong kayak aku besok bakal mati dong," ucap Chloe bergidik ngeri.


"Aku belum ketemu jodoh masa udah mati sih? Serem amat jir."


"Uhm..." Arsen bergumam dengan raut gelisah, membuat Chloe menatapnya penuh tanya.


"...Boleh gak malam ini Arsen tidur sama kak Chloe? Arsen cuma mau ngabisin waktu sama kakak sebelum kakak-"


"Tentu saja boleh, my little boo!" seru Chloe dengan paksa menarik kepala Arsen yang jauh lebih tinggi darinya untuk mengacak-acak rambut sang adik yang dari awal udah acak-acakan.


"Apa mau kakak bacain dongeng Tiga Babi kecil? Atau dinyanyiin lullaby semalaman? Atau mau kakak peluk dan usap-usap rambutnya?"


"Oh please, itu kisah lama," jawab Arsen setelah berhasil membebaskan rambutnya dari serangan Chloe.


"Tapi kayaknya seru juga nostalgia gitu, ya?" Arsen menjadi sedikit bersemangat dan itu mengukir sebuah senyuman dibibir Chloe.


"Oke! Sebelum tidur, apa yang harus kamu lakukan, my little boo?" Chloe menyeringai dengan alis terangkat jenaka. Gadis itu sangat senang karna hal menyenangkan dimasa kecilnya terulang kembali. Yakni melihat sisi manja Arsen yang menurutnya begitu manis. Terlebih sifat itu hanya keluar jika sedang bersama dirinya.


"Sikat gigi dan mencuci tangan dan kaki," jawab Arsen lancar. Tanpa banyak bicara lagi, Arsen segera pergi menuju kamar mandi yang ada dikamar Chloe.


Sembari menunggu Arsen, Chloe menghela nafas panjang lalu menatap jauh kelangit malam tanpa bintang satupun. Pikiran gadis itu melayang jauh dan setitik perasaan gelisah memenuhi. Namun, apapun yang terjadi nanti, Chloe sudah membulatkan keputusannya akan pergi jauh. Jauh tanpa ingin melihat dibelakangnya lagi.


......................


DANIEL POV


Aku baru sampai dirumahku dan orang pertama yang kulihat adalah Darren dengan aura permusuhannya. Mencoba tidak menghiraukannya, aku menarik koperku kembali. Penembakan nekat yang kulakukan sangat menamparku dan aku sama sekali tidak ingin berurusan dengansiapapun untuk sekarang.


"Bagaimana hasilnya?" suara Darren memecah keheningan sekaligus membuat langkahku terhenti. Ck, kemana si Nata? Anak itu benar-benar berani meninggalkan tamu tak diundang sendirian begini.


"Mengecewakan seperti dugaanmu," jawabku acuh tak acuh.


"Jelas sekali dia lebih memilihmu, kan?"


"Padahal gue udah ngira dia bakal nerima lo. Secara, lo menang sangat banyak, kan?" Ucapan Darren barusan berhasil membuatku berbalik dan memilih untuk meladeninya. Dengan sangat tidak minat, aku duduk di sofa tunggal.


"Sebenarnya, apa tujuanmu yang tiba-tiba mendatangiku di Jogja dan memaksaku untuk menembak Chloe, hah? Semudah itu kamu mempermainkan Chloe?" kali ini emosiku terpancing karna bocah sialan yang memilikki nama seperti gebetan Barbie ini.


"Iya, semudah itu. Kenapa gue gak bisa mempermainkan Chloe seperti dia mempermainkan gue? Lo juga jadi cowok kurang ajar dan gue pikir kalo kalian hidup bersama pasti seru karna akhirnya akan hancur bersama." Darren tertawa sinis dengan tampang jijik.


"Iya, bakal epic banget kalo akhirnya kalian hancur bersama. Gue dukung penuh pokok-"


BUK!!!


Aku sudah tidak tahan untuk tidak menghajar Darren dengan keras hingga ia jatuh tersungkur diatas karpet. Masih dengan emosi yang penuh, aku menduduki perut Darren dan menghajar wajah lelaki itu dengan brutal.


"Sebelum aku dan Chloe. Yang, Hancur. Lo. Yang, Bakal. Aku hancurkan. Terlebih. Dahulu. Brengsek!" Aku berucap dengan memberi pukulan disetiap jeda. Tidak kupedulikan lagi wajah Darren yang sudah bonyok tidak karuan. Namun, sebelum aku melayangkan pukulan kembali, aku merasakan kejanggalan disini.


"Ke-kenapa l-lo b-berenti mu-mukul g-gue?" tanya Darren terbata-bata. Aku menyingkir saat Darren meringkuk sembari terbatuk-batuk mengeluarkan darah. Apa separah itu aku memukulnya?


"Kenapa cuma diem? Aku gak yakin kamu tidak hebat dalam berkelahi." Aku mengelap kedua tanganku ke celana jeansku. Entah kenapa rasanya geli menyentuh lelaki yang mempunyai pikiran sehina itu kepada perempuan yang dia cintai. Cih, aku bahkan gak yakin anak itu beneran mencintai Chloe.


"Eh?! Kenapa Darren babak belur gini bang?" Aku sangat mengenali suara cempreng yang disusul dengan derap langkah heboh. Benar sekali, itu adalah Nata dan sekarang ia sibuk mengitari tubuh Darren dengan tampang kaget.


"Kamu mau keliling 100 kali pun gak bakal buat dia sembuh, Ta." Aku meregangkan tubuhku yang terasa kaku dan mencoba melupakan tatapan penuh kepo dari Nata.


"Kamu urus tuh bajingan, abang mau istirahat. Capek."


"Bang Daniel, ini ada apa?" tanya Nata menahan ujung kaos yang kukenakan.


"Baru ditinggal buang hajat sebentar kok jadi kacau gini? Ceritain ke Nata sekarang!"


"Mending kamu tanya orang itu aja," jawabku sambil melepaskan tangan Nata diujung kaosku.


"Abis itu jangan lupa suruh pulang. Pokoknya Bang Daniel gamau liat muka orang itu dirumah ini lagi."


...----------------...


AUTHOR POV


Nata memperhatikan punggung Daniel yang berjalan menaikki tangga sebelum berbalik menghampiri tubuh Darren yang sekarat.


"Ren, kamu gak apa-apa?" tanya Nata dengan bodohnya.


"Ups, kayaknya parah banget..." gumam Nata dan setelah itu ia bergegas menyiapkan obat-obatan untuk Darren secepat yang ia bisa.


Didalam pikiran Nata, kalau ia lambat sedikit nanti Darren bisa mati. Kalo Darren mati, dia dan kakaknya akan masuk penjara dan masuk neraka juga. Ya, pikiran Nata terkadang terlalu pendek dan tak jarang terlalu panjang. Gak pernah pas. Nata mengobati Darren dengan teliti dan berbekal ingatan saat menjadi anggota PMR di SMP dahulu. Sesekali Nata memekik saat Darren meringis pelan. Dan pekerjaan mengobati Darren pun selesai satu jam kemudian.


"M-makasih," ucap Darren pelan.


"Gue kira bakal mati ditangan abang lo."


"Aku gak bakal biarin Bang Daniel masuk penjara dan masuk neraka." Nata menjawab dengan tampang serius dan itu membuat Darren tertawa kecil.


"Kenapa kamu ketawa gitu?"


"Lo mirip banget sama Arsen. Protektif banget sama kakaknya," jawab darry sekenanya. Tapi perkataan itu mampu membuat Nata senyum-senyum tidak jelas dengan wajah yang merona samar. Menyadari perubahan itu, Darren mendengus geli sebelum mencibir,


"Satu lagi cewek bodoh yang jatuh cinta dengan cowok idiot."


"Cewek mana sih yang gak jatuh cinta sama Arsen?" tanya Nata dengan mata berbinar.


"Rion itu cowok idaman banget tau. Loveable banget deh."


"Banyak kok cewek yang gak jatuh cinta sama Arsen. Greisy, Chloe Lenka, dan..."


Darren mengernyitkan dahi, berusaha untuk mengingat-ingat sesuatu.


"...jrit! Gue lupa tuh cewek siapa namanya!"


"Jelaslah tiga orang itu kan keluarganya." Nata menabok lengan Darren dengan penuh rasa kesal. Membuat sang korban meringis kesakitan karna Nata memukul tepat di lebam akibat pukulan Daniel.


"Eh, tapi siapa lagi cewek satunya?"


"Ga penting juga. Yaudah, gue balik dulu. Intinya urusan gue sama kakak lo dah kelar." Darren bangkit dari posisi duduknya dengan sedikit susah payah karna tangan Nata menahannya. Darren yang sudah tidak ingin membicarakan apapun berusaha untuk melepaskan diri tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Maksudnya apaan?" Nata ikut bangkit dan dengan agak kesusahan memaksa Darren untuk menatapnya.


"Ren! Jawab aku!" seru Nata tidak sabaran dan itu cukup membuat Darren naik pitam.


"Lepasin atau gue cium lo!" ancam Darren penuh intimidasi dan mata berkilat marah. Merasa takut, Nata melepaskan Darren sebelum berjalan mundur perlahan. Darren mendecih dan seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya, Darren melenggang pergi dari


kediaman Farezka bersaudara itu.


"Jangan-jangan... maksudnya adalah mereka putus? Darren dan Chloe udah putus?" Nata menangkup wajahnya dengan kedua tangannya lalu berpindah menyentuh dadanya yang berdegup kencang.


"Tapi, kenapa aku merasa takut, ya? Kenapa rasanya kayak sedih gini? Harusnya aku senang, kan?" Nata terdiam saat pertanyaannya berlalu begitu saja ditelan keheningan ruangan itu.


Masih dengan perasaan kalut, Nata berlari menuju kamar kakaknya dan entah kenapa malam ini ia ingin tidur memeluk saudara yang selalu menjaganya dikala kedua orang tuanya yang sibuk bekerja sampai terkadang lupa pulang.


...----------------...


CHLOE POV


Aku sudah pulang kemarin dengan melalui salam perpisahan yang panjang. Dan hari ini adalah saatnya untuk mendatangi acara terakhirku sebelum meninggalkan kota dan juga negara ini, acara ulang tahun Cleo. Kuharap acara ini berjalan lancar dan meninggalkan kenangan yang baik sebelum aku pergi.


"Nona, apa pakaian itu tidak terlalu terbuka?" tanya Dewi dengan wajah khawatir yang berlebihan.


"Acara ini bukannya berada di sebuah klub malam?"


Aku memperhatikan pakaian yang kukenakan sekali lagi, sebuah dress selutut berwarna hitam dengan lengan setali yang membuat bahuku terekspos. Lagian, aku menggerai rambutku dan rasanya ini normal dan tidak terlalu terbuka.


"Aku sudah bisa menjaga diri dan kamu tidak perlu sekhawatir itu, Dewi. Ini bukan pertama kalinya aku ke klub malam dan aku janji tidak akan minum yang aneh-aneh disana." Aku menepuk bahu Dewi dua kali dengan senyum menenangkan.


"Ini juga acara ulang tahun temenku dan acara perpisahan juga. Aku sudah janji akan datang ke acaranya, Dew."


"Tapi... yasudah, Nona jaga diri disana, ya." Dewi akhirnya tersenyum tipis dan itu sudah lebih dari cukup untukku meninggalkannya dengan tenang.


Aku melambaikan tangan kepada Dewi sebelum memasukki taksi yang sebelumnya telah kupesan. Kulihat Dewi balas melambaikan tangan dengan pelan dan ragu. Apa dia sekhawatir itu?


Seperti dugaanku, alunan musik yang berdentum memekakkan telinga dan hikuk pikuk orang-orang yang pertama kali menyambutku. Aku melangkahkan kakiku dengan sedikit ragu dan mencoba untuk tidak mencolok diantara orang-orang yang dalam keadaan high.


Aku meneguk liurku saat melihat beberapa pasangan tengah bercumbu dan juga kelompok yang bertingkah gila dengan botol-botol kosong disekitar mereka. Sumpah, untuk ukuran lelaki hangat dan sebaik Cleo, acara sebebas ini sama sekali tidak ada didalam pikiranku. Memang sih aku datangnya kemaleman karna harus menyelesaikan tugas terlebih dahulu, tapi aku tidak menyangka jika acara menjadi sangat liar begini. Kukira hanya acara minum biasa, sekali lagi mengingat bagaimana kepribadian Cleo..


"Chloe, gue kira lo gak datang. Gue nyariin lo daritadi."


Aku menoleh cepat dan sosok Cleo menyapaku dengan senyum khasnya. Belum sempat aku mengeluarkan sepatah kata apapun, Cleo sudah menarik tanganku untuk menjauh dari tempat ini ketempat yang lebih tenang dari sebelumnya.


Aku tidak berkata apapun saat Cleo membawaku kesebuah ruangan seperti kamar tidur dengan pencahayaan remang yang berasal dari sinar beberapa lilin. Ditengah ruangan itu ada sebuah kasur king size yang dihiasi kelopak mawar merah. Aku ingin bertanya kepada Cleo tentang maksud ia membawaku kesini, namun aku membeku saat kulihat Cleo sudah mengenakan sebuah masker yang entah kapan dipakainya.


"C-Cleo..." aku merasakan kepalaku memberat dan tidak lama semuanya menjadi gelap.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


AUTHOR POV


Chloe membuka matanya yang terasa berat dan mengeratkan selimut yang ia kenakan saat merasa dingin menelisik kulitnya. Sesekali Chloe meringis saat anggota tubuhnya terasa begitu sakit.


"Eh?!" menyadari kejanggalan yang dialami, Chloe reflek bangun dan memperhatikan sekitarnya. Kamar yang asing dan... tubuhnya yang telanjang dan penuh lebam!


"Lo udah bangun? Apa masih terasa sakit?" tanya Cleo yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah.


"Makasih untuk tadi malam, ya."


"A-apa m-maksudnya?" tanya Chloe dengan jantung berdegup kencang dan tangan bergetar menutupi tubuhnya.


"K-kamu t-t-tidak..." Chloe mengatupkan bibirnya saat ia rasakan nyeri dibagian bawahnya. Perasaan Chloe begitu campur aduk antara takut, marah, sedih, dan kecewa.


"Gue merasa begitu terhormat sudah menjadi orang pertama yang merasakan diri lo."


Kalimat itu cukup untuk Chloe memaksakan diri turun dari kasur setelah melilitkan selimut untuk menutup tubuhnya yang telanjang. Seketika kaki Chloe melemas dan air matanya mengalir ketika melihat bercak darah yang mengotori seprei putih kasur tersebut. Tubuh telanjang, bagian bawah yang nyeri, dan bercak darah di seprei. Mustahil rasanya untuk Chloe menyangkal semua kemungkinan terburuk.


"Aaakkkhhh!" jerit Chloe saat ia rasakan rambutnya ditarik paksa hingga wajahnya mendongak. Tepat didepannya terpampang wajah psiko Cleo yang baru kali itu Chloe lihat. Untuk memikirkan ekspresi mengerikan itu ada di wajah Cleo saja tidak pernah terlintas dikepala Chloe.


"A-apa m-maumu?"


"Mau gue? Ngehancurin lo seperti apa yang Farhan lakukan kepada Silvia." Cleo terkikik geli sebelum dengan kejamnya menyeret tubuh gadis itu menggunakan rambut yang masih ia jambak. Tak Cleo hiraukan jeritan kesakitan serta isakan Chloe dan rambut-rambut gadis itu yang rontok ditangannya. Lalu, Cleo membanting tubuh Chloe sekuat tenaga hingga kepala gadis itu terbentur dengan keras dilantai yang dingin.


"Ini tidak seberapa dengan apa yang dilakukan Farhan terhadap Silvia dan gue. Gue bakal ngehancurin lo lebih dari ini dan tak lupa tiga orang brengsek lainnya!"


"M-maksudmu-"


PLAK!


"DIAM!!! SIAPA YANG NYURUH LU NGOMONG, ******?!" teriak Cleo setelah menampar wajah Chloe dengan sangat keras hingga hidung gadis itu mengeluarkan darah. Kepala Chloe rasanya sangat pening dan tubuhnya sakit sekali. Pandangan Chloe pun mulai mengabur.


chy memejamkan mata dengan erat saat Cleo membalik tubuhnya menjadi terlentang dan membuka selimut yang ia kenakan. Tubuh Chloe terasa sangat sakit, kepalanya berdenyut hebat, dan sekarang ia menggigil. Chloe menggigit bibir bawahnya dengan kuat saat ia rasakan bibir Cleo bermain-main dilehernya dan tangan lelaki itu bergerak liar menggerayangi tubuhnya. Hati Chloe terasa hancur sekali dan ingin sekali dia mati saat itu.


"Untuk lebih meyakinkan, setelah ini gue bakal nyebarin video tadi malam dan sekarang kepada tiga brengsek itu. Apa perlu seluruh dunia juga tau, ya?" tanya Cleo membuat Chloe membuka matanya dan menatap Cleo dengan raut wajah ketakutan.


"Disetiap sisi kamar ini banyak kamera tersembunyi. Semua aktifitas kita terekam. Bahkan penyiksaan tadi yang bisa dianggap seksi bagi penyuka BDSM, kan? Kita bisa terkenal dengan video ini, ******" Cleo tertawa dengan suara menggelegar dan menyeramkan, membuat Chloe semakim ketakutan. Chloe ingin kabur tapi tubuhnya terlalu lemah dan akhirnya gadis itu cuma bisa memejamkan mata kembali dan pasrah saat Cleo melanjutkan aktifitas kejinya.


"BRENGSEK! LEPASKAN CHLOE SEKARANG!!!"


......................


Penasarann???


Tungguin chapter berikutnya yaa