
“Temui aku di taman belakang sekolah. Di bawah pohon besar. A.H.”
Anne kembali membaca isi pesan yang dikirmkan padanya. Ia tak tahu siapa pengirim itu, tetapi inisial yang tertera dalam surat itu secara tak sadar membuatnya membayangkan seorang pemuda yang kemarin sudah menolongnya.
Aland Hadley.
Meski tulisan tangan Aland sangat berbeda dengan tulisan dalam surat itu. Anne tetap pergi ke sana. Ia berjalan sendirian dengan hati berdebar. Tak terlalu memikirkan kemungkinan lain yang bisa terjadi padanya. Ingatan kebersamaan dirinya dengan Aland kemarin membuat ia berani.
Jantungnya semakin berdebar ketika tempat tujuan yang ia datangi hanya tinggal melewati pembelokan. Sayangnya, sebuah tangan menariknya paksa dan menghempaskan tubuhnya di tembok belakang sekolah.
“Akh...” Anne merintih kesakitan. Benturan itu membuat tubuh bagian belakangnya terasa menyakitkan.
Dipandanginya tiga orang siswi yang sedang mengelilingi dirinya. Mereka adalah orang-orang yang sudah membulii dan mengurungnya di belakang sekolah sebelum Aland datang dan menolongnya.
“Siapa yang mengeluarkanmu di gudang kemarin?” Salah satu siswi menunduk dan mengintimidasi Anne dengan tatapan yang tajam. Gadis itu berambut coklat dengan mata berwarna serupa. Dia Megan, Anne bisa mengetahuinya dari tag name di baju gadis itu.
Anne menarik nafas dalam, mengenang kembali kebersamaan dirinya dan Aland hingga membuat perasaannya sedikit tenang dan selanjutnya mulai membuka mulutnya, “Aku ... tidak tahu.”
“Bohong!”
Anne menggeleng cepat secara refleks. Matanya sudah memerah. Ia benar-benar tak bisa menerima bentakan dari orang, meski mereka selalu melakukan itu. Mungkin itu jugalah yang membuat mereka semakin bersemangat mengganggunya.
“A ... aku tidak berbohong.”
“Lalu, bagaimana bisa kau keluar dari gudang itu?”
Anne berpikir cepat. Ia tak mungkin menjelaskan bahwa pintu itu terbuka dengan sendirinya. Tidak akan ada yang percaya dan bisa-bisa mereka akan semakin mengganggunya.
“Ku ... kurasa penjaga sekolah.”
“Kurasa?” Seorang gadis rambut pirang bersuara. Ia bersedakap dan menatapnya mencemoh. “Kau pikir kami ini sebodoh apa sampai bisa kau tipu, hah?”
“Cepat katakan siapa yang membuka pintu gudang!”
Anne ketakutan. Benar-benar sangat ketakutan. Tetapi, ia berusaha kuat untuk menahan semua ketakutan itu. Ia menghembuskan nafas panjang lalu memberanikan diri menatap gadis yang masih menatapnya dengan cemooh.
“Karena aku tidak melihat siapa yang membuka pintu gudang itu. Dan ketika aku keluar, tidak jauh dari gudang, aku melihat penjaga sekolah.”
“Kau pasti berbohong.”
Anne kembali menggeleng. Ia tak tahu lagi bagaimana menjelaskan kepada tiga gadis di hadapannya itu. “Aku tidak berbohong. Kalau kalian tidak percaya, kalian bisa bertanya pada penjaga sekolah. Mr. Amex.”
Dan Anne berharap, penjelasan itu cukup membungkam mereka. Karena ia yakin mereka tak akan berani bertanya pada penjaga sekolah jika mereka tak ingin mendapat masalah.
“Baiklah kami percaya.”
Anne tak menyahut. Ia juga tak lagi memandang mereka dan lebih beralih melihat sepasang sepatu lusuhnya.
“Kau memberitahunya siapa yang mengurungmu?”
Anne kembali mendongak. Ia menggerakkan kedua tangannya ke kiri dan kanan. “Ti ... tidak.”
Mana mungkin ia bisa memberitahu. Bisa-bisa masalah Anne semakin rumit.
“Bagus! Jika sampai guru-guru mengetahui tentang ini, kau yang akan mendapat masalah. Mengerti!” Megan mengancam. Sedang teman-temannya hanya menganggukkan kepalanya. Tidak sampai semenit setelah mengucapkan itu, mereka bertiga meninggalkan Anne.
Anne menarik nafas dalam. Ia menengadah menatap langit, berusaha menahan tangis yang terus mendobrak mata. Lagi-lagi ia begitu, tak berani melawan dan hanya menerima perlakuan mereka. Anne jatuh terduduk, merengkuh kedua dadanya dan menenggelamkan kepalanya di antara lutut.
Gadis itu benar-benar kecewa, benci, juga marah pada dirinya sendiri. Tetapi, Anne tahu, ia harus bertahan. Ia tak boleh kalah pada kemarahan dan membuat semua usaha yang ia lakukan jadi sia-sia.
Beberapa menit ia menenangkan diri, sampai bunyi bel pergantian pelajaran menyadarkan dirinya, Anne akhirnya bangkit dan beranjak dari sana. Di koridor ia bertemu dengan Aland. Dan lagi-lagi semua perasaan sedihnya hilang begitu saja. Kakinya melangkah untuk mendekat pada laki-laki itu dan ingin menyapa, namun diurungkan ketika matanya menangkap seorang gadis berjalan di samping laki-laki itu. Anne tahu siapa gadis itu. Gadis itu adalah teman sekelasnya Kimberly Alvis dan orang yang disukai Aland.
Perasaan membuncah yang tadi dia rasa seketika menguap. Sedih kembali menyapa kala sadar siapa gadis itu bagi Aland. Semua orang tahu betapa laki-laki itu sangat memperhatikan Kimberly. Berbeda dengan dirinya. Aland hanya membantunya. Harusnya Anne menanamkan itu di dalam kepalanya agar ia tak gampang terbawa oleh perasaan semu yang ia buat sendiri.
Anne mundur, tak jadi menyapa. Gadis itu mengambil langkah memutar agar tak sampai berpapasan dengan mereka. Namun, tindakan itu sangat salah. Karena berkat itu, ia bertemu dengan biang dari semua masalahnya. Chaiden Radbert─ sang iblis sekolah─ tengah berjalan ke arahnya.
Beberapa detik ia bingung mengambil keputusan, antara terus melanjutkan langkahnya dan harus mertemu Chaiden atau berbalik dan bertemu dengan Aland dan Kimberly. Dan Anne lebih memilih untuk berbalik dan kembali berjalan ke arah Aland dan Kimberly. Itu lebih baik ketimbang harus bertemu dengan Chaiden dan membuatnya semakin terluka.
Akan tetapi,
Grep
Tanpa Anne duga ternyata sang pangeran sekolah itu menangkap pergelangan tangannya dan menghempaskan tubuhnya ke dinding pada pembelokan jalan menuju arah Kimberly dan Aland. Laki-laki itu juga menghimpit tubuh Anne dengan tubuhnya. Lalu mengunci pergerakan gadis itu.
“Kenapa kau menghindariku?” Tatapan Chaiden terasa sangat kelam di mata Anne dan membuat gadis itu menunduk ketakutan.
“To ... tolong lepaskan─”
“Apa kau takut padaku?” Chaiden memotong ucapan Anne dan semakin menghimpit tubuhnya.
Anne terus bergerak, ia berusaha membebaskan dirinya dari kekangan Chaiden. Ia benar-benar takut berada dekat dengan laki-laki itu.
Tiba-tiba Aland dan Kimberly datang. Membuat Chaiden mau tak mau melepaskan Anne dari kukungnannya. Ia bergerak mundur lalu membebaskan kedua tangan Anne yang tadi ia cengkram.
“Dari tadi kami─ Anne? Kau juga ada di sini?” Kimberly tak bisa tidak bersedih melihat apa yang sudah dilakukan Chaiden pada Anne. Gadis itu berusaha keras untuk tidak membentak Anne sekarang. Meski ia tahu, Anne tak mungkin berbuat hal memalukan seperti itu.
“A ... aku ....” Anne tak tahu kata-kata apa yang mesti dia utarakan untuk menjelaskan apa yang baru saja mereka lihat. Tetapi, itu juga tak akan penting, karena Anne yakin, apapun yang nantinya ia jelaskan, mereka tak akan percaya. Tidak mungkin seorang Chaiden yang tampan akan menggoda gadis buruk rupa sepertinya, kan?
Tak sengaja matanya menangkap pandangan Aland yang menatapnya tanpa berkedip. Jantung Anne berdentum menyakitkan. Dan air matanya ingin sekali merembes keluar. Sungguh, Anne tidak pernah menanggapi pandangan orang-orang yang menganggapnya buruk, hina, dan gadis murahan, tetapi tidak untuk Aland. Ia tak ingin laki-laki itu menganggapnya seperti itu.
“Ti ... ti ... tidak, ini─”
Dan Anne tak dapat melanjutkan perkataannya saat Aland tiba-tiba menarik pergelangan tangannya menjauh dari sana. Menyisahkan dua orang yang tiba-tiba terlihat canggung itu.
Aland benar-benar tak senang melihat Aiden memperlakukan Anne seperti itu. Ia tak suka merasakan desiran aneh yang perlahan menggerogoti tubuhnya. Ia tak suka dengan detak jantungnya yang berdetak tak normal di dalam sana dan membuat perasaannya tak nyaman. Dan Aland tak suka perasaan sesak yang tiba-tiba ia rasakan.
“Al ... Aland─”
Aland menghentikan langkah kakinya di belakang sekolah, menghempaskan tubuh Anne di dinding lalu menghimpitnya sambil mencengkran kuat kedua tangan Anne. “Jangan pernah mendekati Chaiden!”
“Ti ... tidak. Kau salah paham.” Anne bukannya gugup karena takut dengan perlakuan Aland itu, tetapi karena Aland terlalu dekat dengannya. Jantung Anne seperti ingin meledak di dalam sana. Dan ia berharap Aland segera mundur selangkah.
“Meski begitu, harusnya tadi kau lari dan bukannya pasrah.” Aland masih mengeluarkan kemarahannya pada gadis itu.
Anne menggeleng pelan. Ia mengerti mengapa Aland bisa semarah itu padanya. Dan karena itu pula, Anne tak langsung mendorong Aland dan memberikan balasan kasar pada laki-laki itu. “Aku berusaha lari, tapi tidak bisa.”
“Kenapa? Karena kau perempuan? Astaga, kau bisa berteriak. Aiden pasti akan panik dan melepaskanmu.”
Bagaimana bisa Anne melakukan itu sementara ia tak bisa berfikir. Apalagi laki-laki itu membuatnya sangat ketakutan.
“Aku ... aku ketakutan.” Anne menyahutnya dengan suara lirih. Gadis itu menunduk. Kemarahan Aland saat ini sangat mengerikan.
Aland menghela. Ia tak tahu mengapa dirinya bisa semarah ini pada Anne. Bahkan sampai membentak gadis itu. Padahal ia yakin, Anne pasti sudah berusaha keras melarikan diri.
“Maaf.” Perlahan Aland melepaskan kukungannya, “Aku ... aku hanya tidak suka kau dekat dengannya.” kata-kata itu refleks Aland ucapkan. Tapi, itu benar. Ia tidak suka jika Anne dekat dengan Aland, terlebih laki-laki itulah yang menjadi penyebab Anne sampai dibuli di sekolah.
“Yah, kau benar. Aku akan berusaha keras untuk menghindari Chaiden.” Meskipun itu sangat sulit mengingat bagaimana laki-laki itu tadi mendapatkan dirinya dengan mudah. Bahkan ia pun tak sadar sampai ia ditahan di dinding.
Tapi, mengapa Aland sangat mengkhawatirkan dirinya? Yah, Anne tahu laki-laki itu pasti merasa bersalah dengan perlakuan sahabatnya yang sudah membuli dirinya, tetapi kekhawatiran itu justru terasa seperti kecemburuan seorang kekasih.
Anne menggeleng. Lagi-lagi ia menyimpulkan sendiri sikap seorang Aland padanya. Itu tak mungkin terjadi. Aland sangat jelas menyukai Kimberly. Lalu mengapa tadi Aland justru menyeretnya pergi dan bukannya Chaiden? Itu lebih masuk akal bukan?
Anne menghela. Sebenarnya, apa yang diinginkan Aland darinya?
“Yah kau harus!” Aland lebih menegaskan perkataannya.
Anne mengangguk lantas tersenyum agar Aland tak menuntut lagi. “Aku akan berusaha.”
Lalu hening menyelimuti mereka berdua. Angin membelai, menggoyangkan ranting-ranting pohon dan menghasilkan desisan menenangkan.
Anne memalingkan wajahnya melihat sekitar mereka saat matanya tak sengaja bersiborok dengan mata Aland yang tetap mempertahankan posisi mereka. Gadis itu menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Lalu pertanyaan yang selama ini ia tahan tiba-tiba terucap dengan suara lirih. “Sebetulnya, kenapa sikap Chaiden seperti itu padaku? Apakah aku pernah berbuat kesalahan padanya?” Anne kembali menghembuskan nafas panjang. “Sepertinya ia sangat membenciku.”
“Aku juga tidak tahu mengapa ia melakukan itu padamu. Dia memang sahabatku, tapi dia tidak pernah menceritakan apapun padaku tentang masalah ini.” Aland menjeda beberapa saat. Ia menarik nafas dalam saat kenyataan terpampang jelas di hadapannya. Sahabatnya masih menganggapnya orang asing dan tak mempercayainya. “Tapi yang jelas, kau harus menjauhinya! Apapun yang terjadi jangan pernah mendekatinya! Aku tidak mau kau kenapa-kenapa.”
“Iya...” Anne kembali tersenyum. Setidaknya ada orang yang mengkhawatirkan dirinya di sekolah ini.
“Trimas Aland. Terima kasih untuk semua kebaikanmu, tapi kurasa cukup sampai di sini saja kau menolongku. Aku tidak mau hubungan persahabatanmu dengan Chaiden berakhir apalagi sampai bermusuhan karena aku.” kata Anne tulus. Ia memang sering dibully oleh murid sekolah itu karena Chaiden. Baik batin maupun fisiknya tersiksa, namun itu jauh lebih baik jika dibandingkan melihat hubungan persahabatan Aland dan Chaiden berakhir dan membuat Aland bersedih. Ia paling tidak suka melihat orang yang ia cintai bersedih apalagi penyebabnya karena dirinya.
“Kau salah Anne. Aku dan Chaiden memang bersahabat dan aku sebagai sahabatnya memiliki kewajiban untuk menyadarkannya. Aku tidak ingin melihatnya menyiksa orang lagi, apalagi orang yang ia siksa adalah orang yang sangat ....” Aland menghentikan ucapannya. Bingung harus melanjutkan dengan menggunakan kata seperti apa.
“Apa Aland?” tanya Anne penasaran. Ia menatap Aland, penasaran dengan ekspresi yang ditunjukkan olehnya. Kenapa Aland senang sekali membuatnya penasaran? Kata-katanya, sikap, maupun tindakannya semuanya membuat dirinya penasaran. Apa Aland memang seperti ini? Selalu membuat orang penasaran atau hanya dirinya sendiri yang merasa seperti itu?
Tapi ia sungguh berharap, bahwa Aland akan mengatakan jika ia adalah orang yang disukai pemuda itu.
Masih terdiam, Aland tak kunjung memberikan jawaban pada Anne. Entah apa yang harus dilontarkan sebagai jawabannya. ‘Bukankah ini kesempatan untuk membat Anne tak dibully lagi.’ pikirnya.
“Aku menyukaimu An.” Lantang, tegas, tampak tak terdengar keraguan saat kalimat singkat itu terucap.
...
Nah ini penampakan Aiden
kalau ini Kimberly
Nah silahkan berimajinasi tentang tokohnya yah. Kalau aku sih menurutku mereka sangat cocok sebagai cast Aiden dan Lily.
Jangan lupa komentar yah. dan silahkan klik tombol like nya. Gratis kok 😊