Our Promise

Our Promise
BAGIAN 4



Awalnya Aland berniat untuk pulang, namun diurungkan karena sempat melihat beberapa murid berjalan dari arah gudang sambil tertawa puas. Mereka adalah orang-orang yang sering sekali menyiksa Anne. Dan karena itu pula perasaannya jadi tidak nyaman.


"Anne!"


Gadis itulah yang menjadi penyebabnya. Di dalam kepala Aland, ia seperti melihat wajah Anne yang menangis, terluka dan butuh pertolongan. Dan tanpa pertimbangan yang lebih banyak menyita waktu, Aland segera menghampiri tempat itu.


Bau menyengat langsung tercium di indra penciuman. Bukan hal biasa karena Aland sudah sering melihat mereka melakukan pembullian dengan menggunakan air kotor yang bau. Dan bukan hanya kepada Anne, tetapi pada murid lain yang mereka anggap pantas mendapatkan perlakuan seperti sampah. Tipekal orang yang sok berkuasa namun justru selalu melindungi diri di bawah keteak orang tua.


Namun, bukan itu yang ingin dicari tahu Aland. Pikirannya saat ini sedang tidak enak, karena wajah Anne terus terlintas di kepalanya. Apalagi raut sedih dan butuh pertolongan yang entah kenapa semakin sering muncul di kepalanya saat sudah tiba di tempat itu.


“Anne!” Aland memanggil Anne. Namun, tak ada jawaban. Hanya ada kesunyian dan gelapnya malam yang saling bersahutan.


Untung saja sinar bulan saat itu bersinar terang, jadi ia tak perlu terlalu khawatir dengan penglihatannya. Ia kemudian menelusuri bagian-bagian yang mungkin saja Anne tempati untuk berlindung dan menangis.


"Anne!?"


Di balik pohon, di semak-semak, bahkan di tempat yang sepertinya tidak cocok untuk mengadu pun Aland cari. Dan sayang, sekali lagi ia tidak menemukan gadis itu. Tak ada jawaban yang di dapatinya, meski suaranya sudah sekeras speaker sekolah.


"An─"


Suara Aland teredam saat penglihatannya mendapati bekas percikan air selokan yang bau. Ia kemudian mengikuti jejak-jejak tersebut dan berakhir pada gudang sekolah yang sudah tak terpakai lagi.


Aland menggeleng saat pikiran buruk tiba-tiba melintas di kepalanya. Tidak mungkin murid-murid itu mengerjai seseorang sampai seperti itu, bukan? Mereka hanyalah murid-murid biasa yang masih takut pada aturan sekolah.


Tetapi, seberapa keras pun Aland berusaha menampik pikiran itu, hati kecilnya tetap mengindahkan pemikirannya. Ia kemudian mendekat sampai tepat di depan gudang. Akan tetapi, pikirannya kian kalut saat melihat ada yang tak beres pada pintu gudang. Seseorang dengan sengaja menghalangi pintu untuk terbuka.


“Anne!” Aland segera melepas ganjalan pintu gudang itu dan masuk ke dalam.


“Anne!” Dan tiap panggilang yang ia lontarkan, Aland berharap apa yang ada di dalam kepalanya tidak berubah menjadi nyata.


“Anne!”


Sekali lagi Aland berteriak untuk memastikan. Dan lagi-lagi tak ada jawaban, hanya gelap dan pengap dalam gudang itu yang terus terpampang di hadapannya.


Aland kemudian menyalakan flash light ponselnya karena tidak tahu di mana letak saklar lampu lalu perlahan melangkahkan kaki jenjangnya memasuki gudang itu, berusaha mencari satu sosok yang terus membayangi kepalanya.


Ditelusurinya tiap sudut dari gudang, namun Aland tak juga menemukan Anne. Hanya suara desisan, cicitan, dan berbagai suara serangga malam yang perlahan muncul.


"Anne, are you here? Please answer me ....”


Tetapi Aland tetap tak mendengar balasan dari gadis itu.


Laki-laki itu pun berbalik karena tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Anne. Yah, lagipula meski murid-murid itu sering menyiksa Anne, mereka juga tidak mungkin menyiksa gadis itu sampai mengurungnya di dalam gudang yang gelap dan penuh dengan binatang malam. Aland yakin, seburuk-burujnya mereka, tidak mungkin mereka tidak memiliki hati.


Namun, pikiran itu lenyap ketika matanya tak sengaja menemukan sesuatu di balik salah satu pintu gudang. Aland mendekat dan saat itu juga ia merasa bola matanya ingin segera keluar dari tegkorak kepala. Itu adalah salah satu sepatu Anne.


Tanpa peduli pada apapun, Aland segera bergerak mendekat dan mencari pemilik sepatu itu. Dan ketika ia temukan, bukan lagi perasaan tak nyaman yang menggerayani tubuhnya, melainkan rasa marah yang siap meledak. Apalagi saat melihat keadaan Anne yang sangat menggenaskan. Gadis itu terbaring lemah dengan baju basah yang menyengat bau. Penampilan yang sangat berantakan, rambut yang acak-acakan dan bibir sedikit sobek. Masih ada jejak darah di sudut bibir dan jidatnya. Anne benar-benar sangat menyedihkan dan murid-murid itu benar-benar seperti iblis.


Aland ingin sekali menghancurkan tempat itu dan membalas orang-orang yang sudah membuat Anne seperti itu demi melampiaskan amarahnya. Sayangnya, itu tak bisa karena kondisi Anne lebih butuh perhatian sekarang.


"Brengsek, sial!"


Setelah puas berteriak, Aland mencoba membangunkan Anne.


"Anne!" panggilnya seraya menepuk pipi Anne dengan pelan.


Namun, Anne tak menyahut.


"Anne! Please wake up!"


Sekali lagi Anne tidak menyahut. Gadis itu masih belum sadar dari pingsannya.


"Please Anne bangunlah!" Aland memeriksa nafas dan denyut nadi di leher gadis itu dengan panis. Dan menghela napas lega saat tahu jika gadis itu masih hidup. “Syukurlah. An, please bertahanlah, kumohon.”


"Aland?" suara Anne benar-benar lemah tak bertenaga.


"Iya, Anne ini aku Aland. Apa-"


"Syukurlah ...."


Setelah memotong kata-kata Aland dengan suara lirih, Anne kembali jatuh pingsan dan membuat Aland kembali merasa panik.


"Anne! Anne! Oh God, kuharap kau tidak apa-apa."


Selanjutnya Aland mengangkat Anne dan bergegas membawanya keluar.


Beberapa menit dalam kepanikan, Aland tiba di apartemen miliknya. Apartemen minimalis yang dihadiahkan oleh orang tuanya beberapa bulan lalu karena sudah berhasil memenangkan pertandingan Nasional olahraga Judo. Salah satu olahraga yang sudah turun temurun keluarganya tekuni. Dan bukan hanya itu, ia dan kawan-kawannya juga berhasil membuat proyek dalam bidang teknologi yang berguna untuk perusahaan yang ayahnya kelolah, meski ia hanya anggota dan bukan otak dan pembuat ide.


Aland meletakkan Anne di kamarnya, membaringkan kemudian menghubungi dokter yang biasa mengobati dirinya saat terluka ataupun sakit. Setelahnya ia membersihkan tubuh Anne dan mengganti pakaian kotor gadis itu dengan pakaiannya.


Awalnya, Aland sulit melakukan itu. Bagimana pun dia adalah seorang laki-laki normal yang akan bereaksi ketika melihat pemandangan perempuan yang hanya berbalut pakaian dalam di depannya. Tetapi, ia tetap bertahan dan berusaha mengendalikan diri agar tak tergoda, meski ada bagian dari dirinya yang menginginkan itu.


Setelah selesai, Aland kemudian pergi ke dapur untuk membuatkan Anne sesuatu. Memasakkan bubur dengan menambahkan sedikit rempah obat agar Anne dapat segera sehat. Aland juga mencucikan baju kotor yang tadi digunakan Anne dan mengeringkannya dengan mesin.


...


Setengah jam kemudian dokter yang tadi Aland hubungi datang. Dengan perlengkapan yang biasa dibawa, dokter itu memeriksa kondisi Hinata dan setelah itu memberikan resep obat.


“Aunty, bagaimana keadaannya?”


Dokter Caroline menatap Aland dengan tatapan tak suka sekaligus marah. “Apa yang sudah terjadi padanya, ha?”


Aland bungkam, tak mampu menjawab. Ia tak mau ada masalah jika memberitahu dokter Carol mengenai Anne.


“Ck, benar-benar brengsek. Kau tidak ingin memberitahuku, ha?”


Aland tetap diam. “Aku tidak bisa menjawab masalah itu. Jadi, bagaimana keadaannya?”


Carol mendengkus. Dari ekspresinya jelas sekali terlihat jika ia tengah menahan amarah, tetapi tetap saja ia menjawab Aland pertanyaan. “Di badannya banyak memar dan aku sudah memberinya salep. Dia butuh banyak istirahat.”


Menghela nafas, Aland menatap Anne sebentar sebelum mengalihkan perhatiannya pada Carol. “Terima kasih, Aunty. Dan tolong jangan memberitahu pada ayah dan ibuku.”


“Aku tidak akan memberitahu mereka kalau kau menjawab pertanyaanku.” sentak Carol. Dokter itu pun tak mau mengalah begitu saja pada keponakannya.


“Aku benar-benar tak bisa. Ini menyangkut masalah banyak orang.” Aland menggeleng pelan. “Tolong, mengertilah.”


“Apa ini karena murid-murid sekolahmu?”


Aland kembali bungkam.


“Apa kau ada sangkut pautnya?”


“Iya.” Namun, nada bicara Aland terdengar tak begitu meyakinkan di telinga Carol. Dokter itu pun menghela lalu menepuk pundak keponakannya itu, “Aku tidak akan memberitahukan ini pada mereka, tetapi aku harap kau segera menyelesaikan ini. Aku tidak ingin mendengar nama sekolah yang dibuat kakekku tercemar buruk di mata masyarakat.”


Aland mengangguk paham. Ia pun juga tak ingin itu terjadi.


“Kalau begitu aku pergi. Dan jangan lupa tebus obat yang aku resepkan dan berikan pada gadis itu ketika ia bangun.”


“Terima kasih, Aunty.”


“Yah.”


Selanjutnya Carol membereskan perlengkapannya dan beranjak dari sana.


...