Our Promise

Our Promise
BAGIAN 2



Sepanjang jalan banyak pasang mata yang memperhatikan Aland dan Anne. Iri, kesal, benci, dilayangkan pada Anne oleh sisiwi-siswi di sepanjang koridor. Bagaimana tidak, Anne si gadis cupu, jelek, norak, bau, dan orang yang selalu mereka bully digendong oleh salah satu pangeran sekolah, seperti dalam kisah dongeng. Layaknya kisah putri tidur, di mana sang pangeran menggendong seorang putri cantik yang tengah tertidur dan membawanya ke dalam istana. Namun Anne bukanlah seorang putri cantik itu, ia lebih tepat disamakan sebagai tokoh beast dalam dongeng si cantik dan si buruk rupa.


Setelah sampai di UKS Aland membaringkan Anne di ranjang. Karena Aland tak bisa membuka baju Anne, ia hanya membiatkan dan menyelimutinya. Laki-laki itu kemudian mengambil sebuah kursi dan duduk samping ranjang Anne. Menjaga gadis itu kalau-kalau ada murid iseng yang ingin kembali mengerjai Anne.


Tak ada guru yang biasanya menjaga UKS, hanya hening yang menyelingkupi ruangan itu. Di luar, para murid yang tadi menontonnya sudah kembali di kelas mereka masing-masing karena bel masuk sudah berbunyi.


Aland menatap nanar Anne. Raut penyesalan terpatri di wajahnya. Ia benar-benar ingin menolong gadis itu, tapi ia pun tidak tahu bagaimana menolongnya.


Aland mengelus pipi Anne sambil menyingkirkan anak rambut di pipi gadis itu. Entah kenapa ia merasa sudah dekat dengannya. Apa mungkin ini karena pelukan yang mereka lakukan tadi, batinnya, seraya terus memperhatikan wajah Anne. Wajah yang selalu ditemani dengan kaca mata bulat yang besar sampai menutupi sepertiga wajahnya. Aland penasaran, bagaimana jika ia melepas kaca mata Anne, bagaimana rupa asli gadis itu tanpa kacamata?


Perlahan, Aland mengarahkan tangannya untuk menyentuh kacamata milik Anne. Jujur selama mereka sekelas, tak pernah sekalipun ia melihat Anne menanggalkan kaca matanya barang sedetik pun, bahkan saat di-bully pun ia tak juga melepaskan kaca matanya untuk dibersihkan. Jadi, selagi ada kesempatan, ia akan memanfaatkan kesempatan itu.


Seperti baru melihat pemandangan indah di hadapannya, Aland tertegun melihat wajah asli Anne tanpa kacamata. Dadanya berdesir, seperti ada hembusan hangat yang menerpa relung hatinya. Anne benar-benar cantik, sangat cantik bahkan melebihi Kimberly atau gadis di sekolahnya yang sudah di beri label cantik.


Andai semua orang melihat wajah Anne seperti ini, dipastikan mereka akan menyesal sudah memperakukan Anne seperti itu, bahkan akan berbalik memuja gadis itu.


Aland terus mengelus pipi Anne. Mengagumi setiap ukiran yang tercetak di wajah gadis itu. Dari mata hingga bibir tak luput dari belaiannya.


Mata Anne agak bengkak karena keseringan menangis. Walau demikian, mata itu masih terlihat indah. Saat ini mata Anne masih tertutup, namun jika terbuka dipastikan akan ada suatu keindahan yang akan terpancar keluar dari mata itu. Anne memiliki hidung yang mancung namun kecil, sangat cocok di wajahnya. Anne juga memiliki bibir kecil dan berwarna merah muda walau tanpa di poles oleh pemerah bibir dan sangat menggoda untuk dikecup.


Tangan Aland terus saja membelai bibir Anne. Teksturnya lembut, sangat pas jika disandangkan dengan bibirnya. Dan tanpa sadar wajah Aland sudah sangat dekat dengan wajah Anne.


Aland tersentak kala kesadaran menghampirinya. Cepat-cepat ia mengangkat kepala, tak ingin meneruskan kegiatannya.


Namun, dasarnya manusia memiliki rasa penasaran, Aland malah ingin merasakan bagaimana rasa bibir Anne. Ia kembali menundukkan kepalanya agar semakin dekat dengan wajah Anne.


Satu kecupan tepat mendarat di bibir mungil Anne. Namun, laki-laki itu belum merasa puas. Ia pun mengecupnya lagi namun bukan sekali, tetapi berkali-kali.


...


Dalam kisah putri tidur, sang putri yang dikutuk oleh nenek sihir terbangun karena kecupan dari cinta sejatinya, yaitu dari pangeran yang bersusah payah menembus parit dan istana yang dijaga ketat oleh nenek sihir.


Tapi, dalam mimpi Anne sosok pangeran itu malah terlihat sangat familiar, ia sangat mirip dengan Aland. Tapi anehnya, kecupan itu tampak nyata ia rasa, seolah itu sungguhan, seolah Aland memang tengah mengecupnya.


Perlahan kelopak mata Anne bergerak. Hanya berselang beberapa detik, iris itu menampakkan sinarnya.


Untuk beberapa saat, Anne masih bergeming, ia masih berusaha mencerna apa yang terjadi. Sampai ketika ia mendapati seorang laki-laki tengah memberikan kecupan-kecupan pada bibirnya, ia pun sadar. Matanya terbelalak kaget. Satu sentakan keras ia layangkan pada laki-laki itu hingga membuat laki-laki itu terjengkang lalu jatuh ke belakang.


“Si... siapa─ Aland?! Kau...”


...


“Al...Aland, apa yang kau lakukan? Kenapa kau menciumku?” Anne tergugu. Rasa sesak yang ia rasakan tadi entah menguap ke mana. Hanya rasa senang yang perlahan membuncah dari hatinya yang sekarang ia rasakan.


Bodoh memang. Tidak peduli pada kenyataan yang tersuguhkan di hadapan Anne. Tidak peduli jika Aland sudah mencuri ciuman darinya. Tidak peduli jika Aland sudah melakukan satu bentuk pelecehan, Anne tetap merasa senang. Yang jelas ciuman pertamanya sudah diambil oleh Aland, laki-laki yang sudah menempati sebagian dari hatinya.


Aland diam, menyimak kata-kata Anne. Kenapa Anne tahu, kalau ia adalah Aland? Bukankah Mata Anne rabun?


“Anne kau bisa melihatku? Ku pikir matamu rabun...”


Kening Anne bertaut, ia bingung dengan pertanyaan Aland. “A..apa maks─” Anne tak melanjutkan perkataannya ketika ia meraba wajahnya. Gadis itu tercengang ketika dirasa kacamata yang selalu bertengger di wajahnya telah tiada. “A...aa... I..itu karena suara Aland. A... a... aku menebak lewat suaramu.” Jawabnya asal.


Perasaannya jadi tidak karuan, ia benar-benar gugup mengetahui Aland telah melihat wajahnya. Dan lagi, sebenarnya Anne memiliki mata yang normal, ia memakai kacamata itu karena sebuah alasan.


Aland mengangguk dan menerima begitu saja alasan Anne tanpa menaruh curiga. Ia tak bisa berfikir karena wajah Anne terlalu mempesona untuk diabaikan. “Oh... Tapi, Anne kenapa kau memakai kacamata sebesar itu? Padahal banyak kacamata yang lebih kecil kan? Sayang sekali kalau wajah cantikmu itu harus kau sembunyikan.”


“I... itu...” mata Anne menjelajah, ia tak tahu harus menjawab apa pada Laki-laki itu. “A... aku tak punya uang untuk membeli kacamata.”


“Kau mau aku membelikanmu kacamata?”


“Ti...tidak usah. Terima kasih. Kau sudah baik padaku.”


“Ya sudah.”


"Iya."


"Tapi, aku memang ingin membantumu loh. Kalau kau berubah pikiran beri tahu saja aku."


Anne mengangguk, "Iya. Terima kasih."


...


Di sisi lain, tanpa Aland dan Anne sadari, sedari tadi seseorang tengah mengintip kegiatan mereka dengan ekspresi wajah yang sulit terbaca. Dia adalah Chaiden Radbert, orang yang selalu menyiksa Anne.


Laki-laki itu mengepalkan tangan karena menahan emosi. Ia kemudian segera menjauh dari tempat itu karena tak ingin ada orang lain yang melihatnya. Apalagi dengan ekspresi wajahnya yang sekarang.


Dan tanpa ia ketahui, seseorang juga tangah melihatnya dengan perasaan sedih. Dan kemudian berlari sambil menitikkan air mata.


"Shit!"


...