
Agak terlambat kayaknya ini. Tapi, daripada gak sama sekalikan? Oke, ini ada castnya Anne
dan ini cast untuk Aland
Susah buat cari cast yang benar-benar sesuai keinginan dan mendekati. tapi, pada akhirnya saya memilih mereka berdua. Meski, sebenarnya saya gak tahu nama mereka.
Jadi, menurut kalian bagaimana? Semoga sudah mendekati yah 😊
...
Hari telah berganti. Pagi menyapa riang. Sinar hangat sang mentari mulai menyebar di seluruh sudut dunia. Seorang gadis dengan helaian hitam lembut dan panjang terbangun menampilkan dua bola mata seindah bulan saat belaian sinar mengetuk kelopak matanya dan terbuka. Ialah Anne. Gadis cantik yang selalu menutup diri dengan tampilan buruk rupa itu kini membuka tirai jendela dan membalas sapaan pagi dengan senyum. Perlahan, ia turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk segera membasuh wajah.
Di dalam kamar mandi Anne terdapat sebuah cermin besar setinggi dirinya. Ia berhenti dan menghadap kaca yang tengah memantulkan bayangannya. Ia terdiam memandangi wajahnya yang tanpa kaca mata.
“Dia punya wajah yang cantik dan menurutku dia adalah gadis tercantik yang pernah kulihat.”
Anne menyentuh wajahnya. Wajah yang kemarin telah dipuji oleh Aland. Laki-laki yang sangat ia kagumi.
“Tapi, yang sangat kusukai dari wajahnya adalah mata bulannya yang teduh. Kalau aku menatapnya, aku benar-benar merasa tenang.”
Anne menatap wajahnya. Melihat pantulan bola matanya yang sewarna bulan. Mata yang ternyata disukai oleh laki-laki itu.
“Dan yang paling kusukai adalah sifatnya yang lembut. Dia benar-benar berbeda dengan beberapa perempuan yang aku tahu. Aku benar-benar dibuat mabuk.”
Wajahnya memerah setelah mendengar pujian terakhir Aland. Ia jadi tidak sabar untuk segera ke sekolah dan bertemu dengan pujaan hatinya itu. Yah, awalanya Anne sempat cemburu dengan gadis yang dimaksud oleh Aland, tetapi setelah ia tahu siapa, Anne tak bisa tidak merona.
Iya, gadis itu adalah dirinya. Meski, Anne tahu bahwa Aland hanya ingin menghiburnya, tetapi tetap saja ia tak bisa berhenti untuk senang.
*Tok tok tok
“An, sarapan sudah siap*.”
Anne tersentak mendengar sapaan ramah dari luar kamar mandi. Buru-buru ia membasuh dan melap wajahnya lalu menyahut. “Iya, tunggu sebentar.” Dan harusnya ia merasa gugup atau canggung mengingat ia berada di mana sekarang. Tapi, Anne benar-benar merasa tenang sekarang.
“Oke, aku tunggu di depan.”
Anne mengangguk. Tapi, saat sadar Aland tak mungkin mengetahui tindakannya itu, ia kemudian kembali menyahut. “Iya, baiklah.” Setelahnya ia menarik nafas dalam lalu secara perlahan membebaskan oksigen tersebut dari paru-parunya.
Kurang dari sepuluh menit Anne keluar dan menemukan Aland sudah menghabiskan setengah dari sarapannya. Laki-laki itu nampak serius menatap tabletnya dan sesekali menyuap makanannya tanpa melihat makanan itu.
“Al ...”
Aland berpaling pada Anne. Keningnya menyerngit melihat penampilan Anne yang sudah mengganti baju kaosnya dengan baju sekolah miliknya. “Oh. Eh? Pakaianmu itu ... Apa kau mau pulang sekarang?”
Anne mengangguk, “Iya. Aku takut ibuku mencariku.”
Aland menggaruk kepanya yang tidak gatal, “Aduh ... bagaima yah ... apa kau bisa menunggu sebentar lagi? Setelah ini aku ada perlu.”
Sebenarnya Anne tak bisa. Ia takut jantungnya akan meledak di dalam jika terlalu lama bersama laki-laki itu. Tetapi, ia juga tak bisa memaksakan Aland mengantarnya setelah ini.
“I ... i ... iya. Aku bisa menunggu sebentar lagi.”
OoO
Sudah lima belas menit mereka berkendara, namun Aland belum juga memberi tahu Anne di mana tujuan mereka. Laki-laki itu tampak serius menyetir. Pandangannya begitu fokus ke depan dan itu juga yang membuat bibir Anne bungkam dan justru fokus menatap Aland.
Mereka melewati jalan besar yang ramai sebelum melewati jalanan sepi di pinggir kota. Tampak rindang dengan pepohonan yang berjejeran di pinggir jalan dan terasa lebih sejuk. Kurang dari sejam perjalanan mereka, Aland memarkirkan mobilnya di parkiran sebuah pemakaman umum.
“Ini ...” Anne tak melanjutkan kata-katanya. Ia menatap Aland dengan perasaan tak nyaman. Ia pun ragu untuk bertanya meski penasaran sudah menggerogoti kepalanya.
“Kita mampir di sini dulu, baru aku mengantarmu pulang.” Suara Aland sangat tenang. Namun, Anne tahu laki-laki itu tengah menahan perih di hatinya. Dan Anne menebak mereka akan ke pemakaman salah satu orang terpenting dalam hidup Aland.
“Tidak apa-apa, kan?”
Anne menggeleng pelan. Ia tersenyum lantas menyahut, “Tidak apa-apa.” Lalu ia mengikuti Aland turun dan bergerak menuju area pemakaman.
Melewati beberapa kuburan, perasaan Anne sangat tidak nyaman. Seolah-olah ia tengah diikuti oleh sesuatu. Ia mendekat pada Aland untuk mencari perlindungan sekaligus menenangkan dirinya. Tetapi, ketika jarak mereka sangat dekat, Anne justru merasakan jantungnya yang menggila. Gadis itu kemudian serong selangkah. Jarak teraman untuk jantung juga perasaan aneh yang terus saja merayap di punggungnya.
“Ada apa?” Aland menatap Anne dengan kening mengkerut. Sejak beberapa menit mereka memasuki kompleks pemakaman, perilaku Anne jadi aneh. Gadis itu tak setenang biasanya dan terkesan mewaspadai sesuatu. Apa Anne sedang ketakutan terhadap makhluk astral yang tak bisa ia lihat?
Anne menggeleng seraya membawa senyum paksa di wajahnya. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya melihat-lihat makam di sini.”
Aland mengangguk. Laki-laki itu kembali fokus ke jalanan di hadapannya. “Apa keluargamu juga ada yang dimakamkan di sini?”
Sebenarnya tidak ada. Anne hanya mencari alasan agar Aland tak mengetahui bahwa ia ketakutan.
“Mungkin.”
“Mungkin?”
Anne kebingungan untuk menjawab pertanyaan Aland. Gadis itu sedikit meringis seraya memainkan dua jari telunjuknya di depan dada. “I ... i ... iya. Aku pernah dengar dari mama, kalau ada keluarga kami yang dikuburkan di pemakaman ini.”
“Oh. Betewe, kita sudah sampai.” Aland menyahut dengan nada datar. Tidak ada ekspresi berarti yang ditunjukkan oleh pemuda itu. Laki-laki itu jongkok dan menaruh bunga lili putih di atas ke dua makam.
Anne melihatnya dengan bingung juga penasaran. Sebenarnya siapa yang Aland datangi? Keluarganyakah? Tetapi, Anne belum pernah mendengar nama itu.
“Mereka ayah dan ibuku angkatku.” kata Aland seolah bisa mengetahui pemikiran Anne. “Ini adalah peringatan kematian mereka yang kelima tahun.” Aland mulai bercerita dan Anne hanya diam dan menyimak. Gadis itu tak tahu apa yang harus ia katakan sebagai penyemangat. Tetapi, Aland tak terlihat sedih. Laki-laki itu biasa saja.
“Mereka merawatku ketika aku hilang. Ah, sebenarnya waktu itu aku diculik dan berhasil kabur dan merekalah yang menemukanku. Yah sayangnya, ingatanku hilang sesaat dan mereka terpaksa merawatku. Mereka sangat baik. Meski mereka punya banyak kekurangan. Ayah angkat bekerja sebagai tukang bersih-bersih jalanan, sementara ibu angkat mengumpulkan sampah ....” Aland terkekeh lirih. “Dan mereka tetap memberiku makanan yang layak. Sampai ingatanku kembali, akhirnya aku bisa kembali kepada kedua orang tuaku yang sebenarnya. Tetapi, ketika aku meminta mereka ikut, mereka menolak. Belakangan aku tahu, salah satu gerombolan penculik itu adalah keluarga mereka dan mereka merasa bersalah makanya merawatku.”
Aland menarik nafas dalam. Laki-laki itu tampak menahan letupan emosi yang sudah memenuhi kepalanya. “Dan aku sangat marah. Aku memaki mereka dan mengatakan sesuatu yang sangat buruk. Aku tidak memberikan mereka kesempatan untuk menjelaskan kebenarannya. Lalu kecelakaan itu terjadi, namun aku tetap tidak mengetahui apa-apa. Sampai seorang pria yang kuketahui salah satu orang yang menculikku datang dan menjelaskan. Aku benar-benar sangat menyesal. Mereka sangat tulus membantuku. Mereka benar-benar menyayangiku dan aku membalas mereka dengan tidak tahu diri.”
Anne ikut berjongkok di samping Aland dan memberikan usapan lembut di punggung laki-laki itu. Meski Aland tak memberikan ekspresi terluka, Anne tahu pemuda itu sangat sedih. Tetapi, ia sendiri tak tahu bagaimana menghibur pemuda itu.
“Setiap manusia pasti akan kembali ke sisi-Nya. Dan aku percaya, orang yang baik pasti akan mendapatkan balasan surga dari Tuhan. Aku yakin, mereka pasti tidak pernah menyesal sudah menolong dan merawatmu, meski kau sudah jahat pada mereka.”
Aland menghela nafas panjang, “Yah, kau benar. Maaf sudah membuatmu mendengar ceritaku.”
Anne menggeleng pelan. “Tidak masalah.”
“Baiklah.” Aland menepuk lututnya lalu bangkit. Berpaling pada Anne disampingnya lalu memberikan senyum simpul menawan yang membuat waktu di sekitar Anne serasa berhenti. Ia mengulurkan tangannya agar Anne menerimanya dan ikut bangkit. “Kalau begitu sekarang aku akan mengantarmu pulang.”
Dan seperti robot yang hanya mendengar perintah dari sistem, Anne menerima uluran tangan itu sembari mengangguk.
...