
Byur....
Gadis itu terkejut bukan main ketika mendapatkan serangan tiba-tiba dari murid-murid SMA-nya padahal ia masih punya mata pelajaran setelah jam istirahat ini. Ia memejamkan mata, bau dari tubuhnya benar-benar menyengat. Ia jadi ragu baunya akan hilang dalam waktu sehari meskipun dengan sabun yang banyak. Sepertinya air bekas pel yang mereka pakai sudah dicampur dengan air got atau mungkin kotoran binatang hingga memiliki bau menjijikkan yang menyakiti hidung.
Seragam sekolahnya yang tadi masih putih bersih jadi kotor. Kepangan rambut indigonya jadi basah dan lepek dipenuhi oleh bekas kotoran dari air pel. Kaca mata bulatnya juga memburam dan membuatnya sulit melihat. Mereka benar-benar tidak punya hati. Bisakah ia menyebut mereka sebagai setan atau mungkin iblis, karena seburuknya manusia, mereka masih bisa mengontrol perilaku, tidak seperti mereka.
Gadis yang menjadi korban itu adalah Anne. Adrienne Alexandra, gadis biasa dengan tampilan tidak biasa. Sebut saja ia sebagai seorang kutu buku atau seorang nerd karena gaya berpakaiannya yang sangat eksentris dibanding dengan murid-murid lain di London International High School.
Dengan seragam putih yang terlihat kebesaran, serta cardigan berwarna hitam sebagai luaran juga rok warna senada dengan cardigan menjuntai hingga di bawah lutut juga sepatu putihnya yang sudah terlihat kusam menutupi kaki-kakinya, benar-benar membuat penampilannya berbeda dari pada murid lain.
“Ck, dasar sampah.”
Anne hanya bisa terdiam sambil menunduk di tempatnya. Gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa dengan perlakuan keji yang mereka lakukan.
Sungguh, ia tidak mengerti dan tidak tahu sebenarnya apa yang sudah ia lakukan hingga dirinya bisa berada dalam situasi mengerikan seperti itu. Menjadi salah satu korban bully dari murid di sekolahnya tak pernah sekalipun terbayang di kepalanya.
Anne ingat, awal masuk sekolah semuanya baik-baik saja. Tidak pernah sekalipun ia berbuat sesuatu yang bisa membuatnya berada dalam situasi seperti ini. Ia sudah berusaha menjadi murid baik di sekolahnya, bahkan terkadang ia pun membantu teman sekelasnya untuk mengerjakan tugas jika mereka meminta bantuannya.
Lagipula, dia juga hanya gadis biasa yang tidak akan pernah dilirik dua kali oleh siapapun, bahkan dia ragu kalau dirinya terlihat oleh yang lain. Lalu kenapa? Mereka juga tidak memberi penjelasan tentang apa salahnya. Tidak ada seorang pun yang memberitahunya.
Semua ini berawal ketika ia menginjak kelas dua, entah kenapa tiba-tiba ia menjadi salah satu target bully dan lebih parahnya lagi yang menjadi dalang dari semua itu adalah teman sekelasnya sendiri- salah satu dari− bisa disebut sebagai pangeran sekolahnya. Laki-laki paling diincar dan diinginkan oleh kebanyakan gadis di sekolahnya─ Chaiden Radbert. Laki-laki yang sudah dianugrahi wajah rupawan yang setara dengan Eros sang penakhluk hawa, dengan mata onix kelam yang selalu mengintimidasi, juga kecerdasan yang melebihi anak seusianya, ia juga berasal dari keluarga terhormat yang menjadi salah satu donator sekolahnya.
Anne benar-benar tak tahu apa yang sudah ia lakukan pada Aiden, hingga laki-laki itu menyuruh murid-murid di sekolahnya untuk mem-bully-nya. Ia bahkan tak pernah sekali pun merasa pernah mengobrol laki-laki itu. Anne selalu menghindari berinteraksi dengan orang seperti dia. Lalu apa alasannya?
Entahlah, hanya ia dan Tuhan yang tahu.
Dan seolah murid-murid itu hanyalah boneka tanpa jiwa yang dibuat Aiden, mereka menuruti apapun yang diperintahkan oleh laki-laki itu. Terus dan terus menyakitinya, bahkan tidak sedikit dari mereka malah terlihat bahagia saat melihat dirinya tersiksa.
"Ayo pergi."
Anne tetap diam setelah mereka pergi.
OoO
Anne berlari menuju belakang sekolah. Jatuh terduduk tepat di bawah pohon (yang selalu disebut pohon keramat oleh murid-murid di sana) kemudian menumpahkan segala sesak yang bergerumul dalam dada yang tak bisa ia keluarkan sebelumnya.
Beberapa potongan kenangan menyakitkan terlintas dalam benak seperti potongan kaset rusak yang terus berulang. Bagaimana mereka memakinya, mengatainya jalang, melemparinya telur busuk yang hampir mengenai matanya, menjambak rambutnya hingga beberapa helai rambutnya tercabut, bahkan air kotor dengan bau menjijikkan pun disiramkan ke tubuhnya.
Mereka semua benar-benar jahat. Namun, semua kejahatan itu dilandasi oleh seseorang. Chaiden Radbert, sang Devil Prince.
Anne menghela nafas berat, seraya memejamkan mata. Gadis itu berupaya menghilangkan rasa sesak yang masih terus bergerumul dalam dada.
Anne, kau harus kuat, mereka tidak ada apa-apanya dibanding apa yang pernah kau alami. Bersabarlah! Kau pasti bisa, titahnya pada diri sendiri.
Namun, entah rasa sakit itu sudah terlalu berlebihan ia tampung ataukah kebencian perlahan bangkit dari dalam dirinya, Anne tetap tidak bisa menghilangkan rasa sesak yang ia rasa. Air matanya tetap mengucur dari mata abu-abu indahnya, menetes dan turut membasahi roknya yang sudah kotor.
Dan perasaan muak tiba-tiba muncul. Ia lelah terus menerima perlakuan semacam ini, Anne tak kuat lagi untuk terus berpura-pura tegar, tetapi untuk memberontak pun ia tak punya nyali.
Setetes air mata lagi-lagi mengalir dari mata. Air mata yang mewakili perasaan putus asa, namun berusaha menguatkan hatinya yang rapuh.
Apa yang lebih buruk dari dibenci oleh orang yang tak pernah kita dekati sendiri?
...
Tap... Tap... Tap...
Anne tetap bergeming di tempatnya, merenung dan meratapi apa yang sudah terjadi. Ia yang terlaru larut dalam pikirannya tidak menyadari jika seseorang sedang berjalan mendekati. Bahkan ketika langkah kaki itu kian mendekat, Anne tetap bergeming. Sampai pada saat orang itu duduk di sampingnya dan menepuk pundaknya barulah ia sadar jika di sana ia tak lagi sendiri.
“Anne, kau tidak apa-apa?” tanya seseorang dengan nada khawatir yang kentara. Suara seorang laki-laki. Anne tahu suara itu milik siapa, namun enggan untuk berbalik. Ia takut. Barangkali laki-laki itu bukan orang yang ia kenal dan mungkin saja laki-laki itu juga hanya ingin mengerjainya, lagi.
"Anne?"
Anne masih kekeh tak berbalik. Ada rasa penasaran yang kian menelusuk namun perasaan takut lebih mendominasi. Hingga orang itu duduk di sampingnya, barulah Anne mau berbalik.
“Al...Aland?!” Anne terpekik kala mengucapkan satu nama yang dirasanya terlalu mustahil untuk disapa. Dia adalah Aland Ackerley, salah satu murid yang mendapatkan titel sebagai pangeran sekolah sekaligus sahabat dari dalang siksanya.
“Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau juga ingin mengerjaiku?” Anne tak menyembunyikan rasa sakit kala mengucapkan kalimat bernada pedas dengan sarkas kepada lelaki di sampingnya itu. Ia tahu, tak sekali pun Aland pernah bersikap kasar padanya, bahkan laki-laki itu sendiri pun justru selalu ingin menolong Anne, meski tak ada seorang pun yang tahu, kecuali dirinya sendiri.
“Tidak.” Aland terlihat menghela. Tanpa menghiraukan perkataan Anne, Aland kembali bertanya, “Apa kau baik-baik saja?” meski Aland tahu, Anne pasti akan ketakutan, mengingat ia siapa. Tapi, Aland tetap bersih kukuh ingin menyapa sekaligus ingin tahu kondisi gadis itu.
Aland tahu bahkan seluruh murid sekolah mereka juga tahu kalau dalang dari semua kekacauan yang dialami oleh Anne adalah sahabatnya sendiri. Jadi, wajar saja kalau Anne ketakutan setelah melihatnya berada begitu dekat dengan gadis itu.
Namun, diluar dugaan Anne malah mengangguk sebagai jawabannya. Meski lemah, tapi, Aland tetap lega, setidaknya Anne tidak lagi berpikir buruk.
"Aku baik-baik saja." Anne menyahut sambil menunduk, gadis itu belum mau menatap mata Aland. Bukan karena ia takut karena sujujurnya, perasaan takut yang ia rasa tak pernah mau berlama-lama kala Aland berada dekat dengannya. Aland seolah memberinya kekuatan, entah bagaimana caranya. Anne hanya tak bisa menatap mata lelaki itu.
"Kau yakin?"
Anne mengangguk. "Terima kasih untuk kekhawatiranmu."
Lalu hening. Tak ada lagi suara yang keluar dari bibir mereka. Hanya desau angin berhembus menghilangkan senyap yang terbentuk di antara mereka. Hening yang tampak menenangkan dan menyenangkan.
Aland menunggu Anne untuk berbicara. Biasanya orang yang sedih ingin menumpahkan sesaknya dan butuh orang lain untuk mendengarkan.
Namu Anne justru tetap pada diamnya. Gadis itu malah sedang bergelung dalam pikirannya sendiri. Menarka-nerka sebenarnya kesalahan apa yang sudah ia lakukan hingga ia bisa bernasib seperti sekarang.
“Aland boleh aku bertanya?” suara Anne lirih dan bergetar. Rasa sesaknya tiba-tiba ingin tersalurkan. Ia ingin menumpahkan seluruh emosi yang sedari tadi bergelung dalam benak. Air matanya sudah menggenang di pelupuk dan saling mendesak untuk mengalir, tapi Anne tidak bisa. Gadis itu tetap bertahan pada ketegarannya. Tak ingin orang yang dia suka melihatnya dalam keadaan lemah.
“Hm. Silahkan.” Aland menyandar di batang pohon yang digunakan Anne untuk menangis, tak memedulikan jika baju putih bersih yang ia kenakan bakal kotor terkena sisa kotoran yang sudah menempel karena Anne.
“Sebetulnya apa salahku? Kenapa Chaiden memperlakukanku seperti ini?” ujarnya lirih seraya terus menenggelamkan kepala di lekukan lutut dan pahanya─ berupaya menyembunyikan perasaan sedih yang terus menggelayut hati.
Aland bergeming. Ia terdiam beberapa saat─ tampak menyesal. “Maaf Anne. Aku sendiri juga tidak tahu, kenapa Aidan melakukan itu padamu.” Dan Aland merutuki diri sendiri karena merasa sudah gagal menjadi seorang sahabat. Seharusnya ia bisa menyadarkan atau setidaknya mencegah sahabatnya untuk berbuat jahat. Sayangnya, ia tak bisa. Ego seorang Aidan terlalu tinggi dan apa pun yang mereka lakukan adalah benar.
Dan satu hal yang paling disesali oleh Aland adalah, ia pun tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Anne. Anne bukan siapa-siapanya dan ia pun tak mau dianggap sebagai pahlawan kesiangan dan menjadi musuh bagi sahabatnya.
"Jadi begitu."
"Maaf... Aku─"
"Ini bukan salahmu." cepat-cepat Anne memotong ucapan Aland. Ia tak ingin ada satu kalimat penyesalan yang meluncur dari bibir pemuda itu dan membuat hatinya tersengat rasa bersalah.
"Tapi, Anne..."
Anne menggeleng sebagai jawaban. "Tidak apa-apa."
Lalu hening. Aland dan Anne tak lagi berbicara. Mereka sibuk dengan apa yang ada di benak mereka.
“Aland..." Anne memulai obrolan kembali setelah beberapa lama mereka terdiam.
"Ada apa?" Aland menangapi, pandangannya sudah berpaling pada Anne.
Anne tampak ragu, ia berusaha memantapkan hati kemudian menatap Aland dengan mata almetishnya yang berkaca, "Boleh aku meminta sesuatu?” lalu kembali menundukkan kepala.
Sejujurnya, Anne takut. Takut dengan kemungkinan yang akan terjadi. Mungkin ia akan mendapatkan tolakan atau kata-kata kasar. Tapi, tak apa. Entah kenapa ia ingin bertindak egois untuk saat ini.
“Apa itu Anne?” Aland bertanya sedikit antusias. Apapun yang diinginkan Anne, ia akan berusaha untuk mewujudkan. Asal gadis itu bisa merasa sedikit nyaman dan mengurangi sedikit rasa sedih yang ia rasa.
Anne melirik Aland sekilas, ada kejut yang terpantul dari binar matanya. Ada lega yang tersalurkan lewat desah nafasnya. Ia tak menyangka Aland mau mengindahkan permintaannya, tidak memarahi atau memakinya karena sudah serakah.
Anne memejamkan mata, lalu menghembuskan nafas sebelum menatap coklat bening di hadapannya. “Bolehkah aku memelukmu? Hanya untuk sekali ini saja. Mungkin ini permintaanku yang egois, Namun bolehkah aku?” pintanya lirih. Terdengar keraguan saat Anne mengucapkan kalimat itu. Entahlah, Ia sendiri pun tak tahu kenapa tiba-tiba bibirnya menggumamkan kalimat itu pada Aland. Padahal bukan itu yang ingin diucapkannya, ia hanya ingin sendiri dan tak ingin diganggu oleh siapapun, termaksud Aland. Ia ingin menangis di sini, tanpa ada orang yang melihat kelemahannya dan membuat Chaiden bertambah senang.
Aland bungkam. Tak ada kata-kata yang ia lontarkan sebagai jawaban. Namun, tubuhnya langsung mengindahkan permintaan Anne. Ia meraih kedua pundak Anne, merengkuhnya lalu membawanya dalam dekapan laki-laki itu. Yah, Aland dengan kesadaran penuh memeluk Anne. Laki-laki itu bahkan tak peduli dengan pakaian Anne yang kotor dan bau. Dalam pikirannya hanya satu, yaitu agar Anne bisa merasa nyaman, tak lagi merasa sesak─ meski itu hanya beberapa menit.
Aland benar-benar merasa kasihan pada Anne. Ia sangat yakin kalau Anne tak pernah melakukan satu kesalahan pun pada Aiden, menyapa saja tak pernah apalagi berbicara. Lalu bagaimana bisa Anne melakukan kesalahan fatal sampai sahabatnya itu berbuat demikan?
Aland sering memperhatikan Anne. Bagaimana Anne berinteraksi di dalam kelas, bagaimana Anne menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan atau bagaimana saat Anne mengerjakan tugas jika diminta oleh teman kelasnya. Itu seperti kebiasaan yang tanpa sadar dia lakukan. Lalu di antara semua kebiasaan yang gadis itu lakukan, tak satu pun yang bisa membuat seseorang tersinggung. Jadi, kenapa seorang Chaiden Radbert yang terkenal tak peduli pada sesuatu menaruh dendam pada gadis itu dan melampiaskannya dengan cara mem-bully-nya─ meski bukan dengan tangannya sendiri?
Hati Aland meringis, tat kala serpihan-serpihan kenangan buruk Anne satu-per satu menampakkan diri di dalam kepalanya. Ketika Anne dimaki, ketika Anne dibuangkan sampah, ketika Anne dibuangkan air kotor dan sederet siksa yang gadis itu terima karena perbuatan sahabatnya.
Dan Aland benar-benar muak dengan keadaan sekolahnya, ia benar-benar muak dengan kelakuan murid-murid sekolahnya, dan ia benar-benar muak dengan sahabatnya sendiri yang mencetuskan pem-bully-an itu. Sayangnya, meski muak, Aland tak memiliki rencana apa-apa untuk menghentikan itu.
Aland menghela nafas, tanpa sadar malah mengeratkan pelukannya. Nanti, ia berjanji dalam hati. Akan tiba saatnya penderitaan Anne akan hilang, dan untuk sekarang ia harus memikirkan rencananya.
Tapi, omong-omong, kenapa memeluk Anne malah memunculkan satu perasaan nyaman? Terasa menyenangkan meski gadis itu bau. Dan terasa hangat meski baju mereka sudah basah. Niat awal ingin membantu Anne agar sedikit lebih tenang, malah dirinyalah yang merasakan sebuah kenyamanan.
Sementara, Anne yang di peluk seperti itu oleh orang yang sudah lama ia sukai merasakan sebuah kehangatan. Semua kesedihannya menguap entah kemana. Tak pernah ia duga sebelumnya, jika Aland akan menerima permintaannya. Padahal ia sudah mempersiapkan batinnya kalau-kalau ia di tolak ataupun di maki. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya, Aland malah memeluknya erat.
‘*Aland, terima kasih untuk menjadi tempat sandaran, meski ini hanya sementara tapi kau sudah cukup menenangkanku dengan hangat dirimu. Kau bukan matahari pun cahaya, tapi kau bisa memberikan terang pada pikiranku.
'Terima kasih karena sudah menjadi sosok laki-laki yang hadir dalam dinginnya duniaku, terima kasih karena sudah membantuku berlindung dari rinai hujan kepedihan. Kau membantuku tanpa peduli jika aku adalah orang yang dibenci oleh sahabatmu sendiri. Terima kasih...
‘Dan maaf, jika aku sudah lancang menyukaimu. Tapi, aku tidak bisa menahan diriku. Kau adalah lelaki yang sudah lama kutunggu, lelaki yang sudah lama kuinginkan. Dan hari ini kau datang padaku dan menawarkan setitik cahaya mentari di balik gelapnya duniakui. Terima kasih.
‘Mulai dari sekarang aku tidak akan lagi mengasihani diriku, aku akan berusaha*.’ batinnya.
Anne merasa nyaman dalam dekapan Aland, kesedihan yang dia alami perlahan menguap menyisakan rasa bahagia yang menyeruak hingga ke relung hatinya. Perlahan kedua kelopak matanya tertutup, meresapi kebahagiaan singkat bersama pemuda yang ia cintai. Hingga tanpa sadar dirinya sudah terlelap dalam dekapan pemuda itu.
“Anne!” Aland memanggil Anne dengan nada yang lembut. Ia tak bisa terus berada dalam posisi seperti ini. Terlalu berbahaya untuk Anne.
Tapi, tak ada jawaban yang didapatkan Aland, Anne tetap terdiam dalam posisinya seolah sedang meresapi kehangatan yang menguar dari tubuh Aland.
Lalu perlahan Aland melepaskan dekapannya untuk melihat keadaan Anne. Ternyata, gadis itu rupanya sudah terlelap. Mungkin karena lelah. Lelah dengan semua siksaan yang diterima fisik maupun batinnya.
...