
“Kata momy nanti kalo becal, kita akan sepelti meleka. Nanti kita akan menikah, telus punya anak yang lucu-lucu kayak Elca. Aku mau punya anak kayak Elca yang lucu.” ujar bocah cilik berambut hitam pendek pada temannya. “Al, nanti kalau becal mau kan jadi cuamiku?” bocah cilik itu kemudian bertanya kepada temannya dengan wajah berharap, tanpa tahu arti dari kalimat yang ia ucapkan. Bocah itu kini tengah bermain di taman bersama dengan ketiga teman kecilnya yang lain sambil menunggu jemputan mereka.
Anak laki-laki dengan rambut blonde itu berbalik dengan menampakkan cengiran khasnya. “Nanti kalau becal aku akan jadi cuamimu.” balas bocah itu dengan suara riang sambil merentangkan kedua tangannya ke atas. Angin sore yang berhembus membelai rambut blonde-nya hingga membuat surai-surainya bergerak seirama dengan hembusan angin.
“Lily juga mau. Lily juga mau punya anak kayak Alca.” Gadis kecil lain dengan rambut sewarna lembayung senja menimpali. Tak mau kalah dengan bocah perempuan di sebelahnya “Aiten!?” ia berbalik meraih tangan kecil di sampingnya dengan malu-malu. Bocah cilik dengan surai hitam bertampang imut.
“Aku tidak mau dengan Lily. Lily tellalu pendiam. Aku tidak suka anak pendiam sepelti Lily.” sahut anak laki-laki itu sebelum temannya melanjutkan perkataannya.
“Aiten...!” suara Lily bergetar menahan tangis. Gadis berumur empat tahun itu sebentar lagi akan menangis.
Melihat temannya yang sebentar lagi akan menangis, anak laki-laki itu pun tak tega dan membelai rambut merah gadis kecil itu, diikuti dengan kedua temannya yang lain, yang menghampiri keduanya.
“Lily jangan Cedih, Ani juga jadi cedih. Aiten cuma main-main kok. Benal kan Aiten?” Hibur Anne kecil.
“Maaf! Tapi kalo Lily sepelti Ani, aku mau kok jadi suami Lily nanti.” Tambahnya sambil membelai rambut gadis cilik itu.
“Lily jangan cedih. Aiten cudah bilang mau jadi cuami Lily. Jadi jangan sedih lagi!” Imbuh laku-laki cilik yang lain. Ia juga tak tega melihat temannya menangis tepat depan mereka.
Hari semakin sore, para jemputan mereka juga sudah tiba. Tak mau merepotkan keluarga mereka. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk segera pulang. Lagi pula mereka tak mau dimarahi oleh kakak-kakak mereka karena telah menunggu lama.
“Aku duluan yah teman-teman. kakakku cudah mau pulang. dadah...! Becok kita main lagi yah!?” kata Anne kecil seraya berlari menghampiri kakaknya.
…
“Mimipi yah?” Gumam Anne.
Dulunya Anne memiliki 3 orang sahabat─ teman masa kecil tepatnya. Mereka semua bertemu di play group dan selalu bermain bersama sampai jemputan mereka datang.
Awalnya, mereka dulu tidak begitu dekat karena perbedaan karakter yang sangat mencolok. Terlalu berbeda dengan sifatnya. Ada yang pendiam, ada yang terlalu banyak bergerak dan hiperaktif, bahkan ada juga yang sombong tetapi sangat manja terhadap kakaknya, sementara dirinya adalah pribadi yang cerewet.
Yah Anne yang dulu memang pribadi yang tidak seperti sekarang. Waktu kecil, sifatnya tidaklah pendiam dan pemurung. Ia anak yang lembut, tetapi aktif dan suka berbicara. Namun, semua berbeda saat orang itu datang. Menemui keluarganya dan menagih janji yang bahkan dirinya pun tak tahu siapa yang membuat. Dan inilah alasannya mengapa sejak kelulusan elementary school ia mengubah seluruh penampilan dan kebiasaannya. Semua itu demi kembalinya semua ketenangan yang keluarganya dulu miliki.
Anne menghembuskan nafas saat sadar jika kenangan masa lalu itu tidak akan pernah datang lagi di kehidupannya saat ini. Tidak akan mengubah apapun yang sekarang ia alami. Kenangan itu harusnya hanya tersimpan erat di dalam hatinya dan tidak berharap kenangan itu akan kembali berwujud.
Selanjutnya, Anne mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Meneliti semua yang netranya tangkap. Namun, baik cat tembok, perabot, juga tatanan ruangan itu sama sekali berbeda dengan kamarnya. Selain itu, wangi yang menguar dari kamar itu pun sangat kontras dengan aroma miliknya. Lebih mirip seperti lelaki yang yang ia kenal. Citrus dan mint. Dan Anne juga yakin, ia tak berada di kamar kakak sepupunya karena tak mungkin kakak sepupunya yang menggilai aroma caramel lembut bisa berubah haluan dan menyukai bau yang menyengat seperti ini.
Lalu dia di mana?
Siapa yang menolongnya?
Menerka laki-laki yang sudah sembarangan membawa tubuhnya ke ranah pribadi orang itu membuat jantung Anne bergemuruh. Apalagi, ketika ia mengingat kali terakhir kesadarannya masih mengambil ahli sebelum ia jatuh pingasan. Ada empat murid yang sudah mengurungnya di dalam gudang sebelum mereka meninggalkannya dengan pakaian yang basah serta luka.
Apa salah satu dari mereka? Tetapi, seingat Anne, di antara mereka tidak ada satu pun laki-laki yang ikut menyiksanya. Dan tidak mungkin juga di antara murid modis itu ada yang menyukai bau laki-laki seperti ini.
Lalu siapa?
Tidak mau berlama di sana dengan perasaan berkecamuk serta tidak enak, dengan susah payah Anne bangkit dan berusaha berdiri, tetapi beberapa detik kemudian ia kembali terduduk karena tidak kuat menopang tubuhnya yang masih lemah serta kepalanya yang tiba-tiba berdenyut dengan rasa nyeri yang menyengat.
Anne kemudian duduk di ranjang itu setelah menyusun bantal sebagai sandaran lalu menutup bagian bawahnya yang tidak sampai tertutup oleh baju yang ia pakai dengan selimut. Selanutnya, ia menunggu si pemilik rumah dan juga orang yang sudah menolongnya.
Tangan kanan Anne beralih memegang pelipisnya yang terluka. Tapi, bukan menemukan permukaan kulitnya yang robek, ia malah menyentuh plester luka. Begitu juga dengan goresan di lengan dan kakinya yang kemungkinan besar sudah diberi salep luka.
Anne juga baru sadar bajunya sudah diganti dengan pakaian lain. Baju kaos kebesaran yang tidak sampai menutupi pahanya. Itu artinya, orang yang membawanya ke sini bukan termaksud salah satu dari mereka yang sering menyiksanya.
OoO
Di dapur, Aland yang sudah menyiapkan bubur serta air hangat untuk diminum Anne, bergegas kembali ke kamarnya untuk melihat keadaan gadis itu.
Namun, ternyata gadis itu sudah sadar dan ia tengah duduk bersandar di kepala ranjang dengan bantal sebagai tumpuannya.
Aland perlahan mendekati gadis itu. Dengan senyum penuh kelegaan, Aland berseru, “Anne!” Lalu menyimpan nampan yang ia bawa di atas meja samping tempat tidur dan ikut duduk di samping gadis itu. “Bagaimana keadaanmu Anne?”
Beberapa detik Anne hanya terdiam di tempatnya. Ia berusaha menafsirkan apa yang tengah terjadi padanya saat ini hingga membuat Aland khawatir. Secara refleks laki-laki itu menyentuh Anne dan memeriksanya ,“Ada apa? Kau baik-baik saja, kan? Apa lukamu masih terasa sakit?”
“Al ... Aland,” ucap Anne seraya menatap laki-laki itu. Ia tidak bermimpi, kan saat ini? Tapi, mengapa Aland bisa menolongnya?
“Ak ... aku baik-baik saja. Apa kau yang sudah menolongku dan membawaku kemari?”
Aland mengangguk lalu menghela legah. “Ah, syukurlah. Sebaiknya kau jangan banyak bergerak dulu.” Laki-laki itu mengambil bubur lalu menyuapkannya pada Anne, “Makanlah!”
“Thank’s Aland, kau menolongku lagi” Anne sambil tersenyum tulus sembari mengambil sesendok bubur yang disodorkan Aland di mulutnya.
Ah, Anne merasa berada di dalam mimpi saja mendapat perlakuan manis dari Aland. Meski itu hanya akan berlangsung beberapa menit saja. Setidaknya, ia bisa mengingat kenangan manis itu ketika ia dibully agar tak terlalu merasakan sakit.
Tetapi beberapa detik kemudian, saat kunyahan makanan di mulu Anne sudah habis, Aland masih diam dengan posisi yang sama di hadapannya. Tangan laki-laki itu masih menjulur dengan posisi sendok berada di depan mulutnya. Apa keadaannya ini hanya mimpi?
“Aland?”
Tak ada jawaban. Lelaki itu tetap diam. Sampai Anne menyentuh lengan lelaki itu, barulah Aland sadar dari lamunannya.
“Aland, kau tidak apa-apa?”
"Eh ....” Aland sedikit tersentak dengan panggilan Anne. Ia kemudian menurunkan tangannya dari depan bibir Anne kemudian menaduk-aduk bubur untuk menghilangkan kegugupan. “Maaf yah aku melamun.” Kemudian kembali menyuapi Anne.
Aland benar-benar merutuki kelakuan konyolnya barusan. Bisa-bisanya ia melamun tepat di depan gadis itu. Tetapi, ini juga karena kesalahan gadis itu yang memberinya senyum terlalu manis hingga membuatnya lupa diri.
Bukan hanya itu, Aland sendiri juga tidak bisa mengerti, mengapa melihat senyum Anne membuat sesuatu yang aneh berdesir di dadanya. Desiran hangat yang menenangkan. Dan tiba-tiba saja, Aland ingin mempertahankan senyum itu di wajah Anne.
"Bubur ini enak."
Aland menatap Anne yang sudah membuyarkan lamunannya kemudian tersenyum. Ia tak menyangka bubur yang ia buat pertama kali bisa diterima lidah Anne. Yah, meski itu memang berdasarkan resep yang ia lihat di browser.
"Benarkah?"
Anne mengangguk, "Iya, bubur ini enak."
"Padahal tadi aku tidak yakin kau akan menyukainya karena sudah kutambah dengan rempah obat, yah nenekku bilang resepnya sangat manjur untuk orang yang sakit." Aland menjelaskan.
"Jadi bubur ini buatanmu?" Anne tak menyembunyikan nada heran sekaligus takjub dalam kata-katanya. Selama ini ia pikir anak-anak lelaki orang kaya tak suka berada di dapur, apalagi membuat makanan untuk orang lain.
Aland mengangguk dan membuat Anne membayangkan adegan dalam film romantis yang pernah ia tonton. Jadi, bisakah ia berharap seperti mereka dengan aktor utamanya adalah dirinya dan Aland?
"Aku pikir ini buatan pembantumu."
"Aku tidak memiliki pembantu. Sejak aku pindah di apartemen, aku sudah memutuskan bahwa aku harus mandiri, termasuk melakukan sesuatu dengan usahaku sendiri."Aland menjelaskan seraya memberikan Anne minum dan menaruh mangkuk bubur di atas nampan. “Dan aku tidak menyangka kalau bubur buatanku enak.”
Anne menerima gelas minuman yang diberikan Aland selanjutnya meminum minuman itu sampai setengah. “Terima kasih.”
Lalu ia terpikir sesuatu. Jika Aland tidak memiliki pembantu lantas siapa yang mengganti bajunya? Tidak mungkin Aland sendiri, kan?
“La...la─”
“Minumlah.” Aland memotong ucapan Anne ketika ia memberikan obat yang sudah diresepkan oleh bibinya.
“Ah, i ... iya.” Anne meminum obat itu. Kembali rasa gugup menghampiri kala teringat pertanyaan yang coba ia ungkapkan setelah Aland mengambil gelas minumannya.
“Ah, besok hari libur, kalau mau kau bisa menginap di rumahku untuk beristirahat.”
“Eh?”
Kening Aland menyerngit, “Kenapa?”
Apanya yang kenapa? Tidak mungkinkan mereka berdua tinggal dalam apartemen yang sama? Oke, Anne tahu kemungkinan di dalam apartemen ini punya dua kamar berbeda, tetapi tetap saja itu terasa tidak bagus. Selain itu, ia juga tak begitu yakin, jantung dan wajahnya tidak bermasalah. Berdekatan dalam waktu singkat saja mampu membuat jantungnya bergemuruh kencang, apalagi dalam waktu semalaman. Bisa-bisa jantung Anne akan meledak karenanya.
“Sebaiknya aku pulang setelah ini.” Anne tak menyembunyikan kepanikan dalam suaranya dan membuat Aland terkekeh. “Kau benar-benar lucu, An.” katanya sambil mengusap kepala Anne. “Aku hanya bercanda.”
Anne tak menyahut perkataan Aland. Dia sibuk menenangkan detak jantungnya yang menggila di dalam sana akibat perlakuan Aland barusan.
“Kalau begitu istirahatlah.” Selanjutnya Aland membaringkan tubuh Anne lalu menaikkan selimut gadis itu. “Tapi, aku serius tentang kau yang harus bermalam di apartemenku.” Melihat raut Anne yang ingin protes, Aland buru-buru menambahkan perkataannya, “Tenang saja, aku tidur di kamar yang lain.Kalau kau takut aku datang ke kamarmu, kau bisa mengunci kamar. Tapi, beda cerita jika kau memang ingin aku menemanimu tidur.” katanya sembari menyengir, kemudian membereskan perlengkapan makan Anne dan segera berlalu.
“Oh ya,” Aland menghentikan langkahnya di pintu sebelum benar-benar keluar dari kamar, “untuk sekarang, pintunya jangan dikunci dulu, karena aku ingin mengganti plester lukamu.”
Dan Anne masih belum menyahut. Sampai bayangan Aland sudah tak lagi nampak, Anne tetap diam di tempatnya.
“Ini bukan mimpi, kan?” gumamnya sebelum membenamkan kepalanya pada bantal. “Aiish ...” keluhnya ketika kepalanya kembali berdenyut.
Tapi omong-omong, sepertinya Anne melupakan sesuatu. Gadis itu kembali berpikir dan ketika ingatannya kembali, ia bertekad untuk menanyakannya secara langsung saat Aland kembali.
“Ada apa?” Aland segera menghampiri Anne, ketika gadis itu terlihat meringis sembari memegang kepalanya. “Apakah kepalamu kembali sakit?”
“Ah, ya ... sedikit. Aku tadi salah gerak.” Anne menyahut sedikit meringis, kemudian tersenyum agar Aland tak lagi khawatir. “Aku baik-baik saja. Tidak usah cemas.”
Aland menghela, “Syukurlah. Ini plester luka yang tadi kubilang. Aku akan mengganti bagian sikumu. Sepertinya tadi waktu kupasang tidak baik, jadi bergeser dan lukanya terlihat.”
Anne melihat luka di sikunya. Dan memang benar, lukanya kelihatan. Tapi, anehnya ia tak merasakan apapun.
Kemudian Aland melepas plester luka itu lalu menggantinya dengan yang baru. “Selesai.” katanya seraya tersenyum. “Perihkah?”
Anne menggeleng lantas kembali tersenyum. “Tidak. Kau baik sekali Aland.”
Aland terkekeh dengan kepolosan Anne. “Orang berbuat baik, belum tentu baik loh. Tapi aku memang orang baik.”
Anne terkekeh dengan kata-kata Aland. Tetapi, apa yang dikatakan oleh Aland memang benar. Hanya saja laki-laki itu memang orang baik seperti katanya.
“Oh ya Aland, aku ingin bertanya sesuatu. Bolehkah?”
"Ya, silahkan. Apa yang ingin kau tanyakan?"
Anne menunduk. Tiba-tiba ia kembali merasa gugup. Jari-jarinya kembali ia mainkan di atas paha. “Begini...” Anne menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Ia berusaha menenangkan diri dari kegugupan. “Mm ... tadi kau bilang, di apartemenmu, tidak ada pembantu, ya kan?”
Aland mengangguk. “Iya, lalu?” Matanya tak lepas dari wajah Anne yang tiba-tiba memerah tanpa Aland ketahui sebabnya. Namun, justru sangat ia sukai.
“Jadi ... jadi ... kalau begitu yang mengganti pakaianku, siapa?”
“Tentu saja aku.” Aland menyahut dengan senyum, “Baju yang kau pakai juga itu adalah bajuku.”
“Eh?!”
“Hm?” kening Aland menyerngit, namun detik selanjutnya ia sadar. Buru-buru ia menjelaskan sebelum Anne salah paham padanya. “Ma ... maksudku, baju yang kau pakai memang milikku, tetapi yang menggantinya adalah tanteku. Dokter yang tadi memeriksamu.” Yah, meski tidak terjadi sesuatu sebenarnya. Namun, Aland tadi sempat tergoda, bahkan miliknya pun sudah mengeras. Dan ia tak mau Anne menganggapnya lelaki buruk hanya karena masalah itu.
Aland tahu Anne pernah tinggal di daerah prostitusi, namun ia yakin jika gadis itu tak mungkin melakukan hal-hal melenceng. Sifat Anne yang polos sudah memberitahunya. Dan gosip-gosip yang beredar di sekolahnya itu tidak benar. Tetapi, mengapa gadis itu tinggal di sana sementara ia memiliki keluarga yang bisa membiayai seluruh kebutuhannya? Laki-laki itu benar-benar tidak mengerti.
Aland menunggu reaksi Anne, namun gadis itu tetap bergeming. Tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Apakah gadis itu tidak mempercayainya? Yah, kalau dipikir kembali, tak mungkin ada gadis yang langsung percaya perkataannya tadi. Sepolos apapun gadis itu, kalau ia pintar, tak mungkin dia percaya.
“Kalau kau tidak percaya aku akan menghubungi tanteku.” Aland benar-benar dibuat panik. Mungkin jika gadis lain yang seperti itu, ia tak akan peduli. Tetapi, terhadap Anne, ia merasa tak menerima. Ia tak ingin dicap buruk oleh gadis itu.
“An─”
“Kau tenang saja. Aku percaya padamu.” Anne memberikan senyumnya pada Aland. Ia berharap laki-laki itu tak lagi mempermasalahkan tentang ganti baju. Lagipula, jika bukan karena Aland mungkin ia akan berakhir menggenaskan di dalam gudang itu.
Dan Aland menghela nafas legah karena jawaban Anne.
“Thank’s. Lagi-lagi kau menolongku.” Anne tak tahu apa yang bisa ia berikan pada Aland selain berterima kasih.
“Itu sudah sewajarnya, kau kan teman sekelasku. Lagipula kau begini juga karena sahabatku. Oh ya Anne, ngomong-ngomong kau tinggal di mana? Aku akan mengantarmu pulang jika kau sudah baikan.”
Anne menimbang-nimbang jawaban yang tepat untuk pertanyaan Aland. Haruskah ia berbohong ataukah jujur. Jika Aland orang baik ia pasti akan menyimpan rahasia. Tidak. Bukan itu masalahnya. Ia tak mau Aland masuk ke dalam masalahnya. “Tidak apa-apa. Aku bisa pulang sendiri.”
“Tidak bisa!”
Anne menghela napas, nampaknya ia akan kesulitan menolak. Tetapi ia juga tak mau Aland mengantarnya pulang. Ia kemudian menggeleng. “Trims Aland, tapi aku tetap akan pulang sendiri. Akan ada masalah jika anak-anak sekolah melihatmu mengantarku pulang. Kau tahu kan di daerah ini banyak anak-anak sekolah kita yang tinggal.”
Aland tetap menggeleng, “Aku tetap mengantarmu. Aku bukan laki-laki yang setengah-setengah bertanggung jawab. Jika aku bilang aku akan mengantarmu, maka aku akan mengantarmu.”
Oh ya ampun, Anne benar-benar tak habis pikir dengan laki-laki di depannya itu. “Al please.”
Tetapi Aland adalah laki-laki keras kepala. Ia tak akan berhenti sebelum tujuannya tercapai. “Aku tetap akan mengantarmu.”
“Ta─”
“Tidak ada bantahan, oke."
Dan pada akhirnya Anne hanya bisa menerima keputusan Aland. Ia menghela lantas mengangguk pasrah. "Baiklah." karena Anne tak tahu lagi kalimat apa yang bisa ia berikan untuk meruntuhkan keinginan laki-laki itu.
“Bagus." Aland tersenyum. Kemudian menaikkan selimut Anne. "Kalau begitu istirahatlah.” katanya sebelum berdiri.
Anne mengangguk.
"Thank’s, Al."
"Kau terlalu banyak berterima kasih." kata Aland seraya tersenyum. Ia pun melangkah menjauh dari tempat Anne.
"Al, yah." gumamnya tampak berpikir, meski kakinya tetap melangkah, "Kenapa nama itu terasa familiar?" lalu ia menggeleng dan berhenti melangkah untuk menatap Anne. "Aku suka panggilan itu, An."
Dan Anne hanya diam. Memikirkan panggilan Aland yang sangat familian di telinganya.