
Bel berbunyi, tanda jika pergantian jam tengah berlangsung. Murid-murid yang tadi berkeliaran, kini satu per satu memasuki kelasnya masing-masing. Terkecuali Anne dan Aland yang masih berada di dalam ruang UKS.
Dengan susah payah Anne bangkit. Meski kepalanya terasa berdenyut, ia tetap berusaha menggapai kacamata yang diletakkan Aland di tangan laki-laki itu. Ia berpura-pura meraba sesuatu di atas ranjang UKS demi mendapatkan kacamatanya.
Aland yang melihat kegiatan Anne dengan cepat mengerti dan tanggap. “Kau mencari kacamatamu, 'kan?" tanyanya. "Kau jangan khawatir. Ada padaku, kok. Tadi aku melepasnya karena kupikir kau tidak nyaman memakainya ... tapi sebentar yah, aku membersihkannya dulu." kata Aland kemudian mencelupkan kaca mata itu di dalam wadah yang berisi campuran air dan alkohol dan membersihkan pakai kapas. Setelah itu, ia mengeringkan dan membersihkan sisa kotoran di kacamata Anne dengan kapas baru yang kering. "Nah ini lebih baik. Biar kupasangkan." ucapnya kemudian setelahnya langsung memasangkan kacamata tersebut di wajah Anne.
Anne yang diperlakukan seperti itu oleh Aland hanya bisa menunduk. Ada sesuatu yang hangat mengaliri dadanya dan itu terasa menyenangkan. “Te ... terima kasih Aland.” bisiknya lirih disertai gugup. Anne menyentuh kacamatanya untuk memberikan alasan karena ingatan tentang ciuman yang diberikan Aland tiba-tiba terlintas dalam benak. Wajahnya tiba-tiba merona tanpa permisi.
"Apa aku boleh tanya sesuatu padamu?"
Anne tak sempat menikmati lamunannya ketika suara Aland masuk ke dalam indra pendengarnya. Anne mengangkat kepala guna melihat raut wajah Aland yang terlihat enggan bertanya namun juga terlihat penasaran untuk mengungkapkan. "Silahkan..."
"Kau merasa nyaman dengan kaca mata itu? Kau tidak mau menggantinya dengan yang lebih kecil? Maksudku, kan banyak kacamata yang lebih kecil dan lebih bagus, kau tidak ingin menggantinya?"
Aland tak berniat untuk menyinggung Anne, ia hanya penasaran. Dan kalau Anne bersedia, Aland sangat bersedia untuk membelikannya. Asal ia bisa kembali melihat wajah Anne yang lebih baik. Dan barangkali saja setelah gadis itu mengganti kacamatanya, ia tak akan lagi kena bully dan malah berganti jadi disanjung karena kecantikan yang dia miliki.
Anne menghela. Aland sepertinya tak puas dengan penolakan yang ia beri tadi. “Aku tidak bisa.” Dan ia tak mau.
Satu kening Aland terangkat. Jawaban Anne mengindikasikan kalau sebenarnya gadis itu bisa, hanya saja karena alasan tertentu ia tak bisa.
"Kenapa?"
Anne diam, tak menyahut. Gadis itu hanya menunduk, tak mau menatap Aland.
"Begitu yah? Padahal akan lebih baik kalau kau memakai kaca mata yang lebih kecil dan tidak menutupi sebagian wajahmu. Kan sayang wajahmu sangat cantik, tapi tertutupi oleh kaca mata itu.” tutur Aland tak memperdulikan reaksi Anne yang semakin menunduk dalam. Ia ingin memancing reaksi Anne terutama pada ekspresi gadis itu.
Tapi sayang, Anne tetap menunduk hingga Aland tidak bisa melihat ekspresi gadis itu.
"Aku tetap tidak bisa." ungkap Anne dengan suara yang lebih kecil. Ia berusaha menenangkan degupan jantungnya yang berhasil menggila di dalam sana akibat perkataan Aland barusan. "Kacamata ini sangat berharga dan aku tidak bisa melepaskannya."
Aland mengangguk, namun tak menunjukkan ingin menyerah. "Tapi Anne, mungkin saja mereka tidak akan membullymu lagi. Aku─"
“Meski begitu, aku tetap tak bisa.” Anne memotongnya cepat. Ia mendongak hanya untuk memperlihatkan ekspresi kesungguhannya pada Aland sekaligus ingin membungkam bibir pemuda itu agar tak lagi bersuara atau mengeluarkan pendapatnya yang mungkin saja akan menggoyahkan keinginannya dan mempertimbangkan untuk melakukan itu.
Melihat kesungghan Anne, Aland tak lagi bertanya. Ia menutup rapat kedua bibirnya untuk tak mengeluarkan sepatah kata yang bisa membuat Anne tersinggung dan mungkin saja akan mengusirnya dari sana.
.
OoO
Koridor itu sudah sepi, tak ada seorang pun yang berani berlalu lalang di jam pelajaran seperti ini. Peraturan yang dibuat untuk para siswanya sangat ketat. Ada penjaga yang biasanya berkeliling dan jika terlihat satu siswa tanpa alasan sedang berkeliaran di sekitaran sekolah, maka penjaga sekolah tersebut akan memberikan hukuman tegas.
Adalah Dorian Abelart Si Pengawas. Guru itu tak akan segan-segan menyuruh mereka berlari memutari lapangan sampai seratus putaran tak peduli jika mereka adalah perempuan. Hukum adalah muthlak di sekolah itu. Dan hukuman yang paling berat sekaligus yang murid-murid itu takuti adalah datang sebelum jam sekolah dan membersihkan seluruh sekolah atau memanggil orang tua mereka untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Namun, sepertinya hanya mereka berdua saja yang sangat berani melanggar peraturan tersebut. Aland dan Anne berjalan tanpa mau repot-repot peduli dengan Dorian yang bisa sewaktu-waktu muncul di hadapan mereka. Mereka tidak peduli pada pandangan tiap-tiap murid yang tanpa sengaja melihat mereka dari dalam kelas, atau guru yang sedang mengajar.
Anne hanya menunduk sementara Aland malah berjalan dengan percaya diri. Kombinasi buruk, seperti Aland adalah pangeran sementara Anne adalah hewan buruk rupa yang tertangkap. Seperti itulah pikiran dari murid-murid yang iri pada Anne.
Di tengah jalan menuju kelas, Aland menghentikan langkahnya lalu menatap Anne dengan alis yang tertaut dalam hingga menghasilkan kerutan di dahinya. Ia mengendus bau mereka. Tubuh bau kotoran yang menusuk. Tidak mungkin mereka mengikuti pelajaran dengan bau seperti itu. Bisa-bisa siswa-siswi kelasnya tidak akan berkonsentrasi. Lalu bukan tidak mungkin jika guru yang mengajar akan mengusir mereka bahkan akan menghukum mereka. Maka dari itu, ia kemudian membawa Anne ke toilet perempuan di ruang olahraga mereka setelah mengambil pakaian olahraga Anne di lokernya.
Aland berdiri bersandar di balik pintu toilet dan menunggui Anne yang sedang membersihkan tubuhnya. Beberapa menit berlalu, Aland mendengar suara tapak sepatu dari beberapa orang. Tidak lama, ia melihat beberapa murid perempuan berseragam olahraga berjalan ke arahnya.
Tak ingin ditanya macam-macam, apalagi jika sampai mereka tahu kalau Anne berada di dalam dan kembali berulah pada Anne, tanpa berpikir lebih lama, Aland segera memasuki toilet tempat Anne membersihkan tubuhnya dan langsung membekap mulut Anne yang terkesiap bahkan hampir mengeluarkan suara pekikan karena ulahnya.
"Sssssttt... tenanglah. Aku tidak akan berbuat aneh-aneh. Di luar ada beberapa siswa yang sering mengganggumu. Jadi, kau harus tenang dan jangan bersuara, oke?!" bisiknya di sisi telinga kiri Anne.
Anne mengangguk paham. Tapi, pemahaman itu hanya berasal dari kepalanya saja, karena nyatanya bagian tubuhnya yang lain tidak sepaham sama sekali, terutama pada jantungnya. Sejak Aland masuk hingga mendekapnya sampai sekarang, tidak sedetik pun jantungnya berdetak normal. Apalagi, ketika deru nafas Aland berhembus hingga sisi telinga kirinya. Posisi ini benar-benar sangat bahaya untuk kesehatan jantung Anne.
Kreeek...
Aland dan Anne tersentak, jantung keduanya semakin berdebar kencang. Entah pengaruh dari suara gagang pintu yang ingin dibuka oleh siswi yang dimaksud Aland, atau karena posisi mereka berdua yang terbilang sangat rawan.
"Tidak bisa dibuka." ujar siswi tersebut dari balik pintu.
"Mungkin pintunya rusak." salah satunya menyahut.
"Ck, seharusnya ada keterangannya, kan." dan yang lain tidak terima
"Ingat hanya lima belas menit, kalau tidak guru akan menghukum kita." kata yang lain lagi.
"Ya sudah, lebih baik toilet yang lain saja. Tunggu mereka sampai keluar." kata suara yang pertama kali Anne dan Aland dengar.
"Lagian, tumben-tumbennya pintu toilet ini rusak dan tidak ada yang langsung perbaiki."
"Hello, ingat waktu kita yang sedikit? Kalian tidak mau dihukum, bukan? Jadi, tidak usah mengomel karena pintu ini, oke."
Anne menghela nafas karena tidak ada lagi yang berusaha membuka pintu. Tetapi kemudian berubah panik beberapa detik setelahnya saat merasakan milik Aland yang mengeras.
Aland memberi kode lewat gerakan bibirnya, agar Anne tetap tenang dan mengabaikan apa yang terjadi di bawah sana. Setelah ia tidak merasakan keberadaan para siswi itu di toilet, Aland kemudian mundur selangkah dan berbalik lalu memberikan handuk pada Anne.
“Terima kasih, Aland.” ujar Anne dengan suara yang sangat kecil.
Aland mengangguk singkat, meski ia sangat sulit berkonsentrasi pada keadaannya sekarang, ia tetap memfokuskan indra pendengarnya pada suara tapak kaki siswi-siswi itu.
Setelah dirasa sudah aman, perlahan Aland membuka pintu toilet dan mengintip di celah-celah pintu untuk melihat suasana di luar toilet.
“Sudah aman, mereka sudah pergi. Aku akan menunggumu di luar. Cepatlah memakai baju agar kita bisa segera keluar dari sini!” titah Aland. Laki-laki itu tak ingin berlama-lama di dalam sana apalagi dengan kondisi Anne yang terlalu menggoda. Bisa-bisa mereka akan absen lama dalam mata pelajaran, bahkan tak akan masuk sampai pergantian jam nanti. Waktu di UKS saja dia mencium Anne yang sedang tertidur, apalagi sekarang yang keadaannya terlalu sayang untuk dilewatkan.
OoO
Mereka berdua sekarang tengah berjalan menuju kelas bersama. Setelah berada di depan pintu, baik Anne maupun Aland merasa ragu untuk masuk pasalnya mereka sudah terlambat lebih dari setengah waktu mata pelajaran itu.
Aland kemudian memberanikan diri untuk masuk terlebih dahulu. Ia mengetuk pintu sebelum masuk. Murid-murid di dalam kelas melihat mereka termasuk dengan guru yang sedang menjelaskan materi.
“Excuse me, Sir. Maaf kami terlambat. Apa kami boleh masuk?” Dengan ragu sekaligus penuh harap Aland bertanya. Mereka berdua sekarang menjadi objek perhatian di kelas itu.
Anne yang dipandangi oleh teman-teman kelasnya merasa risih. Berbeda dengan Aland yang tampak tak peduli. Pandangan mereka seakan-akan ingin mengulitinya hidup-hidup. Anne mengerti kenapa mereka memandangnya seperti itu. Ia yang notabenenya hanya seorang gadis berpenampilan jelek masuk ke kelas bersama seorang pangeran
“Dari mana saja kalian? Kalian tahu, kan dari tadi jam pelajaran bunyi, kenapa kalian baru muncul? Dan lagi, ada apa dengan pakaianmu Anne? Di mana seragammu? Kenapa kau memakai pakaian olah raga? Kau juga Aland?” Gibran- guru mereka bertanya dan secara otomatis membuyarkan pikiran Anne.
“Maaf, Sir. Tadi saya tidak sengaja menumpahkan minuman saya ke Anne dan membuat baju Anne kotor dan berbau, jadi saya menemani Anne untuk mengganti seragam. Sedangkan seragam saya kotor karena tidak sengaja terkena air pel, ketika saya jatuh.” Kilah Aland. Ia tahu jika ia jujur, maka Anne akan mendapat masalah dari murid-murid lain yang suka membullynya dan lagi pasti sahabatnya akan mendapatkan masalah.
“Ya sudah, apa boleh buat. Kalian boleh masuk. Tapi ingat! Jangan pernah mengulangnya lagi.” guru itu memperingati dengan nada tegas.
Baik Aland dan Anne merasa legah karena sudah diberi kesempatan. Mereka berdua tersenyum dan menyahur bersama, “Baik. Terima kasih.” setelahnya mereka membungkuk dan kembali ke bangku mereka masing-masing.
OoO
Dalam kesibukan belajar di sekolah, hanya dua hal yang bisa membuat wajah murid-murid menjadi berseri-seri. Yang pertama adalah jam istirarat dan yang kedua adalah saat bel pulang sekolah berbunyi. Hampir semua penghuni sekolah itu bersiap-siap melangkahkan kaki mereka untuk segera meninggalkan sekolah. Termasuk dengan Anne. Gadis itu dengan senang hati melangkahkan kakinya untuk segera pulang. Rasa penat, lelah, dan sakit di hatinya ingin segera ia hilangkan agar tidak menjadi beban dan membuatnya terkena penyakit hati. Yah, meski tidak dipungkiri, jika ia juga merasa sakit hati dan ingin membalas. Tapi, ia sadar siapa dirinya dan hanya sabar saja yang bisa ia lakukan. Toh, nanti jika mereka sudah lelah memperlakukannya buruk, mereka akan berhenti.
Sayangnya, belum ia melangkahkan kakinya keluar, tangannya sudah ditarik paksa oleh salah satu murid yang menunggunya. Mereka membawanya ke belakang gudang yang tak pernah lagi digunakan. Dan dengan sangat keras mereka membantingnya hingga ia terjerembab dan menghantam tanah yang ia pijaki.
Anne meringis nyeri saat melihat lutut dan dengkulnya terluka dan mengeluarkan darah. Ia berusaha duduk dan mendongak menatap beberapa pasang mata yang menatapnya sinis, juga benci. Anne ingin sekali melawan, sayangnya rasa takutnya lebih mendominasi dan yang bisa ia lakukan hanya menunduk dan menunggu sampai mereka puas menyiksanya dan membiarkan dirinya untuk pulang.
Anne benar-benar tidak mengerti, mengapa ia harus mendapatkan siksa seperti ini. Dan ia tak tahu sampai kapan ia harus diperlakukan layaknya sampah. Ia benar-benar tidak mengerti dan tidak tahu apa yang sudah ia perbuat. Tidak seorang pun yang memberitahunya alasan itu. Yang ia tahu hanyalah pada bulan ketiga di semester awal kelas dua, mereka mulai menyiksanya dan pelakunya sendiri adalah Chaiden, teman sekelasnya sendiri, teman masa kecilnya, dan sahabat dari orang yang ia sukai.
Anne tak pernah bertanya, kenapa. Ia juga tidak mau mencari tahu, karena ia tahu bagaimana sifat laki-laki itu. Ia pasti akan lebih disiksa jika laki-laki itu merasa dilawan.
"Hei ***, angkat kepala busukmu itu!"
Anne tersentak saat salah seorang dari mereka meyentak rambutnya hingga memaksa kepalanya mendongak menatap perempuan yang ia tahu bernama Shanon.
"Dengar! Jangan karena Aland sudah berbaik hati padamu, lalu kau merasa dia menyukaimu."
Anne menggeleng. Ia sadar diri dengan keadaannya. Tidak mungkin Aland bisa menyukainya, sementara ia tahu kalau di dalam hati laki-laki itu sudah ada nama perempuan lain.
"Seharusnya kau tahu di mana tempatmu. Sampah, selamanya tempatnya adalah di tempat sampah. Dan jangan bermimpi sampah sepertimu akan di lirik oleh seorang pangeran. Sadarilah posisimu!"
"Ti...tidak. A...aku tidak merasa seperti itu. Aland- ah!"
"Jangan menyebut namanya sok akrab begitu *****!"
Anne semakin meringis ketika perempuan itu semakin menjambak rambutnya. Ia berusaha melepas tangan perempuan itu dari rambutnya. “Ma ... maaf, tolong lepaskan rambutku, i ... itu sakit…”
“Ck, ini adalah pelajaran untukmu karena berusaha mendekati Aland.” Ucap gadis lain sambil memaksa wajah Anne agar melihatnya.
“Ti ... tidak. Kau salah paham. A ... aku tidak pernah mendekati, Aland ...."
Plak
Anne menyentuh ujung bibirnya yang sobek karena tamparan yang ia terima. Lalu kembali meringis saat wanita itu dengan paksa membuat Anne mendongak dan menatapnya.
"Sudah kubilang, kan jangan sebut namanya dengan mulut kotormu itu!"
“Ku ... mohon, lepaskan. Ini ... sakit ....” suara Anne semakin lirih. Rasa sakit yang ia rasa sudah terlalu berlebihan untuk ditanggung oleh tubuhnya yang kecil dan lemah. Namun, mereka sepertinya belum puas, dan Anne tidak tahu sampai kapan kesadarannya bisa menahan sakit itu.
"Ck, baru segitu." lalu Shanon melepaskan tangannya dari rambut Anne dengan keras dan lagi-lagi membuat Anne tersentak ke depan hingga membuat keseimbangan Anne hilang, lalu kembali terjerembab di tanah.
"Oke guys, sepertinya The Beast kita ini tidak ingin berlama-lama dengan kita." kata perempuan itu sambil menyeringai. "Lagipula, aku juga sudah muak melihat muka busuknya itu.” serunya dan tidak lama kemudian beberapa murid yang lain datang dan membawa ember yang diduganya berisi air kotor.
Beberapa detik setelahnya, Anne merasakan air kotor di lempar ke tubuhnya. Air itu sangat bau. Bahkan jauh lebih parah dari yang tadi pagi. Dan Anne yakin kalau air itu pasti berasal dari selokan sekolah.
“Rasakan sampah … menjijikan, tak tahu diri! Sampah memang seharusnya diperlakukan layaknya sampah. Dibuang, diinjak, dan dimusnahkan.” Mereka kembali memakinya bahkan meludahi puncak kepala Anne. Gadis itu hanya bisa menelan ludah sakit sambil menahan tangis yang sebentar lagi akan berderai dari mata abu-abunya. Anne Ingin sekali melawan mereka, tapi apa daya ia hanya gadis biasa yang lemah. Alhasil, yang bisa ia lakukan hanya memejamkan mata dan berusaha menahan rasa sakit di tubuhnya, sambil menunggu sampai mereka bosan dan membiarkannya seperti yang lalu-lalu.
“Kau itu hanya sampah bagi sekolah ini. Tidak pantas untuk mendekati pangeran.” lagi. Mereka kembali menghinanya.
"Aku heran, kenapa pihak sekolah masih mempertahankan sampah sepertimu di sekolah? Apa mereka tidak takut nanti banyak murid yang tertular penyakit?"
"Ck, aku rasa ibunya yang pelacur itu sudah memberikan servis kepada pihak sekolah."
"Hahaha, kau benar."
Sakit.
Anne memeras baju bagian dadanya ketika mereka kembali memberinya sebuah hinaan. Hinaan yang lebih menyakitkan dari sekedar kekerasan fisik yang ia terima.
"Jangan menyebut ibuku pelacur!!!"
Plak.
"Ibumu memang seorang pelacur, Jalang. Apa namanya kalau kalian hidup dari makanan yang kalian dapatkan di tempat prostitusi, ha?"
Tidak.
Mereka salah. Anne dan ibunya tidak pernah melakukan hal menjijikkan seperti itu. Meski ia bekerja part time di klub dekat kontrakan mereka, ia tidak pernah melakukan sesuatu yang bisa menurunkan derajat mereka.
"Tidak."
"Diam pelacur."
"Karin lebih baik kita kurung ia di dalam sekarang."
Deg
Jantung Anne semakin berdebar ketika salah satu di antara mereka memberikan saran itu. Lebih baik mereka menyiksanya secara fisik dari pada ia harus di kurung di tempat yang gelap. Anne benar-benar takut. Dan ia punya trauma yang sampai sekarang tidak bisa hilang di tempat yang gelap.
"Ku ... kumohon jangan lakukan itu."
Anne memohon, tapi tak seorang pun di antara mereka ada yang mau mendengarkan. Mereka justru menyeretnya masuk ke dalam gudang tua dan menguncinya dari luar.
"Tolong, buka pintunya!!!"
Dan meski ia meronta dengan derai air mata, tidak ada satu pun dari mereka yang ingin menolongnya. Mereka justru tertawa dan menikmati penderitaan yang mereka perbuat pada Anne.
"Itu akibatnya jika kau berani mendekati salah satu pangeran kami.” sahut salah satu di antara mereka sebelum meninggalkan Anne di dalam sana. Sendirian.
Sementara Anne di dalam gudang terus meronta, mendobrak, dan berteriak, berharap ada seseorang yang memiliki hati mendengarnya dan menolongnya untuk ke luar dari sana. Ia benar-benar ketakutan sekarang. Di sana tidak ada lampu yang bisa menerangi ruangan itu, tidak juga celah atau kisi-kisi dari dinding agar cahaya bisa menerobos masuk. Hanya ada kegelapan yang pekat dan samar-samar suara desau angin dari luar.
“Tolong!”
Sekali lagi ia berteriak. Dengan frustasi dan harapan yang besar pada tiap suara yang ia keluarkan.
"Siapapun, kumohon tolong aku."
Dan kembali hanya kesunyian dan gelapnya ruangan itu yang menyahutnya.
“Aland tolong aku!” Llrihnya sebelum jatuh pingsan.
...