
Hari ini hari senin, papaku semalam meneleponku agar aku mengambil uang yang sudah ia kirimkan untuk membayar kebutuhan hidupku disini, aku kuliah di surabaya karena mendapatkan beasiswa di kampus ini, namun semua biaya hidup tetap harus ditanggung sendiri, dengan ekonomi keluargaku yang tidak stabil , dan aku yang belum mapu menghasilkan sendiri, aku tidak pernah protes berapapun yang kudapatkan dari orangtuaku sejak aku berada di kelas 7 sampai sekarang. Aku sadar dari kelas 7-12 aku seringkali menjadi outsider karena salah satunya penampilanku, aku sekolah di sekolah beragama yang cukup populer, aku bersekolah disana sejak TK, namun waktu aku di kelas 6 ayahku terkena pemutusan pekerja dari perusahaanya dan keluarga kami mengalami perubahan ekonomi yang lumayan drastis seiring waktu. Beruntungnya sekolahku ini cukup fleksibel dalam hal biaya sehingga kami bisa mendapatkan keringanan, bahkan di bulan-bulan tertentu dibebaskan biaya. Namun ya mungkin aku yang memang sudah outsider dari awal ya membuat aku semakin menjadi outsider, yang kadang outcast juga, korban bully.
Itu hanya sedikit tentang masa lalu aku, tetapi disini tidak ada yang tahu itu, aku hanya harus menyesuaikan diri dengan segalanya. Namun satu hal yang aku kurang menyangka, ternyata psikologi penuh dengan hafalan khususnya pada semester awal. Aku mencari ilmu hitung disini yang kabarnya baru mulai sebagai prasyarat di semester 2, so aku harus bertahan dengan matakuliah-matakuliah yang penuh hafalan dengan buku-bukunya yang berbahasa inggris.
Hari ini aku hanya ada 2 kelas, Psikologi umum yang 6 sks, tapi hari ini hanya 3, hari rabu 3 sks lagi, dan 1 lagi agama yang 2 sks. Di 2 kelas ini tentu aku sekelas dengan Hino, sehingga Hino dan aku pun semakin akrab, dan kami akan menjalani ini semua selama 1 semester penuh.untuk semester 1 ini paket kami 22 sks. Jadi kami akan berkuliah full dari senin - jumat, namun kabar dari senior kemarin disemester yang lebih tinggi sabtu juga bisa akan menjadi hari yang sibuk dengan praktikum di lab psikologi. Oleh karena itu kita yang masih junior harus banyak diperkuat dengan teori-teori yang sangat banyak, bahkan bahasa inggris yang digunakan dalam buku paketnya kurang umum sehingga ada kamusnya sendiri juga, inggris psikologi, bagi aku yang inggrisnya juga belepotan bisa jadi bencana, jadi aku pun memutuskan lebih rajin untuk menyesuaikan diri dalam hal ini.
Berminggu-minggu aku berkuliah aku sudah memiliki rutinitas seperti roda yang berputar, kuliah dan aktif organisasi, bahkan aku menjadi lebih religius karena sering mengikuti persekutuan doa di setiap minggunya. Aku dan Ikhsan masih sering bertemu di area kampus terutama saat-saat dia kuliah di gedung psikologi setiap hari kamis, dan kami bermain bersama di ukm bridge hari sabtu, terkadang pula kami mampir ke tenis meja, bermain bersama Suri dan teman-temannya. Ikhsan menjadi sahabatku dalam waktu yang lumayan singkat, hubungan kami terkadang terlihat lucu karena memiliki panggilan yang kasar untuk masing-masing. Tetapi kami menikmati itu dan kami hampir selalu tahu diri masing-masing dan aku juga tahu kalau Iksan semakin dekat dengan Nancy, aku beberapa kali tidak sengaja bertemu dengan Nancy waktu menemui ce Dyah di Farmasi dan kami berbicara sekilas, kesan aku tentang nancy tidak buruk maupun baik, biasa aja, Flat.
Dan semua hal yang terjadi dihidupku diminggu-minggu awal pada bulan ini membuat aku sadar, aku seperti bunglon, terutama di fakultasku sendiri, selain dengan Hino tidak ada yang benar-benar dekat denganku, aku juga kerap berkelompok dengan orang yang berbeda sesuai ketersediaan di setiap kelas yang aku ikuti, kadang aku pun 1 grup dengan senior yang mengulang mata kuliah dan entah kenapa aku nyaman dengan hal ini dan sepertinya beberapa orang juga mulai menyadari, apalagi di psikologi yang memang kita mempelajari tingkah laku, dan kadang beberapa teman mengatakan masuk psikologi = “berobat jalan” so aku tidak perlu menggunakan “topengku” karena pada dasarnya mereka sudah tau aku ini intovert extreme yang seperti “bunglon”. Sebagian besar teman-temanku di psikologi bilang aku pendiam dan sangat bisa dipercaya sehingga aku sering sekali mendapatkan curhatan dari teman-teman yang bahkan aku lupa namanya. Dan mereka yang berbicara disekitarku tentang rahasia-rahasia mereka tidak pernah mengusik keberadaanku seolah aku tak terlihat, “invisible”.
Tempat Hangout favoritku sehari-hari adalah perpustakaan yang memang besar, penuh dengan buku dan sangat nyaman, kemudian tangga depan fakultasku, juga UKM Village dan area sekitarnya, kadang jadi tempat aku bertemu juga dengan ikhsan. Aku sudah merasa hidupku perlahan berubah, di UKM aku terkadang menjadi orang yang berbeda, di teater kak manda dan kak Farel yang selalu memperhatikanku dan memuji keahlianku untuk akting-akting yang tidak umum dan cukup sulit, seperti menangis dan kemudian langsung tertawa dan mereka pun mau tak mau mengetahui trauma masa kecil yang tidak benar-benar aku ingat karena diwaktu pendalaman akting ada 1 tahap yang membuat reaksiku berlawanan dengan teman-teman yang lain, aku menjadi sangat diam, tidak bisa menggerakkan semua tubuhku dan air mataku turun tidak berhenti, aku ternyata menangis tanpa suara yang membuat kak farel kaget dan harus memisahkanku ke pinggir taman dengan cara menggendongku didepan. Peristiwa menggendong ini kalau aku ingat membuat aku malu dan tidak enak dengan kak Farel.
*
Trone sedang berada dirumahnya memandang laptop yang menyala didepanya, ia mau mengerjakan tugas kuliahnya yang harus dikumpulkan besok, satu-satunya tugas individu di bulan ini, baru 1 bulan kuliah tetapi Trone malah merasa semakin kosong, hampa dan sendirian, rumahnya sebenarnya tidak pernah kosong, namun dia anak tunggal, orangtuanya nyaris tidak pernah di rumah, ada beberapa asisten rumah tangga yang bisa dia mintai tolong apapun, kalau ia mau pergi kemanapun juga tidak ada yang melarangnya, tidak ada yang benar-benar juga mencarinya, dan tak ada orang juga yang benar-benar bisa dia ajak bicara.
Aku merasa hari-hariku selama kuliah lebih menyedihkan dibanding waktu sekolah, setidaknya sewaktu sekolah aku masih sering bertemu Eliah, Hino dan Kino, sedangkan sekarang jadwal kita semua sudah berbeda, kadang aku lagi sibuk kuliah mereka lagi jam kosong begitu pun sebaliknya, tugas yang kami dapatkan tentu saja juga berbeda. Bukan berarti aku tidak punya teman di Teknik Informatika, aku punya banyak teman, tetapi entah kenapa aku tidak bisa benar-benar terbuka pada mereka, apalagi para cewek yang kebanyakan mendekatiku dengan modus yang sangat nyata. Dan menghadapi mereka sebenarnya sangat mudah, tetapi cewek jaman sekarang makin aneh, semakin ada cap bad boy mereka malah makin suka, bukan berarti aku bad boy ya hanya saja kadang ya tingkahku bisa aneh dan annoying dan aku sadar itu, kepada beberapa orang kadang aku sengaja melakukannya karena melihat reaksi mereka yang lucu.
Tiba-tiba aku jadi memikirkannya, melihat berbeda satu mahasiswi yang baru kukenal, Veria dia dari Jakarta, tetapi auranya tidak terlihat seperti itu, dia seperti memiliki dunia yang berbeda, kadang sorot matanya kalau aku lihat seperti kosong, tanpa perasaan, tetapi kadang kala lagi terlihat seperti sedih namun juga mengerikan. Untuk hal ini aku tidak sedang mengada-ada, sejak kecil aku memang sangat peka, bisa membaca situasi dengan sangat baik, terutama mengenai perasaan, mungkin karena itu juga aku mudah merasa kosong dan tidak menyukai persaaan negatif yang menyedihkan, karena untuk orang seperti aku yang hampir selalu menggunakan hati, empatiku kadang terlalu besar dan menjadi menyakitkan.
Aku sedang berjalan menuju UKM agama yang letaknya berada di UKM Village, namun aku tidak mengambil jalur cepat kesana melainkan sengaja masuk melewati gedung psikologi, dan dugaanku tepat, aku menemukan Veria dan Hino yang baru turun tangga, Veria kulihat memegang cukup banyak buku dan kertas entah apa itu dengan tasnya yang masih sedikit terbuka, cewek ini sepertinya juga tidak tau mode atau memang “antik” dia hampir selalu memakai pakaian yang “kebesaran” kayak menggunakan pakaian orang lain, dan tas ransel kampus yang dipakai maharu yang menjadi paket maharu selalu dia pakai itu. Dan mereka tiba-tiba berhenti dan malah ngobrol, dengan gregetan aku pun melaju berjalan lebih cepat menghampiri mereka
“oi, pada ngapain disitu?”
“Eh Trone. Kamu yang ngapain disini, ini kan fakultas aku sama Veria.” Kali ini Hino yang menjawab dan Veria cuma melihat ke arah Trone tanpa ekspresi.
“Trone yang sopan lah.” Hino lagi yang bicara.
“Kenapa lo yang jawab, kan gw gangguin dia.” seruku sambil menunjuk Veria.
“Emang kamu mau kemana si ke psikologi?”
“ya mau ke UKM lah, kan ada PD to, ini jumat.”
“ya kenapa kamu harus masuk-masuk ke psikologi dari teknik lewat belakang perpus lurus kan lebih dekat Trone.”
“terserah gw dong kaki juga kaki gw.”aku sengaja menjawab dengan sedikit meninggikan nada sambil melirik ke arah Veria yang sekarang sudah kembali berdiri dan melihat ke arahku dan Hino dengan tetap tanpa ekspresi, malah agak terlihat seram.
“ayo Ver, dia mah tinggalin aja yuk, kamu ikut kan ke ukm?” Hino mengacuhkanku dan bicara dengan Veria.
“ok, sekalian lah biar ada isi waktu sebelum kelas berikutnya kan?” Veria menjawab Hino
“woi Ver, gw orang lo, kenapa Hino dijawab gw kagak?” aku menyahuti frustasi.
Veria tetap diam namun aku melihat ada sedikit senyuman diwajahnya, dia ternyata tau kalau aku sengaja mengganggunya tapi malah sengaja mengacuhkanku, aku berpikir dan sadar melihat mereka menjauh, aku pun berteriak.
“woi, kalian gak sopan banget si, gw samperin malah gw yang ditinggal.”
Hino menengok ke arahku dan tertawa lalu menyenggol pelan Veria yang cuma melirik sekilas tapi lagi-lagi aku melihat dia tersenyum, dan sesederhana itu aku merasa puas.