
Namaku Veria usiaku 18 tahun dan aku lahir serta hidup di ibu kota indonesia sampai kemarin. Hari ini hari kepindahanku ke kota besar lain Surabaya, tanpa seorang pun yang mengenal aku di kota ini, aku bertekad untuk menunjukan imageku yang baru dimana tiada yang tau history tentang aku. Aku 2 bersaudara, dan aku pindah ke Surabaya karena aku harus berkuliah disini, mungkin aku bukan remaja paling berprestasi di sekolahku namun aku berhasil masuk ke universitas swasta dengan beasiswa. Ini penghargaan akademik ketiga yang aku alami seumur hidupku, kalau menjadi juara 3 lomba mewarnai tingkat TK juga dihitung.
Veria menjadi remaja yang beranjak dewasa, pengalaman pertama tinggal jauh dari orangtua dan kampung halamannya tidak membuat Veria sedih, ia malah cukup bersemangat karena di tempat baru ini dia berjanji pada dirinya untuk menunjukkan image yang baru. Veria ingin mengeluarkan apapun yang ingin ia tunjukkan sebagai jati dirinya yang baru. Dia akan menjadi Veria yang baru yang akan lebih mencintai dirinya dan tidak akan dilupakan apalagi mendapatkan bully-an sepanjang hidupnya. Sebelumnya Veria tidak pernah memiliki tekad kuat karena harus terus menahan diri agar orang lain tidak mengetahui dirinya sebenarnya dan malah merasa khawatir, kasihan atau meremehkan.
Aku selesai bersiap siap. Hari ini hari senin hari pertama orientasi untuk mahasiswa baru. Aku mendapatkan paket untuk mahasiswa baru dan semuanya aku pakai hari ini, aku memakai kemeja warna putih yang agak kebesaran dan celana hitam bapak-bapak, karena memang ini celana ayahku yang sedikit dikecilkan, kami tidak memiliki uang lebih untuk memperbaiki style “kebesaran” yang aku miliki sejak ayahku harus mengalami pengurangan tenaga kerja di saat aku masih SD dan ayahku sulit mencari pekerjaan baru karena jabatan yang tidak tinggi dan usia yang sudah lumayan tua. Mungkin ini bukan alasan yang baik, tapi aku paham juga kalau aku bukan orang yang penuh ambisi untuk mengubahnya, atau tepatnya ambisi itu mungkin saja tidak bisa muncul karena keadaan, atau ini hanya lagi-lagi alasanku untuk terhindar dibilang “malas”. Adikku jelas-jelas memiliki style sendiri dan bahkan menjadi anak popular semasa sekolah dan memiliki kemampuan yang bagus untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Aku sudah berjanji ini hari baru kenapa aku terus memikirkan masa lalu? Jas almamater kampus, tas ransel kampus binder book dan beberapa alat tulis sudah berada dalam tas. Aku berangkat dengan menaiki angkutan umum, kosku agak jauh karena mencari kos yang lebih dekat sama dengan biaya lebih. So aku naik angkutan umum sekali untuk sampai di kampus. Sampai dikampus aku sedikit merasakan gerbang kampus mirip dengan gerbang sekolahku, hanya bedanya setelah masuk aku menemukan jumlah motor yang sangat banyak terparkir disana. Tak jauh dari situ aku menemukan pos security dan mendekatinya.
“pak, maaf mau tanya fakultas psikologi ada dimana ya pak?”
Pak Security yang sedang membelakangiku berbalik dan menunjukkan raut muka yang agak bingung dan melihatku lebih teliti lalu menjawab
“mahasiswa baru ya dek. Kalau mau ke sikologi adek lurus aja dari sini, sampai mentok, kalau mentok itu gedung fakultas hukum, nah sebelumnya disebelah kanan kalau dari sini itu gedung sikologi.”
Aku mengangguk dengan penjelasan pak security tadi, hari ini jam 8 pagi tapi matahari terasa sangat terik dan panas, aku tau aku cukup ceroboh dan karena sedikit panik aku benar-benar berjalan lurus dengan cepat, karena lurus aku memasuki parkiran motor dan meloncat-loncati setiap tiang-tiang portal yang ada seperti kuda yang sedang berlatih untuk pacuan kuda. Dan sepertinya ada yang memanggil, karena malu aku malah jadi berlari ke arah fakultas psikologi seperti petunjuk pak security tadi.
Aku sampai di sebuah gedung yang tertulis ada plank psikologi dari batu diatas tanah, dan banyak sekali mahasiswa yang memakai jas dan tas sama denganku. Agak kikuk aku berjalan kesana melihat kesana-kemari sambil mengobservasi wajah-wajah mereka mencari orang-orang yang mungkin bisa dijadikan teman, sampai tiba-tiba ada mahasiswa perempuan yang mendekat, wajahnya manis dan ia tersenyum sangat ceria kemudian datang kearahku, karena agak kaget aku terdiam.
“ Hei Maharu (mahasiswa baru) juga ya? Hukum juga?” tanyanya antusias
Aku kagum dengan keceriaanya dan menjawab agak terbata
“i iya, saya maharu, tapi bukan hukum” sahutku.
“ ya ampun kita seumuran kali sopan amat pake saya, pakai aku aja. Oh ya kenalin namaku Trisa, aku dari fakultas hukum” menunjuk fakultas yang ada di kirinya dan kemudian mengulurkan tangannya kepadaku.”
“oh ya aku Veria, aku maharu fakultas psikologi” aku menjawab sambil menyambut tangannya dan tersenyum kikuk.
“oh ok, yaudah aku kesana dulu ya, bye” dia menjawab sambil berjalan ke fakultasnya.
Tidak tahu kenapa baru bertemu satu orang saja dadaku rasanya berdetak sangat cepat dan bahkan aku lupa bernafas. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menuju aula terbuka di gedung psikologi yang kudapati banyak maharu disana. Aku duduk disana menyender ke tangga. Banyak orang disekitar tapi tidak ada yang terlalu peduli dengan keberadaanku, aku hanya diam memandang sekitar dan melihat jam tanganku sudah menunjukkan 1 menit lagi pukul 08.30. lalu aku melihat ada beberapa mahasiswa datang bersamaan membawa papan jalan yang ada kertas diatasnya dan juga bolpoin. Satu diantaranya membawa mini megaphone ditangannya dan kemudian mulai bicara. Tapi aku malah mendengar suara melenking keras yang keluar dari megaphone dan semua mahasiswa mulai bersuara lebih keras sambil menutup telinga.
“Halo adek-adek semua, mohon perhatiannya ya, kita absen dulu “ kali ini mahasiswa yang memegang megaphone berkata keras dan jelas tanpa suara melengking dari megaphone.
Absensi berjalan cukup lancar dan karena absensi menggunakan abjad dan disitu ada lebih dari 100 orang, inisialku terasa cukup lama disebutkan dan aku mempunyai waktu untuk memandang sekitar. Aku melihat maharu psikologi kebanyakan perempuan, ada laki-laki yang berkumpul di beberapa bagian tapi jumlahnya sangat sedikit. Karena terbiasa berteman dengan laki-laki aku jadi mencoba menganalisa mereka dalam diam sampai namaku dipanggil dan acara orientasi segera dimulai.
Kami para maharu dibagi menjadi 15-17 orang per regu. Dan ada 1 maping (mahasiswa pendamping) disetiap regunya, maping adalah panitia yang merupakan mahasiswa senior di sekitar tahun ketiga mereka. Tugas mamping membimbing para maharu dan membantu untuk mengenali lingkungan baru di fakultas psikologi khususnya. Saat berkumpul maping kami yang kami panggil mas Ige memberitahu bahwa orientasi maharu akan berlangsung selama 5 hari, dari hari ini sampai hari jumat, dan senin depan kami sudah mulai bisa berkuliah seperti biasa. Namun untuk orientasi fakultas hanya berlangsung 2 hari. Hari ini dan nanti hari jumat, hari terakhir orientasi. Mulai besok sampai dengan kamis kita akan bergabung dengan fakukltas lainya dalam orientasi maharu fakultas dan nanti akan ada maping lain serta akan bertemu teman-teman lain dari fakultas lainnya.
Mas Ige menjelaskan ke kami kalau orientasi maharu fakultas walaupun cuma 3 hari bakal sangat padat karena selain semua maharu akan berkeliling ke seluruh universitas yang lumayan besar, juga banyak acara untuk menghilangkan gap antar fakultas, sehingga semua fakultas bisa saling berbaur dengan damai, dan tidak lupa mas Ige membagikan kami sebuah kain persegi berwarna ungu, kain ini cenderung tipis sehingga bisa tembus pandang, mas Ige mengajarkan kami untuk bisa memakainya dipergelangan tangan dengan mengikatnya karena ini adalah bendera fakultas, psikologi adalah fakultas ungu.
* * *
“Ok ok Ma. Ma aku udah gede lo, 18 tahun. Gak segitunya juga kali ma.” ujar Trone sambil teburu-buru memakan sarapannya.
“nyo jangan lupa nanti makan siang, uangnya udah dibawa kan? Kamu sendirian lo sekarang sukses ya kuliah hari pertama, anak mama ganteng banget.”
Trone cuma bisa geleng-geleng sambil megambil kunci motornya dan berjalan keluar.
Nama aku Trone, usiaku sekarang 18 tahun dan aku anak tunggal dari keluarga Androna, di Surabaya keluarga kami lumayan terkenal dalam bisnis Properti, namun kalau mau ditanya aku kurang suka dengan bidang itu, ayah ibuku tidak pernah melarang aku melakukan apa pun bahkan membiarkan aku memilih jurusanku kuliah, gak kayak diserial-serial drama yang keluarganya pada ambisi buat nentuin hidup anaknya. Tumbuh dikeluarga yang segalanya tercukupi dan kemauanku hampir selalu dituruti membuat hidupku dari kecil cukup bahagia.
Trone terbiasa semua hal dipenuhi ditambah perawakan dia yang cenderung bagus ditambah terawat, Trone tumbuh menjadi anak muda yang tampan, tubuhnya kurus, namun tidak kurus sekali, dengan tinggi 175 cm dan berat 55 kg. Rambut Trone tertata rapi dan ia memiliki taring yang lumayan panjang sehingga saat tersenyum taringnya bisa terlihat, selain itu mata Trone sangat indah dan karena ia banyak berteman dengan perempuan ia juga bukan lelaki yang kasar dan banyak yang menyukainya. Dan hari ini hari pertamanya menjadi mahasiswa baru di kampus, namun sebenarnya tidak seperti apa yang dikatakan ibunya kalau dia sendirian, teman-temanya banyak yang kuliah disini, hanya saja mereka berbeda fakultas, tapi kan itu tidak berarti Trone tidak bisa menemui mereka.
Universitas Swasta di Surabaya yang menjadi tempat kuliah Trone adalah kampus yang cukup terkenal karena biaya kuliah yang lumayan mahal dan banyak juga kaum elit yang kuliah disini karena akreditasinya juga bagus serta adanya program kuliah internasional. Pukul 08.05. Trone masuk ke parkiran motor dan memarkir motornya di agak belakang lalu ia melihat adanya seorang cewek aneh yang berlari melompat-lompat kayak kodok di parkiran motor dan diteriakin security, Trone merasa itu lucu dan tertawa dalam hati.
“hari pertama melihat cewek aneh lari-lari diparkiran motor” batin Trone sambil tertawa.
Hari ini sepertinya akan cukup indah dan kampus ini bener-bener bakal jadi tempat menarik kayaknya. Trone pun berjalan ke kanan kearah fakultas Teknik. Trone cukup familiar dengan lingkungan kampus karena waktu SMU dia sudah berkunjung dan berkeliling di kampus ini dan setelah melakukan pendaftaran juga ia berkeliling lagi bersama sahabatnya Eliah yang kuliah disini juga, tetapi memilih jurusan akuntansi yang ada di fakultas ekonomi. Dia sendiri memilih teknik informatika karena dia suka komputer dan dia suka sekali bermain games di pc maupun di androidnya.
Trone berjalan santai sambil mendengarkan musik dari androidnya dengan wireless earphone di kedua telinganya, ia memakai jas almamaternya dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku jasnya dan berjalan sambil bersiul menikmati irama dari musik di telinganya sambil terus berjalan ke arah fakultas teknik. Berjalan sekitar 10 menit dapat 3 lagu, Trone sampai di fakultsnya, dia pun mulai melihat ke kiri dan kanan mencari tempat duduk yang akhirnya ia dapatkan di dekat tangga ia bersandar dan kemudian melihat arloji ditangan kanannya yang menunjukkan 08.15.
“masih 15 menit lagi baru mulai, bisa tidur sebentar” pikir Trone
Trone pun memejamkan matanya sambil melanjutkan menikmati lagu dari musik di androidnya. Tak lama kemudian ada yang menyenggol tangan kanannya dan Trone pun membuka matanya. Ia melihat tiba-tiba sekitarnya lebih penuh dan menoleh kekanan menemukan orang yang tadi menyenggolnya ternyata seorang cewek yang perawakannya kecil, dan rambut disemir kemerahan. Saat Trone melihatnya si cewek menunjukkan senyumnya dan Trone mengangguk sambil terus mengunyah permen karetnya. Lalu ia melihat ada beberapa orang cukup ramai didepan dan ada yang membawa mini megaphone. Trone pun melepas kedua earphone dari telinganya dan mulai mendengarkan yang disampaikan panitia dan mendengarkan presensi yang dibacakan. Disini banyak banget mahasiswanya karena fakultas teknik banyak jurusannya. Sejauh mata memandang si laki-laki lebih banyak dari cewek, dan Trone yang mudah sekali mengingat wajah dan nama orang mulai menghafal satu per satu, kemudian dia tahu cewek yang ada di sebelahnya yang nyenggol tadi namanya Alisa dari fakultas Teknik Industri.
Panitia pun menyampaikan untuk bergabung di grup masing2 berdasarkan abjad. Dimana 1 grup terdiri dari 30 orang, jadi nomor 1-30 1 grup, 31 sampai 60 1 grup begitu seterusnya dan hari ini orientasi campuran seluruh fakultas teknik, Teknik Industri, informatika, sistem infor, Teknik Elektro, Teknik Mesin, dan juga Teknobio yang sebenarnya bukan bagian dari fakultas teknik, tapi merupakan jurusan baru di univ ini juga digabung ke fakultas teknik karena melihat jumlah mahasiswa yang ada tidak sampai 50 orang.
Pertama-tama di grup semua orang memperkenalkan dirinya, Trone tau dia memiliki wajah yang tampan dan dia tahu kalau dia juga popular dalam waktu yang cepat karena semua cewek banyak yang mendekatinya meminta nomor WA atau pun account sosmednya. Trone bukan anak yang menyimpan rahasia disosmednya jadi ia sangat mudah memberikan sosmednya pada semua orang yang meminta, namun Trone tidak mau repot2 melakukan sebaliknya.
“ok Trone aku udah add kamu ya, nanti kita chat lagi ya.” sapa Lisa salah satu cewek tinggi yang cerianya kebangetan.
“Trone ntar kalau aku chat dibales ya, jangan malah di block lo, aku seru kok orangnya” seru cewek lain yang berbadan agak gemuk dan kalau jalan kayak lagi loncat2.
Trone cuma bisa tertawa melihat orang-orang sekitarnya diwaktu bebas ini sepertinya mudah sekali senang dengan keberadaan dia. Trone tidak tumbuh sebagai anak yang sombong, justru sebaliknya dia sangat mudah berteman dengan siapapun terutama perempuan, walaupun sampai saat ini Trone belum memiliki hubungan khusus alias pacaran dengan cewek mana pun yang ia kenal karena kalau bagi orang lain cewek itu susah dimengerti, bagi Trone justru sebaliknya menebak apa yang ada dipikiran cewek itu gak sesulit apa kata orang-orang dan karena udah tau dia jadi gak merasa tertarik menggali lebih dalam.
Hari itu Trone berkenalan dengan banyak sekali orang, laki-laki dan perempuan dan hebatnya Trone mengingat hampir semua orang. Ini salah satu hal yang selalu bisa dia banggakan dan orang banyak menyukainya karena hal ini. Trone juga sopan dan menghormati orang lain yang lebih tua maupun lebih muda, dan ia memiliki senyum ciri khas yang bisa menonjolkan salah satu gigi taringnya, Trone pun mudah diajak bicara dan bercanda. Namun tidak banyak yang benar-benar mengenal Trone. Trone memiliki banyak teman tapi hanya sedikit sekali yang dekat dengannya. Dan yang selama ini mengenal dia adalah sahabatnya sejak kecil Eliah, dia dan Eliah tumbuh dilingkungan yang sama, dan mereka seperti saudara kandung, mereka bertengkar dan kadang saling memukul di masa kecil mereka, sekarang mereka sudah sama-sama 18 tahun. Trone tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan Eliah pun juga cantik.
Waktu berlalu dengan cukup cepat, sekarang sudah menunjukkan pukul 17.00, panitia mulai membubarkan acara dan membagikan selembar kain berwarna biru yang dikatakan sebagai bendera fakultas teknik, fakultas biru, semua mendapatkannya kecuali anak-anak teknobio yang mendapatkan kain berwarna hijau.
“sampai jumpa besok semua” ujar Trone sambil terus berjalan mencari motornya di parkiran.
Tiba-tiba ada seorang cewek imut yang tadi berkenalan dengan dia
“ Trone tunggu, kamu kearah mana ya? Aku boleh nebeng gak? Kakakku ternyata gak bisa jemput” seru gadis imut itu.
“ oh, kamu Dina kan? Kalau mau nebeng boleh aja tapi aku cuma bawa 1 helm gimana?” tanya Trone
Dina menunjukan buntelan yang dia bawa di tangan kanannya yang ternyata helm.
“ini aku bawa kok, tadi aku dianter kakakku, harusnya dia jemput aku tapi ternyata malah dia bilang masih sama pacarnya, sebel d ditelantarin kakak aku.” seru Dina sambil sedikit memonyongkan mulutnya.
Trone tertawa mendengus “lucu juga ni cewek, tipikal” pikirnya dalam hati.
“yaudah ayo naik rumah kamu di Pima Indah kan? Kita searah kok” ajak Trone