Our Love Hate Relationship

Our Love Hate Relationship
Jumat Pertama



    Hari ini Veria berangkat di pagi hari seperti biasa, orientasi di fakultas akan berlangsung mulai pukul 8 pagi. Entah kenapa Veria merasa lebih nervous dari kemarin, seolah-olah kembali lagi ke titik 0, dimana dimulainya hari pertama lagi. Padahal kalau dipikir-pikir hari pertama kan sudah bertemu dengan teman-teman jurusannya.


    Aku berjalan melewati gerbang tengah kampus dekat halte bus yang busnya setahuku untuk mengantarkan dari halte ke halte sepanjang kampus dan parkiran mobil. Sekarang aku melihat parkiran motor sudah kembali ke tempatnya, mau tak mau aku tertawa sendiri mengingat hari pertama aku disini yang loncat-loncat didalam parkiran. Kemudian aku terdiam memandang sekitar dan melihat security yang menyapa dan kubalas dengan anggukan dan senyuman.


     Aku pun berjalan lurus ke arah perpustakaan melewati pinggir parkiran lalu berbelok  ke kiri ke jalan yang mengecil, jalan itu menuju fakultas psikologi dan hukum. Aku memelankan jalanku saat sudah melihat kampus dengan garis ungu itu mencoba melihat gedung secara keseluruhan, namun hanya terlihat bagian depannya saja. Gedung tinggi itu terlihat silau karena matahari yang lumayan terik hari ini. Aku pun berjalan lagi ke arah depan gedung dan duduk di dekat tangga seperti saat pertama kali aku disini, entah karena aku yang masih kepagian atau sudah pada mulai terbiasa dengan kampus, aku hanya melihat beberapa maharu  yang aku bisa kenali karena masih memakai jas almamater atau minimal membawanya. Aku sendiri hari ini memakai celana jeans dan kemeja berwarna hijau berpita dibagian depannya. Ini bajuku sejak SMP, ada bagusnya aku tidak tumbuh lagi sejak kelas 9.


Aku masih melamun saat aku dengar seorang cowok memanggil


“Veria, udah disini aja.” serunya.


“eh kak Farel, kakak juga panitia di orientasi fakultas?”


“ya iya lah, kalau gak aku bisa dikutuk sama ketua senat.”


“emang ketua senat serem ya kak?”


“ya, banget.”Farel tertawa.


“btw aku kesana ya, eh iya maping kamu siapa?”


“Kak Ige”


“oh pakde…ok ok…sampai jumpa nanti ya, aku ke senat dulu.”


Waktu telah berlalu dan aku baru sadar lokasi tempatku duduk mulai dikelilingi banyak orang, sepertinya aku terlalu asyik ngobrol dengan kak Farel tadi, sampai tidak melihat sekeliling, kak Farel memiliki pesona yang menarik, dia tinggi, kurus dan menggunakan kacamata namun memiliki senyum yang sangat terlihat tulus sehingga orang mudah nyaman didekatnya.


“Halo-halo Psikologi.” tiba-tiba Kak Ethan berbicara lewat mini megaphone yang dipegangnya bersama Kak Farel yang berdiri dibelakangnya.


Sepertinya kak Ethan andalan MC, dia mc lagi di acara psikologi. Pikir Veria. Kak Ethan pun melanjutkan omongannya dipanggung.


“oh ya hari ini disini aku bukan MC ya, MC juga si tapi bukan MC utama. MC utamanya bakal nanti kita pilih dari angkatan kalian. aku ketua senat tahun ini, dan yang berdiri disebelah aku ini namanya Farel, dia wakil aku ya.”


    Aku mendengar banyak suara disekitarku yang memang lebih banyak kaum hawa daripada kaum adam yang cuma segelintir, mayoritas memuji ketampanan Ethan dan mereka kagum karena selain tampan Ethan pasti juga punya prestasi karena untuk bisa menjadi senat (apalagi ketuanya) tidak mungkin memiliki prestasi akademik yang buruk. Aku sendiri lebih kaget dengan kak Farel yang ternyata dia wakilnya, sekarang dia malah mentertawaiku karena sepertinya aku mudah sekali dibohongi, mau tak mau aku ikut ketawa juga, kak Farel adalah tipe orang yang mudah sekali membuat suasana menjadi tidak canggung, auranya membuat sekitarnya nyaman. Dan ini makin membulatkan tekadku untuk menjadi aku yang baru yang lebih berani untuk menjalin relasi dengan citra diri yang aku miliki tanpa masa lalu yang tidak perlu.


Acara hari Ini adalah perkenalan dan penjelasan mengenai apa saja yang ada di psikologi, maharu bisa bertanya banyak hal kepada kak Ethan dan Kak Farel, sedangkan yang terpilih menjadi MC adalah satriyo, cowok keriting keribo berkacamata yang omongannya kerap membuat banyak orang tertawa. Aku si belum mengenalnya, tetapi sejak awal jadi MC ia memiliki interaksi yang asyik dengan kami dan juga kak Ethan dan kak Farel seolah sudah familiar satu sama lain.


Terjadi pembagian kelompok lagi ada 4 kelas untuk maharu. Kelas A, B, C dan D. untuk semester awal ini mata kuliah kelas A-D sama, jadwalnya saja yang berbeda dan yang mendapat jadwal kelas dengan huruf yang sama akan satu kelas di setiap mata kuliahnya selama semester satu ini, untuk semester selanjutnya pengambilan SKS bisa diatur sendiri dengan tetap mengikuti alur mata kuliah serta jumlah yang bisa diambil tergantung dari IP semester. Aku ada di kelas C dan sekarang aku berkumpul dengan teman-teman kelasku agar bisa mengenal lebih dekat sehingga hari senin saat mulai kuliah lebih nyaman.


Teman disebelahku ini namanya Hino, dia terlihat sangat baik, suaranya pun halus dan orangnya ramah. Kami berbicara dan membahas tentang kuliah bersama dan dia yang ternyata asli surabaya namun memang dia belum ada yang kenal di psikologi ini karena dia bilang teman-temannya kebanyakan masuk teknik dan farmasi, dan dia juga yang menginfokan bahwa rasio angkatan kita untuk maharu psikologi gender pria banding wanita adalah 1:7. jadi anggapannya kalau ada 70 orang cewek, cowoknya cuma 10, dan seketika  aku pun bergidik karena tidak menyangka kalau disini kayak amazon, ya gak amazon juga si, amazon cewek semua, tapi ya gitu lah.


Hino ternyata juga cukup religius dan karena agama kami sama, dia mengajakku untuk ikut misa jumat pertama, disaat teman-teman muslim pada jumat-an, pada saat itu lah kita ada yang namanya misa jumat pertama yang sengaja dimulai pada jam yang sama, bedanya ya kalau teman-teman muslim benar-benar tiap jumat, kalau misa atau ibadat jumat pertama ya seperti namanya hanya ada pada jumat pertama di tiap bulannya. Aku sendiri si biasanya jarang mengikut, tapi saat ini memang aku juga tidak ada kegiatan lain dan ini kegiatan positif yang pantas diikuti, jadi waktu Hino mengajak aku langsung mengiyakan.


  *


    Hari ini Trone berada di fakultasnya dan berkumpul dengan teman-teman baru di jurusanya. Dan dia juga ternyata mendapatkan jadwal kuliah yang sama dengan Ikhsan. Mereka juga sudah berkenalan dan sekarang sedang tanya jawab tentang jurusan Teknik Informatika. Beberapa maharu ada yang menceritakan kenapa memilih jurusan ini.


    Aku sedang melihat ke sekeliling maharu lain yang aku lihat  secara gender hampir sama jumlahya, dan tadi memang kakak Senat mengatakan jumlah mahasiswa informatika 5 tahun belakangan ini nyaris selalu 1:1 untuk jumlah laki-laki dan perempuan. Walaupun istilah teknik biasanya stereotype dengan jurusannya para laki-laki tapi tidak berlaku buat tehnik informatika. Kakak Senat meminta kami menceritakan kenapa memilih jurusan ini. Aku melihat ke arah ikhsan yang dengan logat unik, tapi dia anak yang lucu dan sepertinya enak diajak berteman.


“simple si ya, mungkin teman-teman yang lain juga banyak yang berpikir begini, saya ambil jurusan ini karena sekarang dunia digital semakin maju dan saya ingin menjadi programmer. Ikhsan menyampaikan ceritanya dengan lantang dan lancar yang disambut tepuk tangan teman-teman lain, maharu teknik infor cukup banyak mencapai 500 orang.


Trone juga diminta untuk menyampaikan niatnya masuk jurusan ini.


“gw suka main game jadi kayaknya teknik informatika menarik.”ucapnya singkat sambil menaikan kedua bahunya.


    Orangtuaku tidak pernah benar-benar menentukan aku harus masuk jurusan apa entah karena mereka memang benar-benar membebaskanku atau hanya malas untuk ngobrol panjang tentang hal serius ini, mereka pun selalu sibuk dengan bisnisnya, walaupun setiap mereka ada di rumah mereka kerap sangat cerewet, kalau pas gak ada dirumah juga lumayan cerewet si lewat pesan singkat, namun pesanya selalu hampir sama sejak aku kecil membuat seolah-olah mereka tidak tahu kalau aku ini udah tumbuh besar dan sekarang berusia 18 tahun, bukan lagi 7 tahun.


“Eh Trone, melamun apa kamu? Seru hino didepanku yang membuat aku kaget, aku melihat ke Veria


“ketemu lagi.”ucapku sambil mengulurkan tangan dan malah ditatap bingung olehnya.


“jangan bilang udah lupa, baru kemarin lo tanding kita.”


“gak kok, inget.”


Veria ingat Trone tapi tidak mengingat namanya, untung saja Hino langsung memperkenalkan mereka sehingga namanya pun tersebut.


Trone orang yang sangat sensitif sehingga tahu kalau Veria sebelumnya tidak ingat namanya dan ia mendekati Veria saat Hino sudah melepaskan alas kaki dan masuk ke aula, Veria masih melepas sepatunya dan Trone mendekatinya


“parah ya baru ketemu lu udah lupa kan ama gw tadi, selamet aja lu gara-gara Hino”


“aku tidak terlalu suka menyimpan hal-hal yang tidak penting terlalu lama untuk menghindari overload. Veria menjawab datar.


“waw. Kejam banget ya lu, apa otak lu kapasitasnya kecil?”


“gw baru tau ada orang yang baru kenal suka banget ngatain, dan gak usah sok pake gw elu karena aneh lu nyebutnya.”


“biarin.” Trone pergi masuk  aula dan menjulurkan lidahnya.


Veria kesal dengan sikap Trone dan kali ini rasanya tidak mungkin melupakannya sedangkan Trone memang sengaja melakukan itu supaya diingat.


Veria duduk tidak jauh dari Hino dan Trone pun pindah ke belakangnya.


Misa pun selesai pada pukul 12.30, dan Veria berjalan menuruni tangga dan berpapasan dengan Ikhsan


“san”


“woi”


“lagi ngapain?”


“jalan lah, emang liatnya ngapain?”


“dia gak bisa liat lu jalan san, kapasitas otaknya kecil.” tiba-tiba Trone nyamber kayak geledek.


“udah makan belum?” ikhsan bertanya ke Veria dan Trone dan mereka berdua sama-sama menjawab belum.


Mereka pun ke kantin teknik,  dan makan disana.


“Eh san lu yakin emang dia masih inget sama lu?”


“inget lah, Ikhsan tuh temen baik gw beda sama lu.”Veria memberikan pembelaan


“Trone, emang kamu udah kenal lama sama Veria ya? Kok kayak musuh bebuyutan gitu.”


“lah dia parah kok pelupanya.”


“udah gak usah dengerin dia deh san gak penting”


Mereka bertiga pun asyik mengobrol atau bertengkar untuk kasus Trone dan Veria. Sampai Veria kembali ke fakultasnya dan melanjutkan kegiatan hari terakhir orientasi ini sampai jam pulang.