Our Love Hate Relationship

Our Love Hate Relationship
UKM



    Hari ini hari sabtu pertamaku di surabaya dan waktunya aku untuk mengenal UKM, ada jadwal pengenalan beberapa UKM, ada juga yang waktunya berdekatan bahkan sama, seperti biasa aku selalu penuh penasaran. Aku tahu ikhsan akan mengikuti bridge, Suri akan mengikuti Tenis Meja. Aku sendiri belum menemukan yang benar-benar aku inginkan saat ini, jadi aku mengikuti jadwal terpagi sesuai pilihanku, yang pertama adalah teater yang perkenalannya dimulai pukul 13.00 di salah satu kelas yang ada di gedung psikologi. Sampai di kelas itu aku disambut oleh seorang gadis berambut panjang keturunan ambon dengan begitu semangat yang sampai membuatku kaget.


“halo halo…ayo masuk masuk dulu duduk.”serunya cukup keras dan membuat aku sedikit tidak nyaman, suaranya sama sekali tidak melengking, tapi bagiku justru malah agak menakutkan.


Waktu aku masuk mencari tempat duduk yang kosong sekilas aku melihat seseorang yang sepertinya aku kenal, pernah kutemui sebelumnya. Kayaknya anak hukum itu yang pernah menyapaku, tapi lagi-lagi aku tidak mengingat namanya, dan aku pun melihat ke sekeliling berharap mungkin ada orang yang aku kenal, sampai aku melihat ke arah pintu dan kak Farel pun masuk.


“gimana man, pesertanya dari yang daftar online datang semua kah?”


“kayaknya si gak, tapi ini baru mau aku panggilin sesuai list, atau kamu yang panggil aja rel?”


“ok.”


Posisi dudukku tidak jauh dari kak Farel dan kakak cewek yang berambut panjang itu sehingga bisa mendengar semua percakapan mereka dengan suara mereka yang lumayan keras. Akhirnya mereka memanggil nama kami satu persatu, dan ternyata beberapa dari mereka satu fakultas denganku, bahkan kak manda si gadis berambut panjang yang bicara dengan kak farel juga psikologi. Kak Farel melihat aku ada diantara peserta yang mengikuti perkenalan hari ini dan mendekatiku.


“kamu suka teater juga Ver?”


“waktu kelas 11 dan 12 kesenian di sekolah aku teater kak dan ya aku lumayan suka si.”


“kenapa kamu suka teater?”


“karena kita bisa menjadi orang lain.”


Mendengar jawaban Veria, Farel terlihat berpikir sebentar seolah menganalisis dan kemudian berkata


“terkadang memakai topeng dengan menjadi orang lain diperlukan dalam situasi tertentu, namun jangan sampai kita melupakan diri kita yang sebenarnya, kita harus memahami diri kita sendiri juga.”


“wah, nasehat psikologi ini kak?”


“ hahahhaha” Farel pun hanya menjawabnya dengan tertawa dan kali ini ia membantu kak manda menjelaskan mengenai ukm teater. Tentang apa saja yang kita lakukan, latihan-latihanya yang cukup banyak dan bisa diadakan outdoor juga dan akan pentas untuk acara-acara resmi kampus. Aku melihat sekeliling kebanyakan anak yang mengikuti acara perkenalan ini perempuan, begitupun senior yang ada kebanyakan perempuan  karena selain kak Farel, aku cuma melihat 1 laki-laki lagi dari fakultas hukum, kak Surya wakil ketua ukm teater.


Saat ini waktu menunjukkan hampir pukul 15.00, jadwal aku mengikuti perkenalan di UKM Catur, tetapi ukm teater mengajak kami untuk melihat ruangan UKM teater yang ada dibelakang gedung psikologi, di UKM Village nama tempatnya jadi aku pun mendekat ke kak Farel.


“Kak Farel”


“ya Ver,kenapa?”


“Aku gak bisa ikut ke UKM Village ya kak, soalnya aku daftar ukm lain juga.”


“oh ok ok, gak apa-apa, emang dimana ketemunya?”


“Farmasi kak. Tolong sampein ke kak manda ya kak.” aku berkata sambil berjalan cepat meninggalkan kelas itu dan berjalan ke farmasi yang letaknya cukup jauh.


    Aku tahu kecepatan jalanku diatas rata-rata orang lain, bahkan diatas orang-orang yang memiliki kaki panjang, namun aku juga tidak suka terlambat, jadi aku agak berlari sampai ke Fakultas bergaris putih itu, dan menaiki Lift ke lantai 5, karena gedung ini memiliki 6 lantai jadi ada liftnya, dan acara ukm catur berada di lantai 5 gedung ini. Aku pun mencari kelas tersebut dan menemukannya, karena agak terlambat aku melihat disana sudah cukup banyak orang dan mereka sedang bermain catur, suasana dari luar saja sudah terasa sangat berbeda, dimana di teater yang sangat “panas” di sini sangat “dingin” padahal lampu disini jauh lebih terang, namun sangat tenang, aku pun masuk perlahan dan ada seseorang mendekat kepadaku, kali ini seorang cewek tinggi kurus berambut panjang juga bedanya dia tidak bersuara keras padaku malah menghampiriku cukup dekat dan berkata pelan


“ayo masuk aja, langsung main aja mau gak? Main sama aku.”


“oh, ayo kak.”


Kami pun bermain 1 ronde tanpa perkenalan, dan setelah aku kalah di ronde pertama kami baru mulai mengobrol.


“kita main santai aja, nama aku dyah, biasa pada manggil aku ce dyah si, aku semester 7 farmasi. Kamu siapa namanya?”


“Aku Veria kak, dari psikologi, maharu baru semester satu.”


“ wah psikologi, sejarah lo, udah lama banget gak ada psikologi. Terakhir pas aku semester 1.” jadi hampir 3 tahun lalu.”


“wah aku langka ya kak?”


“ya biasanya yang ikut tuh anak teknik.”


Saat ce Dyah berkata begitu aku melihat sekeliling dan menemukan semua mahasiswa disitu selain aku dan ce dyah artinya semua laki-laki, berasa kayak disarang penyamun.


“oh kebanyakan juga laki ya kak? Eh ce?”


“hahaha, kamu gak biasa panggil ce ya? Disini catur yang cewek senior dipanggil ce, yang cowok ko gak ada hubungan sama etnis ya.”


“oh gitu ce?”


“iya, ini belakang aku ketuanya namanya arnold, dia fakultas hukum semester 9.”


“oooo..”


“dia juga pelatih kita, dia pernah ikut sekolah catur selama 12 tahun.”


“hah? 12 tahun ce?” suara Veria agak keras membuat yang disebut pun nengok


“lagi bicarain aku ya? Arnold menoleh dan melambaikan tangannya disaat aku melihat dia, lalu dia mengulurkan tangannya kearahku.


“selamat datang ya, perserta pertama cewek setelah dyah. Yang betah ya di catur.”


    Suasana ukm yang tenang membuat Veria merasa nyaman, dan perkenalan yang terasa lebih casual dengan bermain dihari ini. Dan 2 jam berlalu, ko arnold dan ce dyah pun mengajak aku dan yang lain untuk membantuk membereskan papan lipat catur, papan peraga dan peralatan lainya untuk dibawa kembali ke ruangan ukm catur yang berada di UKM Village juga, aku dan Niel yang terakhir bermain bersama, Niel orang yang ramah dan cukup peduli, dia juga maharu, dia dari fakultas teknik, teknik industri tepatnya, kami pun berjalan sambil mengobrol


“Kamu psikologi? Keren ya. Kamu juga bisa catur, cewek jarang lo yang bisa catur kan?”


“aku juga cuma bisa aja kok, dulu papaku sering ajak main, ya aku suka aja mainnya, strateginya ya spontan aja gak kayak pemain profesional yang strateginya keren.”


“hhahah, ya ini kan nanti kita juga dilatih tuh, kamu datang lagi kan minggu depan?”


“dateng lah, kamu juga kan?”


 Mereka pun saling berbincang dan terus berjalan ke arah UKM Village yang terletak jauh dari fakultas farmasi.


* * *


Pukul  15.00. Trone berada di UKM agama bersama dengan Eliah, Kino dan juga Hino, hari ini adalah hari pertama para maharu bergabung di UKM itu. Dan selain perkenalan ada persekutuan doa juga.


Trone sedang duduk terdiam didepan ruangan UKM sambil melihat sekeliling, disebelah UKM tersebut ada UKM Teater  dan disebelah kanannya ada aula terbuka lalu ada ukm bridge dan juga ukm tari, ukm tari terlihat sepi, ukm teater cukup ramai dan agak berisik, ukm bridge ramai juga tapi karena agak jauh ya tidak terdengar suara.


Aku suka berada di tempat lain selain dirumah, apalagi di hari sabtu seperti ini, karena weekend terasa sangat panjang kalau aku dirumah terus, tadi Hino, Eliah dan Kino mengajakku mengikuti kegiatan UKM ini dan aku memang tidak tertarik juga dengan ukm lain, rasanya tidak ada hal yang benar-benar menyenangkan untukku. Aku menikmati hari ini dengan baik dan aku memandang sekeliling, melihat banyak pohon yang tumbuh sehingga matahari pun tidak lagi terlihat, lalu aku melihat ada sekumpulan orang datang, mendengar tawa yang cukup harmoni, tenang dan tidak berisik, dan aku melihat mereka membawa tas-tas kecil dan aku melihat dia lagi, cewek itu Veria. Entah kenapa melihatnya membuat aku ingin mengganggunnya, aku ingin tahu emosi dia yang begitu datar, dia berjalan hampir melewatiku dan aku mendengar seorang cowok dari UKM sebelah tiba-tiba memanggilnya


“Veria, kamu ikut catur?”


“oh kak Farel iya kak.” jawab Veria sambil tertawa dan menunjukkan tas kecil yang ia bawa yang ternyata bergambar kuda (salah satu bidak dalam permainan catur), aku pun tidak jadi memanggilnya, lalu malah kudengar ikhsan memanggilnya juga.


“woi, jadinya ikut catur ya…sini lah.”


“bentar, aku taro ini dulu.”Veria menjawab lagi sambil tersenyum lebar kepada ikhsan yang kali ini entah kenapa membuat Trone agak kesal, dan jadi batal memanggil apalagi menggangunya.


Tak lama kemudian Veria pun muncul didepan UKM Bridge lalu masuk begitu saja. Aku melihat Veria begitu aktif dan berpikir apa sebenarnya yang dia cari, dalam beberapa hari dia yang bahkan tidak asli surabaya sepertinya cepat sekali dikenal banyak orang, senior dari UKM Teater dan sepertinya Ikhsan pun akrab dengan dia padahal itunganya mereka palingan baru kenal seminggu.


Masih terlena dengan pikirannya sendiri tentang Veria, Eliah dari belakang mengagetkanya


“woi, bengong aja lo.”


“kaget gw, kalau jantung gw copot gimana?”


“pasang lagi lah, susah amat.”


“susah lah, harus ke rumah sakit, harus daftar, harus tidur, harus di operasi…..”


“iye bawel banget. Makanya jangan kebanyakan bengong kesambet kan.”Eliah memotong perkataan sahabatnya itu


“aku lagi mikir aja, kok ada ya orang aktif banget?terus cepat banget gitu adaptasi kayak bunglon?”


“siapa?”


“ya ada.”


“Cewek apa Cowok?”


“ce..” tiba-tiba Trone tersadar kalau Eliah mulai mengintrogasinya ke arah yang tidak seharusnya jadi dia menghentikan mulutnya sendiri dan membuat Eliah makin penasaran


“woi ditanyain, cewek apa cowok?”


“kan gw cuma bilang ada, gak peduli lah apapun gendernya.”


“terus hubungannya apa?”


“ya gak ada, gw penasaran aja, emang penasaran salah?”


“aneh aja, lu kan gak penasaran kalau itu gak berhubungan sama lu.”


“kata siapa?”


“aku, kan aku yang barusan bilang.”