OUR LITTLE BROTHER

OUR LITTLE BROTHER
Trauma



Antariksa High School.


Kevin memiliki dua sahabat yaitu Hansen dan Lerry. Mereka mulai menjalin persahabatan sejak Kevin pindah ke sekolah barunya yaitu Antariksa High School.


Ketiga orang tersebut sering kali menghabiskan waktu bersama-sama. Meski awalnya Kevin merasakan ketakutan memiliki seorang sahabat tapi lambat laun Kevin bisa menerima sahabat-sahabat barunya.


Kevin pernah mengalami trauma selama setahun. Trauma tentang seorang sahabat yang menyakitinya, seorang sahabat yang mengkhianatinya, seorang sahabat yang membullynya dan seorang sahabat yang hampir membuat dirinya kehilangan nyawa.


Permasalahannya hanya sepele. Hanya gara-gara seorang perempuan, persahabatan mereka menjadi rusak. Dan menyebabkan permusuhan itu terjadi.


Semenjak kejadian itu, anggota keluarganya mulai dari orang tua, Paman, Bibi, ketiga hyungnya dan saudara sepupunya bersikap 'Overprotektif' padanya. Mereka tidak mau hal itu terulang kembali.


^^^


Lapangan Basket..


Kevin melangkahkan kakinya menuju lapangan Basket. Kevin sangat antusias menyaksikan latihan Basket dua sahabatnya itu.


"Vin," sapa Lerry sambil melambaikan tangannya kearah Kevin yang tengah menonton latihan basketnya dan Hansen di pinggir lapangan.


"***. Hari ini aku menepati janjiku kan? Aku menonton latihan basket kalian," kata Kevin sambil berlari kecil kearah Lerry.


"Heheheh.. kau memang sahabat yang baik karena mau menepati janji," kata Lerry sambil mengacak-acak rambut Kevin dan tertawa geli.


Kevin mengangguk setuju dengan ucapan Lerry kalau dia adalah sahabat yang baik.


"Vib, kurasa sedari tadi kau hanya memperhatikan Lerry saat kami berlatih. Hmm, jangan-jangan kau menyukainya ya?" kata Hansen mencoba untuk menggoda Kevin.


Kevin seketika menatap Hansen dengan tatapan horornya. "Aku masih waras dan aku masih normal. Jadi mana mungkin aku menyukai Lerry," ucap Kevin yang terus menatap Hansen sambil memanyunkan bibirnya.


"Hei! Santai kali, Vin! Aku hanya bercanda. Serius amat sih," ucap Hansen yang tidak tahan melihat wajah imut Kevin ketika protes.


"Bercandamu garing," balas Kevin langsung memalingkan wajahnya kearah lain.


Sedangkan Lerry yang sedari tadi menyaksikan kedua sahabatnya hanya tersenyum.


"Vin! Kenapa kau tidak ikut Basket juga. Jika kau ikut kita bisa jadi satu tim," kata Hansen.


"Benar tuh, Vin. Kau mau ya masuk ke Tim Basket," mohon Lerry.


"Ogah! Aku tidak minat sama sekali."


"Memangnya kenapa?" tanya mereka barengan.


"Tidak apa-apa. Aku malas saja," jawab Kevin santai.


"Aish," kesal mereka.


"Ya sudah. Yuk ke kantin. Aku lapar," ajak Kevin sambil menarik kedua tangan sahabatnya itu.


^^^


Di Kantin..


Kelompok Cobra sedang berada di kantin.


Mereka sedang menikmati makanan yang sudah mereka pesan dengan lahap saking laparnya.


"Semoga kau baik-baik saja, Vin!" batin Satya yang pikirannya terpusat pada Kevin.


"Kak Satya," panggil Yoon Arga.


"Ah ya," jawab Satya kaget.


"Yak, kak! Kau melamun?" tanya Arga.


"Kakak hanya kepikiran Kevin," ucap Satya.


"Apa yang dikatakan Arga benar, Satya! Kita harus optimis kalau Kevin pasti baik-baik saja," ucap Ramon.


Yang lainnya mengangguk tanda setuju. Mereka juga yakin Kevin akan baik-baik saja.


Disisi lain dan di tempat yang sama


kelompok Lion juga sedang menikmati makanan yang mereka pesan. Sesekali mereka melemparkan lelucon satu sama lain.


"Oh ya! Kevin mana? Kenapa dia belum kelihatan? Bukannya ini udah waktunya istirahat makan siang?" ucap dan tanya Galen.


Mereka memperhatikan sekitar kantin tapi yang dicari tidak menampakkan diri.


Saat kedua geng ini sedang memikirkan Kevin adik mereka. Tiba-tiba saja mereka dan seluruh penghuni kantin dikejutkan dengan suara keributan didepan pintu masuk kantin. Mereka semua mengalihkan pandangan kearah suara keributan tersebut. Dapat mereka lihat ternyata adik mereka dalam masalah.


"Hei, Bocah! Kau tidak punya mata, huh? Kau lihat seragamku basah gara-gara kau!" teriak Zander Nikolaus.


Satya, Arga, Hardy dan Galen sudah tersulut emosi saat melihat adik mereka dipojokkan dan dibentak. Tapi saat mereka ingin ngelabrak mereka mendengar suara yang keluar dari mulut Kevin.


"Kenapa kau yang marah padaku? Bukannya barusan kau sendiri yang buru-buru lalu kakimu tersandung. Lalu minumanmu tumpah mengenai seragamku. Bahkan lebih parah seragamku dibandingkan seragammu itu." Kevin menjawab perkataan pemuda di hadapannya.


"Beraninya kau melawanku, huh! Kau tidak tahu siapa aku?!" bentak Zander.


"Memangnya kau siapa? Setahuku kau hanya seorang siswa sama sepertiku," jawab Kevin santai.


Kelompok Cobra dan kelompok Lion tertawa tertahan mendengar ucapan Kevin. Mereka bersyukur Kevib berani melawan salah satu anggota kelompok Bimbo.


"Brengsek! Kau ingin minta dihajar rupanya!" bentak Zander lalu melayangkan pukulan ke wajah Kevin.


Tapi saat pukulannya ingin mengenai wajah Kevin, tangannya ditahan oleh seseorang.


Orang itu adalah Satya. Kelompok Cobra dan kelompok Lion sudah berada dekat Kevin.


Kelompok Lion mengambil alih tubuh Kevin sedangkan kelompok Cobra menghadapi kelompok Bimbo.


"Kevin! Kevin!" panggil Hardy sambil menepuk-nepuk pelan pipi Kevin.


Mereka sangat khawatir melihat kondisi Kevin saat ini. Trauma Kevin kambuh. Rasa takut dalam dirinya kembali muncul di saat dirinya ingin dipukul. Galen menggenggam tangan Kevin erat dan dibalas oleh Kevin.


"Vin! Kevin, kamu dengar kakak. Kamu tidak usah takut. Mereka tidak akan menyakiti kamu. Sekarang buka mata kamu dan lihat kakak," bujuk Galen sambil terus menggenggam tangan Kevin.


Berlahan Kevin membuka matanya. Dapat dia lihat dua kakaknya sedang berdiri didepannya.


"Ka-kakak," suara Kevin bergetar.


"Berani kau menyentuhnya, kupatahkan tanganmu!" bentak Satya.


Kelompok Cobra dan kelompok Lion saling memberikan tatapan tajam mereka. Kevin melihat dua kakaknya yang lain sedang adu kekuatan.


"Kakak Satya, kakak Arga. Sudah hentikan. Jangan berkelahi. Aku mohon," lirih Kevin.


Lalu mereka berhenti dan menghampiri Kevin.


"Kau tidak apa-apa, Vin?" tanya Satya.


"Aku baik-baik saja, kak." Kevin menjawab pertanyaan dari Satya walaupun badannya masih bergetar dan mereka dapat melihat itu.


"Kakak bangga padamu. Barusan kau berani melawan anak songong itu," kata Arga tersenyum dan mengelus-elus rambut Kevin.


"It-ituu," ucap Kevin terbata-bata ia bingung mau mengatakan apa.


Mereka semua tersenyum melihat wajah imut Kevin.


"Kau menggemaskan sekali, Vin!" batin mereka.