OUR LITTLE BROTHER

OUR LITTLE BROTHER
Kekhawatiran Para Kakak



Tanpa sadar Aldan menangis saat setelah membaca semua komentar dari para sahabatnya, para kakaknya dan juga para kakak-kakak yang lainnya. Dirinya benar-benar bingung saat ini.


Disatu sisi, Aldan sangat amat merindukan keenam kakak-kakak Harmony nya itu. Tapi disisi lain, hatinya sakit saat mengingat perlakuan keenam kakak-kakaknya itu padanya.


"Hiks... Hiks." Aldan terisak dan isakannya itu terdengar oleh ketiga kakaknya yang sedari memperhatikannya.


"Kalian jahat, kak. Lagi-lagi kalian membuatku menangis. Kenapa kalian hobi sekali membuat aku nangis? Kalau kalian semua sayang dan peduli padaku, seharusnya kalian semua itu pergi dari kehidupanku dan jangan mengusikku lagi. Tapi kalian masih saja menggangguku, walau aku saat ini berada di Yogyakarta."


"Tujuanku pulang ke Yogyakarta itu untuk menjauhi kalian, melupakan kalian dan tidak ingin mengenali kalian lagi. Aku membenci kalian kak. Aku sangat membenci kalian... Hiks!" teriak Aldan.


^^^


Nevan hendak menghampiri Aldan karena hatinya benar-benar tidak tega melihat adiknya. Tapi dicegah oleh Devian sang kakak.


"Kakak." nada suara Nevan meninggi dengan tatapan tajamnya menatap Devian. "Aldan membutuhkan kita, kak Devian! Apa kakak tidak kasihan pada Aldan?" ucap dan tanya Nevan.


PUK..


Jungsoo menepuk pelan kedua bahu Nevan, adik pertamanya. "Siapa bilang kakak tidak kasihan dengan Aldan. Justru kakak sakit melihat Aldan seperti ini. Kau mau tahu alasan kakak melarangmu untuk menghampiri Aldan?" tanya Devian dengan menatap lembut adik pertamanya.


"Apa? Apa alasan kakak melarangku untuk menghampiri Aldan?" tanya Nevan.


"Kakak ingin membiarkan Aldan untuk meluapkan dan mengeluarkan semua kekecewaannya, amarahnya dan rasa sakit hatinya beberapa bulan ini. Kau tahukan. Sejak Aldan kembali ke Yogyakarta. Aldan lebih banyak menyendiri di dalam kamarnya dan juga Aldan jarang bicara. Aldan akan bicara kalau kita bertiga atau Mommy dan Daddy yang terlebih dahulu mengajaknya bicara. Dan saat ini kau lihat." ucap Devian sembari menunjuk ke arah Aldan yang duduk di sofa ruang tengah.


"Inilah pertama kalinya Aldan berbicara banyak. Aldan bisa mengeluarkan semua kekecewaannya, rasa sakitnya yang ditujukan untuk keenam kakak-kakak Harmony nya." Devian menjelaskan semuanya kepada adik pertamanya.


^^^


"Aku menyayangi kalian. Tapi aku juga membenci kalian. Bahkan rasa sayangku pada kalian kalah telak dengan rasa benciku terhadap kalian, kak! Aku tidak tahu, apakah aku bisa memaafkan kalian!" ucap Aldan.


Aldan beranjak dari duduknya. Dirinya hendak menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


Saat Aldan baru memposisikan tubuhnya untuk berdiri, tiba-tiba saja Aldan merasakan pusing di kepalanya disertai matanya yang berkunang-kunang.


Akhirnya Aldan menghempas tubuhnya kembali ke sofa. Menyandarkan punggung dan juga kepalanya di kepala sofa. Lalu memejamkan kedua matanya.


Devian, Nevan dan Hanan yang melihat Aldan yang tiba-tiba kembali menghempas tubuhnya di sofa menjadi khawatir. Mereka berlari menghampiri sang adik.


"Aldan!" teriak ketiganya.


Aldan membuka kedua matanya dan menatap wajah tampan ketiga kakak-kakaknya itu. Lalu kemudian Aldan kembali memejamkan matanya. Devian, Nevan dan Hanan pun duduk di samping adik mereka.


"Apa ada yang sakit, hum?" tanya Devian sembari membelai rambut adiknya.


Tidak ada jawaban dari Aldan sehingga membuat mereka khawatir. "Aldan," panggil Nevan menepuk pelan pipi mulus adiknya.


"Aldan, hei!" Devian menepuk-nepuk pelan pipi Aldan berulang kali. Tapi tidak ada respon sama sekali dari Aldan.


"Aldan, kakak mohon jangan bercanda. Buka matamu!" bentak Devian.


"Nevan. Hubungi Paman Lutfi. Sekarang! Dan kau Hanan, bantu kakak angkat Aldan ke atas punggung kakak," perintah Devian.


^^^


[Kamar Aldan]


Kini Aldan sudah berada di kasur kesayangannya. Ketiga kakak kini sedang menatap wajahnya. Mereka bertiga secara bergantian mencium keningnya.


"Aldan, kenapa menjadi seperti ini, hum? Apa segitu besarkah kebencian kamu terhadap keenam kakak Harmony kamu sehingga membuat kamh kembali tumbang seperti ini? Kakak benar-benar tidak sanggup melihat kamu seperti ini terus. Mana kamu yang ceria. Kamu yang penuh semangat. Kamu yang super jahil. Kamu yang selalu tersenyum," ucap Devian yang tangannya masih bermain-main di rambut adiknya itu.


CKLEK..


Terdengar suara pintu dibuka oleh seseorang. Lalu Devian, Nevan dan Hanan melihat ke arah pintu tersebut.


"Paman!" seru mereka bersamaan saat melihat sang Paman berjalan menghampiri mereka.


Lutfi melangkah menuju ranjang Aldan, keponakan manisnya itu. "Kenapa jadi seperti ini, Al?" batinnya, lalu kemudian memeriksa kondisi keponakan kesayangannya itu.


Setelah beberapa menit, Lutfi selesai memeriksa Aldan. Lutfi menatap ketiga keponakannya Devian, Nevan dan Hanan.


"Kalian tidak perlu khawatir. Aldan hanya kelelahan dan juga banyak pikiran. Dua hari istirahat, kondisi tubuh akan kembali sehat. Untuk dua hari ini, jauhkan dulu Aldan dengan ponselnya atau pun laptopnya. Jangan biarkan Aldan menyentuh dua benda itu. Usahakan Aldan istirahat selama dua hari ke depan."


"Baiklah, Paman." Devian, Nevan dan Hanan menjawab perkataan sang Paman.


"Vitamin nya Aldan masih ada kan?"


"Masih Paman," jawab Devian.


"Habiskan vitamin itu dulu. Nanti kalau vitaminnya sudah habis. Hubungi Paman. Paman akan mengirimkannya lagi."


"Baik, Paman." Devian menganggukkan kepalanya.


"Ya, sudah kalau begitu. Paman kembali ke rumah sakit lagi."


Seperti biasanya. Sebelum pergi Lutfi memberikan kecupan sayang di kening Aldan. "Cepat sembuh, kelinci nakal Paman. CUP!"


Setelah memberikan kecupan sayangnya. Lutfi pun pergi meninggalkan keempat Madhavi bersaudara. Sebelum pergi, Lutfi mengambil foto keponakan manisnya itu.


Nevan langsung melakukan apa yang dikatakan oleh sang Paman. Dirinya mengambil ponsel dan laptop milik adiknya. Lalu dua benda tersebut dibawah menuju kamarnya. Dan menyimpannya disana.