
[Kediaman Madhavi]
[Kamar Aldan]
Sekarang mereka telah berada di kamar Aldan bersama dengan Lutfi, sang Paman. Dan Aldan pun telah selesai diperiksa.
"Bagaimana keadaan Aldan, Paman?" tanya Nevan.
"Aldan sedikit tertekan dengan masalah yang dihadapinya. Kondisi kesehatannya saat ini menurun. Untuk sementara ini, jauhi dulu semua masalah darinya. Ini vitamin untuk Aldan. Saat Aldan sadar nanti berikan dua pil langsung. Dan seterusnya hanya satu pil. Sampai habis." Lutfi berbicara sembari memberikan vitamin untuk Aldan kepada Devian.
"Baik Paman," jawab Devian.
Sebelum pergi. Lutfi Madhavi mendekati ranjang Aldan. Dirinya memberikan kecupan pada kening Aldan, keponakan imutnya.
"Tetaplah sehat, Al!" ucapnya dan setelah itu dirinya pun pergi meninggalkan Madhavi bersaudara.
"Paman pergi dulu," pamit Lutfi dan diantara oleh Hanan.
"Aldan," lirih Devian dan Nevan.
Mereka secara bergantian mencium kening Aldan.
***
[DORM HARMONY]
[Ruang Tengah]
Marcel berada di ruang tengah. Saat ini pikirannya tertuju pada adik kelincinya yang manis. Marcel yang sedari memperhatikan ponselnya. Dirinya bingung harus apa sekarang? Disatu sisi Marcel ingin menghubungi Aldan secara langsung agar bisa mendengar suaranya. Tapi disisi lain, Marcel benar-benar takut saat menghubungi Aldan. Takut Aldan akan marah dan memaki dirinya.
Sejujurnya Marcel tidak masalah kalau dirinya dimarahi atau dimaki-maki oleh adik kelinci kesayangannya itu, karena memang dia yang bersalah. Ketakutan Marcel itu adalah Marcel tidak mau membuat adiknya itu terbebani akan pertengkaran tersebut dan berujung adiknya jatuh sakit.
Akhirnya Marcel pun memilih mengirim chat lewat LINE.
[LINE]
12
Marcel : Al!
Read.
Marcel : Yah, Al! Kenapa cuma di read doang, sih?
Marcel : Ketik sesuatu, dong.
Aldan : Mager...
Marcel : Kan cuman ngetik doang.
Aldan : Tanganku sakit..
"Tangan sakit, tapi itu bisa ngetik. Aish! Dasar siluman kelinci tengil," batin Marcel.
Marcel : Tapi katanya tangannya sakit. Tapi bisa ngetik juga.
Aldan : Apaan sih? suka-suka aku dong. Kenapa Kakak yang sewot (delete) kenapa situ yang sewot?
"Haaahh." Marcel menghela nafasnya.
Marcel : Oke.. oke, kakak minta maaf.
Marcel : Kapan balik ke Jakarta, Al?
Marcel : Kakak kangen..
Read.
Marcel : Al..
Marcel: Al.. balas dong..
Aldan : Orangnya lagi tidur. Jadi berhentilah mengganggu.
"Segitu bencikah kamu pada kakak, Al? Apa tidak ada kesempatan untuk kakak memperbaiki semuanya?" batin Marcel.
Marcel membaca setiap balasan dari Aldan dan isinya membuat hati Marcel sedih dan hancur. Adik kelincinya sampai detik ini masih membenci dirinya.
"Aldan. Sampai kapan, Al? Apa tidak ada celah sedikit pun untuk kakak dan yang lainnya masuk ke dalam kehidupanmu lagi? Apa kita tidak bisa seperti dulu lagi?" monolog Marcel disertai tetesan air mata yang membasahi wajah tampannya.
"Kak Marcel!" seru Zicko dan Delon yang baru keluar dari kamar mereka masing-masing, lalu menuju ruang tengah.
Mereka berdua terkejut saat melihat Marcel yang menangis. Mereka kemudian duduk masing-masing di samping Marcel.
"Ada apa kak?" tanya Zicko.
"Kenapa kak Marcel nangis? Katakan pada kami kak," ucap dan tanya Delon.
"Kakak merindukan sikelinci nakal itu, Delon!" Marcel menjawab pertanyaan dari Delon.
"Kalau Kakak Marcel merindukannya, kenapa tidak kakak telepon saja? Atau kakak bisa kirim pesan," ujar Delon.
"Kakak sudah melakukannya, Delon! Barusan kakak habis ngirim chat lewat line kepada Aldan," jawab Marcel.
"Lalu apa jawaban dari Aldan, kak?" tanya Zicko.
"Ini kalian baca saja."
Marcel memberikan ponselnya dan memperlihatkan isi chatnya dengan Aldan pada Zicko dan Delon.
Zicko mengambil ponsel milik Marcel, lalu mereka berdua membaca chat tersebut.
Seketika jatuhlah air mata Zicko dan Delon ketika membaca chat dari Aldan.
"Tuhkan. Kalian saja nangis membaca chat itu. Apalagi kakak," kata Marcel.
"Aku sudah nggak sanggup hidup seperti ini terus. Aku nggak sanggup kalau selamanya dimusuhi oleh Aldan, kak Marcel!" ucap Zicko dengan wajah sedihnya.
"Kakak harap Aldan tidak selamanya membenci kita. Mungkin saja saat ini Aldan masih kesal dan kecewa dengan sikap kita. Semoga Aldan secepatnya mau memaafkan kesalahan kita semua," kata Marcel sembari menghibur Zicko dan Delon.
"Kau benar, kak Marcel. Aku juga berharap seperti itu. Semoga harapan kita terpenuhi!" seru Zicko dan Delon bersamaan.
***
[KEDIAMAN KELUARGA MADHAVI, YOGYAKARTA]
[Ruang Tengah]
Aldan berada di ruang tengah dengan ponsel di tangannya. Setelah selesai membaca chat dari Marcel. Tampak gurat amarah di wajahnya.
"Brengsek! Tidak tahu malu. Masih beraninya kau mengirim chat padaku setelah apa yang kau lakukan padaku. Kau pikir aku anak kecil. Setelah dipukul, ditampar dan dimaki, lalu akan luluh dengan sebuah kata maaf. Kau salah besar Marcel Roberto. Tidak akan segampang itu seorang Aldan Madhavi akan memaafkanmu dan adik-adikmu itu." Aldan berbicara dengan wajah yang benar-benar marah dan penuh kebencian.
Tanpa Aldan sadari, ketiga kakaknya melihatnya dan mendengar apa yang diucapkannya.
"Mau sampai kapan kamu menyimpan dendam untuk keenam kakak-kakak Harmony kamu, Aldan?! Kakak tahu apa yang mereka perbuat padamu. Tapi apakah tidak ada kata maaf untuk mereka," batin Devian.
"Kakak tidak mau hati dan pikiranmu rusak hanya karena dendammu, Al!" batin Hanan.
Sedangkan Nevan bingung harus melakukan apa. Dirinya benar-benar bingung saat ini. Sejujurnya, Nevan benar-benar kecewa terhadap Marcel dan yang lainnya. Mereka dengan tega dan dengan beraninya menyakiti adiknya. Dirinya sebagai kakak kandung belum pernah sedikit pun menyakiti sang adik. Ini justru orang lain yang sudah terlebih dahulu berani menyakiti adiknya.
Setelah puas mengeluarkan rasa kesal dan amarahnya. Aldan membuat status di LINE miliknya.
...[LINE TIMELINE]...
Aldan
Sorry! Gue alergi itu yang namanya balikan sama orang-orang yang sudah nyakitin gue.
200 likes | 200 comments
Aryan : wiih.. kejam
Caleb : waw.. Sadis bener
Alex : Mantul
Dhafin : sikelinci sedang lagi dapet
Varo : waahh.. bahaya Al kalau gitu.
.
Danar : masih berlanjut ternyata perang dinginnya, Al?
Brian : udah masuk tahap keberapa perang dinginnya, Al?
Melky : sepupu gua ternyata masih bad mood ya.
Brian : sikelinci itu memang setiap hari moodnya selalu buruk @Melky
Marcel : yah, Al. Jangan gitu dong.
Raihan : kasih kami kesempatan untuk memperbaiki semuanya, Al.
Zicko : please, Al. Balik ke Jakarta yaa.
Delon : Ayolah, Al. Jangan gitu ya.
Dirlan : iya, Al. balik ke Jakarta ya. Atau kami yang akan ke Yogyakarta menemuimu?
Ibran : apa kau ingin kami ke Yogyakarta?
Aldan : bodo amat...
Aldan : bodo amat...
Aldan : bodo amat...
Hanan : kejam sekali dirimu dek.
Nevan : adeeekk. Jangan gitu dong.
Melvin : ayolah, adek manis. Jangan siksa mereka seperti ini.
Randy : kasihan mereka.
Torry : maafkan mereka dong, adek manis.
Dion : kalau marahnya lama-lama. Ntar manislah hilang, loh.
Zaky : iya, tu dek. Ayolah, maafin mereka ya.
Ardy : berdamailah dengan mereka.
Aldan : jangan mencampuri urusanku. Aku mau marah atau membenci mereka, itu hakku. Nggak ada yang bisa maksa aku untuk berdamai dengan mereka, sekalipun keluargaku sendiri.
Aldan : kalau kalian masih mencampuri urusanku dengan mereka. Jangan salahin aku jika nantinya aku tidak bersikap sopan pada kalian.
Devian : Aldan! Jaga kata-katanya. Jangan seperti itu. Kakak tidak suka.
Devian : untuk kalian yang membacanya. Maafin Aldan ya. Jangan diambil hati. Aldan hatinya lagi buruk saat ini.
Melvin : tidak apa-apa, kak Devian. Kami maklumi, kok. Bagaimana pun Aldan juga adikku? Aku menyayanginya.. sangat!
Randy : santai aja, kak Devian. Aku tidak marah kok. Justru aku mengerti perasaan Aldan.
Torry : nggak apa, kak Devian. Aku ngerti dan sangat mengerti perasaan Aldan saat ini.
Dion : santai kali, kak Devian. Aku ngerti kok.
Zaky : nggak apa-apa lagi, kak Devian. Aku tidak akan marah dengan apa yang ditulis Aldan.
Ardy : santai aja, kak Devian. Aku dan yang lainnya gak bakal marah dan kita semua tidak akan bisa marah. Karena kami semua juga menyayangi Aldan. Menyayanginya seperti adik kami sendiri.