OUR LITTLE BROTHER

OUR LITTLE BROTHER
Sifat Overprotektif Sang Kakak Tertua



Suasana di Sore hari di rumah keluarga Ardian.


"Kevin. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa ada yang sakit? katakan pada kakak,"ucap dan tanya Radhitya.


"Aku tidak apa-apa, kak? Kakak tidak perlu khawatir," ucap Kevin.


"Bagaimana kakak tidak khawatir padamu, Vin? Kita para kakak kamu tidak tahu kalau kau lagi sakit. Kakak kamu Nisa sampai teriak-teriak diluar kamarmu membangunkanmu. Tapi tidak ada jawaban sama sekali darimu. Terpaksa kami mendobrak pintu kamarmu," ucap Radhitya.


"Yah! Berarti pintu kamarku rusak dong. Aaiisshh! Kasihan kan pintunya. Dia tidak bersalah, malah kena amukan kalian, kak." Kevin berbicara sembari menjahili kakaknya.


"Yak! Kau malah memikirkan nasib pintu kamarmu itu dari pada memikirkan bagaimana kami para kakak kamu mengkhawatirkan dirimu, huh?!" ucap Radhitya yang memberikan tatapan horornya pada sang adik dan melayangkan satu jitakan di kening putih sang adik.


Pletakk..


"Aaww!" rintih Kevin. "Sakit tahu," ucap Kevin memanyunkan bibirnya.


Sedangkan Radhitya tersenyum gemas melihat adiknya.


"Ya, sudah. Kamu istirahatlah. Jangan melakukan apapun!"


"Tapi...." ucapan Kevin terpotong.


"ISTIRAHAT!" ucap Radhitya penuh penekanan.


"Baiklah," ucap Kevin pasrah.


Radhitya tersenyum puas melihat adik bungsunya yang begitu pasrah padanya. Ia tahu kalau adiknya itu paling tidak suka diperlakukan seperti bayi. Ditambah lagi harus disuruh istirahat seharian di kamar. Ini pasti sangat membosankan.


"Kakak keluar dulu. Ing....." ucapan Radhitya terpotong.


"ISTIRAHAT," ucap Kevin meneruskan perkataan sang hyung.


"GOOD BOY!" seru Radhitya sambil mengacungkan dua jempol kearah Kevin.


Radhitya pun keluar dari kamar Kevin dan meninggalkannya sendiri.


Saat Radhitya menuruni tangga, ia melihat adiknya Nisa adik perempuannua yang sudah tergeletak di sofa karena kelelahan.


"Sepertinya kamu kelelahan, Nis! Lebih baik kamu bersih-bersih dulu lalu istirahatlah sejenak. Kakak akan suruh Bibi untuk menyiapkan makanan untuk kita semua," ucap Radhitya.


"Keadaan Kevin bagaimana kak Radhit?" tanya Nisa.


"Kevin baik-baik saja. Dia sedang istirahat," balas Radhitya.


"Aku mau menemuinya!" seru Faranisa dan langsung menuju kamar Kevin.


"Hei.. Hei! Tidak bisa," cegah Radhitya.


"Aaiisshh, Kakak! Kenapa sih? Aku ingin bertemu Kevin. Kenapa kakak melarangnya?" tanya Faranisa kesal.


"Nisa dengarkan kakak. Kakak tidak melarangmu bertemu dengan Kevin. Kamu baru saja pulang sekolah. Kamu pasti kelelahan dan butuh istirahat. Lagian Kevin juga lagi tidur di kamarnya dan kamu tidak akan bisa mengobrol dengannya. Nanti selesai makan malam, kamu bebas berada di kamarnya Kevin atau kamu mau tidur di kamar Kevin juga boleh. Kakak tidak akan melarangnya dan kakak tidak akan mengganggu kalian. Lagi pula malam ini malam minggu, " ucap Radhitya tersenyum.


"Benarkah, kak?" tanya Faranisa.


Radhitya mengangguk sebagai jawaban.


"Terima kasih kak," ucap Faranisa lalu pergi meninggalkan kakaknya menuju kamarnya.


Sementara Radhitya hanya tersenyum melihat adik perempuannya yang begitu bahagia. Saat dirinya hendak menuju dapur ingin menemui pelayan rumah mereka, ia mendengar suara dari adik pertamanya Andrean.


Pintu utama dibuka oleh seseorang.


Seorang pemuda tampan memasuki mansion mewahnya. "Aku pulang!" teriak Andrean memasuki ruangan tengah.


"Kamu sudah pulang, Rean. Lebih baik kamu bersihkan dirimu. Kakak akan buat minuman kesukaanku," ucap Radhitya.


"Baiklah. Oh ya! Kevin bagaimana keadaannya, kak?" tanya Andrean.


"Kamu tidak perlu khawatir. Kevin sudah baik-baik saja dan dia sedang istirahat," balas Radhitya.


"Syukurlah. Ya sudah, kak! Aku ke kamar dulu," pamit Andrean.


Andrean ke kamarnya. Sedangkan Radhitya menuju dapur.


"Bibi," panggil Radhitya.


"Ya, Tuan muda Radhit." sang Bibi selaku pelayan di rumah mewah itu menjawabnya.


"Siapkan makan malam yang enak ya, Bi." pinta Radhitya.


"Baik Tuan muda," jawab pelayan itu.


^^^


[Kamar Kevin]


07.00 pm


Kevin sendiri di kamarnya. Ia merasa bosan. kakak tertuanya itu terlalu overprotektif padanya. Sakit sedikit saja, kakaknya yang satu itu sudah seperti cacing kepanasan. Tidak bisa diam.


Akhirnya Kevin memilih untuk keluar dari kamarnya. Tidak peduli dengan omelan para kakaknya untuknya.


Di meja makan sudah berkumpul Radhitya, Andrean dan Faranisa.


"Kalian makanlah dulu. Kakak akan antar makanan ini untuk Kevib," ucap Radhitya.


Saat dirinya mau beranjak dari kursinya, terdengar suara melengking.


Ya! Suara siapa lagi kalau bukan suara sibungsu?


"Selamat malam kakak-kakaku!" sapa Kevin.


Semua mata tertuju pada Kevin


"Kevin!" teriak mereka serempak.


Kevin yang mendengar teriakan para kakaknya langsung menutup telinganya.


"Aaiisshh! Apa-apaan sih, kak! Kenapa pake teriak segala?" protes Kevin dan langsung menduduki pantatnya disalah satu kursi.


"Kenapa kamu turun. Kakak akan membawakan makan malammu ke kamar. Kakak tidak mau kamu kelelahan. Kamu belum sepenuhnya pulih," ucap Radhit yang melihat adiknya yang sudah duduk.


"Kakak, pliiiisss! Aku sudah tidak apa-apa, kak. Aku bosan di kamar terus. Ayolah, kak!" mohon Kevin yang memperlihatkan wajah sedihnya.


Mereka hanya bisa membuang nafas kasar melihat tingkah manja sibungsu. "Hah."


"Baiklah! Ini makan malammu," ucap Radhit lalu menyerahkan sepiring nasi lengkap dengan lauknya.


"Cepat habiskan makan malammu dan jangan ada sisa sedikit pun," perintah Rean.


"Siap BOOOSSS!" seru Kevin memperlihatkan senyuman kelincinya dan membuat ketiga kakak tersenyum gemas.