
[KEDIAMAN ARDIAN]
Seorang pemuda bergigi kelinci. Berwajah tampan serta imut dan menggemaskan. Pemuda itu adalah Keola Kevin Ardian sibungsu keluarga Ardian. dia masih terlelap di kasur empuk kesayangannya. Lalu terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Tok..
Tok..
"Vin! Ayo bangun. Ini Udah jam 7. Apa kamu tidak sekolah?!" teriak Faranisa dari luar.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar.
"Kevin, kamu dengar tidak?! Ayo bangun!" teriak Faranisa lagi.
"Kenapa Kevin tidak bangun juga. Apa suaraku kurang keras?" batin Nisa.
Nisa memutuskan untuk turun ke bawah menuju meja makan.
"Nisa, Kevin mana? Kenapa Kevin tidak turun bareng kamu?" tanya Radhitya.
"Aku sudah teriak-teriak manggil Kevin. Tapi tidak ada respon sama sekali dari Kevin," jawab Nisa.
Mendengar penuturan dari adik perempuannya, Radhit langsung berdiri dan berlari menuju kamarnya sibungsu.
Melihat kakak laki-laki tertuanya berlari. mereka berdua pun berdiri dan ikut berlari mengejar sang kakak.
Sekarang mereka sudah berada di depan pintu kamar Kevin.
Tok..
Tok..
"Kevin, ini kakak Radhit. Bangunlah!! Kamu kan harus sekolah hari ini. Kalau kamu tidak bangun, kamu bisa telat ke sekolahnya!" teriak Radhit dari luar kamar.
"Tuhkan. Apa yang aku bilang? Tidak ada respon dari Kevin," ucap Nisa.
"Dobrak! Kita dobrak saja pintu kamarnya!" seru Andrean.
Semuanya mengangguk tanda setuju. Lalu mereka mendobrak pintu kamar Kevin.
Debrokan ketiga pintu kamar terbuka.
Braakk..
Mereka sekarang sudah di dalam kamar Kevin. Mereka dapat melihat sang adik masih terlelap. Kemudian mereka mendekati ranjang Kevin.
Radhit duduk di samping tempat tidur Kevin. "Vin, hei! Bangun dong. Ini sudah siang," ucap Radhit.
Saat Radhit ingin mengelus rambut Kevin, dia terkejut saat tangannya menyentuh kening sang adik.
"Astaga, Vin!" teriak Radhit dan langsung merubah posisi tidur Kevin dari posisi miring menjadi telentang. Dapat mereka lihat wajah Kevin yang pucat.
"Kevin demam dan badannya panas. Rean telepon paman Hendry sekarang!" pinta Radhit.
"Baik kak," jawab Rean.
Dua puluh menit kemudian, Hendry datang dan langsung memeriksa keadaan Kevin.
"Apa yang terjadi pada Kevin? Kenapa dia bisa demam tinggi seperti ini?" tanya sang paman.
"Kami benar-benar tidak tahu, paman. Kemarin Kevin baik-baik saja. Dan saat aku menyuruh Nisa membangunkan Kevin untuk sarapan. Kami melihat Kevin sudah seperti ini," tutur Radhit yang khawatir akan adiknya.
"Apa yang dilakukan Kevin kemarin setelah dari sekolahnya?" tanya Hendry.
"Kemarin Kevin pulang dari sekolah jam 8 malam. Kevin sudah mengatakannya pada kami kalau dia akan pulang malam, karena ada kegiatan tambahan di sekolahnya. Setelah dia pulang, Kevin langsung pamit ke kamarnya. Aku menyuruhnya untuk makan terlebih dahulu baru istirahat tapi katanya, dia sudah makan. Mau tidak mau aku membiarkan Kevin istirahat, karena aku perhatikan dia sangat kelelahan." Radhit menjelaskan secara detail tentang adiknya kemarin.
"Sampai pagi? Dan kalian tidak mengeceknya sama sekali dan membiarkan Kevin istirahat di kamarnya?" tanya Hendry lagi.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Kevin, Paman?" tanya Rean yang sama khawatirnya dengan Radhit.
"Maag nya kambuh. Asam lambung naik. Perutnya kosong belum diisi sama sekali dan ditambah lagi pasti Kevin muntah-muntah berulang kali dan membuat tubuhnya lemah."
Mendengar penjelasan dari sang Dokter sekaligus Paman bagi mereka membuat Radhit, Rean dan Nisa terkejut.
Dengan melihat kondisi keponakannya, Lalu Hendry memasangkan infus di tangan Kevin. Dan memberikan satu suntikan penurun panas.
"Cepat sembuh, Vin!" ucap Hendry sambil mengelus rambut Kevin.
Nisa naik ke atas tempat tidur dan duduk di samping Kevin
"Kakak. Kenapa Kevin bisa demam seperti ini?" tanya Nisa sambil mengelus lembut rambut adiknya.
"Tenanglah, Nisa. Bisa kakak minta tolong padamu, Nis?" tanya Radhit kepada Nisa.
"Minta tolong apa kak?" tanya Nisa.
"Tolong kau jaga Kevin. Kakak akan ke dapur mau membuat bubur untuk Kevin," ucap Radhit.
"Baik kak," jawab Nisa.
"Terima kasih. Kau bisa kakak andalkan," kata Radhit lalu pergi meninggalkan mereka.
"Oh ya! Kau hari ini sekolah masuk jam 10 kan. Jadi bersiap-siaplah. Dan kakak tidak mau mendengar alasan apapun," ucap Radhit.
"Baik kak," jawab Nisa.
"Dan untukmu, Rean. Kau gantikan kakak untuk rapat hari ini. Sekarang bersiap-siaplah. Soal Kevin biar kakak yang akan menjaganya. Kau tidak perlu khawatir," ucap Radhit.
"Tapi kak....." ucapan Rean terhenti.
"Kakak tidak mau menerima bantahan apapun?" kata Radhit.
Akhirnya dirinya pasrah dan menurut perintah sang kakak tertua.
***
[KEDIAMAN MADHAVI]
[Meja Makan]
Suasana pagi yang diselimuti kebahagiaan yang dirasakan oleh keluarga Madhavi dimana sepasang suami istri dan ketiga putranya kecuali sibungsu telah berkumpul di meja makan untuk melakukan ritual pagi mereka yaitu sarapan pagi bersama.
"Hei, tunggu dulu. Ada yang kurang, nih!" seru Hanan.
"Adik kecil kita belum bangun ternyata. Wah! Minta diterkam tu sikelinci nakal," celetuk Nevan.
Nevan langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi menuju kamar sibungsu yang berada di lantai dua
"Jangan sampai kau membuat sikelinci itu berteriak dan mengamuk, Van!" teriak Devian sembari tersenyum.
^^^
[Kamar Aldan]
Aldan yang masih terlelap dengan nyamannya di kasur kesayangannya dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Dirinya masih enggan untuk membuka mata bulat nan indah itu.
CKLEK!
Terdengar suara pintu kamar dibuka. Siapa lagi pelakunya kalau bukan kakak keduanya Nevan Madhavi.
"Dasar siluman kelinci nakal. Jam segini masih molor," batin Nevan.
Nevan mendekati ranjang Aldan, lalu menarik pelan selimut yang menutupi seluruh tubuh adiknya itu. Dan dapat dilihat wajah damai adiknya yang sedang tertidur pulas. Terukir senyuman di bibirnya.
Nevan kemudian membelai lembut rambut Aldan dan mencium keningnya. "Kakak sayang kamu, Dan! Tetaplah tersenyum dan jangan pernah sakit. Kakak tidak kuat jika melihat kamu sakit. Kakak akan selalu ada untukmu," batin Nevan dan tanpa sadar air matanya mengalir di pipinya.
Melihat ada pergerakan dari adiknya, Nevan cepat-cepat menyeka air matanya. Dia tidak ingin kalau adiknya itu sampai melihat dirinya menangis.
Nevan yang merasakan sentuhan hangat dari kakaknya langsung membuka kedua matanya. Dapat dilihatnya kakak keduanya berada di dalam kamarnya.
"Kakak Nevan," ucap Aldan pelan tapi masih bisa didengar oleh Nevan.
"Kamu sudah bangun, hum?" tanya Nevan.
"Kenapa kakak ada dikamarku? Kakak tidak ke kantor bantu Daddy?" tanya Aldan balik.
Nevan tersenyum gemas melihat adiknya dan mengacak-acak rambut sang adik.
"Kakak ke kamar kamu hanya ingin membangunkan kamu. Daddy, Mommy, kakak Devian dan Hanan sudah menunggu di meja makan. Apa kamu akan tetap tidur terus, hum?" ucap dan tanya Nevan lembut.
Dengan cepat Aldan menggelengkan kepalanya dan itu tambah membuat Nevan makin gemas melihatnya.
"Ya sudah. Sekarang buruan kamu membersihkan diri. Setelah itu turun ke bawah. Kita sarapan bersama," ucap Nevan lagi.
"Baiklah, kak."
Aldna pun langsung pergi menuju kamar mandi. Sementara Nevan beranjak dari tempat tidur adiknya dan pergi meninggalkan kamar adiknya untuk menuju lantai bawah.