OUR LITTLE BROTHER

OUR LITTLE BROTHER
Kerinduan Kevin Terhadap Kedua Orang Tuanya



"Kevin! Bangun!" teriak Rean dari luar kamarnya membuat gundukan selimut di sebuah tempat tidur bergoyang-goyang.


Tangan putih menjulur keluar mencari-cari jam yang tergeletak di rak tak jauh dari ranjangnya. Jam mungil dengan bentuk kelinci putih itu dibawa ke bawah selimut disambut oleh suara desisan panjang.


Selimut tebal yang sudah mirip seperti kulit lumpia saking rapatnya membungkus tubuh di bawahnya itu kembali bergerak perlahan. Dengan masih menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, seorang pemuda  bangkit dari posisi telungkupnya dan duduk mengumpulkan kesadaran.


"Kevin!"


Nada tinggi yang dibarengi dengan suara pintu terbuka tersebut seketika teredam saat sang pemilik suara melihat adik laki-lakinya sudah duduk di tempat tidur dengan rambut berantakan dan mata masih setengah terpejam.


"Bangunlah. Sudah jam tujuh," ujar Rean sambil mengacak-acak rambut sang adik.


"Hm." Kevin mengangguk-angguk dengan mata belum terbuka sepenuhnya.


"Cepatlah atau kamu akan terlambat ke sekolah, Vin." Rean kembali memperingatkan sambil menutup pintu kamar adiknya.


Kevin menguap lebar seraya menjatuhkan badan ke atas kasurnya yang empuk dan hangat. Kembali ia bergelung dengan selimut motif iron man nya dan hampir menutup mata kalau saja suara Rean tidak melengking menyamai suara petasan.


Akhirnya Kevin beranjak dari tempat tidurnya dan berlalu pergi menuju kamar mandi.


Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian dengan rapi, Kevin segera turun ke bawah.


^^^


"Aku tidak mau ke sekolah kak," rengek Kevin begitu tiba di ruang makan.


Seragam sekolah sudah terpasang rapi di tubuh mungilnya dan tas berada di tangannya. "Dingin sekali di luar," sambungnya memelas.


"Mana ada orang yang tidak mau sekolah tapi sudah rapi begitu," balas Radhit sambil sibuk mengolesi roti dengan selai.


"Kalau kakak Radhit bilang 'jangan sekolah' Aku tidak akan berangkat sekolah," jawab Kevin.


"Benarkah?" tanya Radhit sanksi.


Kevin mengangguk dengan wajah yakin.


"Baiklah. Tapi kamu harus melepas seragam sekolah itu di sini ya."


Sambil bicara begitu, Radhit mengeluarkan ponselnya dan siap dalam mode video record.


"Kakak! Bagaimana bisa kakak melakukan itu padaku!" Kevin berteriak frustasi dengan nada suara manja.


Radhitya tertawa senang karena merasa sudah berhasil menjahili adik kecilnya. Kedua kakaknya yang lain juga tak kalah usilnya, mereka juga ikut tertawa.


"Hahaha!


"Kalian menyebalkan, kak!" Kevin memanyunkan bibirnya itu dan membuat ketiga kakaknya gemas.


"Makanlah sarapanmu dan segera berangkat ke sekolah. Kakak ada rapat di kantor dan Rean ada pertemuan dengan seseorang pagi ini. Kamu akan diantar oleh Nisa," ujar Radhitya memberikan roti yang sudah diolesi di hadapan Kevin.


Kevin melirik Nisa dan Nisa yang merasa dilirik oleh adiknya ia langsung menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Untuk satu minggu ini kamu akan diantar jemput oleh Nisa. Setelah satu minggu, nanti ada sopir pribadi khusus antar jemput kamu. Kakak tidak akan membiarkan kamu naik kendaraan umum," tutur Radhitya sang kakak tertua.


"Tapi bagaimana dengan kakak Nisa. Apa jadwal sekolah kakak Nisa tidak terganggu? Apa kakak Nisa tidak akan kelelahan bolak balik dari sekolahku ke sekolahnya kakak?" tanya Kevin.


"Benarkah?" tanya Kevin.


Mereka menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Baiklah," ucap Kevin pasrah.


"Kakak Radhit," panggil Kevin.


"Ya," balas Radhitya.


"Papi sama Mami kapan mereka akan kembali? Aku sudah sangat merindukan mereka, kak." Kevin berucap dengan matanya berkaca-kaca.


Mereka menatap Kevin dengan tatapan sendu. Mereka sangat tahu bagaimana kerinduan Kevin pada kedua orang tua mereka. Sudah tiga tahun Kevin tidak merasakan kasih sayang dan perhatian kedua orang tuanya.


Kevin mendapatkan semua itu dari ketiga kakak-kakaknya. Ketiga kakaknya itu sangat memperhatikan segala kebutuhan Kevin bahkan mereka rela melakukan apapun untuk si bungsu.


"Vib. Dengar kakak sayang. Papi dan Mami sibuk di Amerika. Tapikan Papi dan Mami sering menghubungi kamu. Mereka selalu menanyakan kabar kamu," ujar Rean.


"Tapi itu semua tidak cukup, kak Rean.


Yang aku butuhkan perhatian, kasih sayang dan pelukan mereka. Bukan sekedar hanya mendengar suara mereka dan melihat wajah mereka saat video call. Kalau mereka seperti ini terus, jangan salahkan aku kalau kelak aku akan pergi meninggalkan mereka dan melupakan mereka. Karena selama ini hanya kalian yang selalu ada untukku." Kevin berucap dengan berurai air mata.


Ya! Kevin seketika menangis jika berhubungan dengan kedua orang tuanya.


Setelah mengatakan itu, Kevib langsung pergi meninggalkan ketiga kakaknya  menuju mobil di bagasi.


"Kakak Nisa, kita berangkat sekarang. BURUAN!" teriak Kevin dari kejauhan.


"Kak, kami berangkat!" seru Nisa.


"Hati-hati di jalan," balas Radhitya dan Andrean sembari melanjutkan sarapan mereka yang sempat tertunda.


***


Di Sekolah..


Kevin merapatkan tangan yang sudah bersedekap memeluk tubuhnya sendiri dan mempercepat jalannya menuju ke kelasnya. Udara pagi ini lebih dingin akibat hujan yang turun semalam. Bahkan sinar matahari hampir tak terlihat di langit karena adanya kabut yang menggelayut bagai selambu raksasa.


Saat tiba di sekolah, Kevin sudah disambut oleh sahabatnya. "Selamat pagi, Vib!" sapa Hansen dan Lerry.


"Hansen! Lerry! Tumben sekali kalian sudah berada di sekolah. Biasanya telat mulu," sindir Kevin.


"Aish! kau ini, Vib!" Hansen dan Lerry berucap kesal.


Kevin hanya tertawa "Maaf.. maaf. Jarang sekali aku melihat kalian datang sepagi ini. Hebaat! Mimpi apa aku semalam sampai-sampai kedua sahabatku ini tidak datang terlambat ke sekolah hari ini?" Kevin berbicara sambil menepuk kedua bahu sahabatnya itu secara bersamaan.


Hansen dan Lerry tersenyum sumringah mendapat pujian dari Kevin.


"Ayo kita ke kelas," ajak Hansen.


"Ayo," jawab Kevin dan Lerry barengan.


Mereka melangkahkan kaki mereka dengan senyuman manis dibibir mereka masing-masing menuju ke kelas.