Our Denouement

Our Denouement
Stumbling Through Sadness - Chapter 7



Dalam keremangan malam yang berbingkai bulan purnama, langkahku terhenti di depan pintu kepergianmu. Seperti sinar rembulan yang memainkan permainan semu, kehadiranmu berubah menjadi bayangan yang menghilang.


Dalam setiap hela nafas yang kuembus, kecemasan ini semakin dalam mengguratkan rasa yang tak terucapkan, tak tertangkap oleh waktu yang kian cepat berlalu.


Dalam sunyi yang menggelayuti jiwaku, luka perpisahan yang menyayat, menikam seolah pisau tajam merobek dada tak berdaya.


Kita seperti dua helai daun jatuh yang terlepas dari rantingnya, terombang-ambing di angin tak berujung. Kepergianmu menjadi misteri yang membelit, memenuhi ruang kosong yang tersisa dalam relung hatiku.


Terpintallah kenangan manis yang terlukis dengan warna-warna kebahagiaan, namun juga tertinggal debu penyesalan yang menari-nari di cermin ingatan.


Dalam keheningan malam yang gelap, cerita ini memulai langkahnya menuju babak baru. Perpisahan yang melukiskan luka yang mendalam, menyembul dari setiap sudut hati yang terdalam. Terjalinlah benang-benang misteri yang mengikat takdir dua insan dalam tarikan nasib yang tak terduga.


Selamat datang dalam kegelapan yang merasuk, di mana misteri dan majas bersatu menyulam perpisahan dengan kematian, menggebrak luka yang tiada tara di dalam sanubari.


Siapakah yang akan tetap terjaga di pelupuk mata saat jatuhnya tirai terakhir? Hanya angin malam yang tahu, sementara kita berlayar menuju dermaga perpisahan, membawa segala kepingan perasaan yang retak.


Bersiaplah untuk menyaksikan drama mimpi yang runtuh dan harapan yang layu.



Dia menyanyikan lagu kesepian untuk hujan yang turun, lagunya penuh dengan rasa sakit dan keputusasaan. Matanya menjadi kewalahan dengan air mata dan hatinya pecah bagai tetes hujan. Kashika terduduk di tepi jendela kamarnya. Air mata turun dengan deras dari matanya, menyatu dengan butiran hujan yang berjatuhan.


Di dadanya bergema bagaikan dihantam dengan pukulan keras, getar yang kuat menyelubungi hatinya secara mendalam. Kabar yang tak terduga itu telah mengguncang dunianya. Yatsuki, sahabatnya yang setia, telah meninggal karena penyakit Leukemia.


Kashika merasakan bisikan mimpi yang menghampirinya secara perlahan saat dia terbangun dari tidurnya yang dipenuhi oleh kegelapan tak berujung. Kabar tentang kematian Yatsuki berhembus melalui hatinya seperti badai dahsyat yang menghancurkan segala sisi kehidupannya. Rasa panik, kesedihan, dan keputusasaan menyelimuti keberadaannya yang rapuh.


Dalam momen malam hening yang diiringi oleh butiran hujan yang turun, Kashika bergumam dengan doa yang meluncur lembut dari bibirnya, dia memohon pada takdir agar kabar yang menghantui itu hanyalah sebuah lelucon, atau kabar yang salah.


Kashika merasakan panik yang melanda dirinya datang bertubi-tubi, sedih yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, dan tangis yang tumpah tak terkendali. Namun walaupun begitu, dia sadar bahwa dia harus memastikannya sendiri kebenaran dari kematian sahabatnya itu.


Kashika segera berinisiatif untuk meminta keterangan, mencoba mengumpulkan informasi. Ia ingin mengetahui lebih banyak tentang penyakit yang diderita oleh sahabatnya itu. Dengan daya upaya yang tersisa, Kashika memutuskan untuk menanyai orang-orang yang Yatsuki kenal, mencari petunjuk yang mungkin membawanya pada kebenaran yang misterius.


Tanpa ragu-ragu, Kashika bahkan mempersiapkan perjalanan ke kota asal Yatsuki, tempat yang selalu mereka impikan untuk dikunjungi bersama. Tidak peduli dengan kerjaan dan tanggung jawab sehari-hari.


Kashika terombang-ambing dalam gelombang ketidakpastian. Dia melepaskan beban rutinitas dan tugas-tugasnya, mengabaikan izin kerja dengan sadar.


Baginya, kehadiran Yatsuki lebih daripada segalanya. Ia akan melangkah ke kota yang berpenuh misteri itu tanpa mempedulikan apa pun, membawa harapan dan kegelisahan yang saling bertemu.



Kashika terduduk di bangku bandara yang dingin. Hatinya penuh dengan kekhawatiran dan kebingungan. Hujan yang lembut turun dengan penuh kesedihan, mencerminkan perasaan yang membanjiri pikirannya.


Di tengah kegelisahan ini, ia terus mengirim pesan kepada Yatsuki. Berharap bisa menerima balasan dari sahabatnya yang sudah tiada. Namun, nihil. Tak ada respon, semua tetap hampa.


Meskipun dengan rasa takut dan ketidakpastian merayapi jiwanya, Kashika akhirnya menaiki pesawat menuju kota tempat asal Yatsuki. Hatinya berdebar ketika pesawat lepas landas, Kashika bertanya-tanya apakah dia melakukan hal yang benar.


Setelahnya, Kashika mencoba menghubungi nomor yang tidak dikenal, dari seseorang yang mengaku sebagai dokter dan memberitahukan berita kematian Yatsuki. Dia ingin menanyakan detail kematian serta tempat di mana Yatsuki menghembuskan napas terakhirnya.


Sayangnya, ada kejanggalan. Nomor tersebut tiba-tiba tidak aktif, dan hilang secara misterius. Kashika semakin merasa penasaran dan cemas. Dia mulai merasakan ada sesuatu yang disembunyikan dari dirinya.


'Mungkinkah ada alasan tertentu di balik kematian Yatsuki, dan tentang apa jika hal itu benar? Apa sebenarnya rahasia yang disembunyikan oleh orang-orang yang pernah mengenal sahabatnya itu?'


Di setiap tiupan angin, dia seakan merasakan sosok sahabatnya menyentuh dirinya, memberi penghiburan dan ketenangan yang hilang.


"Yatsuki.. ada apa sebenarnya?" Kashika bergumam pasrah. Suaranya yang terdengar bingung terputus karena napasnya tercekat menahan serangan panik dan air mata.


Kashika menatap keluar dari jendela pesawat, memegang erat pinggiran jendela saat ia melihat gedung-gedung dan jalan raya menyusut di bawahnya sebab pesawat yang perlahan naik ke ketinggian. Air mata hampir mengisi matanya saat memorinya dengan sekejap mengingat percakapan terakhir dengan Yatsuki dan janjinya untuk mengunjunginya segera.


Bunyi dering ponselnya membuatnya kembali ke kenyataan dan Kashika merasa ketakutan sejenak sebelum menyadari bahwa itu hanya notifikasi pesan. Dengan cemas, ia membukanya.


Mengharapkan pesan dari seseorang misterius yang memberitahunya tentang kematian sahabatnya. Namun, alih-alih nomor itu, Kashika menemukan pesan tak terduga dari Rion, rekan kerjanya di band musik di mana mereka berdua menjadi anggotanya.


"Hey Kashika, aku harap kamu baik-baik saja. Aku cuma ingin memastikan bagaimana kondisimu dan apakah ada kabar tentang kasus tuduhan itu. Beri tahu aku apa yang sedang terjadi, ya? Jaga dirimu."


Menelan kekecewaan, Kashika secara mental menendang dirinya sendiri karena hampir melupakan kasus itu. Kashika merasakan gelombang rasa bersalah melandanya saat ia mengingat kasus tersebut. Tempo kasus itu sangat bertabrakan dan entah mengapa seolah terkait dengan kabar meninggalnya Yatsuki, sehingga hampir dia lupakan. Dia mengambil napas dalam-dalam untuk mengatur dirinya sendiri, lalu membalas pesan Rion.


"Maaf sudah memakan waktu lama untuk membalasmu. Sebenarnya, aku sedang dalam pesawat sekarang. Dan masih lama kiranya aku akan sampai di tempat tujuanku. Nanti aku akan beritahu perkembangan terbarunya ketika aku kembali."


Kashika bersandar di kursinya dan melihat keluar dari jendela, merasakan kepedihan saat kenangan tentang sahabatnya melintas dan seketika memenuhi pikirannya. Kashika bertekad untuk mencari tahu kebenaran dari kasus tersebut, tidak peduli apa pun yang terjadi, setidaknya sebagai bentuk menghormati kenangan bersama sahabatnya.


Kashika membiarkan pikiran dan kekhawatirannya yang berat melayang jauh bersama awan di luar jendela. Kemudian Kashika menutup matanya, dan membiarkan turbulensi pesawat yang bergelombang membawanya jatuh terlelap ke dalam indahnya bunga tidur.



Dalam kebisuan kota senja yang bermandikan kabut tebal, Kashika melangkah dengan ragu. Ia merenungi langit kelam yang mengalir di atasnya, seakan mengirim pesan terakhir kepada sahabatnya, Yatsuki.


Namun, hanya sunyi yang menjawab, seolah Yatsuki kini telah menjadi sebagian dari misteri yang merebak.


Begitu Kashika turun dari pesawat, dia melangkah pelan di jalanan kota tempat tinggal Yatsuki. Dalam ketidakpastian yang mengaburkan benaknya, dia merasa seperti seorang gadis hilang yang tersesat dalam keruwetan alam pikirannya sendiri.


Namun, Kashika tak putus asa dan terus mencari informasi tentang keberadaan terakhir Yatsuki, memanfaatkan petunjuk yang pernah diucapkannya melalui percakapan di aplikasi chat. Dalam pencariannya, ia juga berusaha menemukan lokasi dari sekolah menengah pertama di mana Yatsuki pernah bersekolah di kota ini.


Yatsuki pernah menyebutkannya dalam ceritanya, dan Kashika merasa bahwa tempat itu mungkin menjadi kunci terakhir untuk mengungkap misteri seputar kehidupan Yatsuki sebelum kabar meninggalnya Yatsuki yang dia dengar kemarin lusa.


Dengan langkah tegap, Kashika berjalan lurus ke depan. Dengan hati yang dipenuhi kegelisahan, Kashika menjelajahi jalan-jalan yang belum dikenal. Entah mengapa dirinya merasa kehadiran Yatsuki masih menyertainya, meski hanya sebagai bayangan yang mengikuti setiap langkahnya.


Walaupun serasa terhanyut dalam kegelapan kabut yang misterius, Kashika tidak menyerah. Dengan ketekunan dan kesabaran yang dimilikinya, ia bertekad untuk menemukan kebenaran yang tersembunyi. Ia yakin bahwa di balik misteri yang mengelilingi Yatsuki, ada jawaban yang menanti untuk diungkap.



Kashika melangkah perlahan di tengah jalanan yang asing baginya, terpaku pada layar handphone dalam genggamannya. Ia begitu sibuk sehingga tidak menyadari ada sesuatu yang menghalau di depannya. Dalam sekejap, Kashika tersandung dan jatuh terjerembab ke tanah yang basah dan kotor. Dengan geram, Kashika mengumpat kesal.


"Sialan, ugh!"


Namun tak disangka, sebuah tangan muncul dari bayang-bayang dan menjulurkan diri, menawarkan bantuan pada Kashika. Mata Kashika mengerut heran saat melihat pemilik tangan tersebut, dia tersentak kaget bagai disengat listrik. Wajah lelaki itu tampak mirip dengan Kashika.


Sosok yang tampak familiar sekaligus asing baginya. Rambut hitamnya yang terurai, mata tajam yang penuh misteri, serta senyum tengil menjengkelkan. Semuanya mengingatkan Kashika pada sosok yang sangat beliau kenal.


Kashika menatap lelaki itu, hatinya perlahan diisi emosi kembali. Apakah ini hanya kebetulan ataukah ada sesuatu yang lebih dalam? Lelaki yang pergi meninggalkannya sendirian. Setelah bertahun-tahun hilang tanpa kabar, kini ia muncul bertepatan dengan banyaknya kejadian yang menghantamnya bersamaan.