
..."Kita selalu tahu bahwa perpisahan akan datang, tapi betapa beratnya rasa ketika ia benar-benar terjadi. Terpisah sudah, hatiku hancur laksana debu. Kehadirannya meninggalkan jejak yang mencederai dan duka yang tak terobati."...
•
Kashika berguling di tempat tidurnya, meringkuk di dinding. Air matanya terus merembes ke bantalnya, meski dia bertekad untuk tidak bersuara. Kashika memeluk bantalnya erat-erat, berharap itu adalah Yatsuki.
'Mimpi. Ini pasti bagian dari mimpi buruk itu, kan?'
'Semua ini, belum tentu benar.. kan?'
'Orang aneh itu pasti hanya berusaha mengerjaiku, ya?'
Sebelumnya, Kashika berbaring di tempat tidurnya, kelelahan setelah mandi air panas yang lama. Membenamkan wajahnya ke bantal, dia merasa bisa mendapatkan istirahat yang layak. Tiba-tiba, telepon di samping tempat tidurnya mulai berdering, memekik keras dan mengejutkan Kashika dari ketenangan yang damai.
Dia menggenggam ponselnya dengan tangan gemetar dan mendekatkan ponsel ke telinganya.
"Halo, selamat malam. Mohon maaf sebesar-besarnya karena mengganggu waktu istirahatnya tapi, apakah benar saya sedang berbicara dengan orang terdekat dari Yatsuki Nayumi?"
Sebelum Kashika sempat bertanya siapa orang itu dan mengapa ia menelepon, suara seorang wanita mendahuluinya dengan bertanya tanpa aba-aba. Kata-kata dari orang itu seperti menyalakan api di dalam hatinya, Kashika bingung dengan pertanyaannya yang tiba-tiba, dirinya merasa aneh.
"Iya, benar. Siapa ya?" Balasnya cukup kikuk, karena tak mengenali siapa di seberang sana.
"Maafkan saya, saya Dr. Tyamura. Saya menelepon untuk memberikan kabar duka mengenai Yatsuki." Ucap seorang wanita yang mengaku dokter dengan nada ragu. Kashika membeku. Ocehan aneh dari wanita itu bagai guncangan yang menerpa pinggiran laut yang sunyi.
"Yatsuki, apa yang terjadi padanya? Apa yang sebenarnya Anda ingin bicarakan? Tolong jangan main-main, apalagi mencoba untuk menipuku." Suara Kashika terdengar membalas dengan nada yang meninggi. Dia menuntut jawaban.
Kashika belum benar-benar memahami apa yang dikatakan "dokter" itu sampai dia menjelaskan bahwa Yatsuki telah meninggal dunia akibat penyakit Leukemia.
Sontak, udara di sekitar kamarnya terasa seperti menghilang. Layaknya kehabisan oksigen, Kashika merasa seolah napasnya berhenti. Dia mulai menyadari tentang apa panggilan itu. Ketika akhirnya ketakutan terburuknya terkonfirmasi, Kashika terkejut namun mati rasa. Dia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun, kecuali kata-kata penyangkalan yang keluar dari mulutnya saat penglihatannya kabur sebab air mata yang perlahan mengalir menuju pipi leceknya. Jantungnya seakan hancur dengan beban yang sangat berat sehingga dia tidak bisa bergerak.
Gangguan kecemasan yang telah diusahakannya dengan sangat keras untuk tetap terkendali selama bertahun-tahun tampaknya berkobar lagi, pikirannya berpacu saat ia mencoba memahami berita yang baru saja didengarnya. Otaknya berusaha menenangkan hatinya. Kashika berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanyalah lelucon dari Yatsuki. 'Bohong, penipu. Pasti mereka mengerjaiku, ya kan?'
Bagaimana ini bisa terjadi? Yatsuki selalu menjadi orang yang penuh energi. Beberapa hari yang lalu mereka mendiskusikan jalan-jalan menyenangkan yang nantinya akan mereka lakukan bersama. Malam kemarin, mereka masih bergurau mesra. Pemikiran hidup tanpa Yatsuki terasa sangat sulit.
Tanpa sadar, Kashika menutup telepon dan menggenggamnya erat. Hatinya penuh dengan kemarahan, sedih, dan pening. Kashika menenangkan diri dengan bersikap tidak realistis. Dia tertawa samar. Dengan getaran tangan yang hebat, dia terburu-buru memutar nomor Yatsuki, tetapi sambungannya tidak aktif. Ia menyusun beberapa pertanyaan dan mengirim pesan ke Yatsuki. Meski tahu jawabannya, Kashika masih berpegang pada benang harapan, bahwa mungkin, mungkin saja, itu tidak benar. Sumber harapan ini tergerus oleh pesan yang dikirim oleh Yatsuki pagi tadi. Rasanya seperti pukulan dilayangkan ke jantungnya di saat dirinya terisak sembari melihat isi pesan. "Kamu merindukanku, kan~"
"Hei, Yaya. Kamu di mana?"
"Apa orang itu tadi, temanmu?"
"Kamu... tidak pernah bercerita tentang penyakitmu..."
"Kalian mencoba melakukan prank, kan."
"Yatsuki, apa kamu baik-baik aja? Apa yang sebenarnya terjadi di sana?"
•
Di dalam kamarnya, sang gadis duduk lemas di atas lantai keramik dingin sambil menatap layar ponselnya dengan harap-harap cemas. Jarinya mengetuk-ngetuk layar keras-keras, berharap pesan balasan dari sahabatnya akan tiba segera.
Netra kembarnya terus menatap layar ponsel, seolah-olah pesan itu akan datang suatu saat nanti. Tapi semakin lama dirinya menunggu, semakin nyata rasa kehilangan yang dirasakannya. Ia ingin menangis, menjerit memanggil namanya, tapi pada akhirnya Kashika hanya bisa meratap dalam keheningan.
Kambuhnya gangguan cemasnya menjadi tak terbendung. Kashika masih berusaha tersenyum untuk denial, tapi ini benar-benar aneh. Kashika melempar ponsel yang digenggamnya dan melompat ke atas kasur. Kedua tangannya memeluk bantal dan wajahnya disembunyikan. Berharap semuanya hanya mimpi buruk.
•
Bukti nyata ketidakberdayaan gadis itu tergambar jelas kala hujan deras yang tiba-tiba turun. Air yang bercucuran dengan keras dari awan tebal yang menggantung di langit, menambah kepayahan yang dirasakannya.
Hujan deras malam itu mengalun lirih, bagai pendukung suasana yang membelai kalbu orang-orang tertekan. Hujan turun membasahi bumi dan merangkul jiwa-jiwa yang sedih.
Setiap tetesan air begitu lantang menghantam aspal, menyebarkan gemuruh di seluruh penjuru tempat itu. Gadis itu terbaring di ranjangnya, dikelilingi oleh keheningan malam dan gelisah yang meracau dalam hatinya.
Dia menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong, pikirannya melayang-layang tak tentu arah. Kakinya dia tutupi dengan selimut tebal, mencoba melindunginya dari rintik-rintik hujan yang masuk melalui jendela terbuka. 'Benarkah Yatsuki... telah tiada?' 'Aku tidak bisa membayangkannya... kematian bukan hal yang pantas dijadikan candaan atau prank,'
Tak berapa lama, suara petir yang mengerikan seolah-olah terdengar mengirimkan isyarat kepada gadis itu. Petir seperti mengumandangkan kabar duka yang tak pernah pudar. Suara petir yang keras membuat gadis itu terperanjat. Seakan-akan petir itu menyambar dirinya sendiri, dan membekukan hatinya dalam waktu yang singkat.
Bertepatan saat itu juga, tiba-tiba sebuah bingkai foto terjatuh di lantai dengan nyaring. Kashika mendongak, terkejut. Hatinya berdetak kencang saat melihat foto itu. Dia dan sahabatnya tertawa bahagia di depan kamera. Begitu tulusnya mereka menghabiskan waktu, bercanda, tertawa, dan mengerjakan banyak hal. Hampir tak terlihat bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.
Kashika perlahan mengangkat tangannya yang bebas dan mengambil foto yang terjatuh. Jari-jarinya menelusuri tepi wajah tersenyum Yatsuki yang manis. Kashika sadar, dirinya tidak pernah tersenyum selebar ini jika bukan dengan Yatsuki.
Kemudian tangannya mulai tergerak untuk menghubungi nomor Yatsuki sekali lagi. Dia masih berharap di luar harapan bahwa berita itu hanyalah rumor atau lelucon belaka. Tetapi sekali lagi nomor Yatsuki mati, seolah-olah mengejeknya. Harapannya memudar.
Kashika akhirnya pasrah. Ini benar-benar aneh. Hari ini harus menjadi hari yang paling menyakitkan bagi Kashika. Dia mengenyam hati yang penuh dengan lukisan cemas tak ada habisnya.
"Kenapa...? Aku menjadi selemah ini?"
"Aku tidak bisa seperti ini. Besok... a-aku akan memastikan sendiri. Berita itu..." Ujarnya tersendat, lalu menepuk keras kedua pipinya.
•
Guntur bergulir. Tetesan air hujan mengalir di sekujur tubuh seorang gadis yang dibanjiri lumuran darahnya sendiri.
Ketika dia merasa hidupnya semakin menipis dan kegelapan memeluknya, gadis itu mengingat momen bahagia yang dihabiskan bersama sahabatnya. Dia ingat janji kecil yang mereka buat satu sama lain, janji untuk menghilangkan rasa sakit dan kesulitan satu sama lain.
Dengan berlinang air mata, gadis itu meminta maaf di dalam hati karena tidak bisa memenuhi janjinya. Air mata gadis itu sama derasnya dengan tetesan air yang turun dari langit, menyirami pipinya yang semakin pucat. Seperti dua sungai yang bergabung, tangisnya bercampur dengan gemuruh dentuman petir yang membuyarkan kesunyian malam.
Pada saat yang sama. Meskipun keadaannya melemah, matanya masih hidup dengan kebencian yang intens, memelototi orang-orang di hadapannya penuh dengan kemarahan.
Rasa berat memenuhi dadanya, terlepas dari keadaan saat ini, rasa sakit yang tajam menelannya dan tidak membiarkannya beristirahat. Mengapa harus berakhir seperti ini?
Saat suara badai semakin keras, dia bersumpah untuk membalas dendam. Membuat mereka membayar atas apa yang telah mereka lakukan.
Melihat untuk terakhir kalinya pada pria itu, bibirnya berkata dengan susah payah, mengucapkan kata-kata yang nyaris tidak terdengar.
"Kau telah berbohong dan menyakitiku selama ini, tunggu karmamu. Brengsek." Gadis itu berucap dengan nada yang paling halus, tetapi dengan otoritas yang jelas.
Akhirnya, mata gadis itu terpejam dan guntur bergema di seluruh negeri seakan menggambarkan detak jantungnya yang terakhir. Hujan turun tanpa henti, seolah-olah menangis untuk kematiannya.