Our Denouement

Our Denouement
Before the Incident - Chapter 3



Kashika terbangun dengan suara gedebuk alarm ponselnya. Tubuhnya berkeringat dingin dan kedua matanya membelalak. Dia menepuk-nepuk kedua matanya sambil berusaha untuk menghilangkan kabut mimpi buruk yang telah memberinya pengingat tak terlupakan tentang kejadian masa itu.


Mimpi itu terasa begitu nyata, membuatnya merasa tegang dan lelah. Kashika tertekuk di tempat tidur, mencoba menguatkan diri. Setelah semalaman panjang penuh kenangan menakutkan, mimpi itu berakhir.


Tapi, rasa lega tak bertahan lama ketika dia melihat ke arah jendela. Matanya seperti menangkap bayangan seorang pria yang mirip dengan penyebab semua rasa ini. Rasa itu kembali menyerangnya. Perut Kashika terasa terkepal kuat dengan cemas. Segera ia menarik dan menutup jendela, berharap siapa pun yang dia lihat di luar sana akan menghilang. Kashika bernapas pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Setengah jiwanya pasti masih berada di alam bawah sadar. Tangannya reflek menampar keras pipinya, berusaha menyadarkan diri.


Kepalanya berdenyut pelan. Dia tahu dia harus melupakan masa lalu itu, tapi bagaimana? Bagaimana dia bisa melupakan sosok itu? Bagaimana dia bisa melupakan semua yang telah terjadi?


Entah. Kata orang, waktulah yang perlahan akan menyembuhkan.


Selepas adegan pagi perkara bunga tidur itu, Kashika sibuk bergegas untuk kuliah pagi. Dalam perjalanan menuju kampus, Kashika mencoba mengendalikan dirinya pada hal-hal yang bisa membuat perasaannya netral kembali. Dia menyalakan musik favoritnya dengan volume yang dapat membuat telinga tuli. Ia berjuang keras menyapu ingatan itu dari pikirannya.


Saat sampai di kampus, Kashika merasakan sesuatu yang dianggap sebagai anomali. Dia melihat beberapa mahasiswa berkeliling seperti biasa, tapi dia merasakan sesuatu yang tidak normal terjadi dalam dirinya. Dia merasa kosong, tidak ada minat, tidak ada motivasi, tidak ada alasan untuk melakukan segala sesuatu hari ini. Dia berpikir untuk pulang lebih awal, tetapi dia malah terpaku di kursi taman. Hanya menatap kosong sekeliling, seolah-olah jiwanya berada di dunia lain.


Rasa takut dan rasa sakit itu muncul lagi, seolah bisa membawanya kembali ke tengah mimpi buruknya tadi. Dalam benaknya ia berpikir, bagaimana bisa kejadian pada saat itu terulang persis berkali-kali di mimpinya. Kepalanya terasa sangat sakit, dan tubuhnya bergetar.


Keadaan taman sedang sepi, tidak ada tanda-tanda orang berlalu lalang di sekitarnya. Ia mengaku nyaman dan aman ketika sendiri, tetapi dihadapkan dengan situasi seperti ini? Kashika hanya manusia biasa. Makhluk sosial yang membutuhkan bantuan makhluk lainnya. Dia berangan-angan siapa yang akan membantu dirinya di saat sesuatu seperti ini terjadi? Semua orang bisa, tapi dalam hatinya hanya ada satu nama yang bahkan rela, menukar jiwanya untuk sekedar senyuman di wajahnya. 'Yatsuki...' Panggilnya dalam hati. Dia berharap insan itu ada di sebelahnya sekarang.


Hari ini ia tak bisa mengatasi rasa takutnya, dan dia berencana menagih janji Yatsuki yang berbicara akan selalu siap memasang telinga dan bahunya untuk dibebani olehnya. Tetapi, dirinya selalu merasa tidak enak jika harus menorehkan bobot masalahnya ke pada Yatsuki. Alhasil Kashika memendam semua emosi yang tak dapat ditaklukkannya, berperang dengan batin.


Tangannya terkepal diikuti perutnya, sebelum kesadarannya menghilang dia bisa merasakan sebuah tepukan di bahu dan suara seseorang memanggilnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mata Kashika perlahan terbuka. Kashika terbangun dengan rasa pening dari pingsannya, dia meringis ketika mencoba untuk duduk, kepalanya berdebar kesakitan. Dia berusaha mengingat-ingat kembali yang terjadi sebelumnya.


'Apa yang aku lakukan tadi?'


Dia melihat sekeliling, mencoba memahami di mana dia berada dan bagaimana bisa sampai di sini, lalu kepanikan melanda. Matanya menangkap sebuah tulisan yang cukup besar di dinding, membuatnya sadar bahwa dirinya berada di Unit Kesehatan Kampus.


Kashika masih kebingungan dan linglung. Dia memegangi kepalanya sambil berucap pelan, 'siapa yang membawanya ke sini?'


Selanjutnya terdengar suara pintu dibuka, sontak membuat kepalanya menengadah. Tampak seorang gadis yang muncul, memasuki ruangan. Dengan perlahan gadis tersebut mendekati tempat tidur Kashika, yang kini terduduk. Gadis itu memperhatikannya dengan tatapan cemas.


"Ohh, kau sudah bangun," gadis itu berkata dengan gerak gerik canggung.


"Ah, iya. Maaf, Apakah... kau yang membawaku kemari?" Tanya Kashika pada gadis itu.


"Iya benar, maaf jika terkesan lancang. Aku baru saja akan pulang tadi, tapi aku melihat seseorang yang hampir jatuh di taman. Kalau aku tidak salah, apakah kau bernama Kashika?" Ungkap gadis itu yang tampak mengenalinya,.


Kashika tidak menjawab, ia mencoba mengingat-ingat siapa gadis itu, tetapi kepala yang masih pusing membuatnya sulit untuk berkonsentrasi.


"Aku... kau kenal denganku?" Tanyanya dengan suara yang tiba-tiba serak. Di tengah rasa bingung Kashika juga merasa lega, ada yang menemukan dirinya. Kalau tidak, dia pasti sudah berlumuran tanah kotor yang basah.


"Ya, aku Rayla. Kalau kamu ingat, aku adalah teman sekelasmu pada saat sekolah menengah," ujar Rayla seraya tersenyum.


Kashika sedikit terkejut, dia baru menyadari mereka berada di kampus yang sama. Dia mulai mengingat Rayla, saat memperhatikan wajahnya yang terdapat tahi lalat di hidung dan di bawah bibir. Dia ingat, Rayla juga mempunyai sikap yang agak mirip dengannya, yaitu kaku.


Tetapi, Kashika adalah tipe yang datar dan juga tegas. Rayla, gadis ini pernah mendapat perundungan sebab tingkahnya kaku, juga penampilan yang dianggap "lugu".


Sungguh alasan klise dan tolol, untuk menindas orang-orang tidak bersalah.


"Terimakasih banyak, Rayla. Bagaimana kabarmu?" Kashika bertanya ramah.


"Tidak apa, jangan berterimakasih. Kabarku baik! Aku senang bisa bertemu denganmu lagi, Kashika." Jawab Rayla dengan nada yang ceria.


Kashika bergegas menemui Yatsuki. Dia mengecek ponselnya, untuk bertanya di mana keberadaan Yatsuki. Saat ponselnya dibuka, banyak pesan bermunculan di layarnya. Dan pesan itu dikirim oleh Yatsuki, yang bertanya di mana dirinya, berulang-ulang kali dalam pesan. Kashika memutuskan untuk menelfonnya, yang dengan sekejap diangkat oleh Yatsuki.


"Hei, aku sudah mencarimu ke manapun!! Kamu di mana???" Protes Yatsuki dengan suara keras. Kashika mengasihani telinganya, dia menjauhkan sedikit ponselnya.


"Kamu di mana? Aku berada di kampus tadi, ada masalah sedikit. Maaf, aku hampir lupa," ujar Kashika, lantas balik bertanya.


"Aku ada di mansion sekarang, apa kamu bisa menunggu di bandara yang dekat dengan apartemenmu? Aku akan segera ke sana," Kashika merasa tidak enak hati, tetapi dia juga tidak bisa menolak.


"Baiklah, aku tunggu di sana. Hati-hati Yaya."


"Oke, tunggu ya. Sampai bertemu di bandara!!!"


Kashika datang ke bandara dekat apartemennya, dia melihat jam tangan dan menyadari bahwa masih ada waktu sekitar 15 menit sebelum Yatsuki tiba. Dia duduk di kursi tunggu, mengamati gerakan orang-orang yang sibuk di sekelilingnya.


Tak lama kemudian, Kashika melihat bayangan sosok Yatsuki yang muncul dari pintu masuk bandara. Senyum hangat terukir di wajahnya ketika Yatsuki sampai. Dia berlari ke arah Kashika dan memeluknya tanpa aba-aba, membuat Kashika nyaris terjungkal.


"Hati-hati, dasar ceroboh," tegur Kashika sembari berupaya mendorong pelan tubuh Yatsuki. Selain terjungkal, ia juga nyaris sesak napas.


"Hey, Sisi! Terima kasih sudah datang mengantar ku," sapa Yatsuki dengan senyum lebar.


Kashika pun mencoba untuk tersenyum tipis sebagai tanggapan. Dia berusaha menahan rasa kehilangannya itu. Walaupun dia tidak bisa menghindari dengan cara lain, dia berharap Yatsuki juga merasakan sebuah rasa kehilangan yang sama besarnya.


Hari ini, Kashika merasa tidak ada yang menyenangkan di saat-saat terakhir mereka bersama. Dia ingin berbincang lebih lama, berusaha untuk mengisi kekosongan yang akan terjadi saat Yatsuki benar-benar pergi.


Mereka berdua saling memandang tatapan dalam penuh makna, kemudian Yatsuki pun berkata.


"Kamu akan selalu menjadi teman baikku, tahu? Walaupun aku harus pergi, nanti juga akan ada waktu di mana aku bisa kembali lagi. Jadi jangan lupa untuk selalu mengingatku, ya?" Yatsuki berkata seolah paham maksud dari paras kelabu di wajah Kashika. Yatsuki tidak menyadari, bahwa wajahnya banjir air.


"Sudah kubilang untuk jangan merindukan ku. Tapi aku belum pergi saja, kau sudah tampak putus asa, haha." Yatsuki membuat gurau-an garing seperti biasa. Dan tertawa receh karena kalimatnya sendiri.


"Hentikan tingkah narsismu itu, aku tahu. Kita tetap bisa saling berkomunikasi melalui telepon atau pesan singkat...iya kan?


"Tentu saja!! Aku akan mengirimkan mu pesan 20 kali dalam sehari!"



Kashika merasa lara kala ia berdiri di pintu bandara dan melihat Yatsuki, mempersiapkan diri untuk pulang ke kota asalnya.


Hari ini, ikatan mereka akan terputus sementara. Mereka berdua berusaha keras untuk melawan perasaan sedih, tapi terkadang air mata jatuh membasahi kelopak mereka. Mereka menghibur dan menghabiskan waktu terakhir sebelum Yatsuki akan pulang, dengan bercerita tentang memori kebersamaan yang mereka punya. Seperti bernyanyi, atau bermain game hingga larut malam.


Yatsuki berpesan kepada Kashika bahwa ia akan segera kembali, dan mereka pasti akan bertemu lagi. Mereka berpisah dengan saling menatap penuh harapan. Seiring perginya Yatsuki, rasa syahdu dan sedih bercampur aduk di hati Kashika.


Kashika memandang pesawat yang semakin menjauh, meninggalkannya sendiri di pelataran bandara. Merasa tangis tak bisa lagi dipertahankan, dia tersenyum tipis.



Yatsuki terduduk di pesawat dengan perasaan yang berdebar. Menatap ke luar jendela pesawat dengan ekspresi tegang yang tak dapat disembunyikan. Wajah yang biasanya berapi-api semangat serta tawa yang bersahutan kini menghilang sepenuhnya bersamaan dengan sisa air mata, yang dihapus kasar olehnya.


Tangannya mengeluarkan ponsel dari sakunya, membaca layar pop up yang terpampang pesan berisi ancaman dari seseorang. Dan pesan ejekan lainnya.


"Sudahi drama menggelikanmu itu. Jika kau menginginkan semuanya aman, segera. Datang kemari. Jangan lelet."


Dia mengelus perutnya, sepasang netranya menyaksikan awan-awan di luar jendela dengan pandangan kosong.