Our Denouement

Our Denouement
The Weight of Bad News - Chapter 5



Di tengah kegelapan, sebuah siluet membelah bayangan. Pemandangan yang hampir tidak dapat dijelaskan, seorang gadis tengah menangis. Tergelincir air mata yang tak pernah ingin berhenti, menyesali nasibnya. Dalam proses menangis, tangannya terulur ke dalam bajunya, menyentuh perutnya. Hanya dia yang mengetahui rahasia dibalik itu, rahasia takdir dirinya. Tetapi sekarang, sepertinya mereka juga tahu.


Derai air matanya menetes, membasahi tangannya yang tak berdaya ini. Rasa putus asa dan kekecewaan menggulung di dadanya. Bagaimana bisa dia berbicara jujur pada sahabatnya, di saat semua ini terjadi?


Dia menatap ponselnya dengan tatapan yang kosong, seolah melihat lebih dari sekedar layar ponsel. Mengingat bahwa sebelumnya, mulutnya telah berbohong dengan keceriaan yang dipaksakan untuk menutupi derita yang ada di hatinya. Gadis itu membelai tangannya yang terulur, terdiam. Dinginnya ruangan itu menjadi saksi tersendiri ketika gadis itu meratapi nasib yang begitu kejam.


'Apa yang bisa aku lakukan sekarang?', pikirnya dengan hati yang penuh keputusasaan. Dia menutup matanya rapat-rapat dan menarik napas dalam-dalam. Tak lama kemudian, ia mendengar suara langkah kaki mendekat, dan dengan sekejap membangkitkan perasaan dendam di dalam hatinya.


Dalam keadaan itulah ia melihat seorang pria bongkotan mendekat ke arahnya, menggerakkan hati yang sebelummya tenggelam dalam kesedihan berubah menjadi penuh amarah. Gadis itu menoleh ke belakang tanpa melupakan satu butir air matanya.


"Hei, jangan menatap orang yang lebih tua darimu seperti itu." Pria itu tanpa basa-basi memperingatkan dengan nada bicara mengejek. Wajah keriputnya menampilkan senyum miring. Gadis itu meludah tepat di baju pria itu dan berkata, "sadar sudah tua, bau tanah. Masih saja kebanyakan tingkah." Senyum pria itu memudar, dia memelototi gadis itu, sekilat matanya menggelap, tersinggung.


Lelaki itu melangkah maju, menjulang tinggi di atas gadis itu. "Jaga mulutmu, gadis kecil," geramnya. "Kau tidak tahu dengan siapa sebenarnya dirimu berurusan."


"Aku tahu persis dengan siapa aku berhadapan," balas gadis itu tanpa rasa takut, meskipun bibirnya sedikit bergetar, dan sisa air mata masih membekas. "Pria tua menjijikkan, picik dan egois yang berpikir dia bisa memperlakukan orang semaunya dan lolos begitu saja."


Wajah pria itu bertambah merah, api amarahnya telah tersulut seutuhnya. "Beraninya kau! Seharusnya kau sadar dalam situasi ini, kau yang bau tanah sekarang!!!" Tangannya terangkat seolah ingin memukul gadis itu. Tetapi sebelum dia bisa, seorang pria muda melangkah di antara mereka, menghalangi jalannya. "Cukup," perintahnya dengan tegas. "Tidak perlu pakai tenaga. Cepat laksanakan acara sesuai rencana dan semua akan selesai."


Gadis itu menatap sengit ke arah dua pria berbeda usia di hadapannya, kebencian tercetak jelas di matanya. Namun beberapa detik kemudian, mata tajam itu melemah. Dia berdiri diam, aura suram menjulang di sekelilingnya. Gadis itu mencapai titik di mana dia tidak peduli lagi, terserah. Apa pun yang akan terjadi, maka terjadilah.



Kashika membuka matanya, merasakan dinginnya kamar tidur di pagi hari. Kashika bersandar di punggung kasurnya, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Dia merasa dejavu dengan mimpi yang bisa dikatakan mengerikan, baru saja dia alami. Mimpi itu berputar di kepalanya, membuatnya was-was. Sosok yang dia lihat di mimpi itu terlalu mirip. Berulang kali dia bermimpi tentang orang yang sama. Orang yang Kashika sangat hafal.


Kashika berbalik dan menutup matanya, mencoba untuk meredam pikirannya dari semua kebrutalan. Setelah beberapa saat, ia merasakan kekuatannya pulih. Dia pun menghirup napas dalam dan bangkit dari tempat tidurnya.



Kashika hancur. Sejak 10 menit yang lalu, dia mengalami serangan panik tak berujung. Dia merasa sangat lelah. Padahal dirinya sempat membaik, sebelumnya. Kashika terus mencoba untuk menenangkan diri dengan berbagai cara. Berbaring di lantai dengan bantal di atas wajahnya.


Tidak bisa, pikirannya masih melayang kejauhan. 'Bagaimana jika "orang itu" ada di sekitarnya, sekarang?' Untuk menghindari segala hal yang tak diinginkannya itu, Kashika memutuskan tidak keluar rumah seharian.


Melalui pemikirannya yang ribut, dia berusaha menenangkan diri dengan satu hal yang pasti akan berhasil - mendengarkan musik favoritnya melalui earphone, dengan volume yang dapat membuat gendang telinga konslet.


Berjam-jam lamanya, penyaluran earphone ke telinganya itu berhasil membuat Kashika merasa nyaman. Setelahnya, ia mulai mencari ponselnya, bosan. Sebut saja reflek, tangannya otomatis selalu membuka aplikasi obrolan saat pertama kali membuka ponsel. Dia melihat pesan teratas yang dikirim oleh grup bandnya. Banyak pesan bermunculan, teman-teman bandnya sepertinya sedang membicarakan topik hangat. Mereka juga menyebut namanya berkali-kali di grup pesan.


Setelah matanya menatap, membaca semua kalimat yang mereka kirimkan, Kashika merasa kaget. Ada berita bahwa seseorang telah mengklaim lagu mereka, dan menuduh mereka melakukan plagiarisme. Astaga, masalah apa ini?


Kashika tidak percaya apa yang dia baca. Dia telah menuangkan hati dan jiwanya ke dalam lagu ini, dan sekarang seseorang mencoba mengklaimnya sebagai milik mereka. Hatinya terasa ditikam. 'Apa masalah orang itu? Grup kami bahkan hanya sekedar band kecil yang terbentuk karena pekerjaan sampingan. Apa niat orang itu?'


Teman-temannya dengan sigap mengatur janji pertemuan, berencana mendiskusikan tentang pendapat bersama mengenai masalah tudingan tiba-tiba ini.


Hal itu secara tidak langsung membuat Kashika mau tidak mau, harus keluar rumah.


Mereka segera mengadakan pertemuan darurat untuk membahas situasi tersebut. Menghabiskan waktu berjam-jam untuk mempelajari lagu mereka dan dugaan salinan penuduh, mencoba menemukan kesamaan atau bukti yang dapat membersihkan nama mereka.



Kashika duduk di gazebo, merenungi semuanya. Kashika memandang lelah lingkungan di sekitarannya. Tidak perlu menebak ekspresi apa yang terlukis di wajahnya, murung. Dia menghembuskan napas kasar beberapa kali. Tiba-tiba, terdengar suara deru sepeda motor di kejauhan yang perlahan mendekat. Sudah cukup untuk membangunkan Kashika dari ketermenungannya. Dia melirik sedikit ke arah si pengendara motor, pengendara itu melepas helmnya. Dia menyapanya dengan lambaian, lalu menjatuhkan diri begitu saja di samping Kashika. "Hei, Kashika," sapanya ramah. "Apa yang kamu lakukan di sini?"


Kashika mengangkat bahu, "hanya memikirkan situasi." Jawabnya dengan nada rendah. Merasakan suasana hatinya yang masam, Rion berusaha menghiburnya. Dia menepuk pundaknya. "Jangan khawatir, kami akan mencari tahu," ucapnya meyakinkan.


"Kita akan menyelesaikan ini, dan aku yakin kita yang akan tertawa pada akhirnya. Tunggu dan lihat saja."


Kashika menghargai kalimatnya, ia tersenyum tipis. Meskipun, hatinya masih gundah. Rion mencoba lebih meringankan momen itu dengan menawarinya tumpangan pulang. Namun Kashika menolak, dirinya merasa tidak nyaman dengan situasi tersebut untuk menerima bantuannya. Kashika ingin tetap berada di gazebo, sendirian, dan memilah-milah pikirannya.


"Baiklah kalau begitu, tetapi pastikan kau tidak di sini sampai larut malam, oke?"


Sebelum meninggalkan Kashika, Rion menawarkan satu nasihat terakhirnya sebelum berangkat.


"Ingat saja," katanya. "Kau yang menulis lagu itu, dan itu milikmu. Tidak ada yang bisa mengambilnya darimu, dan kau harus terus berjuang untuk itu."


"Jika kau berubah pikiran, kau bisa menelponku untuk mengantarmu pulang." Kashika memutar bola matanya, "jangan terlalu berlebihan. Sudah pulang sana." Rion membalas dengan tawa renyah. Dia memberi lambaian ramah, sembari mengenakan helmnya. Kashika memperhatikan saat Rion menaiki sepeda motor, lantas pergi membawa gemuruh mesin bersamanya. Kashika menghela napas, bersandar di kenyamanan kursi gazebo.



Kashika pulang ke apartemennya dengan perasaan lelah yang mendalam. Setelah seharian menghadapi urusan tak menyenangkan, dia berharap dapat mandi air hangat untuk menenangkan pikirannya. Setelah merampungkan mandinya, dia lekas berbaring di atas ranjang, membenamkan wajah ke dalam bantal. Untuk sesaat, dia merasa semuanya akan baik-baik saja. Tetapi kemudian, ponselnya bergetar di atas meja samping tempat tidur, menghancurkan suasana damai itu.


Sedikit sentakan kejutan mengalir dalam dirinya ketika dia melihat nomor yang tidak dikenalnya di layar. Dia mengangkat telepon dengan ragu-ragu.


Kashika merasa jantungnya tenggelam, matanya kosong tanpa arti. Dunianya goyah saat suara seseorang ditelepon tak dikenal memecahkan keheningan, menyampaikan kabar duka yang dengan sekejap meluluhlantakkan hatinya. Dia hanya butuh satu pukulan lagi untuk membuat tubuh serta jiwanya hancur seutuhnya. Kashika dengan gemetar menutup telepon, tertegun.


"Dunia benar-benar jahat."