
Sinar keemasan matahari terbenam menyinari cakrawala. Melukiskan langit dalam palet oranye, merah muda, dan ungu yang indah. Angin berhembus lembut membuat daun-daun pepohonan berderit. Suara burung-burung yang bersahutan dan suara ombak berlomba menyentuh pasir, menambah keindahan suasana tersebut.
Seorang gadis muda terduduk sendirian, menatap ke atas. Dia melihat ke kejauhan, matanya melamun, kesedihannya teraba.
Matahari yang semakin merunduk menandakan bahwa malam akan segera tiba. Gadis itu meremas erat kain di dadanya, seolah-olah mencoba menahan sakit yang terus menyesak di dadanya.
Senja yang indah itu seakan-akan tidak mampu membuatnya merasa bahagia kembali.
Ketika angin semakin bertiup kencang, gadis itu berdiri dan melangkah perlahan meninggalkan tempat duduknya. Perlahan-lahan ia berjalan, mencari jalan keluar dari kesedihannya. Hening menyelimuti senja yang indah itu, meninggalkan kesan sedih yang menyayat hati.
Sekali lagi, matanya memandang langit yang semakin gelap dan berpikir bahwa segala sesuatu akan berakhir, termasuk kesedihannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kashika terhuyung-huyung melewati pintu depan apartemen, kelelahan membebani tulangnya. Bass memekakkan telinga dari konser musik masih bergema di kepalanya.
Dia ambruk ke sofa, mengambil foto hitam putih yang tergantung di dinding apartemen studio mungilnya. Mereka mengingatkannya pada masa-masa sekolah menengah pertamanya.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi notifikasi pesan. Dia mengerutkan kening saat melihat pesan itu berasal dari Yatsuki. "Hai Sisi!!! Mari bertemu sekali lagi, TwT." Sapa Yatsuki dalam pesan.
Melihat pesan itu, Kashika ingin sekali memukul Yatsuki karena tingkahnya yang kerap kali berubah akhir-akhir ini. Seperti kemarin, dirinya kala itu berusaha mengorek informasi sekaligus menghibur Yatsuki yang tampak murung.
Saat itu Kashika baru saja pulang dari pekerjaan part time-nya di kafe. Melewati komplek tempat tinggal Yatsuki sebagai jalan pintas, tanpa sadar membawa langkahnya ke sana. Sampai di teras yang berdekatan dengan kamar Yatsuki, tanpa diduga telinganya mendengar tuturan kalimat frustasi disertai isak tangis yang pilu, sesaat sebelum melayangkan tinjunya untuk menggedor pintu.
"Aku tidak mau. Kau mengusirku, kemarin." Kashika membalas pesannya, tetapi menolak mentah ajakan Yatsuki. Ia merasa kakinya sangat pegal, di samping itu juga Kashika kesal karena merasa Yatsuki menganggap dirinya gampangan.
Maksudnya, 'bukankah mereka ini sahabat? Mengapa masih ada perasaan segan?' Pikir Kashika tidak berkaca. Dia juga belum pernah, menceritakan kisah gelap yang masih bersarang diingatannya.
"Aku minta maaf untuk kemarin, tetapi sungguh aku merasa baik-baik saja. Juga karena melihat dirimu yang lelah, aku menyuruhmu pulang lebih awal." Ucap Yatsuki dengan tulus di dalam pesan.
"Jadi, jangan marah lagi dong?" Rayu Yatsuki berusaha membujuk.
"Begitulah cara halusmu mengusirku. Kamu kan bisa mempersilahkanku tidur di kasur empukmu itu?" Balas Kashika masih tidak terima dan bertanya, membuat Yatsuki gemas cekikikan membayangkan wajah tertekuk kesal gadis itu.
"Bisa, tentu saja bisa. Tetapi saat itu aku mendapat panggilan mendadak, tidak mungkin aku merelakan bangunan ini menjadi tempat bersarang manusia salju. Kau biasanya lupa mengunci pintu kan? Hihihi," sangkal Yatsuki.
"Terserah, alasanmu berantakan. Ngelantur. Sudahlah, info posisi?" Kashika merubah pikirannya. Lagipula rasa khawatirnya lebih mendominasi dibanding rasa pegalnya.
•
Setelahnya, Kashika tiba di taman dekat pantai. Netranya menemukan Yatsuki duduk di salah satu bangku, terlihat berbeda dari biasanya.
"Yatsuki apakah kau benar baik-baik saja? Kau terlihat berbeda." Kashika menembakkan pertanyaan tanpa basa-basi, sembari duduk di sebelahnya. Yatsuki menoleh ke arah Kashika, tubuhnya terperanjat. Ia datang cepat sekali. "Hei, jangan suka membuat terkejut orang lain!" Protes Yatsuki sambil mengelus dadanya.
"Apa? Aku hanya ingin bertemu seperti biasa kan, hehe." Dalihnya garing, lalu melanjutkan kalimat alasan, "Aku tidak apa-apa, Sungguh. Jangan terlalu khawatir ak-" sebelum sempat menyudahi kalimatnya, terdengar suara Kashika memotong ucapannya.
"Apakah kau yakin? Akhir-akhir ini kamu bertingkah berbeda, dan kamu sepertinya sedang bergumul dengan sesuatu," kata Kashika, jelas tidak percaya.
"Aku tidak akan pernah membentakkmu atau memarahimu, jadi kenapa kau menutupi ceritamu? Apakah diriku bukan pendengar yang baik?" Kashika melemparkan pertanyaan berkali-kali, berusaha menyuarakan hati yang timbul gundah.
Sudut mata Yatsuki terlihat berair, dia menatapnya. Ia tahu, bahkan tanpa kata, lidah yang kosong pun bisa menggambarkan segala kesedihan. Dia sama sekali tidak pernah berfikir buruk tentang Kashika, dia merasa nyaman dengan sifat mereka yang kontras. Dia hanya tidak ingin membagi bagian gelap hidupnya. Biarlah yang lain hanya menikmati sisi manis dan cerah dari dirinya.
Yatsuki menghela nafas, dia mengusap puncak kepala Kashika dan berbisik, "Kamu yang terbaik dalam mendengarkan dan mengerti, kamu yang terbaik dalam menenangkan."
Kashika menatap Yatsuki dengan tatapan yang tersembunyi. Dari beberapa waktu lalu, ia bisa merasakan bahwa Yatsuki sedang mengalami masalah yang cukup besar.
Tapi meskipun dia bisa melihat bahwa Yatsuki membutuhkan tempat untuk bercerita, dia tahu bahwa dia tidak mungkin memaksa Yatsuki untuk membuka hatinya. Seperti sekarang, Yatsuki tampak ragu dan enggan berbicara sebenarnya.
Dia kemudian menepis telapak tangan Yatsuki di kepalanya. Yatsuki tersenyum tipis, menaruh kepalanya di bahu Kashika dan memeluk lengannya erat. Kashika kembali menjadi patung, terdiam.
Bola matanya melepaskan tatapan datar dan mengeluh, "bocah aneh, bisa tidak jangan menghimpitku seperti itu? Aku bisa mencium bau badanmu!" Berontak Kashika. Tawa Yatsuki meledak nyaring, ekspresi dan reaksi Kashika tidak pernah gagal menghiburnya.
°
Setelah lamanya berjalan bersama di malam yang sejuk, mereka memilih duduk di ayunan sejenak. Yatsuki tampak lebih serius sekarang, tangannya memegang rantai ayunan erat, lalu menghela nafas. Ia menatap Kashika dan tiba-tiba berkata, "Aku akan pergi ke kota asalku besok, beberapa hari. Ada sesuatu yang perlu kulakukan di sana."
Kashika menatap Yatsuki dengan pandangan bingung, sedikit terkejut. Dia ingin bertanya banyak hal, tapi merasa sudah terlalu banyak bertanya. "Dan kamu akan libur dari kampus, lagi?"
Yatsuki mengangguk, dia tertawa kecil. "Iya, hehehe. Apakah aku terlalu banyak membolos akhir-akhir ini?"
Netra Kashika kembali berputar, dan membalas ucapannya ketus, "Tentu saja bodoh, kau itu terlalu banyak menitip absen, aku muak."
"Hahaha! Tapi kamu tetap melakukannya demi diriku, kan? Sisi, kamu memang terbaik! Aku pasti akan merindukanmu!" Gelaknya sambil melayangkan ciuman pura-pura, membuat Kashika bergidik geli.
"Sudahlah, ayo kita pulang, kau sangat berisik. Orang-orang akan terganggu nanti." Kashika menarik pergelangan tangan Yatsuki, mereka segera pergi dari taman.
Mereka berdua asik bergurau dan berbicara. Sehingga tidak menyadari bahwa sesuatu telah bersembunyi di bayang-bayang selama berjam-jam, mengawasi mereka. Sesuatu itu tak lain adalah siluet seorang pria.
Pria itu merokok, mengalihkan pandangan dari mereka untuk sesaat, pikirannya berdetak dengan rencana jahat yang dia miliki. Hanya masalah waktu sebelum kesabarannya habis dan dia akan bergerak.
Pria itu tersenyum pada dirinya sendiri saat memperhatikan mereka yang perlahan menjauh, seringai pelan dan penuh arti. 'Siapa yang tahu kegelapan apa yang ada di depan? Siapa yang tahu teror apa yang direncanakan pria itu?'
Sementara malam menjadi lebih hening, seolah takut untuk mengeluarkan suara. Rasanya seolah-olah dunia menahan napas, menunggu langkah pria itu selanjutnya.