
Suara air mengguyur deras di luar jendela gadis itu, bersamaan dengan kuatnya badai yang berhamburan memorak porandakan isi kepala. Dia melihat tetesan air meluncur ke bawah kaca, dan dengan setiap tetesan itu jantungnya terasa lebih berat.
Malam itu suram dan menindas, guntur menerjang dan hujan turun tanpa ampun. Itu adalah malam yang terasa tanpa akhir, terutama bagi gadis muda yang melihat suasana luar dari jendelanya, menyaksikan kesuraman langit malam.
'Kenapa harus aku yang mengalami ini? Mengapa takdir tak berpihak padaku? Aku pun sudah usaha berat menjalani hidup. Tapi sialnya, lagi dan lagi, hanya terbalas sakit hati. Apa pun yang ku lakukan, selalu ada sesuatu yang datang dan merobohkan semuanya. Apa salahku sehingga aku harus menerima kenyataan ini?'
Ujung dari kata-kata tersebut turun ke dalam air mata, menunjukkan bahwa gadis itu sedang sedih. Dia berdiri menatap kosong ke depan, tak menyadari bagaimana suasananya sudah berubah. Dia terus membeku di tempatnya, terisak tanpa henti.
Tiba-tiba, terdengar suara pintu depan diketuk secara beruntun dan keras. Gadis itu tersentak kaget, namun semenit kemudian segara berdiri dengan malas. Ia sudah tahu siapa yang tidak tau waktu, untuk bersikap setidak sopan ini di rumah orang lain.
Gadis itu mengusap wajahnya kasar, juga mengepalkan tangannya kesal, ia lalu mengumpat ke pada orang itu, "Kashika sialan!!" bibirnya bergetar saat mengatakannya, dan tenggorokannya terasa parau, sehingga suaranya tidak terdengar. Dirinya baru menyadari kalau dia telah membuang waktu berjam-jam menangisi takdir yang tidak sesuai dengan intensi hatinya.
Setelah sibuk misuh-misuh dan menyapu bersih wajah serta rambutnya yang sempat acak-acakan bagaikan hantu belaung, gadis itu mulai menuntun kedua kakinya ke pintu depan, mengatur ekspresi bersiap memaki sahabatnya- Kashika Zyuna.
Selangkah lagi akan mencapai gagang pintu, dia berhenti sejenak memandang lurus ke jendela. Ia baru menyadari bahwa senja malam akan segera membuka jalan untuk hari yang baru.
Dia tidak menyadari bahwa kegelapan akan segera digantikan oleh terangnya fajar.
Tepat saat itu juga, di depan pintu- Kashika, mengomel karena sedari tadi Yatsuki Nayumi- gadis itu belum membukakan pintu. Sudah satu jam lamanya dia menunggu, tapi apa yang dia dapat adalah, Yatsuki yang sedang melamun menatap kosong ke arah langit, dari jendela yang tidak tertutup oleh tirai.
"Yatsuki, tolong buka pintunya, astaga! Kenapa malah melamun sih? Kerasukan apa gimana!?" Gerutu Kashika sambil menahan rasa sakit dari kakinya yang berdenyut, karena lamanya berdiri.
Yatsuki lekas tersadar sembari cengengesan meraih gagang pintu. "Maaf ya, aku tadi mandi dulu buat nyambut kamu." Ucap Yatsuki jujur, lalu menggenggam tangan Kashika untuk dibawa masuk.
Kashika yang mendengarnya pun hanya mendelik, seketika menghela nafas kasar, karena tidak mempunyai tenaga lagi untuk memaki. Yatsuki terbahak sebab ia berhasil menjahili sahabatnya, sebagai balasan menganggu waktu renungannya.
Tetapi, sekilat kemudian Yatsuki terdiam. Dia memandang lurus wajah Kashika yang ditekuk, lalu tersenyum tipis.
Yatsuki merasa bersyukur sebab di masa-masa rasa sedih menerjang, Kashika- entah mengapa gadis itu selalu datang tepat waktu, kala ia membutuhkan seseorang sebagai sarana membagi keluh kesahnya.
"Aku sudah tahu, kalau diriku memang semenarik itu untuk dipandang." Tuturan narsis Kashika, berhasil memecahkan lamunannya. Yatsuki menggampar lengan Kashika lantas berlari menjauh ke arah taman di rumahnya, seraya menjulurkan lidah mengejek, "Kashika bermuka datar, siapa sih yang akan tertarik?" Selepas mengatakannya, Yatsuki duduk di salah satu bangku taman yang dipadati oleh bunga tulip dan bunga anyelir.
Cahaya sang matahari yang hangat bersinar dengan lembut, kelopak-kelopak bunga menari-nari, bergoyang ke pelukan angin. Semburat biru semakin menyebar di langit menandakan bahwa pagi hari akan segera tiba. Di saat itu, keindahan taman bunga bertambah menawan.
"Dapatkah kata-kata menjelaskan segala keajaiban yang terbentang di hadapan? Lihat bunga-bunganya indah! Iya kan Sisi?" Yatsuki berceloteh sendiri dengan netra berbinar biru tua.
"Hei bukannya ini masih agak gelap? Dan juga sudah lama kamu gak memanggilku dengan nama itu.Tapi ya, aku setuju denganmu." Jawab Kashika seraya membenamkan bokong di samping Yatsuki.
"Entah kenapa aku merasa rindu saat-saat kita pertama kali bertemu, itulah alasannya," ujar Yatsuki menjawab balik. "Itu sedikit menggelikan." Sahut Kashika dengan mimik muka dibuat jijik.
"Hahaha! Yasudah kalau menurutmu begitu, kau memang tidak bisa diajak berbicara kata-kata manis!" Yatsuki tergelak lantaran ekspresi wajah Kashika yang tampak datar, dan geli. Kashika memang hiburan yang cocok untuk Yatsuki, ia sering kali merasa gemas melihat raut wajah si gadis berwajah ditekuk itu. Berbanding terbalik dengan dirinya yang kerap kali dijuluki cerewet, dan mudah tertawa.
Sudah 5 tahun lamanya hubungan manis ini dirajut tali benang dengan ikatan erat. Kashika dan Yatsuki sudah berteman sejak mereka duduk di bangku SMA. Seperti yang dikatakan, Kashika Zyuna, seorang gadis berumur 22 tahun yang memiliki kepribadian kaku. Dia hanya ingin menjalani hidupnya tanpa masalah atau konflik. Kashika sangat jarang menampakkan emosi.
Kashika sendiri juga merasa, hidupnya hampa dan tidak bermakna. Setiap hari, dia merasa seperti sedang berjalan di atas treadmill tak berujung. Tidak ada yang menarik perhatiannya. Di balik rasa hampa yang dirasakan, Kashika menyimpan sebuah rahasia yang hanya diketahuinya sendiri. Suatu kejadian traumatis telah membuatnya sulit menemukan arti hidup.
-
Pada suatu malam Kashika pergi ke luar, sekedar menikmati sejuknya malam. Tiba-tiba dia merasa netranya terpaku pada toko musik kecil yang terletak di sudut lingkungan. Dia belum pernah ke tempat seperti itu sebelumnya, dan sebelum dia menyadari dirinya sudah mengulurkan tangan, membuka pintu.
Di dalam, dia disambut oleh suara musik yang familliar dan beberapa pilihan instrumen memenuhi udara dengan ketenangan melodi.
Seorang gadis seusianya terlihat sedang mengobrol bersama dengan wanita berusia akhir dua puluhan. Kashika masih terpaku, ia merasa sedikit tenang mendengar instrumen yang cocok di telinganya.
Saat itu juga, pandangannya terkunci dengan gadis itu. Gadis itu nampak berjalan mendekat ke arahnya, membuat Kashika keheranan, tetapi dia masih juga diam tak beranjak. Tanpa suruhan, gadis itu lalu menyapa ramah dirinya.
"Halo, selamat malam! Selamat datang di toko peralatan musik Clourin." Sapa gadis cantik itu ceria. Kashika terkesiap, kemudian tersenyum canggung ke arahnya. "Selamat malam, s-saya hanya ingin melihat-lihat, apakah boleh?" Ucap Kashika tergagap.
Gadis itu sibuk mengerjapkan netranya beberapa kali, sembari menatap Kashika dengan teliti, membuat Kashika merasa bertambah canggung. "Permisi," Kashika berencana kabur dari toko itu, tetapi sebelum bisa melangkah keluar, pekikkan cempreng gadis itu memaksanya berbalik, ia sedikit khawatir dituduh pencuri.
"Eh, sebentar... kamu itu Sisi kan? Anak kelas sebelah,12-C!! Benar gak?" Belum sempat Kashika menjawab, gadis itu tiba-tiba menariknya menuju ruang karaoke di sana. Ia menggerutu lalu melepas tangan gadis itu kasar,
"hei, jangan tarik lengan orang sembarangan!" Protes Kashika dengan air muka yang nampak datar kembali. "Maaf ya, aku ingin berbicara denganmu tanpa sepengetahuan Bibiku," ungkap gadis itu seraya tersenyum bodoh.
Kashika tidak menjawab atau memberi reaksi apapun tentang alasan tersebut, dia sibuk memutar matanya pada celah-celah di ruangan itu.
Gadis itu masih berusaha akrab kembali, "aku Yatsuki Nayumi! Kelas 12-B, satu organisasi denganmu! Apakah kau mengingatnya? Aku merasa kagum dengan lirik lagu yang kau buat untuk pertunjukkan pentas seni minggu lalu! Liriknya benar-benar masuk di hatiku!"
Pujian beruntun yang diberikan oleh gadis itu, membuat Kashika sedikit tersentuh.
Kashika hanya tidak menyangka, karyanya diapresiasi berlebihan seperti itu. Bola matanya menatap intens gadis dengan banyak mulut itu.
Yatsuki Nayumi, nama gadis itu. Dengan raut wajah yang selalu bersinar, dan mata indahnya yang berkilau. Yatsuki lebih tua satu tahun dari Kashika, tetapi dirinya kerap kali bertingkah kekanakkan ketika bersama Kashika. Bukan tanpa sebab, Kashika saja yang tidak pernah mengeluh akan tingkahnya, membuatnya tenggelam nyaman dalam lautan dunia Kashika.
Yatsuki berasal dari keluarga yang cukup berada, tetapi kedua orang tuanya telah bercerai dan dirinya merupakan satu-satunya anak mereka. Alhasil dia kesepian. Si manis yang ceria itu lantas mencari kenyamanan di dunia luar. Ia berbaur dengan siapapun, bersikap ramah, raut ceria selalu dipamerkan.
Yatsuki memang mudah bergaul dengan yang lain, tetapi tidak ada satupun insan yang dapat mengisi kekopongan hati gelapnya.
Hingga malam itu tiba, saat dirinya berkunjung ke rumah Bibinya dan membantu mengurus toko musik miliknya. Dia berjumpa gadis seusianya, yang awalnya ia kira hanya sekedar konsumen toko. Harapannya terwujud.
Walau gadis itu ibarat kanebo kering, tapi jiwanya merasa penuh, kenyamanan. Kashika, bukan lisannya yang bercakap, melainkan tindakannya.
Kembali ke masa sekarang, di mana dua insan itu berada. Kashika lagi-lagi berdecak sebal, mendapati Yatsuki tercenung, membuatnya khawatir. Kashika menyadari binar terang di netranya beralih menjadi biru gelap. Ini fenomena langka, ada apa sebenarnya? Kashika berupaya mencari jawaban dengan menatap intens Yatsuki.
"Mengapa dirimu terus melamun? Apa kamu sakit?," tanyanya dengan raut wajah khawatir. Tersadar, Yatsuki malah cengar cengir sembari menjawab, "bukan apa-apa, jangan pikirkan diriku. Besok, kau mempunyai jadwal pertunjukan musik kan? Berjuanglah lebih giat untukku! Wujudkan impianmu sebagai penyanyi. Aku akan sangat bahagia melihatmu tersenyum lebar karenanya."
Alis Kashika bertaut, kemudian dia tertawa lucu. "Ada apa denganmu Yaya, kenapa tiba-tiba berkata serius seperti itu? Kamu benar-benar sakit rupanya." Ujar Kashika heran. "Huh, bukannya senang diberi dukungan, malah ngejek." Yatsuki mencebikkan bibirnya, merajuk.
"Hei, tapi mengapa kamu ke sini pada malam hari?" Tanyanya mengalihkan topik. "Kau ingin mengusirku, ya?" Tuduh Kashika dengan maksud bergurau. "Bukan begitu, aku hanya merasa heran karena kamu jarang datang pada malam hari," sanggah Yatsuki dengan raut yang cukup datar. Hal itu mampu membuat Kashika terkejut, dia merasa janggal sekarang.