Our Denouement

Our Denouement
I'll Call You Later - Chapter 4



Bulan bersinar terang di atas lanskap yang sunyi dan tenteram, memancarkan cahaya keperakan pada segala sesuatu di bawahnya. Di tengah kesunyian, seorang gadis muda dapat terlihat, tubuhnya merosot ke dinding. Mata dan juga hatinya berat karena kelelahan. Beban dunia seakan-akan berada di pundaknya. Pikiran yang terbebani oleh tekanan terus-menerus dari seseorang. Dengan gemetar, tangannya mencengkeram ponsel erat, jari-jarinya memutih karena tegang.


Dia memikirkan kata-kata yang telah diucapkannya, janji-janji yang telah dilanggar, dan kepercayaan yang telah dihancurkan. Air mata menyengat matanya, mengancam akan jatuh di pipinya. Gadis itu sendirian, melihat hamparan kegelapan yang menjadi saksi kengeriannya. Ketakutan merayapi jiwanya tanpa ampun, seolah-olah malam pun mencoba menelannya utuh.


Dia tak berdaya. Menyerahkan segalanya, segala harapan, beban, dan tanggung jawab. Seakan siap untuk runtuh.


A next day


"Semangat!!! Aku mendukungmu selalu." Sebuah pesan berisi kata-kata pendukung dikirim empat jam yang lalu.


Kashika baru saja membuka aplikasi obrolan, dan membaca pesan teratas yang dikirim oleh Yatsuki. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, tersenyum. Dia baru saja selesai melakukan pertunjukan musiknya dengan rekan bandnya. Pesan dukungan itu bagai pengingat betapa Yatsuki percaya padanya, bahkan ketika dia tidak percaya pada dirinya sendiri.


"Terima kasih, tapi.. katamu ingin mengirim pesan 20 kali, dan ini hanya 3 kali." Balasnya. Kashika menyempatkan diri mengetik balasan sembari merapikan barang-barangnya, untuk segera pergi ke tempat yang direncanakannya.


Suara pintu dibuka dan seorang pria memasuki ruangan. Dia juga sepertinya akan segera pergi. Namun tanpa diduga, pria itu memilih untuk mendekati meja Kashika dan berusaha menyapanya. Membuat Kashika spontan menatap ke arah pria tersebut.


Sambil menyapa, pria itu juga menyampaikan sanjungan untuk Kashika tentang suara dan permainan gitarnya. "Oh, terima kasih banyak Rion. Kau juga mahir dalam memainkan drum tadi." Kashika sedikit terkejut, pria itu mengajaknya berbicara. Bukan apa-apa, tetapi Kashika belum terlalu mengenalnya. Rion, adalah rekan kerjanya yang baru bergabung seminggu lalu.


Kashika tidak yakin bagaimana harus bereaksi terhadap pujiannya, dan tidak tahu harus berkata apa sebagai tanggapan.


Sejujurnya, dia sangat malas berbasa basi. Seperti sekarang, paras muka yang semula normal kini tampak sedikit datar. Kashika tidak dapat mengontrolnya. Rion yang peka, memperhatikan perubahan wajahnya. Pria itu tampak tertarik kepada Kashika. Saat menatap raut datar itu, Rion menjadi tidak enak hati, gadis ini pasti menganggapnya sok akrab.


Si Rion belum tahu saja, gadis itu memang datar seperti aspal sepanjang waktu.


"Maaf, pasti aku mengganggu waktumu ya? Aku-" sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, Kashika memutusnya dan berkata, "maaf, aku ingin segera pergi. Besok kita bisa bicara lagi. Selamat siang." Ucap Kashika kemudian melenggang pergi dari hadapannya.


"Selamat siang juga, Kashika?" Balas Rion. Dia baru mengingat nama vokalis cantik tanpa ekspresi itu. Rion sedikit melongo, ternyata gadis itu jelmaan es Kutub Utara. Matanya memperhatikan dengan teliti punggung Kashika yang perlahan mengecil, dan menghilang di pintu keluar.


"Akhirnya." Waktunya tiba untuk memenuhi janji yang dibuat pria itu. Bibirnya naik sebelah, menyeringai.



Kashika menyandang tas ransel hitamnya dan berjalan menuju perpustakaan umum. Dia tidak yakin apa yang akan dicari, tapi tahu bahwa harus menemukannya.


Kashika mendongak dan menikmati suasana di sekelilingnya. Banyak orang yang juga sedang jalan-jalan mencari bahan bacaan. Dirinya tersenyum tipis, hampir tidak terlihat.


Mendadak otaknya berputar secepat kilat untuk bertanya-tanya apa yang akan dipilih hari ini. “Apa yang akan ku pinjam?" Gumamnya sendirian.


Kashika memasuki perpustakaan dan melihat semua buku di sana. Dia mengambil beberapa, tetapi tidak menemukan apa yang dicari. Kashika mencoba membaca judul, tetapi bingung.


Saat Kashika berjalan melewati satu sudut perpustakaan, tanpa disengaja ia mendengar seorang wanita bertanya kepada pegawai perpustakaan. Telinganya diam-diam mendengarkan interaksi di antara mereka, dan menyadari bahwa wanita tersebut sedang mencari buku yang sama dengan yang dicarinya.


Kashika segera mengajukan permintaan yang sama dan pegawai itu menunjukkan kepadanya buku panduan dan naskah inspirasi. Segera ia mengambil buku-buku itu. Dia cukup berantusias untuk memulai pekerjaannya hari ini.



Kashika berjalan menuju mejanya. Dia menyalakan laptopnya dan mencoba memahami isi buku-buku itu. Dia menulis naskah lagu dan mengatur aransemennya. Kashika pun segera menyelesaikan pekerjaannya dengan serius. Berniat mengirimkan rekaman musiknya pada rekan-rekan band. Dirinya juga berencana mengirim rekaman lainnnya untuk Yatsuki.


Seketika jari-jarinya berhenti meronta-ronta di keyboard. Dia baru tersadar sekarang. Yatsuki belum menghubunginya lagi selain pesan tadi siang. Dia bukannya ingin berharap, hanya penasaran. Apa urusan yang dilakukan Yatsuki di kotanya? Apakah ini ada hubungannya dengan sikapnya yang kadang terlihat berbeda akhir-akhir ini?


Ah, hatinya merasa aneh. Kashika memang jarang berbicara, tetapi tidak cuek. Dia selalu memperhatikan keadaan sekitarnya meskipun itu tidak penting. 'Apa aku kurang peduli padanya?'


Berdasarkan terkaan itu, tangannya otomatis menjelajahi meja, meraba-raba keberadaan ponselnya. Ketika dia akhirnya menemukannya, dengan cepat dia membuka aplikasi obrolan. Kashika melihat pesan teratas, tetapi itu bukan dari Yatsuki. Kashika membaca nama pengirim pesan, dia adalah Liancy. Ada sedikit kekecewaan di hatinya, tetapi dia tidak bisa mengabaikan pesan dari teman kuliahnya. Mungkin saja ada hal penting yang akan diberitahu oleh Liancy.


Kashika membuka pesan dari Liancy. Itu adalah teks yang diteruskan dari dosen pembimbing Kashika, mengumumkan penundaan bimbingan yang akan datang karena keadaan yang tidak terduga. Kashika menghela napas kasar dan membalas Liancy, "terima kasih untuk infonya, tetapi dosen itu sangat pemalas. Kapan aku lulusnya kalau begitu?" Kashika berterima kasih atas perhatian Liancy, sambil mengeluh tentang kecerobohan dosennya. Bagaimana dia bisa menunda bimbingan tanpa memberitahunya sebelumnya? Itu di luar pemahamannya.


Kashika merasa frustrasi dengan kurangnya tanggung jawab dosen terhadap tugas mereka. Ini bukan pertama kalinya bimbingannya ditunda karena keadaan yang tidak terduga, dan Kashika lelah menunggu. Dia muak. Jika ditunda lagi, Kashika bersumpah akan berhenti kuliah. Dia terlalu bekerja keras untuk skripsinya. Di sisi lain, dia harus bekerja selama masa kuliahnya. Alasannya juga untuk membayar uang kuliah, dan kehidupannya sehari-hari.


Kashika merasa kepalanya melepuh oleh emosi. Dia merosot di tempat, dan menautkan kedua tangannya erat dalam upaya menenangkan pikiran yang bergejolak. Ponselnya bergetar kembali, tanda notifikasi pesan. Ia sedikit berharap, Yatsuki-lah yang mengirimi pesan atau telfon. Namun saat dibuka, ternyata itu Liancy yang membalas pesannya kembali.


Liancy meminta maaf atas keadaan yang Kashika alami, dia meminta maaf atas perilaku pamannya yang tidak disiplin. Liancy menawarkan ajakan untuk bertemu, sekedar melepas penat, karena Liancy juga sedang berada di fase berat sekarang.


Liancy tidak terlalu mempunyai teman yang benar-benar bisa dianggap dekat. Liancy adalah gadis yang ramah, mirip seperti Yatsuki, berbaur dengan siapa pun. Tetapi mungkin, jika Yatsuki memiliki teman dekat yaitu Kashika, sedangkan Liancy tidak memiliki satu pun.


Kashika menatap ponselnya selama beberapa saat, tidak yakin harus berbuat apa. Dia tidak pernah bergaul dengan Liancy sebelumnya dan tidak mengenalnya dengan baik. Tetapi sesuatu tentang pesan itu terasa tulus. Dia bisa saja menolak karena memang sudah terlalu letih, tapi sepertinya tidak ada salahnya menerima ajakannya. Ia berpikir, mungkin melihat matahari terbenam adalah penyembuhan yang tepat.


Namun dalam hatinya, Kashika tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa ada sesuatu yang salah. Yatsuki masih belum mengiriminya pesan, dan dia tidak bisa tidak berpikir bahwa mungkin Yatsuki menghindarinya. 'Apakah ada sesuatu yang lebih serius terjadi?'



Setelah beberapa pertimbangan, Kashika memutuskan untuk menerima tawaran Liancy. Mereka mengatur waktu untuk bertemu di pantai terdekat.


Saat tiba di pantai, Kashika merasakan perasaan canggung. Dia tidak yakin apa yang diharapkan dari pertemuan ini. Liancy muncul dari balik formasi batu, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di sepanjang pantai.


"Sore Kashika, terima kasih karena mau menerima ajakanku!" Liancy, gadis itu menyapa duluan dengan nada sedikit canggung namun tak menghilangkan kesan ramah darinya. "Bukan masalah, uh. Aku harus memanggilmu apa?" Kashika bertanya.


"Kau bisa memanggilku apa saja sesuai hatimu! Lia, Acy, atau Lily, pokoknya senyamanmu saja."


"Baiklah kalau begitu, Lia?"


Awalnya kesunyian tidak nyaman, hanya suara deburan ombak yang terdengar. Tetapi karena Liancy memutuskan untuk mencairkan suasana dan mulai mengajukan pertanyaan kepadanya, suasana canggung mulai terobati.


Kashika tersenyum menatap gadis yang bercakap ria itu, sontak terasa seperti dejavu.




Matahari mulai terbenam, langit berubah menjadi nuansa jingga dan merah jambu. Kashika dan Liancy duduk bersama di pasir pantai. Di tengah keheningan, Kashika menatap ponsel nya selama beberapa saat, tidak yakin harus berbuat apa. Liancy menyadari bahwa ada sesuatu yang mengganggu gadis di sampingnya, sehingga ia berusaha bertanya dengan lembut.


"Apakah ada yang mencarimu? Apa kau harus segera pulang?"


Kashika tersentak dari lamunan, "Tidak, kok. Bukan apa-apa. Jangan fikirkan aku," sanggah Kashika kemudian.


"Ahh, begitukah? Maaf sebelumnya jika terkesan ingin tahu. Tapi, bolehkah aku... bertanya?" Ucap Liancy pelan.


"Kau tidak perlu meminta izin, silakan," balas Kashika memperbolehkan.


"Jadi begini, aku lihat kau bersahabat dekat dengan Yatsuki Nayumi, bukan begitu?"


"Ya, itu benar. Lalu?"


"Maaf, aku hanya merasa seperti, umm... kenal dengan Yatsuki," ungkapnya sungkan.


Kashika menunggu Liancy menyelesaikan kalimatnya, raut wajahnya seolah menyuruh Liancy melanjutkan.


"Aku hanya merasa pernah mengenal dirinya lama... setiap kali diriku melihat Yatsuki, kepalaku serasa berputar seakan ingin memberiku memori yang hilang."


"Mungkin kau adalah teman lamanya? Semacam teman masa kecil, apa kau gak ingat?" Tanya Kashika heran.


"Aku tidak mengingatnya sama sekali. Padahal bertegur sapa saja jarang," Liancy juga merasakan keheranan dengan dirinya sendiri.


Keheningan membalut hawa di sekeliling mereka. Liancy kemudian membuka suara lagi, "maaf sudah membuatmu merasakan keanehanku ya. Kalau boleh tahu, di mana Yatsuki? Tadinya aku ingin bertemu dengannya, tapi siang ini nomornya tidak aktif," Liancy menanyakan hal yang sama dengan sesuatu di benak Kashika. Alhasil dia tidak menjawab, wajahnya perlahan diselimuti kelabu.



Setelah berpamitan dengan Liancy, Kashika segera pulang ke apartemennya. Dia merasa aneh. Sebelum menanyakan kembali kabar Yatsuki di sana, Kashika memilih mandi, untuk menenangkan sedikit dari kecemasannya.



Kashika membolak-balikkan badan di ranjang, masih belum bisa tertidur. Ini sudah malam hari. Pikirannya berpacu dengan pertanyaan tentang keadaan Yatsuki. 'Mungkin dia sibuk?' pikir Kashika. 'Maksudku, dia tiba-tiba pulang ke kotanya lusa kemarin.'


Keingintahuan Kashika akhirnya menang, dan pada titik tertentu, tangannya mulai mengembara di tempat tidur, mencari ponselnya. Ketika menemukannya, dia dengan cepat mengetik pesan ke Yatsuki, tetapi tidak berhasil, pesan itu dikirim ke dalam kehampaan.


Karena beberapa alasan, kesunyian Kashika lebih sulit ditahan dari biasanya. Kashika akhirnya menyeret dirinya keluar dari tempat tidur dan mengambil laptopnya, siap untuk menyelesaikan naskah lagunya. Berniat menenggelamkan dirinya dalam pelipur lara musik.


Kashika harus fokus pada sesuatu, dan paling tidak, dia masih bisa membuat musik bahkan dalam masa kebingungan ini. Dia membiarkan pikirannya mengembara tenggelam, saat mulai memainkan jari-jarinya di keyboard.


Di tengah suara ketikan keyboard yang saling bersahutan, telinga Kashika menangkap bunyi nada dering telfon dari ponselnya. Kashika seketika mengalihkan pandangannya ke ponsel dan melihat nama orang yang menelfonnya, Yatsuki. Benar saja. Sekilat, jarinya menggeser tombol hijau mengangkat telpon. Ketika mendengar suara yang sangat familiar, membuat dirinya berangsur tenang.


"Sisi!!! Malam, hehehehe. Pasti lagi rindu, iya kan?" Sapa Yatsuki.


"Ck, menyebalkan! Sibuk ngapain sih? Nomormu kenapa tidak aktif?"


"Santai saja, tadi siang baterainya lowbat! Sisi, apa kamu baik-baik saja tanpa.. aku?"


"Tentu saja."


"Ahh, yang benar?"


"Sudahlah."


"Kalau begitu ya sudah-lah. Ah kamu benar-benar tidak asik!"


Selepas hampir 1 jam lamanya. Mereka bergurau, menceritakan masa lalu, berbagi pengalaman hari ini. Tetapi, secara tiba-tiba suara Yatsuki tersirat gelagat kegugupan, ingin mengakhiri panggilan.


"Kashika, sebenarnya aku masih ada urusan. Sebentar saja! Aku akhiri sekarang, oke? Aku akan menghubungimu lagi nanti."


"Jaga dirimu baik-baik Kashika, good night. Mimpi indah!"


"Tentu saja. Yaya peringatan itu berlaku untukmu juga. Jaga dirimu, selamat malam."


Kashika memutuskan sambungan. Tangannya tergerak menutup laptopnya, dan mengisi ulang baterai ponselnya. Dia menutup matanya dan membuat harapan, agar mimpi indah datang dan menghilangkan jiwa yang lelah. Dengan hati yang mendambakan istirahat, semoga dia terbangun dengan senyuman di wajahnya, dan menerima kabar yang baik di hari esok.


Semoga saja.