
Malam yang gelap Raisa merapikan buku pelajarannya, ia bergegas menyelesaikan segala urusannya agar ia bisa mengunjungi ibunya di rumah sakit. Bahkan Raisa tidak ikut untuk berlatih bersama dengan teman kelasnya, bukan tidak ada waktu ia hanya tidak nyaman dengan kehadiran laki-laki asing di dekatnya apalagi jika harus bersentuhan secara rutin.
Raisa kemudian pergi ke rumah sakit setelah berpamitan dengan Lisbet, ia menggunakan motor Lionel yang di tinggalkan sang pemilik. Di malam yang dingin Raisa mengendarai motornya sedikit melamun, ucapan perawat yang sudah merawat ibunya lebih dari 2 tahun selalu terngiang-ngiang di kepalanya.
"Dek Raisa, teteh mau bilang kalo ada dokter ahli otak yang datang dari Singapura dan kerja di rumah sakit ini. Mungkin dia bisa membantu untuk mengembalikan ibu dek Raisa, tapi biaya administrasi pasti bakal membengkak dek..!!"
"Kira-kira kalo saya melakukan perawatan intensif itu berapa biaya keseluruhannya ya?"
"Kalo perawatan seperti biasanya aja per bulan sekitar RP 20.000.000, mungkin kalo kita melakukan perawatan intensif dengan bantuan dokter bisa sampai RP 30.000.000 Lumayan mahal. Kamu juga kan minta perawatan yang terbaik untuk ibu Ayana dek, Teteh tau kondisi adek Raisa sulit jadi teteh cuman mau ngasih informasi aja...!!"
"Oh iya makasih ya teh Mira..!!" Ujar Raisa.
Seperti itulah percakapan Raisa dengan perawat Mira 1 jam lalu. Dada Raisa serasa Sangat sesak kondisinya saat ini benar-benar sangat terpuruk. Ia sedikit kesal dengan dirinya yang tidak bisa mengatasi kondisi ini, tabungan ibunya mungkin hanya bisa membiayai hingga 2 bulan kedepannya. Penghasilan Raisa dari Novel nya juga tidak seberapa, paling besar sebulan ia bisa mendapatkan sebesar RP 10.000.000 dan terkadang hanya sekitar RP 4.000.000 . Sedangkan penghasilan dari ia bermain dan mengajar biola Juga tidak besar.
Kini seseorang dokter ahli otak sudah di depan matanya tapi kenapa kondisi keuangannya sangat parah. Mana mungkin ia meminta bantuan Lisbet, atau nenek dari pihak ibunya yang sudah membuang mereka seakan mereka hanya Keluarga jauh.
Apakah ia harus meminta bantuan ayahnya ? Haruskah ia menurunkan egonya ? dan pastinya Arya menolak jika ia tahu itu untuk pengobatan ibunya, Meski uang ayahnya tumpah dari lemari ia tidak akan Sudi memberikannya kepada Ayana.
Memikirkannya terlalu dalam membuat dada Raisa sesak, hatinya nyeri dan terasa ngilu. "Hiksss....hiksss kenapa aku menangis sekarang ?? Aku.....aku tidak menangis aku tidak ingin menangis...Ta-tapi air mataku menetes dengan sendirinya Hiksss..hiksss... Kenapa semuanya benci sama mama ? apa salah mama ? Tuhan tolong bantu Raisa, Raisa hanya punya mama tolong sembuhkan mama. Raisa akan berjuang dan melakukan segalanya tapi Raisa berharap Tuhan mengembalikan mama, Hiksss...hiksss Raisa bahkan hampir lupa bagaimana suara mama...Hiksss...hiksss...!!" Tangisan yang tidak berdaya di tengah malam yang ramai dengan kendaraan bermotor.
Raisa terkadang bingung kenapa semua orang membenci Ayana ? bahkan Arya juga ? Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu dan mungkinkah ada sesuatu yang ia tidak ketahui. Terkadang Raisa merasa hidupnya sangat menyesakkan, penghasilan Raisa memang lumayan tapi sepeserpun tidak pernah berhasil ia tabung, semuanya untuk pengobatan ibunya dan membayar psikiater untuk penyakit konyolnya ini.
"Apa aku berhenti saja melakukan pengobatan, mama lebih membutuhkan perawatan saat ini. Tapi walaupun aku berhenti itu belum cukup...!!" Batin Raisa sambil berjalan menuju kamar tempat Ayana di rawat.
"Malam mama...!!" Salam Raisa saat memasuki kamar yang hampa itu.
"Raisa...!!" Ujar Mira.
"Teh Mira..!!" Raisa terkejut ternyata Mira juga sedang menemani ibunya.
"Raisa sini duduk...!!" Ujar Mira.
"Kenapa muka teteh sedih gitu..??" Tanya Raisa.
"Raisa sebenarnya tadi teteh minta Dokter periksa Mba Ayana...!!" sambil menunduk.
"Terus kenapa katanya teh..??" Tanya Raisa penasaran dengan penjelasan Mira.
"Kata dokter karena kelumpuhan otak yang terlalu lama bisa menyebabkan kematian otak juga, d-dan kalau otak sampai ma-mati secara otomatis tubuh tersebut akan..!"
"Arghhhh...!!" Raisa mengerang frustasi ia merasa ini tidak Nyata.
"Dek Raisa kalo Mba Ayana Nggak coba di obati bisa-bisa..!"
"Teh, bisa tolong teteh urus perawatan intensif mama. Aku minta tolong banget ya teh, ini buku tabungan aku untuk biaya pengobatannya. Teh tolong rahasiakan ini dari bunda Lisbet aku nggak mau bunda kawatir, untuk biayanya biar Raisa yang usahakan. Pokoknya Raisa akan berusaha kirim uang tiap bulan..!!"
"Tenang aja dek Raisa teteh bakal siapkan Semuanya, tapi Dek Raisa bukannya mengumpulkan uang sebanyak itu tiap bulannya itu susah...??!"
"Susah teh, saya tidak munafik mau bilang saya mampu teh tapi mau bagaimana lagi ini sudah jalan hidup saya teh. Tuhan kasih rejeki tapi Tuhan juga kasih cobaan yang tidak kalah besar dari rejeki itu...!!" Ujar Raisa sedu, rasanya percuma anak orang kaya punya keluarga Sultan tapi sepeserpun ia tidak bisa mengunakan uang uluran tangan mereka.
Raisa bangkit menuju ranjang ibunya dan mengecup kepala Ayana "Good Night mom, cepat bangun ya Raisa anakmu sudah besar. Cantik kayak malaikat lagi. Mom Raisa pergi dulu ya, maaf Raisa jarang nemenin mom...!!" Raisa tidak bisa lagi melanjutkan ucapannya, dapat ia pastikan air matanya akan menetes dengan deras.
Raisa memilih keluar dari kamar tersebut, ibunya tidak boleh melihatnya menangis atau sedih, ia hanya ingin ibunya tau bahwa Raisa Tumbuh dengan baik.
"Aku harus pergi ke rumah papa...!!"
Raisa menyeka air matanya dan pergi ke mansion yang sudah lama tidak ia kunjungi semenjak hak asuh berpindah tangan, bukan Raisa tidak ingin hanya saja pemilik nya tidak mengizinkan.
Raisa memencet bel mansion tersebut, walaupun sudah larut ia harus bisa bertemu ayahnya.
Arya dan keluarga kecilnya sedang asik di ruang keluarga menikmati film yang di putar.
"Bimo coba cek pintu...!!" Ujar Arya dan bimopun bangkit sambil membawa keripik potato.
"Kak Raisa..!!" Gumanya saat melihat Raisa berada di depan pintu.
"Bimo...!!" Sapa Raisa.
"Astaga kok Kaka malam-malam dateng sendirian kenapa nggak suruh Bimo jemput kak..??" Ujar Bimo menarik Raisa masuk.
"Berhenti...!!" Ujar suara Barito tersebut membuat langkah Raisa berhenti. "Mau apa kamu ke sini..!!" Ujar Arya dingin.
"Mas kamu apa-apan sih !?" Ujar Istrinya tidak terima dengan perlakuan kasar Arya.
"Raisa Kangen papa...!!" Ujar Raisa sambil tersenyum.
"Raisa sini masuk dulu...!!" Ujar istrinya, Raisa kemudian melangkah masuk sudah lama ia tidak mengunjungi mansion ini, sangat banyak kenangan menyakitkan di sini, tak terhitung jumlahnya.
"Kamu mau apa ? jangan bilang kamu mau tinggal di sini lagi..!!" Ujar Arya datar menatap Raisa tajam.
"Ini rumah aku juga pah..!!" Jawab Raisa pelan.
"Huh, ini rumah hasil keringat dan kerja keras saya...!!" Ujar Arya "Jadi apa maksud kedatangan kamu ...??"
"Mas, Raisa itu anak kamu apa salahnya dia ke sini dia rindu sama kamu mas...!!" Ujar istrinya, sedangkan Bimo sudah mengepalkan tangannya menahan amarah sampai buku-buku tangannya memutih.
"Sayang kamu tidak usah ikut campur..!!" Ujar Arya kepada istrinya.
"Pah aku mau tidur di sini malam ini..!!"
"Tidak bisa, kamu harus pulang ini sudah larut...!!". Usir Arya, sedang Raisa hanya menghembuskan nafasnya, betapa sakit hatinya di usir oleh sosok yang ia anggap ayah.
"Pah aku butuh uang..!!" Ujar Raisa menatap Arya, ini adalah satu hal yang tidak ingin Raisa katakan kepada ayahnya karena ia tau Jawaban ayahnya apa.
"Kenapa kamu butuh uang apakah keluarga Lisbet tidak membiayai sekolah kamu..??" Ujar ayahnya dengan nada sinis.
"Mas Raisa itu anak kamu, jangan bersikap kejam seperti itu mas...!!" Bentak Istrinya yang geram dengan sikap Arya yang dingin terhadap Raisa.
"Bunda Lisbet membiayai seluruh biaya sekolah ku...!!"
"Terus kamu butuh uang buat apa ? saya tidak punya uang ...!!" Ujar Arya.
Raisa tertawa sinis entah siapa yang ia tertawakan apakah dirinya yang sangat menyedihkan ini. "Hahahah papa tidak punya uang ? Arya sosok pengusaha batu bara sukses tidak memiliki uang, Arya yang bisa membeli sebuah pulau Untuk di bangun resort mewah tidak memiliki uang hahaha lucu sekali lelucon papa ini...!!"
"Saya bekerja itu bukan untuk kamu, saya bekerja untuk membiayai Anak dan istri saya. !!"
"Pah aku ini anak papa juga..!!"
"Kamu bukan anak saya...!!"
Raisa mengepalkan tangannya ia bangkit dan berlutut di hadapan ayahnya "Pah aku butuh uang untuk pengobatan mama, aku mohon pinjamkan aku uang aku bakal ganti nanti. Aku sangat butuh pah, mama Bisa meninggal kalau pengobatan nya di tunda...!!"
"Cih, aku tidak akan memberikan sepeserpun Uang ku untuk pengobatannya...!!" Ujar Arya.
"Pah, Hati papah itu terbuat dari apa sih ? Kak Raisa anak papa sendiri berlutut di hadapan ayahnya sendiri memohon tapi papa...!!" Bimo yang melihat itu sangat geram.
"Kalo mas Nggak mau kasih biar aku aja, aku punya tabungan..!!" Ujar ibu Bimo.
"Aku juga punya tabungan...!!" Ujar bimo yang langsung mengeluarkan kartu berwarna perak miliknya.
"Stopppp, jangan ada yang berani memberikannya uang. Saya tidak Sudi keluarga saya membantu wanita itu, Dan kamu sekarang juga pergi jangan ganggu keluarga saya lagi...!!"
Raisa tidak menyangka ayahnya akan menolak membantunya bahkan setelah ia berlutut. "Kak Terima ini, ini tabungan aku kak..!!" Bimo memaksa memberikan Raisa uang.
"Bim, kamu simpan aja dulu. Kakak masih punya uang kok...!!" Ujar Raisa tersenyum tidak ada goresan kesedihan di wajahnya hanya saja saat berdiri lututnya bergetar.
"Pah, Bunda aku pamit pulang ke rumah dulu...!!"
"Cih, orang yang tidak punya rumah seperti kamu bisa berucap pulang ke rumah...!!" Ujar Arya menatap jijik ke arah Raisa.
"Arya kamu benar-benar keterlaluan...!!" Bentak Istrinya yang teramat kesal.
"Nanti Raisa jalan-jalan ke sini lagi...!!" Ujar Raisa lalu melangkah keluar, Bimo dan ibunya mengantar Raisa sampai pintu.
"Raisa maafkan kelakuan ayahmu ya, hatinya tak kunjung luluh juga..!!" Ujar Ibu Bimo.
"Ngga apa-apa kok bunda..!!"
"Kak jangan benci sama Bimo ya, Bimo sayang sama kak Raisa. Kak terima ini ya..!!" Bimo memaksa agar Raisa menerima uluran tangannya.
"unchh adikku Bimo sudah dewasa ya, kamu nggak perlu kasih kakak uang kamu cukup kirimkan kakak camilan kakak udah senang banget kok hehehehe..!!"
"Raisa bagaimana dengan pengobatannya bukankah kamu butuh uang..??"
"Iya bunda, tapi Raisa yakin pasti ada jalannya nanti...!!" Ujar Raisa kemudian pergi keluar dari mansion tersebut.
"Betapa malangnya anak tersebut, kenapa ia yang menjadi korban dari pertikaian ini. Anak sekecil itu harus menagung beban seberat ini apa dia mampu...??" Batin ibu Bimo.
Raisa mengendarai motornya menuju sebuah danau buatan yang biasa ia kunjungi saat pulang menjenguk ibunya. Seperti ia butuh waktu untuk menenangkan pikirannya, ia berjalan duduk di kursi dekat danau.
" Apa selama ini aku melakukan kesalahan yang tidak bisa di maafkan ? kenapa aku diberi cobaan seperti ini ? apa mungkin ini awal dari kebahagiaan aku ?" Raisa berbicara pada dirinya sendiri.
"Hidup memang susah, dari kecil aku di oper sana-sini aku tidak punya tempat berpulang yang utuh. Aku selalu bergantung dengan orang lain, apa aku tidak bisa berubah ? apa aku tidak bisa melakukan apapun. Tidak... tidak.. yang harus aku pertanyakan pada diriku sendiri adalah 'Apa yang bisa aku lakukan saat ini ?' harus ada yang aku capai saat ini....!!" Raisa mencoba bangkit dari kondisi terkadang berbincang dengan dirinya sendiri membuatnya lebih memahami kondisinya.
"Aku punya potensi, wajahku lumayan cantik dan aku bisa bermain biola mungkin jika aku tampil di cafe atau acara-acara lainnya aku bisa menghasilkan uang. Aku punya readers yang banyak, sehari rata-rata aku bisa menulis sekitar 3-4 ribu kata untuk novel. Beberapa Novelku memang di cetak sedikit sehingga di sebut-sebut salah satu novel yang limited edition, sekarang adalah waktunya aku mencetak Novelku secara besar-besaran lagi pula beberapa orang sangat sulit menemukan Novelku bahkan ada yang tidak mampu membelinya mungkin jika aku mencetaknya dengan banyak itu membuat orang senang, nanti akan aku bicarakan dengan pihak penerbit....!!" Raisa berhenti sejenak dan kembali berfikir.
"Sekarang adalah masalah waktu, aku memang pintar di bidang akademik tapi masalahnya adalah waktu. Bagaimana aku bisa memanage waktu sekolah, jam istirahat sudah aku gunakan untuk menulis novel itupun jika tidak ada ganguan..!!" Pikiran Raisa langsung membayangkan wajah Indra dan Dona, dua Iblis pengganggu.
"Aku pasti bisa...!!" Raisa menyemangati dirinya. "Dan aku harus menghapus ucapan ayah tadi dari memori otakku yang cerdas ini. Jujur aku takut suatu saat nanti aku bisa membencinya karena perkataan nya. Sudah sangat banyak hal yang aku hapus agar itu tidak menjadi sebuah sisi gelap dalam diriku nantinya...!"
Derttt...dert...
Handphone yang Raisa sailent bergetar menampilkan kontak Indra dengan fotonya yang sangat berwibawa.
"Halo kak..!!" Sapa Raisa dengan suara sedikit serak.
"suara kamu serak lagi flu ya..?" Ujar Indra di sebrang sana.
"Iya kak, kenapa Telepon...!!"
"Cuman mau ngingetin besok siang kita udah mau berangkat ke hutan wisata, kamu jangan lupa siap-siap ya. Dan yang pengen aku kasi tau 1 Minggu lagi aku ulang tahun mama aku mau aku rayain Soalnya tahun-tahun kemarin aku nggak pernah rayaain...!!"
"Terus apa hubungannya sama aku..??" Bingung Raisa.
"Kamu bantu aku lah, juga siapin hadiah ya awas aja nggak siapin hadiah aku sudah kasi tau kamu seminggu sebelum ulang tahun loh..!!" Indra sedikit kesal dengan balasan dari Raisa, apa ia salah memilih Raisa menjadi pelabuhan hatinya.
"Emang Rayaainnya mau di mana ? Rumah ?"
"Hotel, soalnya banyak tamu kalo di rumah yah pasti gangu Banget toh rumah is a private....!!"
"Biayanya mahal di hotel, emang mau ngundang siapa sih ? kenapa nggak di restoran aja ..?" Ujar Raisa.
"Hehehe Raisa A Fana Saya mau mengundang seluruh siswa SMA Mega SI. Juga beberapa teman papa sama mama masa ia saya merayakannya di restoran..!!" Ujar Indra dengan gregetan, apa sulit sekali untuk Raisa mengetahui bahwa Indra ini orang mampu.
"Hah ? hahahaha terserah kakak deh mau ngomong apa nanti aku pasti Dateng kok kasih aja alamat restorannya...!!" Ujar Raisa sambil tertawa.
"Raisa kamu di mana aku pengen nonjok kamu. oh iya mama aku pengen ketemu kamu..!!"
"HAH ? Kenapa ? Ada masalah apa ?"
"Cih biasa aja kali, dia mau ketemu calon menantunya...!!"
"INDRA jangan becanda deh...!!"
"Aku senior kamu pangilnya yang sopan dong..!!"
"Baiklah kak Indra yang agung...!!"
"Hahah tunduklah dengan kekuasaan ku ini tuan putri....!!"
"Idihh anehhh..!!"
"Aku kayak gini cuman sama kamu aja..!!"
"Udah ya kak, aku mau tidur..!!"
"Okay bye..!!"
Telepon mereka berakhir dan Raisa kemudian bangkit dari kursinya dengan senyuman tidak jelas. Begitu besar kekuatan cinta, membuat kesedihan sirnah seketika.
Walaupun angin malam ini sangat dingin Raisa tetap melajukan motornya menembus setiap dimensi malam, hatinya sangat hangat saat ini.
"Punya pacar gimana ya rasanya ? apalagi ketua OSIS ?"
To be continued