
Mobil berwarna kuning itu terus melaju ke depan dengan kecepatan sedang. Kirana yang masih bertanya-tanya mengenai pria yang berada dihadapannya ini. Naury terdiam karena kebingungan. Bagaimana cara menjelaskan mengenai laki-laki yang sedang mengemudi ini kepada Kirana.
"Hai Ladies. Hmm...Siapa yang akan aku antarkan pulang terlebih dulu?" Tanya pria itu, untuk mencairkan suasana.
Pria itu bernama Elvano Dinata, bisa dikatakan dia itu temannya Naury. Walaupun usianya dibilang jauh diatas Naury, akan tetapi dia sangat asik diajak bekerja sama dan juga teman curhatnya Naury yang setia. Menarik bukan? Ya, pria yang sering dipanggil Nata ini, sudah seperti kakak bagi Naury.
"Kita kerumahku dulu." Ucap Kirana dengan mengangkat tangan kanannya ke atas.
"Hhhm bye the way, namaku Nata. Ya, bisa dipanggil kak Nata. dan jangan panggil om. Umurku tidaklah tua-tua amat. Kalau nama gadis cantik berambut pendek siapa?" tanya Nata dengan sedikit menggoda Kirana.
Naury yang dari tadi pandangannya menghadap keluar jendela mobil pun, hanya tersenyum sinis mendengar perkataan Nata.
"Namaku Kirana Priantika. Kak Nata bisa panggil Kirana atau Kiran saja juga boleh." Kirana juga menoleh keluar jendela karena malu.
"Wah, namamu bagus juga," Nata yang masih memainkan stir kemudi, menganggukkan kepalanya sambil tetap fokus ke depan untuk mengemudi.
Kirana terlihat canggung. Sesekali, ia melirik Naury yang terus menatap keluar jendela.
"Hei Bell, kau tidak mau berbicara denganku?Atau setidaknya ajaklah temanmu ngobrol! Sepertinya, temanmu ini canggung kalau ngobrol denganku. " Ucap Nata dengan sekilas menatap tingkah kedua gadis di belakang dari cermin mobil.
"Sudah berapa kali ku bilang. Jangan panggil aku Bell. Panggil aku Naury! NAURY." Protes Naury kepada Nata dengan tatapan membunuhnya.
Kirana hanya diam, menyaksikan tingkah Naury. Ia mengernyitkan dahinya.
"Sepertinya mereka sangat akrab," Batin Kirana.
Sedangkan Nata, ia menghela nafasnya kasar. Lalu, mengacungkan tangan kirinya, pertanda ia tidak mau berdebat dengan Naury sambil tersenyum.
"Kirana, dia kak Nata. Ya, kalau dibilang brengsek dia memang brengsek. Tapi, kalau dibilang baik dia sangat baik," ucap Naury, menjelaskan kepada Kirana, dengan menatap Kirana lalu mengalihkan pandangannya menatap Nata dengan sinis.
Nata yang mendengar perkataan Naury hanya menunjukkan ekspresi wajah yang datar.
"Bocah kurang ajar" umpat Nata dalam hati.
Kirana yang mendengarkannya terlihat sangat kebingungan. Ia mengernyitkan dahinya, seakan masih mencerna semua perkataan dari Naury.
"Sudah kuduga kau tidak mengerti. Jadi gini, intinya kak Nata itu kakak sepupuku. Dia tidak mungkin macam-macam dengan kita." Sahut Naury menjelaskan kembali kepada Kirana.
Kirana pun hanya mengangguk, tanpa berkata apa-apa lagi. Lalu, ia menoleh ke arah jendela pintu mobil.
"Dari depan kita belok kanan kak ya!" Ucap Kirana kepada Nata.
"Oke." Nata menjawab singkat.
Beberapa menit pun berlalu. Akhirnya, mobil mewah itu tiba di rumah sederhana milik Kirana. Kirana pun turun dari mobil Nata.
"Terima kasih tumpangannya kak Nata." Ucap Kirana sembari menatap Nata dan Naury yang masih di dalam mobil secara bergantian. Naury melambaikan tangannya kepada Kirana.
"Oke, sama-sama." Jawab Nata.
Naury dan Nata tersenyum secara bersamaan kepada Kirana. Lalu, mereka berlalu meninggalkan Kirana yang masih menatap mobil itu sambil melambaikan tangannya.
"SAMPAI JUMPA BESOK NAURY!!!" Ucap Kirana, dengan nada suara yang meninggi karena mobil yang ditumpangi Naury sudah melaju, pergi meninggalkan Kirana yang masih berdiri di depan rumahnya.
Setelah mengantar Kirana, kini Nata harus mengantar Naury pulang ke rumahnya.
"Sialan kau, kenapa muncul dihadapan temanku?" Pekik Naury sambil memukul Nata dengan keras.
"Kau memang tidak sopan. Hah, aku benci mengatakannya. Tapi, aku disana menjadi guru. Sangat menyenangkan bukan? Aku akan bertemu denganmu setiap hari. Apa kau senangkan?" Tanya Nata sambil menjelaskan kenapa dia berada di sekolah itu. Nata menoleh sekilas ke arah Naury yang masih mencerna perkataan Nata. Lalu, ia kembali fokus untuk mengemudi.
Naury menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan pelan. Ia tidak habis pikir. Orang yang banyak bicara ini akan menjadi guru di sekolahnya.
"Apa kau perlu kendaraan? Akan ku berikan mobil Ferrariku untukmu kalau kau mau,"
"Hhhmm tentu aku perlu. Capek tahu kalau setiap hari jalan kaki," ucap Naury mengeluh dengan menyandarkan dirinya ditempat duduk.
Nata hanya tersenyum mendengar perkataan Naury. Dan tanpa disadari, mereka sudah sampai di rumah mewah berlantai dua milik Naury.
"Kita sudah sampai nona Bell. Ups maksudku Naury. Aku heran denganmu, kau memiliki banyak uang. Tapi, kau tidak membeli mobil atau setidaknya motor untuk kepentinganmu sendiri?" Tanya Nata dengan menggaruk keningnya yang dikerutkan.
"Dasar orang kaya." Nata mengelus rambut Naury pelan sembari tertawa lepas. Begitu juga dengan Naury yang ikut tertawa bersama Nata.
(---^~^---)
Matahari telah tenggelam, cahayanya kini telah hilang dan diganti oleh cahaya rembulan dan dihiasi oleh bintang-bintang.
Seseorang menggunakan jaket hitam, duduk diatas balkon rumahnya. Dengan penerangan seadanya, ia duduk bersila sambil menatap layar laptop dengan sangat serius. Dengan jari-jarinya yang cekatan menari-nari diatas keyboard. Ia membuka sebuah Room Chat bertuliskan 'Eagle Eye'. Orang itu pun langsung mengetik di Room Chat dengan tatapan seriusnya.
Black Bird : "Hai aku kembali."
Butterfly : "Kemana saja kau hari ini?"
Fox : "Jangan tanya dia, tanyakan barang apa yang ia bawa sekarang."
Orang itupun mengernyitkan dahinya, seakan ia tidak percaya dengan perkataan seseorang bernama Fox di Room Chat itu. Lalu, jari-jarinya kembali menari-nari diatas keyboard. Kemudian dengan hanya hitungan detik ia mengirim pesan yang sudah diketiknya tadi.
Black Bird : "Senapan api dan beberapa peluru yang belum digunakan."
Alpa : "Kau serius?"
Orang tersebut menghela nafas panjang. Lalu, dengan cepat mengirimkan gambar ke Room Chat tersebut. Sebuah senapan api dengan beberapa peluru yang difotonya tadi.
Black Bird : "Kau percaya sekarang @alpa?"
Alpa : "Wah, aku masih belum percaya,"
Fox : "Lalu, apa rencanamu sekarang?"
Black Bird : "Aku tetap memimpin di garis depan. Jadi, tunggu perintah selanjutnya. Kita tetap akan melanjutkan rencana kita sebelumnya,"
Butterfly : "Apa kau sudah merencanakan Plan B? Ya, hitung-hitung rencana cadangan jika Plan A gagal."
Black Bird : "Sudah dari jauh-jauh hari aku memikirkannya. Namun, saat ini kita hanya akan menggunakan rencana pertama saja!"
Fox : "Aku mengawasimu. Jangan sampai lengah!!!"
Butterfly : "Kemana yang lainnya?"
Fox : "Mereka aku tugaskan untuk mencari informasi mengenai kelompok itu."
Black Bird : "Kerja bagus. Oke aku akhiri pertemuan malam ini!"
Alpa : "Siap."
Butterfly : "Siap."
Fox : "Oke Siap laksanakan. Selamat bertugas."
Orang itu membaca chat terakhir dengan memutarkan bola matanya malas. Ia pun mengakhiri Chat tersebut, lalu menutup laptopnya.
Orang itu bersandar di kursi yang ia duduki. Dengan mengangkat senapan api yang tidak ada pelurunya. Ia mengarahkan senapan api itu ke arah bulan yang terlihat jelas pada malam itu. Ia menghela nafas dengan sangat pelan.
"Sudah setahun lebih. Aku sangat merindukanmu." Ucap orang itu, sambil menatap bulan dengan senjata api ditangannya. Lalu, pelan-pelan ia memejamkan matanya.
Air matanya menetes sedikit demi sedikit. Beberapa menit kemudian air matanya membanjiri pipinya. Rasa takut, dan sakit yang ia rasakan saat ini.
Kejadian buruk itu pun terlintas kembali beberapa saat dibenaknya. Amarah, dendam dan benci kini menjadi satu. Mata yang tadinya dipejamkan dan sudah basah karena air mata. Kini membelalak, mata yang seakan-akan ingin membunuh siapa saja yang mendekatinya. Rahang orang itu pun mulai mengeras. Ia marah, sangat marah. Ditembakkannya senjata api itu kearah laptop.
Dor!!
Walau tidak berisi peluru. Suara dari senjata api itu sudah membuat hati orang itu sedikit lega.
Orang itu kembali memejamkan matanya. Ia membiarkan hawa dingin menggigiti kulitnya.
"Akan Ku balaskan dendammu. Pasti! Akan Ku beri mereka pelajaran karena telah menghilangkan nyawamu. Janji! Ini adalah janjiku kepadamu. Nyawa dibalas dengan nyawa." Ucap orang itu dengan mengepalkan tangannya sangat erat.
Orang itu pun menghapus semua air matanya. Lalu, mengambil sepotong buah yang tertera di meja samping laptopnya. Ia pun memakan semua potongan buah yang dihidangkan diatas piring dengan sangat lahap, sambil tersedu-sedu menahan tangisnya.