Naury and Black Bird

Naury and Black Bird
Gudang



**||Semua orang pasti pernah merasakan lelah dalam hidupnya. Namun, kalian harus tetap menjalani hidup dengan baik, hadapi dan syukuri. Percayalah, tuhan akan memberikan jalan yang terbaik untuk Kalian semua ||**


Selamat Membaca!!!


(--°∆°---)


Selama pembelajaran berlangsung, suasana kelas begitu damai dan hening, guru killer yang mengajar tadi kembali mengajar di kelas XII IPA 1. Ya, guru yang terkenal dingin dan galaknya ini bernama Pak Tino. Ia mengajar dua mata pelajaran yaitu Biologi dan Kimia. Tidak heran kalau pak Tino sering mengajar di kelas ini.


Pak Tino yang masih menjelaskan materi pelajaran panjang lebar, membuat semua murid bosan mendengarkan penjelasannya yang terlalu berbelit-belit. Terlebih lagi waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang, dan suasana kelas yang panas pun menambah kejenuhan para siswa belajar di kelas.


Kebanyakan dari mereka tidak mendengarkan penjelasan dari Pak Tino, ada yang terus melihat jam tangannya dengan harapan bel istirahat kedua segera berbunyi, ada yang menahan rasa kantuknya, dan lebih parahnya lagi para siswa yang duduk dibelakang sibuk memakan cemilan yang mereka bawa dari kantin waktu istirahat pertama, tentunya tanpa sepengetahuan dari guru killer itu.


Hanya beberapa murid yang memperhatikan dengan serius, terutama Angga si ketua kelas, Naury, dan Klara yakni sekretaris kelas yang masih kuat mendengarkan penjelasan dari Pak Tino. Naury sedang mencatat poin-poin penting dari penjelasan Pak Tino dengan sangat teliti dan juga rapi. Sedangkan teman di sampingnya sudah tidak sadarkan diri, Kirana tidur dengan posisi kepalanya bersandar pada tembok di bangkunya dengan wajahnya ditutupi oleh buku pelajaran.


Naury tentu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Karena untuk pertama kalinya, ia melihat orang yang tidur pada saat seseorang menjelaskan materi, menurut Naury itu tindakan yang tidak terpuji.


Kalau saja Kirana masuk asrama mungkin tindakannya saat ini akan membuat petaka bagi dirinya sendiri.


Naury terus mencatat, walaupun tidak menoleh ke arah Pak Tino sama sekali, pendengaran dan otaknya yang tajam mampu mengingat setiap kata yang Pak Tino ucapkan.


Kriiing...Kriiing...Kriiing!!


Bell istirahat kedua telah berbunyi, semua murid di kelas itu bersorak kegirangan. Pak Tino terlihat menghela nafasnya dengan kasar.


"Baik, pembelajaran hari ini bapak akhiri sampai disini!" Ucap Pak Tino sebelum keluar dari kelas.


Seluruh murid-murid pun telah berbenah, menaruh semua buku pelajaran dan alat tulis ke dalam tas mereka masing-masing. Begitu juga dengan Naury. Sedangkan Kirana yang terlihat masih setengah sadar, mengucek-ngucek matanya. Kirana menoleh ke arah Naury, sembari menutup mulutnya karena menguap.


"Tidurmu nyenyak?" Tanya Naury menggoda Kirana.


Kirana hanya mengangguk, ia masih mengumpulkan kesadarannya agar dapat berbicara dengan Naury.


"Apa ada tugas dari guru killer?" Tanya Kirana dengan penuh semangat.


Naury yang masih sibuk memasukkan buku pelajaran dan alat tulisnya ke dalam tas pun menoleh ke arah Kirana, lalu ia mengernyit.


"Begini nih anak generasi jaman sekarang! guru menjelaskan dia malah tidur. Mau jadi apa nanti kau?" Ceramah seorang Naury kepada Kirana.


Kirana kembali menutup mulutnya karena menguap "Sudah selesai ceramahnya?" Tanya Kirana dengan santai.


Naury tidak menghiraukan, ia merogoh tasnya. Lalu, diambilnya ponsel dan buku catatan miliknya, kemudian diberikan kepada Kirana.


"Ini buku catatanku, semua yang Pak Tino tadi jelaskan sudahku catat kau tinggal menyalinnya. Aku beri waktu sehari untuk mencatatnya! Besok, kau harus sudah mengembalikan buku catatanku ini. Aku harus pergi, ada sesuatu yang harus aku lakukan. Dan kalau jam pelajaran selanjutnya aku tidak kembali bilang kepada ketua kelas bahwa aku ada urusan diluar kelas. Oke? Bye!" Ucap Naury menjelaskan kepada Kirana.


Kirana yang kebingungan hanya menganggukkan kepalanya tanpa bertanya balik kepada Naury. Ia bahkan tidak sempat bilang terima kasih kepada Naury yang sudah berlalu meninggalkan Kirana yang masih duduk mematung mencerna penjelasan dari Naury.


****


Setelah dirasa aman dan murid-murid lain sudah sedikit yang menyusuri atau berlalu lalang di koridor, Naury pun langsung bergegas menuju gudang tersebut. Ia berjalan dengan langkah yang xukup panjang dan tergesa-gesa.


Insting Naury mengatakan bahwa ada yang tidak beres di gudang itu, seperti ada sesuatu yang membuatnya terus memikirkan gudang itu dan ingin menyelidikinya. Akhirnya, Naury sampai dalam hitungan detik di depan gudang, lalu dibukanya knop pintu gudang tersebut.


Cekle..ceklek..ceklek!!!


Naury terus memaksa untuk masuk, namun pintu gudang itu terkunci. Membuat ia harus mencari cara agar ia dapat masuk ke dalam gudang.


Kriing...kriiing...kriiing!!!


Bell masuk kelas kembali berbunyi. Naury segera mencari tempat persembunyian terlebih dahulu, agar tidak ada yang mengetahui keberadaannya di dekat itu. Dan lagi agar tidak ada yang mencurigai gerak gerik Naury. Kemudian, Ia memutuskan untuk bersembunyi di bawah meja dekat gudang yang ditutupi kain hitam panjang sampai ke lantai.


Naury dapat mengintip beberapa orang yang melewati koridor itu dari lubang kecil kain hitam tersebut. Ia menunggu beberapa saat, setelah semua murid sudah memasuki kelas mereka masing-masing, dan Naury menganggap sudah tidak ada orang lain lagi yang berlalu lalang di dekat gudang. Naury pun keluar dari tempat persembunyiannya. Mungkin, Dewi fortuna hari ini berpihak padanya Naury, pada saat ia hendak keluar dari tempat persembunyian. Ia melihat sebuah kunci di bawah kain hitam tersebut yang ia duga adalah kunci gudang itu.


Naury segera mengambil kunci tersebut, lalu ia kembali membuka pintu gudang itu dengan menggunakan kunci yang ia temukan itu.


"Binggo!" Ucap Naury dengan senangnya.


Sebelum memasuki gudang itu, Naury menyapu sekeliling luar gudang dan juga koridor, tentu dengan pandangan waspada. Untuk menghindari sepasang mata pun yang melihatnya memasuki gudang tersebut.


Setelah dirasa cukup aman, ia segera memasuki gudang. Tidak lupa ia mengambil kunci gudang yang bergelantungan di knop pintu. Kunci itu pun dimasukkan ke dalam saku pakaiannya.


"Mari kita lihat! Benda menakjubkan apa yang ada disini," ucap Naury dengan penuh keyakinan bahwa ia akan mendapatkan sesuatu dari tempat itu.


Naury menyapu isi gudang tersebut, memandang setiap detail gudang yang penuh akan debu dan barang rongsokan, yang mungkin sudah berada disana selama beberapa bulan. Lalu, diambilnya sarung tangan hitam miliknya dari saku rok yang ia kenakan, kemudia ia mulai melancarkan aksinya dengan mengobrak abrik isi dari gudang tersebut.


Barang-barang yang tertata rapi kini telah berserakan di lantai, tidak peduli seberapa banyak debu yang mengotori sarung tangannya dan rambutnya yang kotor akan sarang laba-laba dan juga debu. Naury terus mencari sesuatu yang dianggapnya istimewa.


Setelah beberapa lama ia mencari, namun tidak ada satu pun barang yang istimewa yang ada di dalam gudang itu. Hanya tumpukan barang-barang yang tidak layak dipakai lagi yang ia temukan. Sungguh rasa kecewa yang Naury pancarkan dari wajahnya yang mulus. Namun, disaat ia memindahkan sebuah kardus kosong, ia menemui sebuah laci dengan gagang berwarna hitam bersih tanpa adanya debu sedikit pun, karena ditutupi oleh kardus tadi.


ia sangat penasaran apa isi dari laci itu, sehingga ia pun memutuskan untuk membukanya.


Naury menyeringai dengan senyum penuh kegembiraan "Sudahku bilang kan? filing**ku selalu benar, sesuatu yang mereka anggap tidak penting ternyata terdapat sesuatu yang sangat istimewa yang berada di dalamnya." Kini senyuman Naury mirip seperti joker, tentunya sangat menyeramkan.


Diambilnya barang istimewa tersebut, lalu dimasukkan ke dalam celana pendek yang ia kenakan.


Setelah mendapatkan sesuatu yang ia inginkan, Naury langsung membereskan kekacauan yang ia buat di gudang tersebut. Diletakkannya semua barang-barang yang ia jatuhkan ke lantai ke tempat semula. Ingatan Naury sangatlah tajam, sehingga semua barang-barang tersebut nampak seperti sedia kala. setelah membereskan kekacauan itu, Naury langsung pergi meninggalkan gudang tersebut. Namun, tentu dengan tingkat kewaspadaan yang cukup tinggi. Ia menoleh ke arah luar gudang, meyakinkan dirinya bahwa tidak ada seorang pun yang melihatnya.


Setelah dirasa aman, Naury pun mengunci kembali gudang itu dan meletakkan kembali kunci itu ditempat semula. Naury pun langsung lari terbesa-gesa agar tidak ada yang mencurigainya atau melihatnya digudang tersebut.


Namun sayang, ada sepasang mata yang melihat Naury dari kejauhan. Seorang pria menggunakan kemeja putih dan celana panjang hitam berdiri melihat Naury keluar dari gudang tersebut. Pria itu menggunakan kacamata hitam dengan kedua tangannya bersidekap di depan dadanya. Ia pun melontarkan senyuman sinis ke arah Naury yang sudah hampir tidak terlihat lagi.


"Apa yang kau dapatkan gadis manis?" Ucap pria itu dalam hati.