Naury and Black Bird

Naury and Black Bird
Friend



*|| Mencari teman memang mudah, namun sangat sulit jika ingin menemukan teman sejati (sahabat). Seperti halnya kita mencari sebongkah berlian ditumpukan pasir pantai. Sangat sulit untuk mendapatkannya!! ||* (^∆^)


©©©©


Suasana kelas yang tenang, kini berubah menjadi riuh karena kedatangan Naury. Mereka terlihat senang dengan kedatangannya, namun tidak sedikit juga yang tidak menyukai kedatangan Naury.


Naury menyapu sekeliling ruangan. Namun, matanya tertuju kepada seorang gadis berambut pendek yang sedang membenamkan wajahnya pada kedua tangannya yang dilipat di atas meja. Gadis itu duduk di pojok paling belakang sendirian.


Ia mengerutkan keninganya, mencari tahu siapa gadis itu, seperti gadis yang ia temui tadi? Namun, ia tidak bisa memastikannya. Sampai akhirnya guru yang berada di sampingnya menggebrak meja untuk menenangkan murid-murid yang terus bersorak dan ingin berkenalan dengannya atau hanya sekedar menggodanya saja.


Brak!!


Suara pukulan meja membuat seisi kelas hening seketika, Naury yang masih mencari tahu siapa gadis itu pun dibuat terkejut oleh guru itu.


"Diam kalian semua! Atau kalian kaluar dari kelas ini sekarang juga!" Ucap guru itu dengan nada yang meninggi.


"Aku tarik kata-kataku tadi. Dia guru tampan yang galak," ucap Naury dalam hati dengan ekspresi wajah yang masih terkejut.


Kirana pun mendengar gurunya marah membuatnya terbangun dari tidurnya. Dengan segera ia mengucek-ngucek matanya, lalu membenarkan rambutnya yang berantakan.


"Binggo!! Ternyata benar itu kau," ucap Naury dalam hati.


Betapa terkejutnya Kirana dengan apa yang ia lihat sekarang. Gadis yang ia tolong tadi akan menjadi teman sekelasnya. Namun, ia tak acuh. Raut wajah Kirana kembali datar dengan cepat.


"Kenapa dia?" Naury bertanya-tanya dalam hati.


"Sekarang kamu bisa duduk di bangku yang masih kosong!" Titah guru itu kepada Naury.


Naury hanya mengangguk, dengan segera ia menuju bangku yang masih kosong. Para siswa berlomba-lomba untuk merayu dan menawarkan tempat duduk untuk Naury, namun ia tidak menggubrisnya sama sekali. Matanya dari tadi sudah tertuju pada bangku kosong di pojok belakang, tepat disamping Kirana duduk.


Naury dengan segera duduk tanpa meminta izin kepada Kirana terlebih dahulu. Ia menatap Kirana dengan tatapan aneh yang masih membenamkan wajahnya, sepertinya gadis itu tertidur pulas.


"Tidak heran jika guru itu menghukummu. Dengan kelakuanmu seperti ini kau bisa saja ditendang dari kelas ini. "batin Naury.


****


Selama jam pembelajaran berlangsung, suasana kelas berakhir dengan riuh. Karena setelah Naury duduk, guru killer itu pergi ke ruang kepala sekolah. Jadi, murid-murid lebih memilih untuk bersenang-senang dengan caranya masing-masing. Ada yang bergosip, main game, tidur, dan yang lebih parah yaitu deretan bangku belakang yang sibuk makan makanan ringan dijam pelajaran saat ini.


Yuri yang melihat sekeliling pun hanya bisa menggelengkan kepalanya heran. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya ia melihat suasana kelas yang kacau seperti ini. Namun, ada dua orang yang hening tidak bergeming. Mereka berdua hanya membaca buku tanpa berbincang-bincang seperti murid-murid lainnya.


"Itu ketua kelas dan Sekretaris di kelas ini," ucap Kirana.


Lagi-lagi Kirana membuat Naury terkejut. Naury pun langsung berbalik badan menghadap Kirana. Kirana sengaja dekatkan wajahnya ke badan Naury, membuat Naury kembali terkejut dengan apa yang Kirana lakukan saat ini.


"Kau membuatku terkejut sekali lagi," ucap Naury dengan memperlihatkan muka masamnya.


"Habisnya kau terlihat serius sekali melihat dua orang itu. Lalu, kenapa kau duduk disini?" tanya Kirana kepada Naury seakan ia tidak senang dengan kehadiran Naury.


"Kenapa memangnya kalau aku duduk disebelahmu? Apa ada larangan kalau aku duduk disini?" Naury balik bertanya kepada Kirana.


"Eemmm... Tidak juga! Hanya saja untuk pertama kalinya ada yang mau duduk denganku," ucap Kirana sambil merogoh isi tasnya.


Kirana pun mengeluarkan beberapa buku paket yang ia bawa.


"Ini untukmu, jangan berterima kasih kepadaku! Seharusnya aku yang berterima kasih, karenamu beban dipundakku terasa ringan sekarang," ucap Kirana.


Naury hanya bisa mengernyitkan dahinya dan memasang senyum aneh yang dibuat-buat. Namun, ia masih menerima buku paket pemberian Kirana. Ya, dia suka sekali membaca buku apapun jenisnya. Karena membacalah ia bisa seperti sekarang ini.


"Oke!! Dengan senang hati aku menerima buku pemberianmu, namun aku ada satu permintaan untukmu. Aku malas mencatat jadwal pelajaran, jadi setiap malam kau harus mengingatkanku. Ini nomor teleponku!" ucap Naury sembari menulis nomor teleponnya diatas kertas kosong yang akan diberikan kepada Kirana.


Kirana pun mengambil kertas yang disodorkan Naury, lalu memasukkannya disaku bajunya.


"Kenapa kau memilih duduk disini?" tanya Kirana dengan tiba-tiba.


"Hhmm... Kenapa ya? Mungkin karena aku membenci orang-orang yang berisik, dan suka cari perhatian. Dan lagi sepertinya beberapa gadis disini bermuka dua, baik dihadapan guru dan menusuk kalau sudah dibelakang guru. Karena itu duduk denganmu adalah pilihan yang tepat," ucap Naury dengan berbisik di telinga Kirana.


Naury hanya memutar bola matanya dengan malas. Seperti tidak mempercayai ucapan


Kirana.


"Tidak ada orang jahat yang mengakui kejahatannya sendiri," Naury membalas ucapan Kirana tidak kalah sinisnya.


Mereka berdua pun tertawa kecil disela keributan kelas itu.


****


Kriing...Kriiing...Kriiing!!


Bel Istirahat sudah berbunyi. Murid-murid di kelas XII IPA 1 semakin riuh. Selama jam pelajaran berlangsung tidak ada guru yang mengajar. Itu merupakan surga dunia bagi para murid-murid di kelas itu, namun tidak termasuk Naury. Itu merupakan malapetaka buat murid teladan sepertinya. Bagaimana tidak, suasana kelas yang seharusnya hening dengan hanya guru yang menjelaskan dan murid yang bertanya saja yang harusnya berbicara, kini mereka ribut dengan berbagai macam topik yang mereka bahas. Membuat Naury yang melihatnya pusing tujuh keliling.


Murid-murid segera keluar kelas dengan teratur. Mereka segera menyerbu kantin sekolah. Begitu juga dengan Naury yang masih sibuk membereskan buku paket pemberian kirana yang disimpannya ke dalam tas miliknya. Lalu bergegas menuju Kantin Sekolah. Namun tidak dengan Kirana, ia nampak mengambil novel kesukaannya lalu bersandar ditembok dekat tempat duduknya.


"Kiran ayo ke kantin!" Ucap Naury dengan penuh semangat.


Sedangkan Kirana tidak berkutik sama sekali dari novelnya, ia hanya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Naury heran.


"Aku sedang berhemat. Sudah kalau mau pergi, pergi saja!" ucap Kirana sambil tetap fokus membaca novel miliknya.


"Ya sudah, aku yang teraktir," ucap Naury dengan menarik tangan Kirana dengan sangat kencang.


Membuat Kirana yang duduk pun seketika berdiri menghadap Naury.


"Auu sakit," ucap Kirana dengan lirih.


Naury tidak mendengarkan ucapan dari Kirana, dan terus menariknya untuk pergi ke kantin bersamanya.


****


Sesampainya di Kantin, Naury dan Kirana duduk dengan berhadap-hadapan. Mereka sudah memesan makan dan minuman mereka masing-masing.


Sembari menunggu, mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Naury yang sibuk dengan layar ponselnya sedangkan Kirana masih fokus dengan novel yang dari tadi ia bawa.


Brakk!!


Kirana membanting novel yang ia baca ke atas meja. Naury tidak bergeming sama sekali dengan tingkah Kirana.


"Hai... Kenapa kau tiba-tiba meneraktirku makan? Apa alasanmu?" Tanya Kirana kepada Naury.


"Anggap saja itu ucapan terima kasihku karena kau sudah mengantarku ke ruangan kepsek," ucap Naury dengan melemparkan senyumannya dan menatap Kirana dengan sekilas.


"Ya. Tapi kan.." Ucapan Kiran terpotong Karena makanan mereka sudah sampai.


Satu mangkuk Bakso dengan Es Jeruk untuk Naury dan satu mangkuk Soto Ayam dan air putih untuk Kirana siap disantap.


"Ya tapi kan kau baru mengenalku," ucap Kirana dengan heran.


"Kita kan teman, kalau kau mau nambah tambah saja," ucap Naury sembari memotong bakso yang lumayan besar.


Kirana hanya menggelengkan kepalanya, ia merasa tidak enak dengan Naury.


"Kau jangan merasa tidak enak denganku. Kita kan teman. Katanya berhemat, setidaknya manfaatkanlah kebaikanku ini," ucap Naury.


"Karena kau temanlah aku tidak akan memanfaatkan kebaikanmu," ucap Kirana dengan melahap Soto Ayam disendoknya yang masih panas.


Naury tidak menjawabnya, ia hanya mengangkat kedua bahunya lalu kembali mengunyah bakso yang ada dimulutnya.