
~|| Gosip tak datang dengan sendirinya. Jangan mudah percaya dengan gosip. Kau harus mencari kebenarannya terlebih dahulu sebelum kau menyebarkannya kembali kepada orang lain. Karena gosip seperti pesan barantai, yang akan terus nyambung dari satu orang ke orang lain. ||~
©©©©**
Selama mereka dikantin Banyak pasang mata yang memperhatikan Naury dan Kirana. Kenapa? Apa mereka salah kalau makan di kantin? Tentu saja tidak. Mereka hanya heran melihat Kirana dan Naury. Selama ini kirana tidak pernah makan di kantin. Terlebih lagi dengan seorang teman. Karena semua orang tahu, kalau Seorang Kirana Priantika merupakan seorang gadis sebatang kara yang dikucilkan oleh teman-temannya. Tentu saja karena status ekonomi dan fashion mereka yang sangat berbeda dengannya, ibarat bumi dan langit.
Sedangkan Naury, ia sudah mengetahui apa yang Kirana alami saat ini. Maka dari itu, ia lebih memilih dekat dengan orang yang dikucilkan karena tidak akan merepotkannya.
Jangan salah, walaupun Kirana dikucilkan bukan berarti dia lemah. Ia mempelajari bela diri Karate yang diajarkan kakeknya sebelum sang kakek meninggal dunia.
Tidak heran, walaupun dikucilkan namun tidak ada yang berani mem-bullynya. Mereka hanya bisa berbisik dan bergosip tentang keburukan Kirana yang belum tentu benar adanya. Walaupun Kirana mengetahuinya, ia sama sekali tidak memperdulikan gosip murahan itu. Ia lebih baik menutup mata dan juga telinganya rapat-rapat, dengan cara menyibukkan dirinya membaca novel di kelas atau di perpustakaan selama jam istirahat.
🌫🌫***
Kirana dan Naury masih memakan makanan mereka masing-masing dengan lahapnya. Namun, tanpa Kirana sadari terdapat sepasang mata yang menatap dengan intens ke arah mereka. Naury yang memang sudah dari tadi menyadarinya pun tak acuh, ia menganggap tatapan itu sebagai angin lalu. Tatapan itu dari seorang laki-laki yang sangat populer di sekolah itu, dan menjadi idola di kalangan gadis-gadis.
"Aku tahu siapa kau, jangan membuat masalah dengan temanku apa lagi denganku, atauku pastikan akan mematahkan kedua tanganmu."
Naury tersenyum sinis. Ia tidak mengetahui, bahwa ada yang lebih berbahaya dibandingkan dengan tatapan intens dari laki-laki itu. Ya, tentu saja para penggemar gila dari laki-laki itu.
"Hah akhirnya habis juga." Ucap Naury, sembari mengelap mulutnya dengan tisu makan.
"Kau lambat sekali makannya." Seru Kirana dengan menggoda Naury sambil tertawa pelan.
"Ini kau bilang lambat? Mungkin cara makanmu kali seperti orang kerasukan." Naury balik menggoda, tidak mau kalah dengan Kirana.
Beberapa menit mereka ngobrol santai di kantin, tidak terasa bel sekolah sudah berbunyi, menandakan pelajaran selanjutnya akan segera berlangsung. Mereka pun beranjak dari kantin menuju kelas.
Namun baru mereka akan beranjak dari tempat duduk, mereka disapa oleh seorang laki-laki, bukan disapa lebih tepatnya dicegat untuk tidak masuk kelas. Laki-laki itu tak asing bagi Kirana, namun nampaknya mereka berdua tidak menyukai laki-laki itu. Mereka memang memiliki kemiripan.
Laki-laki itu tersenyum kepada kedua gadis yang akan beranjak ke kelas mereka, Kirana dan Naury kebingungan melihat kedatangan laki-laki itu. Ia nampak tersenyum manis di hadapan kedua gadis itu lalu mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
"Hai...Kenalin aku Brian Alfando, dari kelas XII IPS 3, panggil saja aku Brian." Brian melontarkan senyum manisnya.
Selang beberapa detik uluran tangan Brian tak kunjung dibalas oleh kedua gadis itu, membuat ia mengepalkan tangannya dan menarik kembali uluran tangannya tadi.
"Sungguh pria yang malang," ucap Naury dalam hati menahan senyumnya agar tidak terlihat oleh Brian.
"Hai... Namaku Kirana dan ini Naury, sudah bel masuk kelas. Kalau terus disini kami akan dihukum oleh guru yang mengajar di kelas, jadi kami akan pergi ke kelas sekarang juga, permisi!" Jawab Kirana.
Kirana dengan cepat menarik tangan Naury yang masih diam di tempat tanpa berbicara sepatah kata pun. Lalu, pergi dari hadapan Brian tanpa memperdulikan kata yang Brian akan lontarkan kepada kedua gadis itu.
"Sial!!" Brian nampak kesal, ia memukul meja dengan sangat keras. Brian melihat kedua punggung gadis itu yang sudah hampir tak terlihat dengan tatapan kesalnya.
Terdapat beberapa murid yang masih berada di kantin pun menatap Brian dengan tatapan aneh.
"Itu Kak Brian? Dia menghampiri Kak Kirana? Mataku nggak salah liat kan?" Bisik seorang siswi dengan temannya.
"Dia pasti mendekati murid baru itu, bukan kak Kirana!" Seru temannya yang lain.
"Apa yang kalian gosipkan?" Tanya salah satu gadis itu dengan nada yang cukup tinggi. Sepertinya ia yang paling kesal.
Para siswi yang melihat mereka pun langsung menundukkan kepala dan tidak berani berkata apa-apa lagi. Mereka nampak ketakutan. Ya, tentu saja mereka takut. Karena orang yang mereka hadapi saat ini adalah para gadis populer. Bukan karena mereka pintar, namun lebih tepatnya karena mereka cantik dengan dandanan yang mencolok dan rambut yang dicat warna-warni. Tidak seperti siswi lain yang masih taat dengan peraturan sekolah.
Mereka juga terkenal karena kenakalannya. Mereka tidak segan-segan membully dengan sangat kasar, siswi yang lemah adalah mangsa yang sangat mereka senangi.
Namun, mereka tidak berani melawan Kirana. Dulu pernah Kirana menjadi bahan bullyan mereka, namun baru mulai mereka membully Kirana langsung ngamuk. Ia menggengggam tangan salah satu gadis itu dengan sangat kuat, sehingga sang gadis meringis kesakitan. Lalu, temannya yang lagi satu dibanting menggunakan jurus karatenya, karena telah berani mengotori seragam satu-satunya yang ia miliki dengan kuah bakso. Itu pelajaran yang setimpal untuk mereka.
Itu sebabnya, tidak ada yang berani membully Kirana. Bahkan seorang pria sekali pun. Rumor yang beredar, Kirana telah mendapatkan sabuk hitam sejak berusia 14 tahun. Bagaimana mereka tidak takut padanya.
****
Nama grup gadis-gadis nakal ini adalah The beauty angel. Angel? Mereka lebih pantas disebut iblis daripada malaikat bukan? Sepertinya mereka salah memberi nama grup mereka sendiri.
Fany sebagai ketua geng dan sekaligus gadis yang tergila-gila pada Brian si cowok populer. Diah, Kyra, Cika dan Nira adalah pengikut setia Fany. Kalau saja Fany tidak tajir dan juga cantik, mereka pun ogah untuk jadi temannya, lebih tepatnya pembantu Fany. Lagi pula, Fany sering mentraktir mereka berbelanja di Mall. Itu upah yang sepadan untuk mereka yang selalu setia menjadi pengikut Fany.
****
Mereka menatap tajam beberapa siswi itu dengan tatapan membunuh. Lalu, Fany mengalihkan pandangannya ke arah Brian. Gadis itu dengan cepat merubah raut wajahnya menjadi senyum ceria bak senyum malaikat. Hmmm malaikat berhati iblis tepatnya. Fany segera menghampiri Brian. Dengan sikap manjanya, ia langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Brian tanpa permisi dan tanpa rasa malu sedikit pun.
"Brian? Sedang apa kau disini?" Tanya Fany dengan manja. Sungguh terdengar menggelikan ditelinga Brian.
Brian hanya melirik sinis, lalu dengan cepat melepas pelukan Fany dengan sangat kasar. Namun, bukannya merasa malu Fany malah bersikap sok imut dihadapan Pria itu.
"Pergi kau jal*ng!" Bentak Brian.
Ia masih marah dengan kedua gadis itu, namun ia harus menahannya untuk melancarkan aksinya. Tentu saja untuk mendekati Naury.
***
(Di lain tempat)
Kirana terus menarik tangan Naury dengan sangat erat, namun Naury hanya diam tidak ada perlawanan sama sekali, dirasa sudah di zona yang aman dan terbebas dari Brian, Kirana pun melepaskan genggamannya terhadap Naury.
"Huh aman....Maaf ya tadi aku menarikmu," ucap Kirana dengan mata memelasnya.
Membuat Naury tertawa dibuatnya. Lagi-lagi Kirana dibuat bingung dengan sikap Naury yang mudah tertawa olehnya, padahal ia sangat yakin bahwa tindakannya tidak menyenangkan.
"Kau tidak salah, aku yang bodoh. Kenapa aku diam saja tadi? Harusnya aku tinggal tonjok saja orang itu." sahut Naury.
Kirana tercengang mendengar ucapan dari Naury, ia menganga dan mengerutkan dahinya.
"Kau bisa berkelahi?" tanya Kirana tidak percaya.
"Tentu saja," Naury tersenyum bangga akan dirinya.
Kirana masih membeku diam dengan mulut ternganga, ia masih tidak mempercayai Naury. Bagaimana mungkin gadis secantik dan sepertinya dia gadis yang polos, masak dia bisa berkelahi? Berbeda dengannya yang berpenampilan tomboy.