
**|| Sepandai apaupun kau berbohong kepada orang lain, akan tetapi kau tidak akan bisa membohongi hatimu sendiri ||** Firebird
Selamat membaca!!
(--^~^--)
Kirana masih membeku diam dengan mulut ternganga, ia masih tidak mempercayai perkataan Naury. Bagaimana mungkin gadis secantik dan sepertinya dia gadis yang polos, masak dia bisa berkelahi? Berbeda dengannya yang tomboy.
"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, ayo kita ke kelas!" sekarang giliran Naury yang menarik lengan Kirana yang masih membeku, Kirana pun tersadar lalu menyamakan langkah kakinya dengan Naury.
Disepanjang koridor yang mereka lewati, masih terdapat beberapa siswa yang berlalu lalang. Walaupun bel masuk kelas sudah 10 menit berlalu.
Langkah kaki mereka semakin cepat menuju kelas, namun Naury berhenti secara tiba-tiba, membuat Kirana yang selangkah didepannya, mundur ke belakang untuk mendekati Naury.
Naury menatap sebuah ruangan yang
terbengkalai disebrang koridor yang mereka lewati. Ia menatap dengan sangat dalam sehingga matanya menyipit. Kirana yang melihat Naury pun menaikkan salah satu Alisnya, ia masih heran kenapa Naury yang melihat tempat itu dengan tatapan penuh akan tanda tanya dan juga curiga.
"Itu gudang sekolah Naury. Kenapa kau melihatnya seperti itu? Padahal tempat itu tidak ada yang istimewa, itu hanya gudang kosong yang tidak pernah terpakai lagi," jawab Kirana sembari memukul pundak Naury, membuat Naury terkejut dan menoleh ke arahnya.
Naury pun mengerti, ia menganggukkan kepalanya beberapa kali dan hanya berkata "Oh" kepada Kirana, dengan pandangannya masih tetap menatap ke arah gudang dengan penuh rasa penasaran.
"Udah ayo kita ke kelas! Keburu ada guru yang mengajar, bisa-bisa nanti kita dihukum kalau telat. Aku enggak mau ya dihukum karena terus melihat gudang yang tidak penting itu," sahut Kirana sambil berjalan mendahului Naury.
"Apa yang mereka anggap tidak penting, itu adalah sesuatu yang sangat penting bagiku. Setelah istirahat kedua aku akan memastikannya sendiri. Ya, harus kuselidiki apa isi gudang itu," ucapnya dalam hati.
"Naury, mau ke kelas atau mau membolos aja sekalian?" Sahut Kirana sambil membalikkan badan ke arah Naury, lalu melipat kedua tangannya dan bersidekap di dadanya.
Naury yang masih mencurigai gudang tersebut, pandangannya beralih ke arah Kirana. Naury hanya mengangguk pelan lalu berlari kecil menghampiri Kirana yang sudah sedikit jauh di depannya.
"Apa yang salah dengan gudang itu?" Pikir Kirana mencari tahu apa yang dipikirkan oleh Naury mengenai gudang tersebut.
Tok..tok..tok!!
Setelah mengetuk pintu kelas, Kirana membuka knop pintu itu dengan pelan. Ia membuka pintu agak sedikit terbuka, lalu menyapu sekeliling ruang kelas. Ia sedang mencari-cari sosok guru yang akan mengajar di kelas mereka.
Namun yang Kirana lihat hanya terdapat beberapa murid yang berada di kelas mereka. Kirana menoleh ke arah Naury yang sudah menunggu isyarat dari Kirana. Kirana mengangguk kepada Naury, lalu mereka memasuki kelas dengan pintu kelas dibuka dengan sangat lebar untuk memberi jalan kepada mereka berdua.
Dengan santainya mereka berdua memasuki kelas, ada beberapa murid yang memperhatikan mereka dengan sekilas mata dan beberapa lainnya sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
"Huh aman," Kirana mengelus-elus dadanya lalu melangkah menuju tempat duduk yang berada di pojok paling belakang, disusul oleh Naury di belakangnya.
"Kalian dari mana saja?" tanya seorang siswa yang memang menatap mereka dari tadi. Kirana hanya menaikkan kedua bahunya tak acuh.
"Anak-anak lain kemana?" Naury bertanya balik kepada siswa tersebut.
Siswa itu hanya mengangkat bahunya yang menandakan bahwa ia tidak tahu keberadaan teman-temannya yang lain.
Mereka berdua pun berlalu meninggalkan pertanyaan siswa itu tanpa menjawabnya. Lalu, mereka kembali ke tempat duduk mereka di pojok paling belakang, tanpa memperdulikan teman-temannya yang lain.
"Hmmm Naury, memang kenapa dengan gudang itu?" Tanya Kirana penasaran.
Naury meletakkan beberapa buku pelajaran selanjutnya di atas meja, begitu juga dengan Kirana.
"Bukan hal yang penting! Aku hanya penasaran saja, karena aku baru melihat gudang itu," ucap Naury tanpa ragu, dan tanpa melihat Kirana. Ia masih sibuk mengambil alat tulis di dalam tas miliknya.
"Dia tidak mencurigaiku kan?" Naury mengerutkan keningnya karena ragu sambil melirik ke arah Kirana yang sedang merogoh tas miliknya sendiri.
Mereka pun terdiam beberapa saat, tidak ada yang mau memulai pembicaraan mereka. Bangku mereka pun terlihat hening bak kuburan. Berbeda dengan bangku-bangku lainnya yang penuh warna akan canda tawa dan gosip murahan dari murid-murid yang duduk dengan santainya. Kelas nampak riuh dengan tidak adanya guru yang mengajar.
Beberapa murid yang sudah kembali dari aktivitasnya diluar pun dengan santainya memasuki kelas tanpa rasa berdosa sedikit pun. Sama halnya seperti Naury dan Kirana tadi. Di ruang kelas itu seperti tidak asing lagi bagi para murid-murid penghuni kelas, dengan suasana kelas yang memang tidak pernah ada yang peduli satu sama lain.
Hanya sekretaris kelas dan ketua kelas yang memang bertanggung jawab akan kehadiran seluruh siswa di kelas itu. Bisa dibilang, hanya mereka berdua murid teladan di kelas itu. Naury memandang seseorang yang tadi menyapa dan menanyakan keberadaan mereka. Ia melihat orang itu sedang berbicara kepada salah satu siswa yang baru datang dari luar kelas, nampaknya siswa itu sangat kesal dengannya.
Kirana yang terus membaca novel yang sempat ia tunda tadi melirik Naury, lalu ikut melihat seseorang yang dilihat Naury dengan tatapan seriusnya. Sepertinya ia bisa menebak lagi apa yang dipikirkan Naury.
"Namanya Angga Adhitama, nama panggilannya Angga. Dia itu ketua kelas disini, orang yang paling menyebalkan di kelas ini," Naury terkejut dengan suara Kirana yang begitu tiba-tiba, ia pun menoleh ke arah Kirana hingga tanpa disadari wajah mereka berdekatan.
"Bagaimana? Apa ada yang kau tanyakan lagi? Beritahu saja aku!" Seru Kirana kepada Naury sembari menaikkan kedua alisnya.
"Bagaimana kau bisa tau apa yang aku pikirkan?" Tanya Naury dengan tatapan herannya.
"Kau melihatnya dengan sangat dalam, sehingga matamu yang lebar itu menyipit. Jadi aku tahu kalau kau ingin mengetahui sesuatu mengenai orang itu. Sama halnya dengan gudang tadi," Kirana hanya tertawa sambil mengambil kembali novelnya yang ia letakkan di atas meja.
Naury menganggukkan kepalanya "Oh, ternyata kau tipe orang yang peka ya," dengan senyuman terpaksanya. Sepertinya ia kurang menyukai kepekaan Kirana terhadap sesuatu. Itu bisa saja akan merusak rencana besarnya nanti.
Naury mengambil pulpen lalu memainkan pulpen tersebut. Kirana tidak melihat ekspresi Naury tadi karena wajahnya sudah ditutupi oleh novel, dan ia hanya fokus untuk membaca novel kegemarannya itu.
"Apa bagusnya novel itu?" Naury berdecak namun tidak dihiraukan oleh Kirana. Ia semakin kesal sekarang, lalu diambilnya novel itu secara paksa olehnya.
"Apa bagusnya novel ini? Sepertinya tidak menarik," Naury mengangkat novel itu lalu dijauhkan dari jangkauan Kirana sehingga Kirana tidak bisa mengambilnya.
"Naury kembalikan novelku, sifatmu kekanak-anakan," ucap Kirana menahan emosi.
Naury yang melihat Kirana yang emosi semakin menjauhkan Novel itu dari jangkauan Kirana sambil tertawa tebahak-bahak.
"NAURYYYYY!!!" Karena kesal Kirana berteriak hingga suasana kelas yang riuh seketika menjadi sunyi, semua murid menatapnya dan juga Naury.
"Hei bisa tidak jangan caper jadi orang?" ucap salah satu siswi yang sedang memandangi mereka dengan sinis
dengan memegang ponselnya.
Mereka berdua pun kembali duduk dengan manis, Naury meletakkan novel milik Kirana di atas meja. Mereka berdua hanya diam dan kelas kembali riuh seperti semula.
Namun emosi mereka sama-sama memuncak, Kirana yang kesal dengan tingkah Naury dan gadis itu. Lalu, Naury yang sangat kesal dengan diri sendiri dan gadis itu semakin menambah mood-nya sangat buruk. Sehingga membuat keheningan di bangku mereka kembali terjadi, hingga guru yang mengajar tiba di kelas mereka.
****
Disebuah ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya lampu yang sedikit meredup.Terdapat tiga orang yang berada di dalam ruangat itu. Mereka sedang meminum minuman beralkohol, mereka membicarakan sesuatu yang sangat serius, walaupun keadaan mereka sudah setengah sadar.
"Bagaimana kalau mereka tahu rencana kita?" Kata salah satu orang itu.
"Kita harus tetap waspada, bagaimanapun juga kita harus mendapatkan barang itu. Kita pasti akan sangat diuntungkan," kata temannya lagi satu.
"Jangan gegabah! Bisa-bisa kita yang tertangkap. Kita pasti akan mendapatkannya, walaupun dengan cara membunuh mereka semua," ucap orang itu kembali.
Mereka pun melanjutkan meneguk minuman beralkohol itu dengan santainya. Sampai akhirnya mereka tidur karena terlalu mabuk.
🦉🦉🦉🦉