Naury and Black Bird

Naury and Black Bird
Kirana



Hening dan sepi, matahari dengan garangnya menyengat tubuh dengan sinarnya yang panas hingga menembus kulit. Angin yang terus berhembus, memasuki tiap ruang kelas. Hingga dapat menyejukkan pikiran yang penat dengan tumpukan buku pelajaran sekolah dan tugas-tugas sekolah yang diberikan kepada guru.


(Di Kelas XII IPA 1)


Suara goresan spidol terdengar nyaring ditelinga. Para murid pun tidak hentinya menggoreskan tinta hitamnya di kertas untuk mencatat penjelasan guru yang tertera di papan tulis. Semua siswa, kecuali anak-anak bandel yang duduk di belakang. Mereka asik dengan dunianya sendiri, dengan bermain game online di ponsel mereka yang diletakkan di kolong meja agar tidak diketahui oleh guru.


Sedangkan Kirana. Tangan kirinya terus mengetuk-ngetuk meja dan bibirnya tak hentinya mengigit kuku jari tangannya. Ia nampak panik. Ini sudah hampir sejam namun Naury tidak kunjung masuk ke kelas juga.


"Naury kamu kemana? Apa terjadi sesuatu?


Apa dia dibully sama anak geng yang tidak suka keberadaannya? Aarghh shitt. Lama-lama bisa gila aku dibuatnya." Umpat Kirana dalam hati.


Kirana yang tidak mau menunggu lebih lama lagi, memutuskan untuk mencari Naury. Ia pun sudah siap mengambil ancang-ancang untuk mengacungkan tangannya, meminta izin kepada guru untuk keluar sebentar. Namun, seseorang dibalik pintu terlebih dahulu mengetuk dan membuka pintu kelas secara perlahan. Kirana dan para murid lainnya pun menoleh ke arah pintu secara bersamaan.


"Permisi buk, maaf saya telat, karena saya habis dari toilet," ternyata Naury yang mengetuk pintu, ia pun langsung meminta maaf kepada guru yang mengajar di kelas.


Melihat Naury yang mengetuk pintu, membuat perasaan Kirana sedikit lega. Kirana pun mengurungkan niatnya untuk meminta izin kepada guru yang mengajar. Seketika ia mengelus-elus dadanya beberapa kali dan menghela nafas pelan. Kini, Kirana mulai bisa berpikir jernih dan fokus kembali dengan pelajarannya saat ini.


Guru pun mempersilahkan Naury untuk mengikuti pelajarannya. Untung guru yang mengajar kali ini baik. Kalau tidak, bukan hanya tidak diizinkan masuk ke kelas, namun kemungkinan ia juga akan disuruh pulang pada saat itu juga.


Naury berjalan menuju tempat duduknya. Firasatnya tidak enak. Ia melihat Kirana dengan tatapannya yang tajam, seakan tatapan itu bisa membunuhnya kapan saja.


"Hei Naury! Kau dari mana saja? Aku hampir saja meminta izin kepada guru untuk mencari mu," bisik Kirana dengan nada penuh penekanan kepada Naury sembari menyubit lengan Naury saking geramnya.


"Auu sakit. Iya maaf. Uuuh sepertinya kau mengkhawatirkan." Goda Naury sambil memukul Kirana dengan gemas.


Kirana pun membisu. Ia masih kesal kepada Naury. Ini pertama kalinya Kirana kesal dan nampak khawatir kepada seorang teman. Naury pun melirik kembali Kirana yang mulai mencatat dengan serius mata pelajaran saat ini.


"Kiran, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir kepadaku, tadi itu memang benar-benar mendesak jadi aku telat masuk kelas. Aku kan sudah memberitahumu," ucap Naury dengan nada serius.


"Baiklah, kali ini aku memaafkanmu," sahut Kirana dengan masih fokus mencatat.


***


Kirana gadis tomboy yang memang ia bersekolah disini hanya karena mendapatkan beasiswa. Membuatnya, dipandang sebelah mata oleh teman-temannya dan mungkin mereka menganggapnya tidak ada.


Namun, tidak semua murid seperti itu. Masih ada murid yang peduli kepada Kirana. Salah satunya Angga, teman sekelasnya. Yang menjabat sebagai ketua kelas yang teladan dan disiplin.


Angga Adithama. Selain pintar, ia juga diam-diam menaruh hati kepada Kirana. Masih menjadi misteri kenapa ia suka sama gadis tomboy seperti Kirana. Namun, intinya dia pria yang baik dan juga tidak memilih-milih teman. Ia juga tegas. Karena ketegasannya akan peraturan kelas, tak heran kalau sebagian besar teman-teman membencinya. Bahkan, kebanyakan teman-temannya yang sering melanggar peraturannya di kelas saking kesalnya.


****


kriiing....kriiing....kriiiing!!


Akhirnya bel pulang pun berbunyi. Seperti biasa, murid-murid di kelas bersorak kegirangan.


"Baik anak-anak, pelajaran hari ibu akhiri sampai disini, Ingat minggu depan kalian harus sudah mengumpulkan semua catatan yang ibu berikan!" Titah Guru itu.


"Baik buk..." jawab murid-murid dengan kompak.


Guru itu pun berlalu meninggalkan murid-muridnya yang masih mengemasi buku dan juga alat tulis mereka masing-masing.


"Kiran, kau ke sekolah naik apa?" Tanya Naury sembari mengemasi buku-bukunya yang masih berserakan di atas meja.


"Hhhm.... Aku biasanya naik angkutan umum, tapi lebih sering jalan kaki sih," Kirana dengan cepat menjawab sambil melemparkan senyuman yang dibuat-buat.


"Ooh gitu, kita jalan bareng yuk!" Ajak Naury sambil mengetuk-ngetukan pensilnya di atas meja.


"Aku kira kau membawa mobil atau setidaknya sepeda motor," Ucap Kirana dengan mengkerutkan keningnya tidak percaya.


"Tadi saja aku jalan kaki." Naury memperlihatkan ekspresinya yang datar sembari menatap Kirana.


"Iya iya aku percaya." Jawab Kirana.


Setelah mengemasi barang mereka masing-masing. Kirana dan Naury pun bergegas untuk pulang bersama.


Tiiin...tiiinnn!!


Suara klakson mobil berbunyi tepat dibelakang mereka. Namun, mereka tetap melanjutkan perjalanan mereka tanpa menoleh ke belakang.


Tiiin....tiiiinn...tiiiin!!


Lagi-lagi suara klakson mobil sialan itu mengganggu keseruan mereka ngobrol.


"Kiran, kau tahu apa yang aku tidak suka?" Tanya Naury kepada kirana sambil fokus berjalan.


"Tidak sama sekali!" Jawab Kirana dengan cepat.


"Pertama aku membenci suara kucing yang berisik dan yang kedua aku benci suara klakson mobil, dan sepertinya orang yang di dalam mobil itu memang mencari gara-gara denganku," ucap Naury geram.


Kirana hanya bisa mengangguk sambil tetap fokus berjalan dengan lambat. Ya, Kirana pun sebenarnya sama dengan Naury. Ia sangat geram dengan orang kaya yang sok berkuasa. Terlebih lagi jalanan menuju gerbang sekolah luas. Dan Mereka juga tidak berada di tengah-tengah jalan. Apa salahnya dengan mereka?


Tiiiin...tiiin...tiiiin....tiiiiiiin!!


Oke, emosi mereka sudah diambang batas. Mereka pun berhenti dengan tiba-tiba lalu menoleh ke belakang.


Mobil yang tadinya dibelakang mereka pun maju tepat disamping mereka berdiri. Nampak sebuah mobil mewah berwarna kuning dengan kaca mobil berwarna hitam. Sehingga, orang yang berada di dalamnya tidak terlihat sama sekali.


Naury dan Kirana sudah mengepalkan kedua tanganya disamping badan mereka. Lalu, dibukanya kaca mobil itu oleh pengemudi mobil. Nampak, seorang laki-laki berusia sekitar 25 tahunan dengan mengenakan kemeja putih menatap ke arah mereka.


"Hai gadis-gadis manis. Apa kalian perlu tumpangan?" Tanya laki-laki itu sembari membuka kaca mata hitamnya yang ia kenakan.


Betapa terkejutnya Naury. Seseorang yang tadinya ingin ia bunuh adalah seseorang yang ia kenal. Mata Naury terbelalak. Bagaimana mungkin pria ini ada di sekolahnya?


Bagaimana dengan Kirana? Hmm... Gadis ini masih naik pitam, Ia nampak menatap dengan tatapan membunuhnya kepada laki-laki itu. Tidak peduli kalau usia laki-laki dihadapannya ini berbeda jauh dari umurnya. Ingin rasanya ia memukul, walau sekali saja agar emosinya terlampiaskan.


"Kau?" Tanya Naury yang masih tidak percaya.


Mendengar Naury angkat bicara, membuat Kirana mengurungkan niatnya. Ia pun menoleh ke arah Naury.


"Kau mengenal om-om ini?" bisik Kirana dengan suara keras yang membuat pria itu sedikit tersinggung.


"Gadis zaman sekarang memang kurang ajar semua." gerutu pria itu dalam hati.


Naury hanya menganggukkan kepalanya pelan. Ia masih fokus menatap laki-laki di dalam mobil tepat dihadapannya.


"Kenapa dia disini?" Batin Naury.


Laki-laki itu mengacungkan telunjuknya kehadapan Naury, lalu menguruh Naury mendekatinya.


"Apa dia sepelit itu sampai-sampai kau tidak difasilitasi kendaraan? Ya, setidaknya motor," ucap laki-laki itu menggoda Naury dengan senyuman yang sinis.


Naury pun hanya menghela nafas. Namun, di dalam lubuk hatinya ia terus menerus mengumpat kepada laki-laki itu.


Kirana hanya bisa diam dan membisu. Ia kebingungan dengan situasi saat ini.


"Hhm oke! Bagaimana kalau aku antar kalian ke rumah masing-masing? Ya, hitung-hitung aku tidak ada kerjaan," ucap laki-laki itu menawarkan tumpangan kepada dua gadis malang dihadapannya.


"Oke! Aku terima tawaran bapak," ucap Naury balik menggoda laki-laki itu dengan menjulurkan lidahnya sedikit.


Laki-laki itu menghela nafas dengan kasar, sedangkan Naury tersenyum puas. Dan Kirana, masih kebingungan.


Naury yang melihat temannya kebingungan pun segera menyuruh temannya untuk ikut naik mobil dan berjanji akan menjelaskan semuanya di mobil.


Akhirnya mereka pun memasuki mobil. Kirana dan Naury berada kursi duduk di belakang kemudi.


"Sepertinya aku salah menawari mereka tumpangan. Ini mobilku, tapi kenapa aku merasa menjadi sopir pribadi mereka?" Pekik laki-laki itu dalam hati.