Naury and Black Bird

Naury and Black Bird
New Student



**|| Sekolah Menengah Atas merupakan tempat anak-anak remaja berkumpul untuk mencari Cita dan Cinta. Percaya atau tidak? Begitulah kenyataannya ||** (<^π^>)


®®®*


Seorang gadis remaja, berjalan dengan santainya menuju gerbang sekolah SMA Negeri Kayalan. Gadis itu sudah berpakaian sekolah dengan sangat rapi. Baju putih, serta rok abu-abu yang telah melekat ditubuhnya. Identik dengan jenjang pendidikan Menengah Atas.


Rambut hitam nan panjang, yang diikat satu seperti ekor kuda. Tak luput, ia juga membawa tas, untuk menyimpan berbagai peralatan sekolah miliknya.


"Selamat Pagi, Pak." Dengan senyuman hangat, sehangat mentari pagi. Ia menyapa satpam yang tengah berjaga di pintu gerbang sekolah.


Dengan lesung pipit sebagai pemanis senyumnya. Menambah kesan ramah dan ceria, ketika ia menyapa kedua satpam itu.


Matanya yang sedikit lebar, serta bulu mata yang lentik dan lebat. Ia menatap satpam itu dengan tatapan bersahabat. Tentu, membuat gadis itu terlihat cantik dan disenangi oleh satpam itu. Bahkan, kedua satpam itu langsung melemparkan senyuman lebar mereka kehadapan gadis itu.


Namun, ekspresi wajahnya berubah ketika ia berada di koridor sekolah. Muka yang terlihat datar, dan mata elangnya nampak tidak bersahabat. Mungkin, karena banyak pasang mata melihatnya dengan tatapan sinis.


Para gadis melihatnya dengan tatapan penuh curiga. Dan, tidak sedikit dari mereka menatap dengan tatapan benci. Bahkan, setiap ia melewati para gadis itu, terlihat bahwa mereka sedang berbisik membicarakannya. Baru masuk di sekolah ini, ia sudah menjadi buah bibir seisi sekolah.


Berbanding terbalik dengan para pria yang berpapasan dengannya. Mereka nampak kagum akan kecantikan gadis itu. Namun, mereka tidak berani menyapanya. Mungkin, karena wajahnya dan tatapan tidak bersahabat dari gadis itu, membuat mereka takut untuk mendekatinya, bahkan tak berani bwalau hanya sekedar bertegur sapa.


Setelah lama berjalan di koridor sekolah, gadis itu mulai kebingungan. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri secara bergantian. Seperti mencari sesuatu. Sampai akhirnya, seorang murid melihatnya yang sedang kebingungan. Murid itu menepuk pundak gadis itu dari belakang.


Membuat gadis itu terkejut. Dengan kedipan mata ia menoleh ke belakang. Terlihat seorang gadis berkulit sawo matang dengan rambut pendek memegang pundaknya sambil tersenyum.


"Kau mencari apa?" tanya gadis berambut pendek itu.


"Oh .... Hai!! Aku sedang mencari ruang kepala sekolah," kata gadis itu dengan kebingungan.


"Ooh ... ruang Kepsek rupanya. Sini, aku anterkan kamu ke ruangannya!! Biar aku tebak, kau pasti murid baru, kan?" Gadis berambut pendek itu menerka-nerka.


Mereka pun berjalan menelusuri koridor itu menuju ruang kepala sekolah sambil berbincang-bincang.


"Iya. Aku murid pindahan. Terima kasih sudah mau mengantarku," ucap gadis itu. Sekali lagi, ia melemparkan senyuman manis kepada gadis berambut pendek itu.


"Tidak usah berterima kasih! Ini sudah menjadi kewajibanku untuk menolong sesama. Lagian, ini bukan tugas yang sulit." Ucap gadis berambut pendek.


"Kenalin, namaku Kirana Priantika. Kau bisa panggil aku Kirana atau Kiran. Terserahmu sih mau panggil aku apa. Aku dari kelas XII IPA 1." Ucap Kirana.


"Haii!! Namaku Naury Siffabela, panggil saja aku Naury. Senang berkenalan denganmu." Ucap Naury sambil menjabat tangan Kirana.


"Nah, ini ruangan kepsek!" Ucap Kirana yang berhenti secara tiba-tiba dan menunjuk plang yang beruliskan 'Ruang Kepala Sekolah'.


Naury pun menganggukkan kepalanya beberapa kali. Sekali lagi ia mengucapkan terima kasih kepada Kirana.


Kriiing... kriiing... kriiing!!


Bel sekolah berbunyi. Pertanda bahwa murid-murid harus segera masuk ke kelas mereka masing-masing untuk memulai pelajaran pertama hari ini.


"Hhmm... Naury aku hanya mengantar sampai disini saja, ya. Aku harus segera ke kelas sekarang. Kalau tidak, guru killer itu akan menghukumku," ucap Kirana dengan berbicara terburu-buru.


Kirana pun menyempatkan dirinya untuk memperagakan hukuman yang akan ia akan dapatkan ketika guru itu sudah didalam kelas terlebih dahulu. Dengan satu kakinya dilipat ke belakang dan kedua tangannya disilang dan menarik telinganya sendiri.


Naury yang melihatnya tertawa terbahak-bahak dibuatnya. Kirana pun sama, ia bahkan sangat senang memperlihatkan tingkahnya itu kepada Naury.


"Baiklah. Sekarang, kau harus segera masuk ke kelasmu. Kalau tidak, tingkahmu itu akan menjadi kenyataan. Sepertinya sangat menakutkan dan pasti lelah kalau dihukum seperti itu," ucap Naury dengan terus melepas tawanya.


"Kau benar. Aku masuk ke kelas sekarang juga! Sampai ketemu nanti pas jam istirahat," Kirana segera berlari menuju ke kelasnya sembari melambaikan tangannya kepada Naury.


****


Tok..tok...tok!!


Bunyi ketukan pintu beberapa kali, membuat kepala sekolah yang berada di dalam ruangan itu berteriak, memerintahkan seseorang dibalik pintu untuk masuk ke ruangannya.


Ceklek!!


Knop pintu dibuka dengan sangat hati-hati oleh Naury.


"Permisi Pak!" Tanpa basa-basi Naury masuk dan menghampiri kepala sekolah yang sedang duduk manis di kursi kerjanya.


Kepala Sekolah yang tadinya sibuk dengan koran hariannya, kini telah menatap Naury dengan lekat. Ia melihat Naury dari kaki hingga kepalanya dengan sangat teliti. Seakan mencari tahu bahwa gadis dihadapannya adalah orang yang ia nanti-nanti beberapa hari ini.


"Apa dia orangnya?" Batin Kepala Sekolah dengan mengerutkan keningnya sambil terus menatap Naury dengan tatapan yang cukup dalam.


"Apa kamu murid baru?" Tanya Kepala Sekolah dengan tegasnya.


"Hmm... Iya Pak! Saya Naury Siffabela murid pindahan dari SMA Anak Negeri," ucap Naury meyakinkan Kepala Sekolah.


Mendengar ucapan Naury membuat Kepala sekolah terbelalak. Seakan ia mengetahui sesuatu yang membuatnya terkejut. Lalu, Kepala Sekolah pun Refleks berdiri dan mempersilahkan Naury untuk untuk duduk di sofa dekat meja kerjanya.


"Jadi kamu yang namanya Naury? Ternyata kamu memang gadis yang cantik ya! Baiklah seperti yang dikatakan sebelumnya, kamu akan bersekolah disini. Kamu akan memasuki kelas XII IPA 1!!" Ucap Kepala Sekolah dengan serius.


Naury berpikir sejenak. Ia berpikir mengenai gadis yang ia temui tadi, jadi ia akan Satu kelas dengan anak itu? Apa jadinya jika ia bertemu dengan anak itu nanti? Mengingat ini kali pertama Naury pindah sekolah.


Naury pun hanya menganggukkan kepalanya, menandakan ia mengerti setiap kata yang diucapkan oleh kepala sekolah itu. Ia melihat sekeliling ruangan, terdapat banyak sekali piala-piala berjajar di lemari kaca yang memang disusun rapi menyesuaikan ukuran piala tersebut. Disisi lain, ia juga melihat beberapa foto yang terpajang rapi di dinding. Mungkin, foto itu merupakan foto dari beberapa orang yang pernah menjabat menjadi Kepala Sekolah di sekolah itu.


"Apa ada yang ditanyakan?" ucap Kepala Sekolah itu. Membuat Naury terkejut dan menoleh kepala sekolah itu.


"Eemmm.. Tidak ada Pak," jawab Naury singkat.


"Baiklah. Kalau memang tidak ada yang ditanyakan, saya akan mengantar anda sekarang ke kelas anda," ucap Kepala Sekolah.


Naury hanya mengangguk pelan, ia tidak berbicara sedikitpun kepada kepala sekolah itu.


"Mohon kerja samanya," Kepala Sekolah itu menambahkan perkataannya.


"Baiklah. Semoga tidak ada halangan apapun disini," ucap Naury dengan tatapan seriusnya.


Mereka pun beranjak pergi dari ruang kerja kepala sekolah menuju ke kelas baru Naury.


Di sepanjang koridor sekolah, kepala sekolah tidak hentinya berbicara dan memperkenalkan beberapa tempat kepada Naury.


Sungguh membosankan, ini sudah seperti Karya Wisata bersejarah saja. Naury berharap segera sampai di kelas agar terbebas dari kepala sekolah yang membosankan itu.


Tok...tok...tok!!


Suara ketukan pintu yang sangat pelan. Namun masih bisa didengar oleh orang-orang yang berada di kelas itu, dikarenakan suasana di dalam kelas yang hening dan hanya terdengar suara guru yang sedang menjelaskan pembelajaran saat ini.


Tidak lama setelah mengetuk pintu, seorang guru membukakan pintu kepada mereka berdua. Setelah guru itu berbincang-bincang sedikit kepada kepala sekolah, Naury pun diizinkan untuk masuk ke kelas.


"Apakah dia guru killer yang Kiran maksud?" Ucap Naury dalam hati sembari membuntuti guru itu masuk ke dalam kelas.


Guru itu sangatlah tampan, tidak ada kata killer dari wajah guru itu. Namun, kenapa Kirana bilang dia guru killer?


"Perhatian anak-anak!! Kalian kedatangan murid baru yang cantik. Sekarang, perkenalkan diri kamu!" Ucap Guru itu kepada Naury.


"Hai teman-teman. Perkenalkan nama saya Naury Siffabela, kalian bisa memanggil saya Naury. Senang berkenalan dengan kalian," ucap Naury dengan senyuman hangat yang bersahabat.