
"Dulu aku mempunyai seorang kawan yang sangat baik dan aku juga menyukainya...Aku selalu berfikir persahabatan ku dengannya akan bertahan lama tapi...
Suatu hari ketika aku terlambat pulang ke rumah karena membantu orang tua ku,aku berjalan di gang kecil karena aku pikir akan lebih cepat sampai dirumah jika lewat jalan itu.
Tapi apa yang aku pikirkan ternyata salah dan jauh diluar dugaan, aku diganggu oleh penjahat yang ada disitu.Karena bisa sedikit ilmu bela diri maka aku berhasil lepas dari penjahat itu.Dipersimpangan gang,aku mendengar percakapan antara sahabat ku dan orang yang paling membenci diriku
"Jadi apa rencana mu sudah berhasil"tanya Aimi pada Sisi.
"Yah..aku tidak tahu juga,kita hanya perlu menunggu informasi dari orang suruhan aku itu".
"Benarkah?Tapi apa benar bahwa Miyo bukan manusia".
"Apa kau ragu?"tanya Sisi angkuh
"Tentu saja aku ragu,Miyo adalah sahabat ku".
"Sahabatmu?apa kau yakin berkata seperti itu dan juga jika dia adalah sahabat mu,kamu tidak akan mengkhianatinya seperti ini".
"Berhenti bermuka dua seperti itu".
"Aku tidak....".
"Tidak perlu kau bantah lagi karena kamu memang sudah mengkhianatinya,tunggu saja mayat nya disini!".
"Mayat apa maksudmu?"tanya sisi marah.
"bukankah sudah jelas itu adalah mayat Miyo"balas sisi santai.
"Kau...beraninya kau berkata begitu,aku setuju bekerjasama denganmu karena kamu berkata akan membantu ku memastikan bahwa Miyo adalah manusia".
"Untuk apa kamu berkata begitu,lagipula jika dia tidak mati sekarang.Dia hanya mati beberapa tahun lagi karena akan dikorbankan digua pengorbanan".
"Tidak mungkin"Aimi terduduk.
"Aku mengetahui nya dari orang tuaku".
Saat Miyo sedang mendengar pembicaraan kawannya itu tanpa disadari penjahat itu mendekati Miyo dan membuatnya pingsan.
"Uuh..dimana ini?".
"Kau sudah sadar,baguslah".
"Lepaskan aku! apa yang kalian inginkan!".
"Apa yang akan kita lakukan padanya".
"Hehe..Aku tidak tahu tapi sepertinya dia cantik juga mari bermain bersama dengan kami".
"Tidak..."
Saat itu buku pemberian nenek ku bersinar. Sinar itu sangat menyilaukan sekali hingga semua orang pingsan begitu juga dengan ku.
Ketika aku bangun aku sudah berada di atas kasur di kamarku. Aku segera mencari buku itu namun tidak ditemukan di manapun.
"Jadi,begitulah ceritanya secara singkat".
"Oh begitu,apa kamu tahu kalau aku bisa meramal?".
"Aku?! tentu saja tidak lagipula aku tidak peduli tentang itu dan tidak percaya akan hal seperti itu".
"Benarkah? Kalau menurut ramalan ku kamu akan menemui banyak rintangan".
"Jika itu aku sudah tahu karena jika tidak ada rintangan terkadang hidup terasa membosankan".
"Membosankan?".
"Iya,begitulah.Kalau tanpa tantangan bukankah hidup tidak akan menjadi damai".
"Apa yang kamu katakan,jika tidak ada tantangan maka seseorang tidak akan bisa maju huh..".
"Kalau begitu aku akan menemanimu menghadapi segala tantangan itu. Bagaimana?".
"Tidak perlu karena aku lebih nyaman sendirian daripada ada orang lain bersamaku"
"Benarkah? Bukan kah itu hanya akan menambah beban untuk mu".
"Apa maksudmu? Sudahlah itu tidak penting lagi sekarang aku ingin kamu mengembalikan bukuku!".
"Hey..kamu menuduhku mengambil buku mu?".
"Bukankah itu wajar karena hanya ada kamu sendiri disini".
"Kamu...".
"Apa kamu tidak bisa mengembalikan bukuku".
"Huh..baiklah,aku akan mengatakan yang sebenarnya bahwa..".
"apa?"