
Suatu hari di sebuah desa yang kecil,disana terdapat banyak orang miskin namun meskipun begitu mereka tetap bahagia dengan apa yang mereka miliki.Miyo Hanita adalah seorang anak dari keluarga yang sederhana namun meskipun begitu mereka juga senang membantu sesama.Miyo memiliki seorang kakak dan dua orang adik. Namun kakaknya berada di luar kota sedangkan salah satu adiknya dirawat oleh neneknya didesa tetangga. Karena itu dia sekarang tinggal bersama kedua orang tuanya dan seorang adik laki-lakinya.
Suatu pagi, setelah menyelesaikan semua pekerjaannya Miyo pergi membantu kedua orang tuanya berjualan dipasar. Kemudian dia pun pergi sekolah setelah di izinkan oleh orang tuanya,Tapi dia merasa ada sesuatu yang tidak biasanya hari ini.
"Kenapa ibu memperbolehkannya kesekolah lebih cepat daripada biasanya ya?".Tetapi karena dari awal dia tidak suka memikirkan tentang masalah yang dihadapi,dia hanya menjalani hidupnya dengan memikirkan hal-hal yang positif.Di jalan dia selalu menyapa semua orang yang ditemuinya karena itu dia dijuluki sebagai putri Seira meskipun dia juga tidak tahu arti dari kalimat itu.Saat disekolah karena dia lebih cepat datang daripada kawannya yang lain dia membaca buku pelajaran nya dengan serius.
Sampai seseorang mengejutkannya,
"Wah...Miyo serius banget baca bukunya"kata Aimi sambil menepuk pundaknya tentu saja bukunya jadi terlempar dan mendarat di kepala kawannya yang baru masuk ke kelas.
"Miyo lagi-lagi kamu melemparkan bukumu,apa menurutmu buku itu untuk dibuang!"Kata Hideki kesal pada sikap Miyo.
"Maaf ya,lagipula ini salah Aimi karena sudah mengejutkan aku".
"Ini salah mu dan kamu masih menyalahkan Aimi".Ketika melihat pertengkaran itu, Aimi yang tidak tahan menahan tawanya sehingga diapun tertawa lepas.
"Apa yang kamu tertawakan Aimi?"tanya Miyo kesal.
"Kalian kalau bertengkar lucu juga ya,aku tidak bisa menahan tawaku lagi".
"Aimi!"kata Miyo dan Hideki serentak.
"Wah..kompak ya,"kata Aimi menggoda keduanya.
"Sudah Aimi..aku tidak mau kau goda lagi..", ketika berkata itu tiba-tiba tubuh Miyo terasa sakit sehingga dia hampir jatuh namun karena Aimi menahannya dia tetap bisa bertahan.
"Miyo kamu tidak apa-apa kan?"Tanya Aimi khawatir sedangkan Hideki hanya meletakkan buku Miyo diatas mejanya dan kembali duduk di kursinya.
"Kau yakin?".
" Seratus persen yakin"katanya sambil tersenyum.
"Apa kamu sudah menyelesaikan pekerjaan rumah yang diberikan guru?".
"Pekerjaan rumah yang mana tugas hal lima puluh lima,matematika".
"Aah..aku lupa,bagaimana ini!".
"Kalau begitu bilang saja kepada guru jika kamu melupakan tugas mu".
"Tapi kalau begitu aku akan dimarahi dan diberikan hukuman oleh guru..".
"Itu lebih baik dari pada kamu berbohongkan,lagipula ini adalah yang pertama kali jadi guru mungkin akan memaafkan mu"Balas Miyo lagi.
"Kamu benar,terimakasih aku jadi lebih tenang lagi".
"Tidak perlu,sebaiknya kamu pelajari tugas yang diberikan oleh guru itu".
"Ya".
Setelah itu mereka pun belajar di meja masing-masing, namun karena Miyo sudah bosan, dia pun berjalan keluar untuk menghirup udara segar dan duduk di kursi taman sekolahnya.*Sekolah ini sangat bagus meskipun ada yang lebih bagus dari ini,aku sangat senang.Tetapi kenapa ayah melarangku belajar beladiri padahal aku sangat menyukai beladiri. Ini tidak adil untukku dan apa yang menyebabkan ayah dan ibu bersikap aneh belakangan ini*.