
Anisa mematung sepanjang perjalanan pulang. Pandangannya kosong karena pikirannya sedang sibuk berkelana memutar kejadian yang baru saja terjadi, dia tidak menyangka akan bertemu dengan sosok yang sudah lama tidak ditemuinya. Sosok yang selama ini dilarang untuk ia rindukan.
Buuuum!!!
Brugh!!
Dengan sigap Hans menarik Anisa dan melindunginya dari ledakan. Anisa masih ingat setiap tetesan darah yang keluar dari lengan Hans yang membasahi tubuhnya.
Tes!
Tes!
Tes!
"Are you okay?" Bisik Hans penuh kecemasan kemudian bergegas lari dengan para komplotannya.
"Hanss... Ternyata kamu masih hidup." Gumam Anisa dengan tatapan nanar ke arah telapak tangannya yang terdapat darah Hans yang sudah mengering.
"Huuh," Anisa menghela nafasnya berat lalu membuang pandangannya ke arah luar. Dia tidak menyangka jika akan bertemu dengan teman masa kecilnya yang membuat moodnya kacau dan pikirannya kelut.
Jedug!
Tiba-tiba mobil komando yang sedang di tumpangi Anisa dan teman-teman yang lain berhenti mendadak karena ada kucing yang lewat.
"Shht," Anisa mendesis saat tangannya yang terluka menyentuh tubuh orang lain.
"Makanya jangan ngelamun," Celetuk Zahran yang sejak tadi memperhatikan Anisa.
Anisa hanya melirik sejenak ke arah Zahran, dia tidak punya energi untuk berdebat. Melihat respon Anisa yang biasa saja, Zahran hanya tersenyum samar. Entah kenapa pandangannya sulit untuk dialihkan dari gerak-gerik Anisa yang berhasil mencuri perhatiannya, padahal wanita itu hanya diam melamun. Tapi kenapa bagi Zahran hal itu sangat menarik.
Zahran bersandar dan memejamkan matanya yang sejak tadi asik memperhatikan Anisa. "Tidur-tidur," Gumamnya di dalam hati.
*****
Saat mobil sudah memasuki area parkir seskoad Para Sandra sunda di tunggu oleh keluarganya masing-masing. Mereka saling berpelukan dan menangis haru, kecuali Anisa yang tidak ada satupun yang menunggunya. Wanita itu tersenyum samar dan cepat-cepat turun, langkahnya sedikit terhenti saat melihat ada seorang tentara yang menghampiri dirinya. Namun, saat wajah tentara itu terlihat dia hanya bisa tersenyum kecewa.
"Jangan terlalu berharap Nis," Gumamnya di dalam hati dan melanjutkan langkahnya untuk pergi. Saat ini dia sudah tidak sabar untuk segera pulang ke kosan dan berhibernasi panjang.
Tuk!
Tiba-tiba ujung hijab Anisa ada yang menarik refleks gadis itu berbalik dengan tatapan sinis. "Aduh.. Apaan sih tarik-tarik!" Ucapnya kesal.
Zahran bersilang tangan dan menatap Anisa penuh selidik. "Mau kemana?"
"Mau pulang." Jawab Anisa acuh tak acuh lalu melanjutkan langkahnya.
"Kamu nggak bisa pulang gitu aja, ada beberapa pemeriksaan yang harus kamu lakukan." Ucap Zahran yang berhasil menghentikan langkah Anisa.
Dia menghela nafas panjang lalu berbalik badan untuk menghampiri Zahran. "Huuuh.. Apa aja?"
"Pemeriksaan fisik sama wawancara sedikit." Jawab Zahran merasa kemenangan.
"Nggak mau aku mau pulang," Ucapnya ketus.
"Eh, eh, eh. Ini tangan kamu harus di obati," Tangan Zahran terulur untuk menyentuh lengan Anisa dengan ujung telunjuknya.
"Shttt," Sontak Anisa langsung mendesis.
"Tuh sakit kan. Ayo.."
Akhirnya mau tidak mau Anisa ikut membuntuti Zahran ke tenda kesehatan. Dari kejauhan gadis itu melihat ada tentara wanita yang berlari tergesa-gesa ke arah mereka.
Drap!
Drap!
Drap!
"Zahran.. Kamu baik-baik aja kan?" Ucap Wanita itu penuh kekhawatiran.
Zahran tersenyum samar kemudian melepaskan tangannya dari hijab Anisa, lalu memberikan hormat pada seorang wanita yang menghampirinya.
Anisa memperhatikan dua sejoli ini secara bergantian, jika diperhatikan lebih jelas terlihat raut yang memancar dari Tentara wanita itu, raut kekhawatiran dan kecewa atas jawaban Zahran.
"Ikut aku," Ucapnya dingin kepada Anisa.
Anisa mengangguk lalu mengikuti ke dalam tenda posko, dokter tentara itu mengobatinya dengan telaten. "Dokter Aira," Gumam Anisa saat melihat bet di baju seragamnya.
"Kamu kenal Kapten Zahran?"
Anisa sedikit menautkan alisnya atas pertanyaan yang tiba-tiba itu, ia berpikir sejenak kemudian menjawab. "Mmm.. Tidak terlalu."
Dokter itu mengangguk paham. "Ada yang luka lagi?"
"Nggak. Makasih Kak," Anisa menggeleng pelan.
"Lekas sembuh, jangan lupa minum obatnya. Lanjut ke ruangan itu ya." Ucap Aira sambil memberikan satu kantung obat.
"Baik Kak." Ucap Anisa spontan.
*****
Setelah selesai introgasi yang membuat kepalanya pening, akhirnya dia bisa keluar juga. Terlihat dari sebrang sana Zahran sedang duduk dengan tangan yang setia memegang botol air seperti sedang menunggu orang. Awalnya Anisa ingin melipir saja dan cepat pulang tanpa menyapa tentara yang sedang melamun, namun baru satu langkah ia hendak kabur. Hati nuraninya tergerak untuk mengucapkan terimakasih kepada Zahran.
"Udah beres?" Tanya Zahran saat mendengar langkah Anisa yang mendekatinya.
"Iya. Aku mau pulang ke kosan." Anisa mengangguk.
Zahran memperhatikan sekeliling "Sendirian?"
"Iya." Jawab Anisa singkat seperti biasanya.
Zahran langsung bangkit dari duduknya dan menatap Anisa lekat-lekat. "Naik angkot aja."
"Nggak usah." Jawab Anisa tegas yang langsung diangguki Zahran.
Jujur saja hati Zahran sedikit kecewa karena niatan baiknya tidak diterima dengan baik, air mineral yang awalnya akan diberikannya pada Anisa dimasukan ke dalam kantung celananya. Sepertinya dia sudah terlalu lelah dan lebih baik jika beristirahat di ruangan tanpa mengganggu orang yang sudah sangat jelas tidak menginginkan kehadirannya. Zahran bangkit dan hendak berjalan meninggalkan Anisa.
Anisa sedikit tertegun saat melihat raut kelelahan sekaligus kecewa yang Zahran tampilkan. "Mmm.. Makasih." Ucap Anisa pelan yang berhasil menghentikan langkah Zahran.
Zahran berbalik menghadap Anisa. "Untuk?"
"Sudah menyelamatkan semua sandra," Jawab Anisa dengan sedikit gengsi.
Zahran membuang pandangannya kemudian tersenyum samar, entah sejak kapan harga dirinya menjadi rendahan seperti ini. Diucapkan terimakasih saja moodnya sudah membaik. "Baiklah sama-sama. Tunggu dulu disini," Zahran langsung berlari dengan semangat.
Anisa sedikit keheranan melihat perubahan raut Zahran. "Iyaaa..." Teriaknya pada Zahran yang sudah berlari entah mau kemana.
Tak lama dari itu Zahran datang sambil mengendarai sepeda dengan seragamnya yang sudah lengkap. "Ayo.."
Anisa mematung dengan kedua mata yang membulat sempurna. "Sepeda?"
"Iya ayo naik, biar ku antar." Ucap Zahran penuh semangat.
Anisa bergedik ngeri kemudian bangkit dari duduknya. "Nggak usah."
"Ayo naik, anggap aja tumpangan dari tetangga. Emang kamu mau pulang sendirian dengan keadaan kaya gitu?" Ucap Zahran dengan tatapan menelisik penampilan Anisa. "Atau mau naik mobil lagi kaya yang lain?"
Anisa ikut memperhatikan penampilannya yang lusuh. "Nggak usah. Naik sepeda aja."
Zahran tersenyum penuh kemenangan. "Yaudah buruan." Dengan sedikit ragu Anisa berjalan menghampiri Zahran kemudian duduk manis di kursi penumpang.
*******
Hallo Readers, author berencana untuk melanjutkan kisah ini yang awalnya hiatus, jangan bosan untuk melanjutkan kisah Zahran dan Anisa yang tentunya akan semakin seru.
Salam Aksara 🤗.
"Cerita ini hanya fiktip belaka dan tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan nyata."
ig author : denisa_sahara