
Saat keempat pria itu sedang sibuk tertawa dan bercengkrama bahagia, Anisa hanya diam dengan pikirannya sendiri. Awalnya Anisa menyangka jika kehadiran Zahran adalah anugrah untuknya agar bisa keluar dari tempat ini. Tapi melihatnya bersikap konyol dan tidak masuk akal membuat harapan Anisa hancur berkeping-keping.
"Jahat banget sih si Adit, waktu itu gue baru makan tulangnya satu. Dia udah habisin kerupuk seblak nya!" Ucap Ezra dengan penuh kekesalan.
"Itu mah salah lo, makan lebih lelet daripada siput!" Adit tidak menerima jika di sebut rakus.
"Eh, yang harusnya mikir itu lo, makan kaya lomba lari maraton. Heran gue, nggak mau lagi makan sama lo!"
"Asal lo tahu, waktu adalah emas!"
"Emas sih emas, tapi jangan ngabisin jatah gue juga kali!"
Adit dan Ezra sibuk mendebatkan kecepatan makan mereka, Ezra tukang makan yang lelet seperti siput dan Adit yang makannya cepat seperti Cheetah.
"Hahahaha," Zahran dan Aiden terkekeh melihat perdebatan Adit dan Ezra.
Anisa memperhatikan baju lengan Zahran yang pendek sebelah, ia baru sadar tenyata kain yang terlilit di lengannya berasal dari baju Zahran. Tapi, bagaimana bisa dia melakukan itu semua padahal tangan dan kakinya di ikat.
Srat!. Tirai di buka.
Beberapa pria berperawakan tinggi menghampiri Anisa.
"Bagaimana keadaanmu Nona?" tanya seorang pria yang berjongkok di depan Anisa.
Anisa tidak menjawab dan sibuk memainkan jari tangannya.
"Jawab!" Bentak pria yang bernama Daniel.
"Cepat telpon orang tua mu!. Kamu anak Jendral, Kopral, Mayor atau apa?! Pokoknya cepat hubungi mereka semua!" Pria itu semakin kesal karena Anisa sama sekali mengabaikan kehadirannya.
Dari kejauhan Zahran memperhatikan setiap gerak derik Daniel, jika dia melakukan hal yang tidak senonoh kepada Anisa. Zahran tidak akan segan-segan untuk memberinya pelajaran.
"Mengurungku di sini tidak akan memberikan keuntungan untukmu, aku bukan berasal dari keluarga militer. Bahkan keluargaku tidak akan melakukan apapun meski mereka tahu aku ada di sini!" ucap Anisa dingin.
"Baiklah kalau begitu aku yang akan menelpon mereka!" Daniel mengeluarkan ponsel milik Anisa.
Daniel mendekati Anisa dan berbisik.
"Melihat identitas mu yang sulit di deteksi sepertinya kamu adalah anak orang yang sangat berpengaruh!"
"Terserah, silahkan berasumsi semau anda!. Mengurungku dan pria bodoh di sana tidak akan menguntungkan mu sedikitpun!" Anisa menatap Daniel dengan tatapan meremehkan.
"Yang aku ingat sekarang, hanya nomor rumah sakit jiwa. Aku ingin melaporkan di sini banyak sekali orang yang kurang waras yang menculik manusia-manusia tidak bersalah," Lanjutnya.
"Lihat saja nanti!" Ucap Daniel dengan seringai liciknya.
Daniel mengutak-atik ponsel Anisa dan menghubungi ayahnya.
Drrrt, drrrt, drrrt. Panggilan tersambung, terlihat seorang pria yang memakai kaos santai di sebrang sana.
"Halo!, selamat malam tuan dan nyonya saya ingin memberitahukan bahwa anak anda sekarang sudah tewas!" Ucap Daniel penuh drama.
Namun, Hening tidak ada jawaban apapun dari ayah Anisa.
"Wah, sepertinya orang tua mu tidak memperdulikan mu Nona."
Anisa tidak menjawab pertanyaan Daniel, matanya fokus melihat ayahnya dengan tatapan sendu. Tidak ada kata yang terlontarkan dari sepasang keluarga ini. Mereka hanya saling tatap seperti menyalurkan kerinduan.
Tut!. Ayah Anisa mematikan panggilannya sepihak.
"Wo, wo, wo!. Aku belum pernah melihat ada orang tua yang tidak memperdulikan anaknya seperti ini. Lebih baik kamu tinggal di sini sebagai pelayan ku, pulang pun kamu tidak akan mendapatkan kasih sayang manis."
"Silahkan sesukamu manusia bodoh. Sudah ku bilang, menyekap ku di sini adalah kesalahan terbesarmu dalam hidup!" ucap Anisa masa bodoh.
"Bawa wanita ini untuk bertemu Bos!" ucap Daniel memerintahkan anak buahnya.
Anisa di tarik secara paksa, ingin sekali Zahran memukul mereka yang sudah berani-beraninya menyentuh Anisa. Tapi untuk sekarang hal itu bukanlah yang terbaik.
******
Seorang pria yang cukup berumur termenung di meja kerjanya.
"Saya sudah kirimkan lokasinya, berikanlah yang terbaik untuk menyelamatkan semua sandra!" ucapnya dengan ketenangan.
Srek!. Pria itu membuka laci kerjanya dan menatap sebuah pigura keluarga.
"Maafkan Abi Nis," Gumamnya pelan.
********
Bruuk!.
Tubuh Anisa di lempar ke tanah.
"Keluar!" ucapnya tidak ingin di ganggu.
"Hai Anisa, teman masa kecilku?" Ucap Hans mendekat ke Anisa.
"Hans!" Ucap Anisa kaget di dalam hati.
"Sepertinya orang-orang belum tahu siapa kamu sebenarnya, benarkan?" Tanya Hans seramah mungkin.
"Aku tidak menjamin kamu masih bisa hidup di hari esok, aku akan memberikan kesempatan kepada keluargamu agar mereka bisa melihatmu. Mungkin untuk terakhir kalinya."
"Aku akan menghubungi mereka!"
"Anak buah mu sudah melakukan hal itu. Kenapa kamu masih belum berubah, Hans?" Anisa memandang Hans dengan tatapan sendu.
Hans hanya tersenyum dan menatap Anisa lekat-lekat.
"Kamu tidak lelah hidup seperti itu?" Ucap Anisa lemas.
"Kamu tidak usah memperdulikan ku Anisa. Pikirkan hidupmu yang berada di ambang kematian!. Bukankah keluargamu tidak mengharapkan mu?. Bergabunglah denganku Nis," Hans duduk di samping Anisa.
Mereka seperti sahabat lama yang sudah lama tidak bertemu. Hans memperhatikan penampilan Anisa yang sangat acak-acakan. Ada beberapa luka di sekitar tangan dan wajahnya.
"Kamu salah besar Hans, keluargaku sangat menyayangiku lebih dari kasih sayangnya pada diri mereka sendiri."
Hans memberikan minum kepada Anisa. Anisa terdiam dan memperhatikan segelas air yang di berikan oleh Hans.
"Minumlah, aku tidak meracuni mu!"
Anisa mengambil segelas air dengan tangan yang bergetar, dan langsung meminumnya dengan air mata yang mengalir.
"Nis," gumam Hans di dalam hati penuh kerinduan.
Mereka bukan seperti seorang tawanan dan penjahat, melainkan seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu.
*Hening, tidak ada percakapan.
Buuuum!.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan dari luar.
Brugh!.
Dengan refleks Hans melindungi Anisa dari ledakan yang tiba-tiba.
Srak!.
"Gawat Bos, kita di kepung!" ucap anak buahnya dari saluran komunikasi rahasia mereka.
Hans bergegas keluar dan melihat apa yang benar-benar terjadi.
"Hah, hah, hah." Suara deru napas Anisa yang tidak beraturan.
Suara ricuh dari luar saling bersautan.
Drap, drap, drap.
Anisa mendengar suara langkah seseorang yang semakin jelas.
"Mari kita pulang!" ucap seorang pria yang berdiri menjulang di samping Anisa.
"Zahran?"
"Saya Zahran Abqary Zhafar, meminta bantuan mu untuk membantu sandra yang lainnya." Ucap Zahran serius.
********
Anisa mematung sepanjang perjalanan pulang menuju barak. Semua.
*****
Hallo Readers jangan bosan untuk melanjutkan kisah Zahran dan Anisa yang tentunya akan semakin seru.
Salam Aksara 🤗.
"Cerita ini hanya fiktip belaka dan tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan nyata."
Follow Ig untuk visualisasi tokoh : @itsme_d43604
ig author : denisa_sahara