
"Hosh, hosh, hosh." Suara tarikan napas seorang perempuan yang dikerjai habis-habisan oleh Abangnya sendiri. Dengan teganya Haikal mengajak Anisa berjalan sekitar 3KM dengan barang bawaan yang cukup banyak.
Anisa melirik Haikal yang sedang membuka gembok gerbang kostan yang sekarang akan ia tempati.
"Kamar aku yang mana?" Anisa berjalan mengikuti Haikal menelusuri lorong kostan.
"Sabar-sabar!" Haikal tidak menjawab pertanyaan Anisa dan terus berjalan dengan tangan menggusur koper milik adiknya.
"Masa nanya aja nggak boleh sih!" Anisa memasang wajah cemberut.
"Ini kamar kamu, jangan nakal!" Ucap Haikal dan menunjuk pintu yang ada tulisan E.
Ceklek, Ceklek. Haikal membuka kamar Anisa.
"Hmm, ayo cepetan masuk. Panas!" Haikal menarik tangan Anisa untuk segera masuk ke dalam kamar.
"Bang?" Anisa duduk di atas kasur sambil memperhatikan Haikal yang sedang mengeluarkan pakaian miliknya.
"Hmm," gumam Haikal sebagai jawaban.
"Kenapa abi nggak nganter aku," ucap Anisa dengan penuh kekecewaan. Bagi seorang anak diantar oleh orang tua saat akan masuk kuliah bukanlah hal yang luar biasa, rata-rata orang tua di luar sana akan mengantar anaknya dan mencarikan kostan yang teebaik dan teraman untuk anaknya tempati. Tapi tidak untuk Anisa, hal sederhana bagi orang lain itu tidak bisa Anisa rasakan.
"Nggak usah cengeng, Abi sibuk Dek." Haikal tidak ingin terlalu memanjakan adiknya yang sudah cengeng dari lahir.
"Hmm, padahal Anisa mau dianter Abi." Anisa menghela napasnya pelan.
Haikal menghentikan aktivitasnya dan menghampiri Anisa yang sedang menundukkan kepalanya penuh kekecewaan. Haikal meraih tangan Anisa untuk menyalurkan kekuatan.
"Nis, udah jangan melow kaya gini. Abi udah nitipin kamu ke abang. Ini kosan juga pilihan Abi. Insyaallah, Abi nggak mungkin membiarkan anaknya tinggal di lingkungan yang nggak nyaman dan aman. Kamu juga tahu kan, Abi selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kita?" ucap Haikal berusaha menyadarkan adiknya dari kesedihan.
"Hmm, makasih Bang." Anisa berusaha untuk tersenyum dan menatap Haikal untuk memberikan isyarat jika ia sudah baik-baik saja.
"Ayo cepetan bersih-bersihnya. Abang masih banyak urusan, mau cari uang buat jajan seblak." Haikal mengelus-elus kepala Anisa yang tertutupi hijab.
"Buruan-buruan, bantuin!" ucap Anisa sambil merengek. Haikal tersenyum bahagia saat melihat Anisa sudah kembali cerewet seperti sedia kala.
*****
Anisa melakukan kebiasaan rutinnya yaitu tadarus Al-Quran sesudah sholat Maghrib dan Isya. Biasanya ia akan tadarus Al-Quran sampai jam sembilan atau sepuluh malam, tergantung waktu luang dan kesibukannya.
Anisa membaca Al-Quran sambil bersandar di pintu kamar, biasanya ia akan tadarusan di atas kasur. Tapi untuk hari ini Anisa tidak mengerti rasanya sangat nyaman lesehan di lantai. Mungkin karena cuaca yang sedikit panas menyebabkan Anisa nyaman berdiam diri di atas lantai yang cukup dingin.
Cekrek-cekrek.
Seorang pria berseragam loreng khas TNI dengan santai membuka gembok gerbang kostan.
"Huh, akhirnya pulang!"
Sudah menjadi peraturan tersendiri bagi para penghuni kostan. Mereka harus menggembok gerbang jika akan masuk atau keluar dari kostan. Jika ada yang melanggar, maka mereka harus bersiap-siap menerima omelan Ibu Kost selama 3hari berturut-turut.
Tidak seperti seorang tentara pada umumnya, Zahran tidak tidur di Asrama melainkan di sebuah kostan yang cukup dekat dengan Markasnya. Bukan tanpa alasan, Zahran melakukan itu semua karena di perintah oleh atasannya. Walaupun sebenarnya ia sendiri tidak tahu alasan di balik mengapa ia tidak bisa tidur di asrama.
Zahran berjalan dengan santai santai di lorong, badannya terasa kaku dan pegal-pegal. Hampir satu minggu ia tidak bisa tidur dan sibuk kebagian jadwal jaga di markasnya.
Lantunan ayat suci Al-Quran yang sudah lama tidak terdengar dari kostan sederhana ini, melantun dengan penuh ketenangan merasuk kedalam hati Zahran yang terdalam.
Zahran melangkahkan kakinya dengan perlahan, mencari sumber suara yang menenangkan hatinya itu. Langkah Zahran terhenti di depan pintu kamar E yang awalnya tidak berpenghuni.
"Ternyata kamar ini sekarang sudah memiliki penghuni," gumam Zahran di dalam hati.
Rasanya tubuh Zahran sulit untuk digerakkan, kakinya tidak ingin melangkah dari depan pintu kostan seorang perempuan yang berhasil mendamaikan perasaannya.
Zahran bersandar di pintu kamar E, ia masih mendengarkan setiap lantunan ayat suci Al-Quran yang berhasil menenangkan hatinya. Tanpa ia sadari kakinya luruh begitu saja ke lantai. Rasa lelahnya terasa terangkat begitu saja.
Sekitar satu minggu Zahran tidak bisa tidur karena rekannya ada yang gugur di medan tugas, bagi tentara hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Pertemuan mereka dengan rekan seperjuangannya kapanpun bisa menjadi pertemuan terakhir untuk esok hari. Tentara juga manusia tidak ada yang baik-baik saja jika di tinggalkan oleh sahabat dan rekan seperjuangan. Walaupun secara lahiriah mereka terlihat baik-baik saja. Tapi hati seseorang tidak ada yang tahu.
Dengan lantunan ayat suci Al-Quran akhirnya Zahran mendapatkan ketenangannya kembali. Dengan perlahan Zahran menutup matanya dengan tenang, tidak mengenal tempat dan waktu. Zahran tertidur dengan posisi duduk dengan punggung bersandar pada pintu kamar milik seorang perempuan yang tidak ia kenal.
******
Anisa melihat pantulan tubuhnya di cermin, penampilannya sudah cukup rapih dan sesuai untuk pergi ke kampus. Ini adalah hari pertamanya sebagai Mahasiswa setelah mengikuti rangkaian acara ospek beberapa minggu yang lalu.
"Hamasah!" Teriak Anisa pelan menyemangati dirinya sendiri.
Dengan percaya diri Anisa membuka handle pintu.
Ceklek. Anisa membuka pintu dengan perlahan.
Brug. Saat pintu terbuka seorang Pria yang bersandar tergeletak tepat di bawah tubuh Anisa. Anisa mematung melihat Pria berseragam TNI meringkuk di pintu kamarnya.
"Aaa!" Saat sudah mendapatkan kesadarannya kembali, Anisa berteriak histeris melihat keberadaan seorang pria asing yang masih asik tertidur pulas di lantai kamarnya.
Teriakan Anisa yang melengking membangunkan Zahran dari alam mimpinya. Zahran mengucek matanya, dengan perlahan matanya terbuka. Remang-remang Zahran seperti melihat seorang wanita berhijab tepat di atas kepalanya.
Zahran tersenyum sepertinya semesta sedang berbaik hati kepadanya dan memperlihatkan bidadari surga kepadanya di pagi hari. Zahran tersenyum kepada Anisa yang jelas-jelas sedang mematung kebingungan dengan kehadiran Zahran. Anisa mematung melihat Pria aneh yang tersenyum ke arahnya.
Anisa bergegas membawa air dari dispenser, dan memenuhi gelas miliknya dengan Air. Zahran tersenyum sambil memperhatikan bidadari yang sedang melayaninya. Anisa bergegas menghampiri Zahran kembali.
Byuuuuur. Bukannya memberikan Zahran minum, Anisa tanpa ragu Anisa malah menyiram pria aneh dihadapannya.
"Anda siapa?!" tanya Anisa ketus.
*****
Hallo Readers jangan bosan untuk melanjutkan kisah Zahran dan Anisa yang tentunya akan semakin seru.
Salam Aksara 🤗.
"Cerita ini hanya fiktip belaka dan tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan nyata."
Follow Ig untuk visualisasi tokoh : @itsme_d43604
ig author : denisa_sahara