My Neighbord Is My Soldier

My Neighbord Is My Soldier
Mencari Pasar Pengerat



Anisa sedang asik bermalas-malasan di kamarnya. Karena hari ini tidak ada jadwal kuliah, Anisa memanfaatkan waktu luangnya untuk menonton Drama Korea, kebiasaan lamanya yang sempat terhenti karena di larang oleh Abangnya.


Berjauhan dengan Abangnya membuat Anisa bahagia, sekarang tidak ada lagi yang melarang-larangnya melakukan sesuatu yang ia sukai.


Tok, tok, tok. Suara pintu kamar Anisa di ketuk.


Dengan tidak rela Anisa menjeda videonya, dan turun dari ranjang untuk membuka pintu.


Ceklek. Anisa membuka pintu.


Anisa melirik ke kanan dan ke kiri, mencari-cari orang yang mengetuk pintunya tapi ia tidak menemukan siapapun.


Anisa menghela napasnya kesal dan menutup kembali pintu kamarnya. Namun, sebelum ia menutup pintunya. Anisa melihat ada sebuah kantong plastik yang tergeletak di lantai tepat di depan pintu kamar Anisa.


Anisa membungkukkan badannya dan melihat penasaran kantong plastik itu.


"Surat?" Anisa melihat ada sebuh surat yang di dekat plastik itu.


To : Anisa.


Anisa geleng-geleng kepala dan membuka surat itu penasaran. Anisa membuka surat itu tanpa berpikir panjang, Anisa kira orang yang mengirim surat ini adalah abangnya.


"Hai Anisa, salam hangat dari kamar G. Ini ada beberapa makanan ringan. Kamu makan ya?. Anggap saja sebagai permintaan maaf ku karena terus-terusan mengganggumu." Anisa berdiri dan mencari-cari keberadaan Zahran. Bukan Zahran jika tidak bisa bersembunyi dengan cepat.


Anisa menghela napasnya dan mengambil kantung plastik ke dalam kamar. Anisa mencari-cari kertas, pulpen dan solatip. Anisa bergegas ke depan pintu kamar G dan menempelkan sebuah kertas ke pintu.


[Terimakasih ^_^] tulisan yang tertampil di kertas.


Anisa menutup pintu kamarnya pelan, ada sedikit senyuman yang menghiasi wajahnya. Anisa melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Acara menontonnya menjadi sedikit lebih baik karena di temani oleh cemilan-cemilan yang dikirim oleh Zahran.


*****


Ceklek.


Zahran mengintip ke luar pintu untuk memastikan kantung plastiknya sudah diambil oleh Anisa. Zahran tersenyum bangga ternyata Anisa yang super jutek itu menerima barang pemberiannya. Kamar kost yang biasanya sangat membosankan entah kenapa berubah menjadi menyenangkan.


"Yes, yes, yes." Ucap Zahran pelan dengan tangan mengepal didepan Dada.


******


"Allah hu Akbar, Allah hu Akbar," Lantunan Adzan maghrib terdengar dari luar.


Anisa mengambil wudhu dan menggelarkan sajadah untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.


"Allahu Akbar." Anisa melaksanakan sholat dengan khusyuk.


Setelah selesai sholat Anisa menengadahkan kedua tangannya untuk berdoa kepada yang maha kuasa.


"Aamiin." Anisa mengusap wajahnya.


Anisa menempelkan punggungnya ke pintu untuk bersandar. Dengan perlahan Anisa membuka Al-Quran dan membacanya dengan suara pelan.


Dari kamar yang tidak terlalu jauh dari Anisa, Zahran mengucap salam sebagai tanda jika ia sudah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang Muslim. Awalnya Zahran akan Sholat di mesjid tapi sayangnya ia harus melakukan tugasnya yang waktunya sangat dekat dengan waktu Sholat.


Zahran melipat sajadahnya. Dengan sigap Zahran mengganti bajunya dengan sebuah seragam lorengnya. Bajunya ia lipat sampai siku, lencana yang sudah ia dapatkan ia pasang satu persatu.


Zahran menyisir rambutnya dengan pelan, dan menutupinya dengan baret berwarna merah. Zahran tersenyum di depan cermin. Zahran membuka kembali baretnya dan menyelipkan ke pundaknya.


Ceklek.


Zahran keluar kamar dan berjalan santai. Ia mengehentikan langkahnya dan menatap pintu kamar milik Anisa.


"Tunggu aku pulang ya, Nis." Gumam Zahran di dalam hati dan melanjutkan langkahnya untuk pergi.


******


"Disini ko sepi banget ya, Nis?" Ucap Rara sambil berguling-guling di kasur.


Saat ini Anisa sedang menonton bersama bersama Rara, yang sama-sama menyukai drama korea.


"Aku juga nggak tahu, sama yang punya kostan aja aku belum ketemu Ra."


"Yang bener?. Terus kamu sendirian dong di bangunan ini?"


"Nggak. Kamar G ada yang ngisi."


"Pernah ketemu?"


"Pernah, dia Tentara."


"Apa?!. Fix gue harus pindah ke kostan ini."


"Lebay deh ah."


"Pokoknya gue mau kenalan sama tetangga kamu itu. Kan aku udah pernah bilang Nis sama kamu. Kalo aku mau nikah sama tentara modelan Kapten Yoo Si Jin kaya di film Descendants Of The Sun."


"No no no. Kapten Yoo punya aku, jangan ngaku-ngaku."


"Mending kamu sama Kakak aku aja deh, dia juga tentara."


"Jangan ngomong gitu Nis, jodoh nggak ada yang tahu."


"Aku emang nggak suka Ra sama Tentara, aku nonton drakor yang ada Tentara-Tentaranya, biar aku nggak terlalu benci sama mereka."


Anisa menghela napasnya pelan, lalu duduk di kasur. Moodnya untuk menonton tiba-tiba menguap begitu saja. Membicarakan soal Tentara adalah hal yang sensitif bagi dirinya.


"Benci?, loh ko benci sih Nis?" Tanya Rara penasaran.


Biasanya seorang wanita akan sangat mengagumi yang memakai seragam dan memiliki jabatan. Apalagi Tentara adalah orang-orang yang terhormat dan berjasa bagi Negara.


"Hmm, entahlah bawaannya kesel terus." Anisa memberikan alasan. Ia belum terlalu terbuka untuk menceritakan masalah pribadinya kepada orang lain.


"Jangan gitu Nis, nggak baik tau."


"Iya Ra, aku juga tahu. Makanya sekarang aku lagi berusaha."


"Siapa tahu orang yang di kamar G, bisa buat kamu nggak benci lagi sama Tentara."


Rara mengerjap-ngerjap matanya dan menggoda Anisa.


"Entahlah, jangan bawa-bawa nama orang ah, nggak enak."


Rara mengeluarkan ponselnya, tiba-tibawajah Rara berubah menjadi suram.


"Temenin aku ke pasar yu?" Rara bangun dari tidurnya dan bersiap-siap pergi ke suatu tempat.


"Boleh, mau beli apa?" Tanya Anisa sambil memperhatikan temannya yang sedang sibuk akan pergi.


"Mau ketemuan. Beberapa minggu ini ada yang wa aku terus-terusan. Katanya dia kenal sama aku, terus ngajak ketemuan di pasar." Rara memijat kepalanya, rasanya seperti ada burung yang berputar-putar di area sana.


"Serem Ra, jangan gampang percaya sama modus penjahat zaman sekarang. Modusnya Pada aneh-aneh. Kalo kamu nggak tahu yaudah jangan di respon," Ucap Anisa berusaha menasehati Rara.


"Iya makanya aku ngajak kamu juga takut ada apa-apa. Dia bawa-bawa nama ayah aku Ra, aku jadi penasaran. Temenin ya?, ayo dong aku nggak mau sendirian." Rara memegang tangan Anisa dan berusaha membujuknya.


"Bahaya Rara. Kamu bilang dulu ke ayah kamu. Block aja orang nggak jelas kaya gitu." Anisa masih tidak bisa di rayu. Walaupun bukan wanita yang dewasa, tapi Anisa masih mempunyai prinsip tersendiri dalam memecahkan masalah.


"Nggak gitu Nis, katanya dia tahu rahasia terbesar ayah aku."


"Apasih Ra, itu mah modus penjahat zaman sekarang." Anisa memalingkan wajahnya dan kembali menonton. Anisa tidak setuju untuk pergi ke sana, hatinya berkata jika itu adalah tempat berbahaya.


"Nggak bisa gitu Nis, aku takut kalo ayah aku selingkuh di belakang Mama aku. Bisa aja dia ngasih informasi."


Anisa kehabisan kata-kata mendengar ucapan polos Rara. Anisa kira rahasia itu berbau-bau pekerjaan atau misi bukan masalah percintaan.


"Otak kamu tuh, udah kepenuhan sama yang aneh-aneh." Ucap Anisa kesal karena merasa dibodohi.


"Jangan gitu Nis, temenin aku ya?. Kan kita ketemuannya di pasar, nanti pas udah beres kita sambil belanja aja." Ucap Rara yang masih setia membujuk Anisa.


"Iya-iya. Nama pasarnya apa?" Mau tidak mau Anisa bangkit dari tidurnya dan menatap Rara penasaran.


"Pasar Pengerat!"


"Pengerat?" Gumam Anisa bertanya-tanya di dalam hati. Rasanya Anisa baru pertama kali mendengar nama pasar itu.


*****


Zahran berdiri tegap dengan beberapa orang di sampingnya menunggu misi penting dari atasannya.


"Saya tugaskan kalian untuk melakukan misi rahasia. Ada segerombolan ******* yang berhasil mengelabuhi kita, mereka menggunakan modus melalui pesan online untuk merekrut anak buahnya. Dan hanya target mereka saja yang tahu tempat itu berada, tapi untungnya lokasinya sekarang sudah terlacak. Yang meresahkan adalah, mereka menjadikan keluarga sebagai targetnya."


"Ada sekitar 10 sandara di sana. Tugas kalian adalah menyamar dan mencari informasi tentang motif mereka yang sesungguhnya. Fokus kita saat ini adalah menyelamatkan sandra dengan selamat."


"Baik komandan!" Ucap Zahran bersama rekan-rekannya.


"Kita harus bergerak cepat agar korban tidak bertambah lagi. Apa kalian paham?"


"Paham komandan!"


"Zahran, Riyan, Marsel dan Guntur. Saya tugaskan kalian untuk melakukan misi rahasia ini. Apakah kalian siap?!"


"Siap komandan!"


"Tempat misterius para ******* itu, di kenal sebagai Pasar Pengerat!"


"Komando!"


*****


Hallo Readers jangan bosan untuk melanjutkan kisah Zahran dan Anisa yang tentunya akan semakin seru.


Salam Aksara 🤗.


"Cerita ini hanya fiktip belaka dan tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan nyata."


Follow Ig untuk visualisasi tokoh : @itsme_d43604


ig author : denisa_sahara