My Neighbord Is My Soldier

My Neighbord Is My Soldier
Tersesat di hutan



Anisa dan Rara turun dari angkot yang mengantarkan mereka ke tempat tujuan. Mereka menatap sekelilingnya heran, kenapa di sini bukan pasar melainkan hutan yang begitu luas. Pantas saja supir angkot tadi tidak tahu apa-apa.


"Ra serius di sini?" Tanya Anisa penasaran.


"Iya di GPS, lokasinya di sini Nis." Sebenarnya Rara ragu tapi ponselnya dengan jelas menunjukan jika tempat ini adalah satu-satunya jalan menuju pasar.


"Masa sih, ini hutan Ra bukan pasar. Kita pulang sekarang." Perasaan Anisa mengatakan jika mereka berada di tempat yang berbahaya.


"Eh Nis Nis, kan kita baru nyampe masa langsung pulang sih."


"Ra!. Disini berbahaya, jauh dari pemukiman. Kenapa kamu nggak percaya sama ayah kamu dan melakukan hal nekat kaya gini?!" Ucap Anisa jengah.


Rara menghela napasnya lirih dan menatap Anisa lekat-lekat.


"Nis, aku udah capek curiga sama Ayah selama ini. Kadang kalo dia pulang malem aku nggak pernah tenang dan mikir yang nggak-nggak sama Ayah. Kamu nggak pernah tahu rasanya curiga sama orang yang kita sayangi. Rasanya sakit banget Nis."


Anisa mematung mendengar ucapan Rara. Salah Satu hal yang paling menyesakkan di dunia ini adalah tidak percaya dengan orang yang kita sayangi. Anisa sangat tahu bagaimana perasaan yang sangat menyebalkan itu.


"Ra," panggil Anisa lirih saat melihat wajah Rara yang semakin berkaca-kaca.


"Aku lelah nuduh Ayah selingkuh di luar sana, aku lelah nuduh Ayah mengkhianati Ibu dan kami semua. Aku lelah Nis. Aku cuma mau percaya sama ayahku lagi."


"Hmm, maafin aku Ra."


Anisa merasa bersalah dengan ucapannya yang sepertinya menyakiti Rara.


"Nggak papa Nis, kamu mau kan nemenin aku?" Tanya Rara dengan mata berkaca-kaca.


Anisa mengangguk lesu sebagai jawaban. Rasanya sudah lama tidak merasakan hal-hal yang mendebarkan di kehidupannya akhir-akhir ini. Dan sekarang sepertinya Anisa akan merasakannya lagi.


"Yes!. Makasih Nis, udah mau nemenin aku." Rara melompat-lompat kegirangan dan membawa Anisa ke dalam pelukannya.


"Udah-udah. Cepetan dimana lokasinya."


Ucap Anisa ketus. Rara sama sekali tidak tersinggung dengan sikap Anisa yang bisa di bilang jutek. Entah mengapa Rara bisa merasakan jika Anisa mempunyai rasa kasih sayang yang begitu besar bagi orang-orang di sekelilingnya. Meskipun Anisa tidak menyadari akan hal itu.


"Kalo dari GPS sih, lokasinya di sana."


Rara menunjuk jalan masuk ke dalam hutan yang cukup menyeramkan jika di lihat dengan sekilas mata.


"Masuk ke hutan?" Anisa merasa jika kedatangannya ke hutan ini adalah sebuah kesalahan besar yang telah ia lakukan.


"Iya." Ucap Rara singkat.


"Dah, mending kita pulang." Anisa menarik tangan Rara dengan paksa untuk pergi.


"Nis," Panggil Rara sendu. Rara tidak beranjak dari tempat. Rara tidak ingin melepaskan kesempatannya untuk bertemu dengan orang yang mempunyai info tentang Ayahnya.


"Iya. Ayo-ayo jangan nangis." Akhirnya Anisa menyerah dan mengikuti langkah Rara yang bersemangat masuk ke dalam hutan.


"Hehehe, uuhh tayangku." Rara tersenyum girang dan memeluk tangan Anisa dengan hangat.


Anisa tersenyum dan mengikuti langkah Rara, di dalam hati Anisa berdoa kepada tuhan agar diberi keselamatan dan perlindungan dari yang Maha Kuasa.


******


Anisa dan Rara berjalan semakin dalam menyusuri hutan yang tidak mereka kenal. Untungnya mereka tidak bertemu dengan binatang buas.


"Ra masih jauh nggak sih?" Anisa menghentikan langkahnya dan beristirahat sejenak.


"Lumayan Nis," jawab Rara yang masih fokus melihat GPS di ponselnya.


"Sini aku yang megang ponselnya."


"Nih," ucap Rara dan memberikan ponselnya kepada Anisa.


Anisa dan Rara kembali menyusuri semak-semak belukar di tengah hutan yang tidak mereka kenal. Jika di lihat sepertinya hutan ini jarang di jamak oleh manusia, entah karena mistis atau mungkin manusia takut datang ke hutan ini dengan alasan tertentu.


Peluh membasahi wajah cantik Anisa dan Rara. Anisa masih fokus memperhatikan GPS, mereka kebingungan tidak ada tanda-tanda pemukiman di sana.


"Ra kita udah sampai loh di lokasi." Ucap Anisa lemas.


"Nis, ini hutan bukan Pasar." Badan Rara bergetar karena panik dan takut dengan suasana hutan yang begitu mencekam.


"Ra, kayaknya kamu di tipu."


Anisa meraih tangan Rara dan berjalan cepat menjauhi lokasi yang di tunjukan di GPS.


"Nis, aku takut."


"Berdiri di belakang aku Ra."


Mereka berjalan secepat mungkin menjauhi lokasi tadi. Hawa dingin semakin menusuk hingga terasa sampai ke tulang, terlihat raut kelelahan dari kedua wanita itu.


Srek, srek, srek. Bunyi semak-semak yang terinjak.


Tapi sayangnya itu bukan berasal dari Anisa dan Rara. Anisa menghentikan langkahnya dan mendengarkan bunyi semak-semak yang semakin terdengar.


"Ra, kita harus berpencar!" Teriak Anisa dan memberikan ponselnya kepada Rara.


"Nis, maksud kamu apa!"


Anisa menghela napasnya kasar dan menarik Rara untuk berlari bersamanya. Dugaan Anisa benar, satu persatu pria berperawakan tinggi bermunculan mengelilingi Anisa dan Rara. Jika di lihat-lihat sebagian dari mereka sepertinya bukan orang Indonesia.


Anisa memeluk Rara dan berbisik.


"Rara kita harus berpencar. Aku akan memancing mereka untuk menangkap ku. Kamu lari dan keluar dari hutan ini untuk cari bantuan!" ucap Anisa cepat.


"Nis, aku nggak mau."


"Kita harus selamat Ra. Saat aku hitung satu sampai tiga kamu harus lari ke arah pria itu, aku akan menjamin kamu bisa melewatinya!" Dengan terpaksa Rara mengangguk sebagai jawaban.


Anisa memegang tangan Rara agar berdiri di sampingnya. Anisa bisa merasakan jika tubuh Rara bergetar ketakutan. Dengan perlahan mereka terus berjalan menghampiri pria jahat yang berdiri di depannya.


Pria asing yang mengelilingi mereka tersenyum mengejek dan menikmati pertunjukan yang Anisa lakukan.


"Kalian mau apa bocah!" ucap salah satu dari mereka dengan angkuh.


"Satu, dua, tiga!" Bisik Anisa kepada Rara.


Plak!.


Dengan tenaga yang Anisa melempar sepatunya tepat ke mata pria asing yang berada di hadapannya. Sedangkan Rara langsung berlari ke belakang Pria yang sedang kesakitan. Saat pria lain akan mengejar Rara, Anisa melemparkan ponselnya tepat ke pundak pria asing itu.


Brugh. Akibat lemparan Anisa yang tidak meleset dan tepat sasaran ke arah pembuluh vitalnya, pria itu langsung pingsan dan tidak sadarkan diri.


"Kurang ajar!. Cepat kejar wanita itu!" Teriak seorang pria asing itu.


Plak!. Anisa di tampar dengan keras.


"Dasar wanita sia*an!" Teriak pria asing di depannya frustasi.


Anisa tersenyum kecut dan mengepalkan tangannya untuk menonjok lelaki di hadapannya. Tapi niatnya tidak berjalan dengan mulus.


Dor. Suara tembakan menggema di langit yang kelam dan sepi.


Mendengar suara tembakan yang menggema. Rara menghentikan langkahnya.


"Anisa!!"


*****


Hallo Readers jangan bosan untuk melanjutkan kisah Zahran dan Anisa yang tentunya akan semakin seru.


Salam Aksara 🤗.


"Cerita ini hanya fiktip belaka dan tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan nyata."


Follow Ig untuk visualisasi tokoh : @itsme_d43604


ig author : denisa_sahara