My Neighbord Is My Soldier

My Neighbord Is My Soldier
Zahran Abqary Zhafar



"Anda siapa?!" tanya Anisa ketus.


Dengan sigap Zahran bangun dari tidurnya dan mengusap air yang membasahi wajahnya. Sepertinya kesadaran sudah kembali kepada Zahran.


"Kenapa Nona menyiram saya dengan air?" Zahran tidak mengerti bisa-bisanya wanita ini tega menyiram wajah tampannya.


"Saya tanya sekali lagi. Anda siapa!" Anisa mengabaikan ucapan Zahran dan kembali bertanya.


"Maaf nona, nama saya Zahran salah satu penghuni kostan ini. Saya penghuni Kamar G. Saya seorang Tentara." Zahran berdiri dan mengelus-elus kepalanya yang terbentur lantai.


"Jika kamar anda di sana, lalu kenapa anda tertidur di lorong dan bersandar ke pintu kamar saya!" Ucap Anisa tegas.


"Maaf saya ketiduran," ucap Zahran sejujur mungkin kepada wanita cantik di hadapannya.


Anisa tersenyum kecut mendengar perkataan Pria di hadapannya, tentunya Anisa tidak mudah di bohongi dengan hanya melihat seragam yang pria itu gunakan. Bahkan seorang tukang parkir saja bisa memakai baju loreng dan seragam tentara. Jadi, jangan harap jika Anisa akan percaya begitu saja.


"Kamu penguntit?" Tuduh Anisa ketus.


"Bukan, saya seorang tentara." Zahran menggaruk tengkuknya dengan bingung, baru kali ini ada orang yang meragukannya sebagai seorang tentara. Padahal dengan jelas lencana menghiasi baju seragamnya.


"Mana Kartu KTI anda?" Anisa bukan tipe orang yang mudah percaya dengan orang lain.


Zahran menghela nafasnya pelan, dan merogoh saku bajunya untuk mencari dompet miliknya. Zahran panik saat dompetnya tidak ada di saku celananya, sepertinya barang-barang pribadinya ketinggalan di markas.


"Tidak ada, barang-barang saya ketinggalan di Markas." Zahran menghela napas kecewa karena tidak berhasil meyakinkan wanita di hadapannya.


"Silahkan Anda keluar dari kamar saya. Saya tidak percaya sedikitpun dengan yang anda ucapkan."


Anisa membuka ransel miliknya dan menghubungi kantor polisi terdekat.


"Nona, anda mau menelpon siapa?" Zahran panik saat melihat Anisa membuka ponsel miliknya.


"Polisi!" Jawab Anisa singkat.


"Shit," Zahran mengumpat dalam hati. Ternyata wanita di depannya tidak mudah untuk di yakinkan.


"Nona-nona saya mohon jangan telpon polisi, hari ini saya libur dan tidak boleh membuat masalah!" ucap Zahran memelas.


"Halo Pak, di kostan saya ada seorang pencuri, dia menyamar sebagai seorang tentara ...... ." Anisa mengabaikan ucapan Zahra. Ia mantap melaporkan pria ini kepada polisi.


Set.


Dengan cekatan Zahran melambungkan ponsel Anisa ke udara. Anisa melotot melihat ponsel mahalnya melambung ke udara bagaimana jika ponsel itu retak, sedangkan mendapatkan ponsel itu penuh dengan perjuangan.


"Aa, ponsel ku!" Teriak Anisa di dalam hati.


Grep. Zahra dengan mudah ponsel Anisa sudah berpindah tangan.


"Hallo Pak, maaf mengganggu. Dia adik saya sedang usil. Baik selamat pagi saya tutup telponnya Pak." Zahran melanjutkan laporan Anisa yang sempat terputus.


Tuk, tuk, tuk. Zahran berjalan mendekati Anisa.


"Maaf bukannya lancang, saya tidak ingin berurusan dengan polisi apalagi di fitnah. Selamat pagi Nona. Semoga hari mu menyenangkan!" Zahran meletakkan ponsel Anisa ke nakas.


Anisa menghela nafasnya pelan dan memperhatikan Pria itu memasuki kamar G. Jika benar pria itu penghuni kostan ini, lalu kenapa ia tertidur di lorong dekat pintu kamarnya. Masa bodoh dengan itu semua, lebih baik Anisa mengambil tasnya yang tergeletak di lantai dan bersiap-siap untuk pergi kuliah.


******


Anisa memperhatikan bangunan kokoh yang terlihat jelas dari tempatnya berada. Ternyata kampusnya berhadapan dengan Markas TNI. Melihat TNI yang sedang berlalu-lalang mengingatkannya kepada Pria yang ia jumpai di pagi hari.


"Apa benar pria itu seorang Tentara?" tanya Anisa di dalam hati.


"Dor!, kamu kenapa Nis, ngelamun terus. Naksir sama Tentara itu ya?" Ucap Rara membuyarkan lamunan Anisa.


"Apa sih Ra, Nggak lah." Anisa membantah perkataan Rara.


"Hei kalian!. Cepat ke aula, teman-teman kalian sudah kumpul di sana." Teriak seorang Kakak Senior yang tidak Anisa kenal.


"Aduh Nis Ayo!. Kita asik ngelamun sampai-sampai lupa sama acara penyuluhan!" Rara menarik tangan Anisa untuk berlari ke aula.


"Ayo Ra, aku nggak mau di hukum." Anisa dan Rara bergegas mengikuti Kakak Senior mereka.


*****


Aula yang cukup besar sudah di penuhi ratusan Mahasiswa Baru dari Fakultas Pendidikan. Anisa dan Rara duduk di barisan paling belakang karena tempat duduk yang berada di depan sudah terisi penuh.


"Huh, untung kita masih kebagian tempat duduk. Kalo nggak siap-siap di jemur Nis." Ucap Rara sambil berusaha mengatur napasnya.


"Iya Ra Alhamdulillah." Anisa menghela napasnya dan merebahkan tubuhnya di tempat duduk.


Acara penyuluhan tentang Narkoba yang di sampaikan oleh para Tentara sudah berlangsung sekitar sepuluh menit yang lalu. Anisa heran kenapa hari ini ia terus-terusan bertemu dengan Tentara.


Sreet. Suara kursi di tarik tepat di samping Anisa.


Anisa melirik ke samping penasaran siapa yang akan duduk di sampingnya. Anisa kira yang akan duduk di sampingnya adalah Mahasiswa baru seperti dirinya. Tapi dugaannya salah, Tentara yang tadi Anisa jumpai di kostan sedang duduk manis di sampingnya.


"Pria itu lagi?" Gumam Anisa di dalam hati. Anisa heran kenapa bisa-bisanya ia terus-terusan bertemu dengan Zahran.


"Yan, kamu mau lihat KTI punya saya nggak?" ucap Zahran kepada Riyan rekannya yang duduk di sampingnya.


Anisa pura-pura sibuk mencatat dan mengabaikan kehadiran Zahran. Walaupun sebenarnya telinganya sibuk mencari dengar apa yang diucapkan oleh Zahran dan temannya.


"Sombong banget kamu Ran, Saya juga punya kali. Emangnya ada apa sama KTI kamu?" Tanya Riyan teman Zahran.


"Tadi ada yang nanyain KTI saya Yan, terus dia nggak percaya kalo saya itu seorang Tentara. Malahan saya mau laporin ke kantor polisi." Zahran sibuk curhat kepada Riyan. Sesekali mata Zahran melirik Anisa penasaran dengan respon wanita itu akan seperti apa.


Sedangkan Anisa tidak menganggap kehadiran Zahran dan pura-pura sibuk menulis. Anisa tahu Zahran saat ini sedang asik menyindirnya.


"Hahahaha, hidup kamu emang bener-bener apes Ran." Riyan terkekeh pelan mendengar cerita Zahran.


"Kamu penasaran nggak siapa orang itu?" Tanya Zahran kepada Riyan.


Deg. Anisa membeku saat mendengar ucapan Zahran kepada temannya. Anisa tidak menyangka jika Zahran akan menyindirnya secara terang-terangan. Anisa menghentikan aktivitasnya sejenak dan menunggu jawaban yang akan Riyan katakan.


"Penasaran lah, aku mau tahu siapa wanita yang berani meragukan status kamu sebagai Tentara." Ucap Riyan dengan rasa penasaran yang memuncak.


"Dia itu wanita yang berhasil menghadirkan ketenangan batinku lagi Yan. Bacaan Al-Quran nya Masya allah banget Yan. Sampai-sampai saya ketiduran." Zahran melirik ke arah Anisa.


Deg.


Mendengar ucapan yang Zahran barusan, tanpa Anisa sadari kepalanya melirik begitu saja ke arah Zahran. Zahran tersenyum akhirnya wanita yang ia sindir menoleh ke arahnya.


Tuk. Refleks pulpen yang Anisa pegang jatuh begitu saja.


"Hai Anisa?" Sapa Zahran sambil tersenyum kepada Anisa.


Anisa hanya mengangguk sebagai jawaban dan kembali mengarahkan pandangannya ke depan. Zahran melihat sebuah pulpen yang tepat berada di samping sepatu miliknya.


"Ini pulpen kamu." Zahran mengembalikan pulpen itu kepada Anisa. Tanpa melirik Zahran, Anisa mengambil pulpennya begitu saja.


"Terimakasih." Ucap Anisa jutek.


Rara dan Riyan memperhatikan interaksi antara Zahran dan Anisa dengan tatapan penuh kebingungan.


Rara berbisik kepada Anisa dan Riyan berbisik kepada Zahran.


"Kamu kenal dia?" Pertanyaan Riyan dan Rara ternyata sama.


Baik Zahran maupun Anisa menjawab dengan gelengan kepala.


*****


"Anisa!" Panggil Zahran.


Anisa tidak menggubris panggilan Zahran dan sibuk melanjutkan langkahnya.


"Hai?" Sapa Zahran saat sudah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Anisa.


"Sebenarnya anda mau apa?. Kenapa terus-terusan mengikuti saya?" Ucap Anisa tanpa menoleh ke arah Zahra.


"Aduh maaf Nona, saya tidak mengikuti anda. Tapi saya bisa apa jika takdir terus-terusan mempertemukan kita." Zahran terus-terusan menggoda Anisa.


"Takdir?. Lalu kenapa sekarang anda berjalan di samping saya!" Lama-lama Anisa kesal juga dengan sikap Zahran.


"Oh kecuali yang ini. Perkenalkan nama saya Zahran." Zahran mengulurkan tangannya kepada Anisa.


"Sepertinya saya tidak perlu memperkenalkan diri." Anisa mengabaikan uluran tangan Zahran dan sibuk mengabaikannya.


"Oh, oya tidak usah kalo tidak mau. Platname Anda masih bisa terlihat oleh saya." Zahran menggaruk kepalanya, ia kebingungan harus bersikap seperti apa kepada Anisa.


Anisa tidak menjawab dan melanjutkan langkahnya agar bisa cepat-cepat pulang ke kostan dan berjauhan dengan pria aneh di sampingnya. Zahran tersenyum sambil memperhatikan Anisa yang buru-buru meninggalkannya.


Zahran berjalan santai mengikuti Anisa dari belakang.


"Kenapa Anda terus-terusan mengikuti saya!" Anisa menghentikan langkahnya dan menatap Zahran kesal.


"Maaf Nona, sepertinya anda lupa kalo kita satu kostan. Saya juga ingin pulang dan membawa barang-barang saya." Zahran heran kenapa wanita di depannya terus-terusan marah kepada dirinya.


Dengan menahan malu Anisa kembali melanjutkan langkahnya. Zahran geleng-geleng kepala melihat sikap Anisa yang begitu ketus kepadanya.


*****


Hallo Readers jangan bosan untuk melanjutkan kisah Zahran dan Anisa yang tentunya akan semakin seru.


Salam Aksara 🤗.


"Cerita ini hanya fiktip belaka dan tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan nyata."


Follow Ig untuk visualisasi tokoh : @itsme_d43604


ig author : denisa_sahara